Tiongkok Terjebak dalam “Involusi Super”: Daerah-daerah Berebut Sampah, Pakar Ungkap Akar Masalahnya

Persaingan “involusi” dalam ekonomi Tiongkok semakin intens, bahkan industri pengelolaan sampah pun tidak luput dari dampaknya. Menurut laporan media, pabrik-pabrik pembakaran sampah di berbagai daerah di Tiongkok kini mulai berebut sampah, bahkan menggali kembali sampah lama yang telah lama dikubur. Fenomena absurd seperti membeli sampah dengan uang pun muncul. Apa sebenarnya alasan mendalam di balik fenomena ini? simak analisis para pakar

EtIndonesia. Menurut Laporan Situasi Lingkungan Ekologis Tiongkok 2024 yang baru-baru ini dirilis oleh Kementerian Ekologi dan Lingkungan Partai Komunis Tiongkok (PKT), pada tahun lalu total volume sampah rumah tangga perkotaan yang dikumpulkan di seluruh negeri mencapai 262,36 juta ton, dengan rata-rata 718.800 ton per hari. Sementara itu, kapasitas pengolahan sampah harian mencapai 1.155.500 ton, yang berarti terjadi kelebihan kapasitas yang cukup parah.

Untuk menutupi kekurangan sampah, banyak daerah mulai menggali kembali sampah yang telah lama dikubur di tempat pembuangan akhir (TPA). Bahkan di beberapa tempat terjadi perebutan sampah. 

Menurut laporan media Tiongkok, dua pabrik pembakaran sampah di Provinsi Hunan bahkan membeli sampah dan membayar “uang komisi” kepada perusahaan properti. Untuk setiap ton sampah, pihak pemberi bisa mendapatkan imbalan sebesar RMB. 50 .

“Fenomena absurd kekurangan sampah untuk dibakar sebenarnya mencerminkan tiga lapisan masalah. Pertama, secara permukaan, ini adalah akibat dari kebijakan lingkungan yang dipaksakan serta kelebihan kapasitas. Banyak pabrik pembakaran sampah terikat pada pencapaian politik, sehingga akhirnya menghasilkan kelebihan kapasitas,” kata ekonom Tiongkok yang bermukim di AS, Huang Dawei. 

“Kedua, perlambatan ekonomi Tiongkok, penurunan konsumsi, dan berkurangnya pesanan ekspor juga menyebabkan volume sampah berkurang. Ketiga, pada level yang lebih dalam, ini adalah gejala dari logika involusi, yang telah menyebar ke berbagai sektor, termasuk industri pengolahan sampah,” lanjutnya. 

Sejak tahun 2003, pengelolaan pembakaran sampah di Tiongkok dialihkan dari tanggung jawab pemerintah menjadi sistem kemitraan usaha terbatas (franchise), dan pemerintah mulai gencar mempromosikan model pembakaran sampah untuk pembangkit listrik melalui skema BOT (Build-Operate-Transfer). 

Pada tahun 2006, pemerintah juga meningkatkan subsidi untuk proyek energi terbarukan, sehingga pembakaran sampah menjadi sangat menguntungkan dan berkembang pesat menjadi industri populer di berbagai daerah.

Ekonom dari Institut Informasi dan Strategi Washington, Li Hengqing, menjelaskan: “Yang tampak sekarang adalah kekurangan bahan baku, tetapi akar masalah sebenarnya adalah masalah struktural. Selama ada keputusan dari pimpinan, subsidi fiskal segera tersedia, dan semua orang akan ikut-ikutan tanpa pertimbangan matang.”

Data menunjukkan bahwa hingga saat ini terdapat sekitar 2.100 pabrik pembakaran sampah di seluruh dunia, dan 1.010 di antaranya berada di Tiongkok.

Namun, menurut survei yang dilakukan oleh E20 Research Institute pada tahun 2023, tingkat pemanfaatan rata-rata (load factor) pabrik-pabrik pembakaran sampah di Tiongkok hanya sekitar 60%, artinya 40% kapasitas produksi tidak digunakan alias menganggur.

Analisis menunjukkan bahwa seiring dengan penurunan tajam indikator-indikator utama seperti populasi, ekonomi, pekerjaan, konsumsi, dan sumber daya, kondisi involusi di Tiongkok akan terus memburuk.

Huang Dawei mengatakan: “Dinginnya pasar pembakaran sampah adalah cerminan tidak langsung dari menurunnya vitalitas ekonomi perkotaan. Sampah bukanlah simbol pertumbuhan atau perlindungan lingkungan, melainkan mencerminkan stagnasi konsumsi, menurunnya produksi, terputusnya rantai logistik, dan berkurangnya aktivitas ekonomi secara keseluruhan.”

Li Hengqing menambahkan: “Masalah Tiongkok saat ini bisa digambarkan seperti menekan satu sisi labu tapi sisi lain malah muncul. Pabrik pengolahan sampah, pabrik distribusi, bahkan pabrik mobil, semuanya mengikuti pola yang sama—semuanya merupakan versi ulang dari model yang sudah usang. Hasilnya adalah kelebihan kapasitas produksi yang sangat besar.” (Hui/asr)

Laporan oleh wartawan NTD: Tang Rui dan Yi Ru

Sinergi Pemerintah Pusat Tangani Kejadian Pergerakan Tanah di Purwakarta yang Berdampak Terhadap 256 Jiwa

PURWAKARTA –  Fenomena pergerakan tanah yang terjadi di kampung Cigintung, Desa Pasirmunjul, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat pada Minggu (20/4/2025) lalu mendapat perhatian serius dari Pemerintah Pusat. 

Pada Kamis (19/6) siang, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno meninjau langsung ke lokasi bencana yang menyebabkan sedikitnya 256 jiwa terdampak itu.

Rombongan Kepala BNPB bersama dengan pejabat pemerintah pusat dan daerah menyaksikan dari atas kerusakan rumah-rumah di titik pergerakan tanah. Rombongan tidak dianjurkan mendekat karena pergerakan tanah masih terjadi hingga siang hari ini, apalagi sehari sebelumnya hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Kabupaten Purwakarta sepanjang hari. Hal ini menyebabkan struktur tanah menjadi lebih labil.

Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto (memakai rompi hijau dan topi) meninjau lokasi terdampak pergerakan tanah di kampung Cigintung, Desa Pasirmunjul, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat pada kamis (19/6)- Dok BNPB

Sembari meninjau, rapat teknis dilaksanakan dengan cepat. Selain Kepala BNPB dan Menko PMK, tampak hadir dalam peninjauan pejabat Pemerintah Pusat antara lain Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo, Kepala BAZNAS Noor Achmad, Kepala PVMBG Hadi Wijaya, dan perwakilan dari Perhutani. Sementara itu, pejabat Pemerintah Daerah yang hadir yaitu Sekda Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman dan Wakil Bupati Purwakarta Abang Ijo Hadipin.

Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto (memakai rompi hijau dan topi) bersama dengan Menko PMK Pratikno dan beberapa pejabat pemerintah pusat dan daerah mendiskusikan upaya penanganan bencana pergerakan tanah di wilayah Kabupaten Purwakarta pada Kamis (19/6). Dok BNPB

“Melihat kerusakannya seperti ini, harus segera dilakukan relokasi karena perubahan geologi. Lokasi ini tidak lagi aman untuk ditempati. Oleh karena itu, kita harus segera menentukan skenario relokasinya seperti apa,”  jelas Menko PMK Pratikno.

“Yang jelas tidak ada pembangunan huntara (hunian sementara) tetapi langsung relokasi”, tegas Pratikno.

Lebih lanjut Kepala BNPB menjelaskan, segala bentuk kebutuhan dasar warga masyarakat yang terdampak, baik yang saat ini mengungsi terpusat maupun mengungsi mandiri akan tetap dilayani. 

Visual wilayah terdampak bencana pergerakan tanah di di kampung Cigintung, Desa Pasirmunjul, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. (dok BNPB)

Data terkini yang diterima oleh BNPB per Rabu (18/6) rincian jumlah warga yang mengungsi terdiri dari 145 jiwa mengungsi mandiri di rumah kerabat atau mengontrak dan 111 jiwa mengungsi di Kantor Desa Pasirmunjul.

Pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak didukung oleh beberapa lembaga antara lain BNPB, Kemensos, dan Baznas.

Suharyanto menekankan fokus penanganan darurat juga salah satunya pendataan warga yang akan melaksanakan relokasi.

