Rektor ITS Turun Gunung ke 48 Lokasi UTBK 2026: 12.585 Peserta Terfasilitasi, Kantin Buka Jam 5.30!

Surabaya, 22 April 2026 – Hari pertama pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berlangsung dengan pengawasan super ketat. Tak hanya memantau dari ruang kerja, Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MSc Eng PhD bersama jajarannya turun langsung menyisir sejumlah lokasi ujian, Rabu (22/4) pagi.

Ditemani metal detector dan kecerdasan buatan (AI), sang rektor memastikan sendiri kesiapan 48 titik lokasi ujian yang tersebar di seluruh area kampus ITS. Tahun ini, ITS melayani sebanyak 12.585 peserta yang akan mengikuti ujian mulai 22 hingga 29 April (kecuali 26 April) dengan rata-rata sekitar 1.022 peserta per sesi.

Pemeriksaan ala Bandara, Teknologi AI untuk Cegah Kecurangan

Di sela inspeksinya di Gedung Tower 1 ITS, Prof Bambang mengaku puas dengan kondisi ruangan dan kesiapan pengawas. “Sisi pelaksanaan dan jumlah pengawas sudah cukup baik,” ujarnya.

Ia juga menunjukkan komitmen ITS terhadap integritas ujian. Setiap peserta diperiksa dengan metal detector, termasuk jam tangan, kacamata, hingga aksesori yang mencurigakan. “Semua hal yang mencurigakan kami periksa agar tidak ada kecurangan,” tegasnya.

Tak berhenti di situ, ITS juga mengimplementasikan teknologi face recognition berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk memastikan tidak ada perpindahan orang antara pendaftaran, pelaksanaan ujian, hingga daftar ulang nanti. “Teknologi ini kami gunakan untuk memastikan peserta yang mendaftar, mengikuti ujian, dan melakukan daftar ulang adalah orang yang sama,” jelas alumnus S1 Teknik Mesin ITS tersebut.

Kantin Buka Jam 5.30, Ruang Tunggu dan Posko Informasi Siaga

Melihat antusiasme peserta yang sudah datang jauh sebelum ujian, ITS pun menyiapkan layanan istimewa. Kantin Pusat ITS akan beroperasi lebih awal hingga pukul 05.30 WIB, sehingga peserta dan keluarga bisa sarapan dengan nyaman sebelum ujian.

Selain itu, disediakan ruang tunggu yang memadai serta lima posko informasi UTBK di area kampus. “Kami ingin memastikan peserta fokus ujian tanpa khawatir masalah logistik,” tambahnya.

Catatan Hari Pertama: 38 Tidak Hadir, 13 Pelanggaran Administrasi

Pada sesi pertama pelaksanaan, tercatat 38 peserta tidak hadir dan 13 peserta melakukan pelanggaran administrasi. Pelanggaran paling umum adalah tidak membawa ijazah SMA/SMK sederajat atau surat keterangan sebagai siswa kelas XII dari sekolah.

Server Ditambah, Perkuliahan Daring untuk Jaga Jaringan

Tak hanya meninjau ruang ujian, Rektor ITS juga memantau langsung kondisi server dan jaringan utama di Gedung Research Center ITS Lantai 4. Direktur Pengembangan Teknologi dan Sistem Informasi (PTSI) ITS, Bagus Jati Santoso SKom PhD, mengungkapkan bahwa pihaknya meningkatkan jumlah server dari dua menjadi tiga unit untuk memperlancar pengiriman jawaban ke pusat.

“Jaringan internet pun diperkuat dengan mengalihkan perkuliahan mahasiswa ke daring,” tambah Bagus. Langkah ini diambil demi memastikan koneksi tetap stabil selama gelombang ujian berlangsung.

Melalui persiapan matang, teknologi mutakhir, dan perhatian penuh dari rektor, ITS menegaskan komitmennya menciptakan seleksi perguruan tinggi yang adil dan setara. Hal ini sejalan dengan dukungan ITS terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4 tentang Pendidikan Berkualitas. (*)

Sebuah Toko Emas Dijarah Habis, Pria 50 Tahun Masuk Lewat Plafon dan Putus Kabel CCTV (Video)

Baru-baru ini, sebuah toko perhiasan Zhou Liufu Jewelry di Kabupaten Duchang, Kota Jiujiang, Provinsi Jiangxi, Tiongkok mengalami pencurian besar-besaran hingga barang di dalamnya “dikuras habis”. Dilaporkan bahwa pelaku masuk melalui plafon dan memutus kabel pengawasan sebelum melakukan pencurian.

EtIndonesia. Pada 22 April, seorang warganet mengunggah video di media sosial yang menunjukkan bahwa toko tersebut, yang terletak di lantai satu pusat perbelanjaan Fudelong Shopping Plaza di Jalan Dongfeng, pintunya dirusak dan diduga menjadi sasaran pencurian dengan nilai kerugian yang besar.

Video yang beredar memperlihatkan pintu rolling toko terbuka, sementara pintu kaca di bagian dalam pecah dengan serpihan kaca berserakan di lantai. Area sekitar juga telah dipasangi garis polisi.

Menurut laporan media lokal, pada 23 April, staf dari cabang lain Zhou Liufu Jewelry membenarkan bahwa toko di Fudelong memang mengalami insiden, namun tidak bersedia memberikan rincian lebih lanjut.

Sejumlah pekerja toko di sekitar lokasi juga menyatakan bahwa memang terjadi kejadian di toko tersebut dan menarik perhatian publik setempat, tetapi detailnya belum diketahui secara jelas.

Pada hari yang sama, manajer toko yang menjadi korban mengatakan kepada media bahwa pada 22 April dini hari, sejumlah besar barang dicuri dengan kerugian yang signifikan, dan berharap barang-barang tersebut dapat segera ditemukan kembali.

Manajer tersebut menjelaskan bahwa polisi telah mengidentifikasi tersangka. Pelaku diduga memahami struktur internal gedung, masuk ke dalam toko melalui plafon, lalu memotong kabel CCTV sebelum melakukan aksi pencurian. Saat ini, pihak toko masih melakukan pendataan aset yang hilang.

Warganet di Tiongkok berspekulasi mengenai nilai kerugian, dengan berbagai angka beredar—mulai dari jutaan hingga puluhan juta yuan, bahkan ada yang menyebut jumlah emas mencapai beberapa kilogram. Ada juga yang menduga pelaku adalah “orang dalam”.

Pada 24 April, polisi Kabupaten Duchang, Jiujiang, mengumumkan bahwa kasus pencurian di sebuah toko emas dalam kompleks komersial di Jalan Dongfeng terjadi pada 22 April. Seorang pria bermarga Xu, berusia 50 tahun, menjadi tersangka utama. Ia ditangkap sekitar pukul 09.00 pagi pada 23 April, dan seluruh barang yang dicuri telah berhasil ditemukan kembali.

Namun, pihak kepolisian tidak mengungkap identitas lengkap maupun motif pelaku.

Sumber : NTDTV.com

Di Daerah Ini Anjing Dicelup Jadi “Panda” untuk Foto Berbayar, Diduga Giginya Dicabut dan Diberi Obat

Di kawasan wisata Hongya Cave di Chongqing, Tiongkok ditemukan seekor anjing yang bulunya dicat hitam-putih menyerupai panda, lalu digunakan sebagai objek foto berbayar bagi wisatawan. Setelah kejadian ini terungkap, muncul dugaan adanya penyiksaan terhadap hewan.

