Laporan Khusus : Banyak Desa di Guangxi, Tiongkok Hancur Diterjang Banjir, Korban Tewas Disebut Sangat Besar 

EtIndonesia.com Hujan deras yang melanda Daerah Otonom Guangxi, Tiongkok  baru-baru ini menyebabkan sejumlah bendungan dan waduk mengalami pelepasan air maupun jebol. Banjir besar yang terjadi dilaporkan menghancurkan banyak desa. Sejumlah korban selamat dan relawan mengungkapkan bahwa banyak rumah hanyut dan banyak warga terseret arus. Mereka mengklaim jumlah korban jiwa yang sebenarnya mencapai sedikitnya ribuan orang.

Banyak Waduk Dilaporkan Jebol atau Melepaskan Air

Laporan menyebutkan bahwa sejak 6 Juli, hujan ekstrem melanda Kota Hengzhou dan wilayah sekitarnya. Sedikitnya 15 waduk dilaporkan mengalami keruntuhan atau kerusakan, sementara beberapa waduk lainnya melakukan pelepasan air, sehingga banjir besar menghanyutkan rumah-rumah, lahan pertanian, dan warga yang tidak sempat menyelamatkan diri.

Seorang pembawa siaran langsung (livestreamer) mengatakan bahwa Desa Liulan, yang berada tepat di dekat Waduk Liulan, mengalami kerusakan sangat parah.

“Setelah banjir mulai surut sejak sore 6 Juli, inilah kondisi kampung mereka. Berdasarkan perkiraan sementara dan apa yang saya lihat langsung di lokasi, setidaknya separuh rumah telah rusak,” katanya. 

Warga: Air Naik Setinggi Dua Lantai

Seorang warga Desa Liulan bermarga Lu mengatakan bahwa setelah Waduk Liulan runtuh, air banjir naik dengan sangat cepat hingga mencapai ketinggian sekitar dua lantai bangunan. Banyak warga naik ke atap rumah untuk menyelamatkan diri, tetapi rumah-rumah tersebut kemudian ikut hanyut.

“Ada yang kondisinya sangat menyedihkan. Mereka berada di atas rumah, tetapi rumahnya roboh dan tidak bisa diselamatkan. Ada juga yang kemungkinan hanyut terbawa arus. Banyak orang pulang dan mendapati rumah mereka sudah hilang sama sekali. Sangat menyedihkan. Ada yang sampai sekarang belum menemukan anggota keluarganya. Melihat mereka saja membuat saya ingin menangis,” ujarnya. 

Desa Dutian Disebut Rata dengan Tanah

Desa Dutian, yang juga berada di dekat Waduk Liulan, dilaporkan mengalami kerusakan berat.

Seorang warga setempat mengatakan: “Saat banjir datang, 27 rumah di Desa Dutian hanyut semuanya. Bahkan fondasinya pun sudah tidak ada.”

Klaim Korban Jauh Lebih Besar dari Angka Resmi

Pada 9 Juli, pemerintah setempat mengumumkan bahwa banjir di Guangxi menyebabkan 39 orang meninggal dunia dan 9 orang hilang. Setelah itu tidak ada lagi pembaruan resmi mengenai jumlah korban.

Namun menurut laporan tersebut, pada 13 Juli beberapa warga Hengzhou dan relawan mengatakan kepada The Epoch Times bahwa hanya di Tim 5, Desa Yabo, Kecamatan Yunbiao saja terdapat lebih dari sepuluh korban jiwa. Mereka mengklaim masih banyak warga yang hilang maupun tertimbun lumpur, dan memperkirakan jumlah korban tewas “setidaknya mencapai empat digit” (lebih dari seribu orang).

Seorang warga perempuan dari Kecamatan Yunbiao sambil menangis mengatakan hampir seluruh rumah di desanya hanyut.

“Rumah hanyut, mobil juga hanyut dan tidak ditemukan lagi. Tidak ada yang tersisa. Kami benar-benar kehilangan segalanya,” katanya. 

Relawan Menggambarkan Kondisi yang Memilukan

Seorang livestreamer yang mendatangi lokasi banjir menangis ketika melihat banyak rumah di sepanjang sungai telah lenyap.

“Baru setelah datang ke lokasi kami tahu, puluhan rumah yang dulu berdiri di tepi sungai sekarang semuanya sudah hilang,” ujarnya. 

Pada hari ketujuh setelah banjir, sejumlah relawan yang mengirim bantuan ke Kecamatan Yunbiao menggambarkan suasana daerah bencana sebagai sangat sunyi dan rusak berat.

Salah seorang relawan berkata: “Ya Tuhan. Seluruh jalan sepi tanpa penghuni. Truk di depan itu membawa bantuan kami. Di kedua sisi jalan penuh sampah dan mobil-mobil yang terendam. Baunya sangat menyengat, seperti bau jamban di pedesaan.”

Klaim: Satu Desa Saja Sedikitnya 500 Orang Tewas

Menurut laporan tersebut, Kecamatan Zhenlong yang berbatasan dengan Yunbiao juga mengalami kerusakan sangat serius.

Seorang korban banjir mengatakan: “Semua barang terendam. Tidak sempat membawa apapun. Mobil hancur. Kami benar-benar tidak tahu harus bagaimana ke depannya.”

Seorang relawan juga mengklaim bahwa ketika membersihkan desa-desa di hilir waduk di Kecamatan Zhenlong, alat berat menemukan jenazah hampir setiap kali menggali.

Laporan tersebut juga menyebut adanya klaim dari warga bahwa salah satu desa di Zhenlong rata dengan tanah dan sedikitnya 500 orang meninggal dunia, namun angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Beredar Foto Daftar Kebutuhan Bantuan

Di media sosial juga beredar tangkapan layar dokumen berjudul “Daftar Penugasan Distribusi Bantuan Bencana Hengzhou” bertanggal 12 Juli, yang di dalamnya tercantum kebutuhan 250 kantong jenazah beserta perlengkapan lainnya.

Beberapa warga mengatakan bahwa petugas yang bertugas mengevakuasi jenazah di Kecamatan Yunbiao membawa kantong jenazah ke lokasi.

Seorang warga bermarga Li (nama samaran) mengatakan bahwa kawasan bencana kini masih dibatasi.

Ia mengatakan: “Orang biasa tidak bisa masuk ke daerah bencana untuk ikut membantu. Setelah masuk pun tidak ada sinyal internet karena daerah itu ditutup dan dipasang garis pembatas. Jalan menuju ke dalam juga masih ditutup.”

Warga Mengaku Masih Banyak Korban Terjebak

Pada 14 Juli, warga yang sama mengatakan kepada NTD bahwa operasi pencarian korban hilang masih berlangsung. Ia mengklaim masih banyak warga yang terjebak di pemukiman maupun daerah pegunungan, serta kekurangan air bersih dan bahan makanan.

Menurut laporan tersebut, sejumlah relawan juga mengaku mengalami kesulitan menyalurkan bantuan.

Seorang relawan mengatakan: “Saya menempuh perjalanan lebih dari 2.000 kilometer, tetapi bantuan kami justru ditolak. Akhirnya saya membagikannya sendiri. Siapa yang membutuhkan silakan ambil.”

Relawan lain mengatakan: “Kami membawa bantuan ke lokasi, tetapi pemerintah tidak mengizinkan kami masuk ke daerah bencana. Banyak lokasi yang dituju melalui navigasi tidak bisa dicapai, sinyal komunikasi juga terputus sehingga warga tidak dapat menghubungi dunia luar.”

Laporan dari reporter NTD Television, Wang Ziyi.

Trump Ungkap “Daftar Target Penghancuran”, Ancam Serang Pembangkit Listrik dan Jembatan Iran Pekan Depan

EtIndonesia.com Situasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Disebutkan bahwa pada pukul 15.00 waktu Pantai Timur AS, militer Amerika melancarkan gelombang serangan kedua pada hari itu. Sebelumnya, Presiden Donald Trump dikabarkan mengungkap apa yang disebut sebagai “daftar target penghancuran” dan memperingatkan bahwa pekan depan Amerika akan mulai menyerang pembangkit listrik serta jembatan di Iran apabila Teheran tidak kembali ke meja perundingan.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Trump telah mengadakan rapat di Situation Room bersama sejumlah pejabat kabinet untuk membahas kemungkinan pelaksanaan serangan yang lebih besar pada tahap berikutnya.

Trump Ancam Serang Infrastruktur Iran

Setelah beberapa malam berturut-turut melakukan operasi militer, pasukan Amerika pada siang hari waktu Iran dilaporkan menyerang sistem pertahanan pantai serta fasilitas penyimpanan dan peluncuran rudal jelajah di Pulau Greater Tunb, sebuah lokasi strategis di pintu masuk barat Selat Hormuz. Serangan tersebut disebut berlangsung sekitar 90 menit.

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menjelaskan target operasi berikutnya apabila Iran tetap menolak berunding.

“Minggu depan mereka benar-benar akan menghadapi masa yang sangat sulit. Karena minggu depan giliran pembangkit listrik dan jembatan yang akan menjadi sasaran. Kami akan melumpuhkan seluruh pembangkit listrik mereka dan menghancurkan jembatan-jembatan mereka, kecuali mereka bersedia kembali ke meja perundingan,” katanya. 

Namun demikian, Trump juga menyatakan bahwa Iran kembali menghubungi Amerika Serikat untuk mengupayakan perundingan damai.

“Mereka ingin berunding. Saya mengatakan kepada mereka, lebih baik berunding, kalau tidak hasil akhirnya mereka tidak akan memiliki apa-apa,” lanjutnya. 

Serangan Militer Berlanjut

Menurut laporan tersebut, pada Selasa malam waktu Pantai Timur AS, militer Amerika mengerahkan kekuatan udara dan laut dalam operasi selama tujuh jam yang menyerang puluhan sasaran militer di sekitar Selat Hormuz dan wilayah pesisir Iran.

Operasi itu melibatkan pesawat tempur, pesawat nirawak (drone), serta kapal perang Angkatan Laut AS yang meluncurkan senjata berpemandu presisi ke berbagai lokasi, termasuk:

  • Posisi rudal Iran.
  • Basis pesawat nirawak.
  • Fasilitas Angkatan Laut Iran.
  • Sistem pertahanan pantai.

Tujuannya disebut untuk mengurangi kemampuan Iran dalam mengancam jalur pelayaran internasional dan keselamatan awak kapal.

Laksamana Brad Cooper juga mengecam Iran dengan menuduh bahwa selama sepekan terakhir Iran sengaja menyerang warga sipil, termasuk menyerang tujuh kapal dagang yang menyebabkan sekitar 12 awak kapal tewas, hilang, atau terluka. Iran juga dituduh meluncurkan puluhan rudal dan drone ke negara-negara Teluk.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) itu menyatakan bahwa saat ini lebih dari 20 kapal perang Angkatan Laut AS serta ratusan pesawat militer sedang menjalankan operasi di kawasan tersebut.

Dilaporkan Bahas Serangan yang Lebih Besar

Media Axios, mengutip tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, melaporkan bahwa Presiden Trump telah mengumpulkan Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan pejabat tinggi lainnya dalam rapat Situation Room untuk membahas kemungkinan melancarkan serangan yang lebih besar dibanding operasi yang sedang berlangsung.

Menurut laporan itu, sebagian pengamat menilai Trump mungkin mempertimbangkan peningkatan tekanan militer guna memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz. Bahkan, menerima tuntutan Amerika Serikat dalam perundingan mengenai program nuklir.

Pada hari yang sama, Departemen Keuangan AS juga mengumumkan sanksi terhadap tujuh individu dan organisasi yang dituduh terlibat dalam jaringan pengadaan senjata bagi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Seluruh aset dan kepentingan mereka di Amerika Serikat dibekukan.

Laporan Mengenai Dugaan Bantuan dari Tiongkok

Laporan NTD juga menyebut bahwa mantan Menteri Luar Negeri Iran yang kini menjadi anggota parlemen, Manouchehr Mottaki, melalui media pemerintah Iran menyerukan agar Iran mempertimbangkan operasi darat untuk menyusup ke sebuah pangkalan militer Amerika di Timur Tengah dan menyandera ribuan personel militer AS sebagai bentuk pembalasan.

Di tengah meningkatnya ketegangan, muncul pula laporan yang menyebut dua pesawat angkut militer Angkatan Udara Tiongkok mendarat di Iran tanpa mengaktifkan transponder selama penerbangan, sehingga memunculkan berbagai spekulasi.