“Sudah ada dua opsi relokasi yakni terpusat atau mandiri. Masyarakat akan dilayani (relokasinya) sesuai dengan keinginannya. BPBD yang akan melakukan pendataan warga”, terang Suharyanto.

Visual wilayah terdampak bencana pergerakan tanah di di kampung Cigintung, Desa Pasirmunjul, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. (dok BNPB)

Terkait lahan, Suharyanto menjelaskan bahwa lahan untuk relokasi terpusat saat ini sedang dipersiapkan oleh Pemerintah Kabupaten Purwakarta dan Provinsi Jawa Barat dengan bersurat ke Perhutani. Sementara untuk masyarakat yang memilih relokasi mandiri dapat menggunakan tanah miliknya pribadi. Pemerintah melalui Badan Geologi akan melakukan studi kelayakan lahan untuk pembangunan hunian baru yang lebih aman bencana.

“Kalau masyarakat ingin relokasi mandiri, tunjukkan tanahnya, jika assesmen Badan Geologi menyatakan lahannya aman, maka Pemerintah akan segera bangunkan rumahnya. Mudah-mudahan proses ini bisa lebih cepat,” ujar Suharyanto.

Visual wilayah terdampak bencana pergerakan tanah di di kampung Cigintung, Desa Pasirmunjul, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Selain membangun permukiman baru bagi warga terdampak, Pemerintah juga akan membangun infrastruktur guna menunjang aktivitas warga di lokasi relokasi. Pembangunan infrastruktur vital berupa akses jalan dan jembatan rencananya akan didukung oleh Kementerian Pekerjaan Umum ataupun BNPB.

Hasil Kajian Geologi

Peristiwa gerakan tanah di kampung Cigintung Desa Pasirmunjul, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat pada Minggu, 20 April 2025 tidak hanya terjadi satu kali. Data Badan Geologi menunjukkan, setelah peristiwa tersebut terjadi pengulangan pergerakan tanah pada lokasi yang sama sebanyak tiga kali. Tercatat pergerakan tanah susulan pada Rabu 23 April 2025, Senin 19 Mei 2025, dan Kamis 12 Juni 2025.

Kerawanan lahan di wilayah sekitar disebabkan beberapa faktor antara lain jenis tanah yang membentuknya merupakan lapisan pasir tufaan berpori tinggi dan mudah lepas, menutupi lapisan serpih kedap air yang mudah menjadi plastis saat jenuh air.

Jenis tanah seperti ini jika terpapar oleh hujan dengan intensitas tinggi sehingga menyebabkan akumulasi air tanah dapat menyebabkan peningkatan tekanan pori dan melemahkan daya ikat antar material vulkanik. Hal inilah yang menyebabkan tanah mudah retak dan ambles.

Keadaan ini dapat menjadi lebih parah dengan kemiringan lereng yang curam, sistem drainase yang kurang baik dan berubahnya pola aliraan air serta jenis vegetasi yang kurang mendukung kestabilan lereng.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Hadi Wijaya menjelaskan hasil kajian tim tanggap darurat PVMBG menemukan adanya perluasan wilayah berisiko tinggi fenomena pergerakan tanah di wilayah ini dari yang semula luasan 2 ha menjadi 10 ha. Dua area berisiko tinggi tersebut adalah area barat daya seluas 4 ha dan area timur laut seluas 6 ha. Sementara Tol Cipularang yang berada di sebelah barat lokasi bencana relatif aman dari ancaman gerakan tanah Kampung Cigintung.

Pemerintah Kabupaten Purwakarta menetapkan status Status Tanggap Darurat Bencana Gerakan Tanah di Desa Pasirmunjul Kecamatan Sukatani Kabupaten Purwakarta Tahun 2025 Nomor 364/Kep.262-BPBD/2025 selama 14 hari TMT 16 Juni 2025 sampai dengan 1 Juli 2025.

BNPB mengimbau warga di sekitar wilayah terdampak peristiwa pergerakan tanah untuk selalu waspada terhadap potensi risiko bencana susulan yang dapat terjadi terutama jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. 

Warga diimbau untuk tidak memaksa masuk dalam wilayah zona rawan bahaya dengan alasan apapun serta membatasi kendaraan yang memiliki tonase melebihi klas jalan yang melewati jalan di atas gawir mahkota longsoran. (bnpb/asr)

Menurut Laporan: Kim Jong-Un Menghapus Dua Pejabat dari Foto-foto Kenegaraan yang Sudah Berumur Berbulan-bulan, Memicu Kekhawatiran Mereka Telah Dieksekusi Karena Peluncuran Kapal Perang yang Gagal

EtIndonesia. Penguasa lalim Korea Utara Kim Jong-Un tampaknya menghapus seorang komandan angkatan laut dan pejabat senior lainnya dari foto-foto resmi kenegaraan yang sudah berumur berbulan-bulan setelah peluncuran kapal yang gagal di negara itu — memicu spekulasi bahwa mereka dieksekusi, menurut sebuah laporan.

Laksamana Kim Myong Sil dan Hong Kil Ho, yang mengoperasikan Galangan Kapal Chongjin, dihapus dari catatan foto Korea Utara atas perintah Kim — yang menyalahkan mereka atas ketidakmampuan negara itu untuk meluncurkan kapal perusak angkatan laut bulan lalu, NK News melaporkan.

Kedua petinggi Korea Utara itu awalnya difoto di sisi kiri foto yang dirilis oleh media Pemerintah Korea Utara, di dekat Kim.

Dalam foto-foto yang diedit yang dirilis oleh media Pemerintah Korea Utara, sekarang ada ruang kosong yang mencolok di mana Myong Sil dan Kil Ho pernah berdiri.

Tindakan tersebut mengingatkan kita pada diktator brutal Uni Soviet Joseph Stalin, yang melakukan praktik umum menghapus musuh politik dari foto-foto terkenal, termasuk penghapusan Nikolai Yezhov yang sangat terang-terangan.

Kil Ho disalahkan oleh diktator bertubuh gempal dan media pemerintah atas kegagalan besar untuk meluncurkan kapal perusak angkatan laut seberat 5.000 ton ke Laut Jepang pada tanggal 21 Mei.

Kapal perang tersebut menjadi tidak seimbang saat diturunkan ke air di Pelabuhan Chongjin, menyebabkannya meluncur ke air — menghancurkan dan merusak bagian-bagian lambung kapal dan membiarkan haluan tersangkut di jalur kapal, Korean Central News Agency melaporkan pada saat itu.

Beberapa pejabat ditangkap di galangan kapal tepat setelah pertunjukan yang memalukan itu, dengan para ahli percaya Ho adalah salah satu dari sedikitnya empat orang yang menghadapi akibat, The Sun melaporkan, mengutip para ahli.

Laksamana. Sil telah menjadi komandan angkatan laut tertinggi di negara yang terisolasi itu sejak Kim berkuasa pada tahun 2011 —- tetapi itu sepertinya tidak akan menyelamatkannya dari nafsu darah sang tiran.

“Jika Kim Myong Sik tewas dengan pedangnya, dia mungkin telah terhindar dari eksekusi publik dan menyelamatkan keluarga serta rekan dekatnya dari penjara,” kata Michael Madden, pendiri NK Leadership Watch, kepada The Sun.

“Di sisi lain, jika KJU sedang dalam suasana hati yang ingin menyampaikan pesan, maka mereka mungkin akan mengumpulkan pejabat tinggi lainnya di industri militer dan pertahanan untuk menonton,” tambah Madden.

Korea Utara berhasil meluncurkan kapal perusak besar itu pada hari Sabtu dalam apa yang digambarkan oleh media pemerintah sebagai “bukti meyakinkan tentang transformasi cepat Angkatan Laut [Korea Utara].” (yn)

Eropa, Iran Coba Diplomasi Saat AS Pertimbangkan Respons Militer

EtIndonesia. Menteri luar negeri Iran akan bertemu di Jenewa pada hari Jumat (20/6) dengan mitranya dari Jerman, Prancis, dan Inggris, media Pemerintah Iran dan diplomat Eropa mengatakan, saat serangan udara Israel menargetkan situs nuklir dan militer negaranya dan Iran membalas.

Dorongan Eropa untuk diplomasi sangat kontras dengan pesan dari Washington, dengan Presiden AS, Donald Trump secara terbuka mempertimbangkan untuk mengebom Iran dan menyerukan penyerahan tanpa syarat dari para pemimpin Iran.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi akan melakukan perjalanan ke Jenewa untuk menghadiri pertemuan tersebut pada hari Jumat, kantor berita milik Pemerintah IRNA melaporkan. Para diplomat Eropa, yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas pembicaraan rahasia tersebut, mengonfirmasi pertemuan tersebut.