EtIndonesia. Baru-baru ini, seorang warganet mengungkap bahwa ada orang yang mengecat bulu anjing menjadi warna hitam-putih agar tampak seperti panda, lalu mengenakan biaya 20 yuan per sesi bagi wisatawan untuk berfoto sambil menggendongnya. Anjing tersebut diduga kesulitan membuka mata akibat iritasi dari pewarna, namun terlihat sangat jinak secara tidak wajar, sehingga dicurigai telah disuntik obat penenang.

Menurut laporan media Modern Express pada 23 April, biaya foto adalah 20 yuan per kali tanpa batas waktu. Seorang wisatawan mengatakan bahwa seluruh tubuh anjing itu telah dicat, dan kemungkinan karena efek pewarna, matanya sulit terbuka. Kepalanya terkulai, tampak lesu, dan tidak melawan saat dipegang atau diatur posenya untuk difoto.

Wisatawan tersebut awalnya mengira anjing itu hanya mengantuk, tetapi kemudian mengetahui bahwa anjing itu sudah lama dijadikan objek foto di lokasi tersebut dan setiap hari terlihat tidak bersemangat. Ia juga menduga, demi mencegah anjing menggigit, giginya mungkin telah dicabut.

Dari rekaman video wisatawan, anjing yang telah dicat tersebut sekilas memang tampak seperti panda kecil. Beberapa warganet berkomentar bahwa anjing itu kemungkinan jenis Chow Chow dan masih berusia muda.

Pada  23 April siang, pihak pengelola kawasan Hongya Cave menyatakan bahwa orang yang membawa anjing tersebut bukan bagian dari pedagang resmi di area wisata, dan sebenarnya tidak diperbolehkan berjualan di dalam kawasan. Mereka mengaku sebelumnya tidak menyadari situasi tersebut dan berjanji akan meningkatkan pengawasan.

Namun, tanggapan ini justru memicu keraguan dari warganet, yang mempertanyakan bagaimana praktik tersebut bisa berlangsung lama tanpa diketahui.

Warganet di Tiongkok mengecam keras kejadian ini: “Kejam”, “Tidak berperikemanusiaan”, “Demi uang tanpa batas”, hingga “manusia sudah kehilangan hati nurani demi uang.”

Ada juga yang menyoroti bahwa proses pewarnaan sendiri sudah berbahaya bagi kesehatan hewan, apalagi jika disertai dugaan pemberian obat atau perlakuan lain yang menyiksa.

Sebagian warganet menyerukan hukuman tegas terhadap pelaku, menyebut tindakan ini sebagai perbuatan yang tidak bermoral dan melanggar kemanusiaan, bahkan bagi mereka yang bukan pecinta hewan sekalipun.

Sumber : NTDTV.com

Cegah Membawa Pisau, Siswa di Sekolah Menengah Kota Ini Dilarang Membawa Tas, Wajib Pakai Kantong Plastik Transparan

Baru-baru ini, warganet di Jingzhou, Provinsi Hubei, Tiongkok melaporkan bahwa sebuah sekolah menengah, Songzi No.4 Middle School, melarang siswa pulang-pergi (tidak tinggal di asrama) membawa tas ke sekolah. Sebagai gantinya, mereka diminta menggunakan kantong plastik transparan untuk membawa perlengkapan belajar. Alasan kebijakan ini adalah untuk mencegah siswa membawa pisau atau barang berbahaya ke dalam sekolah, yang mana kemudian memicu perdebatan luas.

EtIndonesia. Sebuah pemberitahuan yang beredar menyebutkan bahwa mulai keesokan hari, semua siswa non-asrama dilarang membawa tas ke kampus. Orang tua diminta menyiapkan kantong plastik transparan untuk membawa perlengkapan belajar harian.

Setiap pagi, sekolah akan melakukan pemeriksaan di gerbang. Tas yang melanggar aturan akan disita sementara, diberi label nama dan kelas, lalu dikembalikan pada sore hari.

Kebijakan ini langsung memicu perdebatan di internet.

Sejumlah warganet berspekulasi bahwa mungkin sebelumnya telah terjadi insiden serius yang tidak dipublikasikan. Ada yang berkomentar, “Setiap aturan yang terlihat berlebihan biasanya ada kejadian yang lebih ekstrem di baliknya,” sementara yang lain menyebut pernah ada kasus siswa menyerang guru atau membawa senjata tajam di sekolah lain.

Pengumuman itu memicu diskusi hangat di dunia maya.

Menanggapi hal ini, pihak Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Songzi awalnya menyatakan bahwa kebijakan tersebut bertujuan mencegah potensi bahaya, termasuk membawa pisau dan barang terlarang ke sekolah, serta telah didaftarkan secara resmi.

Namun, banyak warganet mengkritik kebijakan tersebut. Ada yang menulis, “Bayangkan, siswa SMA usia 16–17 tahun diminta mengganti tas mereka dengan kantong plastik transparan agar semua orang bisa melihat isi barang mereka.”

Komentar lain menyebut bahwa pemeriksaan ketat dilakukan di gerbang, dan tas yang dianggap melanggar langsung disita. Kritik juga menyoroti bahwa kantong plastik tidak praktis—tidak tahan air, mudah robek, tidak cukup menampung buku atau peralatan seperti papan gambar dan alat eksperimen. Selain itu, aturan ini hanya berlaku bagi siswa non-asrama, sementara siswa asrama tetap boleh membawa tas, yang dianggap sebagai standar ganda.

Sebagian warganet menilai kebijakan ini sebagai bentuk “kemalasan administratif”, di mana beban pengelolaan dialihkan kepada siswa tanpa mempertimbangkan kepraktisan, bahkan mengorbankan privasi dan martabat siswa.

Komentar lain lebih tajam, menyebut kebijakan ini “tidak masuk akal”, bahkan membandingkan sekolah dengan “pos pemeriksaan penjara”. Ada juga yang menyindir agar pihak sekolah mencoba sendiri menggunakan kantong plastik selama seminggu.

Setelah menuai perhatian publik, pada 21 April, otoritas pendidikan Kota Songzi mengeluarkan pernyataan resmi. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sebelumnya memang ada beberapa siswa yang membawa barang terlarang ke dalam sekolah, sehingga menimbulkan risiko keamanan. 

Saat ini, pihak sekolah telah diperintahkan untuk segera memperbaiki kebijakan tersebut dan melakukan evaluasi, serta memberikan pembinaan kepada pihak yang bertanggung jawab.

Dilaporkan oleh Li Li / Diedit oleh Xu Gengwen – NTDTV.com

Mengerikan! Beredar Video Traktor di Jiuquan, Tiongkok  Menabrak Kendaraan dan Pejalan Kaki Secara Acak

EtIndonesia.  Insiden kekerasan acak yang mengerikan dilaporkan semakin sering terjadi di Tiongkok. Beredar video yang menunjukkan seorang pria mengemudikan traktor di Kota Jiuquan, Provinsi Gansu, Tiongkok menabrak kendaraan dan pejalan kaki di sepanjang jalan.

Video yang beredar memperlihatkan seorang pria berbaju merah mengemudikan traktor melawan arah, lalu mendorong sebuah mobil pribadi berwarna merah ke pinggir jalan dan menabraknya berulang kali. Ia juga sempat mengarahkan traktor ke arah pejalan kaki di tepi jalan. Setelah menghancurkan mobil tersebut, traktor kemudian menabrak mobil putih yang terparkir di pinggir jalan, lalu kembali mengejar pejalan kaki yang sedang menyaksikan kejadian di tengah jalan. Para pejalan kaki pun berlarian menghindar.

Traktor itu juga terlihat menerobos pembatas hijau di tengah jalan menuju jalur berlawanan, sementara dari kejauhan terdengar beberapa kali suara benturan kendaraan. Tak lama kemudian, traktor kembali berbalik dan kembali menabrak mobil putih tersebut.

