Kerugian Vanke Mencapai Rekor Tertinggi,  Mengapa Krisis Real Estate di Tiongkok Begitu Sulit Diatasi?

EtIndonesia. Menurut data terbaru, perusahaan pengembang properti Tiongkok Vanke, yang memiliki latar belakang modal negara, mencatat kerugian besar hingga ratusan miliar yuan pada tahun lalu. Mengapa krisis properti di Tiongkok begitu sulit untuk diatasi? 

Seorang konten kreator Tiongkok mengatakan, “Harga rumah akan terus anjlok dan sulit dihentikan. Era kejayaan properti di Tiongkok telah berakhir, ditandai dengan krisis yang dialami Vanke kali ini.”

Baru-baru ini, Vanke merilis pengumuman yang memperkirakan kerugian bersih perusahaan pada tahun lalu mencapai RMB..45 miliar , memecahkan rekor sejak perusahaan tersebut go public.

Selain itu, data terbaru dari “China Real Estate Research (CRIC)” menunjukkan bahwa pada Januari tahun ini, penjualan dari 100 perusahaan properti terbesar di Tiongkok turun 3,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, raksasa properti Tiongkok, Country Garden, juga melaporkan penurunan penjualan pada Januari, hanya mencapai RMB.2,26 miliar , turun drastis sebesar 58,83% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pakar masalah Tiongkok, Wang He, mengatakan, “Saat ini, sektor properti sedang mengalami penurunan, baik itu properti industri, komersial, maupun residensial. Semuanya sedang lesu.”

Pada tahun 2020, pemerintah PKT memperkenalkan kebijakan “Tiga Garis Merah” yang bertujuan untuk memperketat regulasi di sektor properti dan membatasi akses pembiayaan bagi pengembang. Akibatnya, banyak pengembang mengalami krisis likuiditas hingga bangkrut. Menurut data dari Standard & Poor’s (S&P), sejak tahun 2021 hingga 2023, setidaknya 50 perusahaan properti Tiongkok gagal membayar utang atau mengalami wanprestasi.

Wang He menjelaskan, “Ada dua alasan utama mengapa gelembung properti di Tiongkok bertahan begitu lama. Pertama, pemerintah tidak membiarkan gelembung ini pecah secara alami. Kedua, ekonomi Tiongkok secara keseluruhan sedang mengalami penurunan struktural.”

Para analis berpendapat bahwa kebijakan pemerintah justru menjadi pemicu utama krisis di pasar properti Tiongkok. Prospek pasar properti pada tahun 2025 diperkirakan masih akan suram.

Ekonom Tiongkok yang berbasis di Amerika Serikat, Zheng Xuguang, mengatakan, “Kontribusi sektor properti terhadap ekonomi nasional dan Produk Domestik Bruto (PDB) akan terus menurun hingga mencapai titik keseimbangan baru.”

Sementara itu, Wang He menambahkan, “Setelah gelembung properti pecah, pemerintah tidak membiarkan harga properti menyesuaikan diri secara alami di pasar. Sebaliknya, mereka berusaha mempertahankan harga agar tidak turun. Akibatnya, gelembung ini tidak dapat dibersihkan dari pasar, yang menyebabkan sektor properti terus terjebak dalam krisis berkepanjangan.” (Hui)

Sumber : NTDTV.com 

Pandemi di Tiongkok: Krematorium Kewalahan dan Kematian Mendadak Memicu Kepanikan

EtIndonesia. Dalam situasi yang semakin memprihatinkan, pandemi di Tiongkok menunjukkan gejala perubahan yang drastis. Berbagai laporan mengungkapkan bahwa di sejumlah daerah, fasilitas krematorium kewalahan menangani lonjakan kematian mendadak. Informasi yang dikumpulkan dari media sosial dan berbagai sumber di dalam negeri mengindikasikan bahwa kejadian ini bukanlah sekadar isu kecil.

Kejadian Mengerikan di Tengah Pandemi

Pada 7 Februari lalu, mantan jurnalis Zhao Lanjian menyampaikan kabar mengejutkan dari dalam negeri. Menurut laporannya, seorang netizen mengonfirmasi bahwa dua kurir pengantar tiba-tiba pingsan dan tidak sempat diselamatkan, yang kemudian langsung dinyatakan meninggal dunia. Zhao mengungkapkan bahwa kasus serupa telah muncul di berbagai platform media sosial, membuat banyak warga merasa seolah kembali ke masa pandemi besar.

“Sekarang, kematian mendadak sudah terlalu sering terjadi,” ujar salah seorang netizen. Ia menuturkan pengalamannya saat mengunjungi rumah sakit darurat, di mana di sebelahnya terlihat seorang wanita berusia 30-an menangis karena kehilangan pasangan yang dinyatakan tidak dapat bangun setelah semalam bekerja keras. 