“Semua pihak harus menahan diri, menahan diri dari mengambil langkah-langkah yang mengarah pada eskalasi lebih lanjut di kawasan tersebut, dan kembali ke diplomasi,” bunyi pernyataan bersama yang dikeluarkan pada hari Rabu (18/6) oleh Prancis, Jerman, Inggris, dan Uni Eropa.

Tiga negara Eropa, yang biasa disebut sebagai E3, memainkan peran penting dalam negosiasi kesepakatan nuklir awal tahun 2015 dengan Iran. Namun, mereka telah berulang kali mengancam akan memberlakukan kembali sanksi yang dicabut berdasarkan kesepakatan tersebut jika Iran tidak meningkatkan kerja samanya dengan pengawas nuklir PBB.

Pertemuan di Jenewa juga dapat memberikan kesempatan unik bagi ketiga negara Eropa dan UE untuk menghubungi Iran dalam apa yang akan menjadi pertemuan tatap muka pertama antara pejabat Barat dan Teheran sejak dimulainya konflik seminggu yang lalu. Ini adalah momen yang tepat bagi Eropa untuk menguji peluang solusi diplomatik dan mencari posisi Iran di tengah meningkatnya retorika antara AS dan Iran.

“UE akan terus berkontribusi pada semua upaya diplomatik untuk mengurangi ketegangan dan menemukan solusi yang langgeng untuk masalah nuklir Iran, yang hanya dapat dilakukan melalui kesepakatan yang dinegosiasikan,” kata Anouar El Anouni, juru bicara Komisi Eropa. “Itulah sebabnya kegiatan penjangkauan intensif yang melibatkan semua pihak terkait saat ini sedang berlangsung untuk menyediakan ruang bagi diplomasi dan menciptakan kondisi bagi solusi yang dinegosiasikan untuk masalah nuklir Iran.”

Jerman mengatakan harus ada gerakan dari Iran

Menteri luar negeri Jerman telah menggarisbawahi kesediaan negara-negara Eropa untuk berbicara dengan Iran tentang solusi untuk program nuklirnya, tetapi mengatakan perlu ada gerakan dari Teheran.

Johann Wadephul mengatakan pada Rabu bahwa ketiga negara Eropa “masih siap untuk berunding tentang solusi.”

Tetapi dia menambahkan: “Iran sekarang harus bergerak cepat. Iran harus mengambil langkah-langkah yang membangun kepercayaan dan dapat diverifikasi – misalnya, dalam hal kepemimpinan di Teheran membuatnya kredibel bahwa mereka tidak berusaha untuk memiliki senjata nuklir.”

Kanselir Jerman, Friedrich Merz juga membahas konflik Israel-Iran dengan penguasa Qatar menjelang pembicaraan Jenewa. Sebuah pernyataan dari kantor kanselir mengatakan dia dan Emir Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani sepakat pada Kamis bahwa konflik tidak boleh meluas ke negara-negara lain di kawasan itu.

Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot mengatakan pada hari Kamis bahwa Prancis dan mitra Eropa siap untuk “melanjutkan negosiasi” dengan Iran. Barrot tidak mengonfirmasi pertemuan Jenewa tersebut.

Pesan otoritas Iran “relatif jelas: ada keinginan untuk melanjutkan perundingan, termasuk dengan Amerika Serikat, asalkan gencatan senjata dapat dicapai,” kata Barrot dalam konferensi pers di Paris.

“Di pihak kami, ada keinginan untuk melanjutkan perundingan, asalkan perundingan ini dapat mengarah pada langkah mundur yang substansial dan langgeng oleh Iran terkait program nuklirnya, program balistiknya, dan kegiatannya untuk mengganggu stabilitas kawasan,” kata Barrot.

Tidak ada delegasi AS dalam perundingan Jenewa pada hari Jumat

Trump telah memberikan peringatan yang semakin tajam tentang kemungkinan AS bergabung dengan Israel dalam menyerang program nuklir Teheran bahkan ketika pemimpin Iran memperingatkan lagi bahwa Amerika Serikat akan disambut dengan pembalasan yang keras jika menyerang.

Seorang pejabat AS mengatakan pada hari Rabu bahwa tidak ada rencana bagi AS untuk terlibat dalam perundingan nuklir yang diadakan antara diplomat senior Eropa dan Iran di Jenewa, meskipun hal itu dapat berubah.

Pejabat tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas komunikasi diplomatik pribadi, juga mencatat bahwa pihak Eropa telah ingin memainkan peran dalam negosiasi tersebut selama berbulan-bulan tetapi telah ditahan oleh AS.

Posisi tersebut, kata pejabat tersebut, mungkin berubah seiring meningkatnya permusuhan.

Menteri Luar Negeri Inggris, David Lammy akan terbang ke Washington pada hari Kamis untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. AS mungkin ingin menggunakan pangkalan yang dikuasai Inggris di Diego Garcia di Samudra Hindia dalam serangan potensial terhadap fasilitas nuklir bawah tanah Iran di Fordo tetapi diyakini belum meminta untuk melakukannya.

Lammy juga diharapkan menghadiri perundingan di Jenewa pada hari Jumat. Kantor Luar Negeri mengatakan Lammy “siap mendukung perundingan untuk mendesak solusi diplomatik.”

Israel menegaskan pihaknya meluncurkan kampanye serangan udara minggu lalu untuk menghentikan Iran agar tidak semakin dekat dengan kemampuan membangun senjata nuklir. Hal itu terjadi saat Iran dan Amerika Serikat tengah berunding mengenai kemungkinan kesepakatan diplomatik baru atas program Teheran, meskipun Trump mengatakan kampanye Israel itu dilakukan setelah jeda 60 hari yang ditetapkannya untuk perundingan.

Pemimpin tertinggi Iran menolak seruan AS untuk menyerah dalam menghadapi lebih banyak serangan Israel pada hari Rabu dan memperingatkan bahwa keterlibatan militer apa pun oleh Amerika akan menyebabkan “kerusakan yang tidak dapat diperbaiki bagi mereka.”

Iran telah lama bersikeras bahwa program nuklirnya bersifat damai, meskipun merupakan satu-satunya negara yang tidak memiliki senjata nuklir yang memperkaya uranium hingga 60%, sedikit langkah teknis dari tingkat senjata sebesar 90%. Badan Tenaga Atom Internasional, pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa, masih melakukan inspeksi, meskipun terbatas, di negara itu.

Badan intelijen AS juga mengatakan mereka tidak yakin Iran secara aktif mengejar bom tersebut.(yn)

Iran Tembakkan Rudal Berisi Bom Klaster ke Israel Saat Konflik Memasuki Hari ke-8

EtIndonesia. Iran menembakkan sedikitnya satu rudal ke Israel yang menyebarkan bom-bom kecil dengan tujuan meningkatkan korban sipil, kata militer Israel pada hari Kamis, yang merupakan penggunaan pertama amunisi klaster yang dilaporkan dalam perang yang telah berlangsung selama tujuh hari.

Pejabat militer Israel tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Laporan berita Israel mengutip militer Israel yang mengatakan hulu ledak rudal itu terbelah pada ketinggian sekitar 7 km dan melepaskan sekitar 20 submunisi dalam radius sekitar 8 km di atas Israel tengah.

Salah satu amunisi kecil menghantam sebuah rumah di Kota Azor, Israel tengah, yang menyebabkan beberapa kerusakan, koresponden militer Times of Israel Emanuel Fabian melaporkan. Tidak ada laporan korban dari bom tersebut.

Bom klaster kontroversial karena menyebarkan submunisi tanpa pandang bulu, beberapa di antaranya dapat gagal meledak dan membunuh atau melukai dalam jangka panjang setelah konflik berakhir.

Militer Israel merilis sebuah gambar sebagai peringatan publik tentang bahaya persenjataan yang belum meledak.

“Rezim teror berusaha untuk melukai warga sipil dan bahkan menggunakan senjata dengan penyebaran yang luas untuk memaksimalkan cakupan kerusakan,” kata juru bicara militer Israel, Brigadir Jenderal Effie Defrin, dalam sebuah pengarahan.

Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kedutaan besar Israel di Washington tidak segera menanggapi permintaan komentar.

“Senjata-senjata itu sangat mengerikan karena daya rusaknya yang sangat luas, terutama jika digunakan di wilayah berpenduduk sipil dan dapat menambah persenjataan yang tidak meledak yang tersisa dari konflik,” kata Daryl Kimball, direktur eksekutif kelompok advokasi Arms Control Association.