Karena traktor bergerak relatif lambat dan berat, sebagian besar pejalan kaki berhasil menghindar tepat waktu. Namun, belum diketahui apakah ada orang di dalam mobil yang ditabrak.

Warganet menyebutkan bahwa kejadian ini terjadi di Kota Jiuquan, Provinsi Gansu. Hingga kini, penyebab insiden maupun jumlah korban belum diketahui.

Belakangan ini, sejumlah insiden serupa juga beredar di internet, termasuk laporan tentang alat berat yang menabrak kerumunan di wilayah Fangshan, Beijing, yang menurut kabar menyebabkan puluhan korban jiwa dan luka-luka.

Sumber anonim juga menyebutkan bahwa insiden kekerasan acak semacam ini terjadi setiap hari di berbagai wilayah, namun banyak informasi yang tidak tersebar luas karena dibatasi, sehingga hanya sebagian kecil yang diketahui publik.

Sumber : NTDTV.com

Trump Keluarkan Perintah Keras: Kendalikan Selat Hormuz, Siapa Pun Menebar Ranjau Akan Ditenggelamkan

EtIndonesia. Sebagai bagian dari operasi blokade terhadap Iran, militer AS pada Rabu (22 April) mencegat kapal tanker kedua yang mengangkut minyak dari Iran di Samudra Hindia. Presiden Donald Trump pada Kamis menyatakan bahwa militer AS kini sepenuhnya mengendalikan Strait of Hormuz, serta telah mengeluarkan perintah tegas: setiap kapal Iran yang menebar ranjau akan langsung ditenggelamkan untuk menghilangkan ancaman tersebut.

Pada saat yang sama, kelompok tempur kapal induk ketiga AS, yakni USS George H.W. Bush, telah tiba di kawasan Timur Tengah, membuat situasi semakin tegang.

Militer AS menyatakan siap menaiki kapal tanker “Majestic X”.  Pentagon pada Kamis (23 April) mengkonfirmasi bahwa kapal tersebut telah dicegat dan diperiksa di perairan Samudra Hindia.

Menurut laporan Associated Press, kapal tanker super besar itu sedang mengangkut minyak dari Iran menuju Tiongkok. Ini merupakan kapal kedua dalam beberapa hari terakhir yang dicegat AS di perairan antara Sri Lanka dan Indonesia karena terkait perdagangan minyak Iran.

Seorang jurnalis asing menjelaskan bahwa kapal tersebut sebelumnya telah dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan AS dan diduga bagian dari “armada bayangan” Iran, yang digunakan untuk mengekspor minyak mentah yang terkena sanksi ke pasar Asia, khususnya Tiongkok.

Kapal tanker super Iran lainnya, “Dorena”, juga dicegat saat mencoba menembus blokade.

Trump menyatakan, “Kami sepenuhnya mengendalikan Selat Hormuz. Tanpa persetujuan Angkatan Laut AS, tidak ada kapal yang boleh keluar masuk. Selat ini ‘ditutup rapat’ sampai Iran mencapai kesepakatan!”

Di sisi lain, Iran merilis video yang menunjukkan Islamic Revolutionary Guard Corps sebelumnya menyita dua kapal kontainer internasional. Rekaman memperlihatkan personel bersenjata bertopeng menaiki kapal menggunakan tangga. Namun, pengamat menilai video tersebut memiliki unsur propaganda karena diambil dari berbagai sudut kamera.

Sumber menyebutkan sekitar 40 awak berada di kapal yang disita, dan kedua kapal telah dibawa ke pelabuhan Bandar Abbas di Iran selatan.

Selain itu, IRGC dilaporkan menggunakan kapal nelayan yang dimodifikasi dan kapal cepat untuk secara diam-diam menempatkan ranjau laut, baik tipe kontak maupun sensor, di Selat Hormuz.

Trump kemudian mengumumkan telah memberi wewenang kepada Angkatan Laut AS untuk tanpa ragu menenggelamkan kapal apa pun yang menebar ranjau di Selat Hormuz, tanpa memandang ukuran kapal. Ia juga memerintahkan peningkatan upaya pembersihan ranjau hingga tiga kali lipat.

Analis pelayaran menyebutkan bahwa pembersihan ranjau merupakan syarat utama agar kapal dapat kembali melintasi jalur strategis tersebut. Berbagai metode dapat digunakan, termasuk helikopter, kapal tempur pesisir, drone laut, bahkan lumba-lumba terlatih.

Pada hari yang sama, wakil ketua parlemen Iran mengklaim bahwa Teheran telah menerima pembayaran pertama biaya transit dari kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz, namun tidak mengungkap pihak pembayar maupun jumlahnya. Sebelumnya, Trump telah memperingatkan bahwa kapal yang membayar biaya tersebut kepada Iran tidak akan luput dari tindakan.

Dengan kedatangan kapal induk USS George H.W. Bush di kawasan, analis menilai hal ini tidak hanya memperkuat blokade laut AS, tetapi juga memberikan dukungan kekuatan militer yang lebih besar jika Washington memutuskan untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran.

Reporter NTD Television, Yi Jing, melaporkan.

Israel Tiba-tiba Nyatakan Perang! Menhan Israel Katz : Target Sudah Dikunci, Tinggal Tunggu Perintah Trump

EtIndonesia. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada Kamis (23 April) secara tiba-tiba menyatakan bahwa militer Israel telah siap sepenuhnya. Mereka hanya menunggu satu sinyal dari Presiden AS Donald Trump untuk segera melancarkan serangan. Ia menegaskan bahwa serangan kali ini akan berbeda dari sebelumnya, dengan dampak yang menghancurkan terhadap titik paling sensitif dari rezim Iran.

Israel juga memperingatkan bahwa serangan ini dapat mengguncang fondasi kekuasaan Iran dan bahkan berpotensi menyebabkan runtuhnya rezim tersebut. Menanggapi hal ini, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan bahwa Teheran juga telah siap untuk berperang.

Sementara itu, menurut laporan Channel 12 Israel, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dikabarkan telah mengundurkan diri dari tim negosiasi dan tidak lagi memimpin pembicaraan dengan Amerika Serikat. Hal ini dianggap sebagai indikasi meningkatnya konflik kekuasaan di tingkat tinggi Iran.

Dalam pernyataannya, Katz menegaskan bahwa jika mendapat “lampu hijau” dari Trump, militer Israel akan melancarkan serangan yang jauh lebih mematikan dan destruktif dibanding sebelumnya, dengan tujuan menghancurkan target-target paling vital di Teheran serta melemahkan fondasi kekuasaan yang dipimpin oleh Ali Khamenei.

Tak lama setelah pernyataan tersebut, media semi-resmi Iran Mehr News Agency melaporkan bahwa Teheran kembali mengaktifkan sistem pertahanan udara untuk menghadapi kemungkinan serangan musuh.

Meski kedua pihak belum menyebutkan waktu pasti dimulainya serangan, suasana menjelang konflik besar semakin terasa di kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, laporan Channel 12 juga menyebut bahwa pengunduran diri Ghalibaf dipicu oleh meningkatnya campur tangan IRGC dalam proses negosiasi, yang menyebabkan perpecahan internal. Namun, informasi ini belum mendapat konfirmasi resmi.

Presiden Trump mengatakan, “(Iran) bahkan tidak tahu siapa yang memimpin negara mereka. Mereka berada dalam kekacauan, jadi kami memberi mereka sedikit kesempatan untuk menyelesaikan situasi tersebut.”

Laporan oleh Ren Hao, Washington DC.

