【Laporan Khusus】Kebijakan Baru Trump Mendorong Perusahaan Tiongkok Keluar dari AS, tetapi Pabrik dan Teknologinya Tetap Tinggal

Persaingan ekonomi, perdagangan, dan teknologi antara Amerika Serikat dan Tiongkok terus meningkat. Di bawah kebijakan baru pemerintahan Presiden Donald Trump, semakin banyak perusahaan Tiongkok mulai menarik diri dari pasar Amerika, terutama di sektor-sektor sensitif seperti energi bersih.

EtIndonesia.com Sebuah laporan menyebutkan bahwa meskipun sebagian perusahaan Tiongkok memilih meninggalkan Amerika Serikat, pabrik, peralatan, serta teknologi produksi yang telah mereka bangun justru diambil alih oleh investor AS.

Menurut laporan majalah The Economist, setelah Amerika Serikat mengesahkan One Big Beautiful Bill Act pada tahun 2025, perusahaan-perusahaan yang memiliki hubungan dengan Tiongkok tidak lagi berhak menerima subsidi dari pemerintah AS. Akibatnya, banyak perusahaan Tiongkok di berbagai wilayah Amerika menjual aset energi bersih mereka dengan harga murah.

Seorang pembeli mengungkapkan bahwa beberapa aset dijual dengan potongan harga hingga 40%.

Aset yang dijual bukan hanya berupa pabrik dan peralatan, tetapi juga mencakup teknologi produksi serta know-how (pengetahuan teknis dan pengalaman operasional) yang telah dikembangkan perusahaan selama bertahun-tahun.

Salah satu contohnya adalah perusahaan energi surya Tiongkok Trina Solar, yang membangun pabrik panel surya berkapasitas 5 gigawatt di Dallas, Texas. Sebelumnya pabrik tersebut diperkirakan dapat menerima subsidi pemerintah AS hingga US$350 juta per tahun. Namun setelah One Big Beautiful Bill Act diberlakukan, subsidi tersebut dihentikan.

Trina Solar membangun pabrik itu pada tahun 2024. Hanya beberapa hari setelah mulai beroperasi, hak kekayaan intelektual terkait dijual kepada sebuah perusahaan di Singapura, yang kemudian melisensikannya kepada perusahaan energi Amerika T1 Energy.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa sejak tahun 2025, hampir US$9 miliar investasi Tiongkok di sektor energi terbarukan di Amerika Serikat telah dibatalkan, ditangguhkan, atau dijual kepada investor lokal Amerika. Sebagai perbandingan, pada tahun 2022 dan 2023 nilainya disebut hampir nol.

Profesor Sun Guoxiang menyebut fenomena ini sebagai: “Dekapitalisasi Tiongkok, tetapi tetap mempertahankan warisan teknologinya.”

“Amerika Serikat sedang beralih dari sekadar melarang teknologi Tiongkok menjadi menyerap teknologinya sambil menghilangkan kendali perusahaan Tiongkok. Ini bukan sekadar kemunduran perusahaan Tiongkok, tetapi menunjukkan bahwa persaingan industri antara AS dan Tiongkok telah memasuki tahap baru. Di permukaan terlihat sebagai pemisahan ekonomi (decoupling), tetapi pada kenyataannya merupakan decoupling yang selektif disertai penyerapan teknologi secara selektif,” ujarnya. 

Kolumnis The Epoch Times, Wang He, berpendapat bahwa kesulitan perusahaan Tiongkok di sektor energi bersih Amerika berakar pada memburuknya hubungan strategis antara kedua negara.

“Investasi perusahaan Tiongkok di Amerika pada dasarnya merupakan akibat dari penilaian yang keliru terhadap arah hubungan AS-Tiongkok. Kedua negara saling tidak percaya secara strategis. Sulit membayangkan Amerika mengizinkan perusahaan dari negara yang dianggap sebagai pesaing strategis membangun fasilitas energi dalam skala besar di wilayahnya. Faktor utama yang memicu situasi saat ini adalah kebijakan luar negeri Beijing yang memicu langkah balasan dari Amerika Serikat,” ujarnya. 

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Tiongkok membangun rantai industri energi baru melalui subsidi dan berbagai kebijakan pendukung, serta mendorong perusahaan-perusahaan domestik untuk berekspansi ke luar negeri.

The Economist mencatat bahwa subsidi besar-besaran pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden sempat menarik banyak perusahaan Tiongkok berinvestasi di Amerika Serikat, sehingga mereka untuk sementara dapat mengurangi tekanan persaingan yang sangat ketat di pasar domestik Tiongkok.

Namun Wang He menilai bahwa kebijakan pemerintahan Trump saat ini bukan sekadar penyesuaian kebijakan industri.

“Selain mempertimbangkan kebutuhan tenaga kerja pada era kecerdasan buatan (AI), jaringan listrik juga merupakan infrastruktur yang sangat penting. Jika perusahaan Tiongkok memasang banyak fasilitas dan produknya ke dalam jaringan listrik Amerika, muncul kekhawatiran adanya risiko keamanan atau ‘kuda Troya,” ujarnya. 

“Oleh karena itu, perubahan kebijakan Trump juga didorong oleh pertimbangan keamanan nasional. Dalam bidang ini, pemisahan antara kedua negara hampir pasti akan terus berlangsung,” katanya. 

Sementara itu, Profesor Xie Tian berpendapat bahwa industri energi baru Tiongkok pada awalnya berkembang dengan mempelajari teknologi Amerika. Kini sebagian teknologi dan kapasitas produksi tersebut kembali ke Amerika dalam bentuk yang berbeda.

“Begitu teknologi ini kembali ke Amerika dan diproduksi secara besar-besaran berdasarkan fondasi teknologi Amerika sendiri, sangat mungkin biaya produksinya akan turun hingga lebih murah daripada di Tiongkok. Hal ini dapat menjadi ancaman besar bagi masa depan perusahaan-perusahaan Tiongkok,” ujarnya. 

“Jika perusahaan Amerika kemudian berkembang lebih jauh dan kembali bersaing di pasar global melawan perusahaan Tiongkok, maka Tiongkok bisa mengalami kerugian ganda,” katanya. 

Profesor Sun Guoxiang juga menilai bahwa tantangan terbesar bagi Beijing adalah kenyataan bahwa industri energi baru, yang sebelumnya merupakan salah satu sektor strategis Tiongkok dengan daya saing global, kini justru semakin sering dipandang oleh Amerika Serikat dan sebagian negara Barat sebagai risiko terhadap keamanan nasional.

“Akibatnya, ekspansi perusahaan Tiongkok ke luar negeri tidak lagi sekadar persoalan bisnis, tetapi juga menjadi objek penilaian geopolitik. Dengan kata lain, bukan karena produknya tidak kompetitif, melainkan karena daya saing itu sendiri kini dipandang sebagai isu keamanan,” ujarnya. 

Sun menambahkan bahwa model bisnis perusahaan energi baru Tiongkok yang selama ini mengandalkan pembangunan pabrik di luar negeri dan memperoleh subsidi untuk memasuki pasar Amerika kini menghadapi tantangan yang semakin besar.

Disunting oleh Wang Ziqi; Wawancara oleh Yi Ru,  Zhong Yuan

Militer AS Kembali Melancarkan Serangan ke Iran untuk Keempat Kalinya, Pertama Kali Menggunakan Drone Laut Serang Satu Arah 

 Setelah militer Amerika Serikat melancarkan tiga kali serangan terhadap Iran dalam waktu satu minggu, Iran dilaporkan tetap melanjutkan serangan terhadap negara-negara di kawasan Teluk. Pada 12 Juli, militer AS kembali melancarkan putaran serangan baru dan menegaskan komitmennya untuk melindungi pelayaran internasional di Selat Hormuz.

EtIndonesia.com Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada 12 Juli mengumumkan bahwa pihaknya telah menyelesaikan operasi serangan terbaru terhadap Iran. Dalam operasi tersebut, militer AS menggunakan senjata berpemandu presisi untuk menghantam puluhan sasaran di berbagai lokasi dengan tujuan mengurangi kemampuan Iran dalam menyerang kapal-kapal dagang internasional yang melintasi Selat Hormuz.

Menurut CENTCOM, selain menggunakan pesawat tempur, kapal perang Angkatan Laut, dan drone serang satu arah (one-way attack drone), untuk pertama kalinya militer AS juga mengerahkan drone laut serang satu arah (one-way attack unmanned surface vessel) dalam operasi tersebut.

Sasaran serangan meliputi:

  • Sistem pertahanan udara militer Iran.
  • Stasiun radar pantai.
  • Rudal-rudal.
  • Fasilitas drone.
  • Kapal-kapal kecil milik Iran.

Militer AS menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting bagi perdagangan dunia. Menurut pihak AS, Iran tidak menguasai selat tersebut, dan militer Amerika telah siap sepenuhnya untuk menjamin kebebasan pelayaran kapal-kapal komersial.

Sebelumnya, militer AS menyatakan bahwa operasi terbaru ini diperintahkan langsung oleh Presiden Amerika Serikat selaku Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, dan dimulai pada pukul 17.00 waktu Amerika Serikat bagian timur tanggal 12 Juli, dengan tujuan meminta pertanggungjawaban militer Iran atas serangan-serangan sebelumnya.

Militer AS juga menggunakan platform X untuk membantah dua informasi yang disebut sebagai disinformasi dari Iran.

Klaim pertama menyebutkan bahwa tiga personel militer AS di Kuwait tewas akibat serangan udara Iran. Militer AS membantah klaim tersebut dan menyatakan bahwa tidak ada laporan korban jiwa di pihak personel Amerika di wilayah tersebut. Seluruh personel telah diperiksa dan dinyatakan lengkap.

Klaim kedua menyatakan bahwa tidak ada kapal asing yang boleh melewati Selat Hormuz tanpa terlebih dahulu diidentifikasi, dilacak, dan diawasi oleh militer Iran.

Militer AS kembali menegaskan bahwa Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz, yang tetap merupakan jalur pelayaran internasional. Amerika Serikat telah menempatkan pasukannya dan siap memastikan jalur laut tersebut tetap terbuka bagi pelayaran internasional.

Setelah gelombang serangan terbaru militer AS, Bahrain, Yordania, dan Kuwait dilaporkan membunyikan sirine peringatan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan ancaman keamanan.

Dilaporkan oleh Jin Hong/Disunting oleh Wen Hui

Topan Bavi dengan Luas Wilayah yang Setara dengan Prancis, Menghantam Tiongkok, Menyebabkan 2,4 Juta Orang Dievakuasi

EtIndonesia.com Topan Bavi, yang disebut sebagai topan terkuat yang melanda Tiongkok tahun ini, mendarat di pesisir Provinsi Zhejiang pada akhir pekan. Topan tersebut membawa angin kencang dan hujan lebat yang menyebabkan bencana di wilayah yang luas. Lebih dari 2,4 juta orang dievakuasi dari daerah yang dilalui topan, sementara ribuan penerbangan dan perjalanan kereta api dibatalkan.

Topan Bavi mendarat berturut-turut di Taizhou dan Yueqing (Wenzhou) pada Sabtu larut malam (11 Juli). Kecepatan angin berkelanjutan maksimum mencapai 140 kilometer per jam, setara dengan badai Kategori 1 menurut skala badai Atlantik.

