Perampokan Permata Kembali Guncang Prancis, 20 Perhiasan Museum Raib Meski Dijaga Sistem Keamanan

EtIndonesia.com Pada 5 Juli 2026 dini hari waktu setempat, Museum Lalique di Departemen Bas-Rhin, timur laut Prancis, dibobol oleh beberapa pencuri bertopeng. Sebanyak 20 koleksi perhiasan berharga dicuri, dengan nilai kerugian diperkirakan mencapai hampir 4 juta euro. Meskipun museum ini telah mendapat pengamanan khusus setelah pencurian besar di Museum Louvre tahun lalu, aksi pencurian tersebut tetap tidak dapat dicegah.

Pencuri Bertopeng Berhasil Melarikan Diri

Museum Lalique terletak di Wingen-sur-Moder, Departemen Bas-Rhin, dan dibuka pada tahun 2011. Museum ini menyimpan karya-karya René Lalique, seniman kaca sekaligus perancang perhiasan terkenal asal Prancis.

Koleksinya mencakup lebih dari 650 karya dari era Art Nouveau dan Art Deco, termasuk perhiasan, botol parfum, serta berbagai karya seni kaca yang bernilai tinggi.

Wingen-sur-Moder merupakan kota kecil berpenduduk sekitar 1.500 jiwa, berjarak sekitar 60 kilometer di barat laut Strasbourg.

Sekitar pukul 05.30 pagi, beberapa pencuri bertopeng memasuki museum setelah mencongkel salah satu pintu masuk. Mereka kemudian memecahkan enam lemari kaca pajangan dan membawa kabur 20 perhiasan berbahan kristal.

Menurut laporan, perhiasan tersebut tidak mengandung batu permata berharga maupun logam mulia, sehingga tidak dapat dilebur untuk dijual kembali. Nilainya terutama berasal dari nilai seni dan sejarahnya.

Alarm Berbunyi, Tetapi Petugas Keamanan Tidak Segera Bertindak

Selama aksi pencurian berlangsung, sistem alarm museum aktif. Namun, perusahaan keamanan yang bertanggung jawab tidak segera merespons.

Orang pertama yang menyadari adanya pencurian justru seorang petugas kebersihan yang tiba di lokasi. Ia kemudian segera menghubungi polisi.

Ketika polisi datang ke museum, para pelaku telah berhasil melarikan diri.

Seorang sumber mengatakan kepada AFP bahwa: “Sekitar 20 perhiasan telah dicuri. Nilai kerugian masih dihitung, tetapi kemungkinan mencapai beberapa juta euro, bahkan mendekati 4 juta euro.”

Wali Kota Marah, Pertanyakan Kinerja Perusahaan Keamanan

Wali Kota Wingen-sur-Moder, Christian Dorschner, mengatakan kepada harian lokal Dernières Nouvelles d’Alsace bahwa ia merasa “sangat marah” atas kejadian tersebut.

Menurutnya, para pelaku langsung menyasar koleksi perhiasan. “Mereka jelas mengetahui kondisi di dalam museum sehingga dapat melakukan pencurian seperti ini. Mereka kemungkinan adalah pencuri profesional,” katanya. 

Ia juga mengkritik keras perusahaan keamanan yang bertugas menjaga museum. “Semua alarm berbunyi dengan normal. Namun kemudian tampaknya terjadi kesalahan besar di pihak perusahaan keamanan. Mereka tidak segera datang ke lokasi dan juga tidak langsung menghubungi polisi.”

Sementara itu, Presiden Wilayah Grand Est, Franck Leroy, menyatakan bahwa pencurian tersebut merupakan: “Serangan yang tidak dapat diterima terhadap warisan budaya Prancis. Yang dirugikan bukan hanya benda-benda yang dicuri, tetapi juga sebuah tempat bersejarah yang mewakili sejarah, tradisi kerajinan, dan budaya kita.”

Polisi Mulai Menyelidiki

Penyelidikan kini ditangani oleh unit investigasi kriminal Gendarmerie Departemen Bas-Rhin.

Polisi sedang memeriksa rekaman kamera pengawas serta menelusuri kemungkinan keberadaan para tersangka.

Pihak Museum Lalique menyatakan bahwa museum akan ditutup selama beberapa hari ke depan agar pemeriksaan keamanan dapat dilakukan sebelum dibuka kembali untuk umum.

Tetap Dibobol Meski Sudah Mendapat Pengamanan Khusus

Sejak terjadinya pencurian besar di Museum Louvre pada Oktober 2025, Museum Lalique telah ditempatkan di bawah pengamanan khusus.

Namun para penyelidik menilai bahwa langkah-langkah keamanan yang ada masih belum memadai untuk mencegah aksi pencurian kali ini.

Kilas Balik Pencurian Besar di Museum Louvre

Kasus pencurian perhiasan di Museum Louvre pada tahun 2025 sempat mengejutkan dunia. Saat itu, berbagai benda berharga dengan nilai sekitar 80 juta euro berhasil dicuri.

Menurut kepolisian Paris, para pelaku bukan berasal dari kelompok kejahatan terorganisasi, melainkan sekelompok residivis pencurian dari kawasan pinggiran utara Paris.

Salah satu tersangka adalah pria keturunan Aljazair berusia 34 tahun yang pindah ke Prancis pada tahun 2010, sedangkan tersangka lainnya yang berusia 39 tahun sedang berada di bawah pengawasan peradilan karena beberapa kasus pencurian besar sebelumnya.

Dari empat tersangka utama, tiga orang telah ditangkap, tetapi seluruh perhiasan yang dicuri hingga kini masih belum ditemukan.

Sumber : NTDTV.com

Bendungan Waduk Liulan di Guangxi, Tiongkok Jebol, Banjir Besar Sapu Permukiman; Warga: “Satu Desa Hilang!”

EtIndonesia.com Pada 6 Juli 2026 pagi, Bendungan Waduk Liulan (六藍水庫) di Kota Hengzhou (dahulu Kabupaten Hengxian), Guangxi, Tiongkok  jebol. Video dari lokasi menunjukkan sebagian bendungan runtuh sehingga air waduk meluap deras dan menerjang kawasan permukiman di hilir. Seorang warga mengeluhkan, “Satu desa hampir habis.”

Menurut laporan New Tang Dynasty (NTD), dalam video yang beredar terdengar warga berteriak:

“Bendungannya jebol! Bendungannya jebol!”

“Banjir! Banjir!”

Rekaman video memperlihatkan tanggul waduk runtuh dan gelombang air bah mengalir deras ke bawah. Tepat di kaki bendungan terdapat kawasan permukiman sehingga situasi dinilai sangat berbahaya.

Seorang warga dalam video mengatakan: “Ah, bendungan Waduk Liulan sudah roboh. Satu desa hampir habis.”

Lahan pertanian dan rumah-rumah di bawah bendungan dilaporkan terendam. Di beberapa ruas jalan, air telah menenggelamkan lantai dasar bangunan. Sejumlah kendaraan terseret arus, sementara sebagian warga terpaksa naik ke atap rumah untuk menyelamatkan diri.

Di media sosial Tiongkok, banyak pengguna membagikan video dan informasi mengenai peristiwa tersebut.

Beberapa unggahan warga antara lain menyebutkan:

“Bendungan waduk jebol!”

“Di grup keluarga juga sudah beredar videonya. Air sudah meluap melewati tanggul, bendungannya benar-benar tidak mampu menahan lagi.”

Seorang warga lainnya menulis: “Rumah kami semuanya kebanjiran. Lokasi di Desa Dengwei, Kecamatan Yunbiao, Kota Hengzhou, Guangxi. Kondisinya benar-benar parah. Hujan masih terus turun. Anggota keluarga hanya bisa bertahan di lantai atas. Sekarang listrik dan air bersih sudah padam, makanan juga hampir tidak ada.”

Unggahan lain berbunyi: “Pelimpah waduk jebol. Di daerah Yunbiao yang lebih rendah, air sudah mencapai lantai dua dan masih terus naik! Semoga semakin banyak orang mengetahui keadaan ini. Di desa masih banyak kakek-nenek yang tinggal sendirian.”

Menurut petugas Pos Layanan Waduk Liulan yang diwawancarai media Yicai (第一財經), bendungan mengalami dua titik keruntuhan, sehingga sejumlah besar air waduk mengalir deras ke wilayah hilir.

Sekitar lebih dari 300 warga dan petugas di sekitar waduk telah dievakuasi ke tempat yang lebih tinggi sebagai langkah penyelamatan. Hingga saat ini, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa.

Petugas juga mengungkapkan bahwa kawasan waduk kini mengalami pemadaman listrik, sementara sinyal komunikasi terputus-putus, sehingga hubungan dengan dunia luar menjadi sangat sulit.

oleh Luo Tingting/ Wen Hui

Muncul Perbedaan Pendapat di Internal Iran, Ketua Parlemen Dilaporkan Berulang Kali Mengabaikan Arahan Pimpinan Tertinggi

Setelah bentrokan antara Amerika Serikat dan Iran beberapa waktu lalu, kedua negara kini telah kembali melanjutkan perundingan tidak langsung. Namun, seiring berjalannya proses negosiasi, muncul laporan mengenai perbedaan pendapat di kalangan petinggi Iran. Pada saat yang sama, ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok bersenjata Houthi di Yaman juga terus meningkat, sehingga situasi di Timur Tengah masih dipenuhi ketidakpastian.

EtIndonesia.com Saat menghadiri peringatan 250 tahun berdirinya Amerika Serikat di Mount Rushmore pada Sabtu (4 Juli), Presiden AS Donald Trump kembali menyinggung hubungan dengan Iran.

Trump mengatakan: “Dalam satu hari kami mengalahkan Venezuela, dan kami juga menghantam Iran dengan sangat keras. Sekarang mereka sangat ingin mencapai kesepakatan. Mereka benar-benar ingin menyelesaikan perundingan.”

Trump juga mengatakan bahwa Amerika Serikat sengaja memberikan waktu seminggu kepada Iran setelah pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei sebagai bentuk itikad baik.

Menurut laporan yang dikutip The Jerusalem Post, anggota parlemen Iran Gazanfari menyatakan bahwa Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf tidak mengikuti arahan berulang kali dari Pemimpin Tertinggi saat ini, Mojtaba Khamenei, dalam perundingan dengan Amerika Serikat, dengan tetap memasukkan isu nuklir ke dalam agenda pembahasan.