Beredar Laporan Seorang Pria Lanjut Usia Menggergaji Palang Parkir Mall Setelah Tunggakan Gajinya Tak Kunjung Dibayar Lunas 

EtIndonesia. Baru-baru ini, sebuah video yang menunjukkan seorang pria lanjut usia di Hailar, Mongolia Dalam, berkali-kali menggergaji palang parkir sebuah pusat perbelanjaan menjadi viral. Beredar kabar bahwa mal tersebut menunggak hutang dalam jumlah besar kepadanya. Meski sudah memenangkan gugatan di pengadilan, ia tidak kunjung menerima pembayaran, sehingga melakukan aksi tersebut sebagai bentuk protes.

Sejak April, video yang beredar di media sosial Tiongkok menunjukkan seorang kakek di Hailar beberapa kali datang dengan kursi roda ke bawah gedung Guomao Home Furnishing Mall. Ia menggunakan gergaji untuk memotong palang parkir di pintu keluar, lalu mengarahkan kendaraan untuk lewat, sehingga pengendara bisa menikmati “parkir gratis”. Palang yang telah dipotong kadang ia tinggalkan di lokasi, kadang dibawa pergi.

Video lain menunjukkan bahwa jumlah palang yang telah dipotong mencapai 9 buah. Rekaman lanjutan bahkan menyebut jumlahnya telah bertambah menjadi lebih dari 40.

Ada video yang menyebutkan bahwa awalnya ia menggunakan kunci pas untuk melepas palang. Setelah pihak mal mengelas palang tersebut ke tiang, ia beralih menggunakan gergaji.

Menurut informasi yang beredar, warga sekitar dan para pengendara mendukung aksinya. Jika ada palang baru dipasang, mereka akan memberitahu sang kakek secara online, dan ia disebut dapat tiba dalam waktu 10 menit untuk kembali membongkarnya.

Video lain juga memperlihatkan bahwa pihak mal akhirnya terpaksa menggunakan tali sebagai pengganti palang untuk tetap menarik biaya parkir.

Mengenai alasan aksinya, beredar kabar bahwa mal tersebut menunggak hutang hingga ratusan ribu yuan kepada sang kakek. Meski ia telah memenangkan kasus di pengadilan, pihak mal disebut menolak membayar. Karena kesulitan mencari keadilan dan diduga mendapat tekanan, ia akhirnya memilih cara ini untuk menuntut haknya.

Dalam video juga terlihat tulisan tangan berisi slogan protes seperti “tidak punya rumah” di pintu masuk mal, meskipun belum dipastikan apakah itu dibuat oleh kakek tersebut.

Hingga kini, hanya para pengguna media sosial yang menyuarakan dukungan terhadapnya, sementara media resmi belum melaporkan kejadian ini. Banyak warganet berpendapat bahwa meskipun klaim utang belum terkonfirmasi, sikap pihak mal yang tidak memberikan tanggapan terbuka maupun tindakan tegas terhadap sang kakek menimbulkan dugaan bahwa mereka berada di pihak yang bersalah. 

Sumber : ntdtv.com

Armada Iran Dihantam, Tapi Serangan Balik Menggila: Kapal Disita, Drone Ditembak, Ada Ledakan di Kota-Kota? 

EtIndonesia. Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memanas meski gencatan senjata secara resmi telah diperpanjang. Serangkaian insiden militer yang terjadi pada 22 April 2026 menunjukkan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih jauh dari kata selesai, bahkan berpotensi memasuki fase yang lebih kompleks.

Angkatan Laut Iran Terpukul, Namun Taktik Asimetris Masih Kuat

Sejumlah pejabat Amerika Serikat yang memahami evaluasi intelijen mengungkapkan kepada CBS News bahwa operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel telah berhasil menghancurkan sebagian besar kekuatan angkatan laut konvensional Iran.

Namun demikian, ancaman belum sepenuhnya hilang. Angkatan laut milik Garda Revolusi Iran—yang memang dirancang untuk perang asimetris—dilaporkan masih mempertahankan sekitar 60% kekuatannya, terutama dalam bentuk kapal cepat bersenjata ringan.

Kapal-kapal ini dikenal memiliki kemampuan manuver tinggi, jejak radar rendah, serta fleksibilitas tinggi untuk disebarkan maupun disembunyikan di berbagai lokasi, termasuk pangkalan pesisir, pulau kecil, hingga fasilitas bawah tanah.

Media pro-Israel bahkan menyebut armada ini sebagai “armada kawanan lebah”, dengan jumlah yang diperkirakan mencapai ratusan hingga ribuan unit.

Serangan di Selat Hormuz: Jalur Energi Dunia Terancam

Pada hari yang sama, 22 April, ketegangan meningkat tajam di Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak dunia.

Angkatan laut Garda Revolusi Iran dilaporkan menembaki tiga kapal dagang yang hendak keluar dari selat tersebut, dan berhasil menyita dua di antaranya. Sementara itu, citra satelit menunjukkan sekitar 33 kapal serang cepat Iran kembali ke pangkalan di pesisir utara dalam formasi rapat, menandakan adanya koordinasi militer yang terstruktur.

Aksi ini mempertegas bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk mengganggu jalur energi global, meskipun kekuatan konvensionalnya telah terpukul.

Gencatan Senjata Dipertanyakan, Serangan Proksi Terus Terjadi

Ironisnya, insiden ini terjadi hanya sehari setelah Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Namun di lapangan, situasi berkata lain. Media Kurdistan melaporkan bahwa milisi Irak yang didukung Iran mencoba melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS di Irak.

Pada malam 22 April 2026, di wilayah udara Soran, Irak timur laut, jet tempur koalisi pimpinan AS berhasil menembak jatuh drone kamikaze Iran. Ledakan keras terdengar oleh warga setempat, meski tidak dilaporkan adanya korban jiwa.

Serangan lain yang terjadi pada hari yang sama menargetkan kelompok oposisi Kurdi Iran, melibatkan sedikitnya empat drone dan menyebabkan 3 hingga 5 orang mengalami luka-luka.

Peristiwa ini semakin memperkuat dugaan bahwa Iran tetap mengandalkan jaringan proksi untuk melanjutkan tekanan militer, meskipun secara formal terikat dalam kesepakatan gencatan senjata.

Blokade Jadi Senjata Utama Amerika

Dalam wawancara pada hari Rabu, 23 April 2026, Donald Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak terburu-buru mengakhiri konflik dan tidak menetapkan batas waktu operasi.

Ia juga membantah bahwa tekanan politik domestik, termasuk pemilu, memengaruhi keputusan militernya.

Trump menekankan bahwa blokade ekonomi merupakan strategi yang jauh lebih efektif dibandingkan serangan militer langsung. Menurutnya, Iran telah terbiasa menghadapi pemboman, namun sangat rentan terhadap tekanan ekonomi.

Ia bahkan memperingatkan bahwa jika sumur minyak Iran ditutup, kerusakan yang terjadi bisa bersifat permanen.

Secara teknis, penghentian produksi minyak dapat menyebabkan penurunan tekanan bawah tanah secara drastis. Hal ini memungkinkan air masuk ke dalam reservoir dan menyumbat jalur minyak. Selain itu, kandungan lilin dan sedimen dalam minyak dapat mengeras, membuat sumur sulit—bahkan mustahil—untuk diaktifkan kembali.

Operasi Global: Kapal Iran Dicegat di Berbagai Perairan

Tekanan terhadap Iran tidak hanya terjadi di Timur Tengah. Pada 22 April 2026, militer AS dilaporkan mencegat sedikitnya tiga kapal yang terkait Iran di perairan sekitar India, Malaysia, dan Sri Lanka, serta memaksa mereka untuk mengubah arah.