Bahkan, kabar tentang remaja berusia 17 tahun yang tiba-tiba terserang serangan jantung telah membuat banyak keluarga hancur karena kehilangan anggota keluarga secara mendadak.

Kondisi Fasilitas Kesehatan dan Krematorium yang Kritis

Di Tangshan, Hebei, seorang warga bernama Hua mengatakan bahwa situasi di rumah sakit sudah ibarat pasar yang penuh sesak.

“Jenazah pun tidak bisa segera dikebumikan atau dikremasi. Di desa kami, kematian sudah terjadi begitu banyak sehingga untuk mengurus jenazah pun harus mencari tenaga tambahan. Rasanya seperti menghadapi kiamat,” ujarnya.

Di Kabupaten Jinzhai, Lu’an, Provinsi Anhui, Zhang Xiong yang bergerak di bidang penguburan jenazah mengungkapkan bahwa setiap hari terjadi 20 hingga 30 kematian. 

“Pandemi kali ini sangat parah sehingga bisnis krematorium pun berkembang pesat. Rumah duka besar dengan selusin tungku operasional didirikan untuk mengantisipasi lonjakan kematian,” jelasnya.

Aspek Medis: Virus Baru atau Efek Samping Vaksin?

Di tengah kekhawatiran masyarakat, muncul perdebatan mengenai penyebab peningkatan kematian mendadak. Sebagian kalangan mengaitkan hal ini dengan efek samping vaksinasi, sedangkan yang lain menduga adanya virus baru. 

Dr. Lin Xiaoxu, seorang ahli virus asal Amerika, mengungkapkan kekhawatirannya di Forum Jingning. Dia menyoroti bahwa 99 persen kasus influenza yang terdeteksi merupakan tipe H1N1, berbeda dari pola influenza musiman yang biasanya didominasi tipe H3N2.

“Kemungkinan besar, H1N1 tahun ini telah mengalami mutasi yang membuatnya menjadi lebih dominan dan berbahaya,” jelasnya. 

Ia menambahkan, keterlambatan pelaporan resmi dan kurangnya pengujian khusus untuk flu burung di saluran pernapasan rutin membuat kesiapsiagaan terhadap wabah semakin rentan.

Dampak Global dan Langkah Pencegahan

Kekhawatiran akan mutasi virus flu burung juga meluas ke luar negeri. Di California dan Shanghai, misalnya, diberlakukan larangan perdagangan unggas hidup sebagai upaya pencegahan. 

Laporan The Wall Street Journal pada 18 Februari 2025 menyebutkan bahwa CDC Amerika Serikat menemukan sapi terinfeksi H5N1, dan kasus infeksi flu burung juga dilaporkan pada kucing. Para ahli memperingatkan bahwa jika terjadi rekombinasi genetik antara virus flu burung dengan virus influenza lainnya, situasi ini dapat memicu wabah global yang lebih serius.

Krisis Investasi dan Dampaknya pada Sektor Kesehatan

Tak hanya dari sisi epidemi, krisis di sektor medis juga mencuat. Sebuah artikel daring yang viral—namun kemudian dilarang—mengungkapkan bahwa tiga raksasa medis multinasional tengah menarik investasi dari Tiongkok. Di antaranya, Johnson & Johnson memindahkan lini produksi stent kardiovaskularnya, Medtronic memindahkan lini produksi pompa suntik insulin ke Vietnam, dan Abbott menutup lini produksi reagen diagnostik. Total dana yang ditarik mencapai 427 miliar yuan, sementara pasokan 137 jenis peralatan penyelamat pun terhenti.

Keluarnya investasi asing ini memicu kecemasan bahwa ketergantungan dunia medis Tiongkok terhadap perusahaan asing dapat menggiring negara ke dalam krisis kesehatan yang lebih mendalam. Publik mulai mencurigai adanya pemalsuan data pada obat generik buatan dalam negeri, yang menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas produk kesehatan lokal.

Trump: AS dan Tiongkok Berpeluang Mencapai Kesepakatan Dagang Baru

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu (19/2) mengatakan bahwa dalam waktu dekat ada kemungkinan tercapainya kesepakatan dagang baru antara AS dan Tiongkok. Dia juga mengungkapkan bahwa pemimpin PKT, Xi Jinping, akan mengunjungi Amerika Serikat, meskipun dia tidak memberikan rincian mengenai waktu kunjungan tersebut.

Saat berbicara kepada wartawan di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Trump mengatakan bahwa AS telah mencapai “kesepakatan dagang yang sangat baik” dengan Tiongkok pada tahun 2020, dan dia percaya ada “kemungkinan” bagi kedua negara untuk mencapai perjanjian baru.

Banyak pihak berspekulasi bahwa dialog atau interaksi antara Trump dan Xi Jinping dapat menentukan apakah Pemerintahan AS akan melonggarkan atau menunda kebijakan tarif perdagangan terhadap Tiongkok.