Laporan tersebut menyoroti adanya dugaan perbedaan antara sikap resmi pemerintah Iran yang menyatakan patuh terhadap arahan pemimpin tertinggi dengan praktik yang terjadi dalam proses negosiasi, sehingga memunculkan spekulasi mengenai perbedaan pandangan di kalangan elite politik Teheran.

Di sisi lain, sebagian masyarakat Iran mulai menyampaikan pandangan yang berbeda dari narasi resmi pemerintah dan menyerukan agar Teheran mengambil sikap yang lebih kompromistis.

Seorang veteran Iran, Fateh Bayaz, mengatakan: “Amerika Serikat adalah negara adidaya, dan mereka memiliki tuntutan terhadap kami. Saya rasa kami seharusnya memberikan beberapa konsesi yang wajar. Jika kita menempatkan diri pada posisi Amerika, mereka juga memiliki kepentingan sendiri. Kita seharusnya memahami dan merespons sebagian dari tuntutan mereka. Jika tidak, mereka mungkin akan mengambil tindakan yang lebih ekstrim terhadap para pejabat kami.”

Salah satu isu utama dalam perundingan adalah Selat Hormuz. Berdasarkan nota kesepahaman yang ditandatangani Amerika Serikat dan Iran, Iran disebut telah menyetujui untuk mengizinkan kapal-kapal melintas tanpa dikenakan biaya selama masa perundingan yang berlangsung 60 hari.

Namun, dalam beberapa hari terakhir Iran tetap menyatakan tidak menutup kemungkinan bekerja sama dengan Oman untuk membentuk sistem pungutan bagi kapal-kapal yang melintasi selat tersebut.

Menanggapi hal itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kembali menegaskan bahwa Selat Hormuz seharusnya tidak menjadi jalur yang dikenai biaya oleh negara mana pun terhadap kapal yang melintas. Sementara itu, pihak Tiongkok belum memberikan tanggapan langsung mengenai isu tersebut.

Selain itu, Bloomberg, mengutip sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, melaporkan bahwa beberapa negara Eropa dan negara-negara Teluk menilai kemungkinan penerapan biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz di masa depan semakin terbuka. Meski demikian, hingga kini belum ada kesepakatan mengenai mekanisme maupun besaran tarif yang mungkin diterapkan.

Sementara itu, situasi keamanan di kawasan Teluk Persia masih tetap tegang. Arab Saudi menuduh kelompok bersenjata Houthi di Yaman terus meningkatkan aksi provokatif dan memperingatkan bahwa setiap serangan atau tindakan yang mengancam keamanan kawasan akan mendapat respons yang tegas.

Laporan disusun oleh Yi Xin, NTD Television.

“Deklarasikan Perang terhadap Komunisme?” Trump: Sejak Perang Iran Dimulai, Lebih dari 273 Orang Tertembak di Chicago

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 5 Juli mengunggah sebuah pesan di platform Truth Social, dengan menyatakan bahwa sejak dimulainya perang Iran, lebih dari 273 warga Amerika telah menjadi korban penembakan hanya di Kota Chicago. Sebelumnya, Trump juga menyatakan bahwa ancaman terbesar yang dihadapi Amerika Serikat adalah komunisme.

EtIndonesia.com Pada 4 Juli, setelah Amerika Serikat merayakan 250 tahun Hari Kemerdekaannya, Trump mengunggah sebuah gambar bernuansa gelap di akun Truth Social miliknya. Gambar tersebut berlatar hitam dengan ilustrasi ombak gelap dan memuat tulisan:

“Sejak perang Iran dimulai, lebih dari 273 warga Amerika telah ditembak… di Chicago.”

Data Korban Perang Iran

Menurut data dari Defense Casualty Analysis System (DCAS), sejak dimulainya perang Iran dalam operasi yang disebut Operation Epic Fury (OEFU) pada 28 Februari, hingga 2 Juli, jumlah korban di pihak militer Amerika Serikat tercatat sebagai berikut:

  • 13 personel tewas
  • 413 personel terluka

Trump Kembali Menyoroti Komunisme

Di tengah perhatian publik terhadap kapan dan bagaimana perang Iran akan berakhir, Trump kembali menegaskan pesan yang belakangan sering dia sampaikan, yakni bahwa komunisme merupakan ancaman terbesar bagi Amerika Serikat.

Saat berpidato pada malam 3 Juli dalam perayaan 250 tahun berdirinya Amerika Serikat di Mount Rushmore, Trump mengatakan:

“Anda boleh menjadi seorang komunis atau seorang patriot, tetapi Anda sama sekali tidak mungkin menjadi keduanya sekaligus.”

“Komunisme Adalah Ancaman Terbesar”

Sebelumnya, pada 28 Juni, Trump juga menulis di Truth Social: “Sejak Perang Dunia I, Perang Dunia II, serangan Pearl Harbor, maupun peristiwa 11 September, komunisme adalah ancaman terbesar yang pernah dihadapi negara kita.”

Dalam pidatonya pada 3 Juli, Trump kembali menegaskan: “Kita tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi pada kita. Percayalah, kita tidak akan membiarkannya terjadi. Karena komunisme adalah musuh bagi seluruh bangsa yang mencintai kebebasan. Ideologi itu tidak pernah berhasil.”

Trump kemudian menambahkan: “Mereka tidak menginginkan kebaikan. Mereka tidak mencintai Tuhan dan tidak menginginkan Tuhan. Mereka tidak mencintai agama dan tidak menginginkan agama. Tetapi kita tidak akan membiarkan mereka menang. Mereka ingin melawan kita, tetapi mereka sama sekali tidak memiliki peluang.”

Pidato Hari Kemerdekaan

Pada malam 4 Juli, saat menyampaikan pidato dalam perayaan Hari Kemerdekaan bertajuk “Salute to America” di National Mall, Washington, D.C., Trump kembali menegaskan pandangannya bahwa: “Komunisme tidak pernah berhasil, dan juga tidak akan pernah berhasil di masa depan.”  (***)

Gempa Dahsyat di Venezuela Tewaskan Lebih dari 3.300 Orang, Lebih dari 100 Anjing Pelacak Berperan Penting dalam Operasi Penyelamatan

EtIndonesia.com Setelah dua gempa bumi kuat mengguncang Venezuela pada 24 Juni 2026, anjing-anjing pencari dan penyelamat memainkan peran penting dalam operasi pencarian korban dan telah membantu menyelamatkan sejumlah orang yang masih hidup dari bawah reruntuhan. Dua gempa tersebut menghancurkan puluhan bangunan tempat tinggal, terutama di wilayah pesisir La Guaira.

Menurut laporan Reuters, berdasarkan data yang dirilis Kementerian Informasi Venezuela pada 5 Juli, jumlah korban meninggal telah meningkat menjadi 3.342 orang. Sebanyak 16.470 orang mengalami luka-luka, sementara 17.345 orang kehilangan tempat tinggal.

Sebelas hari setelah bencana, tim penyelamat internasional mulai mengakhiri operasi mereka karena harapan menemukan korban selamat semakin kecil. Meski demikian, anjing pencari tetap memainkan peran yang sangat penting dalam proses pencarian.

Anjing Pelacak Menjadi Garda Terdepan

Menurut laporan AFP, salah satu anjing penyelamat bernama Sisu, seekor Labrador Retriever yang tergabung dalam tim penyelamat Amerika Serikat Florida Task Force 2, mengenakan rompi biru dan dengan penuh semangat memasuki bangunan-bangunan yang runtuh untuk mencari korban selamat hanya dengan mengandalkan indera penciumannya.

Anjing-anjing seperti Sisu telah terbukti sangat penting dalam operasi pencarian yang berpacu dengan waktu. Setiap kali tim penyelamat tiba di lokasi yang diduga masih terdapat korban yang tertimbun, anjing-anjing inilah yang biasanya menjadi pihak pertama yang melakukan pencarian.

Mendeteksi Korban Melalui Bau dan Karbon Dioksida

Anggota Florida Task Force 2 lainnya, Alexander Parada, mengatakan kepada AFP bahwa tugas anjing penyelamat adalah: “Mendeteksi keberadaan manusia melalui panas tubuh, bau tubuh, dan karbon dioksida yang diembuskan.”

Di samping Parada terdapat Labrador bernama Piper, yang berhasil menemukan dan membantu menyelamatkan dua orang korban di Venezuela. Ini merupakan penugasan pertamanya dalam operasi penyelamatan.

Parada menjelaskan bahwa berkat kemampuan penciumannya, anjing pelacak dapat memeriksa wilayah yang sangat luas dalam waktu singkat sehingga mempercepat proses pencarian korban.

Kisah “Tsunami”, Anjing yang Pernah Diselamatkan Kini Menyelamatkan Orang Lain

Salah satu anjing penyelamat lokal bernama Tsunami, seekor Border Collie bermata berbeda warna—satu biru dan satu cokelat—menjadi inspirasi bagi banyak warga Venezuela.

Tsunami sebelumnya merupakan anjing yang berhasil diselamatkan dari penyiksaan, namun kini justru membantu menyelamatkan nyawa manusia.

Bekerja Hingga 12 Jam di Tengah Puing dan Cuaca Panas

Seperti halnya rekan-rekan manusianya, anjing-anjing penyelamat bekerja dalam shift selama 12 jam.

Mereka harus bertugas di bawah suhu tinggi di La Guaira, menghadapi risiko dehidrasi serta luka akibat gesekan puing-puing bangunan. Luka lecet pada leher Sisu tampak jelas akibat medan pencarian yang berat.

Tugas mereka mengharuskan mereka menjelajahi reruntuhan bangunan, termasuk merangkak melewati lorong-lorong sempit yang terbentuk dari tembok, tiang, dan balok bangunan yang runtuh untuk mencari korban yang mungkin masih hidup.

Salah seorang anggota tim penyelamat, Sylvia Arango, mengatakan: “Saat kami menginjak tumpukan puing-puing itu, tidak ada jaminan bahwa kami akan tetap aman. Kami harus percaya pada pelatihan yang telah kami jalani.”

Operasi Penyelamatan Berlanjut

Operasi pencarian kini memasuki tahap akhir, namun tim penyelamat dari berbagai negara masih terus bekerja di beberapa lokasi yang dianggap berpotensi menyimpan korban di bawah reruntuhan. (***)

Artikel ini terbit di NTDTV.com

Rusia Diguncang Serangan Terbesar! Saint Petersburg Terbakar, Krimea Nyaris Lumpuh Total

EtIndonesia.com– Konflik antara Rusia dan Ukraina terus mengalami eskalasi yang signifikan. Jika pada awal perang sebagian besar pertempuran berpusat di garis depan, kini kedua belah pihak semakin intensif menyerang fasilitas-fasilitas logistik dan infrastruktur strategis yang berada jauh di belakang wilayah tempur.