Memperhatikan bahwa rudal Iran bisa jadi tidak tepat sasaran, dia mengatakan bahwa Teheran harus tahu bahwa amunisi tandan “akan mengenai sasaran sipil, bukan sasaran militer.”

Iran dan Israel menolak untuk bergabung dengan larangan internasional tahun 2008 atas produksi, penimbunan, pemindahan, dan penggunaan bom tandan yang telah ditandatangani oleh 111 negara dan 12 entitas lainnya.

Setelah perdebatan panjang, AS pada tahun 2023 memasok Ukraina dengan amunisi tandan untuk digunakan melawan pasukan pendudukan Rusia. Kyiv mengatakan pasukan Rusia juga telah menembakkannya. Ketiga negara tersebut menolak untuk bergabung dengan Konvensi Melawan Amunisi Tandan.(yn)

Netanyahu tentang Konflik Israel-Iran : “Pergantian Rezim Iran Bukan Tujuan, Tapi Bisa Jadi Hasilnya”

EtIndonesia. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada hari Kamis (19 Juni) bahwa pergantian rezim Iran bukanlah tujuan serangan Israel, tetapi bisa jadi hasilnya. Hal ini terjadi saat konflik antara kedua musuh memasuki hari ketujuh.

“Persoalan pergantian rezim atau jatuhnya rezim ini pertama-tama dan terutama merupakan masalah rakyat Iran. Tidak ada yang dapat menggantikannya,” kata Netanyahu dalam sebuah wawancara yang disiarkan di televisi publik Kan. “Dan itulah mengapa saya tidak menyajikannya sebagai tujuan. Itu bisa jadi hasilnya, tetapi itu bukan tujuan yang dinyatakan atau formal yang kita miliki.”

Netanyahu juga mengatakan bahwa Israel mampu menyerang semua fasilitas nuklir Iran, termasuk Fordow, tetapi “semua bantuan akan diterima.” 

Dia lebih lanjut mengklaim bahwa Israel telah menghancurkan lebih dari setengah peluncur rudal Iran saat pertempuran berlanjut pada hari ketujuh.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa dia akan memutuskan apakah Amerika Serikat akan bergabung dengan Israel dalam operasi militernya melawan Iran dalam dua minggu ke depan, Gedung Putih mengatakan dalam sebuah pernyataan. 

Perdana Menteri Israel mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump “akan melakukan apa yang baik untuk Amerika Serikat dan saya akan melakukan apa yang baik untuk Negara Israel dan saya harus mengatakan bahwa hingga saat ini setiap orang melakukan bagian mereka.” 

Dia menambahkan bahwa Israel “lebih cepat dari jadwal” dalam operasi militernya melawan Iran. 

“Kami lebih cepat dari jadwal yang kami tetapkan – baik dari segi waktu maupun hasil,” katanya. 

Pada hari Rabu, Trump mengatakan bahwa hanya AS yang mampu menghancurkan atau membongkar fasilitas nuklir di Fordow. “Tetapi itu tidak berarti saya akan melakukannya – sama sekali,” katanya. (yn)

Pejabat Tinggi Iran Minta Suaka ke Taliban: Tanda Rezim Hampir Ambruk? 

EtIndonesia. Situasi politik dan keamanan di Iran terus memburuk seiring dengan meningkatnya tekanan eksternal dan gejolak di dalam negeri. Dalam perkembangan terbaru yang menghebohkan, otoritas keamanan Taliban Afghanistan mengungkapkan bahwa sejumlah pejabat senior Iran, termasuk petinggi rezim dan komandan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), telah meminta agar Taliban mempertimbangkan kemungkinan memberikan suaka jika mereka harus melarikan diri dari Iran, terutama jika pemerintahan di Teheran benar-benar tumbang.

Taliban Diincar Jadi “Pelabuhan Terakhir”

Menurut sumber internal Taliban yang dikutip sejumlah media internasional, permintaan ini mulai disampaikan secara informal dalam beberapa hari terakhir, seiring berjalannya protes dan aksi perlawanan rakyat di berbagai kota besar Iran. 

“Ada sejumlah permintaan dari pejabat Iran tingkat tinggi agar Afghanistan, khususnya otoritas Taliban, menyiapkan jalur evakuasi dan perlindungan bagi mereka jika situasi di Iran menjadi tak terkendali,” ujar seorang pejabat Taliban yang enggan disebut namanya demi alasan keamanan.

Fenomena ini menimbulkan banyak pertanyaan, mengingat selama ini Iran dan Taliban memiliki sejarah hubungan yang rumit. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama pragmatis di bidang keamanan dan ekonomi sempat meningkat, terutama sejak Amerika Serikat menarik pasukannya dari Afghanistan.

Mengapa Taliban, Bukan Tiongkok?

Menariknya, para pejabat senior Iran tampak lebih memilih melarikan diri ke Afghanistan yang kini dikendalikan Taliban, dibandingkan melarikan diri ke Tiongkok yang dikenal sebagai sekutu dekat Iran. 

Menurut pengamat hubungan internasional, pilihan ini dilatarbelakangi kekhawatiran bahwa Tiongkok, yang sedang menghadapi krisis internal dan tekanan geopolitik, mungkin tak akan menyediakan perlindungan yang aman bagi mereka. 

Sebuah komentar tajam dari pengamat kawasan menyebutkan, “Mereka (pejabat Iran) tahu persis bahwa Tiongkok saat ini tengah di ambang gejolak dalam negerinya sendiri. Ditambah lagi, Beijing kini lebih pragmatis dan tidak mau terseret dalam konflik Iran yang penuh ketidakpastian.”

Video Reza Pahlavi: Runtuhnya Komando di Teheran

Pada 19 Juni 2025, Pangeran Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir Iran yang kini hidup di pengasingan, merilis sebuah video pernyataan yang dengan tegas menyatakan bahwa sistem komando dan koordinasi rezim Iran kini berada di ambang kehancuran. 

Dalam videonya yang viral di media sosial dan mendapat perhatian luas dari komunitas internasional, Reza Pahlavi menyebut bahwa keruntuhan otoritas pusat terjadi jauh lebih cepat dari prediksi banyak kalangan. Ia juga menekankan bahwa para pemimpin dunia kini secara terbuka mulai membicarakan masa depan Iran pasca-rezim Islam.

Pernyataan ini tidak hanya menjadi sinyal kepada masyarakat Iran di dalam dan luar negeri, tetapi juga memperkuat persepsi bahwa dunia internasional telah kehilangan kepercayaan terhadap keberlanjutan rezim saat ini.

 “Komunitas internasional kini lebih serius mendiskusikan langkah-langkah transisi kekuasaan dan bantuan kemanusiaan bagi Iran di era pasca-rezim Islam,” ujar Reza Pahlavi dalam pesannya.

Reaksi Dunia: Iran Diambang “Kemungkinan Terburuk”

Pada hari yang sama, media sosial dihebohkan dengan beredarnya tangkapan layar dari berita-berita media Tiongkok yang menyoroti kondisi Iran. Salah satu headline yang mencuri perhatian berbunyi, “Iran Kini Harus Bersiap Menghadapi Kemungkinan Terburuk.” Berita-berita ini dinilai oleh pengamat sebagai tanda bahwa bahkan sekutu-sekutu tradisional Iran seperti Tiongkok mulai mengambil jarak, atau setidaknya bersiap menghadapi kemungkinan perubahan drastis di Teheran.

Seorang analis politik Asia Timur mengatakan, “Jika media Tiongkok yang biasanya berhati-hati dalam mengomentari urusan sekutunya saja sudah mulai bicara ‘kemungkinan terburuk’, itu berarti Beijing juga mulai meragukan stabilitas rezim Iran.” Hal ini semakin mempertegas sinyal bahwa pergantian kekuasaan di Iran mungkin tinggal menunggu waktu.

Runtuhnya Jaringan Kekuasaan: Momentum Krisis Regional

Dalam situasi seperti ini, pilihan pejabat Iran untuk mencari perlindungan ke Taliban — alih-alih Tiongkok atau negara-negara lain — dinilai sebagai refleksi nyata dari semakin sempitnya opsi yang tersedia bagi lingkaran elite di Teheran. Sebuah sumber di lingkungan diplomatik Asia Tengah mengatakan, “Pilihan ke Taliban mungkin dianggap paling realistis, sebab Taliban selama ini menjaga hubungan cukup pragmatis dengan semua pihak, dan tak terikat langsung oleh tekanan Barat maupun kekuatan besar dunia.”