Selain itu, disebutkan pula bahwa tiga pesawat kargo Boeing 747 yang berangkat dari Tiongkok dengan tujuan resmi Luksemburg tidak memasuki wilayah udara Eropa dan menghilang dari radar ketika mendekati Iran. Sebagian pihak menduga penerbangan tersebut mungkin berkaitan dengan pengiriman perlengkapan militer.

Laporan tersebut menyebut adanya spekulasi bahwa Beijing kemungkinan membantu meningkatkan kemampuan pertahanan Iran dalam menghadapi tekanan militer dari Amerika Serikat.

Laporan dari reporter NTD Television, Wang Ziyi.

PDB Tiongkok Mencapai Titik Terendah dalam Tiga Tahun, Analis: Sulit Menutupi Tren Pelemahan Ekonomi

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok pada kuartal kedua tahun 2026 melambat menjadi 4,3%, terendah dalam tiga tahun terakhir. Sejumlah analis menilai bahwa kondisi ekonomi yang sebenarnya kemungkinan lebih buruk daripada angka resmi. Lemahnya konsumsi, lesunya sektor properti, serta menurunnya investasi terus membebani perekonomian Tiongkok dan memupus harapan akan pemulihan ekonomi pada paruh kedua tahun ini.

Selain itu, langkah Beijing yang kali ini merilis data ekonomi yang lebih rendah dari perkiraan dianggap sebagai tanda bahwa perlambatan ekonomi sudah semakin sulit disembunyikan. Beberapa analis juga menilai hal ini mungkin bertujuan untuk mempersiapkan publik menghadapi situasi ekonomi yang diperkirakan akan semakin berat.

EtIndonesia.com Menurut data resmi yang dipublikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada kuartal kedua turun menjadi 4,3%, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5% pada kuartal pertama. Angka ini bahkan di bawah perkiraan pasar sebesar 4,5%. Ini merupakan tingkat pertumbuhan terendah sejak kuartal keempat tahun 2022.

Namun, Dewan Negara Tiongkok hanya menyampaikan secara umum bahwa PDB semester pertama tahun 2026 tumbuh 4,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, tanpa menyoroti perlambatan pada kuartal kedua.

Wang He, kolumnis The Epoch Times, mengatakan: “Tahun 2026 adalah tahun pertama pelaksanaan Rencana Lima Tahun ke-15. Selama ini PKT memiliki tradisi menciptakan kesan awal yang baik pada tahun pertama. Namun, melihat kinerja ekonomi semester pertama tahun ini, harapan tersebut kini hanya menjadi ilusi.”

Sejumlah ekonom menilai bahwa penyebab utama perlambatan ekonomi Tiongkok tetap sama, yaitu:

  • Konsumsi masyarakat yang masih lemah.
  • Sektor properti yang terus terpuruk.
  • Penurunan investasi di berbagai sektor di luar industri teknologi tinggi dan bidang-bidang yang mendapat dukungan kebijakan pemerintah.

Dalam beberapa tahun terakhir, ketika ekonomi terus melemah, pemerintah Tiongkok tetap menekankan narasi bahwa prospek ekonomi tetap cerah. Karena itu, data ekonomi resmi sering dipertanyakan keakuratannya.

Para analis menilai bahwa keputusan Beijing kali ini untuk mengumumkan angka pertumbuhan yang lebih rendah dari ekspektasi menunjukkan bahwa kondisi ekonomi yang lemah sudah semakin sulit ditutupi. Mereka berpendapat bahwa pada masa lalu pemerintah lebih sering merevisi atau menyesuaikan data yang kurang menguntungkan. 

Namun kali ini, selain mengumumkan pertumbuhan yang berada di bawah perkiraan pasar, pertumbuhan kuartalan juga menjadi yang terendah sejak tahun 2023, yang dinilai mencerminkan tekanan ekonomi yang semakin besar.

“Mengandalkan narasi bahwa ekonomi sedang membaik untuk menyelamatkan ekonomi, atau mengandalkan biro statistik untuk ‘mengangkat’ angka PDB, sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Hal ini juga menunjukkan bahwa pemerintah terpaksa mengakui bahwa perlambatan ekonomi jauh lebih buruk daripada yang diperkirakan,” kata Xu Zhen, seorang pengamat senior pasar modal Tiongkok. 

“Penurunan angka statistik secara bertahap juga dapat dipandang sebagai upaya biro statistik untuk mengurangi tekanan opini publik maupun pertanggungjawaban dari atasan,” lanjutnya. 

Beberapa analis bahkan memperkirakan bahwa pertumbuhan PDB riil mungkin hanya sekitar 2% atau bahkan lebih rendah, sehingga penurunan bertahap angka resmi dinilai bertujuan untuk mengurangi dampak terhadap opini publik sekaligus memberi ruang apabila kondisi ekonomi terus memburuk, sehingga tidak menimbulkan kesan terjadi kejatuhan ekonomi secara mendadak.

“Dalam jangka panjang, saya tetap tidak optimistis terhadap prospek ekonomi Tiongkok. Seiring Amerika Serikat, Eropa, dan negara-negara Barat membangun rantai pasok mereka sendiri untuk komoditas seperti logam tanah jarang dan bahan baku farmasi, proses pelepasan ketergantungan rantai industri antara Tiongkok dengan Amerika Serikat, Eropa, maupun Jepang akan terus berlangsung. Akibatnya, perdagangan luar negeri Tiongkok akan menghadapi tekanan yang semakin besar,” tambah Xu Zhen. 

Reporter NTD Television Chen Yue dan Chang Chun melaporkan.

Breaking! Trump Umumkan Serangan Lebih Ganas ke Iran, Pekan Depan Listrik dan Jembatan Jadi Target

EtIndonesia.com — Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat secara signifikan setelah Amerika Serikat melanjutkan sekaligus memperluas operasi militernya terhadap Iran. Di tengah eskalasi tersebut, Iran terus melakukan berbagai aksi balasan di sejumlah wilayah Timur Tengah, sementara kedua negara semakin intens memperebutkan kendali atas Selat Hormuz, jalur pelayaran paling strategis di dunia yang menjadi penghubung utama distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia menuju pasar internasional.

Perkembangan terbaru ini memperlihatkan bahwa konflik antara Washington dan Teheran telah memasuki fase yang jauh lebih berbahaya. Selain meningkatnya intensitas serangan militer, muncul pula berbagai laporan mengenai dugaan keterlibatan negara lain yang berpotensi memperluas dimensi geopolitik konflik tersebut.

Amerika Serikat Perluas Operasi Militer terhadap Iran

Pada Rabu, 15 Juli 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa operasi militer terhadap Iran akan kembali diperluas dalam beberapa pekan mendatang. Pernyataan tersebut disampaikan ketika berbagai laporan dari lapangan menyebutkan bahwa gelombang baru serangan udara Amerika Serikat diduga telah dimulai.

Pada hari yang sama, sejumlah ledakan dilaporkan terdengar di Sirik serta beberapa wilayah lain di Iran bagian selatan yang berada di sekitar Selat Hormuz. Kawasan tersebut merupakan lokasi yang memiliki arti strategis karena menjadi pintu masuk utama menuju Teluk Persia.

Menurut sejumlah analis dan blogger militer yang memantau perkembangan di lapangan, rangkaian ledakan tersebut diduga berkaitan dengan dimulainya operasi udara terbaru militer Amerika Serikat terhadap sasaran-sasaran strategis di wilayah Iran.

Meski hingga saat itu belum seluruh rincian operasi diumumkan secara resmi, berbagai laporan menunjukkan bahwa Washington berupaya meningkatkan tekanan militer terhadap infrastruktur pertahanan Iran.

Trump: “Kami Tidak Lagi Ingin Bernegosiasi”

Dalam sebuah wawancara yang disiarkan pada 15 Juli 2026, Presiden Donald Trump menyampaikan pernyataan yang menunjukkan perubahan sikap Amerika Serikat terhadap peluang perundingan dengan Teheran.

Trump menyatakan bahwa Iran memang berusaha menjalin komunikasi dengan Washington. Namun menurutnya, pemerintah Amerika Serikat tidak lagi mempercayai berbagai pernyataan yang disampaikan oleh pihak Iran.

Ia mengatakan: “Iran memang sedang berusaha menghubungi Amerika Serikat. Tetapi saya akan berbicara terus terang. Saat ini kami tidak ingin bernegosiasi. Semua yang mereka katakan hanyalah kebohongan. Saya belum pernah melihat situasi seperti ini sebelumnya.”

Pernyataan tersebut menjadi salah satu sinyal paling tegas bahwa pemerintah Amerika Serikat memilih meningkatkan tekanan militer dibandingkan kembali membuka jalur diplomasi dalam waktu dekat.

Ancam Serangan Beruntun Selama Beberapa Pekan

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyampaikan ancaman bahwa operasi militer Amerika Serikat akan berlangsung secara berkelanjutan dengan intensitas yang jauh lebih tinggi.

Ia mengatakan: “Malam ini kami akan menghantam mereka habis-habisan. Besok malam kami juga akan menghantam mereka habis-habisan. Malam berikutnya kami akan kembali menghantam mereka. Dan minggu depan keadaan mereka akan menjadi jauh lebih buruk.”

Trump kemudian menambahkan bahwa sasaran operasi berikutnya akan diperluas hingga mencakup berbagai infrastruktur penting milik Iran.

Menurutnya: “Minggu depan kami akan menghancurkan pembangkit listrik mereka dan juga jembatan-jembatan mereka.”

Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa fokus operasi tidak hanya diarahkan kepada sasaran militer, tetapi juga terhadap infrastruktur strategis yang dinilai memiliki nilai logistik bagi kemampuan pertahanan Iran.

Klaim Tetap Berupaya Menghindari Korban Sipil

Meskipun mengeluarkan ancaman keras, Trump menegaskan bahwa militer Amerika Serikat tetap berusaha meminimalkan dampak terhadap masyarakat sipil.

Ia mengatakan: “Seperti yang Anda ketahui, kami sangat berhati-hati terhadap masyarakat sipil. Sebaiknya kalian mencapai kesepakatan. Kalau tidak, kalian akan kehilangan segalanya.”

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari tekanan politik kepada pemerintah Iran agar kembali mempertimbangkan jalur penyelesaian melalui perundingan.

Pulau Kharg Disebut Berpotensi Menjadi Sasaran Berikutnya

Trump juga menyinggung kemungkinan operasi militer terhadap Pulau Kharg (Kharg Island), yang selama ini dikenal sebagai terminal ekspor minyak terbesar milik Iran sekaligus salah satu aset energi paling penting negara tersebut.

Menurut Trump, Amerika Serikat sebelumnya telah beberapa kali menyerang kawasan tersebut.

Ia mengatakan: “Seperti yang Anda ketahui, kami sudah menyerang Pulau Kharg dua kali, bahkan mungkin tiga kali. Saya pernah mengatakan bahwa kami akan menyerang semua lokasi, tetapi ada satu kawasan kecil sekitar 25 yard yang sengaja kami hindari, karena saya tidak ingin menimbulkan dampak terhadap perekonomian dunia.”

Trump kemudian mengisyaratkan bahwa apabila fasilitas di Pulau Kharg berhasil dilemahkan, Amerika Serikat tidak menutup kemungkinan mengambil langkah lebih jauh.

Menurutnya, Washington dapat mempertimbangkan untuk mengambil alih pulau strategis tersebut apabila situasi militer memungkinkan.

Pulau Kharg memiliki arti ekonomi yang sangat penting bagi Iran karena menjadi pusat utama ekspor minyak mentah negara itu. Gangguan terhadap operasional pulau tersebut berpotensi memengaruhi pasokan energi global.

CENTCOM: Iran Harus Mempertanggungjawabkan Tindakannya

Sementara itu, Panglima Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Laksamana Cooper, menyatakan bahwa operasi militer Amerika Serikat bertujuan meminta pertanggungjawaban Iran atas berbagai tindakan yang menurut Washington merupakan agresi tanpa alasan.

Dalam pernyataan resminya, Cooper menegaskan bahwa berbagai aksi Iran selama ini dinilai membahayakan keselamatan warga sipil serta mengancam stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, Amerika Serikat akan terus mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu untuk melindungi kepentingan keamanan regional serta menjamin kebebasan navigasi di jalur pelayaran internasional.

Dugaan Keterlibatan Partai Komunis Tiongkok Kembali Mencuat

Di tengah meningkatnya konflik, perhatian internasional juga tertuju pada berbagai laporan mengenai dugaan keterlibatan Partai Komunis Tiongkok (PKT) dalam mendukung Iran.

