Kebakaran Bar di Bangkok Tewaskan  32 Orang dan Lukai 73 Orang; Pakar Menilai Mencerminkan Kurangnya Standar Keselamatan Tempat Hiburan

EtIndonesia.com Sebuah kebakaran besar melanda sebuah bar di Bangkok, Thailand, pada 13 Juli sekitar pukul 00.00 dini hari, mengakibatkan korban jiwa dan luka dalam jumlah besar. Hingga kini, 32 orang meninggal dunia dan 73 orang lainnya mengalami luka-luka. Pemerintah Thailand telah memulai penyelidikan atas penyebab kebakaran.

Insiden ini merupakan kebakaran besar kedua di tempat hiburan pada tahun ini, setelah kebakaran di sebuah bar di kawasan resor ski Swiss saat Tahun Baru yang dilaporkan menewaskan 40 orang.

Kebakaran terjadi di bar Rong Beer Na Lat Phrao, yang terletak di Distrik Chatuchak, Bangkok. Menurut Thai PBS, jumlah korban meninggal telah meningkat menjadi 32 orang.

Dari total 73 korban luka, terdiri atas 34 pria dan 39 wanita. Saat ini 13 orang masih dirawat di ruang perawatan biasa, sementara 25 orang dirawat di unit perawatan intensif (ICU). Pihak berwenang juga menyatakan bahwa identitas enam korban luka masih belum dapat dipastikan.

Para pakar menilai besarnya jumlah korban kemungkinan mencerminkan berbagai masalah keselamatan yang selama ini sering ditemukan pada kebakaran di tempat hiburan, termasuk kurang memadainya sistem keselamatan.

Menurut laporan Associated Press (AP), api diduga dengan cepat menjalar melalui langit-langit yang dipenuhi bahan dekorasi mudah terbakar sebelum mencapai pintu masuk utama. Media lokal melaporkan bahwa kondisi bar yang padat, jalur evakuasi yang terhalang, serta kepanikan pengunjung kemungkinan menghambat proses penyelamatan.

Bagaimana Api Menyebar

Video yang diunggah para saksi memperlihatkan kobaran api melalap bar tersebut, sementara asap tebal membumbung dari pintu depan dan para pengunjung berlarian menyelamatkan diri.

Foto dan rekaman setelah kejadian menunjukkan para penyelidik memeriksa bangunan yang hangus terbakar. Kerusakan paling parah tampak berada di bagian langit-langit, yang hampir seluruhnya menghitam, sedangkan lantai dan meja dipenuhi abu serta puing-puing.

Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan bahwa menurut keterangan para musisi yang sedang tampil, pemutus arus listrik (circuit breaker) di dekat panggung mulai mengeluarkan asap, kemudian listrik padam dan terjadi ledakan. Setelah itu, asap tebal dengan cepat memenuhi seluruh ruangan.

Penyelidik juga akan memeriksa material langit-langit serta memastikan apakah pintu darurat terhalang sehingga menghambat evakuasi. Sebuah foto yang beredar di internet pada Februari lalu memperlihatkan adanya dekorasi tanaman plastik di langit-langit di atas panggung.

Profesor keselamatan kebakaran dari Kyungil University, Korea Selatan, Lee Young Ju, mengatakan bahwa kebakaran kemungkinan dipicu oleh gangguan pada sistem kelistrikan, baik dari peralatan suara, pencahayaan, maupun instalasi kabel, yang kemudian membuat api dengan cepat menjalar ke seluruh langit-langit.

Kepala Kepolisian Kerajaan Thailand Kittharath Punpetch mengatakan polisi juga menyelidiki apakah bangunan menggunakan material yang mudah terbakar, bagaimana instalasi kabel listrik dipasang, serta apakah tabung gas di dapur turut memperparah kebakaran.

Profesor Huang Xinyan dari Hong Kong Polytechnic University mengatakan rekaman dari lokasi menunjukkan adanya bahan busa mudah terbakar di dalam bar, tidak adanya sistem sprinkler otomatis, serta pintu keluar yang sempit sehingga kemungkinan menghambat evakuasi.

Ia menambahkan bahwa dekorasi plastik di langit-langit mungkin dipasang bersama bahan peredam suara yang mudah terbakar sehingga mempercepat penyebaran api.

Kebakaran di tempat hiburan sering menimbulkan korban besar

Profesor Huang mengatakan kebakaran di Bangkok memiliki kemiripan dengan kebakaran di sebuah bar di kawasan resor ski Swiss pada awal tahun ini. Menurutnya, tempat-tempat seperti ini biasanya menggunakan banyak bahan peredam suara yang mudah terbakar dan sering dipenuhi pengunjung, sehingga meningkatkan risiko jatuhnya korban dalam jumlah besar.

Profesor Lee Young Ju menjelaskan bahwa kebakaran di tempat hiburan sering menimbulkan banyak korban karena sejumlah besar orang berada di ruang yang relatif sempit sehingga evakuasi menjadi sulit dilakukan.

Ia mengatakan tempat-tempat seperti ini umumnya memiliki pintu keluar yang terbatas, sementara sebagian besar pengunjung hanya mengetahui pintu utama yang mereka gunakan saat masuk. Selain itu, suara musik yang keras dan pengaruh alkohol dapat mengurangi kewaspadaan sehingga memperlambat reaksi ketika keadaan darurat terjadi.

Profesor Jiang Liming, juga dari Hong Kong Polytechnic University, mengatakan bahwa bar umumnya tidak memiliki jendela kaca besar sehingga ketika kebakaran terjadi, pintu keluar mudah tersumbat oleh kerumunan orang yang panik.

Menurutnya: “Begitu api menyebar dengan cepat, kepadatan orang yang tinggi dan asap yang segera memenuhi ruangan dapat menyebabkan banyak korban jiwa.”

Profesor mitigasi bencana dari Woosuk University, Korea Selatan, Kong Ha-song, mengatakan jumlah korban jiwa dalam kebakaran bar atau klub malam sering kali tinggi karena tata letak tempat tersebut menyerupai “labirin”. Tumpukan peti bir, meja, dan berbagai barang lainnya dapat menghalangi lorong maupun jalur evakuasi. Selain itu, pintu darurat terkadang dikunci untuk mencegah pencurian atau penyusup.

Kepala Kepolisian Thailand Kittharath Punpetch menjelaskan bahwa bar tersebut memiliki empat pintu keluar, namun polisi masih menyelidiki apakah dua pintu di bagian belakang tertutup atau tidak dapat digunakan.

Sebagian besar korban meninggal ditemukan di dekat pintu keluar yang berada di sekitar toilet, tetapi pintu tersebut ternyata terhalang oleh sebuah meja. Sementara itu, pintu keluar lain di dekat dapur memiliki papan petunjuk yang rusak dan pegangan pintunya telah terlepas.

Sumber : NTDTV.com, diadaptasi dari Central News Agency/CNA Taiwan

Menakjubkan! Tornado Berkekuatan Hingga Level 15 Menerjang Hubei, Tiongkok, Kuil Raja Naga Tetap Utuh

Baru-baru ini, Kota Huanggang, Provinsi Hubei, dilanda tornado kuat berkategori EF2. Menurut laporan, angin dengan kekuatan hingga level 15 menerjang kawasan perkotaan, merobohkan pabrik, membalikkan kendaraan, dan merusak banyak bangunan sehingga wilayah tersebut tampak porak-poranda seperti medan perang.

Namun, yang menarik perhatian warga setempat adalah sebuah Kuil Raja Naga (Longwang Dian/Longwang Miao) yang berada di dekat daerah paling parah terdampak dilaporkan tetap utuh tanpa mengalami kerusakan. Bahkan papan nama kuil di bagian depan masih tergantung dengan baik.

EtIndonesia.com Pada 6 Juli 2026 malam, sejumlah wilayah di bagian timur Hubei, termasuk Huangshi, Huanggang, Ezhou, dan Xianning, dilanda cuaca konvektif yang sangat kuat disertai badai petir dan angin kencang. Sebanyak 53 kecamatan dilaporkan mengalami angin berkekuatan level 8 hingga 13, sementara dua kecamatan mencatat kecepatan angin mencapai level 13.

Di pusat Kota Huanggang sendiri dilaporkan terjadi tornado EF2, yang disebut sebagai peristiwa langka dalam sejarah kota tersebut, dengan kecepatan angin dilaporkan melebihi level 15.

Rekaman udara yang diambil pada 7 Juli memperlihatkan kawasan permukiman dan industri mengalami kerusakan berat. Atap rumah-rumah dan bangunan pabrik beterbangan, memperlihatkan rangka baja yang terbuka. Banyak jendela pecah, sementara puing-puing bangunan berserakan di mana-mana sehingga pemandangannya menyerupai wilayah yang baru saja dibombardir.

Pada malam kejadian, angin puting beliung menerjang jalan-jalan utama dan sekunder, kawasan permukiman, kawasan industri, serta pusat logistik di Huanggang.

Di antara lokasi yang mengalami kerusakan paling berat adalah Perusahaan Logistik Qicheng di bagian selatan Jalan Pagoda, Distrik Huangzhou, serta proyek pergudangan di Komunitas Changjiang. Sejumlah truk besar dilaporkan terseret angin hingga sejauh 30 meter.

Meski tornado melintasi kawasan tersebut, Kuil Raja Naga yang berada tepat di dekat wilayah terdampak paling parah dilaporkan tetap utuh. Sementara rumah-rumah di sekitarnya ada yang hanya menyisakan rangka baja dan banyak atap bangunan beterbangan, bangunan utama kuil hampir tidak mengalami kerusakan.

Peristiwa ini memicu banyak perbincangan di media sosial Tiongkok.

Sejumlah warganet berkomentar:

  • “Kuil Raja Naga berada tepat di pusat jalur tornado. Rumah-rumah disekitarnya rusak berat, tetapi genteng dan tembok kuil tetap utuh. Hanya sebagian genteng bangunan kecil di samping yang terlepas, sedangkan bangunan utama hampir tidak rusak sama sekali.”
  • “Di Huanggang, daerah sekitarnya porak-poranda, tetapi Kuil Raja Naga tidak mengalami apa-apa.”
  • “Papan nama dan lentera kuil pun tidak sampai terlepas.”
  • “Kalau tidak ada Kuil Raja Naga, mungkin kerusakannya akan lebih parah.”

Komentar lainnya antara lain:

  • “Kebijaksanaan orang-orang zaman dahulu sungguh luar biasa.”
  • “Benar-benar sulit dipercaya.”
  • “Sungguh menakjubkan! Kita harus menghormati para dewa.”
  • “Manusia seharusnya melakukan introspeksi.”
  • “Kita harus menghormati alam dan langit, serta lebih banyak berbuat baik.”

Ada juga warganet yang menyampaikan pandangan pribadi seperti:

“Ilmu pengetahuan hanyalah tipuan. Orang Barat pada masa awal ingin menjadi otoritas dunia sehingga menciptakan berbagai teori. Hal-hal spiritual melampaui cara berpikir manusia.”

Menurut laporan resmi pemerintah Tiongkok, hingga  7 Juli pagi, bencana itu mengakibatkan sekitar 14.600 orang terdampak, 11 orang meninggal dunia, dan 1 orang dinyatakan hilang.

Catatan: Artikel sumber juga menyatakan bahwa “angka sebenarnya mungkin lebih tinggi daripada data resmi karena pemerintah PKT dituduh sering menutupi skala bencana.” Pernyataan tersebut merupakan klaim dari sumber berita dan belum dapat diverifikasi secara independen.

Artikel sebelumnya terbit di ntdtv.com

Banjir di Guangxi, Tiongkok Menghancurkan Kuil Dewa Tanah, Patung Dewa Tetap Duduk Utuh di Tempatnya 

EtIndonesia.com Baru-baru ini, wilayah Guangxi dilanda hujan lebat yang memicu banjir besar. Menurut laporan ini, tujuh bendungan waduk mengalami kerusakan atau jebol, dengan kondisi paling parah terjadi di Waduk Liulan (六藍水庫) di Kota Hengzhou, Nanning. Banjir menghancurkan banyak rumah, lahan pertanian, serta menenggelamkan sejumlah desa dan kota kecil.

Di tengah bencana tersebut, sebuah kuil Dewa Tanah (Tudi Gong) roboh diterjang banjir. Namun, yang menarik perhatian adalah patung Dewa Tanah di dalam kuil itu tetap berada di tempatnya dalam keadaan utuh, meskipun bangunan kuil di sekitarnya telah runtuh.

Sejak 4 Juli, Guangxi terus diguyur hujan deras. Pada malam 5 Juli, Waduk Liulan melakukan pelepasan air lebih awal. Pada 6 Juli, tanggul waduk dilaporkan mengalami dua jebol selebar sekitar 50 meter. Air bah bercampur lumpur kemudian mengalir deras ke desa-desa di hilir, menggenangi wilayah luas dan menghancurkan banyak rumah serta lahan pertanian.