Dalam beberapa bulan terakhir, Ukraina secara konsisten meningkatkan penggunaan drone jarak jauh untuk menyerang berbagai fasilitas energi dan logistik Rusia. Sasaran utama operasi tersebut meliputi kilang minyak, depot bahan bakar, terminal penyimpanan, hingga pelabuhan yang menjadi jalur distribusi logistik militer Rusia.

Strategi tersebut tidak hanya bertujuan mengurangi kemampuan logistik Moskow dalam mendukung operasi militernya di Ukraina, tetapi juga meningkatkan tekanan ekonomi dan politik terhadap pemerintah Rusia.

Gelombang Serangan Drone Kembali Menghantam Rusia

Pada Jumat, 4 Juli 2026, Rusia kembali menghadapi salah satu gelombang serangan drone terbesar yang dilancarkan Ukraina. Serangan itu menyasar sejumlah wilayah penting, termasuk kawasan barat laut Rusia yang selama ini relatif lebih jarang menjadi target dibandingkan wilayah perbatasan.

Salah satu sasaran paling menonjol adalah Saint Petersburg, kota terbesar kedua di Rusia setelah Moskow yang dihuni sekitar enam juta penduduk. Kota tersebut merupakan pusat industri, pelabuhan, perdagangan, serta salah satu kawasan dengan nilai strategis tinggi bagi Rusia.

Pemerintah kota mengonfirmasi bahwa wilayah tersebut menjadi sasaran serangan drone dalam skala besar.

Wali Kota Saint Petersburg menyatakan bahwa sistem pertahanan udara Rusia diaktifkan untuk menghadapi serangan tersebut. Meski demikian, pemerintah tidak segera mengungkapkan rincian mengenai jumlah drone yang menyerang maupun tingkat kerusakan yang ditimbulkan.

Namun, sejumlah media lokal Rusia melaporkan bahwa salah satu terminal minyak utama di kota tersebut mengalami kebakaran setelah diduga terkena serangan drone. Rekaman yang beredar di media sosial juga memperlihatkan kepulan asap tebal membumbung dari kawasan industri di sekitar pelabuhan.

Hingga laporan tersebut dipublikasikan, otoritas Rusia belum memberikan penjelasan resmi mengenai besarnya kerusakan maupun dampaknya terhadap aktivitas distribusi energi.

Pelabuhan Vysotsk Ikut Menjadi Sasaran

Serangan Ukraina tidak hanya berhenti di kawasan Saint Petersburg.

Gubernur Oblast Leningrad mengonfirmasi bahwa serangan drone juga menjangkau Pelabuhan Vysotsk, sebuah pelabuhan strategis yang berada di pesisir Teluk Finlandia, sekitar 170 kilometer di barat laut Saint Petersburg.

Pelabuhan Vysotsk memiliki arti penting dalam jaringan logistik Rusia karena menjadi salah satu titik utama ekspor berbagai komoditas energi.

Melalui pelabuhan ini, Rusia menyalurkan:

  • minyak mentah;
  • berbagai produk olahan minyak;
  • batu bara; serta
  • gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG).

Selain berfungsi sebagai pelabuhan perdagangan, fasilitas tersebut juga memiliki peran penting dalam menjaga rantai pasok energi Rusia menuju pasar internasional.

Karena itu, setiap gangguan terhadap operasional Pelabuhan Vysotsk berpotensi memengaruhi distribusi energi sekaligus memperbesar tekanan ekonomi terhadap Rusia.

Zelenskyy Sebut Serangan sebagai “Sanksi Jarak Jauh”

Menanggapi keberhasilan operasi tersebut, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memberikan pernyataan yang menegaskan tujuan strategis di balik rangkaian serangan drone tersebut.

Ia menyebut operasi tersebut sebagai bentuk “sanksi jarak jauh” (long-range sanctions) yang dijatuhkan Ukraina kepada Rusia.

Menurut Zelenskyy, Ukraina kini tidak hanya bertahan menghadapi serangan Rusia di garis depan, tetapi juga berupaya mengurangi kemampuan Moskow membiayai perang melalui penghancuran fasilitas-fasilitas energi yang menjadi sumber pemasukan negara.

Dalam pernyataannya, Zelenskyy mengatakan bahwa pasukan Ukraina berhasil menyerang sejumlah fasilitas minyak yang selama ini berkontribusi terhadap pendanaan operasi militer Rusia.

Selain sasaran energi, Presiden Ukraina juga mengklaim bahwa militernya berhasil menghantam sebuah objek militer penting di Pulau Kotlin, sebuah pulau strategis yang terletak di dekat kota pelabuhan Kronstadt, di lepas pantai Saint Petersburg.

Pulau Kotlin memiliki posisi yang sangat penting karena menjadi lokasi pangkalan utama Armada Baltik Rusia serta berbagai instalasi pertahanan yang melindungi jalur masuk menuju Saint Petersburg.

Apabila sasaran tersebut benar-benar mengalami kerusakan, maka serangan itu menunjukkan kemampuan Ukraina untuk menjangkau wilayah yang sebelumnya dianggap relatif aman dari ancaman langsung.

Krimea Kembali Diguncang Serangan Besar

Pada saat yang hampir bersamaan, Semenanjung Krimea juga kembali menjadi sasaran gelombang serangan besar.

Menurut berbagai laporan yang beredar pada Sabtu, 4 Juli 2026, wilayah tersebut mengalami serangan udara sepanjang malam.

Ledakan dilaporkan terdengar di sejumlah lokasi, sementara sistem pertahanan udara Rusia bekerja untuk menghadang drone maupun rudal yang memasuki wilayah tersebut.

Dampak paling nyata dari serangan itu adalah terganggunya pasokan listrik di berbagai daerah.

Sejumlah wilayah di Krimea dilaporkan mengalami pemadaman listrik dalam skala luas, bahkan beberapa kawasan disebut berada dalam kondisi yang nyaris lumpuh karena terganggunya jaringan distribusi tenaga listrik.

Hingga saat itu, otoritas Rusia belum memberikan rincian resmi mengenai tingkat kerusakan infrastruktur maupun estimasi waktu pemulihan jaringan listrik.

Strategi Ukraina Membawa Dampak Perang ke Wilayah Rusia

Para analis militer menilai bahwa pola operasi Ukraina saat ini menunjukkan perubahan strategi yang semakin jelas.

Jika sebelumnya fokus utama diarahkan pada penghancuran kendaraan tempur, gudang amunisi, dan posisi militer di garis depan, kini Kyiv semakin memusatkan perhatian pada penghancuran infrastruktur logistik, energi, dan fasilitas ekonomi yang menopang kemampuan Rusia mempertahankan perang dalam jangka panjang.

Dengan menyerang terminal minyak, pelabuhan ekspor, fasilitas energi, hingga jaringan kelistrikan, Ukraina berupaya meningkatkan biaya ekonomi yang harus ditanggung Rusia sekaligus mengurangi kemampuan negara tersebut dalam mendukung operasi militernya.

Selain memberikan dampak terhadap logistik militer, strategi tersebut juga memiliki dimensi psikologis.

Serangan yang menjangkau kota-kota besar dan kawasan yang selama ini relatif jauh dari garis depan membuat masyarakat Rusia mulai merasakan dampak perang secara langsung.

Menurut sejumlah pengamat, langkah ini merupakan bagian dari upaya Kyiv untuk menggoyahkan narasi yang selama ini dibangun oleh Presiden Vladimir Putin, yaitu bahwa perang di Ukraina tidak memberikan gangguan berarti terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat Rusia.

Dengan semakin seringnya serangan drone mencapai wilayah-wilayah strategis di dalam negeri Rusia, Ukraina berharap tekanan terhadap pemerintah Rusia tidak hanya datang dari medan perang, tetapi juga dari konsekuensi ekonomi, logistik, dan psikologis yang dirasakan oleh masyarakat di wilayah belakang. (***)

Misteri di Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei! Teheran Dijaga Ketat, Penerus Justru Tak Muncul

EtIndonesia.com – Pemerintah Iran secara resmi memulai rangkaian upacara pemakaman kenegaraan bagi Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu (4/6/2026). Prosesi yang dijadwalkan berlangsung selama beberapa hari tersebut menjadi salah satu peristiwa politik dan keagamaan terbesar dalam sejarah Republik Islam Iran, sekaligus berlangsung di tengah situasi keamanan dan politik yang masih sangat sensitif pascakonflik bersenjata yang mengguncang negara itu.

Sejak pagi hari, ribuan hingga puluhan ribu pelayat memadati kompleks Masjid Agung Mosalla Imam Khomeini di Teheran untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin yang selama lebih dari tiga dekade memegang kendali tertinggi pemerintahan Iran.

Suasana berkabung berlangsung sangat emosional. Di dalam kompleks masjid, gema takbir dan doa terus berkumandang. Massa secara berulang meneriakkan berbagai slogan politik serta seruan pembalasan terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kematian Ayatollah Ali Khamenei. Seruan tersebut bergema hampir tanpa henti dan menjadi bagian yang sangat menonjol dalam prosesi pemakaman.

Di berbagai titik kota, bendera Iran serta bendera-bendera bernuansa keagamaan tampak dikibarkan berdampingan dengan spanduk-spanduk penghormatan kepada Khamenei. Banyak warga mengenakan pakaian hitam sebagai simbol berkabung nasional.

Pengamanan Diperketat di Seluruh Ibu Kota

Di luar area masjid, aparat keamanan memberlakukan pengamanan dalam skala yang sangat besar.

Puluhan kendaraan militer, kendaraan lapis baja, serta mobil kepolisian ditempatkan di berbagai ruas jalan utama menuju lokasi upacara. Pemeriksaan keamanan dilakukan secara berlapis terhadap setiap orang yang memasuki kawasan pemakaman.

Sementara itu, anggota Basij, organisasi milisi sukarelawan yang berada di bawah struktur keamanan Iran, terlihat berpatroli menggunakan sepeda motor di berbagai sudut Kota Teheran. Kehadiran mereka menjadi bagian dari operasi pengamanan besar-besaran yang bertujuan mengantisipasi kemungkinan gangguan keamanan selama berlangsungnya prosesi kenegaraan.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Iran menempatkan upacara pemakaman ini sebagai salah satu agenda nasional dengan tingkat prioritas keamanan tertinggi.