Beberapa media Inggris melaporkan bahwa ketika Amerika Serikat kembali melancarkan pemboman terhadap Iran, terdapat dua pesawat angkut militer Angkatan Udara Tiongkok yang dilaporkan mendarat di Iran.

Menurut laporan tersebut, kedua pesawat diduga mematikan transponder selama penerbangan sehingga keberadaannya tidak dapat dipantau melalui sistem pelacakan penerbangan sipil.

Langkah tersebut memunculkan berbagai spekulasi mengenai kemungkinan adanya pengiriman perlengkapan militer atau logistik strategis kepada pemerintah Iran.

Klaim Pengiriman Sistem Radar dan Pertahanan Udara

Seorang tokoh oposisi Iran bahkan mengklaim bahwa Partai Komunis Tiongkok sedang memasok sebagian sistem radar serta sistem pertahanan udara kepada pemerintah di Teheran.

Namun demikian, hingga 15 Juli 2026, klaim tersebut belum memperoleh konfirmasi resmi baik dari pemerintah Republik Rakyat Tiongkok maupun dari pemerintah Iran. Oleh karena itu, informasi tersebut masih berupa tuduhan yang belum dapat diverifikasi secara independen.

Misteri Tiga Pesawat Kargo Boeing 747

Laporan lain juga menyebutkan adanya tiga pesawat kargo Boeing 747 yang berangkat dari Tiongkok dengan tujuan resmi Luksemburg.

Namun berdasarkan data pelacakan penerbangan yang beredar, ketiga pesawat tersebut dilaporkan tidak pernah memasuki wilayah udara Eropa sebagaimana rute yang diumumkan.

Ketika mendekati kawasan sekitar Iran, ketiga pesawat tersebut disebut menghilang dari radar pelacakan sipil.

Fenomena tersebut kemudian memunculkan berbagai dugaan mengenai kemungkinan perubahan tujuan penerbangan.

Media Inggris The Telegraph turut melaporkan adanya penerbangan misterius tersebut. Sejumlah pengamat internasional berspekulasi bahwa penerbangan itu kemungkinan berkaitan dengan pengiriman perlengkapan ataupun logistik militer menuju Iran.

Meskipun demikian, hingga kini belum terdapat bukti resmi yang dapat memastikan isi muatan maupun tujuan akhir dari penerbangan tersebut.

Kapal Pengintai Tiongkok Disebut Memantau Armada Amerika

Selain aktivitas udara, sejumlah laporan juga menyebutkan bahwa sebuah kapal pengintai milik Tiongkok berada di perairan dekat Iran.

Kapal tersebut diduga memantau pergerakan kelompok tempur kapal induk Amerika Serikat yang dipimpin oleh USS Abraham Lincoln, yang saat ini menjadi salah satu kekuatan utama Angkatan Laut Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Apabila laporan tersebut benar, keberadaan kapal pengintai tersebut menunjukkan bahwa Beijing turut memantau secara langsung perkembangan operasi militer yang berlangsung di kawasan Teluk Persia.

Rusia Juga Dituduh Memberikan Dukungan Intelijen

Di sisi lain, Rusia juga disebut-sebut turut memberikan dukungan kepada Iran dalam bentuk informasi intelijen.

Sejumlah laporan menyebut bahwa Moskow diduga membagikan informasi mengenai pergerakan berbagai aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah kepada Teheran.

Namun hingga saat ini, tuduhan tersebut juga belum memperoleh konfirmasi resmi dari pemerintah Rusia maupun pemerintah Iran.

Ketegangan Berpotensi Memasuki Fase yang Lebih Berbahaya

Rangkaian perkembangan yang terjadi pada 15 Juli 2026 menunjukkan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus mengalami eskalasi dengan cakupan yang semakin luas.

Di satu sisi, Washington menyatakan akan memperbesar operasi militernya dan meningkatkan tekanan terhadap berbagai fasilitas strategis Iran. Di sisi lain, muncul berbagai laporan mengenai dugaan keterlibatan Tiongkok dan Rusia yang, apabila terbukti, berpotensi mengubah konflik bilateral menjadi persaingan geopolitik yang melibatkan lebih banyak kekuatan besar.

Sementara itu, perebutan pengaruh di Selat Hormuz tetap menjadi salah satu faktor paling krusial dalam konflik ini. Mengingat sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melintasi jalur tersebut, setiap eskalasi militer di kawasan itu berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan regional, rantai pasok energi global, serta perekonomian internasional secara keseluruhan. (***)

Perang Membesar! Drone Bunuh Diri Iran Guncang Kuwait, 80 Prajurit Iran Dilaporkan Tewas Dibalas AS

EtIndonesia.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat secara drastis setelah kedua negara saling melancarkan serangan militer dalam waktu yang hampir bersamaan. 

Pada malam Senin, 14 Juli 2026, Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) mengklaim berhasil menyerang salah satu fasilitas logistik terbesar yang digunakan militer Amerika Serikat di Kuwait. Tak lama setelah itu, militer Amerika Serikat melancarkan gelombang baru serangan udara ke berbagai sasaran strategis di wilayah Iran.

Rangkaian peristiwa tersebut menandai babak baru dalam eskalasi konflik yang telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Selain operasi militer berskala besar, kedua negara juga terus meningkatkan tekanan melalui jalur ekonomi, diplomatik, dan politik.


Drone Shahed-136 Dilaporkan Menghantam Gudang Logistik Militer AS di Kuwait

Pada 14 Juli 2026 malam waktu Kuwait, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan meluncurkan sebuah drone bunuh diri Shahed-136 yang menghantam kompleks logistik militer Amerika Serikat di Kuwait.

Menurut berbagai laporan yang beredar, sasaran serangan merupakan salah satu fasilitas pergudangan terbesar yang selama ini mendukung kebutuhan operasional militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan sebuah drone Shahed-136 meluncur dari ketinggian setelah diduga berhasil mengunci sasaran. Beberapa detik kemudian drone tersebut menghantam sebuah bangunan di dalam kompleks logistik secara langsung.

Benturan itu memicu ledakan besar yang segera diikuti kobaran api. Bola api berukuran sangat besar tampak membumbung ke udara, sementara asap hitam pekat terlihat menyelimuti kawasan sekitar. Kebakaran hebat dilaporkan berlangsung cukup lama sebelum akhirnya berhasil dikendalikan.

Hingga beberapa waktu setelah insiden terjadi, belum ada informasi resmi mengenai jumlah korban jiwa maupun besarnya kerugian material akibat serangan tersebut.


Fasilitas Logistik Strategis Penopang Operasi Militer Amerika Serikat

Berdasarkan berbagai laporan, fasilitas yang menjadi sasaran tersebut selama ini dikelola oleh KJR, sebuah perusahaan logistik asal Kuwait yang menyediakan layanan rantai pasok bagi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Kompleks tersebut memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kelancaran operasi militer Amerika Serikat karena berfungsi sebagai pusat penyimpanan dan distribusi berbagai kebutuhan logistik.

Berbagai perlengkapan yang umumnya disimpan di lokasi tersebut antara lain meliputi:

  • persediaan makanan bagi personel militer;
  • air minum;
  • ban kendaraan militer;
  • suku cadang kendaraan berat;
  • perlengkapan kendaraan logistik;
  • tenda militer;
  • kantong tidur;
  • perlengkapan lapangan; serta
  • berbagai kebutuhan operasional harian bagi personel militer.

Menurut informasi yang beredar, gudang tersebut tidak digunakan untuk menyimpan amunisi maupun persenjataan, melainkan lebih berfungsi sebagai pusat distribusi logistik.

Keberadaan fasilitas tersebut dinilai sangat penting karena menjadi salah satu simpul utama rantai pasok militer Amerika Serikat di Timur Tengah.


IRGC Mengaku Bertanggung Jawab

Tidak lama setelah serangan terjadi, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara terbuka mengaku bertanggung jawab atas operasi tersebut.

Dalam pernyataannya, IRGC menyebut serangan itu merupakan aksi balasan terhadap operasi militer Amerika Serikat yang selama beberapa hari terakhir terus menghantam berbagai sasaran di Iran.

Menurut IRGC, sasaran utama operasi bukanlah gudang senjata, melainkan sistem logistik yang menopang kemampuan operasional militer Amerika Serikat di kawasan.

Iran menilai bahwa menghancurkan jaringan logistik lawan merupakan salah satu cara paling efektif untuk mengurangi kemampuan tempur Amerika Serikat di Timur Tengah.


Amerika Serikat Langsung Meluncurkan Gelombang Serangan Baru

Hampir bersamaan dengan serangan drone Iran di Kuwait, Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command/CENTCOM) mengumumkan dimulainya gelombang terbaru operasi militer terhadap Iran.

Menurut laporan yang beredar, operasi tersebut berlangsung selama sekitar tujuh jam tanpa henti, atau sekitar dua jam lebih lama dibandingkan gelombang serangan sebelumnya.

Serangan udara itu dilaporkan menyasar berbagai instalasi militer Iran yang berada di sepanjang wilayah pesisir selatan negara tersebut.

Sejumlah fasilitas militer, sistem pertahanan, serta infrastruktur yang berkaitan dengan operasi angkatan bersenjata Iran disebut menjadi sasaran utama.

Operasi ini juga disebut sebagai gelombang keempat serangan udara besar Amerika Serikat sejak konflik kembali meningkat pada awal Juli 2026.


Blokade Maritim terhadap Iran Kembali Diberlakukan

Selain melaksanakan operasi udara, Amerika Serikat juga dilaporkan kembali mengaktifkan blokade maritim terhadap Iran.

Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi Washington untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran, baik dari sisi militer maupun ekonomi.

Blokade tersebut bertujuan mempersempit ruang gerak aktivitas pelayaran Iran sekaligus mengurangi kemampuan negara itu dalam mempertahankan jalur distribusi logistik dan perdagangan di kawasan Teluk Persia.

Pengamat menilai kombinasi operasi udara dan blokade laut menunjukkan bahwa Washington kini berupaya menekan Iran melalui berbagai dimensi secara bersamaan.


Laporan Serangan 13 Rudal Tomahawk ke Pangkalan Militer Iran

Pada malam yang sama, analis militer Iran, Babak Taghvaee, melaporkan bahwa militer Amerika Serikat juga meluncurkan 13 rudal jelajah Tomahawk ke markas Brigade ke-388 Angkatan Darat Iran di wilayah Bampur, Provinsi Sistan dan Baluchestan, Iran tenggara.

Menurut sejumlah akun media oposisi Iran, sekitar 80 prajurit Iran dilaporkan tewas seketika akibat serangan tersebut.

Apabila angka tersebut nantinya dapat diverifikasi secara independen, maka insiden itu akan menjadi salah satu serangan tunggal dengan jumlah korban terbesar yang dialami Iran sejak konflik kembali memanas.

Namun hingga kini, angka korban tersebut belum memperoleh konfirmasi resmi dari sumber independen.


Iran Mengakui Terjadinya Serangan

Dalam perkembangan yang cukup jarang terjadi, media semi-resmi Iran, Tasnim News Agency, mengonfirmasi bahwa pangkalan militer di Bampur memang menjadi sasaran serangan rudal Amerika Serikat pada dini hari 15 Juli 2026.

Menurut laporan tersebut, sebanyak 13 rudal menghantam kompleks militer tersebut.

Akibat serangan itu, sejumlah fasilitas mengalami kerusakan berat, antara lain:

  • barak prajurit;
  • wisma tamu;
  • pos penjagaan; dan
  • beberapa bangunan pendukung lainnya.

Tidak lama kemudian, Angkatan Darat Iran menyatakan bahwa tindakan balasan terhadap Amerika Serikat merupakan sesuatu yang “tidak dapat dihindari” dan hanya tinggal menunggu waktu pelaksanaannya.

Pernyataan tersebut semakin memperkuat kekhawatiran bahwa konflik dapat berkembang menjadi konfrontasi yang jauh lebih luas.


Panglima CENTCOM Menuduh Iran Menyerang Warga Sipil

Di tengah meningkatnya eskalasi konflik, Selasa, 15 Juli 2026, Panglima Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Jenderal Cooper, menyampaikan pernyataan melalui platform media sosial X.

Dalam pernyataannya, Cooper menuduh Iran secara sengaja menyerang sasaran sipil selama sepekan terakhir.

Ia mengatakan bahwa sedikitnya tujuh kapal dagang menjadi sasaran serangan, yang mengakibatkan hampir 12 awak kapal sipil tewas, hilang, atau mengalami luka-luka.

