Wanita di Tiongkok yang Ditusuk 22 Kali Bertahan Hidup, Berkat Implan Payudaranya

EtIndonesia. Dokter mengatakan bahwa implan payudara wanita itu telah menghalangi cedera yang berpotensi fatal, dengan hanya satu luka yang mencapai paru-parunya.

Seorang wanita di Tiongkok secara ajaib selamat dari serangan pisau brutal oleh orang asing setelah implan payudaranya melindunginya dari luka yang berpotensi fatal.

Menurut South China Morning Post, insiden yang mengejutkan itu terjadi pada tanggal 22 Mei di sebuah pusat perbelanjaan di Tiongkok tenggara, ketika korban berusia 30 tahun, bermarga Ma, diserang saat masuk ke dalam mobil.

Dia mengatakan bahwa penyerang memaksa masuk ke kursi depan dan mengancamnya dengan pisau. Meskipun dia berteriak minta tolong di area parkir, tidak ada orang yang melihat kejadian itu.

Penyerang itu kemudian memaksa Ma untuk membayar parkir sebelum memaksanya untuk keluar dari pusat perbelanjaan dan membawanya ke daerah tetangga.

Sepanjang perjalanan, penyerang terus mengancam wanita berusia 30 tahun itu dan meminta dia meminjam uang dari teman-temannya setelah memeriksa saldo rekening banknya, SCMP melaporkan. Kemudian, ketika pria itu teralihkan perhatiannya sebentar, Ma mengirim pesan kepada pacarnya, yang kemudian melacak lokasi teleponnya di komputernya dan menghubungi polisi.

Namun, ketika polisi tiba di tempat kejadian, penyerang tiba-tiba menikam Ma 22 kali di dada sebelum mengarahkan pisaunya ke dirinya sendiri. Penyerang itu meninggal tak lama kemudian. Namun, Ma secara ajaib selamat dari serangan brutal itu.

Dokter mengatakan bahwa implan payudaranya telah menghalangi cedera yang berpotensi fatal, dengan hanya satu luka yang mencapai paru-parunya.

“Kami menghitung lebih dari 20 luka tusuk. Untungnya, saya pernah menjalani operasi pembesaran payudara di masa lalu, dan implan itu menghalangi apa yang bisa menjadi pukulan fatal. Hanya satu luka tusuk yang mencapai paru-paru saya,” kata Ma.

Ma telah dipulangkan dari rumah sakit, tetapi dia menyatakan frustrasi karena pihak berwenang menutup kasus tersebut setelah kematian penyerangnya. Dia mengatakan dia merasa tidak berdaya karena masalah ini “tidak terselesaikan”.

“Rasanya saya tidak beruntung karena bertemu dengan tersangka. Sekarang dia sudah meninggal dan kasusnya ditutup, ada banyak hal yang tidak bisa dibatalkan,” katanya.

Kasus ini juga memicu kemarahan di dunia maya.

“Siapa yang mengira implan payudara bisa memiliki manfaat seperti ini! Klinik bedah plastik itu pantas mendapatkan ucapan terima kasih,” tulis seorang pengguna.

“Fakta bahwa implan itu secara tidak sengaja menyelamatkan hidupnya sangat dramatis. Ini seperti sesuatu yang diambil dari novel. Celah keamanan di tempat umum harus ditanggapi dengan serius. Orang tidak seharusnya hidup dalam ketakutan setiap kali mereka keluar!” komentar yang lain. (yn)

Sumber: ndtv

Amunisi Iran Menipis! Siapa Sangka, Tiongkok dan Rusia Mulai Bergerak Diam-diam di Tengah Kepungan AS

EtIndonesia. Krisis antara Iran dan Israel kian memasuki babak genting. Data intelijen yang dihimpun CNN menyebutkan, selama 14 bulan terakhir, Iran telah menembakkan sekitar 700 rudal balistik jarak menengah ke wilayah Israel. Namun, seiring masifnya serangan balasan Israel, kini sepertiga peluncur rudal strategis milik Iran telah berhasil dihancurkan. Di tengah ancaman serangan yang terus berlangsung, stok rudal balistik Iran diperkirakan hanya tersisa 1.300 unit—sebuah angka yang membuat kemampuan tempur Teheran untuk perang skala penuh kini dipertanyakan.

Iran Kehabisan Amunisi, Pilihan: Negosiasi atau Perang Total?

Para analis militer menegaskan, Iran kini dihadapkan pada dilema serius. Sumber-sumber di lingkungan pertahanan Iran memperkirakan, persediaan amunisi strategis negeri Mullah itu sudah semakin menipis. Dengan jumlah rudal yang terus berkurang dan sepertiga peluncur yang sudah luluh lantak, Iran diyakini tidak lagi memiliki cadangan cukup untuk mempertahankan perang jangka panjang, apalagi menghadapi serangan gabungan dari Israel dan sekutunya. Dalam situasi seperti ini, banyak pengamat meyakini bahwa Teheran kini lebih cenderung memilih opsi diplomasi dan negosiasi—terutama dalam isu program nuklir—daripada melanjutkan eskalasi militer yang nyaris tanpa jalan keluar.

Ketegangan dan Kepanikan di Lingkaran Elit Iran

Dari sisi politik domestik, laporan Reuters menyoroti meningkatnya kepanikan di lingkaran dalam pemerintahan Iran. Sumber internal menyebut, Ayatollah Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran kini merasa ruang geraknya makin sempit. Beberapa tokoh penting di sekelilingnya, yang selama ini menjadi kunci pengambilan keputusan, sudah banyak yang tewas atau dinonaktifkan akibat operasi intelijen Israel.

Dalam kondisi serba genting, peran putra Khamenei, Mojtaba, semakin menonjol. Dia kini aktif terlibat dalam seluruh proses pengambilan keputusan strategis, mulai dari kebijakan militer, ekonomi, hingga diplomasi luar negeri. Nama Mojtaba pun semakin kuat disebut sebagai calon suksesor utama sang Ayatollah. Namun, muncul pertanyaan besar di tengah publik dan elite militer: Akankah Mojtaba tetap memilih jalan perlawanan militer atau justru mendorong Iran masuk ke meja perundingan nuklir?

AS dan Sekutunya Memperkuat Cengkraman di Timur Tengah

Di sisi lain, Amerika Serikat memperlihatkan komitmen penuh untuk mempertahankan dominasi di kawasan Teluk. Presiden Donald Trump, seperti diberitakan sejumlah media besar, telah menyiapkan dua skenario besar: serangan militer langsung atau tekanan dengan kekuatan nuklir jika Iran tidak segera berkompromi.

Langkah nyata langsung diambil: AS secara bertahap mengirimkan tambahan kekuatan tempur ke Timur Tengah. Armada jet tempur canggih F-16, F-22, dan F-35 sudah dikerahkan, bersamaan dengan pesawat pengebom siluman B-2 Spirit yang mampu menghantam target strategis seperti fasilitas nuklir bawah tanah Fordow di Iran. Armada pesawat pengisi bahan bakar pun diterbangkan untuk mendukung operasi udara jarak jauh.

Tak hanya itu, armada kapal induk AS—USS Nimitz dan USS Carl Vinson—telah menempati posisi strategis di perairan Timur Tengah, sementara kapal induk USS Ford memperkuat barisan di kawasan Eropa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, tiga kapal induk Amerika dan satu kapal induk Inggris secara simultan membentuk blokade laut yang efektif menutup akses keluar-masuk Iran ke kawasan internasional. Tekanan militer dan diplomasi kini benar-benar mengurung Teheran dari segala arah.

Tiongkok dan Rusia Bermanuver: Dari Jalur Diplomasi Hingga Bantuan Strategis

Situasi semakin rumit ketika dua kekuatan besar dunia, Tiongkok dan Rusia, mulai mengambil sikap lebih terbuka dan aktif. Pada hari yang sama, Kementerian Luar Negeri Tiongkok secara resmi memberitahukan Pemerintah Oman bahwa Beijing tidak akan tinggal diam melihat konflik Iran-Israel semakin membara. Menteri Luar Negeri, Wang Yi langsung menelpon Menlu Mesir, menyerukan gencatan senjata segera demi stabilitas kawasan.