Selain itu, perkembangan di Iran kini mendapat sorotan global, bukan hanya karena potensi konflik internal, tetapi juga kemungkinan terjadinya eksodus pejabat dan keluarga elit, yang bisa berdampak luas ke stabilitas regional. Negara-negara tetangga seperti Turki, Irak, dan Pakistan kini disebut telah meningkatkan status siaga mereka untuk mengantisipasi kemungkinan gelombang pengungsi elite maupun pergolakan di perbatasan.

Sinyal Jelas: Dunia Mempersiapkan Era Baru di Iran

Rangkaian kejadian ini menunjukkan betapa cepatnya perubahan dinamika di Iran. Dengan semakin terbukanya informasi soal permintaan suaka pejabat Iran ke Taliban, ditambah pengakuan terbuka dari tokoh oposisi seperti Reza Pahlavi, serta sikap “waspada” yang kini diambil oleh Tiongkok, tampaknya dunia internasional memang sedang mempersiapkan diri menghadapi Iran pasca-rezim Islam.

Salah satu diplomat senior Barat menegaskan, “Biasanya, rezim otoriter terlihat kuat sampai akhirnya runtuh dalam waktu sangat singkat. Iran saat ini berada di titik kritis. Dunia harus bersiap menghadapi segala kemungkinan, termasuk pergantian rezim yang bisa terjadi jauh lebih cepat dari prediksi.”

Penutup

Permintaan perlindungan dari para pejabat tinggi Iran ke Taliban adalah gambaran nyata dari kepanikan elit rezim dan menandakan ketidakpastian masa depan Iran. Dalam beberapa minggu ke depan, dunia akan mengamati dengan seksama apakah Iran benar-benar akan mengalami perubahan kekuasaan besar-besaran, dan sejauh mana dampak dari krisis ini akan mempengaruhi stabilitas kawasan serta peta geopolitik global. (***)

AS Sembunyikan Pesawat Militer? Pesawat Tempur Amerika Menghilang dari Pangkalan di Qatar di Tengah Ketegangan Israel-Iran

EtIndonesia. Puluhan pesawat militer Amerika telah menghilang dari landasan Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, menurut gambar satelit — sebuah langkah yang tenang namun terarah, yang menurut laporan mungkin untuk melindungi pesawat tempur AS dari serangan Iran di kemudian hari. Ini terjadi saat Amerika Serikat bersiap menghadapi kemungkinan perang dan mempertimbangkan apakah akan campur tangan dalam konflik Teheran dengan Israel.

Sementara sebelumnya hampir 40 pesawat militer, termasuk pesawat angkut seperti Hercules C-130 dan pesawat pengintai, diparkir di landasan pangkalan AS di Qatar, sekarang hanya beberapa yang tersisa. Mengapa demikian? Inilah semua yang kami ketahui.

Pesawat tempur yang hilang: Penarikan strategis? Atau persiapan diam-diam untuk sesuatu yang jauh lebih besar?

Menurut laporan AFP, hanya dua minggu yang lalu, ada hampir 40 pesawat militer AS di Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar. Gambar satelit dari 5 Juni 2021 menunjukkan lebih dari dua lusin pesawat tempur; Namun, gambar terbaru yang diambil pada 19 Juni hanya memperlihatkan tiga pesawat.

Hal ini terjadi setelah Kedutaan Besar AS di Qatar pada hari Kamis (19/6) mengumumkan bahwa akses ke pangkalan udara akan dibatasi “sebagai bentuk kehati-hatian dan mengingat permusuhan regional yang sedang berlangsung” seraya mendesak personel untuk “meningkatkan kewaspadaan.”

Tindakan menghilang secara diam-diam ini terjadi saat Presiden Donald Trump mempertimbangkan apakah akan melibatkan AS dalam konflik Israel-Iran yang sedang berlangsung. Gedung Putih mengatakan bahwa Trump akan membutuhkan waktu untuk memutuskan apakah akan bergabung dengan sekutu Israel untuk melawan Iran.

Menurut Mark Schwartz, mantan letnan jenderal Angkatan Darat AS dan analis pertahanan di Rand Corporation, mengingat “kedekatan” dengan Iran, personel, pesawat, dan instalasi di Al Udeid akan “sangat rentan”.

Schwartz memperingatkan bahwa bahkan serangan tidak langsung — misalnya, dari pecahan rudal — dapat membuat pesawat mahal “tidak mampu menjalankan misi.”

“Anda ingin mengurangi risiko bagi pasukan AS, baik personel maupun peralatan,” katanya kepada AFP.

Ke mana perginya pesawat-pesawat itu?

Sementara AS belum membuat pernyataan resmi, diyakini bahwa pesawat tempur tersebut mungkin telah dipindahkan ke hanggar atau berpotensi ke pangkalan lain di wilayah tersebut.

Berbicara kepada AFP, seorang pejabat pertahanan AS, yang menolak untuk mengungkapkan rincian spesifik, hanya mengatakan militer tetap “berkomitmen untuk menjaga keamanan operasional sambil melaksanakan misi kami dengan tingkat kesiapan, daya mematikan, dan profesionalisme tertinggi.”

Pelacakan penerbangan sumber terbuka menunjukkan setidaknya 27 pesawat pengisian bahan bakar — KC-46A Pegasus dan KC-135 Stratotanker — terbang dari AS ke Eropa antara tanggal 15 dan 18 Juni. Sebagian besar belum kembali. 25 di antaranya, menurut laporan, masih berada di Eropa dan hanya dua yang telah kembali ke AS.(yn)

Iran Bersikeras Tidak Akan Menyerah, Israel Terus Gempur Militer

Konflik sengit antara Israel dan Iran telah memasuki hari keenam. Angkatan Udara Israel mengerahkan 50 jet tempur untuk melancarkan serangan dahsyat terhadap berbagai target di Teheran. Sementara itu, Iran membalas dengan serangan udara ke wilayah Israel, memicu alarm serangan udara di Tel Aviv dan kota-kota lainnya. Pada  Rabu (18 Juni), rezim Khamenei menyatakan dengan tegas bahwa Iran tidak akan menyerah. Presiden AS Donald Trump terus memperingatkan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

EtIndonesia. Pada Selasa (17 Juni) malam hingga Rabu (18 Juni) dini hari, Israel meluncurkan serangan udara intensif ke ibu kota Iran, Teheran. Cahaya ledakan menerangi langit malam, diikuti oleh suara ledakan besar.

Militer Israel mengkonfirmasi bahwa lebih dari 50 jet tempur dikerahkan pada Selasa malam untuk melancarkan tiga gelombang serangan terhadap fasilitas produksi sentrifugal Iran.

 “Dalam operasi ini, kami menyerang lokasi produksi sentrifugal, yang digunakan untuk mendukung rezim Iran saat ini dan memperkuat aktivitas pengayaan uraniumnya,” ujar juru Bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Brigjen Effie Defrin. 

Brigjen Defrin juga menyebutkan bahwa pada Rabu pagi, Angkatan Udara Israel menyerang lima helikopter tempur AH-1 di bandara Kermanshah, Iran.

Selain itu, video yang dirilis oleh militer Israel pada hari Rabu menunjukkan serangan udara terhadap target militer di wilayah barat Iran.

Sekitar 25 jet tempur menyerang lebih dari 40 fasilitas rudal yang diarahkan ke Israel, termasuk gudang penyimpanan rudal dan pusat komando militer milik rezim Iran.

Sementara itu, pada Rabu pagi, Iran meluncurkan serangan balasan berupa rudal ke Tel Aviv, memicu alarm serangan udara. Namun, sebagian besar rudal tersebut berhasil dilumpuhkan oleh sistem pertahanan udara Israel.

Video yang dirilis oleh pemadam kebakaran Israel menunjukkan petugas memeriksa puing-puing rudal Iran. Pemerintah Israel menyatakan bahwa tidak ada korban jiwa dalam serangan rudal tersebut.

Pada hari yang sama, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, dalam sebuah rekaman video yang disiarkan di televisi nasional Iran, menolak seruan Amerika Serikat untuk menyerah. Ia bahkan mengancam bahwa campur tangan militer dalam konflik Iran-Israel akan menyebabkan kerugian besar bagi AS yang tidak dapat diperbaiki.

Ini adalah penampilan publik kedua Khamenei sejak perang antara Iran dan Israel pecah. Sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump lewat media sosial telah menyerukan agar Khamenei “menyerah tanpa syarat”.