Salah satu bangunan yang terdampak adalah sebuah kuil kecil Dewa Tanah di Hengzhou. Rekaman yang beredar memperlihatkan banjir lumpur menutupi seluruh kawasan. Rumah-rumah bertingkat maupun rumah biasa di sekitarnya telah runtuh menjadi puing-puing, sementara dinding kuil juga roboh di banyak bagian. Meski demikian, patung Dewa Tanah tetap duduk tegak di posisi semula.

Dalam tradisi masyarakat Tiongkok, Dewa Tanah (Tudi Gong) merupakan dewa pelindung suatu wilayah yang sejak zaman dahulu dihormati sebagai penjaga desa dan lahan pertanian. Di berbagai daerah, ia dikenal dengan berbagai sebutan seperti Tudi Gong, Fu De Zheng Shen, atau Tudi Bo Gong, dan dipercaya membawa berkah, keselamatan, serta hasil panen yang baik.

Menurut warga setempat, kuil kecil tersebut dibangun dengan biaya sederhana dan tidak memiliki pondasi yang kokoh. Dibandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya yang bernilai ratusan ribu yuan namun hancur total, keadaan patung yang tetap utuh menjadi pemandangan yang sangat kontras.

Sebagian warga juga meyakini bahwa bendungan baru runtuh pada siang hari ketika sebagian besar penduduk sudah bangun, bukan pada tengah malam. Mereka percaya hal itu telah mengurangi jumlah korban jiwa.

Banyak warganet Tiongkok memberikan komentar, antara lain:

  • “Dewa Tanah sudah berusaha sekuat tenaga melindungi desa. Bendungan jebol pada pagi hari. Kalau jebol tengah malam, puluhan ribu warga mungkin tidak akan selamat. Terima kasih kepada Dewa Tanah.”
  • “Dewa Tanah benar-benar telah menunjukkan perlindungannya. Bendungan baru jebol pada siang hari. Kalau terjadi malam hari, akibatnya tidak terbayangkan. Mungkin karena banyak warga desa yang berbuat baik sehingga mendapat perlindungan.”
  • “Dewa Tanah tetap kokoh seperti gunung.”
  • “Perbaikilah kuil itu tanpa memindahkan patungnya dari posisi semula.”
  • “Di atas kepala manusia selalu ada kekuatan ilahi yang mengawasi.”
  • “Manusia harus memiliki rasa hormat kepada Tuhan dan para dewa.”

Ada juga yang mengaitkan peristiwa ini dengan kejadian lain di Provinsi Hubei, dengan mengatakan: “Manusia harus memiliki rasa hormat kepada kekuatan ilahi. Saat tornado berkekuatan sangat besar menerjang Huanggang, Hubei, papan nama Kuil Raja Naga tetap tidak terlepas. Kini banjir besar di hilir Waduk Liulan juga tidak merusak patung Dewa Tanah.”

Pada 6 Juli, sejumlah warga mengatakan bahwa sebelum tanggul Waduk Liulan jebol, pihak berwenang telah membuka seluruh pintu pelimpah (spillway) sekitar pukul 06.00 pagi. Namun mereka baru menerima pemberitahuan untuk mengungsi sekitar pukul 08.00, dua jam setelah pelepasan air dimulai. Hal ini memicu pertanyaan dari warga mengenai apakah peringatan evakuasi diberikan tepat waktu.

Akibat pelepasan air dan jebolnya tanggul, banjir dengan cepat menenggelamkan banyak desa di hilir. Di beberapa lokasi, kedalaman air dilaporkan mencapai setinggi bangunan dua lantai.

Laporan tersebut juga menyatakan bahwa kejadian di Nanning, Guangxi, bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, setiap kali hujan lebat memicu banjir di Tiongkok, sering muncul laporan mengenai pelepasan air dari waduk tanpa pemberitahuan atau peringatan yang memadai kepada masyarakat. Menurut laporan itu, kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab besarnya korban jiwa dan kerugian harta benda.

Mengenai jumlah korban, laporan menyebutkan bahwa setelah banjir di Guangxi, pemerintah Tiongkok pada awalnya mengumumkan dua orang meninggal, kemudian angka resmi tersebut meningkat menjadi 39 orang meninggal. Laporan itu juga menyebut bahwa sebagian warganet berspekulasi angka korban sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi daripada angka resmi, meskipun klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Disusun oleh reporter Tang Zixuan / Li Quan

Iran Menyerang Dua Kapal Tanker UEA di Selat Hormuz, 1 Tewas dan 8 Terluka, UEA Tegaskan Berhak Melakukan Serangan Balasan Menyeluruh

EtIndonesia.com Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) pada Selasa (14/7/2026) menyatakan bahwa dua kapal tanker minyak milik UEA mengalami kerusakan setelah diserang rudal jelajah Iran di Selat Hormuz. Serangan tersebut mengakibatkan satu awak kapal berkewarganegaraan India meninggal dunia dan delapan orang lainnya terluka, termasuk empat orang yang mengalami luka serius.

Dalam pernyataannya, Kementerian Pertahanan UEA mengecam insiden tersebut sebagai “serangan yang terang-terangan”, serta menegaskan bahwa UEA berhak melakukan respons balasan secara menyeluruh terhadap eskalasi ini.

Menurut laporan Reuters, kedua kapal tanker yang diserang adalah Mombasa dan Al Bahiyah. Serangan terjadi di jalur pelayaran arah selatan Selat Hormuz, yang berada di wilayah perairan Oman. Korban jiwa dilaporkan merupakan awak kapal yang bertugas di atas kapal Mombasa.

Serangan tersebut menyebabkan kedua kapal tanker terbakar dan mengalami kerusakan. Namun, api dilaporkan telah berhasil dipadamkan.

Kementerian Pertahanan UEA juga mengungkapkan bahwa korban luka terdiri atas enam warga negara India dan dua warga negara Ukraina.

Sementara itu, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) juga mengeluarkan pemberitahuan pada hari yang sama. Lembaga tersebut menyatakan bahwa sebuah kapal tanker yang sedang berlayar sekitar 40 mil laut di timur laut Qalhat, Oman, terkena hantaman sebuah benda terbang yang belum diketahui identitasnya.

Menurut laporan UKMTO, nakhoda kapal melaporkan bahwa ruang mesin di sisi kanan kapal terkena serangan. Meski demikian, seluruh awak kapal dilaporkan selamat.

Reuters menyatakan bahwa pihaknya belum dapat memverifikasi secara independen apakah insiden yang dilaporkan UKMTO merupakan peristiwa yang sama dengan serangan yang dilaporkan Kementerian Pertahanan UEA.

Hingga berita ini ditulis, Iran belum memberikan komentar mengenai dugaan serangan itu.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran. Ia juga mengatakan bahwa AS akan memastikan Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional, namun akan mengenakan biaya atas penggunaannya.

Trump juga memperingatkan bahwa militer AS akan melancarkan gelombang serangan baru yang “keras” terhadap Iran dalam beberapa jam mendatang.

Sebagai tanggapan, Komando Militer Gabungan Tertinggi Iran menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki hak untuk menentukan masa depan Selat Hormuz, dan Iran tidak akan mengizinkan pihak luar melakukan campur tangan.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Menurut laporan tersebut, sebelum konflik yang disebut pecah pada 28 Februari tahun ini, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia melewati selat tersebut setiap hari, dengan volume pengiriman lebih dari 15 juta barel per hari dan nilai perdagangan sedikitnya 1,2 miliar dolar AS.

Sumber : NTDTV.com

27 Tahun Menentang Penganiayaan :  Parade Falun Gong di Vancouver, Kanada Raih Dukungan Luas Masyarakat 

Pada 20 Juli 1999, Partai Komunis Tiongkok (PKT) melancarkan penindasan terhadap praktisi Falun Gong. Kini, 27 tahun telah berlalu, namun penganiayaan tersebut masih terus berlangsung dan bahkan meluas menjadi penindasan lintas negara terhadap praktisi Falun Gong di luar negeri.

Pada 12 Juli 2026, sejumlah praktisi Falun Gong di Vancouver, Kanada, menggelar kegiatan latihan bersama dalam skala besar dan pawai di pusat kota. Mereka menyerukan agar masyarakat internasional terus memberikan perhatian dan mengambil tindakan untuk menghentikan penganiayaan yang dilakukan PKT terhadap praktisi Falun Gong.

EtIndonesia.com Pada Minggu 12 Juli pagi, seperti yang dilakukan setiap tahun, para praktisi berkumpul di depan Galeri Seni Vancouver untuk mengadakan kegiatan peringatan. Melalui aksi damai tersebut, mereka terus menyebarkan nilai-nilai “Sejati, Baik, Sabar” (Zhen, Shan, Ren), sekaligus menyerukan kepada berbagai kalangan agar menghentikan penindasan yang telah berlangsung selama 27 tahun, termasuk penindasan lintas negara yang dilakukan PKT.

“Saya pernah tiga kali mengalami penganiayaan di Tiongkok daratan—sekali dijatuhi hukuman kerja paksa dan dua kali dipenjara. Total saya kehilangan sembilan tahun kebebasan. Hari ini saya merasa sangat beruntung akhirnya bisa hidup di negara yang bebas,” ujar seorang praktisi Falun Gong di Vancouver, Tang Huafeng kepada NTD Kanada.

Seorang guru asal Italia, Elisabetta, mengatakan: “Saya merasa sangat sedih ketika mendengar tentang penganiayaan ini. Ini adalah cara PKT mengendalikan hati dan pikiran masyarakat. Saya berterima kasih kepada para praktisi Falun Gong yang telah berbagi pengalaman mereka. Saya juga ingin menyampaikan fakta ini kepada orang lain.”

Dalam pawai tersebut, suara marching band bergema di pusat kota. Para praktisi membawa spanduk bertuliskan “Hentikan Penganiayaan terhadap Falun Gong” dan “Hentikan Pengambilan Organ Secara Paksa oleh PKT”. 

Mereka juga mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal akibat penganiayaan, serta menyerukan kepada masyarakat internasional agar memperhatikan dan mengecam penindasan lintas negara yang dilakukan PKT.

“Bebaskan semua praktisi Falun Gong yang masih ditahan agar mereka dapat kembali ke rumah,” ujar seorang praktisi Falun Gong di Vancouver, Nyonya Yang kepada NTD Kanada.

Tang Huafeng juga menyampaikan: “Semoga tragedi yang seharusnya tidak pernah terjadi ini segera berakhir. Kami berharap masyarakat dan para pejabat pemerintah Kanada memberikan perhatian kepada kami, berdiri bersama kami, dan bersama-sama menghentikan penganiayaan ini.”

Banyak warga Vancouver maupun wisatawan berhenti untuk menyaksikan kegiatan tersebut, mempelajari informasi yang disampaikan, dan menyatakan dukungan mereka kepada Falun Gong.

Seorang warga Vancouver, Niki, mengatakan: “Ini sangat mengerikan. Tidak seorang pun seharusnya dianiaya karena keyakinannya. Jangan kehilangan harapan, teruslah menyebarkan kebenaran. Itu sangat penting.”

Seorang wisatawan asal Meksiko, Valenatena, mengatakan: “Prinsip ‘Sejati, Baik, Sabar’ sungguh luar biasa. Belas kasih manusia dapat mengubah dunia.”

Warga Vancouver lainnya, Ariel, mengatakan: “Kita bisa membantu lebih banyak orang memahami penganiayaan ini. Keteguhan para praktisi Falun Gong dalam menyampaikan fakta sangat mengagumkan. Saya berharap mereka terus bertahan.”

Pada 12 Juli 2026, sejumlah praktisi Falun Gong di Vancouver berkumpul di pusat kota untuk menggelar pawai besar memperingati “27 Tahun Perlawanan Damai Falun Gong terhadap Penganiayaan.” (Yu Sheng/Epoch Times)
Pada 12 Juli 2026, sejumlah praktisi Falun Gong di Vancouver berkumpul di pusat kota untuk menggelar pawai besar memperingati “27 Tahun Perlawanan Damai Falun Gong terhadap Penganiayaan.” (Yu Sheng/Epoch Times)
Pada 12 Juli 2026, sejumlah praktisi Falun Gong di Vancouver berkumpul di pusat kota untuk menggelar pawai besar memperingati “27 Tahun Perlawanan Damai Falun Gong terhadap Penganiayaan.” (Yu Sheng/Epoch Times)
Pada 12 Juli 2026, sejumlah praktisi Falun Gong di Vancouver berkumpul di pusat kota untuk menggelar pawai besar memperingati “27 Tahun Perlawanan Damai Falun Gong terhadap Penganiayaan.” (Yu Sheng/Epoch Times)
Pada 12 Juli 2026, sejumlah praktisi Falun Gong di Vancouver berkumpul di pusat kota untuk menggelar pawai besar memperingati “27 Tahun Perlawanan Damai Falun Gong terhadap Penganiayaan.” (Yu Sheng/Epoch Times)
Sejumlah praktisi Falun Gong di Vancouver berkumpul di depan Galeri Seni Vancouver untuk memperkenalkan fakta-fakta tentang Falun Gong kepada masyarakat. (Yu Sheng/Epoch Times)
Sejumlah praktisi Falun Gong di Vancouver berkumpul di depan Galeri Seni Vancouver untuk memperkenalkan fakta-fakta tentang Falun Gong kepada masyarakat. (Yu Sheng/Epoch Times)

Imigran Baru dari Tiongkok: Penganiayaan terhadap Falun Gong Sangat Menyakitkan

Yang, seorang imigran baru dari daratan Tiongkok, mengatakan bahwa ketika PKT meluncurkan kampanye penindasan terhadap Falun Gong pada 20 Juli 1999, seluruh media nasional digunakan untuk menyebarkan propaganda dan fitnah.