Presiden Xi Jinping pun akhirnya angkat bicara di hadapan dunia internasional. Dalam pernyataannya, Xi menegaskan bahwa Tiongkok tidak ingin melihat eskalasi konflik yang bisa mengguncang kestabilan Timur Tengah dan mengancam kepentingan ekonomi serta geopolitik global. Beijing menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan semua pihak guna menahan laju eskalasi dan mendorong dimulainya perundingan damai.

Menariknya, pada 17 Juni, dua pesawat kargo besar milik Tiongkok melintas tanpa hambatan di langit Iran dan mendarat langsung di salah satu bandara utama negara itu. Langkah misterius ini langsung memicu spekulasi global: apakah Tiongkok sedang mengirim bantuan logistik, sistem pertahanan, atau sekadar pasokan kemanusiaan bagi sekutunya tersebut?

Sejumlah pakar menilai, keputusan Tiongkok ini tak lepas dari kecemasan strategis yang makin mendalam. Pasalnya, ekonomi Tiongkok sangat tergantung pada pasokan minyak mentah Iran, terutama untuk kebutuhan kilang-kilang swasta yang selama ini menjadi tulang punggung industri energi Negeri Tirai Bambu. Jika rantai pasok minyak terganggu atau harga energi dunia melonjak akibat perang besar, ekonomi Tiongkok diprediksi akan mengalami tekanan hebat. Selain itu, Beijing telah menanamkan investasi miliaran dolar dalam berbagai proyek infrastruktur energi di Iran, termasuk proyek Belt and Road Initiative (BRI) yang menghubungkan jalur logistik lintas Asia dan Eropa.

Israel Serang Iran: Jaringan Internet Terputus, Misteri Pesawat ke Oman, dan Ancaman Perang Meluas

EtIndonesia. Krisis Timur Tengah kembali memanas setelah Menteri Pertahanan Israel, Yoav Katz, secara resmi mengumumkan peluncuran serangan udara besar-besaran ke sejumlah target strategis di Iran. Salah satu target utama yang dikonfirmasi adalah markas besar dinas keamanan dalam negeri Iran—sebuah simbol kekuatan rezim Teheran yang selama ini dinilai kebal dari serangan eksternal.

Dalam waktu hampir bersamaan, laporan dari dalam Iran menyebutkan bahwa akses internet nasional terputus total. Situasi ini memicu kekhawatiran internasional tentang upaya Pemerintah Iran untuk mengisolasi warganya dari informasi dunia luar di tengah eskalasi konflik. Pemutusan internet secara luas kerap menjadi indikator bahwa pemerintah sedang menghadapi ancaman atau perubahan besar, baik dari dalam maupun luar negeri.

Tiga Pesawat Pemerintah Iran Mendarat di Oman: Negosiasi atau Evakuasi?

Drama diplomatik dan spekulasi publik makin memuncak ketika pada pagi hari yang sama, tiga pesawat Pemerintah Iran dilaporkan mendarat di Oman. Kejadian ini menimbulkan tanda tanya besar, terutama karena Oman dikenal sebagai “jembatan diplomasi” antara Barat dan Teheran dalam konflik Timur Tengah. Beberapa waktu sebelumnya, utusan khusus Amerika Serikat untuk Timur Tengah memang dijadwalkan bertemu delegasi Iran di Oman, menambah lapisan misteri pada peristiwa hari ini.

Siapa penumpang pesawat-pesawat tersebut? Apakah para pejabat tinggi Iran, keluarga elite rezim, atau justru para mediator? Banyak pihak menduga, langkah ini bisa jadi merupakan upaya Pemerintah Iran untuk memulai negosiasi rahasia dengan AS di tengah tekanan militer yang semakin meningkat. Ada juga dugaan lain bahwa pesawat itu membawa keluarga para pejabat elit untuk mengungsi ke luar negeri, atau mungkin mengevakuasi sejumlah warga tertentu sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi serangan lebih besar.

Namun, spekulasi tersebut segera ditanggapi secara tegas oleh Menteri Luar Negeri Iran yang kepada jaringan berita Al Jazeera menyatakan: “Tidak ada satu pun pejabat pemerintah yang dikirim ke Oman untuk tujuan negosiasi.” 

Pernyataan ini tidak serta-merta meredam kecurigaan publik, mengingat dinamika politik Iran yang seringkali penuh kerahasiaan.

Israel Umumkan Target Akhir: Fasilitas Nuklir Iran Jadi Sasaran Utama

Konflik antara Israel dan Iran kali ini bukan sekadar balas-membalas serangan, melainkan sudah memasuki fase perang strategis. Petinggi Israel beberapa hari lalu secara terbuka menyatakan bahwa dalam waktu satu hingga dua minggu ke depan, seluruh fasilitas nuklir Iran akan dijadikan target, termasuk kompleks Fordow yang terkenal sebagai salah satu fasilitas nuklir bawah tanah paling kuat dan terlindungi di dunia.

Fasilitas Fordow, yang dibangun di bawah gunung dan dikelilingi oleh sistem pertahanan berlapis, selama ini diyakini kebal terhadap serangan udara konvensional. Namun, para analis militer Israel mengklaim bahwa mereka telah menyiapkan rencana yang mampu menghancurkan Fordow tanpa campur tangan militer Amerika Serikat. Hal ini sekaligus menegaskan tekad Israel untuk bertindak secara independen jika sekutu utamanya di Barat memilih menahan diri.

Perdebatan Panas di Washington: Apakah AS Akan Terjun ke Medan Perang?

Di balik layar, perdebatan sengit terjadi di antara pejabat tinggi Amerika Serikat. Presiden Donald Trump hingga kini diketahui menunda keputusan pengiriman pasukan atau dukungan militer penuh ke Timur Tengah. Alasannya, Trump berupaya mencari solusi diplomatik yang tidak menimbulkan korban jiwa besar-besaran. Namun, serangan ke fasilitas Fordow dipastikan membutuhkan bom penghancur bunker raksasa buatan Amerika, sehingga jika operasi ini berlangsung, keterlibatan AS secara militer sulit dihindari.

Beberapa kalangan di Washington memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat terjun langsung ke konflik, Iran kemungkinan besar akan melakukan serangan balasan ke berbagai pangkalan militer AS di kawasan Teluk dan sekitarnya. Hal ini berpotensi menyeret kawasan ke dalam perang regional yang luas, melibatkan negara-negara besar lain, bahkan membuka peluang konflik global.

Rencana Alternatif Israel: Serangan Presisi dan Perang Bawah Tanah

Mengutip laporan Wall Street Journal pada 18 Juni, Israel disebut memiliki strategi alternatif untuk menaklukkan Fordow. Seorang pejabat tinggi militer Israel mengungkapkan, Israel dapat menggunakan serangkaian bom penetrasi kecil dalam jumlah besar untuk secara bertahap menembus pertahanan bawah tanah Fordow. Taktik ini mirip dengan operasi militer rahasia yang pernah dilakukan Israel dalam menyingkirkan tokoh penting Hizbullah, Hassan Nasrallah, yang bersembunyi di bunker bawah tanah di Beirut.

Selain operasi udara, Israel kemungkinan juga akan mengerahkan pasukan khusus untuk melakukan sabotase atau infiltrasi langsung ke sistem vital fasilitas nuklir Iran. Dengan kombinasi perang elektronik, operasi siber, dan serangan presisi dari udara maupun darat, Israel berharap mampu melumpuhkan sistem pertahanan dan jaringan komunikasi musuh sebelum serangan utama dilancarkan.

Tiongkok dan Rusia Bergerak: Krisis Iran Berpotensi Menjadi Konflik Global

Ketegangan semakin meruncing dengan adanya sinyal kuat bahwa dua kekuatan besar dunia, Tiongkok dan Rusia, mulai mengambil posisi. Beijing secara terbuka menyatakan “siap turun tangan” jika konflik semakin melebar, sementara Moskow memperingatkan bahwa segala upaya militer terhadap Iran bisa memicu konsekuensi besar di kawasan Eurasia. Meski demikian, hingga berita ini diturunkan, baik Tiongkok maupun Rusia belum mengumumkan langkah konkret.