Pemerintah Lakukan Mobilisasi Nasional

Meskipun media pemerintah Iran menggambarkan prosesi tersebut sebagai bentuk duka cita spontan dari jutaan rakyat Iran, sejumlah media internasional menilai bahwa pemerintah mengerahkan hampir seluruh kemampuan logistik negara guna memastikan besarnya jumlah peserta yang hadir.

Menurut laporan Reuters, pemerintah melakukan mobilisasi dalam skala nasional agar prosesi berlangsung semeriah mungkin dan mampu menunjukkan persatuan nasional di hadapan dunia internasional.

Berbagai fasilitas publik disiapkan untuk menampung para pelayat yang datang dari berbagai provinsi.

Sejumlah hotel di Teheran dilaporkan memberikan potongan harga hingga 50 persen bagi para tamu yang datang mengikuti prosesi pemakaman. Selain itu, banyak sekolah, gedung olahraga, dan fasilitas umum lainnya dialihfungsikan menjadi tempat penampungan sementara.

Di sektor transportasi, pemerintah juga melakukan penyesuaian besar-besaran terhadap layanan bus antarkota maupun jaringan kereta api nasional guna memperlancar arus kedatangan masyarakat menuju ibu kota.

Langkah tersebut mencerminkan besarnya operasi logistik yang disiapkan pemerintah demi memastikan prosesi pemakaman berlangsung tanpa hambatan.

Laporan Dugaan Tekanan terhadap Berbagai Lembaga

Di sisi lain, media Iran yang berbasis di luar negeri, Iran International, melaporkan adanya dugaan bahwa pemerintah memberikan tekanan kepada sejumlah perusahaan, instansi, organisasi amal, hingga para pekerja agar mengirimkan perwakilan untuk menghadiri prosesi tersebut.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa kehadiran peserta tidak sepenuhnya bersifat sukarela, melainkan dalam sejumlah kasus didorong melalui mekanisme mobilisasi yang melibatkan institusi pemerintah maupun organisasi yang memiliki hubungan dengan negara.

Namun demikian, pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi terhadap tuduhan tersebut.

Dinilai Sebagai Pertunjukan Politik Sekaligus Keagamaan

Sejumlah pengamat menilai bahwa upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei tidak hanya memiliki makna religius, tetapi juga menjadi momentum politik yang sangat penting bagi Republik Islam Iran.

Seorang analis politik asal Tiongkok menilai bahwa prosesi tersebut pada hakikatnya merupakan sebuah peristiwa politik yang dikemas dalam balutan kegiatan keagamaan.

Menurutnya, terdapat dua tujuan utama yang ingin dicapai pemerintah Iran melalui penyelenggaraan acara berskala nasional tersebut.

Pertama, memperlihatkan kepada masyarakat domestik bahwa pemerintahan masih memiliki legitimasi serta dukungan publik setelah melewati berbagai krisis besar.

Kedua, mengirimkan pesan kepada dunia internasional bahwa struktur kekuasaan Iran tetap solid, stabil, dan mampu mempertahankan kendali negara meskipun baru saja kehilangan figur paling berpengaruh dalam sistem politik Republik Islam.

Dalam konteks tersebut, besarnya jumlah peserta yang hadir dinilai memiliki nilai simbolis yang sangat penting bagi pemerintah.

Absennya Mojtaba Khamenei Memicu Spekulasi

Di tengah prosesi yang berlangsung megah tersebut, perhatian publik justru tertuju pada sosok Mojtaba Khamenei, putra Ayatollah Ali Khamenei yang selama bertahun-tahun sering disebut sebagai tokoh paling berpeluang melanjutkan kepemimpinan ayahnya.

Hingga berlangsungnya upacara pembukaan pemakaman, Mojtaba tidak terlihat menghadiri acara secara terbuka.

Selain dirinya, tiga saudara laki-laki Ayatollah Ali Khamenei juga dilaporkan tidak tampak mengikuti prosesi tersebut.

Ketiadaan mereka memunculkan berbagai spekulasi mengenai alasan keamanan maupun dinamika politik internal yang sedang berlangsung di lingkaran elite Iran. Hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan penjelasan resmi mengenai absennya sejumlah anggota keluarga tersebut.

Rezim Berusaha Bangun Kembali Persatuan Nasional

Direktur Program Timur Tengah di Chatham House, Sanam Vakil, menilai bahwa penyelenggaraan pemakaman dalam skala sangat besar juga harus dipahami dalam konteks situasi politik Iran saat ini.

Menurut Vakil, Iran baru saja melewati periode yang sangat berat, mulai dari konflik bersenjata, tekanan internasional, hingga gelombang demonstrasi besar yang sebelumnya mengguncang stabilitas politik negara tersebut.

Dalam kondisi demikian, pemerintah diperkirakan berupaya memanfaatkan momentum pemakaman Ayatollah Ali Khamenei untuk membangun kembali citra persatuan nasional dan memperkuat legitimasi negara di tengah masa transisi kepemimpinan.

Ia menilai bahwa keberhasilan pemerintah menghadirkan jutaan warga dalam prosesi pemakaman akan menjadi simbol bahwa negara masih mampu mempertahankan stabilitas politik serta dukungan publik, meskipun menghadapi tekanan yang sangat besar baik dari dalam maupun luar negeri. (***)

Iran Memperingatkan Trump dan Israel! Fakta di Balik Pemakaman Khamenei yang Membuat Dunia Tegang

EtIndonesia.com – Di tengah masih berlangsungnya proses gencatan senjata dan perundingan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat, pemerintah Iran secara berturut-turut mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan Israel agar tidak melakukan serangan militer selama rangkaian pemakaman kenegaraan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, masih berlangsung.

Pernyataan yang disampaikan pada 1 dan 2 Juli 2026 tersebut segera memicu berbagai spekulasi di kalangan pengamat internasional. Banyak pihak mempertanyakan alasan di balik retorika keras Iran, mengingat Washington dan Teheran sebelumnya telah menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang memuat kerangka kesepakatan 14 poin sebagai dasar proses deeskalasi konflik.

Di satu sisi, Amerika Serikat menyatakan bahwa jalur diplomasi masih terus berjalan. Namun di sisi lain, Iran justru mengeluarkan peringatan terbuka kepada Washington dan Tel Aviv. Situasi yang tampak kontradiktif ini kemudian memunculkan pertanyaan besar: apakah Iran sedang mengancam lawan-lawannya, atau justru menunjukkan kekhawatiran terhadap kemungkinan pecahnya konflik baru?

Perang Informasi Membuat Situasi Semakin Sulit Dipahami

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa pekan terakhir tidak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga di ranah informasi dan opini publik.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump beserta sejumlah pejabat pemerintahannya terus menyampaikan bahwa operasi militer Amerika telah mencapai keberhasilan besar dan berhasil memaksa Iran kembali ke meja perundingan.

Sebaliknya, sejumlah media Barat yang selama ini dikenal kritis terhadap pemerintahan Trump berulang kali mempertanyakan klaim tersebut. Mereka menilai pemerintah Amerika melebih-lebihkan keberhasilan operasi militer dan bahkan menyebut Washington belum memperoleh keuntungan strategis sebagaimana yang diklaim Gedung Putih.

Di sisi lain, pemerintah Iran juga tetap mempertahankan narasi bahwa mereka berhasil bertahan menghadapi tekanan militer Amerika Serikat dan Israel. Teheran terus menampilkan citra sebagai pihak yang tetap kuat serta tidak menyerah terhadap tekanan asing.

Perbedaan narasi inilah yang kemudian memunculkan kebingungan di tengah masyarakat internasional.

Kontroversi semakin menguat setelah pemerintahan Trump memilih menandatangani nota kesepahaman dengan Iran. Keputusan tersebut memunculkan pertanyaan, termasuk di kalangan sebagian pendukung Trump sendiri.

Mereka mempertanyakan mengapa Amerika Serikat, yang dinilai memiliki keunggulan militer yang jauh lebih besar, justru memilih menghentikan operasi dan memasuki jalur diplomasi, alih-alih melanjutkan tekanan militer hingga mampu menggulingkan pemerintahan Iran.

Para analis menilai bahwa untuk memahami situasi sebenarnya, perhatian sebaiknya tidak hanya tertuju pada pernyataan politik dari berbagai pihak, tetapi juga pada tindakan nyata yang diambil Iran. Respons Teheran dinilai dapat menjadi indikator penting mengenai kondisi sebenarnya di balik perang informasi yang berkembang.

Iran Memulai Pemakaman Kenegaraan Ayatollah Ali Khamenei

Pada 3 Juli 2026, pemerintah Iran secara resmi memulai rangkaian pemakaman kenegaraan bagi Ayatollah Ali Khamenei, yang menurut narasi dalam laporan ini dilaporkan meninggal dunia pada 28 Februari 2026, bertepatan dengan hari pertama operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Prosesi pemakaman diawali di ibu kota Teheran sebelum dilanjutkan dengan iring-iringan selama tujuh hari menuju berbagai kota.

Pemerintah Iran menjadwalkan bahwa jenazah Khamenei akan dimakamkan pada 9 Juli 2026 di kota kelahirannya, Mashhad. Selain itu, sejumlah rangkaian penghormatan dan upacara keagamaan juga dijadwalkan berlangsung di Qom serta beberapa lokasi di Irak.

Pemerintah Iran menggambarkan prosesi tersebut sebagai salah satu upacara kenegaraan terbesar dalam sejarah Republik Islam Iran.

Namun, di balik besarnya acara tersebut, muncul tantangan keamanan yang sangat serius.

Dengan berkumpulnya hampir seluruh pejabat tinggi negara dalam satu rangkaian acara, risiko terjadinya serangan yang menargetkan elite pemerintahan meningkat secara signifikan.

Sebagai langkah antisipasi, Organisasi Penerbangan Sipil Iran memberlakukan pembatasan sementara terhadap ruang udara di sejumlah wilayah, termasuk Teheran dan Mashhad.

Ancaman Terhadap Mojtaba Khamenei Memperketat Situasi

Langkah pengamanan tersebut muncul setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa Mojtaba Khamenei, putra Ayatollah Ali Khamenei yang disebut sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru, telah dimasukkan ke dalam daftar target operasi Israel.