Komando Pusat AS (CENTCOM) juga mengungkapkan bahwa sejak operasi blokade dimulai, sebanyak 31 kapal telah dipaksa kembali ke pelabuhan Iran.

Untuk mendukung operasi ini, Amerika Serikat telah mengerahkan lebih dari:

  • 10.000 personel militer
  • 100+ pesawat tempur
  • 17 kapal perang
  • Satu kelompok tempur kapal induk

Langkah ini menunjukkan skala tekanan militer dan ekonomi yang sangat besar terhadap Iran.

Ledakan Misterius Guncang Lima Kota Besar Iran

Di tengah situasi yang sudah tegang, peristiwa misterius terjadi pada malam 22 April 2026.

Lima kota besar Iran—Teheran, Qom, Isfahan, Karaj, dan Chitgar—dilaporkan mengalami ledakan besar hampir secara bersamaan.

Menariknya, tidak ada klaim serangan dari pihak Amerika Serikat maupun Israel terkait insiden ini.

Pemerintah Iran kemudian menyatakan bahwa suara ledakan tersebut berasal dari aktivasi sistem pertahanan udara dalam rangka latihan militer. Namun, penjelasan ini justru memicu keraguan publik.

Banyak warga mempertanyakan bagaimana latihan militer bisa menghasilkan ledakan sebesar itu, sementara sebagian lainnya menyindir efektivitas sistem pertahanan udara Iran.

Ketegangan Masih Jauh dari Akhir

Rangkaian peristiwa pada 22–23 April 2026 memperlihatkan satu hal yang jelas: meskipun gencatan senjata telah diperpanjang, konflik di Timur Tengah masih berlangsung di bawah permukaan.

Serangan proksi, gangguan jalur energi global, operasi militer lintas wilayah, hingga ledakan misterius di dalam negeri Iran menunjukkan bahwa ketegangan belum mereda—justru semakin kompleks.

Pertanyaan besar kini muncul di panggung internasional:
Apakah ini hanya fase sementara sebelum eskalasi besar berikutnya, atau justru awal dari konflik jangka panjang yang lebih sulit dikendalikan? (***)

Malam Mencekam di Teheran! Ledakan, Rudal, dan Drone Jadi Sinyal Perang Baru

EtIndonesia — Situasi keamanan di Timur Tengah kembali menunjukkan eskalasi serius dalam kurun waktu 22 hingga dini hari 23 April 2026. Sejumlah insiden militer, pernyataan politik, serta pergerakan strategis pasukan Amerika Serikat dan Iran memperlihatkan bahwa gencatan senjata yang ada saat ini berada dalam kondisi rapuh dan berpotensi pecah sewaktu-waktu.


Drone Kamikaze Iran Dicegat di Langit Irak

Pada 22 April 2026, menurut kesaksian sejumlah saksi mata, jet tempur Amerika Serikat berhasil mencegat drone kamikaze yang diduga milik Iran di atas wilayah Erbil, kawasan Kurdistan Irak.

Pencegatan tersebut memicu ledakan di udara yang terlihat jelas dari daratan. Warga setempat melaporkan setidaknya dua kali operasi intersepsi, dengan kilatan api yang cukup terang di langit malam.

Sejumlah laporan awal menyebutkan bahwa drone tersebut kemungkinan diluncurkan oleh milisi Irak yang didukung Iran. Para analis menilai aksi ini sebagai indikasi pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata, sekaligus sinyal bahwa konflik tidak sepenuhnya mereda.


Trump: Tidak Terburu-buru, Tapi Tekanan Terus Ditingkatkan

Dalam perkembangan terpisah pada hari yang sama, Presiden AS, Donald Trump, menanggapi spekulasi mengenai batas waktu negosiasi dengan Iran dalam wawancara telepon yang dilaporkan oleh Fox News.

Trump menegaskan bahwa:

  • Tidak ada batas waktu 3–5 hari seperti yang diberitakan media
  • Proses negosiasi tidak berada di bawah tekanan waktu
  • Tujuan utama adalah mencapai kesepakatan terbaik, bukan tercepat

Namun, di sisi lain, ia menekankan bahwa blokade militer terhadap Iran jauh lebih efektif dibandingkan serangan langsung, karena mampu memberikan tekanan ekonomi yang signifikan.


AS Kerahkan Puluhan Pesawat ke Timur Tengah

Masih pada 22 April 2026, berbagai laporan militer mengungkapkan bahwa:

  • Puluhan pesawat angkut dan tanker pengisian bahan bakar AS bergerak menuju Timur Tengah
  • Sejumlah pesawat telah mendarat di Israel
  • Aktivitas ini menunjukkan kesiapan penuh militer AS menghadapi kemungkinan eskalasi konflik

Para analis menilai langkah ini sebagai bentuk mobilisasi strategis, bukan sekadar rotasi pasukan biasa.


Reza Pahlavi Serukan Perubahan dari Dalam Iran

Di tengah meningkatnya tekanan geopolitik, tokoh oposisi Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, mengeluarkan pernyataan yang mengguncang.

Ia menyatakan bahwa:

Jika tiba waktunya untuk menyerukan perubahan besar, ia akan melakukannya langsung dari dalam Iran, bahkan siap mempertaruhkan nyawanya.

Pernyataan ini dengan cepat menyebar di kalangan oposisi dan dianggap sebagai tantangan terbuka terhadap rezim Iran saat ini, sekaligus memperkuat sinyal adanya potensi gejolak internal.


Blokade Selat Hormuz Picu Kerugian Besar

Melalui platform Truth Social, Trump pada 22 April 2026 mengklaim bahwa:

  • Blokade Selat Hormuz menyebabkan Iran kehilangan hingga 500 juta dolar AS per hari
  • Pemerintah Iran menghadapi tekanan finansial serius
  • Aparat keamanan dilaporkan mulai mengalami keterlambatan pembayaran gaji

Trump juga mendesak agar Selat Hormuz segera dibuka kembali untuk mencegah krisis yang lebih dalam.


Ledakan dan Aktivasi Pertahanan Udara di Teheran

Situasi semakin memanas ketika pada malam 22 April hingga dini hari 23 April 2026, sejumlah wilayah di Teheran dilaporkan mengalami aktivitas militer intensif.

Menurut laporan media internasional Iran:

  • Ledakan keras terdengar di wilayah timur laut Teheran, termasuk Pardis dan Bumehen
  • Sistem pertahanan udara diaktifkan secara besar-besaran
  • Wilayah barat Teheran juga mengalami aktivitas anti-udara intensif

Warga melaporkan:

  • Suara tembakan anti-udara
  • Kilatan cahaya di langit
  • Objek terbang yang menyerupai rudal atau pesawat tempur

Latihan atau Ancaman Nyata?

Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi dari pemerintah Iran mengenai insiden tersebut.

Beberapa kemungkinan yang berkembang:

  • Uji respons sistem pertahanan udara Iran
  • Operasi pengintaian atau tekanan terbatas oleh pihak luar, termasuk dugaan keterlibatan Israel
  • Respons terhadap ancaman nyata dari target tak dikenal

Meski demikian, belum ada laporan mengenai eskalasi konflik besar. Aktivitas masih dikategorikan sebagai operasi pertahanan lokal dengan intensitas terbatas.


AS Keluarkan Peringatan Evakuasi dari Lebanon

Di front lain, pada 22 April 2026, Kedutaan Besar AS di Beirut mengeluarkan imbauan mendesak kepada seluruh warga negara Amerika untuk segera meninggalkan Lebanon.