Kesimpulan: Titik Kritis Dunia dalam Genggaman Timur Tengah

Konflik Israel-Iran kali ini bukan lagi soal dua negara yang bermusuhan, melainkan telah berkembang menjadi krisis global yang berpotensi menyeret kekuatan besar dunia ke dalam pusaran perang baru. Serangan Israel ke fasilitas keamanan dan nuklir Iran, pemutusan akses internet, serta misteri pergerakan pesawat pemerintah ke Oman, semuanya menjadi indikator bahwa dunia kini sedang berada di ambang babak baru sejarah Timur Tengah—sebuah babak yang bisa mengubah peta geopolitik global dalam waktu singkat.

Apakah aksi-aksi militer ini akan berujung pada negosiasi damai atau justru membuka pintu bagi perang yang lebih luas? Dunia menunggu dengan napas tertahan, sementara para pemimpin dunia berlomba mencari celah untuk mencegah kiamat nuklir di abad ke-21.

Dokter di Tiongkok Mengeluarkan Sikat Gigi dari Perut Seorang Pria Berusia 64 Tabub, Setelah Menelannya 50 Tahun Lalu

EtIndonesi. Seorang pria berusia 64 tahun dari Anhui, Tiongkok, terkejut saat mengetahui bahwa sikat gigi anak-anak yang ditelannya lebih dari lima dekade lalu masih bersarang di dalam tubuhnya, lapor kantor berita China Liberty Times Net.

Pria itu, bermarga Yang, baru-baru ini mencari perawatan medis setelah menderita nyeri dada yang terus-menerus.

Selama endoskopi dan pemindaian pencitraan rutin, dokter terkejut menemukan benda plastik panjang dan tipis di duodenumnya, bagian dari usus halus.

Pemeriksaan lebih lanjut memastikan benda itu adalah sikat gigi plastik yang dirancang untuk anak-anak.

Yang mengungkapkan bahwa dia tidak sengaja menelan sikat gigi itu saat ia baru berusia 12 tahun saat bermain, tetapi merahasiakannya karena takut dimarahi oleh ibunya.

Selama bertahun-tahun, dia berasumsi sikat gigi itu akan larut secara alami di dalam tubuhnya.

Anehnya, sikat gigi itu tetap berada di tempat yang sama selama 52 tahun tanpa menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa seperti perforasi usus atau peradangan.

Dokter menyebut kasus itu sangat tidak biasa dan mengatakan bahwa Yang sangat beruntung.

Operasi segera diatur untuk mengangkat sikat gigi itu, dan Yang kini dalam kondisi stabil.

Berbicara setelah operasinya, Yang mengatakan bahwa dia sama sekali lupa tentang kejadian itu hingga dia mengalami masalah kesehatan baru-baru ini.

Dia tidak pernah membayangkan sikat gigi itu bisa bertahan di dalam tubuhnya selama lebih dari setengah abad.

Dokter menyarankan perawatan medis segera

Para ahli medis mencatat bahwa menelan benda asing secara tidak sengaja bukanlah hal yang jarang terjadi, terutama pada anak-anak.

Namun, jika tidak diobati, benda-benda tersebut dapat menyebabkan peradangan kronis, bisul, infeksi internal, atau bahkan syok septik.

Dokter menghimbau masyarakat untuk segera mencari perhatian medis dalam kasus seperti itu dan tidak menyembunyikan kejadian itu karena takut atau malu.

“Sesuatu yang kecil bisa diam-diam menjadi bahaya kesehatan yang besar,” kata mereka. (yn)

Sumber: mustsharenews

Iran di Ujung Tanduk: Tiga Pesawat, Satu Ultimatum, dan Ancaman Global

EtIndonesia. Krisis di Timur Tengah kembali memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, secara tegas menolak ajakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menyerah tanpa syarat. Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan apa pun dari Washington, bahkan mengeluarkan ancaman keras terhadap Amerika Serikat jika sampai terjadi intervensi militer.

Khamenei: “Iran Tidak Akan Menyerah!”

Dalam sebuah pidato yang disiarkan secara nasional, Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah di bawah tekanan Amerika Serikat, berapa pun besarnya ancaman atau sanksi yang dijatuhkan. 

“Kami tidak akan menyerah tanpa syarat. Jika militer Amerika bertindak, maka konsekuensinya akan sangat serius dan tidak akan bisa diperbaiki,” tegas Khamenei, menyiratkan potensi eskalasi yang jauh lebih besar jika AS mengambil langkah militer.

Trump: “Kesabaran Saya Sudah Habis, Iran Harus Menyerah!”

Sementara itu, Presiden Trump dalam pernyataan resminya di Gedung Putih menegaskan bahwa Amerika Serikat masih mempertimbangkan seluruh opsi, termasuk kemungkinan aksi militer terhadap fasilitas nuklir Iran. Meski tidak secara eksplisit mengumumkan rencana serangan, Trump mengisyaratkan bahwa waktu Iran semakin menipis. 

“Iran sudah menghubungi kami dan bahkan menawarkan untuk datang ke Gedung Putih. Namun, saat ini sudah terlambat. Dalam beberapa minggu ke depan, Iran bisa saja memiliki senjata nuklir. Jika itu terjadi, dunia berada di ambang bencana,” ujar Trump dengan nada serius.

Trump menegaskan bahwa tujuannya saat ini hanya satu, yakni memaksa Iran untuk menyerah tanpa syarat.

“Kesabaran saya sudah habis. Inilah alasan kami mengambil tindakan sekarang. Perang itu sangat rumit—semua bisa berubah di detik terakhir,” lanjut Trump, seraya menekankan bahwa pekan depan akan menjadi periode paling krusial dalam perkembangan krisis ini.

Tiga Pesawat Pemerintah Iran Mendarat di Oman: Negosiasi atau Pelarian?

Di tengah memuncaknya tensi, perhatian dunia tertuju pada pergerakan tiga pesawat pemerintah Iran yang tiba-tiba mendarat di Oman pada 18 Juni. Keberangkatan mendadak ini memunculkan spekulasi—apakah para pejabat Iran berangkat ke Oman untuk melakukan negosiasi rahasia, atau justru sedang mempersiapkan rute pelarian apabila situasi di Teheran kian memburuk? Sampai berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pemerintah Iran maupun Oman terkait tujuan kedatangan delegasi tersebut.

Tiongkok Siap Campur Tangan: Perimbangan Baru di Timur Tengah

Situasi semakin kompleks setelah Pemerintah Tiongkok pada hari yang sama menyatakan siap turun tangan dan ikut campur dalam konflik ini jika krisis berlanjut. Pernyataan Beijing ini disampaikan hanya beberapa jam setelah kabar kedatangan pesawat Iran di Oman beredar luas. Pihak Kementerian Luar Negeri Tiongkok belum memberikan rincian langkah konkret, namun pesan ini jelas mengirimkan sinyal bahwa ketegangan di kawasan berpotensi meluas ke ranah geopolitik global.

Rapat Darurat di Gedung Putih dan Dukungan Penuh untuk Israel

Sebelumnya, pada malam sebelumnya, Presiden Trump menggelar rapat darurat tertutup dengan jajaran penasihat keamanan nasional di Gedung Putih. Pembahasan utama adalah merespons situasi yang bergerak sangat cepat, terutama terkait kemungkinan serangan langsung ke fasilitas nuklir Iran dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan. Meski hasil rapat tidak diumumkan secara terbuka, beberapa pejabat Gedung Putih menyebutkan bahwa setiap opsi—termasuk opsi militer terbuka—masih ada di meja Trump.

Dalam konferensi pers hari ini, ketika ditanya kemungkinan serangan ke Iran, Trump menjawab singkat: “Mungkin ya, mungkin tidak. Tak ada yang tahu pasti. Tapi yang jelas, Iran kini dalam masalah besar. Mereka ingin bernegosiasi, tapi seharusnya mereka datang lebih awal,” sindir Trump. 

Dia juga mengungkap bahwa dirinya telah menerima tawaran dari Iran untuk mengunjungi Gedung Putih, namun memperingatkan bahwa waktu Iran semakin sempit untuk mengambil keputusan.

Selain itu, Trump juga mengonfirmasi bahwa dia telah melakukan percakapan telepon dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan kembali menegaskan dukungan penuh Amerika Serikat terhadap langkah-langkah Israel di kawasan, khususnya dalam upaya menekan program nuklir Iran.

