Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 5 Juli mengunggah sebuah pesan di platform Truth Social, dengan menyatakan bahwa sejak dimulainya perang Iran, lebih dari 273 warga Amerika telah menjadi korban penembakan hanya di Kota Chicago. Sebelumnya, Trump juga menyatakan bahwa ancaman terbesar yang dihadapi Amerika Serikat adalah komunisme.
EtIndonesia.com Pada 4 Juli, setelah Amerika Serikat merayakan 250 tahun Hari Kemerdekaannya, Trump mengunggah sebuah gambar bernuansa gelap di akun Truth Social miliknya. Gambar tersebut berlatar hitam dengan ilustrasi ombak gelap dan memuat tulisan:
“Sejak perang Iran dimulai, lebih dari 273 warga Amerika telah ditembak… di Chicago.”
Data Korban Perang Iran
Menurut data dari Defense Casualty Analysis System (DCAS), sejak dimulainya perang Iran dalam operasi yang disebut Operation Epic Fury (OEFU) pada 28 Februari, hingga 2 Juli, jumlah korban di pihak militer Amerika Serikat tercatat sebagai berikut:
- 13 personel tewas
- 413 personel terluka
Trump Kembali Menyoroti Komunisme
Di tengah perhatian publik terhadap kapan dan bagaimana perang Iran akan berakhir, Trump kembali menegaskan pesan yang belakangan sering dia sampaikan, yakni bahwa komunisme merupakan ancaman terbesar bagi Amerika Serikat.
Saat berpidato pada malam 3 Juli dalam perayaan 250 tahun berdirinya Amerika Serikat di Mount Rushmore, Trump mengatakan:
“Anda boleh menjadi seorang komunis atau seorang patriot, tetapi Anda sama sekali tidak mungkin menjadi keduanya sekaligus.”
“Komunisme Adalah Ancaman Terbesar”
Sebelumnya, pada 28 Juni, Trump juga menulis di Truth Social: “Sejak Perang Dunia I, Perang Dunia II, serangan Pearl Harbor, maupun peristiwa 11 September, komunisme adalah ancaman terbesar yang pernah dihadapi negara kita.”
Dalam pidatonya pada 3 Juli, Trump kembali menegaskan: “Kita tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi pada kita. Percayalah, kita tidak akan membiarkannya terjadi. Karena komunisme adalah musuh bagi seluruh bangsa yang mencintai kebebasan. Ideologi itu tidak pernah berhasil.”
Trump kemudian menambahkan: “Mereka tidak menginginkan kebaikan. Mereka tidak mencintai Tuhan dan tidak menginginkan Tuhan. Mereka tidak mencintai agama dan tidak menginginkan agama. Tetapi kita tidak akan membiarkan mereka menang. Mereka ingin melawan kita, tetapi mereka sama sekali tidak memiliki peluang.”
Pidato Hari Kemerdekaan
Pada malam 4 Juli, saat menyampaikan pidato dalam perayaan Hari Kemerdekaan bertajuk “Salute to America” di National Mall, Washington, D.C., Trump kembali menegaskan pandangannya bahwa: “Komunisme tidak pernah berhasil, dan juga tidak akan pernah berhasil di masa depan.” (***)