Sistem badai tersebut memiliki lebar sekitar 1.000 kilometer, dengan cakupan wilayah yang disebut hampir seluas Prancis.

Di Kota Yueqing, lebih dari 1.300 pohon tumbang, termasuk lebih dari 700 pohon yang tercabut hingga ke akarnya. Di beberapa daerah, genangan air mencapai sekitar setengah tinggi ban mobil.

Di kawasan pegunungan juga terjadi tanah longsor, dengan batu-batu besar menggelinding ke jalan raya, sementara air sungai meluap dan membanjiri daerah di sepanjang bantaran sungai.

Topan ini juga mengganggu transportasi secara besar-besaran.

  • Dua bandara utama di Shanghai membatalkan sekitar 650 penerbangan.
  • Stasiun Kereta Hangzhou menghentikan seluruh layanan kereta.
  • Secara nasional, lebih dari 2.800 penerbangan dibatalkan.

Otoritas meteorologi memperingatkan bahwa meskipun Topan Bavi telah melemah menjadi badai tropis, sirkulasi badai yang sangat luas masih berpotensi membawa hujan deras dalam beberapa hari ke depan.

Wilayah seperti Anhui, Zhejiang, Jiangxi, dan Fujian diperkirakan menghadapi risiko banjir dan tanah longsor.

Selain itu, dengan kemungkinan munculnya fenomena iklim El Niño, Tiongkok diperkirakan dapat menghadapi lebih banyak cuaca ekstrem sepanjang tahun ini, terutama di wilayah pesisir.

Berdasarkan laporan NTD Television oleh Xu Zhe dan Chi Xiao

Iran Serang Pangkalan AS di 6 Negara Timur Tengah Hingga Pelabuhan Oman, AS Gempur 140 Target Militer dalam Semalam!

EtIndonesia.com — Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran terus mengalami eskalasi tajam. Memasuki hari ketujuh operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran, kedua negara saling melancarkan serangan dalam skala yang semakin besar. 

Amerika Serikat mengklaim telah menyelesaikan gelombang ketiga serangan udara terhadap Iran dengan menghantam sekitar 140 sasaran militer, sementara Iran membalas dengan meluncurkan gelombang rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) terbesar dalam beberapa bulan terakhir ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Serangkaian perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa konflik yang semula berfokus di sekitar Selat Hormuz kini mulai meluas ke berbagai wilayah strategis di Teluk Persia dan Timur Tengah.


Amerika Serikat Klaim Hantam 140 Target Militer Iran

Pada 12 Juli 2026, militer Amerika Serikat mengumumkan telah menyelesaikan gelombang ketiga operasi militer terhadap Iran.

Dalam operasi tersebut, pasukan Amerika mengerahkan kekuatan udara dan laut dalam jumlah besar, meliputi:

  • pesawat tempur berbasis darat,
  • pesawat tempur yang beroperasi dari kapal induk,
  • drone tempur,
  • kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat,
  • serta berbagai jenis rudal dan senjata berpemandu presisi.

Menurut keterangan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), sekitar 140 sasaran militer Iran berhasil dihantam dalam operasi tersebut.

Target yang diserang mencakup berbagai fasilitas strategis, antara lain:

  • pangkalan rudal,
  • lokasi peluncuran drone,
  • fasilitas operasi Angkatan Laut Iran,
  • gudang penyimpanan amunisi,
  • pusat komunikasi militer,
  • stasiun radar,
  • pos pengawasan pesisir,
  • serta sejumlah fasilitas logistik yang mendukung operasi militer Iran.

CENTCOM juga menyatakan bahwa jika digabungkan dengan dua gelombang serangan sebelumnya, selama satu pekan terakhir Amerika Serikat telah menghantam lebih dari 300 sasaran militer di berbagai wilayah Iran.


Pete Hegseth: Iran Harus Menanggung Konsekuensinya

Menanggapi perkembangan tersebut, Menteri Perang Amerika Serikat Pete Hegseth menegaskan bahwa operasi militer dilakukan sebagai respons terhadap tindakan Iran yang dinilai terus meningkatkan eskalasi konflik.

Dalam pernyataannya ia mengatakan: “Iran telah memilih jalan yang salah. Kini mereka harus menanggung konsekuensinya.”

Pernyataan tersebut kembali menegaskan bahwa Washington belum menunjukkan tanda-tanda akan mengurangi tekanan militernya terhadap Teheran.


Ketua Parlemen dan Menteri Luar Negeri Iran Tunjukkan Perubahan Sikap

Di tengah meningkatnya tekanan militer, sejumlah pejabat tinggi Iran mulai menyampaikan pernyataan yang menunjukkan perubahan pendekatan diplomatik.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melalui akun media sosial X menyatakan bahwa:

“Era kesepakatan sepihak telah berakhir.”

Dalam unggahannya, Ghalibaf secara khusus mengutip Pasal Kelima Memorandum Saling Pengertian Amerika Serikat–Iran.

Ia menyoroti bagian yang berbunyi:

“Iran akan membuat pengaturan…”

Menurut Ghalibaf, frasa tersebut menunjukkan bahwa Iran tetap memiliki kewenangan dalam mengatur lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Namun apabila keseluruhan isi dokumen dibaca secara utuh, pasal tersebut sebenarnya berbunyi:

“Iran akan mengatur agar kapal-kapal dagang dapat melintasi Selat Hormuz secara aman dan tanpa biaya selama 60 hari, serta menyelesaikan pembersihan ranjau laut dalam waktu 30 hari.”

Dengan demikian, isi memorandum tersebut tidak secara eksplisit memberikan hak kepada Iran untuk mengendalikan jalur pelayaran internasional ataupun menentukan kapal mana yang diperbolehkan melintas di Selat Hormuz.


Iran Ajukan Syarat Baru dalam Inspeksi Program Nuklir

Perkembangan lain muncul pada 11 Juli 2026, ketika Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi ditanya mengenai kemungkinan mengizinkan tim Amerika Serikat melakukan inspeksi terhadap fasilitas nuklir Iran.

Araghchi menyatakan bahwa Iran pada prinsipnya bersedia menerima inspeksi internasional, namun mengajukan syarat tambahan.

Ia mengatakan: “Tentu saja boleh, tetapi dengan syarat kami juga diizinkan mengirim tim inspeksi ke Israel untuk memastikan apakah mereka memiliki senjata nuklir. Jika Israel memiliki senjata nuklir, maka Iran juga seharusnya berhak memilikinya.”

Pernyataan tersebut kembali memperlihatkan bahwa isu nuklir Israel tetap menjadi salah satu syarat utama yang diajukan Teheran dalam setiap pembahasan mengenai pengawasan program nuklirnya.

Sikap tersebut bertolak belakang dengan kebijakan Washington.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali menegaskan bahwa: “Iran tidak akan pernah diizinkan memiliki senjata nuklir.”

Menurut pemerintah Amerika Serikat, larangan tersebut merupakan garis merah yang tidak dapat dinegosiasikan dalam kondisi apa pun.


Serangan terhadap Kapal Dagang Siprus Memicu Operasi Baru AS

Ketegangan meningkat tajam pada malam 12 Juli 2026 setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan menyerang sebuah kapal kargo berbendera Siprus yang sedang berlayar di kawasan Teluk Persia.

Tidak lama setelah insiden tersebut, militer Amerika Serikat mengumumkan dimulainya gelombang ketiga operasi serangan terhadap Iran.

Washington menilai serangan terhadap kapal dagang internasional kembali mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.


CENTCOM Klaim Amankan Jalur Perdagangan Global

Selain mengumumkan keberhasilan operasi militer, CENTCOM juga memaparkan perannya dalam menjaga keamanan jalur perdagangan internasional.

Menurut data yang disampaikan, sejak awal Mei 2026, militer Amerika Serikat telah membantu mengawal lebih dari:

  • 800 kapal dagang, serta
  • pengiriman sekitar 400 juta barel minyak mentah,

agar dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman tanpa gangguan.

Hingga pertengahan Juli 2026, jalur pelayaran internasional tersebut dilaporkan masih tetap beroperasi dan terus digunakan oleh kapal-kapal dagang dari berbagai negara.


Lima Wilayah Strategis Iran Menjadi Sasaran Utama

Laporan berbagai media Iran menyebutkan bahwa gelombang ketiga serangan Amerika Serikat kali ini terutama difokuskan pada lima kawasan strategis di Iran bagian selatan.

1. Bushehr

Bushehr merupakan lokasi berdirinya satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran yang masih beroperasi. Wilayah ini selama bertahun-tahun menjadi salah satu aset energi paling vital bagi negara tersebut.

2. Asalouyeh

Asalouyeh dikenal sebagai pusat industri gas alam terbesar Iran.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa salah satu fasilitas pemrosesan gas di kawasan ini mengalami kebakaran setelah terkena serangan.

3. Bandar Abbas

Bandar Abbas merupakan pelabuhan militer dan komersial terbesar Iran sekaligus pintu utama menuju Selat Hormuz.

Wilayah ini juga menjadi pusat logistik utama Angkatan Laut Iran.

4. Sirik

Sirik merupakan kawasan garis depan yang menjadi lokasi penempatan berbagai sistem rudal pertahanan pantai Iran.

Posisi geografisnya menjadikan wilayah ini sangat penting dalam pengawasan lalu lintas kapal di Teluk Persia.

5. Pulau Qeshm

Pulau Qeshm merupakan salah satu basis pertahanan laut terbesar Iran.

Selain memiliki nilai strategis bagi operasi Angkatan Laut, pulau ini juga menjadi lokasi berbagai infrastruktur energi nasional.

Kelima wilayah tersebut selama ini menjadi pusat konsentrasi:

  • pangkalan Angkatan Laut Iran,
  • sistem pertahanan rudal,
  • fasilitas energi,
  • jaringan logistik militer,
  • serta infrastruktur pertahanan pesisir yang menopang kemampuan militer Iran di kawasan Teluk Persia.

Iran Lancarkan Serangan Balasan Terbesar dalam Beberapa Bulan

Di saat yang hampir bersamaan, Iran meluncurkan operasi balasan berskala besar.

Menurut sejumlah laporan awal, beberapa gelombang rudal balistik dan drone ditembakkan menuju berbagai pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, meliputi:

  • Bahrain,
  • Kuwait,
  • Qatar,
  • Yordania,
  • Uni Emirat Arab,
  • dan untuk pertama kalinya juga diarahkan ke wilayah Oman.

Laporan awal dari negara-negara tersebut menyebutkan bahwa sebagian besar rudal dan drone berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara sehingga dampak kerusakan di lapangan relatif terbatas.

Meski demikian, serangan tersebut menunjukkan meningkatnya jangkauan operasi militer Iran.


Pelabuhan Duqm di Oman Ikut Menjadi Sasaran

Salah satu perkembangan yang paling menarik perhatian adalah klaim Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang menyatakan bahwa serangan kali ini juga menjangkau Pelabuhan Duqm di Oman.