Pekan Penentuan di Timur Tengah

Dengan eskalasi yang terjadi hari demi hari, para pengamat internasional memperkirakan bahwa beberapa hari ke depan akan menjadi momen penentu dalam krisis Iran-AS ini. Banyak pihak menyoroti bahwa kesalahan perhitungan sedikit saja dapat memicu perang besar yang dampaknya meluas hingga ke negara-negara tetangga, bahkan menyeret kekuatan global lainnya.

Menutup pidatonya hari ini, Trump melemparkan satu kalimat singkat sebagai respons atas penolakan Khamenei untuk menyerah: “Good luck.” Satu kalimat yang tampaknya menyiratkan ancaman sekaligus peringatan keras bahwa waktu untuk kompromi semakin habis.

Ikan Menderita Rasa Sakit Luar Biasa Hingga 22 Menit Saat Ditarik Keluar dari Air

EtIndonesia. Setiap tahun, sekitar satu triliun ikan ditarik keluar dari air, yang biasanya akan kita santap. Meskipun hal ini bukanlah hasil yang menyenangkan bagi hewan, sebuah penelitian baru telah menunjukkan angka yang menyadarkan tentang penderitaan mereka.

Ikan trout pelangi (Oncorhynchus mykiss) berasal dari anak sungai air dingin Samudra Pasifik, tetapi sekarang menjadi ikan konsumsi yang populer di seluruh dunia, dibudidayakan di setiap benua kecuali Antartika.

Sebagian besar ikan mati karena sesak napas, baik di udara terbuka maupun di air es. Meskipun ini merupakan cara yang hemat biaya untuk membunuh ikan secara massal, tim ahli biologi internasional, yang dipimpin oleh Cynthia Schuck-Paim dari Welfare Footprint Institute, telah menemukan bahwa setiap ikan dapat mengalami rasa sakit yang luar biasa hingga 22 menit dengan metode ini.

Penderitaan hewan merupakan hal yang sulit diukur, tetapi para ilmuwan baru-baru ini mengembangkan kerangka kerja standar yang memperhitungkan intensitas kondisi negatif seperti stres atau rasa sakit dan lamanya waktu kondisi tersebut dialami.

Kerangka kerja ini disebut Welfare Footprint Framework, atau WFF. Harapannya, kerangka kerja ini akan memungkinkan orang-orang yang bekerja dengan hewan – ahli biologi, dokter hewan, penjaga kebun binatang, petani, dll – untuk membandingkan dan meningkatkan standar kesejahteraan hewan.

“Kekhawatiran masyarakat tentang dampak praktik produksi terhadap kesejahteraan hewan meningkat, sebagaimana dibuktikan oleh gerakan yang didorong oleh konsumen, upaya pelabelan, skema akreditasi, kebijakan, dan undang-undang yang memprioritaskan kesejahteraan hewan,” tulis penulis studi tersebut.

“Temuan kami memberikan estimasi kuantitatif pertama tentang rasa sakit selama penyembelihan ikan, yang menunjukkan skala potensial peningkatan kesejahteraan yang dapat dicapai melalui metode pemingsanan yang efektif.”

Dengan memilah-milah tumpukan makalah ilmiah yang diterbitkan, tim tersebut membuat gambaran terperinci tentang pengalaman seekor ikan yang keluar dari air.

Hanya lima detik terpapar udara memicu respons neurokimia yang mungkin kita kaitkan dengan emosi negatif dalam diri kita sendiri. Perilaku seperti memutar dan membalik dengan kuat lebih jauh menunjukkan reaksi penolakan yang intens.

Tanpa air, struktur insang halus yang menukar oksigen dengan karbon dioksida saling menempel, menyebabkan CO2 dari respirasi terakumulasi. Meningkatnya kadar ini memicu nosisepsi – sistem alarm tubuh – yang menyebabkan ikan tersentak. Akhirnya kadar CO2 yang meningkat mengasamkan darah dan cairan serebrospinal hewan, yang akhirnya mengakibatkan ketidaksadaran.

Bergantung pada ukuran ikan, dan kondisi di mana dia disembelih, pengalaman menyedihkan ini dapat berlangsung antara 2 dan 25 menit.

“Jika distandarisasi berdasarkan hasil produksi, ini setara dengan rata-rata 24 menit per kilogram, dengan lebih dari satu jam rasa sakit sedang hingga ekstrem per kilogram dalam beberapa kasus,” catat penulis.

Mereka memperkirakan bahwa pemingsanan listrik, yang telah diusulkan sebagai alternatif manusiawi untuk membunuh ikan, dapat menghemat hingga 20 jam rasa sakit sedang hingga ekstrem per dolar AS dari belanja modal.

Namun, pemindaian otak telah menemukan bahwa efektivitas pemingsanan listrik dapat sangat bervariasi: idealnya, hewan harus segera dibuat pingsan sepenuhnya hingga mati. Dengan metode pemingsanan saat ini, hal ini tidak selalu terjadi.

“Dampak kesejahteraan dan efektivitas metode pemingsanan apa pun juga sangat bergantung pada keseluruhan proses panen, yang dipengaruhi oleh stresor pra-pemotongan kumulatif,” tulis Schuck-Paim dan rekan-rekannya.

“WFF juga dapat digunakan untuk menilai dampak kesejahteraan dari proses ini dan mengidentifikasi area prioritas untuk intervensi yang efektif.”

Meskipun sulit bagi banyak dari kita untuk menghadapi biaya aktivitas manusia kita dari sudut pandang hewan, ukuran pengalaman hewan yang sebanding ini menawarkan gambaran yang jelas tentang di mana peningkatan dapat dilakukan untuk kesejahteraan stok makanan kita.

Dengan mengukur rasa sakit yang terkait dengan metode penyembelihan ikan yang paling umum ini, kita dapat menemukan cara yang lebih baik untuk merawat miliaran hewan yang memberi kita makan setiap tahun.

Penelitian ini dipublikasikan dalam Scientific Reports. (yn)

Sumber: sciencealert

Video : “Teheran Akan Membayar Harga Mahal”, Netanyahu Memperingatkan Setelah Rudal Menghantam Rumah Sakit, Menyebabkan Kerusakan Parah

EtIndonesia. Dalam serangkaian serangan rudal baru oleh Teheran pada hari Kamis (19 Juni), rumah sakit utama di Israel selatan telah mengalami “kerusakan parah”, kata para pejabat.

Rumah Sakit Soroka di Beersheba telah mendesak pasien untuk tidak datang berobat setelah serangan tersebut. Beberapa orang telah terluka, meskipun jumlah pastinya belum diketahui. Sementara itu, rumah sakit sedang menilai tingkat kerusakan dan jumlah orang yang terluka.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu telah mengutuk serangan itu dan mengatakan Teheran akan membayar “harga mahal” untuk serangan itu.

Berbicara kepada X Netanyahu berkata : “Pagi ini, para diktator teroris Iran menembakkan rudal ke Rumah Sakit Soroka di Beer Sheva dan ke warga sipil di pusat negara itu. Kami akan membuat para tiran di Teheran membayar harga yang mahal,” kata Netanyahu dalam sebuah posting dalam bahasa Ibrani.

Menurut layanan darurat Israel, serangan rudal oleh Iran di seluruh negeri pada hari Kamis telah melukai 65 orang, lapor BBC. Sekitar 42 orang mengalami luka ringan, sementara 18 orang terluka dalam perjalanan ke tempat perlindungan bom.

Wakil menteri luar negeri Israel, Sharren Haskel juga mengecam Iran karena menyerang rumah sakit tersebut.

Menyebut serangan itu “disengaja” dan “kriminal”, Haskel berkata: “Iran baru saja menyerang Rumah Sakit Soroka di Be’er Sheva dengan rudal balistik. Bukan pangkalan militer. Sebuah rumah sakit. Ini adalah pusat medis utama untuk seluruh wilayah Negev di Israel. Disengaja. Kriminal. Sasaran sipil. Dunia harus bersuara.” (yn)

Wawancara Eksklusif NTD dengan Anggota Kongres AS: Seberapa Berbahayakah Pewarna Makanan? Bagaimana Makan Sehat?