Pernyataan resmi menyebutkan:

  • Situasi keamanan sangat kompleks dan tidak stabil
  • Kondisi dapat berubah secara cepat tanpa peringatan
  • Warga yang tetap tinggal harus siap menghadapi situasi darurat, termasuk ancaman amunisi yang belum meledak

Langkah ini menambah indikasi bahwa kawasan Timur Tengah sedang memasuki fase ketidakpastian tinggi.


Kesimpulan: Gencatan Senjata di Ujung Tanduk

Rangkaian peristiwa pada 22–23 April 2026 menunjukkan bahwa:

  • Gencatan senjata antara AS dan Iran masih berlangsung, tetapi sangat rapuh
  • Aktivitas militer di berbagai titik justru meningkat
  • Tekanan ekonomi, politik, dan militer terus diperkuat secara bersamaan

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar:
Apakah kawasan Timur Tengah benar-benar menuju perdamaian, atau justru sedang berada di ambang konflik yang lebih luas?

Perkembangan selanjutnya akan menjadi penentu arah stabilitas kawasan dalam waktu dekat. (***)

[Berita Terlarang] Kunjungan Luar Negeri Presiden Taiwan Lai Ching-te Terhambat, AS dan Jepang Kecam Penyalahgunaan Sistem Penerbangan Sipil Tiongkok

EtIndonesia. Presiden Taiwan Lai Ching-te semula dijadwalkan berkunjung ke negara Afrika Eswatini pada 22 April. Namun sebelum keberangkatan, ia mengumumkan pembatalan perjalanan karena rute penerbangan harus melintasi tiga negara Afrika lainnya yang mana, di bawah tekanan Partai Komunis Tiongkok (PKT), mencabut izin lintas udaranya.

Para analis menyebut langkah ini belum pernah terjadi sebelumnya, dan menilai Beijing berupaya melakukan “pengepungan dari udara” untuk semakin mengisolasi Taiwan.

Pada 22 April, Kemenlu AS menyatakan keprihatinan atas insiden tersebut, mengecam tekanan yang dilakukan PKT terhadap negara-negara terkait untuk mencabut izin penerbangan. Pihak AS juga menilai tindakan ini sebagai penyalahgunaan sistem penerbangan sipil internasional yang dapat mengancam perdamaian dan kemakmuran global.

Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan kepada Voice of America bahwa wilayah informasi penerbangan (Flight Information Region/FIR) yang dikelola negara-negara tersebut seharusnya hanya digunakan untuk menjamin keselamatan penerbangan, bukan dijadikan alat politik oleh Beijing.

Juru bicara tersebut juga menambahkan bahwa kejadian ini menunjukkan Beijing terus melakukan tekanan dan intimidasi terhadap Taiwan serta para pendukungnya di seluruh dunia.

Terhambatnya kunjungan Lai Ching-te juga mendapat perhatian luas di Jepang. Sejumlah tokoh politik Jepang dalam beberapa hari terakhir menyuarakan kritik terhadap PKT yang dinilai menggunakan tekanan diplomatik untuk mempengaruhi keputusan negara ketiga, serta menyatakan dukungan terhadap Taiwan.

Juru bicara pemerintah Jepang, Minoru Kihara, dalam konferensi pers rutin pada 23 April menegaskan bahwa menjamin keselamatan dan keamanan penerbangan merupakan kepentingan bersama masyarakat internasional, dan semua negara terkait harus menjalankannya secara transparan. (Hui)

Sumber : ntdtv.com

AS Mencegat Kapal Tanker Iran hingga ke Asia, Analis: Selat Malaka Jadi Fokus Baru

EtIndonesia. Blokade laut yang dilakukan militer Amerika Serikat terhadap Iran kini semakin meluas hingga ke perairan Asia. Dalam beberapa hari terakhir, militer AS mencegat sedikitnya tiga kapal tanker berbendera Iran di perairan dekat India, Malaysia, dan Sri Lanka, serta memaksa kapal-kapal tersebut mengubah haluan. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya Washington untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran.

Pada saat yang sama, masa gencatan senjata sementara tampaknya belum benar-benar berjalan. Ketegangan antara AS dan Iran kini semakin bergeser ke wilayah laut, dengan eskalasi yang terus meningkat.

Menurut sumber, kapal tanker yang ditahan termasuk kapal besar “Deep Sea”, yang diketahui mengangkut sebagian minyak mentah dan terakhir terdeteksi sinyalnya seminggu lalu di lepas pantai Malaysia.

Kapal lain, “Seven”, juga terpantau membawa sekitar 650 ribu barel minyak mentah, dengan lokasi terakhir yang sama di perairan Malaysia.

Selain itu, kapal tanker super besar “Dorena” yang membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah, dicegat tiga hari lalu di lepas pantai India selatan.

Meskipun AS dan Iran sedang berada dalam masa gencatan senjata sementara, militer AS tidak hanya terus memblokade pelabuhan Iran, tetapi juga memperluas operasi hingga kawasan Indo-Pasifik. Presiden Trump pada Kamis menyatakan bahwa blokade lebih efektif daripada pemboman dalam memberikan efek jera terhadap Iran.

Sejak blokade terhadap pelabuhan Iran diberlakukan, sebanyak 31 kapal telah diperintahkan untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan.

Langkah ini dinilai sebagai upaya kuat untuk memutus sumber pendanaan utama rezim Iran, sekaligus menghentikan jalur pembelian minyak ilegal oleh Tiongkok.

Analis politik Li Linyi mengatakan bahwa tindakan AS yang mencegat kapal tanker Iran di seluruh dunia memiliki tujuan yang sangat jelas. Lebih dari 90% minyak Iran dijual ke Tiongkok, sehingga operasi ini pada dasarnya bertujuan untuk memutus aliran tersebut. Ia juga menambahkan bahwa tanpa pembelian minyak oleh Tiongkok, rezim Iran kemungkinan tidak akan mampu bertahan hingga saat ini.

Para analis juga menilai bahwa operasi militer AS kemungkinan akan meluas ke jalur pelayaran penting seperti Selat Malaka.

Ketua Partai Sosial Demokrat Tiongkok, Liu Yinquan, menyatakan bahwa mengendalikan Selat Hormuz saja tidak cukup, karena sebagian besar minyak telah keluar dari wilayah tersebut. Minyak dapat diangkut melalui pesisir Iran, Pakistan, dan India menuju laut lepas. Jika Selat Malaka dikendalikan, maka minyak tersebut tidak akan bisa mencapai Tiongkok. Ini dinilai sebagai langkah kunci untuk memutus jalur pertukaran minyak Iran dengan senjata dan bahan strategis.

Selama masa sanksi AS, Iran dan Tiongkok telah lama melakukan perdagangan minyak melalui “armada bayangan”, dengan rute utama melewati Selat Malaka. Saat ini dilaporkan sekitar 140 juta barel minyak Iran tertahan di laut di luar area blokade.

Liu Yinquan menambahkan, dampaknya terhadap Tiongkok akan sangat besar karena pasokan minyak bisa menjadi ketat, yang juga dapat mempengaruhi strategi Tiongkok terhadap Taiwan. Sementara itu, jika minyak Iran tidak dapat dijual, sumur-sumur minyaknya bisa dihentikan produksinya dan berpotensi rusak permanen.

Pengamat lain juga mencatat bahwa sejak pemerintahan Trump menekan Venezuela, AS tampaknya telah menyesuaikan strategi globalnya dengan fokus melemahkan basis geopolitik Tiongkok di luar negeri, sebagai bagian dari upaya pembendungan yang lebih luas. (Hui)

Laporan oleh Chen Yue dan Chang Chun, New Tang Dynasty Television.