Pernyataan itu semakin meningkatkan kekhawatiran pemerintah Iran bahwa prosesi pemakaman berpotensi menjadi momentum yang sangat rentan terhadap serangan.

Sebagai respons, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bersama Panglima Markas Pusat Khatam al-Anbiya Ali Abdollahi mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan Israel.

Di antara berbagai pernyataan tersebut, unggahan Abbas Araghchi di platform X menjadi sorotan utama karena menggunakan bahasa yang sangat tajam.

Ia menyatakan bahwa Presiden Amerika Serikat telah berjanji mengendalikan “hewan peliharaan Tel Aviv”. Menurutnya, apabila Israel tidak mematuhi arahan Washington, maka Iran akan mengambil tindakan sendiri.

Peringatan Iran Dinilai Lebih Mencerminkan Kekhawatiran daripada Ancaman

Sebagian media Barat menggambarkan pernyataan Iran sebagai ancaman terbuka terhadap Amerika Serikat dan Israel.

Namun sejumlah analis memberikan penafsiran yang berbeda.

Menurut mereka, bahasa keras yang digunakan Teheran justru menunjukkan adanya kekhawatiran mendalam terhadap kemungkinan Israel bertindak secara sepihak di luar mekanisme diplomasi yang sedang berlangsung.

Dalam kerangka nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran, Israel memang bukan merupakan pihak yang ikut menandatangani kesepakatan tersebut.

Akibatnya, pemerintah Israel tidak memiliki kewajiban hukum untuk mengikuti seluruh ketentuan yang terdapat dalam dokumen tersebut.

Kondisi ini membuat Israel dipandang sebagai faktor yang paling sulit diprediksi dalam perkembangan konflik.

Bagi Iran, risiko terbesar bukan semata-mata kemungkinan serangan Israel, tetapi kemungkinan bahwa Washington memilih untuk tidak mencegah atau bahkan secara diam-diam memberikan ruang bagi tindakan tersebut.

Karena itu, peringatan yang disampaikan Iran kepada Amerika Serikat dipandang sebagai upaya untuk mengingatkan Washington agar benar-benar menjalankan komitmennya dalam menjaga stabilitas selama proses negosiasi berlangsung.

Sejumlah pengamat menilai bahwa melalui pernyataan tersebut, Iran sebenarnya sedang mengirimkan sinyal bahwa mereka masih ingin mempertahankan jalur diplomasi dan tidak menghendaki proses perundingan yang telah dibangun selama beberapa pekan terakhir kembali gagal akibat eskalasi militer baru.

Dugaan Pelanggaran Gencatan Senjata Memicu Serangan Balasan Amerika

Meski jalur diplomasi tetap berjalan, ketegangan di lapangan belum sepenuhnya mereda.

Pada 27 dan 28 Juni 2026, Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap sejumlah sasaran militer Iran setelah Teheran dituduh dua kali melanggar ketentuan gencatan senjata dengan menyerang kapal-kapal dagang di kawasan.

Sesaat setelah operasi berlangsung pada 28 Juni, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melalui akun resminya di platform X mengumumkan bahwa pesawat-pesawat tempur Amerika telah menyerang berbagai fasilitas strategis milik Iran.

Target operasi tersebut meliputi:

  • Infrastruktur pengawasan militer.
  • Sistem komunikasi militer.
  • Instalasi pertahanan udara.
  • Fasilitas penyimpanan pesawat nirawak (drone).
  • Lokasi penyimpanan dan penempatan ranjau laut.

Serangan tersebut sempat memunculkan anggapan bahwa kedua negara sebenarnya telah meninggalkan komitmen gencatan senjata.

Namun sejumlah pakar hubungan internasional menilai bahwa situasi tersebut tidak serta-merta berarti proses perdamaian telah gagal.

Dalam praktik diplomasi internasional, pelanggaran terbatas terhadap gencatan senjata bukanlah hal yang sepenuhnya tidak lazim, terutama ketika proses negosiasi masih berlangsung.

Insiden semacam itu sering kali dipandang sebagai bentuk tekanan atau pengujian terhadap batas toleransi lawan, selama kedua pihak masih memiliki kemauan politik untuk melanjutkan dialog.

Dengan demikian, bentrokan berskala terbatas tidak selalu mengakhiri keseluruhan proses diplomasi.

Iran Mulai Membangun Mekanisme Komunikasi dengan Amerika Serikat

Setelah gelombang serangan balasan Amerika Serikat, muncul perkembangan diplomatik yang dinilai cukup penting.

Mengutip pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance, pemerintahan baru di Washington menegaskan bahwa pendekatan Amerika terhadap Iran kini telah berubah dan menunjukkan respons yang jauh lebih tegas terhadap setiap dugaan pelanggaran kesepakatan.

Tidak lama kemudian, berdasarkan laporan Agence France-Presse (AFP) dan Reuters, Iran menyatakan kesediaannya membangun saluran komunikasi dengan Amerika Serikat guna melaporkan serta membahas setiap dugaan pelanggaran terhadap nota kesepahaman yang telah disepakati kedua negara.

Pernyataan tersebut disampaikan pada 1 Juli 2026 oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi, setelah berlangsungnya putaran perundingan teknis tidak langsung antara delegasi Amerika Serikat dan Iran di Doha, Qatar.

Menurut berbagai laporan media internasional, pembentukan mekanisme komunikasi tersebut dipandang sebagai salah satu langkah penting untuk mencegah insiden militer di lapangan berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Kedua pihak juga dilaporkan masih berupaya mempertahankan jalur negosiasi guna meredakan ketegangan yang tersisa setelah serangkaian bentrokan militer dalam beberapa pekan terakhir.

Meskipun demikian, berbagai dinamika politik, ketidakpastian sikap Israel, serta masih terjadinya insiden keamanan di lapangan menunjukkan bahwa proses menuju perdamaian yang lebih permanen masih menghadapi tantangan yang sangat besar. Situasi di kawasan Timur Tengah pun tetap berada dalam kondisi yang rapuh, dengan setiap perkembangan baru berpotensi memengaruhi arah hubungan antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel dalam waktu dekat. (***)

Misteri Penundaan Negosiasi AS–Iran Akhirnya Terjawab!

EtIndonesia.com— Upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menunjukkan perkembangan. Pemerintah Qatar mengonfirmasi bahwa para mediator telah menggelar pertemuan terpisah dengan delegasi kedua negara di Doha dan menyebut pembahasan mengenai Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) berjalan ke arah yang positif.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, setelah Qatar bersama Pakistan kembali memainkan peran sebagai mediator dalam proses negosiasi yang selama beberapa bulan terakhir menjadi fokus perhatian masyarakat internasional.

Menurut Al-Ansari, para mediator dari Qatar dan Pakistan pada Rabu, 1 Juli 2026, mengadakan pertemuan terpisah dengan delegasi Amerika Serikat maupun Iran di Doha. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas berbagai poin dalam rancangan Nota Kesepahaman yang diharapkan dapat menjadi dasar bagi kesepakatan yang lebih luas di masa mendatang.

Ia menjelaskan bahwa pembicaraan berlangsung secara konstruktif dan menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.

Melalui pernyataan resminya yang diunggah di platform X, Al-Ansari juga mengungkapkan bahwa kedua delegasi sepakat untuk melanjutkan konsultasi dalam waktu dekat. Pertemuan lanjutan akan dijadwalkan segera setelah seluruh rangkaian pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, selesai dilaksanakan.

Konfirmasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa meskipun selama masa berlakunya kesepahaman kedua pihak masih sempat terlibat sejumlah aksi militer berskala terbatas, jalur diplomasi tetap dipertahankan dan Iran akhirnya kembali ke meja perundingan.

Penjadwalan Pertemuan Dinilai Memiliki Makna Politik

Keputusan untuk menunda putaran negosiasi berikutnya hingga seluruh prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei selesai dipandang sejumlah pengamat bukan sekadar persoalan teknis.

Menurut berbagai analisis, langkah tersebut mencerminkan strategi politik Iran yang berupaya menyampaikan dua pesan sekaligus kepada Washington.

Di satu sisi, Teheran ingin memperlihatkan bahwa mereka tetap membuka pintu bagi penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan bersedia melanjutkan proses negosiasi.

Namun di sisi lain, Iran juga dinilai berharap Amerika Serikat dapat memastikan tidak terjadi operasi militer maupun gangguan keamanan selama berlangsungnya seluruh rangkaian pemakaman yang menjadi momen sangat sensitif bagi pemerintahan Iran.

Dengan demikian, penjadwalan ulang perundingan dipandang sebagai upaya menjaga stabilitas situasi domestik Iran sebelum pembahasan mengenai kesepakatan dilanjutkan.

Perbedaan Pendekatan Trump dan Obama terhadap Iran

Di tengah berkembangnya proses negosiasi tersebut, muncul kembali perdebatan mengenai perbedaan pendekatan yang ditempuh pemerintahan Presiden Donald Trump dibandingkan kebijakan Presiden Barack Obama dalam menangani isu nuklir Iran.

Sejumlah kalangan masih mempertanyakan apakah Iran benar-benar berniat menjalankan komitmennya atau hanya memanfaatkan proses diplomasi untuk memperoleh waktu memperkuat kembali kemampuan militernya.

Sebagian pengamat bahkan mengkhawatirkan bahwa Washington berpotensi kembali mengalami situasi serupa seperti ketika Perjanjian Nuklir Iran disepakati pada masa pemerintahan Obama.

Namun menurut narasi yang berkembang dalam pembahasan mengenai Nota Kesepahaman terbaru, pemerintah Amerika Serikat menilai bahwa pendekatan yang digunakan kali ini berbeda secara mendasar dibandingkan kesepakatan sebelumnya.

Karena itu, banyak pihak mulai membandingkan Nota Kesepahaman yang dirundingkan pada masa Trump dengan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) atau Perjanjian Nuklir Iran yang ditandatangani pada 2015 di era pemerintahan Obama.

Bahkan terdapat kritik yang menyebut bahwa setelah melalui konflik panjang, pemerintahan Trump justru menghasilkan kesepakatan yang dianggap lebih lemah dibandingkan JCPOA.

Meski demikian, jika kedua dokumen dibandingkan secara substansial, keduanya memiliki karakter yang berbeda sehingga tidak dapat disamakan secara langsung.