EtIndonesia. Pemerintah AS baru-baru ini meluncurkan kampanye “Membuat Amerika Sehat Kembali”. Presiden Trump mengungkapkan bahwa dibandingkan dengan tahun 1970-an, angka kejadian kanker pada anak meningkat hampir 50%. Reformasi pangan ini menyentuh rantai kepentingan para raksasa industri. Lalu, seberapa berbahayakah pewarna makanan buatan? NTD mewawancarai dua anggota Kongres AS untuk mengungkap faktanya.

Reporter NTD Jack Bradley: “Ibu Rachel, Tuan Stephen, terima kasih banyak atas waktunya.”

Anggota Kongres AS Stephen Frank dan Rachel Williams: “Senang bisa hadir, terima kasih atas undangannya.”

Reporter Jack Bradley: “Kalian baru saja menghadiri rapat Komite ‘Membuat Amerika Sehat Kembali’. Presiden Trump dan Menteri Kesehatan Kennedy Jr. menyampaikan pidato penting terkait laporan dari Departemen Kesehatan.”

Rachel Williams: “Apa yang kami dengar kemarin dari laporan ‘Membuat Amerika Sehat Kembali’ sangat mengejutkan. Sebagai seorang ibu dari dua anak, saya sangat khawatir dan terkejut. Tapi pemerintahan ini—Presiden Trump dan Sekretaris Kesehatan Kennedy Jr.—sungguh-sungguh menyelidiki akar dari berbagai epidemi penyakit kronis yang umum terjadi. Mereka ingin menggunakan standar emas dalam ilmu pengetahuan untuk mencari akar penyebabnya.”

Reporter Jack Bradley: “Ada cukup banyak suara penolakan dari kalangan ilmiah, terutama dari National Institutes of Health (NIH). Bahkan mereka enggan meneliti autisme, karena khawatir hasil penelitiannya akan membongkar narasi yang ada saat ini. Apakah ini yang dimaksud Presiden Trump sebagai kelompok kepentingan khusus?”

Stephen Frank: “Saya pikir memang ada banyak kelompok kepentingan khusus yang terlibat, mulai dari industri farmasi, pertanian besar, hingga perusahaan minuman besar. Mereka punya banyak cara dan sumber daya, baik di tingkat negara bagian maupun federal. Misalnya, ketika saya mengajukan undang-undang SNAP—program bantuan nutrisi—di South Carolina, saya dan beberapa rekan berusaha mendorong agar permen dan minuman bersoda dikeluarkan dari program tersebut. Tapi dalam hitungan hari, beberapa rekan saya menarik dukungan mereka. Ternyata, mereka mendapat tekanan langsung dari perusahaan-perusahaan besar, seperti Coca-Cola dan Pepsi, yang menggunakan program bantuan ini untuk secara tidak langsung menerima subsidi dari pemerintah.”

Stephen Frank: “SNAP adalah ‘Program Bantuan Nutrisi Tambahan’. Tapi minuman bergula tidak mengandung nutrisi apa pun, dan kenyataannya mereka masih masuk dalam daftar makanan yang dibantu—itu benar-benar konyol. Sikap saya jelas: itu harus dihentikan.”

Reporter Jack Bradley: “Sekarang mari kita bahas soal upaya terbaru dalam kampanye ‘Membuat Amerika Sehat Kembali’, seperti penghapusan bertahap pewarna makanan buatan. Apakah ini menunjukkan bahwa gerakan ini makin kuat? Seberapa penting kebijakan ini?”

Stephen Frank: “Akhirnya, pemerintah mengakui hal ini. Dulu, banyak lembaga pemerintah yang korup dan sengaja menyembunyikan kebenaran. Apa yang sekarang terungkap bukanlah hal baru, tetapi setidaknya ada pengakuan resmi: ya, kamu tidak gila. Kalau kamu memberi anak usia lima tahun pewarna makanan merah, kamu akan melihat perilakunya berubah drastis.”

Rachel Williams: “Karena itulah kepala pendidikan publik di negara bagian kami tertarik dengan program ‘dari petani ke sekolah’. Sekarang, semakin banyak distrik sekolah yang mulai menerima dan menerapkannya.”

Reporter Jack Bradley: “Gerakan ini mungkin bisa membuka peluang kerja sama lintas partai di Amerika. Terima kasih banyak atas waktunya, Rachel dan Stephen.”

Stephen Frank dan Rachel Williams: “Terima kasih.” (Hui/asr)

Iran Ancam Nuklir, Trump Tutup Pintu Damai: Akankah Timur Tengah Meledak?

EtIndonesia. Ketegangan di Timur Tengah kembali mencapai puncaknya setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan dalam pidato nasional bahwa Iran “tidak akan pernah menyerah”, meski dihadapkan pada tekanan dan ancaman militer dari Amerika Serikat serta gelombang serangan udara Israel yang semakin intensif.

Pidato Khamenei: Ancaman Balasan dan Peringatan Perang Besar

Dalam pidato yang disiarkan langsung oleh televisi nasional Iran pada 18 Juni, Khamenei dengan tegas menolak segala bentuk intervensi militer asing.

“Setiap intervensi militer Amerika pasti akan membawa kerugian yang tak dapat diperbaiki. Amerika akan lebih banyak menanggung kerugian dibandingkan Iran sendiri,” ujar Khamenei. 

Dia juga mengancam, jika Amerika terlibat lebih jauh, maka balasan Iran akan jauh lebih besar daripada kerusakan yang mungkin mereka alami.

Televisi nasional Iran juga menyiarkan peringatan dramatis: malam itu akan menjadi malam yang akan dikenang dunia selama ratusan tahun. Disertai tayangan video propaganda yang memperlihatkan seseorang seolah-olah menyentuh bom nuklir, publik pun langsung berspekulasi tentang ancaman penggunaan senjata nuklir terhadap Israel. Namun hingga kini, Iran belum pernah menggelar uji coba nuklir bawah tanah dan belum memiliki rekam jejak peluncuran senjata nuklir.

Adu Propaganda dan Serangan Siber

Tak hanya ancaman verbal, pemerintah Iran juga merilis video peluncur rudal bergerak di kawasan pegunungan, yang disebar luas di media sosial. Namun, banyak warganet menyoroti kejanggalan video tersebut—dua orang dalam video tiba-tiba menghilang di depan truk peluncur, menandakan adanya manipulasi menggunakan teknologi AI dengan kualitas rendah.

Di sisi lain, militer Israel langsung menanggapi pidato Khamenei dengan meluncurkan serangan udara ke sejumlah lokasi di timur Teheran, salah satunya diduga menjadi tempat persembunyian Khamenei. Di saat bersamaan, pesawat pengebom strategis B-52 milik Amerika Serikat telah disiagakan di atas Samudra Hindia dengan muatan lengkap. Bahkan terjadi serangan siber ke jaringan televisi Iran, di mana siaran mereka diretas dan muncul pesan-pesan yang mengajak masyarakat Iran untuk memberontak melawan pemerintah.

Trump: “Terlambat untuk Negosiasi”

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, usai memimpin rapat Dewan Keamanan Nasional pada 18 Juni, untuk pertama kalinya secara terbuka mengonfirmasi bahwa pihak Iran telah menghubungi Amerika untuk mencoba bernegosiasi pasca-serangan Israel. Namun, Trump menegaskan bahwa saat ini semuanya sudah terlambat.

“Iran ingin bernegosiasi, bahkan berniat datang ke Gedung Putih. Tapi, sekarang sudah terlambat. Kita lihat saja nanti,” ujar Trump di hadapan media.

Saat ditanya apakah dia yakin rezim di Iran akan segera tumbang, Trump menjawab diplomatis: “Tentu saja, apapun bisa terjadi.” 

Trump juga menyatakan kemungkinan adanya pertemuan antara Iran dan Israel dalam waktu singkat, sembari menegaskan bahwa inti masalahnya adalah: dunia harus memilih, apakah membiarkan Iran mengembangkan kemampuan nuklir, atau mencegah konflik besar yang lebih luas.

Trump juga menuturkan bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin, sempat menawarkan diri sebagai penengah negosiasi antara Israel dan Iran, namun Trump menolak secara halus.

“Saya bilang ke Putin, selesaikan dulu negosiasi Rusia, baru pikirkan masalah ini,” kata Trump.