Pelabuhan Duqm diketahui merupakan salah satu pusat logistik penting yang selama ini digunakan Angkatan Laut Amerika Serikat dalam mendukung operasi militernya di kawasan Timur Tengah.

Perkembangan ini dinilai cukup ironis.

Sebelumnya Iran sempat berupaya menjalin kerja sama dengan Oman dalam pengelolaan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, bahkan sempat muncul rencana untuk menerapkan mekanisme biaya transit bagi kapal-kapal yang melintas.

Namun dalam waktu singkat, hubungan kedua pihak tampaknya berubah menjadi jauh lebih tegang seiring meluasnya konflik regional.


Serangan Diduga Mulai Menjangkau Pedalaman Iran

Sementara itu, Al Jazeera melaporkan bahwa Amerika Serikat juga melancarkan serangan terhadap sebuah menara komunikasi di Kerman, Iran bagian tengah-selatan.

Sedikitnya dua orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.

Apabila laporan tersebut benar, maka perkembangan ini memiliki arti strategis yang penting.

Dalam tiga gelombang serangan sebelumnya, hampir seluruh operasi militer Amerika Serikat berfokus pada kawasan pesisir selatan Iran, terutama wilayah yang berkaitan dengan Selat Hormuz.

Serangan terhadap Kerman menunjukkan kemungkinan bahwa cakupan operasi Amerika Serikat mulai meluas hingga ke wilayah pedalaman Iran, menandai perubahan pola operasi dibandingkan fase-fase sebelumnya.


Situasi Masih Sangat Dinamis

Hingga 13 Juli 2026, belum terlihat adanya tanda-tanda penurunan eskalasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Washington terus memperluas tekanan militernya terhadap berbagai fasilitas strategis Iran, sementara Teheran menunjukkan kemampuan untuk melakukan serangan balasan terhadap pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di berbagai negara kawasan Teluk.

Dengan kedua belah pihak sama-sama mempertahankan sikap keras dan belum menunjukkan kemajuan berarti dalam jalur diplomasi, perkembangan konflik dalam beberapa hari ke depan diperkirakan masih akan menjadi perhatian utama masyarakat internasional karena berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah, jalur perdagangan global, serta pasar energi dunia. (***)

Putin di Persimpangan!  Rusia Dituduh Gunakan Bom Tandan, Strategi Perang Mulai Dipertanyakan

EtIndonesia.com Konflik Rusia–Ukraina kembali memanas setelah Rusia melancarkan serangkaian serangan udara ke berbagai wilayah Ukraina pada 11 Juli 2026. Ibu kota Kyiv kembali menjadi sasaran serangan rudal, sementara Kota Sumy yang berada di dekat perbatasan Rusia mengalami serangan bom luncur yang menimbulkan korban jiwa.

Pemerintah Ukraina menuduh militer Rusia menggunakan bom tandan (cluster munition) dalam serangan terhadap Kyiv. Jika tuduhan tersebut terbukti, penggunaan amunisi jenis ini diperkirakan akan kembali memicu sorotan internasional karena dianggap sangat berbahaya bagi penduduk sipil dan menjadi salah satu isu utama dalam hukum humaniter internasional.

Di saat yang sama, sejumlah analis menilai perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun kini memasuki fase baru yang dapat menjadi titik balik bagi kedua belah pihak.


Kyiv Kembali Diguncang Serangan Rudal

Pada 11 Juli 2026, sirene serangan udara kembali meraung di berbagai wilayah Kyiv ketika militer Rusia meluncurkan gelombang serangan rudal ke ibu kota Ukraina.

Salah satu wilayah yang mengalami kerusakan cukup parah adalah Distrik Darnytskyi, yang terletak di bagian tenggara Kyiv.

Kepala Administrasi Distrik Darnytskyi, Kovtunov, menyatakan bahwa rudal yang menghantam kawasan tersebut diduga membawa hulu ledak berisi bom tandan, yaitu amunisi yang akan melepaskan sejumlah besar submunisi atau bom-bom kecil setelah meledak di udara.

Menurut pemerintah daerah, ledakan tersebut menyebabkan kerusakan pada berbagai fasilitas sipil, di antaranya:

  • puluhan kendaraan mengalami kerusakan,
  • kaca bangunan pecah,
  • rumah-rumah penduduk rusak,
  • serta sejumlah infrastruktur umum terdampak serpihan ledakan.

Beruntung, saat serangan terjadi kondisi jalan raya tidak terlalu ramai sehingga jumlah korban dapat ditekan.

Selain itu, sebagian besar warga dilaporkan sedang berlindung di dalam rumah dan tidak berada di dekat jendela ketika ledakan terjadi. Faktor tersebut dinilai menjadi alasan utama mengapa jumlah korban sipil tidak lebih besar.


Mengenal Bom Tandan yang Dituduhkan Digunakan Rusia

Bom tandan atau cluster munition merupakan salah satu jenis senjata yang paling kontroversial dalam peperangan modern.

Berbeda dengan bom konvensional yang meledak pada satu titik, bom tandan membawa banyak submunisi atau pecahan logam di dalam satu hulu ledaknya.

Saat mencapai sasaran atau meledak di udara, hulu ledak akan membuka dan menyebarkan ribuan bahkan puluhan ribu fragmen logam ke area yang sangat luas.

Fragmen tersebut melesat dengan kecepatan tinggi sehingga mampu:

  • menembus bodi kendaraan,
  • menghancurkan kaca bangunan,
  • merusak rumah-rumah penduduk,
  • melukai orang yang berada di luar ruangan,
  • bahkan menembus bagian dalam rumah melalui jendela dan melukai penghuninya.

Karena memiliki daya sebar yang luas dan sulit dibatasi hanya pada target militer, penggunaan bom tandan di kawasan permukiman padat penduduk menjadi perhatian serius dalam hukum humaniter internasional.

Banyak negara telah menandatangani Konvensi Bom Tandan yang melarang penggunaan senjata tersebut, meskipun tidak semua negara, termasuk Rusia, menjadi pihak dalam perjanjian tersebut.


Pemerintah Kyiv Dirikan Pusat Bantuan Darurat

Tidak lama setelah serangan berakhir, Pemerintah Kota Kyiv langsung mengaktifkan mekanisme tanggap darurat.

Sejumlah pusat bantuan didirikan untuk melayani masyarakat yang terdampak serangan.

Petugas penyelamat bersama aparat kota bekerja sepanjang malam untuk:

  • mengevakuasi warga,
  • menutup bangunan yang mengalami kerusakan,
  • mengganti dan menutup sementara jendela yang pecah,
  • membersihkan puing-puing,
  • memperbaiki jaringan utilitas,
  • serta memulihkan fasilitas umum yang rusak akibat ledakan.

Sementara itu, warga yang rumahnya terdampak mulai menerima bantuan kemanusiaan berupa kebutuhan pokok, tempat penampungan sementara, serta dukungan psikologis.

Menurut pemerintah kota, serangan pada 11 Juli 2026 merupakan serangan terarah ketiga Rusia terhadap Kyiv dalam kurun waktu satu pekan.

Secara keseluruhan, sedikitnya 11 orang dilaporkan mengalami luka-luka, sementara proses pendataan kerusakan material masih terus berlangsung.


Wall Street Journal: Perang Memasuki Fase Penentuan

Pada hari yang sama, Jumat, 11 Juli 2026, The Wall Street Journal menerbitkan laporan analisis yang menyebut bahwa perang Rusia–Ukraina kini telah memasuki tahun kelima sejak invasi besar-besaran Rusia dimulai pada Februari 2022.

Menurut laporan tersebut, selama bertahun-tahun Rusia menjalankan strategi perang jangka panjang.

Strategi itu didasarkan pada asumsi bahwa Ukraina pada akhirnya akan:

  • kehabisan persenjataan,
  • kehilangan dukungan Barat,
  • mengalami tekanan ekonomi,
  • serta tidak mampu mempertahankan perlawanan dalam waktu lama.

Namun perkembangan di medan perang belakangan ini mulai menunjukkan dinamika yang berbeda.


Serangan Drone Ukraina Mengubah Perhitungan Rusia

Dalam beberapa bulan terakhir, Ukraina semakin mengandalkan penggunaan pesawat nirawak atau drone sebagai senjata utama.

Serangan-serangan tersebut dilaporkan semakin sering menjangkau wilayah Rusia dan menghantam berbagai sasaran strategis, seperti:

  • pangkalan militer,
  • gudang logistik,
  • fasilitas industri pertahanan,
  • depot amunisi,
  • hingga infrastruktur minyak dan energi.

Kerugian yang terus meningkat akibat serangan drone dinilai mulai memengaruhi kalkulasi strategis Moskow.

Sejumlah analis menilai Rusia kini menyadari bahwa strategi perang berkepanjangan yang selama ini diyakini menguntungkan mereka belum tentu akan menghasilkan kemenangan seperti yang diharapkan.


Putin Diduga Menerima Gambaran yang Terlalu Optimistis

Laporan tersebut juga mengulas pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang sebelumnya mengakui bahwa sejumlah perkembangan di medan perang ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan laporan yang diterimanya.

Pernyataan itu memunculkan spekulasi di kalangan analis Barat bahwa sebagian komandan militer Rusia kemungkinan memberikan laporan yang terlalu optimistis kepada Kremlin.

Akibatnya, Putin diduga memperoleh gambaran yang kurang akurat mengenai kondisi sebenarnya di garis depan.

Kondisi tersebut disebut berpotensi memengaruhi proses pengambilan keputusan strategis di tingkat tertinggi pemerintahan Rusia.

Di sisi lain, Ukraina justru disebut mengalami peningkatan kepercayaan diri.

Di lingkungan militer maupun pemerintahan Ukraina berkembang keyakinan bahwa negara tersebut masih memiliki kemampuan untuk mempertahankan kemerdekaan dan terus melanjutkan perlawanan selama dukungan internasional tetap mengalir.


Rusia Dinilai Mulai Kehilangan Sejumlah Keunggulan

Dalam kesimpulannya, laporan The Wall Street Journal menyebut bahwa konflik kini memasuki fase yang sangat menentukan.

Untuk pertama kalinya sejak perang dimulai, Rusia dinilai menghadapi sejumlah tantangan yang membuat posisinya tidak lagi sekuat sebelumnya.

Salah satu persoalan terbesar yang dihadapi Moskow adalah belum ditemukannya cara yang benar-benar efektif untuk menghentikan serangan drone Ukraina yang semakin canggih dan semakin jauh jangkauannya.

Meski demikian, Ukraina juga menghadapi tantangan yang tidak kalah serius.

Kebutuhan paling mendesak bagi Kyiv saat ini adalah tambahan rudal pencegat bagi sistem pertahanan udara Patriot.

Tanpa pasokan rudal tersebut dari negara-negara Barat, kemampuan Ukraina untuk menghadang rudal balistik dan serangan udara Rusia diperkirakan akan semakin menurun.

Para analis menilai persoalan tersebut hampir mustahil dapat diatasi Ukraina tanpa dukungan berkelanjutan dari negara-negara sekutunya.


Dua Bom Luncur Rusia Hantam Sumy, Lima Orang Tewas

Di hari yang sama, 11 Juli 2026, wilayah timur laut Ukraina juga mengalami serangan mematikan.