Saat ditanya apakah ada pemimpin lain yang akan mengunjungi AS, Trump menjawab: “Pada akhirnya, kami akan mengundang Presiden Xi. Kami akan mengundang semua orang ke Amerika.”

Kunjungan terakhir Xi Jinping ke AS terjadi pada November 2023, saat dia bertemu dengan Presiden AS saat itu, Joe Biden, dalam sebuah pertemuan puncak yang menghasilkan kesepakatan untuk memulihkan komunikasi antara militer kedua negara serta menekan produksi fentanyl.

Sebelum resmi dilantik sebagai Presiden AS pada 20 Januari, Trump juga sempat berbicara dengan Xi Jinping, membahas berbagai isu termasuk TikTok, perdagangan, serta Taiwan.

Pada hari Rabu, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa pemerintahannya saat ini sedang bernegosiasi dengan Tiongkok mengenai aplikasi TikTok, dengan tujuan agar platform populer tersebut dapat dijual.

Pekan lalu, Trump menyatakan bahwa dia telah berbicara dengan Xi Jinping setelah menjabat kembali, tetapi dia tidak mengungkapkan detail percakapan tersebut.

Hubungan antara AS dan Tiongkok telah tegang selama bertahun-tahun akibat berbagai isu seperti tarif perdagangan, keamanan siber, TikTok, Taiwan, Hong Kong, hak asasi manusia, dan asal-usul virus COVID-19.

Selain itu, Trump juga menyampaikan keyakinannya bahwa dia dapat mencapai kesepakatan dengan Rusia untuk mengakhiri perang di Ukraina.

“Kami bisa mencapai kesepakatan dengan Rusia untuk menghentikan pertumpahan darah,” kata Trump. Dii menambahkan bahwa dia percaya Rusia juga menginginkan perang segera berakhir.

“Saya rasa mereka (Rusia) saat ini memiliki beberapa kartu tawar-menawar, karena mereka telah merebut cukup banyak wilayah, jadi mereka berada di atas angin,” ujar Trump. (jhn/yn)

AS dan Ukraina Berselisih, Pemimpin Inggris dan Prancis Akan ke AS untuk Mediasi — Siapkan 30.000 Pasukan ke Ukraina

EtIndonesia. Amerika Serikat dan Rusia memulai pembicaraan terkait perang Rusia-Ukraina, namun Ukraina tidak diikutsertakan. Pada Rabu (19 Februari), hubungan antara AS dan Ukraina memanas setelah kedua pemimpinnya saling melontarkan kritik. Sementara itu, pemimpin Inggris dan Prancis dijadwalkan bertemu dengan Donald Trump minggu depan untuk membahas situasi Ukraina. 

Kabar terbaru menyebutkan bahwa Inggris dan Prancis sedabg merencanakan pengerahan hingga 30.000 pasukan darat ke Ukraina untuk mendukung implementasi kemungkinan perjanjian “gencatan senjata” antara Rusia dan Ukraina.

Penasihat Keamanan Nasional AS, Mike Waltz, dalam wawancara dengan Fox News pada 19 Februari mengatakan bahwa Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer akan mengunjungi Washington minggu depan.

Ketika ditanya apakah Rusia dan Ukraina dapat mencapai kesepakatan damai, Waltz menjawab, “Kami sedang berkoordinasi dengan semua pihak terkait, dan selanjutnya kami akan mengirim tim teknis untuk membahas lebih banyak detail.”

Baru-baru ini, para pejabat Eropa merasa terkejut dan bingung dengan sikap pemerintahan Trump terhadap isu Ukraina.

Trump Mengkritik Zelensky — Apakah Ukraina Akan Kehilangan Dukungan AS?

Menurut laporan media asing, dalam pertemuan darurat kedua para pemimpin Eropa yang diadakan oleh Macron baru-baru ini, mereka kembali menyerukan tindakan segera untuk mendukung Ukraina dan memperkuat kemampuan pertahanan Eropa. Namun, keputusan konkret yang diambil masih sangat terbatas.

Kantor Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan pada 19 Februari bahwa Starmer menyatakan dukungannya kepada Volodymyr Zelenskyy sebagai pemimpin sah Ukraina yang dipilih secara demokratis. Starmer juga menilai bahwa penangguhan pemilu selama masa perang adalah keputusan yang “sepenuhnya wajar”.

Juru bicara PBB Stephane Dujarric menegaskan bahwa Zelenskyy telah terpilih melalui pemilu yang sah. Ketika ditanya siapa yang memulai perang, Dujarric menjawab bahwa “Rusia telah menginvasi Ukraina”.

Menurut laporan majalah Jerman Der Spiegel, Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan bahwa pernyataan Trump yang menyebut Zelenskyy sebagai “diktator” adalah “keliru dan berbahaya”.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte bersama Macron dan Starmer membahas jalur penyelesaian damai, termasuk pentingnya jaminan keamanan bagi Ukraina.