Selain itu, Iran juga dituduh telah meluncurkan puluhan rudal dan drone ke sejumlah negara di kawasan Teluk.

Menurut Cooper, Amerika Serikat akan meminta pertanggungjawaban Iran atas setiap serangan terhadap warga sipil maupun jalur perdagangan internasional.


Washington Tingkatkan Tekanan Melalui Jalur Ekonomi

Selain operasi militer, pemerintahan Presiden Donald Trump juga terus memperluas tekanan ekonomi terhadap Iran.

Pada Selasa, 15 Juli 2026, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengumumkan bahwa pemerintah telah membekukan aset mata uang kripto yang dikaitkan dengan Iran senilai lebih dari 130 juta dolar Amerika Serikat.

Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi Washington untuk membatasi akses Iran terhadap sumber pendanaan yang dinilai dapat digunakan bagi aktivitas militer maupun jaringan proksinya di kawasan.


Trump Umumkan Penarikan Pasukan dari Irak

Pada 14 Juli 2026, Presiden Donald Trump juga mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Irak yang baru, Ali al-Zaidi. 

Dalam kesempatan tersebut, Trump mengumumkan bahwa seluruh pasukan Amerika Serikat akan ditarik dari Irak paling lambat 30 September 2026.

Setelah proses penarikan selesai, hubungan Amerika Serikat dengan Irak disebut akan lebih difokuskan pada kerja sama ekonomi, investasi, dan perdagangan dibandingkan operasi militer.

Trump juga menyampaikan pernyataan yang memicu perhatian luas.

Menurutnya, selama bertahun-tahun Iran telah menjadi beban besar bagi Irak. Namun ia menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak akan lagi menjadi masalah di masa mendatang.

Pernyataan itu segera memunculkan berbagai spekulasi mengenai arah baru kebijakan Washington terhadap Baghdad maupun Teheran.


Pemerintah Baru Irak Lakukan Operasi Besar

Menariknya, sekitar dua pekan sebelum pertemuan tersebut, Perdana Menteri Irak Ali Zaidi, yang baru menjabat lebih dari satu bulan, memerintahkan operasi keamanan besar-besaran di Zona Hijau Baghdad.

Dalam operasi tersebut, aparat keamanan dilaporkan menangkap 47 pejabat tinggi.

Sejumlah analis menilai operasi tersebut merupakan salah satu langkah pembersihan terbesar terhadap jaringan pejabat yang selama ini diduga memiliki kedekatan dengan Iran.

Fenomena lain yang turut menjadi perhatian adalah sikap kelompok-kelompok milisi pro-Iran di Irak.

Meskipun konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat sepanjang Juli 2026, kelompok-kelompok tersebut hingga kini belum melancarkan serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di wilayah Irak.

Situasi tersebut berbeda dibandingkan pola yang selama ini kerap terjadi pada setiap eskalasi konflik antara Washington dan Teheran.


Trump Pertimbangkan Memperluas Sanksi terhadap Rusia, Iran, dan Hizbullah

Dalam konferensi pers terpisah, Presiden Donald Trump juga menyinggung rancangan undang-undang sanksi terhadap Rusia yang sebelumnya diperjuangkan oleh mendiang Senator Lindsey Graham.

Trump menyatakan bahwa sebagai bentuk penghormatan terhadap Graham, peluang pengesahan rancangan undang-undang tersebut kini semakin besar.

Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintahannya sedang mempertimbangkan untuk memperluas cakupan sanksi tersebut agar tidak hanya berlaku bagi Rusia, tetapi juga mencakup Iran serta kelompok Hizbullah.

Apabila kebijakan tersebut benar-benar diterapkan, tekanan ekonomi terhadap Iran diperkirakan akan meningkat secara signifikan, bersamaan dengan berlanjutnya operasi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Situasi Masih Sangat Dinamis

Rangkaian peristiwa pada 14–15 Juli 2026 menunjukkan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus memasuki fase yang semakin berbahaya. Serangan drone Iran terhadap fasilitas logistik Amerika Serikat di Kuwait direspons dengan operasi udara besar-besaran oleh Washington, sementara kedua pihak juga meningkatkan tekanan melalui sanksi ekonomi dan pernyataan politik yang semakin keras.

Meski sejumlah klaim mengenai jumlah korban dan keberhasilan operasi telah disampaikan oleh masing-masing pihak, sebagian informasi tersebut masih belum dapat diverifikasi secara independen. Karena itu, perkembangan situasi di lapangan masih perlu terus dipantau seiring munculnya laporan-laporan resmi berikutnya. (***)

Perang Berubah Total! AS Hancurkan Gudang Pangan Iran, Lima Prediksi Mengerikan Akan Mengubah Dunia

EtIndonesia.com – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengalami eskalasi besar. Dalam salah satu operasi militer paling intens sejak perang pecah, kedua negara meningkatkan serangan secara signifikan sepanjang malam 15 hingga 16 Juli 2026. Tidak hanya sasaran militer yang menjadi target, namun untuk pertama kalinya fasilitas penyimpanan bahan pangan Iran juga dilaporkan ikut dihantam.

Perkembangan terbaru ini memunculkan kekhawatiran bahwa konflik telah memasuki fase baru yang jauh lebih berbahaya. Berbagai lembaga kajian strategis di Barat bahkan mulai memperingatkan kemungkinan terjadinya krisis energi global, perang berkepanjangan, hingga dampak geopolitik yang dapat meluas ke kawasan Indo-Pasifik.


Malam Paling Intens Sejak Perang Dimulai

Sepanjang malam 15–16 Juli 2026, militer Amerika Serikat dilaporkan melaksanakan operasi udara besar-besaran terhadap berbagai sasaran di Iran. Serangan berlangsung selama sekitar tujuh jam tanpa henti, menjadikannya salah satu operasi udara terlama sejak konflik kedua negara dimulai.

Gelombang serangan tersebut disebut menyasar sejumlah fasilitas strategis di berbagai wilayah Iran. Intensitas operasi yang tinggi menunjukkan bahwa Washington terus meningkatkan tekanan militer terhadap Teheran.

Iran tidak tinggal diam.

Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) dilaporkan mengirimkan sejumlah pesawat nirawak (drone) menuju Kompleks Mina Abdullah di Kuwait, sebuah kawasan logistik yang menjadi pusat pendukung utama operasi militer Amerika Serikat di negara tersebut.

Kompleks Mina Abdullah memiliki peranan yang sangat penting karena menangani kontrak logistik militer Amerika Serikat bernilai ratusan juta dolar AS. Fasilitas tersebut menjadi salah satu tulang punggung distribusi perlengkapan, kendaraan militer, amunisi, hingga kebutuhan operasional pasukan Amerika di kawasan Teluk.

Serangan terhadap fasilitas itu memperlihatkan bahwa Iran mulai memperluas sasaran balasannya ke pusat-pusat logistik Amerika Serikat di luar wilayah Iran.


Gudang Gandum Iran Dilaporkan Ikut Menjadi Sasaran

Di tengah derasnya pemberitaan mengenai saling balas serangan, muncul satu perkembangan yang dinilai jauh lebih mengkhawatirkan.

Militer Amerika Serikat dilaporkan menghancurkan sebuah gudang penyimpanan gandum di Provinsi Khuzestan, Iran.

Apabila laporan tersebut benar, maka inilah pertama kalinya sejak perang dimulai sasaran serangan Amerika tidak lagi terbatas pada:

  • pangkalan militer,
  • gudang rudal,
  • fasilitas pertahanan udara,
  • instalasi energi,
  • maupun infrastruktur sumber daya air.

Kini fasilitas penyimpanan bahan pangan juga mulai masuk ke dalam daftar target.

Perubahan pola serangan ini dianggap sebagai titik balik penting dalam jalannya perang.

Selama beberapa pekan terakhir, kedua negara masih lebih banyak berupaya melemahkan kemampuan tempur lawan melalui penghancuran aset-aset militer.

Namun ketika fasilitas pangan mulai ikut diserang, sejumlah pengamat menilai konflik telah memasuki fase yang secara tidak langsung berpotensi memengaruhi ketahanan pangan dan kehidupan masyarakat sipil.

Banyak analis menilai perkembangan tersebut dapat memperbesar tekanan ekonomi di dalam negeri Iran sekaligus memperumit upaya penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.


Lima Prediksi yang Dinilai Akan Menentukan Arah Perang

Di tengah meningkatnya eskalasi, berbagai lembaga riset keamanan internasional mulai menyusun sejumlah proyeksi mengenai arah konflik dalam beberapa pekan hingga beberapa tahun ke depan.

Menurut berbagai kajian tersebut, terdapat lima skenario utama yang berpotensi menentukan bukan hanya masa depan Timur Tengah, tetapi juga kondisi ekonomi dunia.


Prediksi Pertama: Infrastruktur Vital Akan Menjadi Target Utama

Prediksi pertama muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan sinyal bahwa operasi militer berikutnya akan meningkat secara signifikan.

Beberapa sasaran yang disebut berpotensi menjadi target meliputi:

  • pembangkit listrik,
  • jaringan distribusi energi,
  • jembatan strategis,
  • pelabuhan,
  • hingga Pulau Khark, yang selama puluhan tahun menjadi pusat utama ekspor minyak Iran.

Pulau Khark merupakan salah satu aset ekonomi paling penting bagi Iran. Sebagian besar ekspor minyak mentah negara tersebut selama ini dikirim melalui terminal yang berada di pulau tersebut.

Di sisi lain, Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan Iran akan menerapkan strategi balasan yang serupa.

Logika yang diperkirakan digunakan Teheran cukup sederhana:

“Apabila lawan menghancurkan infrastruktur kami, maka kami juga akan menghancurkan infrastruktur mereka.”

Karena itu, berbagai fasilitas strategis milik negara-negara Teluk diperkirakan dapat menjadi sasaran berikutnya, antara lain:

  • instalasi desalinasi air laut,
  • jaringan transmisi listrik,
  • terminal energi,
  • pelabuhan,
  • serta fasilitas vital lainnya.

Mantan analis CIA, Larry Johnson, memperingatkan bahwa apabila kawasan Teluk mengalami pemadaman listrik berskala besar pada puncak musim panas, dampaknya dapat berubah menjadi krisis kemanusiaan.

Tanpa pasokan listrik:

  • pendingin ruangan tidak dapat berfungsi,
  • suhu ekstrem dapat membahayakan keselamatan masyarakat,
  • rumah sakit menghadapi gangguan operasional,
  • distribusi air bersih terganggu,
  • dan jutaan penduduk berpotensi terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka.

Sejumlah lembaga kajian menilai bahwa apabila kedua negara mulai saling menghancurkan infrastruktur sipil, konflik akan jauh lebih sulit dikendalikan dan berpotensi berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.


Prediksi Kedua: Dunia Terancam Menghadapi Krisis Energi Terbesar Sejak Perang Dunia II

Prediksi kedua dianggap sebagai skenario yang paling mengkhawatirkan bagi ekonomi global.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melalui berbagai media kembali mengeluarkan peringatan keras.

Iran menegaskan bahwa apabila ekspor minyak dan gas negaranya benar-benar diblokade, maka Teheran akan memberikan balasan dengan mengganggu jalur distribusi energi milik negara-negara Teluk.

Beberapa target yang sering disebut antara lain:

  • jaringan pipa minyak Uni Emirat Arab,
  • serta East-West Pipeline milik Arab Saudi.

Sementara itu, Selat Hormuz sendiri saat ini telah berada dalam kondisi yang sangat tegang.

Apabila jalur pipa tersebut juga mengalami gangguan, banyak analis menilai dunia dapat menghadapi guncangan energi terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Dampaknya diperkirakan bahkan dapat melampaui:

  • Krisis Minyak 1973,
  • maupun Perang Teluk 1990–1991.

Pasar internasional mulai menunjukkan tanda-tanda kekhawatiran.

Harga minyak mentah Brent dilaporkan melonjak tajam dalam satu sesi perdagangan.

Di saat yang sama, pasar saham di beberapa negara Asia ikut mengalami tekanan, termasuk indeks saham Korea Selatan yang dilaporkan turun sekitar sembilan persen.

Apabila eskalasi terus meningkat, masyarakat dunia diperkirakan akan merasakan dampaknya melalui:

  • kenaikan harga bahan bakar,
  • meningkatnya tarif transportasi,
  • lonjakan biaya logistik,
  • serta kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.