Pada hari yang sama, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, juga memperingatkan bahwa jika AS ikut campur dalam konflik Iran-Israel, maka akan memicu perang besar di seluruh kawasan Timur Tengah.

Brigjen Effie Defrin juga mengatakan bahwa Israel terus melakukan operasi di semua medan pertempuran, termasuk di Gaza. Dalam 24 jam terakhir, militer Israel telah menyerang lebih dari 75 target di Jalur Gaza untuk menghancurkan infrastruktur teroris dan sistem bawah tanah.

Pada hari yang sama, Kepala Staf Umum IDF, Eyal Zamir, menyatakan bahwa serangan militer terhadap Iran akan mendorong Hamas untuk membebaskan para sandera Israel yang masih ditahan di Gaza.

 “Saya yakin bahwa operasi yang kita lakukan di Iran akan memperkuat kemampuan kita untuk menciptakan kondisi yang lebih baik agar para sandera kita bisa kembali ke rumah,” katanya. (hui/asr)

Laporan oleh Zhao Fenghua – NTD Television

Kekuatan Tempur Tertinggi AS Siap Tempur, Trump: Pekan Depan Akan Terjadi Sesuatu yang Besar

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (19/6/2025) mengisyaratkan bahwa Iran ingin berunding, tetapi sudah terlambat. Ia juga menyebut bahwa dalam waktu dekat, konflik militer bisa mengalami perubahan besar. Saat ini, dua kapal induk AS telah bergabung di Timur Tengah. Pesawat pembom siluman B-2 dan bom penghancur bunker raksasa juga siap digunakan. Para ahli menilai, hanya militer AS yang memiliki kemampuan untuk menghancurkan fasilitas nuklir Iran yang tersembunyi jauh di dalam tanah. Sementara itu, kelompok peretas pro-Israel telah melumpuhkan bank nasional Iran, menyebabkan kerugian besar. Perang belum dimulai, namun perang finansial sudah lebih dulu meletus.

“Saya katakan itu sudah terlambat. Sekarang, (dialog antara AS dan Iran) sudah terlalu terlambat,” kata Presiden AS Donald Trump. 

Hal paling menjadi perhatian publik saat ini adalah: apakah Amerika Serikat akan ikut campur dalam perang antara Israel dan Iran. Trump tidak memberikan jawaban tegas, tetapi memberi isyarat bahwa pekan depan situasi perang mungkin akan berubah drastis.

Saat ini, gugus tempur kapal induk USS Nimitz sedang melaju dengan kecepatan penuh menuju Timur Tengah untuk bergabung dengan USS Carl Vinson yang sudah berada di sana. Sebanyak 31 pesawat pengisi bahan bakar telah dikirim ke Eropa sebagai bantuan, 12 jet tempur tambahan dikerahkan ke kawasan Teluk Persia, dan 6 pesawat pembom siluman B-2 telah ditempatkan di pangkalan militer di Samudra Hindia. Banyak pihak menilai, tampaknya perang hanya tinggal menunggu perintah Trump saja.

“Hanya satu orang — presiden yang terpilih oleh rakyat Amerika — yang berwenang membuat keputusan. Di Departemen Pertahanan, tugas kami adalah siap untuk semua kemungkinan, dan itulah yang sedang kami lakukan,” ujar Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.  

Meskipun Israel telah menguasai wilayah udara Iran dan unggul dalam peperangan, para ahli menyatakan bahwa hanya dengan bantuan Amerika, Israel bisa benar-benar menghancurkan fasilitas nuklir Iran yang tersembunyi jauh di dalam pegunungan.

Senjata utama untuk tugas tersebut adalah bom penghancur bunker milik militer AS, GBU-57, yang beratnya mencapai 30.000 pon (sekitar 13,6 ton). Bom ini mampu menembus kedalaman tanah hingga 200 kaki (sekitar 61 meter) sebelum meledak, dan memiliki daya ledak setara 110 ton TNT, menjadikannya bom non-nuklir paling kuat di dunia.

Peneliti CNAS (Center for a New American Security), Halleg mengatakan:  “GBU-57 adalah satu-satunya senjata di seluruh dunia yang mampu menargetkan — bahkan menghancurkan — fasilitas nuklir Fordow milik Iran.”

Halleg menambahkan:  “Pesawat pembom siluman B-2 milik Angkatan Udara AS adalah satu-satunya yang dapat membawa dan meluncurkan bom ini, dan masing-masing bisa membawa dua bom.”

Selain pertempuran di medan perang, kelompok peretas pro-Israel bernama “Gonjeshke Darande” atau Sparrow Predator pada  Selasa (17 Juni) mengklaim telah melumpuhkan sistem Bank Sepah — bank milik negara Iran — dan menghancurkan seluruh data bank tersebut.

Jika klaim ini benar, maka bukan hanya rekening para nasabah yang bisa langsung menjadi nol, tetapi juga bisa menyebabkan gangguan pada rantai pasokan dana bank tersebut, menimbulkan krisis kepercayaan di sektor perbankan Iran dan melumpuhkan ekonomi negara itu.

Pada Rabu (18 Juni), Nobitex, bursa kripto terbesar di Iran, juga dilaporkan menjadi korban serangan kelompok peretas tersebut, dengan kerugian mencapai lebih dari 90 juta dolar AS. (hui/asr)

Laporan oleh Yi Jing, NTD TV – Diterjemahkan secara komprehensif

Serangan Balasan Israel Guncang Iran: 30 Jenderal Tewas, Dunia Menuju Perang Nuklir?

EtIndonesia. Konflik di Timur Tengah mencapai eskalasi paling berbahaya dalam sejarah dekade terakhir. Israel secara terbuka melancarkan serangan udara ke dua fasilitas nuklir utama Iran—Reaktor Air Berat Arak dan fasilitas pengayaan Natanz—sekaligus mengeksekusi operasi rahasia yang menewaskan 30 perwira tinggi militer Iran dalam satu malam, termasuk 8 jenderal papan atas dan 9 ilmuwan nuklir yang selama ini jadi otak di balik program nuklir Teheran.

Tidak hanya itu, operasi ini berlangsung di tengah kabar kedatangan “Doomsday Plane”—pesawat komando nuklir E-4B milik Angkatan Udara AS—yang mendarat di pangkalan Andrews dekat Washington, menandakan Amerika Serikat berada dalam status siaga tertinggi. Pada waktu yang sama, Presiden AS, Donald Trump, yang kembali berperan dalam kebijakan luar negeri, mengadakan pembicaraan tertutup dengan para jenderal militer terkait rencana rahasia menghancurkan fasilitas nuklir Fordow, titik vital terakhir pertahanan nuklir Iran.

Rusia dan Tiongkok: Sinyal “Meninggalkan” Iran?

Di tengah krisis ini, dunia internasional terpaku pada manuver diplomatik dua kekuatan besar, Rusia dan Tiongkok. Pada hari yang sama, Presiden Vladimir Putin dan Presiden Xi Jinping melakukan percakapan via telepon, membahas situasi Iran. Dalam pernyataan resmi, keduanya secara tersirat memberikan sinyal akan “meninggalkan” Iran jika eskalasi terus meningkat, dan menyiratkan keengganan melibatkan diri secara langsung dalam perang habis-habisan. Sikap ambigu ini menimbulkan spekulasi: apakah Iran akan segera mencari jalan keluar, atau justru semakin nekad?

Iran Balas Serang: Rudal Hantam Rumah Sakit di Israel

Merespons serangan tersebut, Iran menembakkan puluhan rudal balistik ke berbagai kota di Israel. Salah satu rudal bahkan dikonfirmasi menghantam sebuah rumah sakit besar di wilayah selatan Israel, memicu kecaman keras dari dunia internasional. 

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan: “Kami menargetkan pangkalan militer dan fasilitas rudal Iran, sedangkan mereka dengan sengaja membidik rumah sakit kami. Ini adalah kejahatan perang.”

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menambahkan bahwa Israel akan meningkatkan operasi militer terhadap seluruh infrastruktur strategis dan pemerintahan Iran, bahkan dengan target langsung ke pucuk pimpinan tertinggi, Ayatollah Khamenei.

Aksi Dramatis: Parlemen Iran Membakar Bendera AS, Ancaman Nuklir Dideklarasikan

Pada 18 Juni, situasi semakin panas ketika anggota parlemen Iran secara demonstratif membakar bendera Amerika Serikat di dalam ruang parlemen, meneriakkan yel-yel anti-AS dan mengancam akan menggunakan senjata nuklir jika AS ikut campur langsung dalam konflik. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pun mengumumkan, perang akan berlanjut hingga Israel “membayar kompensasi”, serta mengancam akan membalas dengan kekuatan penuh jika ada pihak ketiga yang berani ikut campur, tanpa menyebut negara mana yang dimaksud.