Inggris dan Prancis Rencanakan Kirim 30.000 Pasukan ke Ukraina

Kabar terbaru menyebutkan bahwa Inggris dan Prancis sedang merencanakan pengerahan hingga 30.000 pasukan darat ke Ukraina untuk mendukung implementasi kemungkinan perjanjian “gencatan senjata” antara Rusia dan Ukraina. 

Kehadiran pasukan ini bertujuan untuk mencegah Rusia melanggar kesepakatan dan, jika perlu, siap melakukan tindakan militer untuk menanggapi pelanggaran tersebut.

Namun, negara-negara seperti Inggris dan Prancis saat ini tidak berencana untuk menempatkan pasukan mereka di garis depan Ukraina timur guna menghindari konfrontasi langsung dengan militer Rusia.

Meskipun Zelenskyy sebelumnya memperkirakan bahwa Barat perlu mengirim setidaknya 100.000 pasukan darat untuk menghalangi Rusia, penilaian pihak Barat menunjukkan bahwa bahkan jika AS menghentikan bantuan militernya, Ukraina masih memiliki cukup persediaan senjata untuk melanjutkan pertempuran selama beberapa bulan ke depan. (Hui)

Sumber : NTDTV.com 

Kain dengan Bercak Harapan: Midtown Hotels Indonesia Berikan Dukungan Penuh bagi Anak Disabilitas 

Surabaya – Kota Surabaya kembali membuktikan dirinya sebagai kota yang peduli terhadap pemberdayaan masyarakat, termasuk anak-anak disabilitas. Melalui program CSR yang digagas oleh Midtown Hotels Indonesia, anak-anak penyandang disabilitas di Rumah Anak Prestasi – Dinas Sosial Surabaya diajak untuk berkreasi dengan teknik shibori menggunakan kain linen bekas dari hotel. Kegiatan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan harapan baru bagi anak-anak dan orang tua mereka. 

Kegiatan yang digelar pada Rabu, 20 Februari 2025, ini dihadiri oleh Donny Manuarva, Corporate General Manager of Midtown Hotels Indonesia, beserta jajarannya. Dalam kesempatan tersebut, Donny menyampaikan pentingnya menjaga semangat inovasi dan dukungan bagi masyarakat, khususnya anak-anak disabilitas. “Kegiatan seperti ini memiliki esensi yang baik. Namun, akan menjadi tidak baik jika kita tidak merawat dan mempertahankannya,” ujarnya. 

Anak-anak disabilitas, seperti Rangga, Emma, Belva, dan lainnya, terlihat antusias mengikuti arahan mentor, Leo, dalam mengolah kain bekas menjadi karya seni. Dengan teknik shibori, kain-kain polos yang sudah tidak terpakai diubah menjadi kain berwarna-warni dengan motif unik. Proses melipat, mengikat, dan mencelupkan kain ke dalam pewarna menjadi momen menyenangkan yang penuh tawa dan kebersamaan. 

Dukungan Emosional dan Edukasi

Ibunda Rangga, salah satu orang tua yang hadir, mengungkapkan kegembiraannya atas kegiatan ini. “Saya sangat senang dan berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut. Ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga dukungan emosional bagi anak-anak kami,” ujarnya. 

Program ini juga menjadi bagian dari komitmen Midtown Hotels Indonesia dalam menciptakan ekosistem yang suportif melalui program Midtown CONNECT dan edukasi pengelolaan limbah melalui M-GREEN. “Kami ingin menunjukkan bahwa barang bekas bisa diolah kembali menjadi sesuatu yang bernilai,” tambah Donny. 

Kegiatan ini berhasil menciptakan suasana inklusif yang hangat antara tim hotel dan anak-anak disabilitas. Theo, Public Relations Crown Prince Hotel Surabaya, berbagi pengalamannya, “Saya belajar untuk membuka diri dan berkomunikasi dengan cara yang berbeda. Ternyata, saya bisa! Sekarang saya tidak takut lagi untuk memulai obrolan dengan teman-teman disabilitas.” 

Kepala UPTD, Eva, dan Kepala Bidang, Imam Mahmudi, juga turut memberikan apresiasi. “Kami sangat berterima kasih atas dukungan dan kolaborasi ini. Ini adalah kesempatan bagi anak-anak disabilitas untuk menunjukkan karya mereka dan memupuk rasa percaya diri,” kata Eva. 

Harapan untuk Masa Depan 

Kegiatan ini tidak hanya memberikan kesenangan, tetapi juga harapan bagi anak-anak disabilitas dan orang tua mereka. Midtown Hotels Indonesia berkomitmen untuk terus meluncurkan program serupa sepanjang tahun 2025, memberikan dukungan nyata bagi masyarakat sekitar. 

“Kami percaya, setiap batasan adalah awal dari harapan. Melalui program ini, kami ingin memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang untuk berkarya dan berkembang,” tutup Donny. 