Prediksi Ketiga: Serangan Udara Dinilai Tidak Cukup untuk Mengalahkan Iran

Sejumlah analis militer berpendapat bahwa kekuatan udara saja kemungkinan tidak cukup untuk memaksa Iran menyerah.

Iran memiliki populasi sekitar 90 juta jiwa dengan kekuatan militer yang terdiri atas jutaan personel aktif maupun cadangan.

Situasi tersebut memunculkan pertanyaan besar:

Apakah Amerika Serikat pada akhirnya akan mengirimkan pasukan darat?

Dalam salah satu pernyataannya, Donald Trump mengatakan:

“Kadang-kadang memang dibutuhkan pasukan darat. Namun, kami akan membiarkan pihak lain yang melakukannya.”

Pernyataan itu memunculkan berbagai spekulasi.

Sebagian analis menilai yang dimaksud dapat berupa:

  • negara-negara sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk,
  • ataupun kelompok oposisi di dalam Iran yang berpotensi mendapat dukungan dari luar.

Apabila skenario tersebut benar-benar terjadi, konflik dikhawatirkan berubah menjadi perang regional yang melibatkan lebih banyak negara.


Prediksi Keempat: Konflik Diperkirakan Berlangsung Bertahun-Tahun

Prediksi berikutnya menyebut perang ini kemungkinan tidak akan selesai dalam waktu singkat.

Sejumlah pengamat memperkirakan konflik dapat berlangsung selama bertahun-tahun apabila kedua pihak tetap mempertahankan strategi saling menyerang.

Donald Trump sendiri pernah membandingkan situasi tersebut dengan Perang Vietnam, yang berlangsung lama dan menguras sumber daya Amerika Serikat.

Namun terdapat faktor politik yang sangat penting.

Pemilu sela (midterm election) Amerika Serikat dijadwalkan berlangsung sekitar empat bulan lagi.

Apabila harga minyak terus melonjak akibat perang, masyarakat Amerika diperkirakan akan menghadapi kenaikan harga bensin dan biaya hidup.

Situasi tersebut dapat memengaruhi tingkat dukungan terhadap Partai Republik menjelang pemilu.

Di sisi lain, militer Amerika juga menghadapi tantangan operasional.

Menurut sejumlah laporan, Israel disebut tidak lagi mengizinkan penambahan pesawat tanker pengisian bahan bakar Amerika Serikat di kawasan Bandara Ben Gurion.

Alasannya, bandara tersebut merupakan fasilitas sipil yang berpotensi menjadi sasaran rudal maupun drone Iran apabila digunakan secara intensif untuk operasi militer.

Larry Johnson memperingatkan bahwa apabila Iran berhasil menghancurkan sekitar sepuluh pesawat tanker pengisian bahan bakar udara, kemampuan Amerika mempertahankan operasi pengeboman jarak jauh dapat menurun secara signifikan.

Tanpa dukungan armada tanker, pesawat tempur Amerika akan lebih sulit menjangkau sasaran di wilayah Iran secara terus-menerus.

Apabila Washington terpaksa menggunakan pangkalan yang lebih jauh, biaya operasi akan meningkat sementara efektivitas serangan berpotensi menurun.


Prediksi Kelima: Konflik Timur Tengah Menjadi Simulasi Krisis Selat Taiwan

Prediksi terakhir tidak lagi berfokus pada Timur Tengah, melainkan pada kawasan Indo-Pasifik.

Menurut berbagai analis keamanan, Beijing terus mencermati perkembangan perang AS–Iran sebagai bahan evaluasi terhadap kemungkinan krisis di Selat Taiwan.

Kedua kawasan memiliki kesamaan strategis.

  • Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak dunia.
  • Selat Taiwan merupakan salah satu jalur paling penting bagi perdagangan global dan rantai pasokan semikonduktor atau chip canggih.

Banyak pengamat menilai pengalaman perang di Timur Tengah dapat menjadi referensi mengenai bagaimana dunia bereaksi apabila jalur pelayaran strategis di Selat Taiwan suatu hari terganggu.

Apabila arus perdagangan semikonduktor terhambat, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan industri elektronik, tetapi juga sektor otomotif, telekomunikasi, kecerdasan buatan (AI), pertahanan, hingga manufaktur global.

Karena itu, sejumlah analis menilai perang AS–Iran kini bukan lagi sekadar konflik regional, melainkan bagian dari dinamika geopolitik yang dapat memengaruhi keseimbangan keamanan dan ekonomi dunia dalam jangka panjang.


Konflik Memasuki Fase yang Semakin Sulit Diprediksi

Eskalasi yang terjadi pada 15–16 Juli 2026 menunjukkan bahwa perang antara Amerika Serikat dan Iran telah memasuki tahap yang semakin kompleks. Serangan yang kini mulai menyentuh fasilitas pendukung kehidupan sipil, ancaman terhadap infrastruktur energi, serta kemungkinan meluasnya konflik ke kawasan lain menjadi faktor yang meningkatkan kekhawatiran masyarakat internasional.

Meskipun hingga kini kedua negara masih mengandalkan operasi udara, tekanan politik, ekonomi, dan militer yang terus meningkat membuat banyak analis menilai bahwa beberapa pekan ke depan akan menjadi periode yang sangat menentukan. Keputusan yang diambil oleh Washington maupun Teheran selama fase ini diperkirakan akan berpengaruh tidak hanya terhadap stabilitas Timur Tengah, tetapi juga terhadap keamanan energi, perdagangan global, dan keseimbangan geopolitik dunia. (***)

Detik-detik Perang Besar! Trump Siapkan Operasi Raksasa, Iran Ancam Lumpuhkan Jalur Minyak Dunia

EtIndonesia.com 16 Juli 2026 menjadi salah satu hari paling menegangkan dalam eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Setelah beberapa hari terakhir saling melancarkan serangan dan ancaman, militer Amerika Serikat kembali meningkatkan operasi militernya dengan meluncurkan gelombang serangan kedua terhadap sejumlah target strategis di wilayah Iran.

Di saat yang hampir bersamaan, sejumlah negara di kawasan Timur Tengah juga dilaporkan menghadapi ancaman serangan rudal dan pesawat nirawak (drone), sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang semakin memperkuat spekulasi bahwa Washington tengah mempersiapkan operasi militer yang jauh lebih besar terhadap Republik Islam Iran.

CENTCOM Luncurkan Gelombang Kedua Serangan ke Iran

Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command/CENTCOM) mengumumkan pada Rabu, 15 Juli 2026, bahwa militer Amerika Serikat telah melaksanakan gelombang kedua serangan udara terhadap Iran pada hari yang sama. Operasi tersebut dimulai sekitar pukul 15.00 waktu Pantai Timur Amerika Serikat (Eastern Daylight Time/EDT).

Menurut pernyataan resmi CENTCOM, sasaran utama operasi kali ini adalah menghancurkan kemampuan militer Iran yang selama ini dinilai digunakan untuk mengancam kapal-kapal dagang maupun kapal militer yang melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi salah satu jalur distribusi minyak serta gas alam paling penting di dunia.

Washington menilai bahwa kemampuan rudal, drone, serta sistem pertahanan pantai Iran di kawasan tersebut masih menjadi ancaman serius terhadap stabilitas perdagangan energi internasional.

Sejumlah Kota di Iran Dilaporkan Diguncang Ledakan

Tidak lama setelah operasi militer Amerika dimulai, sejumlah media Iran melaporkan terjadinya ledakan di berbagai wilayah.

Beberapa lokasi yang dilaporkan menjadi sasaran serangan antara lain:

  • Kota Ahvaz, ibu kota Provinsi Khuzestan di barat daya Iran;
  • Chabahar, kota pelabuhan strategis di tenggara Iran yang menghadap Laut Arab;
  • kawasan di sekitar Rask;
  • serta wilayah Konarak, yang berada tidak jauh dari Chabahar.

Meski berbagai laporan mengenai ledakan bermunculan, hingga saat itu pemerintah Iran belum memberikan rincian resmi mengenai jumlah korban maupun tingkat kerusakan yang ditimbulkan akibat serangan tersebut.

Pangkalan Militer Amerika di Erbil Diserang Sebelum Operasi Dimulai

Menjelang dimulainya gelombang serangan Amerika terhadap Iran, situasi keamanan di Irak juga sempat memanas.

Bandara Internasional Erbil, yang berada di wilayah Kurdistan Irak, dilaporkan menjadi sasaran serangan langsung.

Bandara tersebut memiliki salah satu pangkalan udara utama milik militer Amerika Serikat yang selama ini berfungsi sebagai pusat logistik, operasi udara, serta distribusi pasukan AS di Irak.

Pangkalan tersebut juga telah berulang kali menjadi target kelompok-kelompok milisi yang didukung Iran dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut laporan media Irak, ledakan terdengar di sekitar kawasan Konsulat Amerika Serikat di Erbil, sementara sistem pertahanan udara berhasil merespons ancaman yang datang dari udara.

Tiga Drone Berhasil Ditembak Jatuh

Laporan awal menyebutkan bahwa sedikitnya tiga pesawat nirawak (drone) berhasil dihancurkan sebelum mencapai target.

Video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan beberapa drone bunuh diri Shahed-136 terbang menuju wilayah Erbil.

Menurut berbagai laporan, sebagian drone tersebut berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara militer Amerika Serikat sehingga tidak sempat menghantam fasilitas militer maupun infrastruktur penting di kawasan tersebut.

Hingga berita ini disusun, belum terdapat laporan resmi mengenai korban jiwa akibat insiden tersebut.

Kuwait Klaim Berhasil Mencegat Rudal dan Drone Iran

Ketegangan juga meluas ke wilayah Teluk Persia.

Pemerintah Kuwait mengumumkan bahwa angkatan bersenjatanya berhasil menggagalkan serangan yang diduga berasal dari Iran pada Rabu, 15 Juli 2026.

Menurut Kementerian Pertahanan Kuwait, sistem pertahanan udara negara tersebut berhasil mencegat:

  • 4 rudal jelajah (cruise missile);
  • 21 pesawat nirawak (drone).

Serangan tersebut disebut menargetkan sejumlah fasilitas strategis di Kuwait.

Walaupun beberapa bangunan dan aset mengalami kerusakan, pemerintah Kuwait menegaskan bahwa tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam insiden tersebut.

Pihak militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udara negara itu tetap berada dalam kondisi siaga penuh untuk mengantisipasi kemungkinan serangan lanjutan.

Trump Keluarkan Peringatan Keras kepada Iran

Di tengah meningkatnya ketegangan militer, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan pernyataan bernada keras.

Saat meninggalkan konferensi pers pada Rabu sore, 15 Juli 2026, Trump ditanya wartawan mengenai kemungkinan pemerintahannya menetapkan batas waktu sebelum melancarkan operasi militer yang lebih besar terhadap Iran.

Trump menjawab singkat:

“Saya tidak suka menetapkan tenggat waktu. Mereka pada dasarnya sudah tahu bagaimana semua ini akan berakhir. Sebaiknya mereka bersikap baik.”

Pernyataan tersebut segera memicu berbagai spekulasi bahwa Gedung Putih sedang mempertimbangkan eskalasi militer yang lebih luas apabila Iran tidak mengubah sikapnya.

Gedung Putih Gelar Rapat Darurat di Situation Room

Menurut laporan Axios, yang mengutip tiga sumber yang mengetahui pembahasan internal Gedung Putih, Presiden Trump sehari sebelumnya, Selasa, 14 Juli 2026, menggelar rapat darurat di Situation Room atau Ruang Situasi Gedung Putih.

Pertemuan tersebut disebut secara khusus membahas berbagai opsi untuk memperluas operasi militer terhadap Iran.

Dalam rapat itu, para pejabat keamanan nasional dilaporkan mengevaluasi perkembangan terbaru di lapangan, potensi respons Iran, serta langkah-langkah yang dapat diambil apabila konflik terus meningkat.

Trump Pertimbangkan Operasi Militer yang Lebih Besar

Sementara itu, The Wall Street Journal melaporkan bahwa Presiden Trump cenderung mendukung peningkatan tekanan militer terhadap Iran.

Beberapa opsi yang dikabarkan sedang dipertimbangkan meliputi:

  • meningkatkan intensitas serangan udara terhadap target-target militer Iran;
  • mengirim pasukan darat untuk merebut Pulau Khark, pusat ekspor minyak utama Iran di Teluk Persia;
  • menyerang fasilitas-fasilitas yang berkaitan dengan program nuklir Iran;
  • menghancurkan Picaxe Mountain Tunnel Complex, kompleks terowongan bawah tanah yang diyakini memiliki nilai strategis bagi program nuklir Iran;
  • memperluas serangan terhadap berbagai fasilitas energi dan infrastruktur strategis Iran.