Menurut laporan Reuters, militer Rusia menjatuhkan dua bom luncur berpemandu (glide bomb) ke kawasan permukiman di Kota Sumy, yang hanya berjarak beberapa puluh kilometer dari perbatasan Rusia.

Serangan tersebut mengakibatkan:

  • 5 orang tewas, dan
  • 30 orang lainnya mengalami luka-luka.

Ledakan juga merusak bangunan tempat tinggal dan fasilitas sipil di sekitar lokasi serangan.


Aksi Seorang Ibu Lindungi Anaknya Mengundang Simpati Dunia

Salah satu rekaman video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan momen dramatis ketika ledakan terjadi.

Dalam video tersebut tampak seorang ibu secara spontan menjatuhkan tubuhnya ke tanah sambil memeluk dan menutupi anaknya untuk melindunginya dari gelombang ledakan dan serpihan bom.

Aksi refleks tersebut menyentuh perhatian masyarakat internasional dan menjadi simbol penderitaan warga sipil yang terus hidup di bawah ancaman perang.

Karena lokasi Sumy berada sangat dekat dengan garis depan pertempuran, otoritas Ukraina disebut hampir tidak memiliki waktu untuk mengeluarkan peringatan dini.

Bom luncur berpemandu yang digunakan Rusia mampu meluncur menuju sasaran hanya dalam hitungan detik setelah dilepaskan dari pesawat tempur, sehingga kesempatan warga untuk mencari perlindungan menjadi sangat terbatas.


Konflik Memasuki Babak yang Semakin Menentukan

Perkembangan pada 11 Juli 2026 menunjukkan bahwa perang Rusia–Ukraina masih terus mengalami eskalasi, baik melalui serangan rudal terhadap pusat-pusat kota maupun penggunaan senjata jarak jauh yang semakin presisi.

Di satu sisi, Rusia terus meningkatkan tekanan militer melalui serangan udara terhadap berbagai wilayah Ukraina. Di sisi lain, Ukraina semakin mengandalkan teknologi drone untuk menyerang sasaran strategis di dalam wilayah Rusia.

Meski berbagai analisis menyebut konflik kini memasuki titik balik yang penting, arah akhir peperangan masih sangat bergantung pada sejumlah faktor, termasuk kemampuan kedua pihak mempertahankan operasi militer, efektivitas sistem pertahanan udara Ukraina, serta keberlanjutan dukungan militer dan logistik dari negara-negara Barat. (***)

Kebakaran Hebat di Bar Bangkok, Thailand Tewaskan 27 Orang, Rekaman Mencekam Beredar Luas 

EtIndonesia.com Pada 13 Juli 2026 dini hari, sebuah bar di Bangkok, Thailand, tiba-tiba dilalap api. Kobaran api yang sangat besar membuat para pengunjung berteriak dan berlarian menyelamatkan diri. Sebagian orang terjatuh saat melarikan diri, sementara beberapa lainnya keluar dari bar dengan pakaian dan rambut terbakar. 

Video-video mengerikan dari lokasi kejadian pun menyebar luas di media sosial. Hingga saat ini, 27 orang dilaporkan meninggal dunia.

Menurut video yang beredar di platform X, kobaran api besar tiba-tiba menyembur dari dalam bar, menyerupai ledakan. Asap tebal dengan cepat memenuhi ruangan. Banyak pengunjung berteriak sambil berlari keluar, dan beberapa di antaranya terlihat masih terbakar ketika berhasil keluar. Ada yang rambutnya dilalap api, sementara orang-orang di sekitar segera berusaha memadamkan api pada tubuh para korban.

Di luar bar, beberapa titik di jalan juga ikut terbakar. Banyak warga berkumpul di lokasi, sementara sebagian lainnya menggunakan alat pemadam api untuk membantu proses penyelamatan. Suasana di lokasi digambarkan seperti adegan dalam film bencana.

Video lain memperlihatkan kondisi di dalam bar ketika api mulai berkobar. Para pengunjung panik dan berteriak sambil mencari jalan keluar. Banyak yang tersedak asap hingga batuk terus-menerus. Karena pencahayaan di dalam bar sangat redup, banyak orang harus meraba-raba dalam gelap sambil bertanya, “Apa yang terjadi?”

Menurut laporan media Thailand, kebakaran terjadi pada dini hari waktu setempat. Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, kemudian datang langsung ke lokasi untuk meninjau situasi.

Dalam keterangannya kepada media, Anutin mengatakan bahwa 27 jenazah telah ditemukan, sementara para korban luka telah dilarikan ke rumah sakit.

“Sebanyak 27 jenazah telah dievakuasi. Para korban yang masih hidup telah dibawa ke rumah sakit, dan kami masih memeriksa kondisi mereka.”

Mengutip keterangan para korban, ia menjelaskan bahwa asap tebal menyebar sangat cepat ke seluruh bagian bar.

“Sebagian besar korban berlari ke bagian belakang dan berlindung di toilet yang tidak memiliki jalan keluar. Kemungkinan karena kobaran api dan asap yang pekat membuat orang-orang panik.”

Anutin menambahkan bahwa petugas pemadam kebakaran berhasil mengendalikan api sekitar 30 menit setelah kebakaran terjadi. Hingga kini, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.

Berdasarkan informasi sementara, dari 27 korban meninggal, terdapat 9 laki-laki dan 18 perempuan, sementara lebih dari 60 orang lainnya mengalami luka-luka dan menjalani perawatan di rumah sakit.

Beberapa video yang beredar juga memperlihatkan banyak jenazah korban terbaring di tepi jalan di luar bar, menggambarkan dahsyatnya tragedi tersebut.

Seorang musisi yang sedang tampil di bar saat kejadian mengatakan bahwa api menyebar dengan sangat cepat dan disertai ledakan. Semua orang berusaha melarikan diri. Banyak pengunjung masuk ke toilet untuk menghindari asap dan kobaran api, tetapi justru terjebak di dalam. Sebagian besar korban meninggal kemudian ditemukan di area toilet tersebut.

Sekitar pukul 02.00 dini hari pada 13 Juli, Kepolisian Nasional Thailand mengumumkan melalui media sosial bahwa kebakaran di bar tersebut telah berhasil dikendalikan.

Disusun berdasarkan laporan wartawan Luo Tingting dari NTDTV. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan oleh pihak berwenang

Banjir Bandang Melanda Kuancheng, Hebei, Tiongkok, Sejumlah Besar Mobil Terseret Arus, Ada Warga yang Ikut Hanyut (Disertai Banyak Video)

EtIndonesia.com  Pada Minggu 12 Juli 2026 malam hingga 13 Juli 2026 dini hari, banjir bandang menerjang Kuancheng, Kota Chengde, Provinsi Hebei, Tiongkok. Jalan-jalan berubah menjadi sungai yang deras, rumah-rumah terendam, ketinggian air sempat mencapai sekitar 3 meter, banyak mobil hanyut terbawa arus, sejumlah jembatan rusak diterjang banjir, bahkan dilaporkan ada warga yang ikut terseret arus. Rekaman dari lokasi memperlihatkan pemandangan yang sangat memprihatinkan.

Banyak video yang diunggah warganet menunjukkan bahwa kawasan perkotaan Kuancheng dalam semalam berubah menjadi sungai berarus deras. Mobil-mobil pribadi terbawa arus seperti benda terapung, terguling dan hanyut. Di beberapa desa, genangan air bahkan mencapai atap rumah.

Banyak warga Kuancheng yang bekerja di luar daerah mengunggah permohonan bantuan di internet, di antaranya:

“Kampung halaman saya di Kabupaten Kuancheng, Kota Chengde, Provinsi Hebei sedang dilanda banjir. Banyak warga di Desa Xibingjiao terjebak, desa terendam, jalan-jalan rusak. Kami memohon bantuan penyelamatan dari luar.”

Warga lainnya menulis : “Ini adalah kampung halaman saya, Kuancheng. Hanya karena satu hujan lebat, kota kecil ini berubah total. Kota ini memang sudah tertinggal, sekarang sebagian besar wilayah mengalami pemadaman air, listrik, dan jaringan komunikasi.” 

“Banyak jalan rusak parah, longsor terjadi di mana-mana, jumlah mobil pribadi yang hanyut tak terhitung. Bahkan ada tiang listrik tegangan tinggi yang roboh dan jembatan yang ambruk. Tolong bantu kami menghubungi pihak luar agar segera datang memberikan bantuan.”

Seorang warga mengatakan: “Kuancheng juga mengalami bencana yang sangat parah. Saya mendengar dari teman bahwa banyak orang hanyut. Kami ingin menolong, tetapi tidak mampu. Kuancheng benar-benar membutuhkan bantuan.”

Warga lain menulis: “Beberapa hari terakhir Kuancheng terus diguyur hujan deras dan kini mengalami bencana yang sangat serius. Banyak jembatan hanyut, air dan listrik padam, jaringan komunikasi terputus.”

Ada juga yang berkata: “Satu banjir telah membuat kampung halaman kami porak-poranda. Hati ini sungguh pilu.”

Seorang warga mengungkapkan: “Dulu saya selalu mengira bencana itu jauh dari kami. Baru kali ini saya melihat hujan sebesar ini menyebabkan banjir sedahsyat ini di Kuancheng. Jalan-jalan yang dulu ramai kini hancur diterjang air. Tak terhitung berapa banyak mobil yang hanyut. Di hadapan bencana alam, manusia benar-benar sangat kecil. Saya sungguh berdoa semoga Kuancheng dapat melewati musibah ini dengan selamat.”

Pada 13 Juli pagi, air banjir mulai surut. Yang tersisa hanyalah lumpur di mana-mana, kendaraan yang berserakan dan rusak, serta deretan toko dengan bagian depan yang hancur diterjang banjir.

Menurut laporan media daratan Tiongkok, seorang pemilik toko peralatan bernama Qiao mengatakan bahwa hujan deras mulai turun sekitar pukul 19.00 pada 12 Juli dan berlangsung hingga sekitar 01.00 dini hari tanggal 13. Ketinggian air di jalan sempat melebihi 2 meter. Ia mengaku belum pernah mengalami banjir sebesar ini. Banyak barang dagangannya hanyut, sementara pintu rolling door dan kaca tokonya hancur diterjang arus.

Seorang staf Klub Perahu Motor Jianye Kuancheng mengatakan bahwa sekitar pukul 20.00 malam 12 Juli, sebanyak 12 anggota tim penyelamat membawa 5 perahu motor menuju Desa Dongbingjiao, Desa Xibingjiao, dan daerah lain yang terdampak parah. 

Kedalaman air di lokasi terdalam mencapai 3 meter, bahkan rumah satu lantai ada yang terendam hingga atap. Sebagian warga terjebak di lantai dua rumah mereka. Hingga 13 Juli pukul 08.00 pagi, tim tersebut telah bekerja sepanjang malam dan berhasil mengevakuasi puluhan warga.

Pada 11 Juli pukul 12.41, Stasiun Meteorologi Kabupaten Kuancheng telah mengeluarkan peringatan hujan lebat tingkat merah, memperkirakan curah hujan dalam 24 jam akan melebihi 200 milimeter.