Dari kain bekas, tercipta karya seni. Dari batasan, lahir harapan baru.

Bea Cukai AS Sita Barang Palsu dari Tiongkok dan Hong Kong: Perhiasan dan Jam Tangan Mewah Senilai Puluhan Juta Dolar

EtIndonesia. Pada Januari lalu, Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan Amerika Serikat (CBP) kembali menyita sejumlah besar perhiasan palsu asal Tiongkok dan Hong Kong. Pihak berwenang menyatakan bahwa hampir 90% barang selundupan tiruan yang disita tahun lalu berasal dari dua wilayah tersebut.

Menurut pernyataan resmi CBP, petugas di Louisville berhasil menyita 28 kiriman berisi perhiasan dan jam tangan palsu pada Januari, dengan nilai pasar diperkirakan mencapai 27,5 juta dolar AS. Sebagian besar barang selundupan ini berasal dari Tiongkok dan Hong Kong.

Melalui unggahan di media sosial, kantor CBP di Chicago melaporkan bahwa dalam sebuah kiriman yang diberi label sebagai celana olahraga yoga wanita, petugas menemukan 44 jam tangan Patek Philippe, 15 jam tangan Audemars Piguet, 20 jam tangan Rolex, 30 jam tangan Cartier, serta 87 topi Louis Vuitton. Total nilai pasar barang-barang tersebut diperkirakan melebihi 3 juta dolar AS.

Pernyataan CBP juga menyebutkan bahwa hampir 90% dari barang palsu yang disita pada tahun 2024 berasal dari Tiongkok dan Hong Kong. Salah satu kasus terbesar melibatkan penyelundupan barang palsu senilai 200 juta dolar AS.

Pada 25 Januari, aparat penegak hukum federal AS mengungkapkan bahwa kasus penyelundupan besar-besaran ini berlangsung dari Agustus 2023 hingga Juni 2024. Delapan orang telah ditangkap, sementara satu orang lainnya melarikan diri ke Tiongkok. Para pelaku yang terlibat termasuk pekerja di sektor logistik, pergudangan, dan pengemudi truk. Saat ini, penyelidikan kasus tersebut masih berlanjut.

Laporan Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) tahun 2017 mengungkapkan bahwa praktik pencurian hak kekayaan intelektual, termasuk transfer teknologi paksa, spionase siber, serta peredaran barang tiruan dan palsu yang meluas di Tiongkok, menyebabkan kerugian ekonomi bagi AS sebesar 225 miliar hingga 600 miliar dolar AS per tahun. (Hui)

Sumber : NTDTV.com 

“Merekalah yang Menghalangi!”,  Zelenskyy Marah dan Menyebut Empat Negara yang Menolak Ukraina Masuk NATO

EtIndonesia. Menurut laporan Ukrainska Nezalezhna (Ukraina Independent News Agency) pada tanggal 20 Februari, sebagian besar pemimpin Eropa mendukung keanggotaan Ukraina di NATO. Namun, ada beberapa negara yang menolak hal tersebut.

Mengutip laporan dari Anadolu Agency Turki, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam pertemuannya dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan mengungkapkan kekecewaannya terhadap negara-negara yang menolak keanggotaan Ukraina di NATO.

Zelenskyy secara terang-terangan menyebut Hungaria, Slovakia, Jerman, dan Amerika Serikat sebagai negara yang menghambat langkah Ukraina untuk bergabung dengan NATO. Dia juga menekankan bahwa faktor AS memiliki pengaruh besar dalam keputusan ini.

“Jika bergabung dengan NATO bukanlah solusi, lalu apa lagi yang bisa kita bicarakan mengenai jaminan keamanan?” kata Zelenskyy dengan nada kecewa.

Dia juga menegaskan bahwa Ukraina memiliki militer yang kuat, tetapi untuk mempertahankannya, dukungan finansial dan persenjataan dari negara-negara Barat sangatlah penting.

Pada bulan September 2022, Ukraina secara resmi mengajukan permohonan keanggotaan NATO. Kemudian, dalam KTT NATO yang diadakan di Washington pada Juli 2024, para anggota menyatakan dengan tegas bahwa “masa depan Ukraina ada di NATO”.

AS: Keanggotaan Ukraina di NATO Tidak Realistis

Meskipun beberapa negara NATO menyatakan dukungan mereka terhadap keanggotaan Ukraina, pernyataan terbaru dari pejabat tinggi AS justru menunjukkan arah yang berbeda.

Menteri Pertahanan AS, Peter Hagseth, mengatakan bahwa keanggotaan Ukraina di NATO adalah sesuatu yang tidak realistis.

“Mengejar tujuan yang tidak mungkin ini hanya akan memperpanjang perang dan menyebabkan lebih banyak penderitaan,” ujar Hagseth.

Pendapat ini juga mendapat dukungan Presiden AS Donald Trump.