“Dari apa yang saya lihat dan alami sendiri, saya tidak pernah melihat kelompok Falun Gong melakukan hal buruk. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang sangat baik,” katanya.

Menurutnya, gambaran yang diberikan propaganda PKT sama sekali berbeda dengan kenyataan.

“Perbedaannya benar-benar sangat jauh,” ujarnya.

Ia mengaku masih sulit mempercayai bahwa penganiayaan tersebut bisa terjadi. “Sejujurnya, hati saya sangat sakit. Sangat sakit,” katanya.

Menurut Yang, kegiatan peringatan 20 Juli seperti rapat umum dan parade sangat penting karena di Tiongkok masyarakat selama bertahun-tahun hanya menerima informasi yang berasal dari propaganda PKT.

Setelah tinggal di Kanada selama lebih dari tiga tahun, ia menyadari masih banyak warga Tiongkok yang belum mengetahui fakta sebenarnya mengenai Falun Gong.

“Karena itu, semakin penting bagi orang-orang baik untuk berdiri dan menyampaikan fakta kepada masyarakat agar lebih banyak orang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.

Ia juga menilai bahwa selama bertahun-tahun PKT tidak hanya menindas Falun Gong, tetapi juga merugikan banyak kelompok masyarakat lainnya.

“Rakyat sebenarnya tahu apa yang terjadi, tetapi banyak yang tidak berani berbicara,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa berbagai kasus sosial di Tiongkok, termasuk sejumlah laporan tentang anak-anak hilang, sering kali menimbulkan keraguan publik terhadap penjelasan resmi pemerintah.

“Apa yang sebenarnya terjadi kemungkinan telah ditutupi oleh PKT,” katanya.

Yang berharap para praktisi Falun Gong terus menjelaskan fakta kepada masyarakat sehingga warga Tiongkok yang datang ke luar negeri dapat mengenal langsung para praktisi dan melihat bagaimana prinsip ‘Sejati, Baik, Sabar’ diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Biarkan masyarakat melihat bagaimana sekelompok orang yang baik berusaha menyampaikan kebenaran kepada dunia,” katanya.

Iran Digempur Lagi! Trump Ancam Hancurkan Terowongan Nuklir Terdalam, Konflik Makin Tak Terkendali

EtIndonesia.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras mengenai kemungkinan serangan terhadap fasilitas nuklir bawah tanah Iran. Di saat yang hampir bersamaan, militer Amerika Serikat kembali memulai operasi militer berskala besar terhadap sejumlah sasaran strategis Iran serta mengaktifkan kembali blokade laut di kawasan Teluk Persia.

Serangkaian perkembangan yang terjadi pada 13 Juli dini hari hingga 14 Juli 2026 semakin memperlihatkan bahwa konflik di Timur Tengah telah memasuki fase baru dengan tingkat eskalasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa pekan sebelumnya.

Trump Ancam Hancurkan Fasilitas Nuklir Bawah Tanah Iran

Pada 13 Juli 2026, Presiden Donald Trump dalam sebuah wawancara menyatakan bahwa Amerika Serikat tengah mempertimbangkan tindakan militer terhadap salah satu fasilitas nuklir bawah tanah paling strategis milik Iran.

Trump mengatakan bahwa operasi tersebut kemungkinan akan dilakukan dalam waktu dekat.

“Kami kemungkinan besar akan segera mengambil tindakan terhadap fasilitas di kawasan pegunungan tersebut. Sangat mungkin dalam waktu dekat tempat itu akan menerima satu serangan langsung yang sangat kuat, menghantam tepat ke pintu masuk fasilitas tersebut.”

Pernyataan tersebut diyakini mengacu pada kompleks bawah tanah yang berada di sekitar fasilitas pengayaan uranium Natanz, salah satu pusat utama program nuklir Iran.

Kompleks tersebut dibangun jauh di bawah kawasan pegunungan dan terdiri atas dua jaringan terowongan bawah tanah yang saling terhubung. Selama bertahun-tahun, fasilitas ini dianggap sebagai salah satu instalasi nuklir paling terlindungi yang dimiliki Iran.

Sejumlah analis pertahanan bahkan menilai bahwa struktur bawah tanah tersebut dirancang untuk mampu bertahan dari serangan bom penghancur bunker (bunker buster) konvensional, termasuk amunisi penembus bunker tercanggih yang saat ini dioperasikan oleh militer Amerika Serikat.

Karena tingkat perlindungannya yang sangat tinggi, fasilitas tersebut selama ini dipandang sebagai salah satu target militer paling sulit dihancurkan apabila konflik antara Washington dan Teheran berkembang menjadi perang terbuka.

Trump Isyaratkan Gelombang Serangan Baru

Selain mengancam fasilitas nuklir Iran, Trump juga mengisyaratkan bahwa operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran masih akan terus berlanjut.

Dalam pernyataannya, ia mengatakan bahwa Iran kemungkinan akan kembali menerima serangan besar pada malam hari maupun malam berikutnya.

Pernyataan tersebut memperkuat dugaan bahwa Pentagon telah menyiapkan operasi lanjutan yang berlangsung secara bertahap untuk menghancurkan kemampuan militer Iran.

Namun, beberapa jam setelah wawancara tersebut, ketika berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Trump menyampaikan nada yang sedikit berbeda.

Ia menegaskan bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup dan peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran masih tetap terbuka apabila Teheran bersedia memenuhi syarat-syarat yang diajukan Washington.

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga kembali mengkritik negara-negara sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah.

Menurutnya, negara-negara tersebut seharusnya ikut menanggung biaya perlindungan keamanan yang selama ini diberikan Amerika Serikat terhadap kawasan Teluk Persia.

Amerika Serikat Kembali Mengaktifkan Blokade Laut Iran

Di tengah meningkatnya ketegangan politik, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa berdasarkan instruksi Presiden Donald Trump, militer Amerika kembali memberlakukan blokade laut penuh terhadap Iran.

Operasi tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada Selasa, 14 Juli 2026, pukul 16.00 waktu setempat.

Tak lama kemudian, CENTCOM mengonfirmasi bahwa pada pukul 16.45 waktu Pantai Timur Amerika Serikat (Eastern Time), operasi militer terhadap Iran resmi kembali dimulai dan menjadi malam ketiga berturut-turut pelaksanaan serangan terhadap berbagai sasaran strategis di wilayah Iran.

Langkah tersebut menandai dimulainya kembali tekanan militer Amerika melalui kombinasi operasi udara, laut, dan pengawasan maritim untuk membatasi ruang gerak militer Iran di kawasan Teluk Persia.

Sasaran Operasi Difokuskan pada Infrastruktur Militer Iran

Menurut laporan CNN yang mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat, gelombang operasi terbaru difokuskan pada penghancuran berbagai aset militer Iran yang dinilai memiliki peran penting dalam pengendalian wilayah Teluk Persia.

Sasaran utama operasi tersebut meliputi:

  • sistem pengawasan pantai;
  • fasilitas pengoperasian pesawat nirawak (drone);
  • instalasi dan kemampuan rudal;
  • berbagai fasilitas militer di sekitar Pulau Kish;
  • instalasi strategis di Pulau Qeshm; serta
  • pangkalan militer di sekitar Pulau Abu Musa.

Ketiga pulau tersebut memiliki posisi yang sangat strategis karena berada di jalur menuju Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.

Ledakan Dilaporkan Terjadi di Berbagai Wilayah Iran

Tidak lama setelah operasi dimulai, sejumlah laporan dari dalam Iran menyebutkan bahwa suara ledakan terdengar di berbagai wilayah.

Di Kota Omidiyeh, Provinsi Khuzestan yang terletak di barat daya Iran, beberapa lokasi dilaporkan menjadi sasaran tembakan artileri militer Amerika Serikat.

Sementara itu, di wilayah Saravan, Provinsi Sistan dan Baluchestan, ledakan besar juga dilaporkan terjadi setelah kawasan tersebut menjadi sasaran operasi militer Amerika.

Hingga laporan ini disusun, pemerintah Iran belum mengeluarkan rincian resmi mengenai tingkat kerusakan maupun jumlah korban akibat rangkaian serangan tersebut.

Selat Hormuz Kembali Menjadi Titik Panas Konflik

Pada saat yang sama, situasi keamanan di Selat Hormuz terus memburuk.

Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) pada Senin, 13 Juli 2026, mengumumkan bahwa dua kapal penumpang berbendera UEA, yakni Basa dan Basia, diserang oleh dua rudal jelajah yang diduga ditembakkan dari wilayah Iran ketika sedang berlayar di jalur pelayaran bagian selatan Selat Hormuz.

Serangan tersebut menyebabkan kedua kapal mengalami kebakaran hebat.

Berdasarkan informasi yang disampaikan otoritas UEA, insiden tersebut mengakibatkan:

  • satu awak kapal berkewarganegaraan India meninggal dunia;
  • delapan awak kapal lainnya mengalami luka-luka; dan
  • empat korban di antaranya dilaporkan berada dalam kondisi kritis.

Insiden tersebut semakin meningkatkan kekhawatiran internasional terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang setiap harinya dilalui sebagian besar ekspor minyak dunia.

UKMTO Laporkan Serangan Baru di Perairan Oman

Beberapa waktu setelah insiden tersebut, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) juga mengeluarkan pemberitahuan keamanan maritim.

Lembaga tersebut menyatakan bahwa pada hari yang sama sebuah kapal kembali menjadi sasaran proyektil yang belum diketahui asalnya ketika berlayar di perairan dekat Oman.

Meski kapal tersebut sempat mengalami serangan, seluruh awak dilaporkan berhasil selamat dan tidak terdapat korban jiwa.

UKMTO mengimbau seluruh kapal dagang yang beroperasi di kawasan Teluk Persia dan Laut Arab untuk meningkatkan kewaspadaan serta segera melaporkan setiap aktivitas mencurigakan kepada otoritas maritim.

Iran Luncurkan Serangan ke Kuwait dan Bahrain

Memasuki dini hari Senin, 14 Juli 2026, eskalasi konflik kembali meningkat ketika militer Iran melancarkan serangan ke wilayah Kuwait dan Bahrain.

Menurut laporan yang beredar, Iran secara berturut-turut mengerahkan:

  • pesawat nirawak bunuh diri (kamikaze drone); dan
  • rudal, untuk menyerang sejumlah sasaran di kedua negara tersebut.

Belum terdapat rincian resmi mengenai tingkat kerusakan maupun jumlah korban akibat serangan tersebut. Namun, aksi tersebut memperlihatkan bahwa cakupan konflik telah meluas dan mulai melibatkan lebih banyak negara di kawasan Teluk.

Konflik Bergerak Menuju Eskalasi yang Lebih Berbahaya

Rangkaian perkembangan selama 13–14 Juli 2026 menunjukkan bahwa situasi keamanan di Timur Tengah berkembang dengan sangat cepat.

Ancaman Presiden Donald Trump terhadap fasilitas nuklir bawah tanah Iran, dimulainya kembali operasi militer dan blokade laut oleh Amerika Serikat, meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, serta serangan Iran terhadap Kuwait dan Bahrain menjadi indikator bahwa konfrontasi antara kedua negara kini memasuki tahap yang semakin berbahaya.

Di tengah masih terbukanya peluang diplomasi sebagaimana disampaikan Gedung Putih, aktivitas militer di lapangan justru terus meningkat. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa setiap insiden baru berpotensi memicu konflik yang lebih luas dan melibatkan lebih banyak negara di kawasan Timur Tengah. (***)

Bom Bunker Buster AS Hancurkan Gudang Rudal Bawah Tanah Iran, Situasi Berubah Drastis!

EtIndonesia.com— Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki babak yang semakin berbahaya. Militer Amerika Serikat dilaporkan melancarkan gelombang serangan terbaru dengan menggunakan bom penghancur bunker (bunker buster) untuk menghancurkan gudang rudal bawah tanah milik Iran, sementara berbagai fasilitas strategis di negara tersebut menjadi sasaran serangan presisi.

Di tengah eskalasi yang terus meningkat di kawasan Selat Hormuz, perhatian dunia juga mulai bergeser ke kawasan Selat Taiwan, setelah muncul berbagai laporan yang menyebut adanya dinamika baru terkait kebijakan Beijing terhadap jaringan simpatisan pro-Tiongkok di Taiwan.

Situasi ini memperlihatkan bahwa krisis geopolitik saat ini tidak lagi hanya terbatas pada Timur Tengah, tetapi juga berpotensi meluas ke kawasan Indo-Pasifik.