Pada 12 Juli pukul 20.43, peringatan tersebut kembali ditingkatkan dengan perkiraan curah hujan dalam 24 jam mencapai lebih dari 280 milimeter.

Sepanjang 12 Juli, pemerintah setempat juga berturut-turut mengeluarkan:

  • Peringatan merah hujan lebat.
  • Peringatan merah bencana geologi (longsor).
  • Peringatan oranye banjir bandang.

Hujan deras terus berlangsung hingga sekitar pukul 23.00 malam.

Akibat hujan ekstrem tersebut, 9 desa yang berada di 4 kecamatan, yaitu Kuancheng, Mengziling, Boluotai, dan Longxumen, mengalami kerusakan jalan yang sangat parah sehingga lalu lintas terputus. Sekitar lebih dari 1.800 warga desa mengalami kesulitan untuk keluar masuk wilayah mereka.

Disusun berdasarkan laporan wartawan Li Siya

Topan “Bavi” Menerjang Pesisir Tiongkok, Pohon-pohon Tumbang dan Penerbangan Dibatalkan

EtIndonesia.com Topan “Bavi” disebut sebagai badai terkuat yang melanda Tiongkok tahun ini. Topan tersebut mendarat di wilayah pesisir timur Tiongkok pada Sabtu malam, membawa angin kencang dan hujan lebat yang menyebabkan pohon-pohon tumbang, jalan-jalan tergenang air, bahkan memicu tanah longsor.

Akibat topan ini, ribuan penerbangan dan perjalanan kereta api di Tiongkok terpaksa dibatalkan, sementara lebih dari 2,4 juta orang dievakuasi dari daerah terdampak.

Topan Bavi pertama kali mendarat di Taizhou, Provinsi Zhejiang, pada 11 Juli pukul 23.12 Sabtu malam, kemudian bergerak memasuki Wenzhou sekitar tengah malam.

Di sekitar pusat topan, kecepatan angin sempat mencapai skala 14 menurut skala angin Tiongkok. Sejumlah pohon besar tercabut hingga ke akarnya, rambu-rambu lalu lintas patah, dan banyak ruas jalan terendam banjir.

Seorang warga Wenzhou, Li Liangxing, mengatakan: “Angin paling kencang terjadi sekitar pukul 12 malam, saat topan hampir mendarat. Di kawasan kota tua kami, suara genting dan ranting pohon yang patah terdengar sangat keras.”

Sementara itu, warga Taizhou, Lin Yongjin, menceritakan: “Saat topan datang, kami sudah mengikat rangka logam dengan sangat kuat. Namun tetap saja tidak mampu bertahan. Mulai sekitar pukul 11 malam, lalu sekitar pukul 1 dini hari semuanya sudah terlempar.”

Selain Zhejiang, dampak Topan Bavi juga dirasakan di Provinsi Liaoning, Shanghai, dan Beijing, yang mengalami angin kencang serta hujan deras. Di Shanghai saja, pemerintah mengevakuasi hampir 300.000 penduduk.

Menjelang topan mendarat, sekitar pukul 19.00 Sabtu malam, langit di Shanghai dan Hangzhou tampak berwarna merah muda keunguan.

Fenomena langit berwarna merah muda keunguan ini dikenal sebagai “langit topan”, yang secara tradisional dianggap sebagai salah satu tanda akan datangnya topan. Menghadapi ancaman badai yang tiba-tiba, di berbagai daerah di Tiongkok juga sempat terjadi aksi pembelian kebutuhan pokok secara besar-besaran.

Meskipun saat ini Topan Bavi telah melemah menjadi badai tropis, badai tersebut masih terus bergerak ke wilayah pedalaman Tiongkok. Daerah-daerah yang dilaluinya diperkirakan masih akan mengalami curah hujan hingga ratusan milimeter, sehingga risiko banjir, tanah longsor, dan genangan di kawasan perkotaan tetap tinggi.

Menurut prakiraan cuaca, dalam beberapa hari ke depan hingga 14 Juli, hujan lebat masih diperkirakan akan mengguyur Fujian, Zhejiang, Jiangxi, Anhui, Jiangsu, Shandong, serta sebagian wilayah Tiongkok Timur Laut.

Berdasarkan laporan NTD Television oleh Qiu Yue

Detik-detik Trump Ultimatum Iran! “1.000 Rudal Sudah Terkunci”, IRGC Langsung Balas Ancaman 50.000 Rudal

EtIndonesia.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat ke tingkat yang belum pernah terlihat sebelumnya setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang sangat keras melalui media sosial pada larut malam Jumat, 10 Juli 2026 waktu Amerika Serikat. Pernyataan tersebut segera memicu respons balasan dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), sehingga semakin memperuncing situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.

Di saat yang sama, berbagai laporan juga mengindikasikan bahwa Washington tidak hanya meningkatkan tekanan melalui operasi militer, tetapi juga mulai menjalankan strategi jangka panjang yang bertujuan mengurangi ketergantungan dunia terhadap Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi minyak global.

Trump Sampaikan Ancaman Terbuka kepada Iran

Dalam unggahan yang dipublikasikan pada larut malam 10 Juli 2026, Donald Trump menyampaikan peringatan yang ditujukan langsung kepada pemerintah Republik Islam Iran.

Isi pernyataan tersebut pada intinya menegaskan bahwa ribuan rudal Amerika Serikat telah dipersiapkan untuk menyerang berbagai sasaran di Iran apabila pemerintah Iran benar-benar melaksanakan ancaman untuk membunuh atau melakukan percobaan pembunuhan terhadap Presiden Amerika Serikat.

Trump juga menyatakan bahwa seluruh perintah militer telah diterbitkan, seluruh kekuatan tempur Amerika Serikat berada dalam kondisi siap tempur penuh, dan apabila skenario tersebut terjadi, Washington siap melaksanakan operasi militer berskala besar terhadap Iran yang dapat berlangsung hingga satu tahun atau bahkan lebih lama apabila situasi menuntut demikian.

Pernyataan tersebut segera menjadi perhatian dunia internasional karena dinilai jauh melampaui retorika politik yang selama ini identik dengan gaya komunikasi Donald Trump.

Berbeda dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang sering kali dipandang sebagai tekanan diplomatik atau psikologis, kali ini bahasa yang digunakan menggambarkan kesiapan militer secara langsung dan memberikan sinyal bahwa Washington telah menyiapkan berbagai opsi apabila konflik berubah menjadi konfrontasi terbuka.

Sejumlah analis menilai bahwa apabila pernyataan tersebut benar-benar merefleksikan kebijakan resmi pemerintah Amerika Serikat, maka kemungkinan besar isi pesannya telah melalui pembahasan dengan jajaran keamanan nasional, Departemen Pertahanan, serta komando militer sebelum dipublikasikan kepada masyarakat.

IRGC Membalas dengan Ancaman yang Sama Kerasnya

Tidak lama setelah pernyataan Trump beredar luas, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan tanggapan yang juga bernada sangat keras.

Dalam pernyataan tersebut, IRGC mengklaim telah menyiapkan puluhan ribu rudal yang siap diluncurkan ke berbagai sasaran kapan saja.

Mereka juga menyatakan bahwa ratusan rudal generasi terbaru masih terus dikembangkan serta mengancam akan menghancurkan berbagai wilayah di Timur Tengah apabila perang benar-benar pecah.

Selain itu, IRGC kembali mengulang ancaman terhadap Israel dengan menyatakan bahwa negara tersebut akan dihapus dari peta apabila konflik berkembang menjadi perang regional.

Retorika semacam ini bukanlah hal baru dalam hubungan antara Iran dan Amerika Serikat.

Namun, meningkatnya intensitas ancaman dari kedua belah pihak memperlihatkan bahwa perang psikologis kini berjalan beriringan dengan peningkatan aktivitas militer di lapangan.

Trump Tegaskan Tidak Percaya pada Keseriusan Iran Berunding

Di tengah meningkatnya ketegangan, seorang wartawan dalam konferensi pers di Gedung Putih menanyakan apakah Presiden Trump masih bersedia membuka kembali jalur diplomasi setelah Iran dikabarkan kembali mengajukan permintaan untuk melanjutkan perundingan.

Pertanyaan tersebut dijawab Trump dengan nada yang jauh dari diplomatis.

Ia menyatakan bahwa dirinya tidak terlalu peduli terhadap permintaan tersebut.

Menurut Trump, apabila Iran ingin berunding, mereka dipersilakan melakukannya, tetapi ia menilai proses tersebut hanya akan membuang waktu.

Trump juga secara terbuka menyebut para pejabat Iran sebagai pihak yang tidak dapat dipercaya.

Meski demikian, ia mengatakan bahwa tim negosiasi Amerika Serikat tetap akan menjalankan komunikasi resmi sesuai prosedur diplomatik.

Namun, menurut Trump, dirinya tidak memiliki ekspektasi bahwa perundingan tersebut akan menghasilkan sesuatu yang berarti.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Gedung Putih tetap menjaga jalur komunikasi diplomatik tetap terbuka, tetapi pada saat yang sama menunjukkan tingkat skeptisisme yang sangat tinggi terhadap peluang tercapainya kesepakatan baru.

Dua Gelombang Operasi Militer Dilaporkan Menyerang Sekitar 170 Target

Selain tekanan diplomatik, berbagai laporan juga menyebutkan bahwa dalam dua hari terakhir militer Amerika Serikat telah melaksanakan dua gelombang operasi terhadap sekitar 170 sasaran strategis di wilayah Iran.

Di antara berbagai lokasi yang dilaporkan menjadi sasaran, Pelabuhan Chabahar disebut sebagai salah satu titik yang mengalami kerusakan paling signifikan.

Pemilihan target tersebut sempat memunculkan berbagai pertanyaan.

Sebagian pengamat mempertanyakan mengapa Amerika Serikat justru lebih banyak menghantam pelabuhan yang berada di luar kawasan Selat Hormuz dibandingkan memusatkan seluruh operasi ke pangkalan-pangkalan utama Iran di Teluk Persia.

Mengapa Chabahar Dinilai Sangat Strategis?

Secara geografis, Pelabuhan Chabahar memiliki posisi yang sangat berbeda dibandingkan pelabuhan utama Iran lainnya.

Pelabuhan laut dalam ini berada di pesisir Teluk Oman dan memiliki akses langsung menuju Samudra Hindia tanpa harus melewati Selat Hormuz.

Keunggulan geografis tersebut membuat Chabahar selama bertahun-tahun dipandang sebagai aset ekonomi paling penting bagi Iran.

Selama beberapa dekade terakhir, ancaman penutupan Selat Hormuz menjadi salah satu instrumen tekanan utama Teheran terhadap dunia internasional.

Selat sempit tersebut merupakan jalur pelayaran yang sangat vital karena menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Setiap kali Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz, harga minyak internasional hampir selalu mengalami kenaikan akibat kekhawatiran terganggunya distribusi energi global.

Namun, pemerintah Iran juga memahami bahwa penutupan total Selat Hormuz akan berdampak langsung terhadap ekspor minyak mereka sendiri.

Karena alasan itulah, Chabahar dikembangkan sebagai jalur alternatif.