Dalam pernyataannya terkait penghapusan keanggotaan Ukraina dari agenda NATO, Trump mengatakan bahwa dia “tidak keberatan” dengan langkah tersebut.

“Menurut saya, keanggotaan Ukraina di NATO bukanlah sesuatu yang realistis,” ujar Trump.

Masa Depan Ukraina di NATO: Masih Jauh dari Kenyataan

Dengan meningkatnya tekanan dari negara-negara Eropa untuk memberikan dukungan kepada Ukraina, sementara AS justru cenderung menolak keanggotaan Ukraina di NATO, situasi ini semakin menambah kompleksitas geopolitik di kawasan tersebut.

Keputusan akhir mengenai masa depan Ukraina di NATO kini bergantung pada negosiasi antara negara-negara anggota, dengan AS dan beberapa negara Eropa memainkan peran kunci dalam menentukan arah kebijakan aliansi tersebut.(jhn/yn)

KTT Informal Eropa Kedua Fokus pada Keamanan dan Dukungan untuk Ukraina

EtIndonesia. Pada Rabu (19/2), para pemimpin negara-negara Eropa kembali menggelar pertemuan informal kedua dalam minggu ini di Paris. Agenda utama pertemuan tersebut tetap berfokus pada isu pertahanan keamanan Eropa serta peningkatan dukungan terhadap Ukraina.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyambut para pemimpin negara yang hadir di Istana Élysée untuk menghadiri pertemuan tersebut. Di antara mereka, Presiden sementara Rumania Ilie Bolojan dan beberapa pemimpin Eropa lainnya turut hadir dalam diskusi tersebut.

Juru bicara Pemerintah Prancis, Sophie Primas, menegaskan bahwa Prancis mendukung perjuangan Ukraina demi kebebasan, dan bahwa negara-negara Eropa harus mengambil peran lebih besar dalam menjamin keamanan mereka sendiri.

Juru Bicara Pemerintah Prancis Sophie Primas:

“Meskipun Amerika Serikat masih menjadi sekutu utama kami, kita tidak bisa terus bergantung pada mereka untuk menjamin keamanan kita. Jika Eropa ingin bangkit, kita harus meningkatkan anggaran militer kita, seperti yang telah mulai kami lakukan di Prancis.”

Sementara itu, Presiden Latvia Edgars Rinkēvičs menekankan perlunya Uni Eropa untuk memiliki rencana konkret guna mendukung Ukraina.

Presiden Latvia Edgars Rinkēvičs:

“Sayangnya, selama tiga tahun terakhir kita lebih banyak berbicara daripada bertindak. Sekarang adalah saatnya bagi Uni Eropa untuk benar-benar mengambil langkah nyata. Jika Uni Eropa ingin memiliki posisi dalam negosiasi, bukan sekadar meminta tempat di meja perundingan, maka kita harus memberikan dukungan finansial yang konkret untuk Ukraina.”

Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Polandia, Radosław Sikorski, dalam pernyataannya di Brussel, menyatakan harapannya bahwa Uni Eropa akan segera mengumumkan sanksi baru terhadap Rusia, yang direncanakan mulai berlaku pada peringatan tiga tahun invasi Rusia ke Ukraina.

Sementara itu, NATO terus menggelar latihan militer terbesar tahun ini di Rumania sebagai respons terhadap situasi keamanan yang semakin dinamis di kawasan tersebut.

Sehari sebelumnya, Presiden Polandia Andrzej Duda bertemu dengan utusan khusus AS untuk urusan Ukraina dan Rusia, Jenderal Keith Kellogg. Dalam pertemuan itu, Duda menegaskan keyakinannya bahwa Amerika Serikat tidak akan mengurangi komitmennya terhadap keamanan Eropa.

Presiden Polandia Andrzej Duda:

“Saya ingin menegaskan kembali: tetaplah tenang. Kami tidak khawatir bahwa Amerika Serikat akan mengurangi kehadirannya di negara kami atau menarik kembali tanggung jawab keamanannya di kawasan ini.” (jhn/yn)

Kota Kuno yang Dilupakan Dunia: “Kota Hilang” di Kolombia

EtIndonesia. Di wilayah yang kini menjadi negara Kolombia, dahulu terdapat sebuah peradaban kuno bernama Tairona, yang berarti “Anak Macan Tutul”. Peradaban ini memilih untuk berpindah ke pegunungan guna menghindari kontak dengan orang-orang Spanyol, meninggalkan sebuah kota yang kemudian dikenal sebagai “Kota yang Hilang”. Kota ini bahkan lebih tua dari Machu Picchu, yang dijuluki sebagai “Kota di Atas Langit”.

Kota Hilang Kolombia

Kota yang dibangun oleh suku Tairona ini dikenal dengan nama Ciudad Perdida atau Teyuna dalam bahasa Spanyol, yang berarti “Kota yang Hilang”. Berdasarkan penelitian arkeologi, para ahli memperkirakan bahwa Ciudad Perdida pertama kali dibangun sekitar tahun 800 Masehi, yang berarti kota ini lebih tua 650 tahun dibandingkan Machu Picchu.