Amerika Serikat dan Iran Terus Berebut Kendali Selat Hormuz

Selama beberapa hari terakhir, ketegangan di sekitar Selat Hormuz terus meningkat.

Selat yang menjadi jalur pelayaran sekitar seperlima perdagangan minyak dunia tersebut kembali menjadi pusat konfrontasi setelah Amerika Serikat meningkatkan operasi militernya terhadap berbagai fasilitas strategis Iran.

Di saat yang sama, Iran terus melancarkan serangan balasan menggunakan rudal balistik maupun pesawat nirawak (drone) ke sejumlah negara di kawasan Teluk yang dianggap mendukung operasi militer Washington.

Meski demikian, hingga kini pemerintah Amerika Serikat masih belum memberikan izin kepada Israel untuk ikut terlibat secara langsung dalam operasi militer tersebut.

Sejumlah analis menilai langkah Presiden Donald Trump tersebut menunjukkan bahwa Washington masih berusaha menjaga agar konflik tidak berkembang menjadi perang regional yang melibatkan lebih banyak negara.

Namun di sisi lain, berbagai tindakan Iran justru dinilai semakin memperbesar risiko eskalasi.


IRGC Klaim Serang Pangkalan-Pangkalan Militer Amerika

Menurut laporan Reuters, pada Senin, 13 Juli 2026, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah melancarkan serangan terhadap sejumlah instalasi militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Dalam pernyataannya, IRGC mengklaim berhasil menyerang:

  • fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain;
  • instalasi militer di Kuwait;
  • sistem radar di Oman;
  • tangki bahan bakar dan gudang amunisi di Pangkalan Udara Pangeran Hassan, Yordania.

Namun berbagai laporan dari sejumlah sumber independen memberikan gambaran yang berbeda.

Sistem pertahanan udara Bahrain, Kuwait, dan Yordania dilaporkan berhasil mencegat sebagian besar rudal maupun drone yang ditembakkan Iran.

Sementara itu, pemerintah Oman juga tidak mengeluarkan laporan mengenai adanya kerusakan terhadap sistem radar nasionalnya.

Akibatnya, klaim keberhasilan operasi militer yang diumumkan IRGC kembali dipertanyakan oleh banyak pengamat militer internasional.


Iran Kembali Jadikan Selat Hormuz Sebagai Alat Tekanan

Masih pada hari yang sama, Garda Revolusi Iran kembali mengeluarkan pernyataan yang menempatkan keamanan jalur energi dunia sebagai alat tawar politik.

Iran menegaskan bahwa satu-satunya cara mengembalikan normalisasi pelayaran di Selat Hormuz adalah dengan menghentikan seluruh intervensi militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Teheran juga memperingatkan bahwa apabila operasi militer Washington terus berlanjut, maka gangguan terhadap industri minyak dan gas dunia akan menjadi jauh lebih besar.

Pernyataan tersebut kembali memperlihatkan strategi Iran yang berupaya menggunakan posisi strategis Selat Hormuz sebagai instrumen tekanan terhadap komunitas internasional.


Laporan Dugaan Serangan terhadap Armada Kelima AS

Pakar intelijen sumber terbuka Babak Taghvaee pada 13 Juli 2026 menyatakan bahwa salah satu rudal Iran dilaporkan menghantam kawasan Markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat di Manama, Bahrain.

Menurut laporan tersebut, serangan memicu kebakaran cukup besar.

Namun hingga kini belum terdapat konfirmasi resmi mengenai lokasi pasti kebakaran tersebut.

Belum diketahui apakah api benar-benar terjadi di dalam kompleks markas militer Amerika Serikat atau hanya mengenai fasilitas penyimpanan bahan bakar yang berada di sekitar kawasan tersebut.


CENTCOM Resmikan Gelombang Keempat Operasi Militer

Pada 12 Juli 2026, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa mereka telah menyelesaikan gelombang keempat operasi militer terhadap Iran.

Dalam operasi tersebut, militer Amerika menggunakan berbagai senjata berpemandu presisi untuk menyerang puluhan sasaran strategis.

Menurut CENTCOM, tujuan utama operasi adalah:

  • melemahkan kemampuan militer Iran;
  • menghancurkan infrastruktur pendukung serangan rudal;
  • mengurangi ancaman terhadap jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Operasi ini merupakan kelanjutan dari beberapa gelombang serangan sebelumnya yang secara bertahap menargetkan sistem pertahanan udara, fasilitas rudal, pangkalan militer, hingga jaringan logistik Iran.


Bandar Abbas Diguncang Belasan Ledakan

Di kota pelabuhan Bandar Abbas, warga melaporkan sedikitnya 14 ledakan terdengar hanya dalam rentang waktu sekitar delapan menit.

Bandar Abbas merupakan salah satu pusat operasi Angkatan Laut Iran sekaligus pintu keluar utama menuju Selat Hormuz.

Serangan di kawasan tersebut diperkirakan bertujuan mengurangi kemampuan Iran dalam mengendalikan lalu lintas maritim di wilayah strategis tersebut.


Bandara Strategis Aghajari Ikut Dibombardir

Selain Bandar Abbas, sasaran penting lainnya berada di Provinsi Khuzestan.

Militer Amerika dilaporkan membombardir Bandar Udara Migas Aghajari.

Bandara ini memiliki nilai strategis yang sangat tinggi karena berada sangat dekat dengan Lapangan Minyak Aghajari, salah satu ladang minyak tertua dan terbesar yang dimiliki Iran.

Selama ini bandara tersebut menjadi jalur utama bagi:

  • pengiriman pekerja;
  • distribusi logistik;
  • pengangkutan peralatan industri migas;
  • dukungan operasional kawasan produksi minyak.

Khuzestan sendiri merupakan provinsi penghasil minyak terbesar di Iran sehingga setiap gangguan terhadap infrastruktur wilayah ini dapat berdampak langsung terhadap kapasitas produksi energi nasional.


Bom Bunker Buster Hantam Gudang Rudal Bawah Tanah

Salah satu serangan paling signifikan terjadi di Pangkalan Tempur Taktis Keempat Angkatan Udara Iran yang berada di Dezful, Provinsi Khuzestan.

Dalam operasi tersebut, militer Amerika Serikat dilaporkan menggunakan bom penghancur bunker (bunker buster).

Senjata khusus ini dirancang untuk menembus lapisan tanah maupun beton bertulang sebelum meledak di dalam sasaran.

Target utama operasi adalah gudang rudal bawah tanah yang berada di dalam kompleks pangkalan tersebut.

Tidak lama setelah bom menghantam sasaran, muncul ledakan susulan dalam skala besar, yang diduga berasal dari rudal maupun amunisi yang tersimpan di bawah tanah.

Ledakan berantai tersebut menjadi indikasi bahwa sasaran utama kemungkinan berhasil dihantam.


Dugaan Penggunaan HIMARS Jarak Jauh

Babak Taghvaee juga menyampaikan analisis bahwa Amerika Serikat diduga menggunakan sistem roket HIMARS yang ditempatkan di Kuwait.

Menurutnya, sistem tersebut meluncurkan rudal berjarak tempuh lebih dari 500 kilometer menuju wilayah Khuzestan.

Salah satu sasaran yang disebut terkena serangan adalah infrastruktur penyediaan air di provinsi tersebut.

Hingga kini belum terdapat konfirmasi resmi dari pemerintah Amerika Serikat mengenai penggunaan sistem HIMARS dalam operasi tersebut.


Iran Akui Fasilitas Air Terkena Serangan

Pemerintah Iran menyatakan bahwa dalam serangan terbaru pada 13 Juli 2026, sebuah rudal menghantam stasiun pompa air pertanian di Mahshahr, Provinsi Khuzestan.

Akibat serangan tersebut:

  • seorang petugas keamanan dilaporkan tewas;
  • empat orang lainnya mengalami luka-luka.

Pihak berwenang Iran juga mulai melakukan penilaian terhadap dampak kerusakan terhadap sistem distribusi air di kawasan tersebut.


Ancaman Balasan terhadap Fasilitas Air Negara-Negara Teluk

Babak Taghvaee memperingatkan bahwa apabila benar Amerika Serikat mulai menargetkan fasilitas penyediaan air Iran, maka Teheran berpotensi melakukan aksi balasan terhadap instalasi serupa di negara-negara Teluk.

Salah satu fasilitas yang dinilai paling rentan adalah pabrik desalinasi air laut di Kuwait, yang menjadi sumber utama pasokan air bersih bagi negara tersebut.

Serangan terhadap infrastruktur semacam itu berpotensi memicu dampak kemanusiaan yang jauh lebih besar dibandingkan serangan terhadap sasaran militer biasa.


Infrastruktur Strategis Iran Semakin Tertekan

Rangkaian operasi terbaru menunjukkan bahwa sasaran utama Amerika Serikat kini tidak lagi terbatas pada pangkalan militer dan sistem pertahanan udara.

Serangan mulai menyasar berbagai infrastruktur strategis yang menopang kemampuan militer dan logistik Iran, termasuk:

  • gudang rudal bawah tanah;
  • pangkalan udara;
  • jalur distribusi logistik;
  • fasilitas pendukung industri minyak;
  • infrastruktur penyediaan air.

Di sisi lain, strategi Iran yang berupaya menggunakan ancaman terhadap pasokan energi dunia sebagai alat tekanan justru dihadapkan pada kenyataan bahwa sejumlah fasilitas vital miliknya sendiri mengalami kerusakan akibat gelombang serangan Amerika Serikat.

Dengan eskalasi yang terus meningkat di Selat Hormuz serta munculnya berbagai dinamika geopolitik baru di kawasan lain, situasi keamanan internasional masih berada dalam fase yang sangat dinamis dan berpotensi berkembang lebih luas dalam waktu dekat. (***)

Timur Tengah di Ambang Ledakan Besar! AS Gempur Markas Rahasia Iran, Trump Umumkan Blokade Selat Hormuz

EtIndonesia.com – Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat dilaporkan melancarkan salah satu operasi militer terbesar terhadap Iran dalam beberapa waktu terakhir. Serangkaian serangan udara dan rudal yang dilakukan terhadap berbagai fasilitas militer strategis Iran diklaim menghantam pangkalan rudal bawah tanah, markas Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), hingga infrastruktur energi penting.

Di saat yang sama, konflik juga meluas ke kawasan Yaman setelah kelompok Houthi dan Arab Saudi kembali terlibat dalam saling serang. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa ketegangan di kawasan dapat berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas.

Operasi Militer Besar Amerika Serikat Menargetkan Infrastruktur Militer Iran

Menurut berbagai laporan, pada 12 Juli, militer Amerika Serikat melaksanakan operasi gabungan berskala besar yang melibatkan Angkatan Udara dan Angkatan Laut.

Operasi tersebut difokuskan pada penghancuran berbagai fasilitas militer penting milik Iran, terutama yang berada di wilayah selatan negara itu.

Sasaran utama disebut mencakup:

  • pangkalan rudal bawah tanah,
  • fasilitas penyimpanan amunisi,
  • markas Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC),
  • jaringan pertahanan udara,
  • serta berbagai infrastruktur pendukung operasi militer Iran.

Serangan dilakukan menggunakan kombinasi pesawat tempur, rudal presisi, dan bom penghancur bunker (bunker buster) yang dirancang untuk menembus lapisan beton tebal sebelum meledak di bawah permukaan tanah.

Pangkalan Rudal Bawah Tanah Dezful Menjadi Target Utama

Salah satu sasaran paling penting dalam operasi tersebut adalah fasilitas penyimpanan rudal bawah tanah yang berada di Pangkalan Tempur Taktis Keempat di kawasan Dezful, Iran bagian barat.

Bom penghancur bunker dilaporkan berhasil menembus kompleks bawah tanah sebelum memicu ledakan besar.

Tak lama kemudian terjadi ledakan sekunder yang jauh lebih dahsyat.

Bola api raksasa terlihat membubung tinggi ke udara sementara kawasan sekitar berubah menjadi lautan api.

Menurut analisis sejumlah pengamat militer, ledakan kedua kemungkinan berasal dari ikut meledaknya berbagai persenjataan yang tersimpan di dalam fasilitas tersebut, antara lain:

  • rudal balistik,
  • bahan bakar roket cair,
  • propelan padat,
  • bahan bakar rudal,
  • berbagai jenis bahan peledak militer.

Serangan terhadap fasilitas ini disebut sebagai salah satu pukulan paling berat yang pernah diterima IRGC terhadap jaringan penyimpanan rudalnya.

“Kota Rudal” Borazjan Ikut Digempur

Selain Dezful, kawasan Borazjan di Provinsi Bushehr juga dilaporkan menjadi sasaran pemboman.

Wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu kompleks rudal bawah tanah milik Garda Revolusi Iran atau yang sering dijuluki sebagai “kota rudal”.

Amerika Serikat kembali menggunakan bom penghancur bunker untuk menghancurkan berbagai fasilitas bawah tanah yang berada di lokasi tersebut.