Trump: “Blokade Lebih Efektif Daripada Pemboman” — Strategi terhadap Iran Beralih ke Tekanan Ekonomi

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa ia tidak terburu-buru mencapai kesepakatan nuklir, serta menegaskan bahwa “blokade lebih efektif daripada pemboman dalam menakut-nakuti Iran.” Di tengah perpaduan langkah militer dan diplomatik, muncul pertanyaan apakah strategi AS terhadap Iran sedang mengalami perubahan mendasar. Pendekatan yang berfokus pada tekanan ekonomi ini—seberapa efektif dan berapa lama dapat bertahan—menjadi perhatian berbagai pihak.

EtIndonesia. Pada Rabu (22 April), dalam wawancara dengan Fox News, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia tidak tergesa-gesa mengakhiri konfrontasi dengan Iran, dan secara blak-blakan menyebut bahwa “blokade lebih membuat Iran takut dibandingkan pemboman.” Pernyataan ini menegaskan bahwa fokus strategi AS sedang bergeser dari serangan militer tradisional menuju tekanan ekonomi jangka panjang.

Trump juga membantah adanya “perpanjangan gencatan senjata selama 3 hingga 5 hari” dan menegaskan bahwa belum ada jadwal berakhirnya konflik. 

Menanggapi anggapan bahwa ia ingin segera mengakhiri perang karena tekanan pemilu paruh waktu, Trump menolak hal tersebut dan menyatakan bahwa kebijakannya lebih menekankan ketahanan strategis daripada pertimbangan politik jangka pendek.

Dalam hal operasi militer, United States Central Command mengkonfirmasi bahwa blokade terhadap pelabuhan dan jalur pelayaran Iran telah memasuki minggu kedua, dengan total 33 kapal dipaksa berbalik arah atau kembali ke pelabuhan.

Para analis menyebut bahwa blokade dianggap lebih memiliki daya gentar karena bersifat “mematikan secara perlahan.” Berbeda dengan pemboman yang memberikan kerusakan jangka pendek, blokade secara langsung memutus jalur ekspor minyak Iran—sumber utama ekonominya.

Komentator politik Lan Shu menyatakan bahwa dengan memblokade selat, AS secara efektif dapat memutus sekitar 90% sumber pendapatan Iran. Ia juga menilai bahwa Trump memilih pendekatan ini karena melihat adanya perpecahan internal di Iran. Jika tekanan militer terlalu kuat, justru dapat mempersatukan faksi-faksi di dalam negeri. Dengan memperlambat tempo konflik, AS dapat mengamati apakah perpecahan internal tersebut akan semakin dalam.

Menurut laporan The Wall Street Journal, penelitian menunjukkan bahwa dalam waktu sekitar 10 hari saja, Iran bisa menghadapi krisis penyimpanan minyak mentah, sehingga terpaksa menutup sumur minyak. Jika sumur tersebut berhenti beroperasi, sebagian mungkin sulit untuk diaktifkan kembali, yang akan menyebabkan kerugian struktural jangka panjang.

Di sisi lain, blokade ini juga menargetkan ekspor minyak Iran ke luar negeri, terutama ke pasar Tiongkok. United Against Nuclear Iran menyebutkan bahwa sejumlah kapal telah mengubah rute atau membatalkan singgah di pelabuhan, yang menunjukkan bahwa blokade mulai memberikan efek gentar awal dan menekan pemerintah Iran untuk mempertimbangkan kembali negosiasi.

Pengamat menilai langkah Trump ini sebagai bentuk “tekanan maksimum 2.0”, yaitu menggunakan biaya militer yang lebih rendah untuk menghasilkan tekanan ekonomi yang lebih besar serta meningkatkan posisi tawar dalam negosiasi, dengan memanfaatkan waktu untuk mengakumulasi keunggulan dan memaksa lawan berkompromi.

Namun, apakah strategi ini benar-benar efektif masih bergantung pada dua faktor kunci: pertama, kemampuan Iran dalam menahan tekanan ekonomi; kedua, tingkat kerja sama komunitas internasional—terutama pasar energi dan para pembeli utama minyak. (Hui)

Laporan oleh Yi Xin dan Qiu Yue, New Tang Dynasty Television.

15 Departemen Pemerintahan Tiongkok Menerbitkan Dokumen untuk Meningkatkan Angka Kelahiran; Analisis: Kemungkinan Besar Tidak Efektif

Tingkat kelahiran di Tiongkok terus mengalami pertumbuhan negatif selama bertahun-tahun, sehingga pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) kembali meningkatkan kebijakan pro-kelahiran. 

Baru-baru ini, 15 departemen partai dan pemerintah bersama-sama mengeluarkan sebuah dokumen, yang mencakup layanan perjodohan, dukungan perumahan, hingga subsidi pengasuhan anak untuk meningkatkan keinginan kaum muda menikah dan memiliki anak. Namun, para analis menilai bahwa tanpa penyelesaian tekanan ekonomi dan masalah struktural sosial, kebijakan semacam ini kemungkinan sulit berhasil.

EtIndonesia. Pada April 2026, Administrasi Siber Tiongkok, Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional, Kementerian Pendidikan, Kementerian Keuangan, dan total 15 lembaga lainnya bersama-sama menerbitkan sebuah “opini” kebijakan. Dokumen tersebut menyebutkan perlunya intervensi kebijakan “rantai penuh” untuk mendorong pembangunan kota ramah pemuda serta memperkuat pembinaan nilai-nilai pernikahan.

Dokumen itu juga menekankan penyempurnaan sistem layanan perkenalan dan perjodohan, mendorong nilai pernikahan, serta memperkenalkan kebijakan dukungan kelahiran seperti subsidi pengasuhan anak.

Selain itu, diusulkan pula penciptaan lingkungan ramah kelahiran, termasuk pembangunan “rumah sakit ramah kelahiran” dan “rumah sakit ramah anak”, serta menjamin anak-anak pekerja migran di kota mendapatkan akses pendidikan yang setara.

Para analis menilai, harapan PKT pada kebijakan ini untuk meningkatkan angka kelahiran mencerminkan semakin kuatnya tren “tidak menikah, tidak punya anak, dan pasrah (tang ping)” di kalangan anak muda. Penyusutan populasi telah mulai berdampak pada ekonomi dan struktur sosial.

Kepala Aliansi Pengacara Hak Asasi Manusia Tiongkok di luar negeri, Wu Shaoping, mengatakan bahwa penyusutan populasi yang cepat dapat memicu efek domino berbagai masalah sosial: berkurangnya tenaga kerja, meningkatnya beban pensiun, kekurangan talenta muda, menurunnya daya konsumsi masyarakat, serta perlambatan ekonomi secara keseluruhan.

Wakil ketua Federasi untuk Demokrasi di Tiongkok sekaligus juru bicara Pena Independen Tiongkok, Sheng Xue, menyatakan bahwa tujuan utama kebijakan baru ini jelas untuk meningkatkan jumlah penduduk.

Sheng Xue mengatakan, sejak akhir 1970-an hingga 2003, kebijakan satu anak telah menyebabkan berkurangnya ratusan juta kelahiran secara artifisial. Pemerintah sendiri mengakui bahwa kebijakan keluarga berencana selama hampir 40 tahun membuat lebih dari 400 juta bayi tidak lahir.

Ia juga mengkritik bahwa kini pemerintah berbalik menggunakan pendekatan administratif dan sistemik di berbagai bidang—politik, ekonomi, budaya, dan sosial—untuk mendorong peningkatan populasi. Menurutnya, jumlah kematian selama masa pandemi masih menjadi tanda tanya besar karena data resmi dinilai tidak transparan.