Kota yang Hilang ini diyakini sebagai pusat politik dan manufaktur di wilayah sepanjang Sungai Buritaca. Di antara peninggalannya terdapat batu-batu besar yang diukir dengan tanda-tanda misterius, yang menurut para ahli merupakan peta kota ini. Dahulu, tanda-tanda ini berfungsi sebagai petunjuk bagi orang-orang yang hendak menuju kota dan wilayah sekitarnya.

Kota ini memiliki lebih dari 150 teras batu yang terpahat di lereng gunung. Jaringan transportasi dalam kota ini terdiri dari jalanan batu yang menghubungkan berbagai alun-alun berbentuk lingkaran. Namun, mencapai kota ini bukanlah hal yang mudah. Untuk sampai ke pintu masuk Ciudad Perdida, seseorang harus mendaki sekitar 1.200 anak tangga yang terjal, melewati hutan lebat yang ditumbuhi pepohonan rimbun.

Peradaban yang Maju 1.500 Tahun yang Lalu

Lebih dari 1.500 tahun yang lalu, Suku Tairona telah membangun masyarakat yang makmur di Ciudad Perdida. Mereka menciptakan sistem jalan batu yang mempermudah pertukaran barang seperti makanan, keramik, dan emas.

Penduduknya tinggal di pegunungan dan memiliki kebun yang subur di mana mereka menanam jagung, tomat, nanas, alpukat, dan jambu biji. Selain itu, karena lokasi kota ini dekat dengan laut, mereka juga dapat memperoleh makanan laut dalam jumlah yang melimpah, meskipun tinggal jauh di dalam pegunungan.

Anak-anak yang tumbuh di kota ini belajar tentang mitos dan legenda dari para tetua, serta diajarkan cara membuat pakaian dan kain dari serat alami. Masyarakat Tairona terbagi menjadi beberapa kelompok yang tinggal di pegunungan dan di sepanjang pesisir pantai, bekerja sama dalam berbagai aktivitas dan perdagangan. Struktur sosial mereka sangat tertata dengan baik.

Hingga saat ini, Suku Kogi, Wiwas, dan Arhuacos diyakini sebagai keturunan langsung dari Suku Tairona. Suku Kogi yang masih hidup hingga sekarang percaya bahwa mereka harus secara rutin mengunjungi Ciudad Perdida, karena mereka menganggapnya sebagai pusat spiritual nenek moyang mereka.

Menurut kepercayaan Suku Kogi, Suku Tairona telah menghuni wilayah ini selama ribuan tahun hingga kedatangan orang-orang Spanyol. Meskipun peradaban Tairona kini telah punah, Suku Kogi meyakini bahwa mereka memiliki banyak kesamaan dengan leluhur mereka.

Bagi mereka, prinsip utama kehidupan adalah kebaikan dan kesetaraan. Suku Tairona percaya bahwa tugas mereka di dunia ini adalah untuk melindungi dan merawat Bumi, bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk semua makhluk hidup. Mereka merupakan masyarakat yang menjunjung tinggi keharmonisan dan kepedulian.

Kehancuran Peradaban Tairona dan Penemuan Kembali Kota yang Hilang

Ketika para penjajah Eropa tiba di wilayah ini, mereka memperbudak penduduk asli dan merampas emas mereka. Akhirnya, pada abad ke-16, Suku Tairona meninggalkan tanah tempat mereka tinggal selama ribuan tahun.

Seiring berjalannya waktu, Ciudad Perdida perlahan dilupakan oleh dunia. Baru pada tahun 1970-an kota ini ditemukan kembali. Sayangnya, kabar tentang harta karun emas yang tersembunyi di dalamnya menarik perhatian para penjarah. Akibatnya, kota ini menjadi saksi bisu sejarah berdarah, di mana banyak orang terbunuh karena keserakahan mereka terhadap emas.

Kemudian, Suku Kogi, yang mewarisi budaya dan tradisi Tairona, berjuang untuk mendapatkan kembali hak atas tanah leluhur mereka. Setelah belajar bahasa Spanyol, mereka mengajukan proposal kepada Pemerintah Kolombia. Berkat upaya mereka, akhirnya hak atas Ciudad Perdida berhasil dikembalikan kepada mereka.

Kini, berbagai organisasi melindungi kota kuno ini, menjaga peninggalan budaya yang hampir terlupakan, dan memastikan bahwa warisan peradaban Tairona tetap hidup bagi generasi mendatang.(jhn/yn)

Mengajarkan Anak-anak tentang Kebahagiaan Bekerja

0

Tugas Rumah Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak dan Mempersiapkan Mereka menjadi Dewasa

Walker Larson

Untuk ketiga kalinya, Anda mulai membongkar mesin pencuci piring. Beberapa piring lagi telah kembali ke lemari sebelum tangisan balita di ruangan lain menghancurkan kedamaian yang Anda coba ciptakan dan lagi terulang.