Meski demikian, hingga saat ini Gedung Putih menyatakan Presiden Trump belum mengambil keputusan akhir mengenai langkah militer berikutnya.

Trump Singgung Kemungkinan Menghancurkan IRGC

Dalam kesempatan terpisah, Trump juga ditanya mengenai kemungkinan menghancurkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) sebagaimana Amerika Serikat pernah melumpuhkan kelompok ISIS.

Trump menjawab singkat: “Benar. Kita lihat saja nanti.”

Ia kemudian menambahkan: “Sebelum mereka datang ke sini, kami menerima telepon dari mereka. Kita akan segera tahu apakah ini akan berakhir dengan perdamaian atau dengan penyelesaian secara total.”

Pernyataan tersebut kembali memperlihatkan keyakinan Trump bahwa tekanan militer dan diplomatik terhadap Iran akan terus ditingkatkan dalam waktu dekat.

Gedung Putih: Amerika Mampu Menyerang Iran Kapan Saja

Juru Bicara Gedung Putih Anna Kelly juga memberikan pernyataan tegas mengenai kesiapan militer Amerika Serikat.

Menurut Kelly: “Kami mampu menyerang lokasi mana pun di Iran kapan saja.”

Di sisi lain, Wakil Presiden JD Vance menegaskan bahwa pemerintah Amerika Serikat masih berupaya membuka jalur diplomasi.

Ia mengatakan: “Kami sedang memainkan permainan diplomatik yang sangat rumit. Tetapi apabila mereka menggunakan kekerasan, maka kami juga akan memberikan balasan.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Washington masih membuka ruang penyelesaian diplomatik, namun tetap menyiapkan respons militer apabila diperlukan.

Anggaran Militer dan Sanksi Baru Terhadap Iran

Selain meningkatkan tekanan militer, Amerika Serikat juga memperketat tekanan ekonomi terhadap Teheran.

Berdasarkan informasi yang beredar di kalangan pasar keuangan, Rancangan Undang-Undang Anggaran Amerika Serikat diperkirakan akan mempercepat pencairan sekitar 73 miliar dolar AS untuk mendukung berbagai kebutuhan operasi militer yang berkaitan dengan konflik Iran.

Pada saat yang sama, Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan paket sanksi baru yang menyasar industri minyak Iran.

Washington menyatakan akan meningkatkan tekanan terhadap jaringan bisnis minyak yang dikaitkan dengan tokoh berpengaruh Iran, Ali Shamkhani.

Langkah tersebut mencakup pembekuan aset senilai sekitar 130 juta dolar AS yang dikaitkan dengan Bank Sentral Iran dan disimpan dalam berbagai dompet aset digital.

Selain itu, paket sanksi terbaru juga menargetkan jaringan internasional yang dituduh membantu Iran memperoleh persenjataan maupun keuntungan ekonomi.

Target sanksi tersebut meliputi:

  • lebih dari 50 individu;
  • berbagai perusahaan;
  • organisasi;
  • serta kapal-kapal yang diduga terlibat dalam jaringan perdagangan minyak Iran.

Pemerintah Amerika menyatakan bahwa jaringan tersebut dinilai telah membantu pemerintah Iran memperoleh pendapatan dalam jumlah besar meskipun negara tersebut masih berada di bawah berbagai sanksi internasional.

Iran Ancam Menutup Jalur Ekspor Energi Timur Tengah

Sebagai respons atas meningkatnya tekanan militer dan ekonomi dari Amerika Serikat, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kembali mengeluarkan ancaman keras.

IRGC menyatakan bahwa apabila Iran tidak lagi dapat mengekspor energi, maka negara-negara lain di kawasan juga tidak akan dapat melakukannya.

Dalam pernyataannya, IRGC menegaskan:

“Kalau semua orang bisa mengekspor energi, maka kami juga bisa. Tetapi kalau kami tidak bisa mengekspor, maka tidak seorang pun boleh mengekspor.”

Pernyataan tersebut dipandang sebagai ancaman terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang setiap harinya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Iran Tegaskan Belum Bersedia Berunding

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyampaikan bahwa pemerintah Iran saat ini belum memiliki rencana untuk kembali ke meja perundingan.

Dalam keterangannya pada Rabu, 15 Juli 2026, Baghaei mengatakan: “Saat ini Iran tidak memiliki rencana untuk melakukan perundingan. Fokus utama kami adalah mempertahankan diri.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa hingga saat ini peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi masih sangat terbatas. Dengan kedua belah pihak sama-sama meningkatkan tekanan militer, ekonomi, dan politik, kawasan Timur Tengah kembali menghadapi risiko eskalasi yang dapat memengaruhi stabilitas keamanan regional maupun pasar energi global dalam waktu dekat.  (***)

Gelombang Pembersihan Makin Intensif : Anggota Politbiro Partai Komunis Tiongkok Ma Xingrui Didepak di Tengah Gelombang Penyingkiran Pejabat

Mantan Sekretaris Partai Xinjiang menjadi anggota Politbiro ketiga yang tersingkir dari lingkaran puncak kekuasaan Tiongkok

EtIndonesia.com Partai Komunis Tiongkok (PKT) memecat mantan anggota Politbiro Ma Xingrui atas tuduhan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang melibatkan keluarganya, di tengah gejolak yang semakin terlihat di jajaran elite tertinggi partai.

Ma, 66 tahun, dicabut keanggotaannya dari PKT dan diberhentikan dari seluruh jabatan publik setelah penyelidikan internal, demikian diumumkan otoritas Tiongkok pada Selasa.

Pernah dianggap sebagai salah satu bintang yang sedang naik daun dalam politik Tiongkok, Ma kini menjadi korban terbaru dari kampanye “antikorupsi” yang dipimpin oleh pemimpin PKT Xi Jinping.

Kampanye berskala luas tersebut, yang juga digunakan untuk menyingkirkan para rival politik Xi, kembali menunjukkan intensitasnya dalam beberapa tahun terakhir. Puluhan pejabat militer senior telah dijatuhkan, termasuk dua jenderal papan atas yang juga merupakan anggota Politbiro.

Pencopotan Ma menciptakan kursi kosong ketiga di Politbiro, badan pengambil keputusan tertinggi PKT. Situasi seperti ini hampir tidak pernah terjadi di Tiongkok selama beberapa dekade terakhir.

Pada April lalu, otoritas mengungkapkan bahwa Ma—yang telah lama menghilang dari berbagai kegiatan publik—sedang diselidiki oleh Komisi Pusat untuk Inspeksi Disiplin (CCDI), lembaga antikorupsi utama PKT.

Dalam pernyataannya pada 14 Juli, CCDI menyebut Ma telah “melanggar disiplin dan aturan politik secara serius” dengan membiarkan bawahannya melakukan pelanggaran dan tindak pidana, serta membantu anggota keluarganya membeli properti dengan harga di bawah nilai pasar.

Lembaga tersebut juga menuduh Ma menyalahgunakan jabatan dan uang untuk memperoleh layanan seksual, serta membiarkan kerabatnya memanfaatkan pengaruh politiknya guna meraup keuntungan finansial dalam jumlah besar. Menurut CCDI, praktik korupsi yang melibatkan seluruh keluarganya telah berkembang secara “merajalela.”

Namun, otoritas tidak mengungkapkan nilai uang yang terkait dalam kasus tersebut.

CCDI menyatakan Ma akan diproses secara hukum.

Lembaga itu juga mengungkapkan bahwa Politbiro telah meninjau dan menyetujui laporan hasil penyelidikan terhadap Ma dalam rapat pada 30 Juni. Namun, Beijing tidak menjelaskan mengapa rincian tuduhan baru diungkap sekarang.

Dari Insinyur Dirgantara Menjadi Tokoh Politik

Ma merupakan seorang insinyur dirgantara yang menghabiskan lebih dari satu dekade berkarier di industri pertahanan Tiongkok.

Pada 2007–2013, ia memimpin China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC), konglomerat milik negara yang menjadi salah satu pemasok utama bagi militer Tiongkok.

Pada akhir Juni, Ma juga dicopot dari kursinya di Kongres Rakyat Nasional, lembaga legislatif Tiongkok yang selama ini dikenal sebagai badan yang hampir selalu menyetujui keputusan partai.

Enam pejabat militer senior lainnya yang berpangkat jenderal atau letnan jenderal juga dikeluarkan dari lembaga tersebut tanpa penjelasan resmi.

Pembersihan Besar-Besaran di Tubuh Militer

Militer Tiongkok saat ini tengah mengalami gelombang pembersihan internal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas upaya Xi Jinping selama lebih dari satu dekade untuk memodernisasi Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

Pada Januari lalu, otoritas mengumumkan penyelidikan terhadap Zhang Youxia, jenderal paling senior di Tiongkok. Hingga kini, pemerintah tidak memberikan penjelasan rinci selain tuduhan umum berupa “pelanggaran disiplin dan hukum yang serius.”

Zhang juga merupakan anggota Politbiro. Dengan tersingkirnya Ma, jumlah anggota Politbiro secara efektif menyusut dari 24 orang pada 2022 menjadi hanya 21 orang.

Sebelumnya, anggota Politbiro pertama yang disingkirkan adalah He Weidong, yang pernah menjabat sebagai jenderal nomor dua di Tiongkok. Ia dipecat dari PKT dan militer pada Oktober 2025.

Xinjiang Jadi Sorotan

Ma mengundurkan diri dari jabatan Sekretaris Partai PKT di wilayah Xinjiang pada Juli 2025.

Sejak itu, sejumlah pejabat tinggi PKT di Xinjiang turut terseret kasus dan kehilangan jabatan, termasuk Zhu Changjie, yang lama bertugas dalam aparat keamanan wilayah tersebut.

Sejumlah analis yang sebelumnya diwawancarai The Epoch Times menilai Xi Jinping kemungkinan menggunakan kampanye antikorupsi sebagai alat untuk semakin memperkuat kendalinya atas partai, sekaligus menghindari pertanggungjawaban atas kebijakan penindasan terhadap Muslim Uyghur di Xinjiang.

Artikel ini sebelumnya terbit di Theepochtimes.com

Drone Ukraina Menyerang 116 Kapal Rusia dalam 9 Hari, Pelayaran di Laut Azov Terganggu

EtIndonesia.com Militer Ukraina kembali meningkatkan serangannya terhadap kapal-kapal Rusia. Dalam beberapa hari terakhir, drone Ukraina terus melancarkan serangan yang menurut laporan telah menghantam lebih dari seratus kapal Rusia di Laut Azov.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa Rusia kemudian menutup jalur pelayaran utama yang digunakan untuk ekspor biji-bijian, sehingga dikhawatirkan akan berdampak pada ekspor gandum Rusia.

Komandan pasukan drone Ukraina, Robert Yosypovych Brovdi  mengatakan bahwa dalam beberapa waktu terakhir militer Ukraina terus menggunakan drone untuk menyerang kapal-kapal Rusia di Laut Azov. Menurutnya, sebanyak 116 kapal telah diserang dalam kurun waktu sembilan hari.

Dalam serangan malam terbaru, 11 kapal kembali menjadi sasaran, terdiri atas:

  • 5 kapal tanker minyak
  • 5 kapal kargo
  • 1 kapal tunda

Menurut laporan tersebut, tujuan utama serangan Ukraina adalah melemahkan kemampuan logistik dan pasokan militer Rusia.

Karena Laut Azov menangani sekitar seperempat ekspor biji-bijian Rusia, gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut dikhawatirkan akan semakin mempengaruhi ekspor Rusia serta pasokan pangan global.

Laporan disusun oleh Zheng Shengxun, New Tang Dynasty Television (NTD)

Warga Guangxi, Tiongkok Ungkap Parahnya Banjir, Banyak Orang Dilaporkan Hilang dan Korban Jiwa Diduga Jauh Lebih Besar 

Sejak 4 Juli, Daerah Otonom Guangxi di Tiongkok dilanda hujan lebat yang berkepanjangan. Menurut laporan, beberapa bendungan mengalami keruntuhan sehingga memicu banjir besar yang mengakibatkan banyak korban. Hingga laporan ini diterbitkan, pemerintah setempat belum memperbarui data korban sejak 9 Juli. Sejumlah warga yang diwawancarai The Epoch Times menyatakan bahwa jumlah korban meninggal diduga jauh lebih besar daripada angka resmi. Pernyataan tersebut merupakan klaim dari warga dan belum dapat diverifikasi secara independen.