Melalui pelabuhan ini, Iran tetap memiliki akses ekspor menuju Samudra Hindia meskipun aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terganggu.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Iran bahkan mengalokasikan investasi besar untuk memperluas fasilitas pelabuhan tersebut.

India turut berpartisipasi melalui berbagai proyek pengembangan infrastruktur dengan tujuan meningkatkan kapasitas logistik Chabahar sehingga mampu menjadi pusat perdagangan regional.

Infrastruktur Strategis Dilaporkan Menjadi Sasaran

Menurut berbagai laporan yang beredar, operasi Amerika Serikat kali ini tidak hanya diarahkan pada fasilitas militer semata.

Beberapa infrastruktur yang dilaporkan menjadi sasaran antara lain menara pengendali pelayaran, dua dermaga utama pelabuhan laut dalam, serta pangkalan Angkatan Laut IRGC yang berada di kawasan Chabahar.

Apabila laporan tersebut benar, maka sasaran operasi tampaknya bukan sekadar melemahkan kemampuan militer Iran, melainkan juga mengganggu jalur logistik dan ekspor energi yang selama ini dipersiapkan sebagai alternatif apabila Selat Hormuz tidak lagi dapat digunakan.

Dengan kata lain, strategi tersebut berpotensi mengurangi fleksibilitas ekonomi Iran dalam menghadapi konflik berkepanjangan.

Washington Disebut Menyiapkan Strategi Energi Jangka Panjang

Selain meningkatkan tekanan militer, Amerika Serikat juga dilaporkan tengah mempersiapkan langkah strategis di sektor energi.

Menurut berbagai laporan, Washington bersama Irak dan Suriah sedang membahas pengaktifan kembali jaringan Pipa Minyak Kirkuk–Baniyas.

Jalur pipa bersejarah sepanjang sekitar 800 kilometer tersebut menghubungkan ladang minyak Irak menuju pesisir Suriah di Laut Mediterania.

Apabila proyek tersebut benar-benar direalisasikan kembali, sebagian ekspor minyak kawasan dapat dialihkan ke Laut Mediterania tanpa harus melewati Selat Hormuz.

Dengan demikian, ketergantungan terhadap jalur pelayaran di Teluk Persia berpotensi berkurang secara signifikan.

Laporan juga menyebutkan bahwa sejumlah perusahaan energi Amerika Serikat diperkirakan akan ikut terlibat dalam proyek tersebut.

Menurut informasi yang beredar, rencana ini kemungkinan akan diumumkan secara resmi pada pekan berikutnya bersamaan dengan kunjungan Perdana Menteri Irak ke Gedung Putih untuk bertemu Presiden Donald Trump.

Strategi yang Tidak Lagi Sekadar Berbasis Militer

Rangkaian perkembangan pada 10–11 Juli 2026 menunjukkan bahwa pendekatan Washington terhadap Iran tampaknya tidak hanya mengandalkan operasi militer.

Di satu sisi, Amerika Serikat meningkatkan tekanan melalui serangan terhadap sasaran-sasaran strategis di wilayah Iran.

Di sisi lain, Washington juga berupaya membangun sistem distribusi energi alternatif yang dapat mengurangi pengaruh Selat Hormuz terhadap pasar minyak dunia.

Apabila strategi tersebut berhasil diwujudkan, posisi Iran sebagai negara yang selama ini memiliki pengaruh besar terhadap salah satu jalur energi paling penting di dunia berpotensi mengalami perubahan yang signifikan.

Meskipun demikian, hingga saat ini berbagai klaim mengenai jumlah sasaran yang diserang, tingkat kerusakan infrastruktur, maupun rencana proyek energi tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut dari sumber-sumber resmi yang independen.

Yang jelas, perkembangan terbaru memperlihatkan bahwa konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran kini tidak lagi hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga merambah ke bidang geopolitik, ekonomi, dan keamanan energi global. (***)

Israel Ungkap Terowongan Rahasia Hizbullah, Iran Balas Ancaman! Krisis Timur Tengah Memanas

EtIndonesia.com – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah serangkaian perkembangan militer dan diplomatik memperlihatkan bahwa Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini berada pada titik yang semakin mendekati konfrontasi langsung. 

Di tengah operasi militer yang terus berlangsung di Lebanon dan Jalur Gaza, Iran tetap menunjukkan sikap menantang terhadap tekanan Washington, sementara Amerika Serikat meningkatkan kesiagaan militernya di kawasan Teluk Persia.

Berbagai perkembangan yang terjadi pada Sabtu, 11 Juli 2026, memperlihatkan bahwa seluruh pihak kini tengah mempersiapkan kemungkinan terburuk apabila jalur diplomasi benar-benar mengalami kegagalan.

Israel Nyatakan Siaga Penuh, Siap Bergabung Jika Diminta Amerika Serikat

Menurut laporan The Jerusalem Post yang dipublikasikan pada 11 Juli 2026, seorang pejabat senior Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengungkapkan bahwa seluruh cabang militer Israel saat ini telah berada dalam kondisi siaga operasional penuh.

Pejabat tersebut menjelaskan bahwa koordinasi antara Washington dan Tel Aviv berlangsung secara intensif. Israel disebut telah menyatakan kesiapan untuk bergabung dalam operasi militer terhadap Iran apabila Amerika Serikat secara resmi meminta dukungan.

Meski demikian, selama belum ada permintaan langsung dari Washington, pemerintah Israel memilih memanfaatkan waktu yang tersedia untuk menyelesaikan berbagai ancaman keamanan yang selama bertahun-tahun dibangun Iran melalui kelompok-kelompok sekutunya di kawasan.

Fokus utama operasi Israel saat ini tetap diarahkan pada dua wilayah yang dianggap sebagai basis utama kelompok pro-Iran, yakni Lebanon selatan dan Jalur Gaza.

Pasukan Israel Hancurkan Terowongan Rahasia Hizbullah di Lebanon Selatan

Di wilayah Lebanon selatan, pasukan khusus Israel melaksanakan operasi penyisiran besar-besaran terhadap jaringan bawah tanah yang diduga digunakan Hizbullah sebagai pusat komando dan logistik.

Dalam operasi tersebut, pasukan Israel berhasil menemukan dua kompleks terowongan bawah tanah yang disebut memiliki fasilitas militer lengkap.

Menurut keterangan militer Israel, fasilitas tersebut terdiri atas:

  • ruang komando operasi,
  • area tempat tinggal personel,
  • berbagai fasilitas logistik,
  • peluncur roket otomatis,
  • gudang amunisi,
  • serta puluhan sistem peluncur senjata lainnya.

Seluruh kompleks kemudian dipasangi bahan peledak berkekuatan tinggi sebelum akhirnya diledakkan secara terkendali.

Ledakan besar itu menghancurkan seluruh struktur bawah tanah beserta persenjataan yang tersimpan di dalamnya. Militer Israel menyebut penghancuran tersebut sebagai bagian dari upaya menghilangkan infrastruktur militer Hizbullah yang selama ini dinilai menjadi ancaman langsung terhadap wilayah utara Israel.

Operasi Israel di Gaza Berlanjut, Sejumlah Tokoh Militan Dilaporkan Tewas

Di saat yang sama, operasi militer Israel di Jalur Gaza juga terus berlanjut melalui serangan-serangan presisi terhadap individu yang disebut memiliki peran penting dalam struktur kelompok bersenjata Palestina.

Salah satu operasi terjadi di dekat Persimpangan Abbas, Kota Gaza, ketika sebuah drone Israel menyerang sebuah kendaraan yang sedang melintas.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan seorang anggota Hamas bernama Fayoumi.

Menurut laporan yang beredar, Fayoumi disebut merupakan salah satu pembantu utama juru bicara Hamas, Qasim, sekaligus memiliki peran penting dalam aktivitas organisasi tersebut.

Beberapa saat kemudian, Israel kembali melancarkan operasi serangan terarah di wilayah selatan Gaza.

Kali ini sasaran operasi adalah seorang tokoh yang diidentifikasi sebagai Qadi, yang disebut menjabat sebagai komandan divisi produksi persenjataan kelompok Jihad Islam Palestina (PIJ).

Qadi dilaporkan tewas setelah lokasi keberadaannya dihantam amunisi berpemandu presisi.

Sementara itu, di wilayah utara Gaza, seorang penembak jitu elite Hamas yang diidentifikasi sebagai Suti juga menjadi target operasi Israel.

Menurut laporan militer, setelah dilakukan pelacakan intelijen selama beberapa waktu, sebuah bom berpemandu presisi menghantam rumah yang menjadi tempat persembunyiannya.

Ledakan tersebut terjadi ketika Suti berada di dalam kamar tidurnya sehingga ia dilaporkan tewas di lokasi.

Citra Satelit Ungkap Aktivitas Baru di Sejumlah Fasilitas Militer Iran

Di tengah meningkatnya ketegangan, citra satelit terbaru memperlihatkan adanya aktivitas pembangunan kembali di sejumlah fasilitas strategis Iran yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat serangan udara.

Analisis terhadap citra satelit menunjukkan adanya:

  • pergerakan kendaraan konstruksi,
  • aktivitas pekerja,
  • pembangunan kembali sejumlah fasilitas,
  • serta lalu lintas logistik di sedikitnya enam lokasi berbeda.

Beberapa lokasi tersebut merupakan fasilitas militer maupun instalasi bawah tanah yang berada di kawasan pegunungan.

Selain itu, sejumlah pangkalan militer yang sebelumnya menjadi sasaran serangan udara juga mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Namun terdapat satu temuan yang menarik perhatian para analis.

Tiga fasilitas nuklir utama Iran yang selama ini menjadi fokus operasi militer Amerika Serikat dan Israel, yaitu:

  • Isfahan,
  • Fordow, dan
  • Natanz,

hingga kini justru masih terlihat tanpa aktivitas berarti.

Tidak tampak alat berat, kendaraan konstruksi, maupun kegiatan pembangunan kembali dalam skala besar.

Kondisi tersebut memunculkan dugaan bahwa bagian paling vital dari infrastruktur nuklir Iran kemungkinan mengalami kerusakan yang jauh lebih serius dibandingkan fasilitas lainnya.

Akibatnya, apabila Iran memang berupaya membangun kembali program nuklirnya, proses tersebut diperkirakan harus dimulai dari fasilitas-fasilitas sekunder terlebih dahulu karena pusat-pusat utama belum menunjukkan tanda-tanda dapat segera dioperasikan kembali.

Iran Tolak Ultimatum Terakhir Amerika Serikat

Pada Sabtu, 11 Juli 2026, pemerintah Iran secara resmi menyampaikan penolakan terhadap ultimatum terakhir yang diberikan Amerika Serikat.

Dalam pernyataan resminya, Teheran menegaskan bahwa selain jalur pelayaran di bagian utara Selat Hormuz, seluruh jalur lainnya akan tetap ditutup.

Pemerintah Iran juga menegaskan bahwa pengaturan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz hanya dapat diputuskan oleh Iran bersama Oman.

Selain itu, Teheran kembali menyampaikan keyakinannya bahwa apabila konflik bersenjata berskala besar benar-benar terjadi, maka Rusia dan Republik Rakyat Tiongkok disebut akan memberikan dukungan kepada Iran.