Dalam operasi yang sama, sejumlah fasilitas rudal yang disebut selama ini mengancam keamanan kawasan Teluk juga diklaim berhasil dihancurkan, termasuk sistem yang diarahkan ke wilayah:

  • Uni Emirat Arab,
  • Kuwait,
  • Bahrain.

Selain itu, gudang amunisi milik Brigade Lapis Baja Independen ke-292 Angkatan Darat Iran juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.

Markas Rahasia Garda Revolusi Diklaim Berhasil Dihancurkan

Laporan lain menyebutkan bahwa Amerika Serikat memperoleh informasi intelijen yang sangat rinci mengenai keberadaan sebuah markas rahasia Garda Revolusi Iran yang sebelumnya tidak pernah dipublikasikan.

Melalui serangan presisi, markas tersebut diklaim berhasil dihancurkan.

Selain itu, dua markas penting Garda Revolusi juga dilaporkan menjadi sasaran, yaitu:

  • Markas Sarallah,
  • Markas Karbala.

Dalam operasi tersebut, sedikitnya 20 rudal dilaporkan ditembakkan ke berbagai sasaran di sepanjang pesisir selatan Iran.

Kota-kota yang disebut terdampak antara lain:

  • Abadan,
  • Bushehr,
  • Bandar Abbas,
  • serta sejumlah wilayah strategis lainnya di pesisir Iran.

Infrastruktur Minyak Iran Turut Menjadi Sasaran

Selain fasilitas militer, operasi tersebut juga dilaporkan menyasar sejumlah infrastruktur energi Iran.

Sebuah kapal tanpa awak permukaan (USV) milik Amerika Serikat dikabarkan menghancurkan salah satu pelabuhan militer Iran.

Di Mahshahr, sebuah stasiun pompa air juga disebut mengalami kerusakan berat.

Sementara itu di Pulau Kharg, fasilitas ekspor minyak seperti:

  • stasiun pompa,
  • jaringan pipa,
  • fasilitas distribusi minyak,dikabarkan ikut terkena serangan.

Menurut laporan tersebut, ini merupakan pertama kalinya Amerika Serikat secara langsung menyerang salah satu pusat utama ekspor minyak mentah Iran.

Citra satelit yang disebut berasal dari NASA juga diklaim memperlihatkan kobaran api besar di lokasi serangan.

Laporan Korban Jiwa di Pihak Iran

Media Iran melaporkan bahwa seorang perwira pertahanan udara Angkatan Laut Iran bernama Dehghan tewas dalam serangan tersebut.

Selain itu, Jenderal Ajili, Komandan Pasukan Komunikasi Operasi Khusus Garda Revolusi, juga disebut meninggal akibat serangan rudal sehari sebelumnya.

Laporan yang sama turut mengklaim bahwa Ayatollah Alafi, seorang tokoh agama berpengaruh di Iran, juga menjadi korban. Namun, informasi mengenai korban-korban tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Trump: Amerika Akan Menjamin Keamanan Selat Hormuz

Pada 13 Juli, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer yang dilakukan telah memberikan pukulan besar terhadap kemampuan militer Iran.

Menurut isi pernyataan yang dikutip dalam naskah, Trump juga menyampaikan bahwa Amerika Serikat kemungkinan akan mengambil tanggung jawab keamanan kawasan Timur Tengah secara lebih permanen.

Ia menegaskan bahwa:

  • Selat Hormuz akan tetap dibuka,
  • Amerika Serikat akan mengendalikan keamanan jalur pelayaran tersebut,
  • blokade laut terhadap Iran akan kembali diberlakukan.

Blokade tersebut disebut dijadwalkan mulai berlaku pada 14 Juli pukul 16.00.

Trump juga menyatakan bahwa pemerintahannya telah secara resmi memberi tahu Kongres mengenai dimulainya kembali operasi perang terhadap Iran.

Iran Mengeluarkan Peringatan bagi Seluruh Kapal

Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Iran mengeluarkan peringatan kepada seluruh kapal yang beroperasi di sekitar:

  • Selat Hormuz,
  • Laut Oman.

Iran memperingatkan bahwa kapal yang tetap memasuki kawasan tersebut berisiko menjadi sasaran tindakan militer.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa konfrontasi kedua negara masih berpotensi meningkat.

CENTCOM Kembali Meluncurkan Serangan Baru

Pada hari yang sama, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan dimulainya gelombang baru serangan udara terhadap Iran selatan.

Tahap awal operasi disebut melibatkan empat rudal yang menghantam sasaran di sekitar Konarak, Provinsi Sistan dan Baluchestan, memicu ledakan besar yang terlihat dari berbagai lokasi.

Konflik Houthi dan Arab Saudi Kembali Memanas

Di tengah meningkatnya ketegangan AS-Iran, konflik lain juga meletus di kawasan Yaman.

Sebuah pesawat milik Mahan Air yang terbang dari Teheran menuju Bandara Internasional Sana’a dilaporkan membawa delegasi Houthi beserta sejumlah pakar yang disebut berasal dari Garda Revolusi Iran.

Menanggapi informasi tersebut, pemerintah Yaman dikabarkan melakukan serangan terhadap landasan pacu Bandara Sana’a untuk mencegah pesawat tersebut mendarat.

Kelompok Houthi menuduh serangan dilakukan oleh Angkatan Udara Arab Saudi menggunakan rudal jelajah Storm Shadow.

Serangan tersebut mengakibatkan kerusakan besar pada landasan pacu bandara.

Houthi Membalas dengan Enam Rudal

Tak lama setelah insiden tersebut, kelompok Houthi meluncurkan serangan balasan.

Enam rudal ditembakkan ke wilayah selatan Arab Saudi dengan sasaran:

  • Bandara Internasional Abha,
  • Pangkalan Udara King Khalid.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa ini merupakan salah satu serangan rudal terbesar Houthi terhadap Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir.

Seorang pejabat senior Houthi, Mohammed Farah, juga menyerukan penutupan penuh Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Jika ancaman tersebut benar-benar direalisasikan, maka jalur perdagangan internasional berpotensi kembali terganggu.

Rusia Kirim Pesawat Komando ke Teheran

Di tengah meningkatnya eskalasi, sebuah pesawat komando pemerintah Rusia dilaporkan mendarat di Teheran.

Pesawat tersebut disebut berfungsi sebagai pusat komando bergerak yang digunakan untuk:

  • komunikasi keamanan tingkat tinggi,
  • koordinasi keadaan darurat,
  • pengelolaan krisis pemerintahan.

Kedatangannya memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan meningkatnya koordinasi antara Moskow dan Teheran di tengah situasi yang semakin memanas.

Laporan Mengenai Mahmoud Ahmadinejad Memicu Perhatian

Pada hari yang sama, media Amerika Serikat juga menerbitkan sebuah laporan investigasi yang mengklaim bahwa badan intelijen Israel, Mossad, selama bertahun-tahun menjalin hubungan rahasia dengan mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad.

Menurut laporan tersebut, berbagai pertemuan dilakukan di luar Iran dengan memanfaatkan forum akademik internasional sebagai kedok.

Laporan itu juga mengklaim Ahmadinejad dipersiapkan sebagai figur potensial untuk memimpin pemerintahan transisi apabila terjadi perubahan rezim di Iran.

Namun demikian, tuduhan tersebut belum memperoleh konfirmasi resmi maupun verifikasi independen sehingga masih berupa klaim yang memerlukan pembuktian lebih lanjut.

Situasi Masih Sangat Dinamis

Rangkaian perkembangan sepanjang 12–13 Juli menunjukkan bahwa ketegangan di Timur Tengah terus meningkat dengan melibatkan semakin banyak pihak. Operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran, respons dari Garda Revolusi Iran, kembali memanasnya konflik Houthi dan Arab Saudi, serta munculnya berbagai manuver diplomatik dan militer dari negara-negara lain memperlihatkan bahwa situasi masih sangat dinamis.

Meski berbagai klaim mengenai serangan, korban, maupun perkembangan politik terus bermunculan, sebagian informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Oleh karena itu, perkembangan terbaru masih perlu dipantau melalui pernyataan resmi dari pihak-pihak terkait dan lembaga internasional yang berwenang. (***)

4 Makanan Tinggi Protein yang Membantu Lansia Meningkatkan Imunitas dan Mempertahankan Massa Otot

Asupan protein cenderung menurun seiring bertambahnya usia, dan dampaknya sering kali muncul secara perlahan tanpa disadari. Ketika massa otot melemah, infeksi menjadi lebih lama sembuh dan tingkat energi menurun. Namun, saran yang sering diberikan kepada lansia biasanya berfokus pada makanan yang harus dikurangi atau dihindari, bukan pada makanan tinggi protein yang justru sangat dibutuhkan tubuh.

Para peneliti gizi di Tiongkok memiliki sebuah ungkapan yang patut diperhatikan: “Menambah asupan protein dapat memperpanjang usia.” Pedoman Gizi untuk Lansia Tiongkok Tahun 2022 yang diterbitkan oleh otoritas gizi nasional menjelaskan alasannya. Seiring bertambahnya usia, tubuh memproduksi protein lebih lambat tetapi memecahnya lebih cepat. 

Dalam jangka panjang, ketidakseimbangan ini menyebabkan hilangnya massa otot, menurunnya sistem kekebalan tubuh, dan memburuknya fungsi organ. Ketiga kondisi tersebut meningkatkan risiko penyakit dan kematian dini.

Empat jenis makanan tinggi protein yang terjangkau, jika dikonsumsi dalam jumlah yang tepat setiap hari, dapat membantu membalikkan tren tersebut secara signifikan. Para ahli gizi menekankan bahwa kualitas dan kemudahan penyerapan protein lebih penting daripada jumlahnya. Sistem pencernaan lansia menyerap protein dengan kurang efisien, sehingga kuncinya adalah memilih makanan yang mudah dimanfaatkan tubuh.

Kebutuhan Protein Meningkat Setelah Usia 55 Tahun

Setiap sel dan hampir seluruh proses metabolisme tubuh bergantung pada pasokan protein yang cukup. Bagi orang dewasa berusia di atas 55 tahun, ketergantungan ini semakin besar justru ketika kemampuan tubuh untuk mempertahankan pasokan protein mulai menurun.

National Council on Aging (NCOA) merekomendasikan konsumsi protein harian sebesar 1,0–1,2 gram per kilogram berat badan bagi lansia.

Penelitian dari Institut Nasional Gizi dan Kesehatan Tiongkok menemukan bahwa asupan protein harian yang memadai dapat meningkatkan aktivitas sel imun pada lansia sebesar 20 hingga 30 persen, sehingga mengurangi frekuensi infeksi saluran pernapasan, termasuk pilek dan bronkitis, serta mempercepat pemulihan saat sakit.

Risiko besar lainnya adalah hilangnya massa otot. Lansia secara bertahap kehilangan massa otot dalam kondisi yang dikenal sebagai sarkopenia, yang menyebabkan kelelahan, gangguan keseimbangan saat berjalan, serta kesulitan menaiki tangga atau membawa barang belanjaan. Protein merupakan bahan baku utama pembentukan otot. Tanpa asupan yang cukup, kehilangan otot akan semakin cepat meskipun seseorang rutin berolahraga.

Protein juga berperan dalam pembentukan enzim dan hormon yang melindungi jantung, hati, dan ginjal. Data klinis menunjukkan bahwa lansia yang mempertahankan asupan protein yang cukup memiliki tingkat penyakit kardiovaskular dan penyakit hati yang lebih rendah, serta fungsi ginjal yang lebih stabil dalam jangka panjang.

Kulit juga memperoleh manfaat berupa elastisitas yang lebih baik dan berkurangnya kerutan. Karena itulah para dokter kulit sering meninjau pola makan pasien sebelum merekomendasikan perawatan topikal.

Namun, lebih banyak protein tidak selalu lebih baik. Konsumsi protein yang berlebihan dapat membebani ginjal, terutama pada orang yang sudah memiliki gangguan ginjal. Tujuannya adalah memperoleh protein berkualitas tinggi dalam jumlah yang tepat dan konsisten, bukan mengonsumsi suplemen secara berlebihan.

1. Telur: Enam Gram Protein yang Hampir Sepenuhnya Diserap Tubuh

Satu butir telur per hari menyediakan sekitar 6–7 gram protein berkualitas tinggi dalam bentuk yang sangat mudah diserap tubuh.

Profil asam amino dalam protein telur sangat mirip dengan kebutuhan jaringan tubuh manusia, sehingga para ahli gizi menempatkannya sebagai salah satu sumber protein terbaik yang tersedia.

Cara memasaknya juga penting bagi lansia. Telur rebus setengah matang atau telur kukus mempertahankan nilai gizi dengan baik dan lebih mudah dicerna dibandingkan telur goreng, yang menambah beban sistem pencernaan karena kandungan lemaknya yang lebih tinggi.

2. Susu: Protein dan Perlindungan Tulang dalam Satu Gelas

Susu sapi mengandung protein whey, salah satu jenis protein yang paling mudah diserap tubuh.