Selain itu, upaya pemerintah mendorong kelahiran juga dikaitkan dengan dampak pandemi selama tiga tahun, di mana meski data resmi ditekan, berbagai rekaman menunjukkan lonjakan kematian dan antrean panjang di krematorium.

Sheng Xue juga menyinggung berbagai faktor lain yang menurutnya berkontribusi terhadap berkurangnya populasi, termasuk meningkatnya insiden kekerasan sosial dan tekanan dari kekuasaan negara, sehingga sulit mengetahui angka pasti jumlah korban.

Ia menambahkan bahwa kekurangan tenaga usia produktif kini semakin nyata, sementara penuaan populasi juga semakin serius. Di sisi lain, banyak anak muda menganggur, perusahaan dan pabrik tutup, dan banyak orang bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Menurutnya, jika pemerintah benar-benar ingin meningkatkan populasi, seharusnya terlebih dahulu memastikan kesejahteraan masyarakat yang ada. Tanpa pekerjaan dan pendapatan yang memadai, sulit bagi generasi muda untuk menikah dan memiliki anak, meskipun ada subsidi.

Wu Shaoping juga meragukan implementasi kebijakan baru ini. Ia menilai bahwa kebijakan kesejahteraan yang diumumkan sebelumnya sering kali hanya berhenti di tingkat dokumen dan tidak benar-benar dilaksanakan, apalagi membutuhkan dukungan anggaran yang besar.

Ia menambahkan bahwa dengan kondisi ekonomi domestik yang lemah—baik investasi maupun konsumsi—serta tekanan tambahan dari krisis energi, banyak daerah mengalami penurunan pendapatan fiskal, sehingga mempertanyakan sumber dana untuk menjalankan kebijakan tersebut.

Tingkat kelahiran di Tiongkok telah menurun selama bertahun-tahun. Program insentif kelahiran dan subsidi pengasuhan anak yang sebelumnya diluncurkan di berbagai daerah bahkan telah dihentikan atau ditarik kembali pada tahun 2025.

Para analis menyimpulkan bahwa meskipun pemerintah mencoba mendorong kebijakan sistematis lintas departemen untuk meningkatkan angka pernikahan dan kelahiran, efektivitasnya tetap terbatas karena tekanan ekonomi, perubahan nilai sosial, dan lemahnya pelaksanaan kebijakan.

Disunting/Diwawancarai oleh Li Yun – NTD

[Berita Terlarang] Beijing Intensif Gelar Forum dengan Perusahaan Swasta, Coba Dongkrak Ekonomi

Permintaan domestik di Tiongkok terus melemah, sementara tekanan pada konsumsi dan investasi semakin besar, menjadi faktor yang menahan laju pertumbuhan ekonomi. Untuk mendorong pemulihan, otoritas Tiongkok kembali menggelar forum dengan perusahaan swasta. Perluasan permintaan domestik menjadi topik utama, dengan harapan perusahaan swasta meningkatkan investasi dan mempertahankan tenaga kerja guna meredakan tekanan pengangguran. Namun analis menilai, selama kecenderungan “negara maju, swasta mundur” tidak berubah, sektor swasta akan tetap berhati-hati dalam berinvestasi.

EtIndonesia. Demi memacu ekonomi, National Development and Reform Commission (NDRC) secara intensif mengadakan forum dengan perusahaan swasta. Sejak Maret, ini merupakan pertemuan ketiga, dan pada 20 April kembali digelar dengan fokus pada peningkatan permintaan domestik.

Peserta forum kali ini mencakup pimpinan perusahaan dari berbagai sektor seperti material logam, kendaraan energi baru, layanan kawasan industri, sumber daya mineral, dan tekstil. NDRC menyatakan ingin mendengar pandangan perusahaan mengenai kondisi ekonomi saat ini serta cara menghadapi perubahan lingkungan eksternal yang kompleks.

Profesor dari Aiken School of Business, University of South Carolina, Xie Tian, mengatakan bahwa frekuensi tinggi pertemuan ini menunjukkan situasi ekonomi Tiongkok semakin serius. Ia menilai pemerintah yang mengandalkan BUMN dan peran negara dalam mendorong ekonomi tampak tidak cukup efektif, sehingga kembali mencari dukungan dari sektor swasta.

Kolumnis Wang He menyebutkan tiga akar masalah lemahnya permintaan domestik: pertama, rendahnya proporsi pendapatan disposabel masyarakat dalam PDB; kedua, kesenjangan kekayaan yang besar; dan ketiga, meningkatnya utang rumah tangga, terutama dari kredit perumahan. Hal-hal ini membuat permintaan domestik menjadi kendala utama bagi pertumbuhan ekonomi.

Ia menambahkan, sejak 2022 pemerintah telah mengeluarkan ratusan kebijakan untuk mendukung sektor swasta, tetapi tidak membuahkan hasil. Menurutnya, yang dibutuhkan pelaku usaha bukan sekadar insentif sementara, melainkan pengakuan atas hak-hak mereka serta kepastian posisi dalam sistem ekonomi.

Pemerintah juga menekankan konsep “kekuatan produktif baru”, mendorong perusahaan swasta untuk berinvestasi dalam sektor strategis seperti semikonduktor, kecerdasan buatan, dan energi baru, guna menembus pembatasan teknologi Barat dan mencari sumber pertumbuhan baru.

Namun, Wang He menilai kebijakan seperti integrasi militer-sipil justru membuat perusahaan swasta enggan terlibat, karena mereka dipandang sebagai pihak yang perlu diawasi. Faktor ideologi yang mengakar dalam sistem dianggap menjadi hambatan terbesar yang sulit diubah.

Dalam beberapa tahun terakhir, gelombang regulasi terhadap sektor pendidikan, internet, dan properti telah berdampak besar pada lapangan kerja, terutama bagi kaum muda. Jumlah lulusan universitas pada 2026 diperkirakan mencapai rekor tertinggi, sementara tingkat pengangguran juga meningkat, menunjukkan pasar tenaga kerja sudah jenuh.

Wang He juga menyoroti bahwa kebijakan ekonomi terbaru bahkan menggunakan instrumen hukum yang dianggap membebani sektor swasta. Tahun lalu, investasi di Tiongkok mengalami kontraksi langka, baik dari perusahaan domestik maupun investasi asing, dan tren ini berlanjut hingga tahun ini, mencerminkan menurunnya kepercayaan pelaku usaha.

Meskipun frekuensi forum meningkat, lemahnya sistem jaminan sosial membuat masyarakat enggan berbelanja, sehingga forum semacam ini tidak langsung meningkatkan daya beli. Di sisi lain, pelaku usaha lebih mengutamakan kepastian hukum dan stabilitas kebijakan dibandingkan janji-janji verbal.

Selama pola “negara maju, swasta mundur” tidak berubah, perusahaan swasta cenderung tetap menunggu dan melihat sebelum mengambil keputusan investasi.

Pengamat Xie Tian menambahkan bahwa pemerintah berharap sektor swasta menjadi motor inovasi dan pertumbuhan, namun pelaku usaha enggan berpartisipasi karena risiko tinggi dan ketidakpastian pengembalian investasi. Ia bahkan menyebut sebagian kebijakan sebagai upaya “memanen” dari sektor swasta.

Pemerintah berharap forum-forum ini dapat mengirim sinyal dukungan kepada sektor swasta, memperbaiki ekspektasi pasar, dan memulihkan kepercayaan. Namun para analis menilai, krisis kepercayaan yang bersifat sistemik tidak dapat diselesaikan hanya dengan pertemuan semacam ini.

Diedit oleh Huang Yimei; Diwawancarai oleh Yi Ru – NTD