Kontroversi Dana Miliaran Dolar pada Era Obama

Dalam narasi yang berkembang di Amerika Serikat, salah satu kritik utama terhadap kebijakan pemerintahan Obama berkaitan dengan pencairan dana kepada Iran.

Pada 2016, pemerintah Obama memang mengirim sekitar US$400 juta yang merupakan bagian dari penyelesaian sengketa lama terkait pembelian persenjataan Iran sebelum Revolusi Islam 1979. Bersamaan dengan itu, Amerika Serikat juga membayarkan bunga dan penyelesaian klaim sehingga total pembayaran mencapai sekitar US$1,7 miliar.

Pemerintahan Obama menjelaskan bahwa dana tersebut merupakan penyelesaian kewajiban hukum yang telah lama tertunda dan bukan pembayaran tebusan.

Namun karena pencairan dana dilakukan hampir bersamaan dengan pembebasan empat warga negara Amerika Serikat yang sebelumnya ditahan Iran, muncul kritik dari sejumlah politisi Partai Republik yang menuduh pembayaran tersebut menyerupai uang tebusan.

Pemerintah Obama membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa kedua proses itu merupakan bagian dari kesepakatan diplomatik yang berbeda.

Selain itu, setelah JCPOA diberlakukan, sejumlah sanksi ekonomi terhadap Iran juga dicabut sehingga sebagian aset Iran yang sebelumnya dibekukan di luar negeri kembali dapat diakses.

Nilai dana yang dapat digunakan kembali oleh Iran diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar AS, meskipun besaran pastinya berbeda menurut berbagai sumber dan bergantung pada metode perhitungannya.

Para pendukung JCPOA berpendapat bahwa pencabutan sanksi merupakan konsekuensi logis dari kesepakatan nuklir.

Sebaliknya, para pengkritik menilai dana tersebut kemudian memperkuat kemampuan ekonomi Iran dan memperluas pengaruh regionalnya melalui berbagai kelompok yang didukung Teheran, termasuk Hamas, Houthi, serta kelompok-kelompok pro-Iran lainnya di Timur Tengah.

Trump Memilih Strategi “Tekanan Maksimum”

Berbeda dengan pendahulunya, Presiden Donald Trump mengambil kebijakan yang jauh lebih keras terhadap Iran.

Pada 8 Mei 2018, Trump secara resmi menarik Amerika Serikat keluar dari JCPOA dan kembali menerapkan sanksi ekonomi yang jauh lebih ketat terhadap Teheran melalui kebijakan yang dikenal sebagai “Maximum Pressure” atau tekanan maksimum.

Ketegangan kemudian terus meningkat.

Pada 3 Januari 2020, Amerika Serikat melancarkan serangan drone di dekat Bandara Internasional Baghdad yang menewaskan Komandan Pasukan Quds Garda Revolusi Iran, Jenderal Qasem Soleimani.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik balik terbesar dalam hubungan kedua negara dan semakin memperburuk ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Sementara itu, pada 2018, badan intelijen Israel, Mossad, juga mengumumkan keberhasilannya memperoleh arsip rahasia program nuklir Iran dalam sebuah operasi yang kemudian menjadi perhatian dunia internasional.

Menurut pemerintah Israel, dokumen-dokumen tersebut menunjukkan bahwa Iran pernah menjalankan program yang berkaitan dengan pengembangan senjata nuklir. Iran sendiri membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa seluruh program nuklirnya bertujuan untuk kepentingan damai.

Klaim Mengenai Operasi Militer 2025–2026 Belum Dapat Diverifikasi Secara Independen

Dalam narasi yang beredar disebutkan bahwa Amerika Serikat dan Israel melaksanakan operasi militer besar terhadap Iran pada Juni 2025, kemudian kembali melakukan operasi udara bersama pada 28 Februari 2026.

Narasi tersebut juga mengklaim bahwa operasi tersebut menewaskan lebih dari 40 pejabat tinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, serta menyebabkan kerusakan besar terhadap kemampuan militer Iran.

Namun, perlu dicatat bahwa rangkaian klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen melalui sumber-sumber resmi maupun media internasional yang kredibel. Oleh karena itu, informasi tersebut sebaiknya dipahami sebagai bagian dari narasi yang terdapat dalam teks asal dan bukan sebagai fakta yang telah terkonfirmasi.

Menilai Situasi dari Tindakan, Bukan Sekadar Pernyataan

Dalam pembahasan mengenai hubungan Amerika Serikat dan Iran, terdapat pandangan bahwa perkembangan situasi sebaiknya dinilai berdasarkan tindakan nyata para pihak, bukan hanya melalui pernyataan politik yang disampaikan kepada publik.

Sebagai contoh, selama berlangsungnya ketegangan di kawasan Teluk Persia, Presiden Donald Trump beberapa kali menyatakan bahwa Amerika Serikat berhasil menguasai jalur pelayaran di Selat Hormuz dan membatasi aktivitas pelayaran yang berkaitan dengan Iran.

Sebaliknya, pemerintah Iran berulang kali membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa mereka tetap memiliki kendali atas kawasan strategis itu.

Narasi dalam teks ini kemudian mengaitkan munculnya laporan mengenai dugaan pembuangan minyak mentah ke laut oleh Iran sebagai indikasi bahwa ekspor minyak negara tersebut mengalami hambatan akibat tekanan militer dan ekonomi.

Namun demikian, klaim tersebut juga belum memperoleh konfirmasi independen sehingga belum dapat dipastikan kebenarannya.

Negosiasi Tetap Berlangsung Meski Sempat Dibantah

Contoh lain yang dikemukakan dalam narasi tersebut adalah dinamika proses perundingan antara Amerika Serikat dan Iran.

Pada beberapa kesempatan, Presiden Trump menyatakan bahwa Iran bersedia kembali melakukan negosiasi dan membuka peluang bagi tercapainya kesepakatan damai.

Pernyataan tersebut sempat dibantah oleh sejumlah pejabat Iran yang menegaskan bahwa tidak ada rencana perundingan dengan Amerika Serikat.

Namun dalam perkembangan berikutnya, delegasi Iran tetap menghadiri pembicaraan yang dimediasi Qatar.

Narasi dalam teks ini juga menyebut bahwa ketika Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance menghadiri pertemuan dengan delegasi Iran di Swiss, sempat muncul laporan bahwa negosiasi dibatalkan karena Iran tidak hadir.

Akan tetapi, menurut narasi tersebut, pertemuan akhirnya tetap berlangsung dan kedua delegasi melakukan pembahasan intensif selama lebih dari sembilan jam.

Meski demikian, rincian mengenai durasi maupun substansi pertemuan tersebut masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut dari sumber-sumber resmi yang dapat diverifikasi.

Diplomasi Masih Menjadi Jalur Utama

Terlepas dari berbagai perbedaan pandangan dan dinamika politik yang terus berkembang, konfirmasi dari pemerintah Qatar menunjukkan bahwa jalur diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran masih tetap berjalan.

Kesepakatan kedua pihak untuk melanjutkan konsultasi setelah berakhirnya rangkaian pemakaman Ayatollah Ali Khamenei menjadi indikasi bahwa komunikasi belum terputus, meskipun hubungan kedua negara masih diwarnai ketidakpercayaan yang mendalam.

Keberhasilan atau kegagalan proses tersebut pada akhirnya akan sangat bergantung pada implementasi komitmen yang disepakati di meja perundingan, bukan hanya pada pernyataan politik yang disampaikan kepada publik. (***)

Piala Dunia 2026: Gan Jing World Gelar Kontes #WorldCupFans dengan Hadiah Global

Tema yang disarankan untuk karya peserta mencakup antusiasme dan semangat penggemar, dukungan terhadap tim atau negara, perayaan budaya, acara nonton bersama, hingga kumpul keluarga.

Sebuah platform streaming video ramah keluarga mengajak para penggemar sepak bola di seluruh dunia untuk membagikan antusiasme mereka terhadap Piala Dunia FIFA 2026 melalui kontes konten buatan pengguna (user-generated content) yang menawarkan hadiah berupa keanggotaan premium.

Gan Jing World meluncurkan Kontes #WorldCupFans pada 5 Juni, dan kompetisi tersebut akan berlangsung hingga 31 Juli. Para pemenang akan diumumkan paling lambat pada 31 Agustus, demikian menurut pengumuman pihak perusahaan.

Kontes ini mengundang peserta dari berbagai negara untuk mengunggah video, foto, artikel, dan unggahan media sosial orisinal ke GanJingWorld.com dengan menggunakan tagar #WorldCupFans. Setiap unggahan secara otomatis akan terdaftar dalam kompetisi setelah dipublikasikan. Peserta dapat mengirimkan jumlah karya tanpa batas, namun setiap peserta atau kanal hanya berhak memenangkan satu hadiah.

Tema yang disarankan untuk karya peserta mencakup antusiasme dan semangat penggemar, bentuk dukungan terhadap tim atau negara, perayaan budaya, acara nonton bersama, kumpul keluarga, serta berbagai kegiatan komunitas.

Hadiah yang ditawarkan berupa langganan GJW+ Gold Membership. Dua pemenang hadiah emas masing-masing akan menerima keanggotaan selama setahun senilai 120 dolar AS. Tiga pemenang hadiah perak masing-masing akan menerima keanggotaan selama enam bulan senilai 60 dolar AS. Sementara itu, lima pemenang hadiah perunggu masing-masing akan menerima keanggotaan selama tiga bulan senilai 30 dolar AS. Para pemenang akan diumumkan melalui kanal resmi Gan Jing World Stories.

Seluruh karya yang diikutsertakan harus merupakan hasil karya asli, bebas dari konten yang menyinggung atau berbahaya, serta tidak melanggar hak merek dagang maupun hak cipta. Aturan lengkap kontes, syarat penggunaan, dan kebijakan privasi perusahaan tersedia di GanJingWorld.com.

Tentang Gan Jing World

Gan Jing World menggambarkan dirinya sebagai platform streaming video dan berbagi konten yang berlandaskan misi “Technology for Humanity” (Teknologi untuk Kemanusiaan), yang mendorong nilai-nilai kebaikan, rasa hormat, kepercayaan, dan moralitas.

Platform tersebut menyatakan bahwa mereka tidak bergantung pada monetisasi data pengguna dan menggunakan algoritma yang tidak bersifat adiktif. GJW+, layanan streaming premium milik perusahaan, menawarkan lebih dari 10.000 film, dokumenter, acara televisi, dan program anak-anak.