Opini Publik Amerika: Menolak Iran Miliki Nuklir

Menurut survei CNN, 83% pendukung Partai Republik dan 79% pendukung Partai Demokrat secara tegas menolak Iran memiliki senjata nuklir. Dukungan publik Amerika kepada Trump untuk mencegah Iran mendapatkan senjata pemusnah massal terbilang sangat besar. Media Amerika menyoroti, sikap bipartisan ini menunjukkan bahwa isu nuklir Iran adalah konsensus nasional, bukan hanya kepentingan politik satu partai.

Reaksi Internasional: Jerman Dukung Israel, Rusia Pilih Diam

Dari Eropa, Kanselir Jerman, Friedrich Merz, dalam wawancara dengan ZDF, secara terbuka memuji Israel yang dianggap sedang “membersihkan dunia dari rezim destruktif”. 

“Tanpa keberanian pemerintah dan militer Israel, Iran mungkin akan bertahan lebih lama dan bisa memiliki senjata nuklir. Saya sangat menghormati tindakan Israel,” ungkap Merz.

Jerman sendiri, menurut laporan CNN, merasa memiliki tanggung jawab khusus untuk melindungi bangsa Yahudi sebagai bagian dari pelajaran sejarah kelam pada era Perang Dunia II.

Sementara itu, media Rusia menyoroti dampak ekonomi dari konflik ini, terutama kenaikan harga minyak dunia yang bisa menguntungkan Rusia. Namun, menurut analis Rusia, Andrey Kortunov, konflik ini justru berisiko bagi kepentingan Moskow. Rusia tidak mampu menahan Israel, meskipun lima bulan lalu telah menandatangani kemitraan strategis penuh dengan Iran. Kini, Moskow memilih untuk tidak mengecam Israel maupun memberikan bantuan militer langsung ke Teheran.

Dampak Ekonomi: Tiongkok Terancam Jika Iran Runtuh

Konflik yang memanas ini juga mengancam kepentingan Tiongkok di kawasan Timur Tengah. Saat ini, lebih dari 90% ekspor minyak Iran dijual ke Tiongkok, dan kerjasama ekonomi kedua negara sangat besar—termasuk proyek infrastruktur jangka panjang senilai 400 miliar dolar selama 25 tahun. Jika rezim Iran tumbang, proyek tersebut bisa ambruk total, dan investasi Tiongkok di Iran diprediksi akan hilang tanpa sisa.

Menurut Wakil Profesor Hubungan Internasional Universitas Tamkang, Taiwan, Zheng Qinmo, setengah minyak Iran yang dikirim ke Tiongkok dipakai membayar utang, sisanya dijual dengan harga sangat murah. Praktis, Iran selama ini telah menjadi negara yang sangat bergantung pada Tiongkok, bahkan bisa dikatakan berada di bawah kendali Beijing di kawasan Timur Tengah. Kehancuran Iran otomatis berarti hancurnya pengaruh strategis Tiongkok di wilayah tersebut.

Kepala Institut Riset Strategi dan Sumber Daya INDSR Taiwan, Su Tzu-yun, menilai: “Langkah Trump dan Israel bukan hanya menekan Iran, tapi sekaligus menumpas pengaruh Tiongkok dan Rusia di Timur Tengah, agar Amerika bisa fokus menghadapi Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik. Dengan ambruknya Iran, pengaruh Tiongkok akan semakin pudar.”

Kesimpulan: Titik Kritis Timur Tengah

Saat ini, dunia menahan napas menanti perkembangan selanjutnya. Iran, Israel, Amerika Serikat, serta kekuatan-kekuatan global seperti Rusia dan Tiongkok kini sama-sama memasuki babak baru dalam perebutan pengaruh di Timur Tengah. Konflik ini tidak hanya soal pertarungan kekuatan militer, tetapi juga soal arah masa depan geopolitik dan ekonomi dunia.

Situasi di Timur Tengah kini benar-benar berada di ambang perubahan besar, dan dunia pun hanya bisa menunggu: apakah akan lahir babak baru perdamaian atau sebaliknya, perang yang lebih luas dan kehancuran lebih besar.

Era Senjata Nuklir Bangkit Kembali: PKT Kini Miliki 600 Hulu Ledak Nuklir

Era senjata nuklir global kini bangkit kembali dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Menurut laporan tahunan terbaru dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), sembilan negara pemilik senjata nuklir di dunia tidak hanya meningkatkan modernisasi persenjataan mereka, tetapi untuk pertama kalinya sejak Perang Dingin berakhir 30 tahun lalu, jumlah hulu ledak nuklir global yang sebelumnya terus menurun berbalik arah dan meningkat. Partai Komunis Tiongkok (PKT) disebut sebagai pendorong utama lonjakan ini, dengan jumlah hulu ledak nuklirnya melonjak menjadi 600 unit.

EtIndonesia. Menurut Laporan Tahunan 2025 yang dirilis SIPRI pada 16 Juni, saat ini Tiongkok memiliki setidaknya 600 hulu ledak nuklir, dan meningkat sekitar 100 hulu ledak setiap tahun, menjadikannya negara dengan pertumbuhan persenjataan nuklir tercepat di dunia.

Meskipun Tiongkok belum menempatkan hulu ledak tersebut dalam posisi siaga penuh, sekitar 350 silo peluncuran rudal balistik antarbenua (ICBM) telah dibangun secara massif, atau hampir rampung, di gurun utara dan kawasan pegunungan timur negara itu. 

SIPRI memperkirakan, jika tren ini terus berlanjut, pada tahun 2030 Tiongkok dapat menyamai Amerika Serikat dan Rusia dalam jumlah peluncur ICBM. Ketiga negara nuklir besar ini—AS, Rusia, dan Tiongkok—tengah berada dalam konfrontasi langsung, menjadikan berbagai perjanjian pengendalian senjata global nyaris tak berarti, dan perundingan nuklir pun mandek, menyebabkan kestabilan strategis dunia kian rapuh.

“Jika jumlah senjata nuklir Tiongkok meningkat, maka pertama, daya tawar politik internasionalnya akan semakin besar; kedua, jika mereka melakukan tindakan militer terhadap negara-negara tetangga seperti Taiwan, Filipina, atau bahkan Jepang di masa depan, maka kekuatan nuklir ini akan meningkatkan tekanan terhadap negara-negara tersebut,” ujar Su Tzu-yun, Kepala Institut Strategi dan Sumber Daya di Institut Penelitian Pertahanan Nasional Taiwan. 

Sementara itu, Ye Yaoyuan, Guru Besar Studi Internasional di Universitas St. Thomas, AS, berpendapat bahwa jumlah hulu ledak yang banyak tidak berarti kemampuan militer yang lebih kuat:

“Hulu ledak lebih dari 10 saja sudah tidak akan digunakan. Jadi, ketika Anda punya begitu banyak senjata nuklir, tujuan sebenarnya bukan untuk menghancurkan lawan, melainkan untuk:

  1. Menggentarkan negara lain agar tidak menyerang atau mencampuri urusan dalam negeri Anda;
  2. Membangkitkan nasionalisme dan semangat patriotisme di kalangan rakyat sebagai simbol kekuatan nasional.”

Departemen Pertahanan AS memprediksi bahwa pada tahun 2035, Tiongkok dapat memiliki hingga 1.500 hulu ledak nuklir. Tren peningkatan senjata ini menimbulkan kekhawatiran serius dari NATO dan Amerika Serikat.

Tahun lalu, NATO mulai membahas rencana kesiapsiagaan senjata nuklir (standby nuclear plan).

Pada 10 Juni, dalam sidang dengar pendapat di Komite Anggaran DPR AS, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan bahwa pendanaan untuk strategi pencegahan nuklir terhadap Tiongkok adalah prioritas utama:

“PKT sedang melakukan ekspansi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya. Presiden Trump sedang memperbaiki kesalahan-kesalahan ini.”

Su Tzu-yun menambahkan: “Saat ini, tiga negara anggota NATO memiliki senjata nuklir. Yang terbesar adalah Amerika Serikat dengan sekitar 6.000 hulu ledak, disusul Inggris dan Prancis yang jika digabung jumlahnya sekitar 800 hulu ledak. Tapi dengan pertumbuhan cepat Tiongkok, keseimbangan global bisa terganggu. Maka NATO sekarang mulai menata ulang kesiapsiagaan pasukan nuklirnya.