Tak cukup sampai di situ, Iran mengeluarkan peringatan evakuasi di sekitar fasilitas nuklir Dimona milik Israel, secara terbuka mengancam kemungkinan serangan nuklir sebagai langkah balasan terakhir.

Rencana Rahasia Serangan ke Fordow: Antara Diplomasi dan Opsi Militer

Sumber-sumber di Gedung Putih mengungkapkan bahwa Presiden Trump telah menyetujui rencana serangan ke Iran, tetapi masih menahan perintah final sambil menunggu sinyal dari Teheran apakah bersedia menghentikan program nuklirnya secara menyeluruh. Sementara itu, kemunculan pesawat komando E-4B “Doomsday Plane” di langit Amerika menjadi pertanda status siaga tertinggi, mengingat pesawat ini hanya diaktifkan saat krisis militer besar, seperti peristiwa 9/11.

CNN melaporkan, pesawat ini mampu menjadi “Gedung Putih terbang” yang memungkinkan presiden memimpin seluruh operasi militer global, termasuk jika terjadi perang nuklir.

Pada 19 Juni, setelah pertemuan intens antara Trump dan delegasi Iran, Gedung Putih mengumumkan bahwa AS akan menentukan dalam dua minggu ke depan apakah akan ikut serta dalam operasi militer bersama Israel atau tetap menempuh jalur diplomasi. Menteri Luar Negeri Jerman dan Prancis pun dijadwalkan mengadakan perundingan nuklir dengan Iran di Jenewa, berharap masih ada peluang menekan Teheran tanpa kekerasan.

Namun, analis menilai negosiasi ini hanya akan memberi waktu tambahan bagi Iran, mengingat Israel sudah pasti tidak akan menghentikan serangan, sedangkan Iran kecil kemungkinan menghentikan ambisi nuklirnya. Trump, menurut sumber Axios, menyiapkan dua opsi besar: membiarkan Israel bertempur sendiri dengan dukungan logistik AS, atau jika diplomasi gagal, AS siap turun langsung ke medan perang.

Trump menegaskan: “Kecuali Iran benar-benar menandatangani perjanjian pelucutan nuklir, saya tidak akan ragu mengambil langkah militer. Ini bukan negara biasa, mereka akan gunakan senjata nuklir jika punya kesempatan. Dunia harus mencegah kehancuran global.”

Kunci Serangan: Melumpuhkan Fordow, Jantung Nuklir Iran

Fasilitas Fordow menjadi pusat perhatian dunia. Lokasinya yang tersembunyi di bawah gunung batu membuatnya hampir mustahil ditembus serangan udara konvensional. Namun, para pejabat Pentagon meyakini, satu-satunya cara efektif adalah dengan memanfaatkan “bunker buster”—bom penghancur bunker super berat—yang diarahkan ke sistem ventilasi di permukaan tanah. Jika ventilasi ini hancur, seluruh fasilitas Fordow bisa lumpuh akibat panas berlebih dan kerusakan sistem kendali.

Pejabat militer AS mengaku percaya diri Fordow dapat dilumpuhkan, meski penggunaan senjata ini belum pernah diuji dalam pertempuran nyata. Selain serangan udara, opsi operasi darat berskala kecil, seperti yang pernah dilakukan pasukan khusus Israel di Suriah tahun lalu, kini masuk dalam rencana cadangan. Dengan kendali penuh di udara, skenario operasi khusus di wilayah Iran dinilai lebih realistis.

Walau AS menunda aksi langsung, Israel yakin mampu menimbulkan kerusakan signifikan pada Fordow. Netanyahu sendiri mengisyaratkan selain serangan udara, Israel tengah mematangkan opsi infiltrasi darat yang sangat berisiko—operasi yang hanya mungkin dilakukan jika akses udara dan intelijen telah benar-benar diamankan.

Dunia dalam Ketegangan: Semua Mata ke Timur Tengah

Situasi di Timur Tengah saat ini bak menahan napas di tepi jurang perang nuklir. Setiap langkah salah bisa memicu dampak global tak terbayangkan. Rusia dan Tiongkok tetap ambivalen, Eropa mendesak diplomasi, sementara AS dan Israel bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Di tengah ketidakpastian, satu hal yang jelas: keseimbangan dunia kini sedang diuji, dan keputusan dalam dua pekan ke depan bisa menentukan arah sejarah umat manusia—menuju perdamaian, atau ke jurang bencana nuklir.

Militer AS Siap Tempur, Trump: Rezim Iran Mungkin Akan Runtuh

EtIndonesia. Pada 18 Juni, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan di luar Gedung Putih bahwa Iran ingin bernegosiasi dengan Washington, tetapi sekarang sudah “terlambat”. Ia juga memperkirakan bahwa rezim Iran mungkin akan runtuh. Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa militer AS sudah siap menjalankan keputusan apapun yang akan diambil Trump.

Trump: Iran Ingin Berunding, Tapi Sudah Terlambat

Memasuki hari ketujuh konflik antara Israel dan Iran, Trump berbicara kepada wartawan di luar Gedung Putih. Ia tidak mengungkapkan apakah militer AS akan bergabung dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.

“Sekarang situasinya sangat berbeda dibanding seminggu lalu,” kata Trump. “Saya mungkin akan bergabung, mungkin juga tidak. Maksud saya, tidak ada yang tahu apa yang akan saya lakukan.”

Trump menyebut pejabat Iran ingin datang ke Washington untuk mengadakan pembicaraan, tetapi mengatakan bahwa untuk saat ini, “sudah agak terlambat.” Ia menggambarkan bahwa Iran tidak memiliki kemampuan pertahanan, termasuk sistem pertahanan udara.

Menteri Pertahanan AS: Militer Siap Jalankan Perintah Presiden

Pada hari yang sama, Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan kepada Komite Angkatan Bersenjata Senat bahwa Pentagon siap menjalankan perintah apapun dari Presiden Trump.

“Begitu Presiden membuat keputusan, kami siap menindaklanjutinya,” ujar Hegseth.

Dalam sesi tanya jawab di Kantor Oval Gedung Putih, Trump menyatakan bahwa tujuan Amerika adalah kemenangan total atas Iran, bukan sekadar gencatan senjata antara Israel dan Iran.

Ia juga menyebut bahwa rezim Iran mungkin akan runtuh. “Tentu saja, segala sesuatu bisa terjadi, bukan?”

Trump kini terlihat beralih dari mendukung negosiasi menjadi membuka kemungkinan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.

Trump menyebut bahwa sebelum Israel mulai menyerang Iran pekan lalu, Iran hanya berjarak beberapa minggu dari memiliki senjata nuklir. Kini, Amerika menuntut “kemenangan total” dan bukan sekadar gencatan senjata.

“Saya tidak mencari perang, tapi jika harus memilih antara perang dan membiarkan mereka punya senjata nuklir, maka Anda harus lakukan apa yang perlu dilakukan. Mungkin kita bahkan tidak perlu sampai berperang. Mungkin semuanya akan segera berakhir.”

“Yang jelas: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Terlalu berbahaya. Dan mereka pasti akan menggunakannya.”

Tiga Kapal Induk AS Dikerahkan ke Timur Tengah

Saat ini, tiga gugus tempur kapal induk AS sedang mendekati wilayah Timur Tengah. Menurut CNN pada 18 Juni, seorang pejabat AS dan dua sumber lainnya mengungkap bahwa Gugus Tempur Kapal Induk USS Gerald R. Ford dijadwalkan tiba di Laut Mediterania, dekat wilayah Israel, pekan depan.

Sementara itu, kapal induk USS Nimitz sedang menuju ke Timur Tengah dan kemungkinan akan bergabung atau menggantikan USS Carl Vinson yang sudah berada di kawasan tersebut.

Dalam waktu dekat, jumlah kapal induk AS di Timur Tengah akan mencapai tiga. Gugus tempur kapal induk merupakan sarana utama AS untuk memproyeksikan kekuatan global, terutama dalam masa krisis.

Kapal induk dapat membawa puluhan jet tempur untuk serangan, juga dilengkapi dengan sistem pertahanan rudal dan drone, serta dikawal oleh kapal lainnya untuk menghadapi ancaman dari udara, laut, maupun bawah laut.

Selain kapal induk, militer AS juga telah mengerahkan pembom strategis yang mampu membawa senjata nuklir ke wilayah sekitar Timur Tengah.