Memperluas Jangkauan di Bidang Pendidikan

Peluncuran kontes ini berlangsung di tengah upaya Gan Jing World memperluas jejak internasionalnya di bidang pendidikan.

Beberapa minggu lalu, Kementerian Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Provinsi Santiago del Estero di wilayah utara Argentina secara resmi menyetujui sebuah lokakarya pelatihan guru yang berfokus pada perangkat pendidikan milik platform tersebut.

Lokakarya yang berjudul “Mengajarkan Nilai-Nilai di Era Digital: Gan Jing Campus sebagai Sumber Daya Pendidikan untuk Menciptakan Iklim Sekolah yang Positif” diajukan oleh ADUNSE, Asosiasi Dosen Universitas Nasional Santiago del Estero, bekerja sama dengan para duta sukarelawan Gan Jing World.

Program yang telah disetujui tersebut akan diselenggarakan dalam format hibrida dan terbuka bagi para pendidik dari jenjang pendidikan prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah, hingga pendidikan tinggi non-universitas.

Topik yang akan dibahas dalam kurikulum meliputi kewargaan digital, iklim sekolah, pembuatan kanal pendidikan, serta produksi materi pembelajaran digital.

Artikel ini sebelumnya terbit di  NTD News

Norwegia Kejutkan Brasil, Melaju ke Perempat Final Piala Dunia

Erling Haaland dkk akan menghadapi Inggris atau Meksiko di Miami pada 11 Juli

EtIndonesia.com Perjalanan Brasil di Piala Dunia berakhir pada Senin 6 Juli setelah dikalahkan Norwegia yang dipimpin bintang mudanya, Erling Haaland.

Setelah kedua tim bermain imbang tanpa gol selama hampir 80 menit, Røde, Hvite, Blå—yang berarti Merah, Putih, dan Biru—berhasil mencetak dua gol melalui kepala dan kaki Haaland untuk mengamankan kemenangan 2–1 sekaligus tiket ke perempat final. Sementara itu, Brasil mengalami tersingkir paling awal dari turnamen sepak bola dunia sejak 1990.

Haaland membuka keunggulan pada menit ke-79. Andreas Schjelderup mengirimkan umpan silang ke area serangan, yang kemudian disambut sundulan Haaland tepat di depan gawang dan mengarahkan bola ke dalam jala.

Gol tersebut menandai pertandingan ke-14 berturut-turut di mana Haaland berhasil mencetak gol. Ia juga menjadi pemain Eropa kedelapan yang mencetak gol dalam masing-masing dari empat penampilan pertamanya di Piala Dunia, serta yang pertama melakukannya sejak Christian Vieri bersama Italia pada 1998.

Gol kedua Haaland tercipta pada menit ke-90. Setelah Norwegia mengulur waktu dengan menguasai bola di lini tengah dan berhasil menahan sejumlah serangan dari Vinícius Júnior, Neymar Júnior, dan rekan-rekannya, mereka kembali melancarkan serangan. Kembali menerima bola dari Schjelderup, Haaland melakukan satu sentuhan sebelum melepaskan tendangan rendah dan cepat dari depan kotak penalti ke sudut kanan bawah gawang.

Gol kedua tersebut membuat Haaland menyamai catatan Lionel Messi dari Argentina dan Kylian Mbappé dari Prancis dalam perebutan Sepatu Emas (Golden Boot), penghargaan bagi pencetak gol terbanyak sepanjang turnamen Piala Dunia. Ketiga pemain tersebut kini sama-sama telah mengoleksi tujuh gol. Gol itu juga menandai pertandingan Piala Dunia keempat berturut-turut di mana Haaland mencetak gol kemenangan.

Ini merupakan penampilan pertama Haaland di Piala Dunia, tetapi pengaruhnya terhadap tim nasional Norwegia sangat terasa. Ia bukan hanya mencetak keempat gol kemenangan Norwegia di turnamen ini, tetapi dua kekalahan yang dialami Norwegia dalam 21 pertandingan terakhir terjadi ketika ia tidak bermain sama sekali. Haaland telah mencetak 62 gol dalam 54 penampilan terakhirnya bersama tim nasional Norwegia.

Namun, kemenangan Norwegia juga berarti Vinícius Júnior dari Brasil tersingkir dari persaingan Sepatu Emas. “Vini Jr.” gagal mencetak gol dalam pertandingan yang digelar di luar Kota New York tersebut. Satu-satunya gol Brasil dicetak oleh Neymar Júnior melalui tendangan penalti setelah wasit memberikan hadiah penalti pada menit ke-10 masa tambahan waktu. Namun gol itu datang terlambat untuk mengubah hasil pertandingan.

Tak lama sebelum gol tersebut, Neymar Júnior juga menerima satu-satunya kartu kuning dalam pertandingan itu, ketika para pemain Brasil mulai menunjukkan frustrasi mereka.

Penjaga gawang Norwegia, Orjan Nyland, bekerja keras membantu timnya meraih kemenangan dengan melakukan lima penyelamatan dari total 15 tembakan Brasil, termasuk menggagalkan satu tendangan penalti lainnya.

Selanjutnya, Norwegia akan menghadapi Inggris di Miami pada 11 Juli waktu setempat.

Artikel ini sebelumnya terbit di The Epoch Times edisi bahasa Inggris

Drone Ukraina Serang St. Petersburg, Kota Perbatasan Rusia Alami Pemadaman Listrik Total

Perang Rusia-Ukraina kini telah memasuki tahun kelima. Di tengah konflik yang terus berlanjut, fasilitas penyimpanan minyak di wilayah belakang dan kota-kota strategis di garis depan menjadi sasaran utama kedua belah pihak. Ukraina kini hampir setiap hari melancarkan serangan jarak jauh terhadap fasilitas energi Rusia, yang tidak hanya memicu gangguan pasokan bahan bakar di beberapa wilayah, tetapi juga meningkatkan tekanan politik terhadap Kremlin.

EtIndonesia.com Pada Sabtu (4 Juli), St. Petersburg dan sejumlah wilayah lain di Rusia kembali menjadi sasaran serangan intensif drone Ukraina.

Wali Kota St. Petersburg mengkonfirmasi bahwa kota terbesar kedua di Rusia dengan sekitar 6 juta penduduk itu sedang menghadapi serangan drone berskala besar. Menurutnya, sistem pertahanan udara Rusia berhasil mencegat hingga 72 drone di atas wilayah kota dan daerah sekitarnya.

Meski pemerintah Rusia belum mengungkap rincian kerusakan, media lokal melaporkan bahwa salah satu terminal minyak utama di kota tersebut terbakar setelah terkena serangan.

Serangan juga meluas ke wilayah lain.

Gubernur Oblast Leningrad menyatakan bahwa serangan turut mengenai Pelabuhan Vysotsk, yang terletak di Teluk Finlandia, sekitar 170 kilometer di barat laut St. Petersburg. Pelabuhan tersebut merupakan salah satu pusat penting Rusia untuk ekspor minyak, gandum, batu bara, dan gas alam cair (LNG).

Menanggapi operasi tersebut, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut gelombang serangan itu sebagai bentuk “sanksi jarak jauh” terhadap Rusia.

Menurut Zelenskyy, pasukan Ukraina tidak hanya berhasil melumpuhkan fasilitas minyak pelabuhan yang menjadi sumber pendapatan perang Rusia, tetapi juga menyerang target militer penting di Pulau Kronstadt, yang terletak di lepas pantai St. Petersburg.

Selain itu, Semenanjung Krimea, yang dianeksasi Rusia, juga dilaporkan menjadi sasaran serangan hebat.

Sementara itu, kota perbatasan Belgorod, yang selama ini berulang kali terdampak konflik, mengalami pemadaman listrik hampir total setelah dibombardir sepanjang malam pada Sabtu.

Pasukan drone Ukraina baru-baru ini menyatakan bahwa sejak awal tahun, jumlah serangan terhadap sasaran operasional dan strategis di wilayah Rusia telah meningkat 11,5 kali lipat.

Mereka mengklaim bahwa selama Juni saja, Ukraina telah menyerang 172 target militer dan fasilitas energi Rusia yang berada pada jarak 500 hingga 2.000 kilometer dari wilayah Ukraina.

Menurut laporan tersebut, Kyiv berupaya membawa dampak perang langsung ke wilayah Rusia, sehingga mematahkan narasi Presiden Vladimir Putin yang selama ini menggambarkan bahwa konflik tidak banyak mempengaruhi kehidupan masyarakat Rusia.

Namun demikian, Putin menunjukkan sikap yang relatif tenang terhadap serangan-serangan tersebut.

Ia menyatakan bahwa serangan Ukraina “bukan faktor yang menentukan”, dan menyebutnya sebagai upaya Kyiv mengalihkan perhatian dari kegagalannya di medan perang.

Pada Jumat (3 Juli), Putin mengunjungi markas besar militer Rusia yang memimpin operasi di Ukraina.

Dalam kesempatan itu, Rusia mengumumkan keberhasilan besar di garis depan. Moskow menyatakan bahwa setelah berminggu-minggu pertempuran sengit di kawasan perkotaan, pasukan Rusia telah sepenuhnya menguasai kota strategis Kostiantynivka di wilayah Donetsk.

Mengenakan seragam loreng, Putin mengatakan dalam pidato yang disiarkan televisi bahwa penguasaan kota yang merupakan pusat industri dan transportasi tersebut memiliki “arti strategis yang sangat penting”, serta menjadi langkah kunci untuk merebut pusat pertahanan utama Ukraina di wilayah timur.

Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy membantah klaim tersebut.

Ia menegaskan bahwa Rusia belum menguasai kota itu, dan menyebut laporan kemenangan Rusia sebagai “kebohongan politik lainnya.”

Sumber : NTDTV.com

Amerika Serikat Rayakan HUT Ke -250, Trump: Komunisme Adalah Ancaman Terbesar

EtIndonesia.com Amerika Serikat memperingati 250 tahun berdirinya negara dengan berbagai perayaan besar yang digelar di seluruh penjuru negeri. Mulai dari pertunjukan proyeksi sejarah di Monumen Washington, pertunjukan cahaya drone di atas Independence Hall di Philadelphia, hingga pesta kembang api spektakuler di Texas, berbagai daerah merayakan Hari Kemerdekaan dengan cara yang berbeda sambil mengenang perjalanan sejarah Amerika.

Pada malam menjelang Hari Kemerdekaan, Presiden Donald Trump menghadiri perayaan di Mount Rushmore, menyaksikan pertunjukan kembang api, sekaligus menyampaikan pidato Hari Kemerdekaan.