Pernyataan tersebut semakin memperkuat kesan bahwa Iran belum menunjukkan indikasi untuk melunak terhadap tekanan yang diberikan Washington.

Aktivitas Darurat di Gedung Putih Picu Spekulasi

Pada waktu yang hampir bersamaan, sejumlah media Amerika Serikat melaporkan adanya pergerakan darurat kendaraan kepresidenan yang membawa Presiden Donald Trump menuju Gedung Putih.

Seorang pejabat Gedung Putih mengungkapkan bahwa situasi mendesak menyebabkan sejumlah pejabat tinggi pemerintahan diperintahkan segera menuju Situation Room, pusat komando dan pengambilan keputusan strategis Presiden Amerika Serikat.

Hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai alasan pasti pengerahan tersebut.

Namun, perkembangan itu memunculkan berbagai spekulasi bahwa pemerintah Amerika Serikat kemungkinan sedang menghadapi situasi yang memerlukan keputusan tingkat tertinggi terkait perkembangan terbaru di Timur Tengah.

Dua Kapal Induk Amerika Serikat Berada di Posisi Terdekat dengan Iran

Sementara itu, perkembangan di lapangan menunjukkan peningkatan signifikan pada postur militer Amerika Serikat.

Berdasarkan citra satelit terbaru, Kelompok Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln dan USS George H. W. Bush dilaporkan berada pada jarak sekitar 220 hingga 250 kilometer dari garis pantai Iran.

Posisi tersebut disebut sebagai salah satu penempatan kapal induk Amerika Serikat yang paling dekat dengan wilayah Iran sejak krisis terbaru dimulai.

Keberadaan dua kelompok tempur kapal induk itu secara signifikan meningkatkan kemampuan Amerika Serikat untuk melaksanakan operasi udara maupun operasi laut apabila sewaktu-waktu diperintahkan.

Situasi Memasuki Fase Penentuan

Rangkaian perkembangan sepanjang 11 Juli 2026 memperlihatkan bahwa ketegangan di Timur Tengah telah memasuki fase yang sangat menentukan.

Di satu sisi, Israel terus memperluas operasi militernya terhadap kelompok-kelompok yang didukung Iran di Lebanon dan Gaza. Di sisi lain, Iran tetap mempertahankan sikap keras dengan menolak ultimatum Amerika Serikat serta menegaskan kontrolnya atas Selat Hormuz.

Sementara itu, peningkatan kesiagaan militer Amerika Serikat, pengerahan kapal induk ke posisi yang semakin dekat dengan Iran, serta aktivitas darurat di Gedung Putih menjadi sinyal bahwa Washington tengah mempersiapkan berbagai opsi menghadapi kemungkinan eskalasi.

Sejumlah analis militer menilai bahwa 48 jam ke depan berpotensi menjadi periode yang sangat menentukan dalam menentukan apakah krisis ini masih dapat dikendalikan melalui jalur diplomasi atau justru berkembang menjadi konfrontasi militer yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. (***)

Mobil Hangus Tinggal Rangka, Kebakaran Hutan Paling Mematikan dalam Sejarah Spanyol Tewaskan 12 Orang

EtIndonesia.com Gelombang panas ekstrem telah memicu kebakaran hutan di sejumlah negara Eropa. Menurut Sistem Informasi Kebakaran Hutan Eropa (European Forest Fire Information System/EFFIS), hingga tahun ini sekitar 57.000 hektare (sekitar 140.000 acre) lahan telah terbakar akibat kebakaran hutan.

Di wilayah timur laut, timur, dan selatan Spanyol, serangkaian kebakaran hutan telah menewaskan sedikitnya 12 orang, menyebabkan puluhan orang lainnya dilaporkan hilang, serta menghanguskan kawasan yang sangat luas.

Mobil-mobil hangus menjadi rangka

Di sebuah jalan pegunungan yang sunyi, tampak beberapa mobil yang telah meleleh akibat panas dan hanya menyisakan rangkanya. Bukit-bukit di sekitarnya juga tampak hangus terbakar.

Pada Sabtu (11 Juli), Garda Sipil Spanyol (Guardia Civil) mengonfirmasi bahwa kendaraan-kendaraan yang terbakar di lokasi kebakaran di Bédar merupakan mobil yang digunakan para korban ketika berusaha melarikan diri dari kebakaran hutan di wilayah Almería.

Salah satu kebakaran hutan paling mematikan dalam sejarah Spanyol

Pihak berwenang menyatakan bahwa kebakaran yang mulai terjadi pada Kamis (9 Juli) di daerah pegunungan Provinsi Almería, Spanyol selatan, merupakan salah satu kebakaran hutan paling mematikan dalam sejarah negara tersebut.

Hingga saat ini, kebakaran telah menyebabkan:

  • 12 orang meninggal dunia;
  • sedikitnya 23 orang masih dinyatakan hilang.

Di antara para korban:

  • 4 orang ditemukan meninggal di dalam sebuah mobil;
  • 8 korban lainnya ditemukan di sepanjang jalan yang hangus terbakar.

Ratusan petugas dikerahkan

Pemerintah Spanyol telah mengerahkan:

  • lebih dari 500 petugas pemadam kebakaran dan personel tanggap darurat;
  • 19 ahli dari tim pemadam kebakaran nasional untuk memadamkan api.

Namun, kobaran api menyebar dengan sangat cepat.

Pada Jumat (10 Juli), api dilaporkan menjalar hingga 15 kilometer hanya dalam waktu dua jam.

Akibatnya, sedikitnya 1.400 orang harus dievakuasi.

Upaya pemadaman masih berlangsung

Hingga Sabtu, para petugas pemadam kebakaran masih terus menyemprotkan air untuk mencegah api meluas.

Salah seorang warga terdampak, Jose Antonio Flores, mengatakan:

“Ini benar-benar menghancurkan hati. Hanya ini yang tersisa dari milik saya. Ya, benar. Saya pernah bekerja di sana. Anak saya dibesarkan di tempat yang kini dilalap api. Dulu saya memiliki 600 pohon jeruk.”

Lebih dari 6.600 hektare lahan terbakar

Pemerintah Spanyol menyatakan bahwa hingga saat ini sedikitnya 6.600 hektare (sekitar 16.300 acre) lahan telah hangus terbakar.

Sebelumnya, setelah gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa pada bulan Juni, sejumlah negara seperti: Portugal, Yunani, dan Prancis, juga mengalami kebakaran hutan pada awal Juli ini. 

Laporan disusun oleh Tang Li, NTD Television.

AS Meningkatkan Tekanan terhadap Iran, Perundingan Mengenai Selat Hormuz dan Situasi Regional Berlangsung di Oman

EtIndonesia.com Perkembangan terbaru di Timur Tengah menunjukkan bahwa Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap Iran. Washington menuntut Teheran untuk memberikan pernyataan publik dan komitmen bahwa seluruh jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur transportasi energi terpenting di dunia, akan tetap terbuka dan bahwa Iran tidak akan lagi menyerang kapal-kapal yang melintas.

Di saat yang sama, kedua pihak terus melanjutkan proses perundingan melalui para perwakilan mereka di Oman.

AS mengajukan tuntutan tegas kepada Iran

Pada Jumat (10 Juli), Amerika Serikat menyampaikan tuntutan yang jelas kepada Iran, yaitu:

  • menghentikan serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz;
  • tidak mengenakan biaya atau pungutan apa pun kepada kapal yang melintas;
  • secara terbuka menyatakan bahwa seluruh jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka.

Menurut pihak Amerika, apakah Iran bersedia memberikan komitmen tersebut akan mempengaruhi kelanjutan perundingan dan langkah-langkah yang akan diambil Washington selanjutnya.

Iran dan pihak mediator bertemu di Oman

Di tengah meningkatnya ketegangan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tiba di Oman pada Sabtu (11 Juli) untuk membahas:

  • hubungan bilateral;
  • situasi regional;
  • masalah Selat Hormuz.

Sementara itu, Amerika Serikat membatalkan rencana kunjungan langsung dan memilih menggunakan negara-negara mediator seperti Qatar dan Pakistan untuk menyampaikan pesan secara tidak langsung serta melakukan koordinasi jarak jauh dengan perwakilan Iran di Oman.

Trump: Gencatan senjata  Juni telah berakhir

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat menyatakan bahwa setelah Iran meminta diadakannya perundingan, Amerika Serikat telah menyetujuinya.

Namun, Trump juga menegaskan bahwa perjanjian gencatan senjata yang dicapai kedua negara pada  Juni sudah berakhir.

Pemerintah AS menuduh Iran telah melanggar kesepakatan tersebut dengan beberapa kali menembaki kapal-kapal dagang di Selat Hormuz, sehingga menimbulkan keraguan mengenai keseriusan dan kemampuan Iran dalam menjalankan perundingan terkait program nuklirnya.

AS menuntut Iran mengakui kesalahan

Mengenai serangan terhadap kapal dagang yang terjadi pekan ini, pejabat AS mengatakan bahwa Iran secara tertutup mengakui serangan tersebut dilakukan oleh kelompok garis keras yang tidak terkendali dan berusaha menggagalkan gencatan senjata.

Karena itu, Washington meminta Iran untuk secara terbuka mengakui kesalahan tersebut paling lambat pada hari Sabtu.

Laporan CNN: Aktivitas baru terdeteksi di fasilitas nuklir Iran

Menurut laporan CNN yang mengutip analisis citra satelit eksklusif, sejak akhir Juni hingga awal Juli terdeteksi aktivitas baru di sejumlah fasilitas nuklir dan fasilitas rudal di Iran.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa aktivitas tersebut dapat mengindikasikan upaya Teheran untuk membangun kembali sebagian fasilitas nuklirnya.

AS menuntut Iran menyerahkan uranium yang diperkaya tinggi

Berdasarkan laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pada Mei tahun lalu, Iran disebut memiliki lebih dari 900 pon (sekitar 408 kilogram) uranium yang diperkaya hingga tingkat tinggi.

Pemerintah AS menyatakan bahwa setiap kesepakatan mengenai program nuklir Iran harus mencakup kewajiban bagi Iran untuk menyerahkan persediaan uranium yang diperkaya tinggi tersebut.

Washington menegaskan bahwa jika Iran menolak, Amerika Serikat masih memiliki berbagai pilihan tekanan, termasuk: tindakan militer; sanksi ekonomi; serta langkah-langkah lainnya.

Laporan intelijen: Dugaan ancaman terhadap Trump

Selain itu, beredar laporan bahwa Israel telah membagikan informasi intelijen terbaru kepada Amerika Serikat yang menyebutkan bahwa Iran sedang mempertimbangkan rencana baru untuk melakukan upaya pembunuhan terhadap Presiden Trump.

Sebelumnya, Trump telah memperingatkan bahwa jika Teheran berupaya melaksanakan rencana pembunuhan terhadap dirinya, maka militer AS siap meluncurkan 1.000 rudal untuk menghancurkan Iran secara menyeluruh.

Israel juga mengirim sinyal keras

Di saat yang sama, Israel juga mengirimkan pesan tegas kepada Iran dengan menyatakan kesiapan untuk melancarkan “serangan independen” ketiga apabila dianggap diperlukan.