EtIndonesia.com Pada 6 Juli, Bendungan Liulan di Kota Hengzhou, dekat Nanning, dilaporkan jebol sehingga menimbulkan lubang besar pada tanggul. Air bah mengalir dari Desa Liulan mengikuti daerah yang lebih rendah menuju Kota Yunbiao dan sejumlah desa lainnya. Banjir bahkan dilaporkan menjangkau Guigang, yang berjarak puluhan kilometer, hingga wilayah perbatasan Guangdong.

Pada saat yang sama, beberapa bendungan dan sungai di sekitar Hengzhou juga dilaporkan meluap atau mengalami kerusakan, sehingga memperparah banjir di berbagai wilayah.

Hingga 9 Juli, pemerintah Guangxi melaporkan 39 orang meninggal dunia dan 9 orang hilang, termasuk 26 korban meninggal dan 7 orang hilang akibat jebolnya Bendungan Liulan. Setelah itu, belum ada pembaruan resmi mengenai jumlah korban.

Seorang warga menggambarkan kondisi di lokasi: “Semuanya hancur berantakan. Pemandangan seperti ini benar-benar sulit dipercaya.”

Warga lainnya mengatakan: “Dalam sekejap semuanya hilang. Air naik dua meter hanya dalam satu jam. Daerah kami masih relatif lebih tinggi. Kalau tempat kami saja terendam, daerah lain jauh lebih parah. Kami masih termasuk beruntung. Di desa atas, tempat keluarga ibu saya tinggal, keadaannya jauh lebih buruk. Banyak keluarga tercerai-berai karena anggota keluarganya hilang dan tidak ditemukan.”

Seorang warga Desa Longzi, Kota Yunbiao, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa di desanya terdapat dua korban meninggal, sementara di desa tetangga satu kelompok permukiman dilaporkan kehilangan lebih dari sepuluh orang yang terseret banjir. Ia memperkirakan jumlah korban meninggal secara keseluruhan telah mencapai empat digit, meskipun angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Seorang warga Desa Guantang mengatakan bahwa masih banyak orang yang hilang. Mereka yang tinggal dekat bendungan tidak sempat menyelamatkan diri, dan sebagian diduga masih tertimbun lumpur.

Seorang warga lainnya berkata: “Kampung halaman saya sudah hilang seperti ini. Jalan tidak bisa dilalui. Rumah penuh lumpur sehingga tidak bisa dimasuki. Sekarang banjir kembali datang dengan deras sehingga upaya penyelamatan hampir tidak mungkin dilakukan.”

Seorang korban banjir dari Xiang Zhenlong, yang berbatasan dengan Kota Yunbiao, mengatakan kepada wartawan bahwa dari delapan desa di wilayah tersebut, satu desa disebut telah hancur seluruhnya. Ia mengklaim sedikitnya 500 orang meninggal dunia di desa itu. Klaim tersebut juga belum dapat diverifikasi secara independen.

Seorang relawan mengatakan bahwa di desa-desa yang berada di bawah bendungan di Xiang Zhenlong, alat berat yang digunakan untuk menggali puing-puing disebut menemukan jenazah.

Selain itu, beredar di internet foto sebuah dokumen bertanggal 12 Juli yang disebut sebagai “Daftar Penugasan Distribusi Bantuan Bencana Hengzhou”. Dalam foto tersebut terlihat tulisan “200 kantong jenazah” yang kemudian dicoret dan diganti menjadi “250 kantong jenazah”, sehingga memicu perhatian luas di media sosial. Keaslian dokumen tersebut belum dapat dipastikan secara independen.

The Epoch Times menyatakan bahwa mereka belum dapat memverifikasi secara independen data korban yang beredar di masyarakat mengenai banjir Guangxi.

Protes Warga di Hebei

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa pada malam 12 Juli, warga di Desa Sanhe, Provinsi Hebei, berkumpul di dekat tanggul untuk memprotes wilayah mereka yang dijadikan daerah pelepasan banjir. Aksi tersebut sempat diwarnai ketegangan dengan petugas pemerintah di lokasi.

Seorang warga terdengar dalam rekaman video berkata: “Semua warga Hougezhuang, ayo ke sini! Angkat mobil itu!”

Menurut laporan, dalam beberapa tahun terakhir sejumlah desa di Hebei berulang kali dijadikan kawasan penampungan atau pelepasan banjir guna melindungi wilayah perkotaan Beijing. Namun, banyak warga mengaku menerima kompensasi yang sangat kecil, bahkan ada yang mengatakan tidak menerima kompensasi sama sekali setelah rumah dan lahan mereka terdampak banjir. Akibatnya, mereka merasa putus asa.

Laporan disusun oleh Guo Yuexi, New Tang Dynasty Television (NTD).

Setelah Kebakaran Besar Pabrik di “Kota Sepatu” Jinjiang Fujian, Tiongkok, Para Pekerja Dilaporkan Diminta Bekerja Sambil Membawa APAR 

EtIndonesia.com Setelah kebakaran besar yang terjadi beberapa waktu lalu di sebuah pabrik sepatu di Jinjiang, Provinsi Fujian, yang menurut laporan menyebabkan sedikitnya 28 orang meninggal dunia, sejumlah video yang beredar di internet menunjukkan bahwa beberapa pabrik di daerah tersebut diduga mewajibkan para pekerja membawa alat pemadam api (APAR) di punggung mereka saat bekerja.

Menurut laporan itu, banyak warganet mempertanyakan kebijakan itu karena dinilai tidak menyelesaikan persoalan keselamatan kerja, bahkan justru menambah beban para pekerja.

Video yang beredar memperlihatkan para pekerja di beberapa pabrik sepatu dan pabrik garmen di Fujian mengikat alat pemadam api di punggung mereka sambil tetap mengoperasikan mesin produksi.

Beberapa alat pemadam tersebut berukuran cukup besar, sehingga para pekerja tampak kesulitan saat berjalan maupun membungkuk selama bekerja.

Setelah rekaman itu menyebar luas, banyak warganet memberikan komentar bernada sindiran. Sebagian menilai kebijakan tersebut hanya merupakan bentuk formalisme, yang tidak benar-benar meningkatkan keselamatan kebakaran, tetapi justru menambah beban kerja para buruh.

Seorang warganet berkomentar: “Ini benar-benar konyol. Yang penting para pimpinan senang.”

Warganet lainnya mempertanyakan: “Keselamatan memang yang utama, tetapi apakah harus sampai seperti ini? Kalau benar-benar terjadi kebakaran, yang lebih penting itu menyelamatkan nyawa pekerja atau menyelamatkan pabrik milik bos?”

Jinjiang dijuluki sebagai “Kota Sepatu Tiongkok” karena memiliki sangat banyak pabrik sepatu.

Media Tiongkok sebelumnya pernah melaporkan bahwa satu dari setiap lima pasang sepatu olahraga di dunia diproduksi di Chendai, Jinjiang.

Menurut platform informasi perusahaan Qichacha, pelanggan pabrik yang terbakar tersebut mencakup sejumlah merek internasional, antara lain: Slazenger (Inggris); HI-TEC (Inggris) dan BEPPI (Portugal).

Produk-produknya terutama diekspor ke:Prancis;Inggris;Jerman;Amerika Serikat; Australia dan Jepang. 

Laporan disusun oleh Liu Jiajia, New Tang Dynasty Television (NTD).

Banjir di Guangxi, Tiongkok Baru Saja Surut, Hujan Lebat Kembali Merendam Wilayah; Warga Khawatir Merebaknya Wabah Penyakit Pasca Banjir 

Pada 15 Juli, banjir di Kota Guigang, Daerah Otonom Guangxi, Tiongkok baru saja mulai surut ketika hujan lebat kembali mengguyur wilayah tersebut dan menyebabkan banjir lagi. Sementara itu, di beberapa daerah yang terdampak paling parah, air banjir masih belum surut. Banyak bangkai hewan masih terendam di dalam air, sehingga warga mengkhawatirkan kemungkinan munculnya wabah penyakit setelah bencana banjir.

EtIndonesia.com Biro Meteorologi Kota Guigang pada 15 Juli mengeluarkan peringatan hujan lebat tingkat III. Dalam 12 jam sebelumnya, 39 kecamatan di Guigang mencatat curah hujan lebih dari 50 mm, sementara 26 kecamatan mencatat curah hujan antara 100 hingga 250 mm. Diperkirakan dalam 24 jam berikutnya, sebagian besar wilayah Guigang masih akan mengalami hujan lebat hingga sangat lebat, disertai angin kencang akibat badai petir dan cuaca konvektif yang kuat.

Sejumlah warga setempat mengunggah video yang menunjukkan bahwa pada 14–15 Juli, Guigang kembali diguyur hujan deras. Banjir yang baru saja surut kembali merendam kota.

Seorang warga mengeluhkan situasi tersebut dengan mengatakan: “Mengapa rasanya begitu sulit?”

Rekaman video memperlihatkan beberapa jalan di Guigang kembali berubah menjadi lautan air. Air yang keruh dipenuhi sampah dan berbagai benda yang hanyut. Buldoser yang sebelumnya digunakan untuk membersihkan lumpur masih terparkir di pinggir jalan dan belum sempat ditarik dari lokasi.

Wilayah Hengzhou disebut sebagai daerah yang mengalami dampak paling parah. Di beberapa kecamatan, banjir telah berlangsung selama sekitar 10 hari dan air masih belum surut. Bangkai berbagai hewan serta sampah terlihat mengapung di permukaan air. Banyak bangkai babi yang telah membusuk di bawah terik matahari, menimbulkan bau menyengat.

Video lain menunjukkan sebuah peternakan babi yang seluruh ternaknya mati akibat banjir. Bangkai-bangkai babi menumpuk di dalam kandang dan telah membusuk. Pemilik peternakan dikabarkan menawarkan upah 2.000 yuan per hari untuk membersihkan bangkai-bangkai tersebut, namun tetap kesulitan mendapatkan pekerja.

Banyak video lain juga memperlihatkan bahwa di daerah yang terdampak paling parah, hampir setiap rumah terendam banjir, bahkan banyak bangunan yang roboh. Proses pembersihan lumpur berlangsung sangat sulit. Meskipun banjir telah surut selama sekitar 10 hari di beberapa lokasi, jalan-jalan masih dipenuhi lumpur dan puing-puing. Banyak warga kehilangan hampir seluruh harta benda mereka dan hanya dapat menangis melihat rumah mereka yang telah berubah menjadi puing-puing.

Bencana banjir di Guangxi telah menarik perhatian banyak orang. Melihat kondisi di daerah terdampak, sebagian masyarakat menyatakan kekhawatiran bahwa setelah banjir besar ini, terdapat risiko munculnya wabah penyakit apabila bangkai hewan, limbah, dan genangan air tidak segera ditangani.

Disusun oleh Luo Tingting Editor penanggung jawab: Wen Hui – NTDTV.com

Grand Mercure Malang Mirama Raih Sertifikasi Green Key: Bukti Nyata Komitmen Ramah Lingkungan dan Pariwisata Berkelanjutan

MALANG, 14 Juli 2026 – Di tengah meningkatnya kesadaran global akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, Grand Mercure Malang Mirama resmi mengumumkan pencapaian bergengsi: meraih sertifikasi internasional Green Key. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas komitmen mendalam hotel dalam menerapkan praktik operasional berkelanjutan di industri perhotelan.

Green Key merupakan standar keunggulan global terkemuka di bidang tanggung jawab lingkungan dan operasional berkelanjutan dalam industri pariwisata. Untuk mendapatkan sertifikasi ini, Grand Mercure Malang Mirama telah berhasil memenuhi serangkaian kriteria ketat yang mencakup manajemen lingkungan, efisiensi energi, pengelolaan limbah, konservasi air, hingga keterlibatan aktif dalam program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Sugito Adhi, Cluster General Manager Grand Mercure Malang Mirama & Mercure Surabaya Grand Mirama, menegaskan bahwa capaian ini bukan sekadar penghargaan, melainkan wujud nyata dedikasi seluruh tim dalam melestarikan lingkungan.

“Meraih sertifikasi Green Key bukan sekadar sebuah penghargaan bagi kami, melainkan wujud nyata dari dedikasi seluruh tim untuk melestarikan lingkungan. Kami percaya bahwa kemewahan pelayanan perhotelan harus berjalan selaras dengan tanggung jawab kita terhadap bumi dan komunitas lokal,” ujar Sugito.