Dulu, di masa Perang Dingin, sistem siaga nuklir bisa siap menembak dalam waktu satu menit setelah ada perintah dari presiden—kapal selam bisa langsung naik ke permukaan untuk meluncurkan serangan balik. 

Setelah Perang Dingin berakhir, siaga ini diturunkan menjadi 30 menit. Namun, karena invasi Rusia dan pertumbuhan kekuatan nuklir Tiongkok, kesiagaan mungkin akan kembali ditingkatkan.”

Sementara itu, pada 16 Juni, juru bicara Kementerian Luar Negeri PKT , Guo Jiakun, mengklaim bahwa Tiongkok tetap berkomitmen pada strategi nuklir defensif, dan selalu menjaga kekuatan nuklirnya pada tingkat minimum yang diperlukan untuk keamanan nasional. Ia juga menegaskan bahwa Tiongkok mematuhi kebijakan tidak menggunakan senjata nuklir sebagai yang pertama dalam kondisi apa pun.

Ye Yaoyuan menanggapi: “Kalau sampai merasa perlu mengembangkan sebanyak ini, itu menunjukkan dua hal:

  1. Rasa tidak aman yang tinggi;
  2. Keyakinan bahwa semakin banyak musuh harus ditakut-takuti.

Tapi dalam kondisi seperti itu, tak seorang pun bisa menjamin apakah mereka benar-benar akan menggunakannya atau tidak.”

Su Tzu-yun menyimpulkan: “Itu (pernyataan PKT) hanya bisa didengar saja. Saat ini, strategi pencegahan nuklir berarti mereka hanya ingin menghalangi negara lain menyerang. Tapi di masa depan, jika mereka punya lebih banyak hulu ledak, mereka bisa menuntut negara lain untuk melakukan sesuatu. Jika tidak dipenuhi, mereka bisa gunakan ancaman nuklir. Dari posisi defensif, ini bisa berubah menjadi alat pemaksaan nuklir.”

Dalam laporan SIPRI tahun lalu juga disebutkan bahwa “Tiongkok terus memperluas persenjataan nuklirnya tidak hanya lebih cepat dari negara lain, tetapi untuk pertama kalinya dalam masa damai menempatkan hulu ledaknya dalam “status siaga tinggi.” (Hui/asr)

Penyunting: Wang Ziqi Reporter: Yi Ru – NTDTV.com 

Trump Serukan Iran Agar Segera Menyerah, AS Kerahkan Jet Tempur dan Kapal Induk ke Timur Tengah

Pada  Selasa (17 Juni), Presiden AS Donald Trump secara beruntun menyampaikan pernyataan keras, menyatakan bahwa kekuatan udara Iran kini telah dikuasai oleh militer AS, dan ia bahkan mengklaim mengetahui lokasi persembunyian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta memperingatkan Iran untuk segera menyerah. 

Isyarat bahwa militer AS akan ikut terlibat dalam konflik sangatlah jelas. Selain itu, pejabat tinggi AS mengungkapkan, lebih banyak jet tempur serta kelompok tempur kapal induk USS Nimitz sedang menuju kawasan Timur Tengah. Situasi di wilayah tersebut kini semakin memanas dan berada di ambang perang besar.

Presiden AS Donald Trump menyatakan: “Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Ini sederhana saja. Tak perlu diperdebatkan. Mereka sama sekali tidak boleh memilikinya.”

EtIndonesia. Pada Senin (16 Juni) malam, dalam perjalanan pulang dari Kanada dalam rangka menghadiri KTT G-7, Presiden AS Donald Trump menuju Gedung Putih di Washington, Amerika Serikat.  Trump menyampaikan kepada para wartawan bahwa ia berharap masalah nuklir Iran bisa diselesaikan sepenuhnya.

Trump menegaskan: “Diselesaikan. Diselesaikan secara menyeluruh. Bukan gencatan senjata. Tapi penyelesaian total.”

Ketika ditanya wartawan, “Apakah ini bersifat permanen?”
Trump menjawab:  “Ya, atau menyerah sepenuhnya.”

Trump juga menyebut bahwa ia meninggalkan KTT G7 lebih awal karena ada hal penting yang berkaitan dengan krisis Iran yang harus segera ditangani. Meskipun belum diketahui langkah apa yang akan diambil oleh Trump, banyak pihak berspekulasi bahwa jika jalur diplomasi gagal, AS kemungkinan akan membantu Israel dalam menyerang Iran.

Seorang reporter asing, Matthew, menjelaskan: “Target utama Israel adalah fasilitas pengayaan uranium di Fordow, yang terletak di sebuah gunung yang tidak bisa dijangkau oleh Israel sendiri. Untuk menghancurkannya, dibutuhkan bom seberat 30.000 pon, yang hanya bisa dijatuhkan oleh pesawat pembom siluman B-2 milik AS.”

Pada Selasa, seorang pejabat AS mengungkapkan, militer AS saat ini sedang mengerahkan lebih banyak jet tempur ke kawasan Timur Tengah, termasuk F-16, F-22, dan F-35. 

Sementara itu, Departemen Pertahanan AS  juga telah mengkonfirmasi bahwa akan mengirim tambahan kekuatan militer ke wilayah tersebut. Kapal induk USS Nimitz, yang awalnya dijadwalkan mengunjungi Vietnam, kini berbelok arah dari Laut Tiongkok  Selatan menuju perairan Timur Tengah. Namun, pejabat tersebut menekankan bahwa pengiriman kekuatan militer AS ini bersifat defensif.

Saat ini, AS memiliki kekuatan militer besar di Timur Tengah, dengan hampir 40.000 tentara yang sudah dikerahkan, serta dilengkapi dengan sistem pertahanan udara, jet tempur, dan kapal perang yang mampu mendeteksi serta menembak jatuh rudal musuh.

Seiring meningkatnya ketegangan di kawasan, Departemen Luar Negeri AS membentuk satuan tugas khusus untuk membantu warga AS di wilayah tersebut, sekaligus mengeluarkan peringatan perjalanan yang sangat tegas.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tammy Bruce, menyatakan: “Kami mengingatkan warga AS untuk tidak melakukan perjalanan ke Israel atau Irak, dan dalam kondisi apa pun, jangan ke Iran.” (Hui/asr)

Laporan gabungan oleh reporter Yi Jing, NTD Television.

Ketegangan Memuncak: Benarkah Iran Akan Diserbu dalam Hitungan Hari?

EtIndonesia. Konflik antara Israel dan Iran kini telah memasuki hampir satu pekan, dengan eskalasi ketegangan yang terus meningkat dan tekanan diplomatik yang semakin kuat dari Amerika Serikat. Presiden AS,  Donald Trump, dalam pernyataannya pada 17 Juni, mengungkapkan beberapa fakta penting terkait upaya diplomasi dan potensi keterlibatan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Delegasi Iran Sempat Kirim Sinyal Damai, Trump Tegaskan “Menyerah Tanpa Syarat”

Presiden Trump mengungkapkan bahwa beberapa waktu lalu, delegasi Iran sempat memberikan sinyal ingin berkunjung ke Gedung Putih untuk membahas kemungkinan perundingan damai. Namun, Trump menegaskan sikapnya sangat jelas: syarat satu-satunya adalah Iran harus menyerah tanpa syarat. Trump menyatakan bahwa dirinya sudah cukup bersabar menghadapi Iran, terutama terkait dugaan pengembangan program nuklir yang selama ini menjadi sumber kekhawatiran dunia internasional.

“Saya sudah cukup sabar,” tegas Trump. 

Trump menambahkan: “Saya yakin mereka (Pemerintah Iran) memiliki niat jahat dalam mengembangkan senjata nuklir. Tapi secara pribadi, saya menyukai rakyat Iran. Saya mengenal cukup banyak orang Iran, mereka baik. Permasalahan utama ada pada kepemimpinan negara itu.”

Pernyataan Trump ini jelas menunjukkan bahwa upaya negosiasi masih sangat sulit tercapai selama Iran tetap pada pendiriannya dan belum menunjukkan itikad untuk memenuhi tuntutan utama Amerika Serikat.