Selain itu, susu juga menyediakan kalsium dan vitamin D secara bersamaan, sehingga sangat bermanfaat bagi lansia yang ingin menjaga kesehatan otot sekaligus tulang.

Satu gelas susu sekitar 300 mililiter mengandung sekitar 10 gram protein.

Minum susu hangat pada malam hari tampaknya memberikan manfaat tambahan. Banyak lansia melaporkan kualitas tidur yang lebih baik dibandingkan jika mengonsumsinya pada pagi hari.

Bagi yang mengalami intoleransi laktosa, susu bebas laktosa atau yogurt tawar dapat menjadi alternatif dengan manfaat gizi yang serupa.

3. Protein Nabati: Tahu dan Produk Kedelai

Makanan berbahan dasar kedelai, termasuk tahu, susu kedelai, dan tahu kering, menyediakan protein nabati berkualitas tinggi tanpa kolesterol.

Karena itu, makanan ini sangat cocok bagi lansia yang ingin mengelola risiko penyakit kardiovaskular.

Segelas susu kedelai saat sarapan dan satu porsi tahu saat makan siang dapat menyediakan sekitar 20 gram protein nabati.

Mengombinasikan tahu dengan telur atau ikan dapat meningkatkan pemanfaatan protein secara keseluruhan dibandingkan mengonsumsi masing-masing sumber protein tersebut secara terpisah.

4. Ikan: Protein Mudah Dicerna yang Juga Melindungi Jantung

Protein ikan memiliki tekstur yang lebih halus dibandingkan daging merah sehingga lebih mudah dicerna. Keunggulan ini menjadi semakin penting seiring menurunnya kemampuan pencernaan pada usia lanjut.

Ikan juga mengandung asam lemak tak jenuh yang membantu mengurangi peradangan pada sistem kardiovaskular.

Disarankan untuk mengonsumsi dua hingga tiga porsi ikan per minggu, masing-masing sekitar 113 gram (4 ons).

Jenis ikan dengan sedikit duri dan daging yang lembut, seperti ikan mas (crucian carp) atau kakap laut (sea bass), sangat praktis untuk lansia.

Mengukus atau merebus ikan dalam kaldu membantu mempertahankan kandungan protein dan asam lemak yang baik bagi jantung. Sebaliknya, memasak dengan saus yang terlalu berat atau menggoreng dalam minyak banyak dapat mengurangi manfaat tersebut.

Tiga Bulan Konsumsi Rutin Dapat Meningkatkan Imunitas, Otot, dan Kesehatan Kulit

Jika dikonsumsi secara teratur dalam jumlah yang tepat, keempat makanan ini dapat menyediakan protein yang cukup untuk mengimbangi meningkatnya laju pemecahan protein tubuh setelah usia 55 tahun.

Peningkatan biasanya pertama kali terlihat pada sistem kekebalan tubuh, ditandai dengan berkurangnya infeksi saluran pernapasan dan pemulihan yang lebih cepat saat sakit.

Selanjutnya, daya tahan otot mulai membaik. Menaiki tangga terasa lebih ringan, pekerjaan rumah tidak terlalu melelahkan, dan rasa letih yang selama ini dianggap sebagai bagian normal dari penuaan mulai berkurang.

Fungsi organ umumnya membaik secara lebih bertahap, tetapi indikator kesehatan jantung dan hati biasanya menunjukkan perkembangan positif pada mereka yang sebelumnya kekurangan protein.

Perubahan pada kulit biasanya muncul paling akhir, berupa elastisitas yang lebih baik, warna kulit yang lebih sehat, dan berkurangnya kerutan.

Kelelahan yang Tidak Dapat Dijelaskan Mungkin Menandakan Terkurasnya Energi, Bukan Penyakit Fisik

Dalam pemahaman kebanyakan orang,  “pandemi” biasanya dikaitkan dengan virus, bakteri, atau laporan medis. Namun, dalam sejarah penelitian spiritual di Amerika Serikat pada abad ke-20, Edgar Cayce—yang dikenal sebagai “Nabi yang Tertidur” (Sleeping Prophet)—meninggalkan sebuah peringatan yang sangat berbeda: wabah yang terjadi pada tingkat kesadaran manusia.

Menurut ribuan pembacaan (readings) yang dilakukan Cayce dalam kondisi hipnosis mendalam, ia tidak hanya mendiagnosis penyakit fisik, tetapi juga mengidentifikasi ketidakseimbangan dalam jiwa dan kesadaran. Catatan-catatan tersebut, yang kemudian dihimpun sebagai “Catatan Akashik” (Akashic Records), berulang kali menyebut sebuah fenomena yang tidak terlihat namun berlangsung lama: “infeksi berbasis kesadaran” yang dipelihara oleh rasa takut, kemarahan, dan emosi negatif.

Kelelahan yang Tidak Dapat Dijelaskan Bukan Masalah Fisik?

Pembacaan Cayce menunjukkan bahwa tanda-tanda awal infeksi ini sering kali sangat halus. Banyak orang mengalami kelelahan jangka panjang yang tidak dapat dijelaskan, merasa tidur tidak memberikan kesegaran, tetapi hasil pemeriksaan medis menunjukkan semuanya normal. Kelelahan ini bukan berasal dari kerja fisik, melainkan dari perasaan bahwa “energi sedang terkuras,” seolah-olah daya hidup perlahan-lahan disedot habis.

Dalam uraian Cayce, ini bukanlah kondisi sesaat, melainkan keadaan kehilangan energi yang berlangsung lama. Ketika seseorang terjebak dalam pikiran negatif, perasaan tidak berdaya, atau kehilangan harapan terhadap masa depan, kondisi ini akan semakin mendalam secara bertahap.

Lingkaran Pikiran yang Sulit Dikendalikan

Tanda kedua muncul dalam aspek psikologis. Cayce mencatat bahwa ketika pikiran-pikiran negatif terus berulang dan tidak dapat dihentikan—bahkan ketika seseorang menyadari bahwa pikiran tersebut tidak masuk akal—hal itu bukan sekadar suasana hati yang buruk, melainkan sebuah lingkaran batin yang “diperkuat.”

Pikiran-pikiran ini sering berpusat pada luka masa lalu, penolakan terhadap diri sendiri, atau ketakutan akan masa depan, seperti rekaman yang terus diputar berulang kali. Cayce meyakini bahwa fenomena ini tidak muncul begitu saja, melainkan diperkuat oleh kekuatan pada tingkat kesadaran yang bekerja pada luka emosional yang sudah ada sebelumnya.

Ketika Gejolak Batin Menjadi Musuh di Dunia Luar

Tahap yang paling serius adalah apa yang disebut sebagai “proyeksi.” Catatan tersebut menunjukkan bahwa ketika seseorang mulai memproyeksikan kecemasan, ketakutan, dan penderitaan batinnya ke dunia luar—meyakini bahwa dunia penuh dengan musuh dan terjebak dalam kemarahan terus-menerus atau mentalitas sebagai korban—hal itu tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi juga dapat memengaruhi orang lain.

Cayce berpendapat bahwa dalam keadaan seperti ini, seseorang secara tidak sadar menjadi pembawa rasa takut dan emosi yang bersifat konfrontatif, menarik lebih banyak orang ke frekuensi yang sama dan menciptakan lingkaran negatif kolektif yang sulit diputus.

Medan Pertempuran yang Tak Terlihat: Kesadaran dan Frekuensi

Akar dari semua ini berasal dari pemahaman Cayce mengenai “struktur realitas.” Ia berulang kali menyatakan bahwa dunia tidak hanya bersifat material, tetapi juga merupakan spektrum kesadaran dengan berbagai frekuensi yang berbeda.

Pikiran dan emosi manusia, menurut pandangannya, bukanlah sesuatu yang sepenuhnya pribadi; keduanya merupakan sinyal yang terus-menerus dipancarkan ke luar.

Dari sudut pandang ini, rasa takut, kemarahan, dan kebencian bukan sekadar kondisi psikologis—melainkan sesuatu yang menarik medan energi dengan frekuensi serupa. Cayce menggambarkan keberadaan yang bergantung pada emosi negatif berfrekuensi rendah ini sebagai bentuk “parasitisme spiritual” kolektif.

Satu-Satunya Penawar: Kedaulatan Getaran Batin

Apakah ada cara untuk melawan hal ini? Jawaban Cayce cukup sederhana: bukan dengan menentangnya, melainkan dengan mentransformasikannya.

Ia menegaskan bahwa infeksi pada tingkat kesadaran tidak dapat ditangkal dengan ketakutan ataupun dihilangkan melalui perlawanan. Penawar yang sesungguhnya adalah menjadikan diri sebagai “inang yang tidak cocok.”

Sebagaimana parasit tidak dapat bertahan hidup dalam lingkungan yang sehat, ketika frekuensi batin seseorang menjadi stabil dalam rasa syukur, belas kasih, dan kejernihan pikiran, pengaruh-pengaruh berfrekuensi rendah tersebut akan memudar dengan sendirinya.

Cayce menguraikan tiga prinsip praktis:

  1. Berhenti menguras energi diri sendiri secara tidak sadar dan kembali melakukan aktivitas yang membawa kegembiraan serta kreativitas.
  2. Secara sengaja menumbuhkan emosi yang berlawanan dengan rasa takut, seperti rasa syukur, pengampunan, dan empati.
  3. Mengingat bahwa Anda bukan korban yang rapuh, melainkan makhluk yang memiliki kemampuan untuk memilih dan menyadari.

Sebuah Peringatan yang Belum Berakhir

Dari sudut pandang modern, ajaran Edgar Cayce dapat dipandang sebagai perpaduan antara psikologi, spiritualitas, dan simbolisme. Namun, di tengah meningkatnya kecemasan, polarisasi sosial, dan derasnya arus informasi yang membanjiri kehidupan manusia saat ini, pesannya terasa semakin relevan.

Ini bukan peringatan untuk hidup dalam ketakutan, melainkan seruan untuk merebut kembali kendali atas diri sendiri. Menurut pandangan Cayce, ancaman terbesar tidak selalu datang dari luar, tetapi dari keadaan batin yang dikuasai rasa takut, kemarahan, dan keputusasaan. Perlindungan yang paling kuat bukanlah perlawanan terhadap dunia, melainkan kemampuan menjaga kejernihan pikiran, keteguhan hati, dan kesadaran dalam setiap pilihan hidup. Pada akhirnya, yang paling menentukan masa depan bukanlah dunia di sekitar kita, tetapi diri kita sendiri dan pilihan yang kita buat.

Artikel ini terbit di visiontimes.com

Bagaimana Suku Pejuang Perbatasan Membangun Kekaisaran Kushan—dan Mengirim Misionaris Buddha Pertama ke Tiongkok

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya)

Sekitar 2.200 tahun silam, sebuah suku bernama Yuezhi (月氏) yang berasal dari utara Pegunungan Qilian di wilayah perbatasan Tiongkok terpaksa meninggalkan tanah air mereka setelah didesak oleh Xiongnu, sebuah konfederasi nomaden yang terdiri dari berbagai suku.

Yuezhi melarikan diri ke arah barat menuju hulu lembah Sungai Oxus (Amu Darya) di Asia Tengah. Ketika kerajaan-kerajaan Indo-Yunani mulai melemah, mereka bergerak lebih jauh ke selatan, menggantikan kekuasaan Indo-Yunani di Baktria dan mendirikan salah satu kekaisaran terkuat pada masanya—Kekaisaran Kushan—yang menghubungkan Tiongkok, Asia Tengah, India, dan dunia Romawi.

Kekaisaran Kushan menjadi pusat geopolitik pada zamannya karena letaknya yang strategis. Dukungan para penguasanya memainkan peran penting dalam penyebaran agama Buddha, terutama ke Tiongkok, di mana Kekaisaran Kushan dikenal sebagai Guishuang (貴霜). Wilayah Baktria kira-kira mencakup Afghanistan, Tajikistan, Uzbekistan, dan sebagian Turkmenistan saat ini.

Pada masa Kekaisaran Kushan inilah dua biksu India, didampingi seorang utusan Tiongkok, memasuki Luoyang, ibu kota Dinasti Han saat itu, sambil membawa kitab-kitab suci Buddha dan patung-patung suci di atas kuda putih. Di sana mereka mendirikan Kuil Kuda Putih (Baima Si) dan biara yang menjadi tempat ibadah Buddha pertama di Tiongkok.

Peninggalan arkeologis Kushan masih dapat ditemukan dan dilestarikan hingga kini di Asia Tengah, Afghanistan, Pakistan, India, dan Tiongkok. Warisan tersebut memberikan jendela langka untuk memahami sejarah suku pejuang penunggang kuda yang kemudian membangun sebuah kekaisaran besar.

“Buddha Duduk Kimbell”, dengan prasasti bertuliskan “tahun ke-4 pemerintahan Kanishka” (131 M) dari Kekaisaran Kushan, yang kini disimpan di Kimbell Art Museum, Texas. (TravelBear71/Wikimedia Commons/CC BY-SA 2.0).