Langkah Hijau yang Diterapkan

Beberapa langkah strategis yang telah diimplementasikan Grand Mercure Malang Mirama hingga berhasil memenuhi standar Green Key antara lain:

  • Efisiensi energi dan air melalui sistem manajemen yang terintegrasi
  • Pengurangan sampah plastik dengan mengganti kemasan sekali pakai
  • Manajemen limbah yang bertanggung jawab, termasuk daur ulang dan pengolahan limbah organik
  • Eco-purchasing atau pengadaan barang ramah lingkungan
  • Edukasi dan keterlibatan tamu serta karyawan dalam program keberlanjutan

Dampak bagi Pariwisata Berkelanjutan

Dengan sertifikasi ini, Grand Mercure Malang Mirama siap menyambut para pelaku perjalanan (travelers) yang kini semakin selektif dalam memilih akomodasi yang mendukung kelestarian alam. Langkah ini juga diharapkan dapat menginspirasi pelaku industri pariwisata lainnya untuk bersama-sama membangun masa depan pariwisata yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Tentang Green Key

Dikoordinasikan oleh Foundation for Environmental Education (FEE) , Green Key adalah program eko-sertifikasi sukarela global. Dengan lebih dari 9.000 hotel dan akomodasi tersertifikasi di lebih dari 90 negara, Green Key merupakan standar keunggulan terkemuka di bidang tanggung jawab lingkungan dan operasional berkelanjutan dalam industri pariwisata dan perhotelan.

Hujan Lebat di Liaoning, Tiongkok Pelepasan Air dari Sejumlah Bendungan Memicu Banjir Besar

Hujan deras yang melanda Provinsi Liaoning, Tiongkok  selama beberapa hari terakhir menyebabkan sejumlah bendungan besar maupun kecil secara bersamaan melepaskan air. Menurut laporan ini, kondisi tersebut memicu banjir besar di wilayah seperti Shenyang dan Fushun. Banyak pertokoan di kawasan perkotaan terendam, puluhan ribu kendaraan tergenang air, sementara lahan pertanian dan rumah-rumah di pedesaan juga mengalami banjir. Para petani berupaya menyelamatkan hasil panen mereka, namun menghadapi banyak kesulitan.

EtIndonesia.com Akibat pengaruh Topan Bavi, berbagai wilayah di Provinsi Liaoning diguyur hujan sangat lebat yang dalam laporan disebut sebagai hujan dengan intensitas “sekali dalam seratus tahun”. Sejumlah bendungan, termasuk Bendungan Dahuofang, Bendungan Guanyinge, dan Bendungan Baishi, secara bersamaan melepaskan air sehingga menyebabkan banjir besar. Kota-kota seperti Shenyang dan Fushun mengalami banjir perkotaan yang mengakibatkan penghentian sementara kegiatan sekolah, pekerjaan, dan transportasi umum.

Pada 13 hingga 14 Juli, genangan air meluas di kawasan perkotaan Shenyang dan Fushun. Banyak toko dan kendaraan terendam banjir. 

Seorang pemilik bengkel mobil di Shenyang mengatakan bahwa perusahaan asuransi, jasa derek, dan bengkel kewalahan menangani banyaknya kendaraan yang rusak. Namun, pemadaman listrik dan gangguan pasokan air membuat proses perbaikan kendaraan tidak dapat dilakukan.

Wang, pemilik bengkel di Shenyang, mengatakan: “Airnya sangat besar dan sangat dalam. Saya memiliki bengkel di Shenyang. Hari ini para pekerja saya yang mengoperasikan mobil derek benar-benar kewalahan. Mobil-mobil sudah ditarik ke bengkel, tetapi tidak bisa diperbaiki. Saya perkirakan di Shenyang saja ada sekitar 40.000 hingga 50.000 kendaraan yang terendam banjir, sedangkan di Fushun sekitar 20.000 kendaraan.”

Li, warga Fushun, mengatakan: “Hujan masih terus turun. Seluruh kawasan Wanghua tergenang air. Di tempat yang paling dalam, air mencapai pinggang orang dewasa. Kami sekarang tidak bisa pergi bekerja karena jalan-jalan ditutup. Lantai satu rumah semuanya kebanjiran, air sudah setinggi lutut.”

Menurut data resmi yang dikutip dalam laporan tersebut, Provinsi Liaoning memiliki sekitar 932 bendungan berbagai ukuran, termasuk 37 bendungan besar dan lebih dari 70 bendungan menengah. Karena banyak bendungan melepaskan air selama beberapa hari berturut-turut, sebanyak 14 sungai, termasuk Sungai Hun, Sungai Qing, dan Sungai Pu, dilaporkan mengalami debit air yang melampaui tingkat siaga banjir.

Seorang warga desa di Kota Tieling mengatakan bahwa kondisi di pedesaan sangat parah. Air mencapai pinggang orang dewasa sehingga banyak warga terpaksa mengungsi.

Zhang, warga Tieling, mengatakan: “Air terus dilepaskan dari bendungan. Rumah-rumah sudah kebanjiran dan penduduk telah dievakuasi. Barang-barang mereka dibawa menggunakan mobil. Di daerah Sujiatun dan Yingpan, banjir sangat besar. Air masuk ke rumah-rumah bahkan ada tembok yang roboh. Air sungai meluap ke lahan pertanian. Jagung terendam dan roboh. Rumah-rumah kaca pertanian juga kemasukan air. Sayuran pasti akan menjadi mahal karena banyak yang rusak. Di rumah kakak saya, lebih dari 1.000 ekor angsa hanyut terbawa banjir.”

Seiring terus naiknya permukaan air di wilayah hilir, para petani dan peternak berusaha menyelamatkan hasil panen serta ternak mereka. Menurut laporan tersebut, harga semangka turun hingga hanya sekitar 0,1–0,2 yuan per jin (sekitar 0,5 kilogram), namun tetap sulit terjual. Proses evakuasi ternak juga sangat sulit sehingga diperkirakan kerugian yang dialami cukup besar.

Liu, seorang petani di Linghai, mengatakan: “Seluruh lahan penuh dengan semangka. Seharusnya panen dilakukan dalam beberapa hari ini, tetapi semuanya sudah terendam banjir. Sejauh mata memandang hanya lautan air. Tidak ada cara untuk menyelamatkannya. Saya memiliki lahan sekitar 30 mu (sekitar 2 hektare). Kerugiannya tentu tidak sedikit. Tidak ada tempat untuk memompa air, kami hanya bisa menggali lubang agar air lebih cepat surut.”

Wang, warga Anshan, mengatakan: “Permukaan Sungai Liao terus naik. Kalau sampai hanyut, semuanya akan terlambat. Saya memiliki 800 ekor domba. Kami mengangkutnya sampai pukul tiga dini hari. Setelah domba selesai dipindahkan, kami memindahkan sapi. Sapi jauh lebih sulit ditangani karena tidak ada yang mau menurut. Kami hanya bisa menyelamatkan sebanyak yang kami mampu.”

Laporan oleh Xiong Bin dan Huang Yuning, New Tang Dynasty Television (NTD)

Kasus COVID-19 di Tiongkok Meningkat Tajam, Provinsi Guangdong Melaporkan Lebih dari 100 Kematian akibat Penyakit Menular dalam Sebulan

Kasus terkonfirmasi COVID-19 di Tiongkok terus meningkat. Menurut data terbaru, Provinsi Guangdong melaporkan 129 kematian akibat penyakit menular selama Juni 2026. Di antara penyakit menular yang wajib dilaporkan, COVID-19 mencatat jumlah kasus terbanyak untuk penyakit Kategori B, sedangkan influenza menjadi penyakit Kategori C dengan jumlah kasus tertinggi.

EtIndonesia.com Pada 8 Juli, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok (CDC) merilis data yang menunjukkan bahwa selama Juni 2026 terdapat 79.000 kasus baru COVID-19 di seluruh negeri, termasuk 130 kasus berat dan 1 kematian. Laporan tersebut menyatakan bahwa jumlah kasus secara keseluruhan menunjukkan tren meningkat.

Dalam laporan yang sama, tercatat pula 592.906 kasus influenza secara nasional.

Pemantauan di rumah sakit sentinel menunjukkan bahwa seluruh kasus COVID-19 lokal pada Juni disebabkan oleh varian Omicron.

Pada 14 Juli, Biro Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Provinsi Guangdong merilis laporan situasi penyakit menular yang wajib dilaporkan untuk bulan Juni 2026.

Data tersebut menunjukkan bahwa selama Juni terdapat 429.628 kasus penyakit menular dengan 129 kematian di seluruh provinsi.

Di antaranya:

  • Penyakit Menular Kategori B: 64.546 kasus dan 128 kematian. Penyakit dengan jumlah kasus terbanyak adalah COVID-19.
  • Penyakit Menular Kategori C: 365.082 kasus dan 1 kematian. Tiga penyakit dengan jumlah kasus terbanyak adalah influenza, penyakit tangan, kaki, dan mulut (HFMD), serta penyakit diare infeksi lainnya.

Khusus influenza, Guangdong melaporkan 274.328 kasus dan 1 kematian, menjadikannya penyakit Kategori C dengan jumlah kasus tertinggi.

Data tersebut juga menunjukkan bahwa Guangdong telah memasuki musim penyebaran influenza pada musim panas, dengan jumlah kasus yang meningkat tajam selama tiga bulan terakhir:

  • April: sekitar 71.000 kasus
  • Mei: sekitar 140.000 kasus
  • Juni: sekitar 274.000 kasus

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Guangdong juga mengingatkan bahwa selain COVID-19 dan influenza, masyarakat perlu mewaspadai penyakit menular lain seperti:

  • Demam Berdarah Dengue
  • Penyakit Tangan, Kaki, dan Mulut (HFMD)
  • Malaria
  • Cacar Monyet (Mpox)
  • Penyakit akibat Virus Ebola

Karena selama pandemi sebelumnya data resmi pemerintah Tiongkok sering dipertanyakan oleh berbagai pihak, sebagian masyarakat beranggapan bahwa kondisi sebenarnya mungkin lebih serius daripada angka yang diumumkan secara resmi.

Selain daratan Tiongkok, Hong Kong dan Macau juga dilaporkan mengalami peningkatan cepat kasus COVID-19 dalam beberapa waktu terakhir. Jumlah pasien kritis dan kematian juga terus bertambah. Varian yang dominan dilaporkan adalah NB.1.8.1 beserta subvariannya, terutama PQ.16.1.1.

Pada 14 Juli, seorang pekerja di bidang penyakit menular di Tiongkok mengatakan kepada The Epoch Times: “Kasus COVID-19 belakangan ini meningkat empat kali lipat. Saat ini yang perlu diwaspadai adalah difteri, respiratory syncytial virus (RSV), influenza, varian baru COVID-19, norovirus, campak, serta virus Nipah dan hantavirus di luar negeri, sementara di Afrika terutama Ebola.”

Pakar virologi Lin Xiaoxu mengatakan kepada The Epoch Times bahwa apabila infeksi COVID-19 terjadi bersamaan dengan penyakit pernapasan seperti difteri, risikonya dapat meningkat karena:

  • Kerusakan pada lapisan saluran pernapasan membuat infeksi bakteri atau penyakit akibat toksin menjadi lebih mudah berkembang.
  • Peradangan dan respons imun yang terjadi secara bersamaan dapat meningkatkan risiko komplikasi pada paru-paru, jantung, dan sistem saraf.
  • Gejala yang saling tumpang tindih dapat menyebabkan diagnosis difteri terlambat.

“Bagi setiap individu, bahaya terbesar bukan sekadar batuk yang bertambah parah, melainkan kombinasi tekanan pada sistem pernapasan dan kekebalan akibat COVID-19 dengan efek racun difteri yang dapat menyebabkan penyumbatan saluran napas, miokarditis, dan gangguan saraf. Kondisi seperti ini harus dianggap sebagai keadaan darurat medis, bukan sekadar infeksi saluran pernapasan yang bisa dipantau di rumah,” katanya. 

Ia juga memperingatkan bahwa kasus COVID-19 kembali meningkat di sejumlah wilayah, termasuk Asia Tenggara, Asia Timur, sebagian Australia, Auckland (Selandia Baru), beberapa negara bagian di Amerika Serikat, Inggris, dan wilayah lain di Eropa.

Menurutnya, banyak orang telah menerima anggapan bahwa COVID-19 kini telah menjadi penyakit endemik, sehingga cenderung meremehkan risiko yang masih dapat ditimbulkan oleh evolusi itu.

Disusun oleh Li Enzhen Editor penanggung jawab: Xia He