Menurut AFP, saat ini ada 4 unit pembom B-52H yang mampu membawa senjata nuklir dan amunisi presisi tinggi, yang telah ditempatkan di pangkalan Diego Garcia di Samudera Hindia sejak pertengahan Mei. Citra satelit menunjukkan kehadiran pesawat pengangkut strategis C-17 Globemaster III dan enam pesawat tanker udara KC-135 di sana.

Trump: Kami Tahu Lokasi Persembunyian Khamenei

Pada hari yang sama, Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, mengatakan bahwa Angkatan Udara Israel baru saja menghancurkan markas keamanan dalam negeri Iran — institusi yang digunakan untuk menindas para pembangkang.

Ia menambahkan bahwa Israel akan terus menyerang simbol-simbol kekuasaan rezim Iran.

Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam pidato yang disiarkan di televisi, menyatakan bahwa Iran tidak akan menyerah dan memperingatkan bahwa setiap intervensi militer dari AS akan “berakibat fatal” bagi Amerika.

Sebelumnya, kantor berita resmi Iran memposting video di platform X yang menunjukkan tangan seseorang menyentuh model bom nuklir, yang dinilai sebagai ancaman terselubung.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menyatakan bahwa “memenggal kepala” Khamenei akan mengakhiri konflik ini.

Pada 17 Juni, Trump menulis di platform Truth Social bahwa AS telah mengetahui lokasi persembunyian Khamenei dan menyerukan Iran untuk “menyerah tanpa syarat.”

“Dia adalah target yang sangat mudah diserang, tapi kami belum akan bertindak (membunuhnya!),” tulis Trump. Namun ia menegaskan, “Kesabaran kami mulai habis.” (Hui/asr)

Laporan oleh Luo Tingting – NTDTV.com 

Mossad Bongkar Rantai Komando Udara Iran Lewat Operasi “Decapitation”

EtIndonesia. Krisis di Timur Tengah kembali memanas setelah Israel, melalui badan intelijennya Mossad, melancarkan operasi khusus bertajuk “Decapitation” yang secara efektif melumpuhkan struktur komando udara Iran. Operasi rahasia yang diluncurkan pada 13 Juni lalu ini dinilai sebagai salah satu serangan intelijen paling berani dan canggih dalam sejarah konflik Israel-Iran.

Serangan Mendadak di Jantung Teheran

Pada Jumat malam, 13 Juni, Israel melancarkan serangan presisi ke sejumlah fasilitas militer dan nuklir strategis milik Iran. Target utama adalah jajaran petinggi Angkatan Udara Iran yang selama ini menjadi otak dari peluncuran rudal balistik ke wilayah Israel.

Dalam sebuah langkah yang jarang terjadi, Mossad menjalankan skenario jebakan dengan mengirimkan undangan rapat palsu ke lebih dari 20 pejabat tinggi Angkatan Udara Iran. Undangan ini menginstruksikan seluruh pejabat untuk berkumpul di sebuah bunker bawah tanah super rahasia di kawasan Teheran. Begitu para pejabat dan teknisi senior tiba di lokasi, Israel melancarkan serangan rudal presisi yang langsung menghantam bunker tersebut, menewaskan sejumlah besar komandan dan insinyur kunci.

Menurut keterangan resmi dari Departemen Pertahanan Israel, dampak dari operasi ini sangat signifikan—struktur kepemimpinan dan koordinasi serangan udara Iran dikabarkan nyaris lumpuh total. 

“Kami berhasil menghancurkan rantai komando utama yang selama ini bertanggung jawab atas serangan udara ke Israel,” ujar juru bicara militer Israel.

Efek Domino: Serangan Balasan Iran Melemah

Pasca-serangan, kemampuan Iran untuk melancarkan serangan balasan menurun drastis. Jika sebelumnya Iran mampu meluncurkan sekitar 40 rudal balistik dalam satu gelombang, kini mereka hanya mampu mengirimkan beberapa rudal saja dalam setiap aksi balasan. Israel mengklaim hampir separuh peluncur rudal Iran telah dihancurkan melalui operasi udara dan siber selama dua pekan terakhir.

Pemerintah Israel, menyadari berkurangnya ancaman serangan udara, mulai melonggarkan sejumlah pembatasan sipil yang sebelumnya diberlakukan. Warga kini sudah diperbolehkan melakukan perkumpulan dengan jumlah terbatas, dan aktivitas ekonomi di beberapa kota besar mulai berjalan normal kembali.

Operasi Intelijen Supermatang: Ponsel Enkripsi & Drone Berkedok Gudang

Dibalik keberhasilan operasi ini, terdapat jaringan intelijen Israel yang sangat matang dan berlapis. Financial Times melaporkan pada 19 Juni, Mossad memanfaatkan perangkat ponsel Android murah yang telah dimodifikasi khusus dengan sistem enkripsi tingkat tinggi. Perangkat tersebut didistribusikan kepada agen lapangan dan digunakan untuk koordinasi tanpa terdeteksi oleh sistem keamanan Iran.

Selain itu, Mossad menyamarkan markas drone sebagai gudang logistik biasa di sekitar perbatasan. Para agen penyamaran juga berbaur di antara pekerja konstruksi dan sopir truk, memastikan segala informasi yang masuk dan keluar dari Iran dapat dimonitor secara real-time.

Daftar target operasi pun sebenarnya sudah ditentukan sejak Maret lalu. Israel mengklaim telah memantau pergerakan para petinggi militer Iran dan menunggu momen ketika mereka berkumpul secara bersamaan. Dengan demikian, serangan gelombang pertama yang diluncurkan Mossad dapat langsung menghantam seluruh sasaran vital secara serentak.

Kolaborasi Elit: Dari Telekomunikasi hingga AI

Perencanaan operasi ini melibatkan para pakar teknologi dari berbagai disiplin. Tahun lalu, seorang eksekutif perusahaan telekomunikasi Israel di Eropa ditugaskan untuk mengembangkan ponsel Android khusus yang sepenuhnya tahan terhadap upaya sadap dan retas. Di sisi lain, seorang perwira cadangan yang bekerja di perusahaan teknologi kesehatan dipanggil kembali ke unit elit 9900—satuan yang mengembangkan algoritma pengenalan kendaraan militer, termasuk truk pengangkut rudal, lewat teknologi kecerdasan buatan (AI).

Iran Panik, Perintah Penghapusan WhatsApp dan Perangkat Online

Sebagai respons atas kebocoran informasi dan serangan mematikan ini, Pemerintah Iran segera memerintahkan seluruh pejabat tinggi untuk tidak menggunakan perangkat daring, terutama WhatsApp dan aplikasi komunikasi populer lain. Bahkan, masyarakat Iran juga diminta secara massal menghapus WhatsApp dari perangkat mereka. Namun, menurut sejumlah pakar keamanan siber, langkah ini dinilai tidak cukup efektif karena Mossad telah lama menggunakan saluran komunikasi rahasia sendiri yang mustahil dideteksi atau dijebol oleh intelijen Iran.

Peringatan dari Mantan Intelijen: Jangan Lengah

Seorang mantan pejabat intelijen Israel, Brigadir Jenderal (Purn) Ruth Eisin, menilai operasi ini sebagai salah satu bukti nyata keunggulan intelijen Israel dalam perang modern. Namun, Eisin juga mengingatkan bahwa kesuksesan besar ini tidak boleh membuat Israel lengah. 

“Setiap operasi spektakuler selalu berisiko menimbulkan balasan atau adaptasi dari pihak lawan. Justru saat euforia tinggi seperti inilah para pengambil keputusan harus ekstra waspada dan tetap menjaga kesiagaan penuh,” ujarnya dalam wawancara dengan Channel 12 Israel.

Kesimpulan: Eskalasi Berlanjut, Dunia Menahan Napas

Operasi “Decapitation” Mossad diyakini akan menjadi bahan studi di sekolah-sekolah intelijen dunia. Di satu sisi, Israel berhasil menunjukkan superioritas strategi dan teknologi, namun di sisi lain, eskalasi konflik dan kemungkinan aksi balasan dari Iran tetap menjadi ancaman nyata. Dengan struktur komando udara yang telah lumpuh, Iran kini harus mengevaluasi ulang seluruh skenario pertahanan dan serangan mereka.

Pemerhati Timur Tengah menilai, situasi ini masih jauh dari kata aman. Selama kedua belah pihak belum membuka pintu dialog damai, potensi perang lebih besar masih menghantui kawasan, bahkan dapat menyeret kekuatan global ke dalam pusaran konflik berkepanjangan.