AS Siap Intervensi: Semua Opsi Masih di Meja

Ketika ditanya oleh awak media mengenai kemungkinan Amerika Serikat akan melakukan intervensi militer di Iran, Trump tidak memberikan jawaban pasti, tetapi menyiratkan bahwa semua opsi masih terbuka.

“Kami tidak menutup kemungkinan mengirim pasukan, tetapi bisa juga tidak. Semua tergantung perkembangan situasi,” ujar Trump, menegaskan bahwa kebijakan AS tetap fleksibel dan menunggu respons lebih lanjut dari pihak Iran.

Trump juga menekankan, seandainya Iran mau membuka ruang negosiasi lebih awal, mungkin konflik tidak akan berkembang menjadi sedramatis saat ini. Dia menyayangkan ketegangan yang terjadi justru akibat kegigihan Iran dalam mempertahankan program nuklirnya yang selama ini dianggap sangat mengkhawatirkan bagi keamanan regional dan dunia.

AS Klaim Tahu Lokasi Persembunyian Khamenei, Warga Teheran Diminta Segera Mengungsi

Dalam salah satu postingan terbarunya di platform Truth Social, Trump secara mengejutkan mengklaim bahwa intelijen Amerika Serikat telah mengetahui lokasi persembunyian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Walau belum ada tindakan yang diambil hingga kini, Trump memperingatkan bahwa kesabaran AS hampir habis.

“Warga sipil, terutama yang berada di Teheran, sebaiknya segera mengungsi. Situasi bisa berubah sangat cepat,” demikian imbauan Trump.

Peringatan ini dinilai banyak pihak sebagai isyarat keras dari AS bahwa kemungkinan serangan besar—setidaknya terhadap infrastruktur strategis Iran—semakin terbuka lebar, apabila tidak ada perubahan sikap dari kepemimpinan Iran.

Kekuatan Militer Iran: Unggul di Udara, Lemah di Laut dan Darat

Dari sisi kekuatan militer, Iran diketahui memiliki keunggulan di sektor udara dengan dua kapal induk dan sejumlah pesawat tempur modern. Namun, untuk matra laut dan darat, Iran dinilai tidak memiliki kekuatan yang berarti bila dibandingkan dengan koalisi militer yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

Menurut sumber di Pentagon, kemungkinan besar opsi militer yang disiapkan Gedung Putih adalah serangan presisi terhadap fasilitas nuklir Iran, bukan invasi darat besar-besaran seperti yang terjadi di Irak dua dekade lalu. Skema ini dinilai lebih realistis dan dapat mengurangi risiko korban sipil, sekaligus memberikan tekanan maksimal kepada pemerintah Iran agar menghentikan seluruh program senjata nuklirnya.

Opsi Serangan Terbuka, Ancaman “Shock and Awe” di Meja

Pernyataan resmi Gedung Putih menegaskan bahwa semua opsi masih terbuka di meja, termasuk kemungkinan serangan udara skala besar. Analis militer menyebutkan bahwa pendekatan “shock and awe” (kejutan dan kekaguman)—yaitu serangan besar yang sangat menghancurkan dalam waktu singkat—sangat mungkin dipilih jika situasi dianggap sudah di luar kendali.

Namun, hingga saat ini, keputusan akhir masih menunggu respons Iran, baik dalam bentuk perubahan sikap maupun kesiapan untuk menerima negosiasi dengan syarat yang telah ditetapkan oleh AS.

Dinamika Regional: Efek Domino dan Kekhawatiran Global

Situasi ini tentu saja berdampak luas terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. Ketegangan antara Israel dan Iran dalam satu pekan terakhir membuat banyak negara di kawasan meningkatkan kewaspadaan, bahkan negara-negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mulai memperkuat pertahanan udara mereka sebagai antisipasi kemungkinan pecahnya perang skala besar.

Sementara itu, Dewan Keamanan PBB dan Uni Eropa terus mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri dan membuka ruang dialog. Namun, hingga kini, belum ada sinyal nyata bahwa Iran akan bersedia memenuhi syarat utama yang diminta Amerika Serikat dan Israel.

Penutup: Dunia Menanti Keputusan Kritis

Kini, dunia menanti keputusan kritis: apakah Iran akan menyerah tanpa syarat demi mencegah kehancuran lebih lanjut, atau justru memilih bertahan dan menghadapi kemungkinan serangan militer dari koalisi Barat.

Satu hal yang pasti, krisis kali ini telah memperlihatkan betapa rentannya stabilitas Timur Tengah dan pentingnya peran diplomasi serta tekanan internasional dalam mengendalikan ambisi nuklir dan mencegah bencana kemanusiaan yang lebih besar.

Perang Israel-Iran Meningkat, Israel Keluarkan Peringatan  kepada Khamenei

Pada  Selasa (17 Juni), konflik sengit antara Israel dan Iran memasuki hari kelima, dan perang terus mengalami eskalasi. Menteri Pertahanan Israel memperingatkan akan melancarkan serangan baru ke sasaran penting di ibu kota Iran, Teheran, serta mengimbau warga sipil untuk segera mengungsi. Di saat yang sama, militer Israel mengumumkan bahwa panglima tertinggi baru militer Iran telah tewas dalam serangan Israel.

EtIndonesia. Senin (16 Juni) malam hingga Selasa dini hari, Iran kembali meluncurkan gelombang serangan rudal ke wilayah Israel. Asap tebal membumbung tinggi di atas kota Tel Aviv.

Di kota Herzliya, yang terletak di utara Tel Aviv, serangan rudal Iran meninggalkan lubang kawah besar sebagai akibat dari ledakan.

Pada hari Selasa, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant (Katz) meninjau lokasi serangan di Herzliya dan mengeluarkan peringatan langsung kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

“Jika kamu terus melancarkan perang dan menembakkan rudal ke warga sipil Israel, nasibmu akan sama seperti diktator negara tetanggamu (Saddam Hussein dari Irak),” katanya. 

Pada hari yang sama, ia juga memperingatkan bahwa militer Israel akan menyerang sasaran-sasaran penting di Teheran, dan mengimbau warga sipil untuk mengungsi dari sejumlah wilayah. Sehari sebelumnya, militer Israel telah menyerukan agar 300.000 warga mengungsi dari Teheran.

Gallant menyatakan: “Kami akan terus melakukan serangan terhadap target-target pemerintahan dan militer Teheran, sama seperti kemarin ketika kami menghancurkan stasiun penyiaran propaganda dan hasutan. Saya mengimbau warga Teheran untuk mengikuti arahan militer Israel yang telah disampaikan dalam bahasa Persia agar segera meninggalkan lokasi-lokasi berbahaya demi keselamatan mereka.”

Pada hari itu juga, militer Israel merilis video serangan udara, memperlihatkan jet-jet tempur Israel membombardir berbagai sasaran di Iran, termasuk gudang senjata strategis dan pabrik pembuatan senjata di seluruh negeri.

Di hari yang sama, Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, mengumumkan bahwa Mayor Jenderal Ali Shadmani, panglima tertinggi baru angkatan bersenjata Iran, telah tewas dalam serangan pasukan Israel.

Gideon Saar menyatakan: “Pagi ini, kami mendapat informasi bahwa pasukan kami telah berhasil menewaskan Kepala Staf Perang Iran, Ali Shadmani. Pejabat sebelumnya sudah kami lumpuhkan di awal operasi. Saat ini kami belum tahu siapa yang akan menggantikan posisinya.”

Shadmani sebelumnya menjabat sebagai Kepala Staf Perang Angkatan Bersenjata Iran, dan pernah memimpin Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Ia baru saja ditunjuk sebagai panglima tertinggi militer Iran menggantikan Letjen Ramali Rashid, yang tewas dalam serangan Israel pekan lalu.

Pihak Iran belum memberikan tanggapan resmi atas kematian Shadmani.

Pada  Jumat pekan lalu, Israel melancarkan operasi militer besar-besaran bernama “Rising Lion” (Singa yang Bangkit), yang menargetkan pemimpin militer tertinggi Iran, fasilitas pengayaan uranium, dan para ilmuwan nuklir. Operasi ini bertujuan untuk menghentikan program senjata nuklir Iran. (Hui/asr)

Laporan gabungan oleh Zhao Fenghua, NTD Television.