“Komunisme adalah ancaman mematikan terhadap kebebasan Amerika. Ini adalah ancaman terbesar yang dihadapi negara kita, bahkan melebihi Perang Dunia I, Perang Dunia II, serangan di Pearl Harbor, maupun tragedi 11 September,” katanya. 

Trump mengatakan bahwa setelah generasi sebelumnya berhasil memenangkan Perang Dingin, kini, pada saat Amerika memperingati 250 tahun berdirinya negara, komunisme kembali muncul sebagai tantangan.

Ia memperingatkan bahwa identitas bangsa Amerika sedang menghadapi gelombang serangan ideologis baru, sementara sejarah telah menunjukkan berbagai dampak buruk dari ideologi tersebut.

“Apa pun nama, ideologi, atau sistem yang digunakan, komunisme telah menyebabkan lebih banyak kematian dan kehancuran dibandingkan sistem mana pun dalam sejarah. Pada abad lalu saja, ideologi ini telah merenggut sekitar 100 juta jiwa,” ujarnya. 

Trump juga mengatakan bahwa komunisme, yang menurutnya meninggalkan kepercayaan kepada Tuhan dan menggunakan cara-cara yang tidak manusiawi, pada akhirnya hanya akan membawa tirani dan kematian.

Ia menyatakan: “Komunisme bertentangan dengan kehidupan, kebebasan, dan hak untuk mengejar kebahagiaan. Yang dikejarnya adalah tirani yang jahat dan kematian. Moralitas komunisme yang ateistis menganggap segala cara dapat dibenarkan demi mencapai visi yang tidak manusiawi.”

Trump kemudian berjanji kepada rakyat Amerika bahwa pemerintahannya akan segera mengalahkan komunisme.

“Oleh karena itu, menjelang peringatan 250 tahun berdirinya Amerika Serikat, kami bertekad dan berjanji kepada seluruh rakyat Amerika bahwa kami akan segera mengalahkan komunisme,” ujarnya. 

Laporan diterjemahkan oleh Jiang Ziyang, NTD Asia-Pacific Television.

Kebakaran Hutan di Portugal Hanguskan Lebih dari sekitar 10.000 Hektare, Spanyol Kerahkan Tim Bantuan 

EtIndonesia.com  Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa selama sepekan terakhir telah memicu kebakaran hutan berskala besar di sejumlah negara, termasuk Spanyol dan Portugal. Sementara itu, di tengah cuaca panas, Paris, Prancis, kembali membuka area berenang di Sungai Seine untuk tahun kedua berturut-turut agar masyarakat dapat mendinginkan diri.

Api yang berkobar disertai asap tebal menerangi sebagian besar langit malam.

Kebakaran hutan mulai terjadi pada Kamis (2 Juli) di wilayah Vouzela, Portugal bagian tengah. Didorong angin kencang dan suhu tinggi, api dengan cepat meluas hingga ke tiga kota di sekitarnya hanya dalam semalam.

Pihak berwenang mengerahkan lebih dari 1.000 petugas pemadam kebakaran, ratusan kendaraan pemadam, serta pesawat pemadam kebakaran untuk memadamkan api. Namun hingga saat itu, kobaran api belum berhasil dikendalikan secara efektif.

Pada Jumat malam (3 Juli), negara tetangga Spanyol mengirim personel dari Military Emergency Unit (UME) beserta kendaraan dan pesawat pemadam kebakaran untuk membantu upaya pemadaman di Portugal.

“Begitu kami menerima panggilan kemarin, kami langsung berangkat. Sebanyak 120 personel dikerahkan, sebagian besar berasal dari batalion tanggap darurat di León, ditambah sekitar 10 personel dari markas besar di Madrid,” kata salah seorang anggota UME, Manuel López. 

Pada Sabtu (4 Juli), tim penyelamat Spanyol terlihat memadamkan titik-titik api menggunakan selang air sekaligus membuat jalur penghalang agar api tidak menjalar ke permukiman.

Seorang warga yang rumahnya berhasil diselamatkan dari kobaran api, Carlos Antunes, memuji kerja tim penyelamat.

“Mereka adalah tim yang sangat profesional dan menyelesaikan tugas dengan sangat baik. Mereka terlatih dengan baik, memiliki perlengkapan yang lengkap, dan benar-benar mampu menangani tugas seperti ini. Kerja yang luar biasa!”

Hingga saat ini, kebakaran telah menghanguskan sedikitnya 27.000 acre lahan, atau sekitar 10.900 hektare.

Paris Kembali Buka Area Berenang di Sungai Seine

Setelah melewati sepekan cuaca yang sangat panas, warga Paris mendapat kabar yang menggembirakan.

Pada Sabtu (4 Juli), Pemerintah Kota Paris mengumumkan pembukaan kembali tiga area berenang resmi di Sungai Seine untuk tahun kedua berturut-turut.

Seorang wisatawan asal Belanda, Stefano van Dan, mengatakan: “Seorang teman kami merekomendasikan tempat ini. Saya pikir bisa berenang sambil melihat Menara Eiffel adalah pengalaman yang sangat istimewa, jadi kami langsung memutuskan untuk datang.”

Wisatawan Belanda lainnya, Daniela Roviaro, menambahkan: “Kualitas airnya sangat baik, cuacanya juga sejuk, tidak terlalu panas. Sangat nyaman untuk berenang.”

Pemerintah Kota Paris menyatakan bahwa area berenang di Sungai Seine akan dibuka hingga akhir Agustus. Kualitas air akan diperiksa setiap hari guna memastikan keselamatan masyarakat.

Prakiraan cuaca menunjukkan suhu di Paris akan kembali meningkat pada Senin (6 Juli). Menurut Badan Meteorologi Prancis, suhu tertinggi diperkirakan mencapai 32 derajat Celsius.

Laporan disusun oleh Tang Li, NTD Television.

Pidato Peringatan 250 Tahun Berdirinya AS :  Trump Siap Mengalahkan Komunisme di Tengah Ancaman yang Dianggap Mematikan 

EtIndonesia.com Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pidatonya baru-baru ini secara khusus memperingatkan bahwa komunisme sedang menjadi “ancaman mematikan” bagi kelangsungan hidup Amerika Serikat. Sejumlah akademisi dan pengamat menilai Trump memang mencalonkan diri kembali sebagai presiden dengan tujuan menghadapi ancaman tersebut, dan kini telah siap untuk mengalahkan komunisme.

Dalam pidato peringatan 250 tahun berdirinya Amerika Serikat di Mount Rushmore, salah satu pesan utama Trump adalah peringatan keras bahwa komunisme merupakan ancaman mematikan terhadap kebebasan Amerika. Ia menegaskan bahwa komunisme bertentangan secara fundamental dengan semangat pendirian Amerika Serikat.

Trump bahkan menyatakan bahwa komunisme merupakan ancaman terbesar yang dihadapi Amerika sejak negara itu berdiri, melampaui ancaman pada Perang Dunia I, Perang Dunia II, serangan Pearl Harbor, bahkan serangan teroris 11 September (9/11).

Para analis menilai pernyataan Trump tersebut merupakan deklarasi yang sangat tegas terhadap komunisme dan dimaksudkan untuk kembali menegaskan peran Amerika Serikat sebagai mercusuar demokrasi dunia.

“Trump memilih menyampaikan deklarasi seperti ini pada momen bersejarah, yaitu lebih dari 250 tahun berdirinya Amerika Serikat. Hal ini ibarat membersihkan debu yang menutupi mercusuar Amerika agar kembali memancarkan cahayanya. Dalam situasi saat ini, langkah tersebut sangat penting dan memang diperlukan,” ujar pakar masalah Tiongkok sekaligus pengamat politik Wang He. 

Pengamat media senior sekaligus akademisi Fang Wei mengatakan bahwa pernyataan Trump mengenai komunisme memiliki tiga poin penting.

Menurut Fang, poin pertama adalah bahwa Trump memahami Partai Komunis suatu saat akan kembali bangkit, dan itulah salah satu alasan ia mencalonkan diri sebagai presiden.

Poin kedua, Trump dinilai memahami bagaimana Partai Komunis memperoleh dan mempertahankan kekuasaan.

“Cara Partai Komunis memperoleh kekuasaan adalah dengan menipu masyarakat. Mereka memberikan berbagai janji. Seperti yang baru saja dikatakan Presiden Trump, menjadi seorang komunis sangat mudah, cukup mengatakan ‘Saya akan memberikan segalanya kepada Anda.’ Lalu dari mana semua itu berasal?” jelasnya. 

Ia kemudian mengutip isi buku “Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis”, yang menyatakan:

“Partai Komunis tidak melakukan produksi dan tidak menciptakan penemuan. Satu-satunya cara mereka memberikan sesuatu kepada orang lain adalah dengan mengambil milik orang lain. Itulah hakikat komunisme.”

Fang mengatakan Trump memahami bahwa ideologi komunis pada akhirnya akan memperlihatkan wajah aslinya dan runtuh dengan sendirinya.

Poin ketiga, menurut Fang, adalah pernyataan Trump yang berbunyi:

“Permainan telah dimulai. Saksikan saja.”

Fang menafsirkan ucapan tersebut sebagai isyarat bahwa Amerika Serikat kini sedang menghadapi pertarungan melawan bangkitnya komunisme di dalam negeri.

Dalam pidatonya, Trump juga berjanji bahwa pada tonggak sejarah 250 tahun Amerika Serikat, rakyat Amerika akan “segera mengalahkan komunisme”, serta terus membangun Amerika menjadi “lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat daripada sebelumnya.”

Ia juga menegaskan : “Amerika Serikat tidak akan pernah menjadi negara komunis.”

Sementara itu, Wang He mengatakan bahwa Amerika Serikat merupakan negara pertama di dunia yang memiliki konstitusi tertulis.

Menurutnya, baik Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat maupun Konstitusi Amerika Serikat telah membentuk ideologi dan tradisi politik negara tersebut.

Ia menambahkan bahwa meskipun Amerika saat ini menghadapi berbagai tantangan, seperti polarisasi politik dan beragam arus pemikiran yang saling bertentangan, nilai-nilai inti sistem politik Amerika tetap tidak berubah.

“Hari ini Trump kembali menghidupkan dan mengembangkan nilai-nilai inti tersebut,” tegasnya. 

Laporan Kiu Yue, koresponden NTD Television di Amerika Serikat.