Kanishka, Kaisar Besar Kushan yang Menolak Kekerasan

Kaisar Kushan yang paling terkenal adalah Kanishka. Ia hidup sekitar 100 tahun setelah Raja Indo-Yunani Menander, yang menurut tradisi memeluk agama Buddha setelah perdebatan terkenalnya dengan biksu Nagasena.

Kanishka juga hidup sekitar 350 tahun setelah Kaisar Ashoka, yang beralih kepada agama Buddha setelah memenangkan pertempuran berdarah dan kemudian mengirim para misionaris untuk menyebarkan ajaran Buddha ke berbagai penjuru dunia yang dikenal saat itu.

Seperti Ashoka dan Menander, Kanishka mencari bimbingan spiritual ketika berada di puncak kekuasaannya. Ia terguncang oleh besarnya kekerasan dan penderitaan yang ditimbulkan dalam perang melawan seorang raja Partia (Iran) dan kemudian meminta nasihat para pemuka agama.

Meski demikian, tidak sepenuhnya jelas apakah Kanishka secara resmi memeluk agama Buddha. Koin-koin yang diterbitkannya menampilkan dewa-dewa dari berbagai kepercayaan. Hal ini menunjukkan bahwa ia mungkin memandang dirinya sebagai penguasa sebuah kekaisaran multireligius yang dihuni penganut Shaivisme, Buddha, dan Zoroastrianisme.

Raoul McLaughlin dalam bukunya Roman Empire and the Silk Routes mencatat tradisi Buddha yang mengisahkan penyesalan Kanishka setelah perang. Setelah membangun sebuah kekaisaran besar, Kanishka mengumpulkan pasukan dari kerajaan-kerajaan bawahannya untuk menyerang kerajaan-kerajaan di Cekungan Tarim (kini Xinjiang).

Namun, pasukannya menolak melintasi jalur pegunungan Pamir yang berbahaya dan berada di ketinggian ekstrem, yang membentang di antara wilayah Pakistan, Afghanistan, dan Tajikistan saat ini.

Kisah tersebut secara khusus menggambarkan adanya “gajah putih” yang ditunggangi pasukan asing dalam barisan depan, sementara Kanishka mengikuti di belakang bersama tentaranya. Kuda-kuda dan gajah-gajah itu menolak menyeberangi celah pegunungan yang curam. Pada saat kritis antara hidup dan mati itulah Kanishka mengalami wahyu ilahi dan memutuskan meninggalkan pertumpahan darah.

Utusan Tiongkok Mengunjungi Kekaisaran Kushan

Kanishka dikenal sebagai pelindung besar agama Buddha karena pembangunan kuil dan biara serta dukungannya terhadap konferensi dan misi Buddha ke negeri-negeri yang jauh, terutama Tiongkok dan kawasan timur lainnya.

Para pedagang dan misionaris Buddha Kushan melakukan perjalanan luas melalui Jalur Sutra menuju Tiongkok. Namun, agama Buddha juga mencapai Tiongkok pada masa Dinasti Han melalui jalur laut dari pesisir timur anak benua India.

Pada masa inilah adik tiri Kaisar Ming (memerintah tahun 58–75 M), yaitu Liu Ying, menjadi salah satu orang Tiongkok pertama yang memeluk agama Buddha.

McLaughlin menulis bahwa pada tahun 65 M, sebuah penyelidikan menyimpulkan bahwa keyakinan Liu Ying tidak menimbulkan ancaman bagi kekaisaran. Kaisar kemudian mengirim seorang utusan hingga ke tanah kelahiran Buddha untuk mempelajari agama baru yang misterius tersebut.

Utusan itu kembali ke Tiongkok pada tahun 67 M bersama dua biksu Buddha India, Jie Yemoteng (Kashyapa Matanga, 迦葉摩騰) dan Zhu Falan (Dharmaratna, 竺法蘭).

Mereka memasuki Luoyang dengan membawa kitab-kitab Buddha atau sutra di atas kuda putih. Karena itulah biara yang mereka dirikan di pinggiran ibu kota kemudian dikenal sebagai Kuil Kuda Putih (白馬寺).

Sejak saat itu, agama Buddha mulai memperoleh dukungan dari istana kekaisaran Tiongkok, dan lukisan serta patung Buddha Sakyamuni secara bertahap muncul di berbagai wilayah negeri tersebut.

Misionaris Buddha Kushan lainnya yang terkenal adalah Lokaksema (支婁迦讖, Zhiluojiachen), yang mengajar di Luoyang antara tahun 150 hingga 189 M. Karena fasih berbahasa Tionghoa, ia menerjemahkan Sutra Prajnaparamita, yang dikenal sebagai ajaran tentang praktik jalan kebijaksanaan.

Warisan Yunani dalam Kebudayaan Kushan

Karena Kekaisaran Kushan berada di persimpangan berbagai peradaban, bangsa Kushan tidak hanya menjadi pelindung berbagai agama, tetapi juga pendorong perpaduan dan pengembangan budaya.

Dua pusat budaya dan ekonomi mereka yang sangat penting adalah Gandhara dan kota Taxila di India kuno.

Dalam perkembangan sejarah, setelah menggantikan kekuasaan Indo-Yunani di kawasan tersebut, bangsa Kushan mengawasi berkembangnya Gandhara dan Taxila, tempat budaya Yunani dan Kushan semakin menyatu.

Gandhara, yang terletak di wilayah Pakistan barat laut dan Afghanistan timur saat ini, terkenal karena memadukan teknik seni Yunani, realisme Romawi, motif dekoratif Persia, dan tema-tema Buddha dari India.

Kuil dan biaranya kemudian digambarkan dalam catatan perjalanan biksu Tiongkok Faxian (法顯) dan Xuanzang (玄奘) berabad-abad setelah Kekaisaran Kushan lenyap.

Taxila berkembang menjadi pusat pembelajaran, perdagangan, dan agama Buddha yang penting di wilayah Punjab, Pakistan saat ini.

Sebelumnya, Raja Yunani-Baktria Demetrius telah mendirikan kota Yunani berdinding bernama Sirkap di seberang Taxila.

Menurut McLaughlin, kedua pusat tersebut berbagi fungsi administratif, sementara percetakan uang kerajaan tetap berada di Taxila.

Pada tahun 1913, para arkeolog Inggris menemukan Stupa Dharmarajika, yang juga dikenal sebagai Stupa Besar Taxila. Bangunan ini awalnya didirikan oleh Kaisar Ashoka pada abad ke-3 SM untuk menyimpan relik Buddha Sakyamuni.

Temuan arkeologis menunjukkan bahwa stupa tersebut menampilkan motif Yunani (Helenistik) bersama berbagai unsur seni Greco-Buddha lainnya.

Menemukan Warisan Kushan di Asia Selatan Masa Kini

Ketertarikan penulis terhadap bangsa Kushan bermula beberapa tahun lalu ketika penulis mengunjungi situs Buddha era Kushan di Ambaran, yang terletak di tepi Sungai Chenab, salah satu sungai utama di cekungan Sungai Indus, dekat kota kelahiran penulis, Jammu, di India utara, tidak jauh dari perbatasan India-Pakistan saat ini.

Sangat menarik membayangkan bagaimana bangsa Yuezhi bermigrasi dari wilayah perbatasan Tiongkok, melintasi celah-celah pegunungan tinggi dan medan yang keras, hingga berhasil membangun Kekaisaran Kushan yang kuat di antara Asia Tengah, Asia Barat, dan Asia Selatan.

Ketertarikan itu semakin dalam ketika penulis membaca buku A Short History of Gurjars karya penulis Pakistan Rana Ali Hasan Chauhan, yang diterbitkan di India oleh Gurjar Desh Charitable Trust.

Buku tersebut menyebutkan bahwa arkeolog Inggris Alexander Cunningham mengaitkan populasi Gurjar modern di India, Afghanistan, dan Pakistan dengan bangsa Kushan, yang hingga kini masih merupakan komunitas yang cukup besar.

Menariknya, banyak Gurjar nomaden masih melakukan perjalanan tahunan bersama kuda, bagal, kambing, dan domba mereka sejauh ratusan kilometer melalui jalur tradisional di Pegunungan Himalaya India serta pegunungan tinggi Pakistan barat laut dan Afghanistan timur.

Buku itu bahkan melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa wilayah di sebelah timur Iran, yang secara umum mencakup Afghanistan saat ini, disebut sebagai tanah “Kush” dalam Perjanjian Lama.

Wilayah tersebut terletak di selatan Asia Tengah, di balik pegunungan yang dikenal sebagai Hindu Kush. Karena itulah ketika Kanishka berkuasa di kawasan tersebut, ia disebut sebagai seorang Kushan, dan dari sinilah suku penunggang kuda Yuezhi dari utara Pegunungan Qilian kemudian dikenal sebagai bangsa Kushan.

Sejarah tidak pernah berjalan secara lurus dan tidak pernah bersifat statis. Peradaban manusia selalu saling terhubung, berinteraksi, dan berpadu secara dinamis, membentuk pengetahuan dan potensi umat manusia di seluruh benua dan negara yang kita kenal saat ini.

Meskipun  lahir dalam keluarga India, penulis memiliki nama Yunani. Hingga beberapa waktu lalu, itulah satu-satunya hubungan saya dengan Yunani.

Kemudian penulis mulai menelusuri sejarah wilayah tempat saya berasal, sebuah sejarah yang membentang selama berabad-abad di sepanjang cekungan Sungai Indus—dari Ladakh, Jammu dan Kashmir, Punjab, serta Himachal Pradesh hingga Pakistan dan Afghanistan timur saat ini.

Dalam proses itu, saya menemukan tidak hanya nama-nama tempat yang memiliki kaitan dengan Yunani, tetapi juga hubungan yang mendalam antara budaya, agama, spiritualitas, sejarah, dan arkeologi Yunani dan India, khususnya di India utara.

Ketika Dharma Buddha mencapai bangsa Yunani, ajaran tersebut diterjemahkan sebagai Eusebeia, yang berarti “kesalehan” atau “penghormatan.”

Karena itu, Eusebia (सद्भक्ति dalam bahasa Sanskerta; 淑敬 dalam bahasa Tionghoa) merupakan upaya untuk mengeksplorasi hubungan tersebut secara serius dan membagikannya kepada dunia, dengan harapan dapat menerangi ikatan abadi antara Timur dan Barat.

Artikel ini sebelumnya terbit di visiontimes.com

Peringatan 10 Tahun Putusan Arbitrase Laut Tiongkok Selatan, 14 Negara Bersama-sama Mendesak Tiongkok Mematuhi Hukum Internasional 

Pada 12 Juli 2016, Mahkamah Arbitrase Permanen (Permanent Court of Arbitration/PCA) memutuskan bahwa klaim perluasan hak Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan tidak memiliki dasar hukum. Sepuluh tahun kemudian, 14 negara mengeluarkan pernyataan bersama yang kembali menegaskan bahwa putusan tersebut mengikat secara hukum serta mendesak pemerintah PKT untuk mematuhi hukum internasional.

EtIndonesia.com Pada 12 Juli 2026, Amerika Serikat, Jepang, Filipina, dan 11 negara lainnya menerbitkan pernyataan bersama untuk memperingati 10 tahun Putusan Arbitrase Laut Tiongkok Selatan, yang dinilai sebagai tonggak penting. Dalam pernyataan tersebut, mereka kembali menegaskan bahwa klaim ekspansif Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan tidak memiliki dasar hukum.

Pada 12 Juli 2016, Mahkamah Arbitrase Permanen memutuskan bahwa klaim hak maritim dan berbagai aktivitas Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan bertentangan dengan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS).

Meskipun Filipina memenangkan perkara tersebut, pemerintah PKT hingga kini tetap menolak menerima putusan arbitrase tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, kapal-kapal Tiongkok beberapa kali menggunakan meriam air (water cannon) untuk menghalangi misi kapal Filipina di Laut Tiongkok Selatan, sehingga berulang kali memicu ketegangan dan bentrokan di laut.

“Putusan ini tidak hanya menguntungkan Filipina, tetapi juga bermanfaat bagi seluruh dunia. Putusan tersebut menegaskan sifat mengikat dari Konvensi PBB tentang Hukum Laut dan melindunginya dari upaya-upaya revisi yang didorong oleh kepentingan sempit, rezim otoriter, dan kekuatan diktator,” ujar Menteri Pertahanan Filipina, Gilberto Teodoro. 

Dalam pernyataan bersama tersebut, ke-14 negara menegaskan bahwa putusan arbitrase merupakan putusan final dan mengikat secara hukum bagi Tiongkok maupun Filipina. Mereka juga menyerukan agar pemerintah PKT mematuhi hukum internasional.

Berdasarkan laporan NTD Television oleh Li Jiayin dari Amerika Serikat

Iran Kembali Menyerang Kapal Dagang, Militer AS Melancarkan Tiga Gelombang Serangan terhadap Lebih dari 300 Sasaran

Pada Sabtu (11 Juli), Iran kembali dilaporkan menyerang sebuah kapal dagang, menyebabkan kapal tersebut terbakar dan seorang awak kapal dinyatakan hilang. Sebagai tanggapan, militer Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan ketiga terhadap Iran dalam pekan itu, dengan menghancurkan sekitar 140 sasaran militer.