Laporan oleh Guo Yuexi, reporter NTD Television 

Gopprera Panggabean Resmi Pimpin KPPU, Hilman Pujana Jadi Wakil Ketua

Jakarta, 8 Juli 2026 – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) resmi memasuki era kepemimpinan baru. Dalam Rapat Komisi yang digelar pada hari ini, Gopprera Panggabean ditetapkan sebagai Ketua KPPU dan Hilman Pujana sebagai Wakil Ketua KPPU untuk periode Juli 2026 hingga Januari 2029.

Penetapan ini merupakan bagian dari mekanisme pergantian kepemimpinan di lingkungan KPPU sebagaimana diatur dalam Peraturan KPPU Nomor 1 Tahun 2026 tentang Tata Tertib Komisi. Kedua pimpinan baru dipilih dari dan oleh anggota KPPU dalam Rapat Komisi, dengan masa jabatan 2 tahun 6 bulan.

Duet Berpengalaman

Gopprera Panggabean bukanlah nama baru di dunia penegakan hukum persaingan usaha. Sebelum dilantik sebagai Anggota KPPU Periode 2024–2029, ia berkarier panjang sebagai investigator dan menduduki berbagai jabatan strategis, termasuk Direktur Investigasi. Selama menjadi anggota, ia juga dipercaya memimpin berbagai majelis komisi dalam penanganan perkara-perkara strategis.

Sementara itu, Hilman Pujana membawa pengalaman di bidang hukum, kebijakan publik, dan pengawasan persaingan usaha. Ia aktif menangani berbagai perkara, menyusun kajian kebijakan, serta mewakili KPPU dalam forum nasional maupun internasional yang membahas hukum persaingan dan ekonomi digital.

Fokus ke Depan: Penegakan Hukum yang Profesional

Ketua KPPU Terpilih Gopprera Panggabean menegaskan bahwa kepemimpinannya akan diarahkan pada penguatan kualitas penegakan hukum yang profesional, peningkatan kepastian hukum bagi pelaku usaha, serta penguatan advokasi kebijakan.

“KPPU akan terus menjaga independensi, profesionalisme, dan integritas dalam menjalankan amanat undang-undang. Persaingan usaha yang sehat merupakan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang efisien, inovatif, serta memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” ujar Gopprera.

Wakil Ketua KPPU Terpilih Hilman Pujana menambahkan bahwa KPPU akan memperkuat kolaborasi dengan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dalam membangun budaya persaingan usaha yang sehat di berbagai sektor ekonomi.

“Kami ingin memastikan bahwa penegakan hukum berjalan seiring dengan upaya pencegahan melalui advokasi dan pengawasan kebijakan sehingga tercipta iklim usaha yang semakin kompetitif dan mampu mendukung investasi,” katanya.

Misi Konstitusional

Kepemimpinan Gopprera Panggabean dan Hilman Pujana akan berlangsung mulai 9 Juli 2026 hingga 8 Januari 2029, sejalan dengan masa bakti Anggota KPPU Periode 2024–2029 yang dilantik oleh Presiden pada 18 Januari 2024.

Ke depan, KPPU berkomitmen terus memperkuat perannya sebagai otoritas persaingan usaha yang independen, kredibel, dan adaptif dalam menghadapi dinamika perekonomian nasional maupun global【0†L32-L34】. Kedua pimpinan baru akan melanjutkan tugas konstitusional KPPU dalam mengawasi pelaksanaan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, serta mengawasi pelaksanaan kemitraan UMKM di Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008

Meriahkan Hari Anak Nasional, Vasa Hotel Surabaya Gelar Kids Fun Day Kolaborasi dengan Read Me Aloud

SURABAYA, Juli 2026 — Liburan sekolah kali ini terasa lebih istimewa bagi puluhan keluarga di Surabaya. Vasa Hotel Surabaya menggelar Kids Fun Day pada Minggu, 12 Juli 2026, sebuah acara full day bermain dan belajar yang dirancang khusus untuk anak-anak. Berkolaborasi dengan komunitas literasi anak Read Me Aloud, acara ini sukses mengundang puluhan keluarga untuk menikmati berbagai aktivitas kreatif dalam suasana hotel berbintang lima yang nyaman dan ramah keluarga.

Mengusung konsep learn, create, and play, Kids Fun Day menghadirkan rangkaian kegiatan interaktif yang mampu mengasah kreativitas sekaligus membangun rasa percaya diri anak. Berbagai aktivitas yang dapat dinikmati peserta antara lain membuat dan menghias slime, menanam di pot, mewarnai kanvas yang disponsori oleh I am Not Trash, membuat gelang, giant board game, storytelling bersama Read Me Aloud, hingga pertunjukan sulap, puppet show, dan giant bubble show yang menghibur tidak hanya anak-anak tetapi juga seluruh keluarga.

30 Anak, Satu Hari Penuh Keceriaan

Sebanyak 30 anak mengikuti rangkaian acara mulai pukul 9 pagi. Di awal kedatangan, mereka mendapatkan “buku paspor” dan misi untuk menyelesaikan permainan serta aktivitas di semua booth. Di masing-masing booth, anak-anak tidak hanya bermain, tetapi juga belajar bersosialisasi dengan teman baru dan bekerja sama sebagai tim di beberapa permainan.

Setelah menyelesaikan setiap aktivitas, mereka mendapat stamp di paspor yang selanjutnya dapat ditukarkan dengan blind box berisi berbagai makanan ringan dan stiker di booth Vankee lab. Sistem permainan ini membuat anak-anak semakin antusias mengikuti setiap rangkaian acara hingga tuntas.

Tak hanya mengikuti berbagai kegiatan kreatif, setiap peserta juga menikmati sajian spesial berupa pizza dan iced tea di Voda Bistro yang terletak di lantai lobi hotel, memberikan pengalaman kuliner yang melengkapi hari penuh keceriaan bersama keluarga.

Kolaborasi dengan Read Me Aloud: Belajar dari Dongeng

Kolaborasi bersama Read Me Aloud menjadi nilai tambah dalam penyelenggaraan Kids Fun Day. Sebagai komunitas yang aktif menumbuhkan budaya membaca sejak usia dini, Read Me Aloud menghadirkan sesi mendongeng yang interaktif sehingga anak-anak tidak hanya terhibur, tetapi juga mendapatkan pesan-pesan positif melalui cerita yang disampaikan.

Yuliana Sidharta, inisiator Read Me Aloud, mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi sarana efektif untuk menanamkan kecintaan membaca sejak dini dengan cara yang menyenangkan.

“Kami ingin menghadirkan lebih dari sekadar pengalaman menginap atau bersantap. Melalui Kids Fun Day, Vasa Hotel Surabaya ingin menjadi destinasi keluarga yang menghadirkan aktivitas berkualitas bagi anak-anak sekaligus menciptakan momen kebersamaan yang berkesan bagi seluruh anggota keluarga. Kolaborasi dengan Read Me Aloud menjadi bagian dari komitmen kami untuk mendukung kegiatan edukatif yang dikemas secara menyenangkan,” ujar Yuliana.

Komitmen Vasa Hotel Surabaya untuk Keluarga

Selama acara berlangsung, antusiasme peserta terlihat dari semangat anak-anak mengikuti setiap aktivitas, mulai dari berkreasi dengan warna di atas kanvas, menanam tanaman kecil yang dapat dibawa pulang, hingga menikmati keseruan permainan slime dan pertunjukan sulap. Orang tua pun turut mendampingi dan menikmati waktu berkualitas bersama buah hati dalam suasana yang hangat dan penuh kebahagiaan.

Camelia Ayu Rahmawati, Senior Marketing Communications Manager Vasa Hotel Surabaya, menegaskan komitmen hotel untuk terus menghadirkan program-program berkualitas bagi keluarga.

“Vasa Hotel Surabaya berkomitmen untuk terus menghadirkan berbagai program dan kegiatan yang tidak hanya menawarkan kenyamanan menginap, tetapi juga memberikan pengalaman yang berkesan bagi keluarga. Melalui berbagai kolaborasi dengan komunitas dan mitra terpercaya, Vasa Hotel Surabaya berkomitmen menghadirkan aktivitas yang inspiratif, edukatif, dan menghibur bagi masyarakat,” ujar Camelia.

MYZE Hotel Sumenep Luncurkan Paket Manasik Umrah, Fasilitas Lengkap Harga Terjangkau

SUMENEP, Juli 2026 – Bagi biro perjalanan umrah, komunitas, hingga instansi yang ingin menggelar kegiatan manasik dengan nyaman dan profesional, kini hadir solusi praktis di Sumenep. MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL menghadirkan Paket Manasik Umrah dengan harga mulai dari Rp165.000 per orang, dengan minimum pemesanan 30 peserta.

Program ini dirancang untuk memberikan pengalaman manasik yang lebih fokus dan nyaman melalui fasilitas meeting yang lengkap dalam suasana hotel megah dan elegan. Dengan durasi penggunaan ruang selama 4 jam, peserta dapat mengikuti rangkaian kegiatan manasik secara optimal, didukung fasilitas modern dan pelayanan terbaik.

Dalam satu paket, peserta akan mendapatkan berbagai keuntungan:

  • Penggunaan meeting room selama 4 jam
  • Buffet lunch berkualitas
  • Smart TV untuk kebutuhan presentasi dan materi manasik
  • Akses Wi-Fi di seluruh area hotel
  • Meja dan kursi yang telah tertata sesuai kebutuhan acara

Didukung fasilitas meeting yang representatif, MYZE Hotel Sumenep siap menjadi pilihan utama bagi travel umrah maupun komunitas yang ingin menyelenggarakan kegiatan manasik dengan suasana yang nyaman, praktis, dan berkesan. Hotel ini juga memiliki beragam ruang pertemuan dengan fasilitas modern yang mendukung berbagai kebutuhan acara.

Komitmen Hadirkan Pengalaman Berkesan

Akfian Farado Gusti, General Manager MYZE Hotel Sumenep, menyatakan bahwa paket ini dihadirkan sebagai bentuk komitmen hotel dalam memberikan solusi terbaik bagi penyelenggara kegiatan keagamaan.

“Kami ingin menghadirkan pengalaman manasik yang tidak hanya nyaman, tetapi juga berkesan. Dengan fasilitas meeting yang lengkap, hidangan buffet berkualitas, kami berharap setiap peserta dapat lebih fokus dalam mempersiapkan perjalanan ibadah ke Tanah Suci. Paket ini juga kami hadirkan dengan harga yang kompetitif agar semakin mudah dijangkau oleh berbagai kalangan,” ujar Akfian.

Solusi Praktis untuk Persiapan Ibadah

Melalui promo ini, MYZE Hotel Sumenep berharap dapat menjadi mitra terpercaya bagi biro perjalanan umrah, lembaga, maupun komunitas dalam menyelenggarakan kegiatan manasik yang berkualitas, nyaman, dan penuh makna. Dengan lokasi strategis di jantung Sumenep dan fasilitas hotel berbintang empat, para peserta tidak perlu lagi khawatir soal kenyamanan selama mengikuti rangkaian manasik.