EtIndonesia.com Pada Minggu 12 Juli, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi semua kapal, dan militer AS telah “ditempatkan serta siap sepenuhnya” untuk menjamin kebebasan pelayaran.

Pada malam 11 Juli, militer AS mengerahkan pesawat tempur, drone, dan kapal perang untuk menyerang berbagai sasaran Iran menggunakan senjata berpemandu presisi.

Target serangan meliputi:

  • Pangkalan rudal Iran.
  • Fasilitas drone.
  • Instalasi angkatan laut.
  • Gudang amunisi.
  • Jaringan komunikasi militer.
  • Pos pengawasan di wilayah pesisir.

Menurut CENTCOM, operasi tersebut dipicu oleh serangan yang dilakukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terhadap kapal kontainer berbendera Siprus bernama GFS Galaxy.

CENTCOM menyatakan: “Seorang awak kapal dinyatakan hilang. Akibat kebakaran dan kerusakan parah pada ruang mesin, kapal tersebut tidak lagi dapat melanjutkan pelayaran.”

Pihak Amerika menyatakan bahwa setelah sebelumnya dimintai pertanggungjawaban atas serangan terhadap kapal dagang, Iran masih diberi kesempatan untuk mematuhi nota kesepahaman (memorandum of understanding). Namun, menurut AS, Iran tidak memenuhi komitmen tersebut sehingga memicu gelombang serangan ketiga yang lebih besar.

CENTCOM juga menyatakan bahwa atas perintah Presiden Amerika Serikat sekaligus Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, Donald Trump, militer AS telah melancarkan tiga gelombang serangan udara dalam satu pekan dengan menghantam lebih dari 300 sasaran untuk mengurangi kemampuan Iran menyerang kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

Pada Minggu (12 Juli), Iran dilaporkan kembali melakukan serangan balasan. Menurut laporan tersebut, Iran mengklaim telah:

  • Menyerang kapal dagang kedua.
  • Kembali menutup Selat Hormuz.
  • Meluncurkan rudal balistik ke fasilitas militer Amerika Serikat di beberapa negara kawasan Teluk.

Pada hari yang sama, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar mengkonfirmasi bahwa mereka telah mencegat sasaran udara yang dianggap sebagai ancaman.

Sementara itu, CENTCOM kembali menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka untuk seluruh kapal, dan militer Amerika Serikat telah berada pada posisi yang siap untuk menjamin kebebasan navigasi di jalur pelayaran internasional tersebut.

Reporter Televisi NTD, Ning Xiu dan Zhang Ruiqi melaporkan

【Laporan Khusus】Kebijakan Baru Trump Mendorong Perusahaan Tiongkok Keluar dari AS, tetapi Pabrik dan Teknologinya Tetap Tinggal

Persaingan ekonomi, perdagangan, dan teknologi antara Amerika Serikat dan Tiongkok terus meningkat. Di bawah kebijakan baru pemerintahan Presiden Donald Trump, semakin banyak perusahaan Tiongkok mulai menarik diri dari pasar Amerika, terutama di sektor-sektor sensitif seperti energi bersih.

EtIndonesia.com Sebuah laporan menyebutkan bahwa meskipun sebagian perusahaan Tiongkok memilih meninggalkan Amerika Serikat, pabrik, peralatan, serta teknologi produksi yang telah mereka bangun justru diambil alih oleh investor AS.

Menurut laporan majalah The Economist, setelah Amerika Serikat mengesahkan One Big Beautiful Bill Act pada tahun 2025, perusahaan-perusahaan yang memiliki hubungan dengan Tiongkok tidak lagi berhak menerima subsidi dari pemerintah AS. Akibatnya, banyak perusahaan Tiongkok di berbagai wilayah Amerika menjual aset energi bersih mereka dengan harga murah.

Seorang pembeli mengungkapkan bahwa beberapa aset dijual dengan potongan harga hingga 40%.

Aset yang dijual bukan hanya berupa pabrik dan peralatan, tetapi juga mencakup teknologi produksi serta know-how (pengetahuan teknis dan pengalaman operasional) yang telah dikembangkan perusahaan selama bertahun-tahun.

Salah satu contohnya adalah perusahaan energi surya Tiongkok Trina Solar, yang membangun pabrik panel surya berkapasitas 5 gigawatt di Dallas, Texas. Sebelumnya pabrik tersebut diperkirakan dapat menerima subsidi pemerintah AS hingga US$350 juta per tahun. Namun setelah One Big Beautiful Bill Act diberlakukan, subsidi tersebut dihentikan.

Trina Solar membangun pabrik itu pada tahun 2024. Hanya beberapa hari setelah mulai beroperasi, hak kekayaan intelektual terkait dijual kepada sebuah perusahaan di Singapura, yang kemudian melisensikannya kepada perusahaan energi Amerika T1 Energy.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa sejak tahun 2025, hampir US$9 miliar investasi Tiongkok di sektor energi terbarukan di Amerika Serikat telah dibatalkan, ditangguhkan, atau dijual kepada investor lokal Amerika. Sebagai perbandingan, pada tahun 2022 dan 2023 nilainya disebut hampir nol.

Profesor Sun Guoxiang menyebut fenomena ini sebagai: “Dekapitalisasi Tiongkok, tetapi tetap mempertahankan warisan teknologinya.”

“Amerika Serikat sedang beralih dari sekadar melarang teknologi Tiongkok menjadi menyerap teknologinya sambil menghilangkan kendali perusahaan Tiongkok. Ini bukan sekadar kemunduran perusahaan Tiongkok, tetapi menunjukkan bahwa persaingan industri antara AS dan Tiongkok telah memasuki tahap baru. Di permukaan terlihat sebagai pemisahan ekonomi (decoupling), tetapi pada kenyataannya merupakan decoupling yang selektif disertai penyerapan teknologi secara selektif,” ujarnya. 

Kolumnis The Epoch Times, Wang He, berpendapat bahwa kesulitan perusahaan Tiongkok di sektor energi bersih Amerika berakar pada memburuknya hubungan strategis antara kedua negara.

“Investasi perusahaan Tiongkok di Amerika pada dasarnya merupakan akibat dari penilaian yang keliru terhadap arah hubungan AS-Tiongkok. Kedua negara saling tidak percaya secara strategis. Sulit membayangkan Amerika mengizinkan perusahaan dari negara yang dianggap sebagai pesaing strategis membangun fasilitas energi dalam skala besar di wilayahnya. Faktor utama yang memicu situasi saat ini adalah kebijakan luar negeri Beijing yang memicu langkah balasan dari Amerika Serikat,” ujarnya. 

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Tiongkok membangun rantai industri energi baru melalui subsidi dan berbagai kebijakan pendukung, serta mendorong perusahaan-perusahaan domestik untuk berekspansi ke luar negeri.

The Economist mencatat bahwa subsidi besar-besaran pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden sempat menarik banyak perusahaan Tiongkok berinvestasi di Amerika Serikat, sehingga mereka untuk sementara dapat mengurangi tekanan persaingan yang sangat ketat di pasar domestik Tiongkok.

Namun Wang He menilai bahwa kebijakan pemerintahan Trump saat ini bukan sekadar penyesuaian kebijakan industri.

“Selain mempertimbangkan kebutuhan tenaga kerja pada era kecerdasan buatan (AI), jaringan listrik juga merupakan infrastruktur yang sangat penting. Jika perusahaan Tiongkok memasang banyak fasilitas dan produknya ke dalam jaringan listrik Amerika, muncul kekhawatiran adanya risiko keamanan atau ‘kuda Troya,” ujarnya. 

“Oleh karena itu, perubahan kebijakan Trump juga didorong oleh pertimbangan keamanan nasional. Dalam bidang ini, pemisahan antara kedua negara hampir pasti akan terus berlangsung,” katanya. 

Sementara itu, Profesor Xie Tian berpendapat bahwa industri energi baru Tiongkok pada awalnya berkembang dengan mempelajari teknologi Amerika. Kini sebagian teknologi dan kapasitas produksi tersebut kembali ke Amerika dalam bentuk yang berbeda.

“Begitu teknologi ini kembali ke Amerika dan diproduksi secara besar-besaran berdasarkan fondasi teknologi Amerika sendiri, sangat mungkin biaya produksinya akan turun hingga lebih murah daripada di Tiongkok. Hal ini dapat menjadi ancaman besar bagi masa depan perusahaan-perusahaan Tiongkok,” ujarnya. 

“Jika perusahaan Amerika kemudian berkembang lebih jauh dan kembali bersaing di pasar global melawan perusahaan Tiongkok, maka Tiongkok bisa mengalami kerugian ganda,” katanya. 

Profesor Sun Guoxiang juga menilai bahwa tantangan terbesar bagi Beijing adalah kenyataan bahwa industri energi baru, yang sebelumnya merupakan salah satu sektor strategis Tiongkok dengan daya saing global, kini justru semakin sering dipandang oleh Amerika Serikat dan sebagian negara Barat sebagai risiko terhadap keamanan nasional.

“Akibatnya, ekspansi perusahaan Tiongkok ke luar negeri tidak lagi sekadar persoalan bisnis, tetapi juga menjadi objek penilaian geopolitik. Dengan kata lain, bukan karena produknya tidak kompetitif, melainkan karena daya saing itu sendiri kini dipandang sebagai isu keamanan,” ujarnya. 

Sun menambahkan bahwa model bisnis perusahaan energi baru Tiongkok yang selama ini mengandalkan pembangunan pabrik di luar negeri dan memperoleh subsidi untuk memasuki pasar Amerika kini menghadapi tantangan yang semakin besar.

Disunting oleh Wang Ziqi; Wawancara oleh Yi Ru,  Zhong Yuan

Militer AS Kembali Melancarkan Serangan ke Iran untuk Keempat Kalinya, Pertama Kali Menggunakan Drone Laut Serang Satu Arah 

 Setelah militer Amerika Serikat melancarkan tiga kali serangan terhadap Iran dalam waktu satu minggu, Iran dilaporkan tetap melanjutkan serangan terhadap negara-negara di kawasan Teluk. Pada 12 Juli, militer AS kembali melancarkan putaran serangan baru dan menegaskan komitmennya untuk melindungi pelayaran internasional di Selat Hormuz.

EtIndonesia.com Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada 12 Juli mengumumkan bahwa pihaknya telah menyelesaikan operasi serangan terbaru terhadap Iran. Dalam operasi tersebut, militer AS menggunakan senjata berpemandu presisi untuk menghantam puluhan sasaran di berbagai lokasi dengan tujuan mengurangi kemampuan Iran dalam menyerang kapal-kapal dagang internasional yang melintasi Selat Hormuz.

Menurut CENTCOM, selain menggunakan pesawat tempur, kapal perang Angkatan Laut, dan drone serang satu arah (one-way attack drone), untuk pertama kalinya militer AS juga mengerahkan drone laut serang satu arah (one-way attack unmanned surface vessel) dalam operasi tersebut.

Sasaran serangan meliputi:

  • Sistem pertahanan udara militer Iran.
  • Stasiun radar pantai.
  • Rudal-rudal.
  • Fasilitas drone.
  • Kapal-kapal kecil milik Iran.

Militer AS menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting bagi perdagangan dunia. Menurut pihak AS, Iran tidak menguasai selat tersebut, dan militer Amerika telah siap sepenuhnya untuk menjamin kebebasan pelayaran kapal-kapal komersial.

Sebelumnya, militer AS menyatakan bahwa operasi terbaru ini diperintahkan langsung oleh Presiden Amerika Serikat selaku Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, dan dimulai pada pukul 17.00 waktu Amerika Serikat bagian timur tanggal 12 Juli, dengan tujuan meminta pertanggungjawaban militer Iran atas serangan-serangan sebelumnya.

Militer AS juga menggunakan platform X untuk membantah dua informasi yang disebut sebagai disinformasi dari Iran.

Klaim pertama menyebutkan bahwa tiga personel militer AS di Kuwait tewas akibat serangan udara Iran. Militer AS membantah klaim tersebut dan menyatakan bahwa tidak ada laporan korban jiwa di pihak personel Amerika di wilayah tersebut. Seluruh personel telah diperiksa dan dinyatakan lengkap.

Klaim kedua menyatakan bahwa tidak ada kapal asing yang boleh melewati Selat Hormuz tanpa terlebih dahulu diidentifikasi, dilacak, dan diawasi oleh militer Iran.

Militer AS kembali menegaskan bahwa Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz, yang tetap merupakan jalur pelayaran internasional. Amerika Serikat telah menempatkan pasukannya dan siap memastikan jalur laut tersebut tetap terbuka bagi pelayaran internasional.

Setelah gelombang serangan terbaru militer AS, Bahrain, Yordania, dan Kuwait dilaporkan membunyikan sirine peringatan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan ancaman keamanan.

Dilaporkan oleh Jin Hong/Disunting oleh Wen Hui