Anda segera ke ruangan sebelah. Mainan edukatif, menara baloknya, kembali runtuh, membuatnya menangis kecewa—mirip dengan harapan Anda untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Apa yang harus dilakukan?

Skenario seperti ini sungguh akrab bagi setiap orang tua. Salah satu kebahagiaan memiliki anak kecil adalah keinginan mereka untuk menghabiskan waktu bersama Anda—mencari perhatian, kepastian, dan kasih sayang Anda. Tantangan muncul ketika hal-hal lain juga menuntut perhatian Anda: piring kotor, filter oli mobil, halaman yang dipenuhi dengan ilalang serta semak belukar, atau cucian yang berserakan.

Tidak selalu mungkin untuk menyeimbangkan semua tuntutan ini, tetapi ada satu strategi yang sering diabaikan untuk menyelaraskannya, yaitu dengan memasukkan anak-anak ke dalam rutinitas kerja Anda sebanyak mungkin.  Berpikir kreatif dapat menggabungkan kebutuhan anak akan perhatian dengan kebutuhan Anda untuk menyelesaikan tugas rumah tangga dengan melibatkan mereka dalam pekerjaan Anda.

Selain membantu Anda menyelesaikan lebih banyak pekerjaan, strategi ini juga mengajarkan anak-anak sejak dini tentang kegembiraan bekerja dan membantu mereka mengembangkan etos kerja yang kuat. Selain itu, sebagian besar anak-anak  merasa disukai bahwa mereka melakukan sesuatu yang penting dan bermanfaat.

Anak Kecil di Dunia yang Besar

Sering kali, kita berusaha menyesuaikan dunia orang dewasa dengan dunia anak-anak, mengakomodasi kebutuhan dan keinginan mereka sambil menunda tugas-tugas orang dewasa. Terkadang hal ini memang perlu dilakukan. Namun, dalam jangka panjang, anak-anak perlu belajar menyesuaikan diri dengan dunia orang dewasa yang mana kelak pada suatu hari nanti akan mereka jalani dan ikut berkontribusi. Mengapa tidak memulainya sejak dini dengan cara yang sesuai usia mereka? Mengintegrasikan anak-anak ke dalam pekerjaan rumah tangga dengan cara yang menyenangkan dan kreatif adalah salah satu cara untuk mencapai hal ini.

Seperti yang ditulis oleh psikolog Laurie Hollman: “Kita semua ingin anak-anak kita ikut serta dalam tugas rumah tangga, merapikan tempat tidur mereka, membawa piring ke wastafel, mengambil handuk dari lantai, dan memiliki tas sekolah yang rapi. Ini mengurangi tugas kita, tetapi yang lebih penting, kita mengajarkan nilai kerja sama. Mengajarkan etos kerja dimulai sejak dini.”

Seperti apa bentuknya bagi anak-anak yang masih sangat kecil? Saya akan memberikan contoh dari pengalaman pribadi saya. Sejak usia sangat dini, putri saya yang berusia dua tahun tertarik dengan mesin pencuci piring. Setiap kali kami membukanya, dia ingin naik ke pintu yang terbuka dan mengeluarkan barang-barang. Sekarang dia cukup besar untuk memahami instruksi dasar, istri saya mengubah kebiasaannya ini menjadi permainan yang justru membantu pekerjaannya.

Istri saya mengambil nampan peralatan makan dari laci dan meletakkannya di lantai. Lalu, dia menyuruh putri kami mengambil peralatan makan bersih dari mesin pencuci piring dan meletakkannya di slot yang sesuai di nampan (tentu saja hanya benda yang tidak tajam). Putri kami dengan bersemangat mencocokkan garpu dan sendok dari mesin pencuci piring dengan yang ada di nampan, menyusunnya dengan rapi. Istri saya menciptakan permainan pencocokan DIY (Do It Yourself) gratis untuk balita yang justru mempercepat proses mencuci piring daripada menghambatnya. 

Selain itu, dia mengajarkan putri kami bahwa dia memiliki peran dalam keberlangsungan rumah kami dan bahwa kami mengharapkan dia untuk mengambil tanggung jawab yang akan terus bertambah seiring usianya.

Ketika anak-anak membantu tugas-tugas di sekitar rumah, mereka belajar bagaimana menyumbangkan sesuatu yang berharga bagi komunitas mereka. Biba Kayewich

Contoh lain: Saya baru saja menebang pohon mati di halaman rumah. Menebang pohon dan memotongnya menjadi kayu bakar meninggalkan banyak ranting, serpihan kayu, dan kulit pohon di rumput. Membersihkannya bisa memakan waktu lama. Daripada meninggalkan balita saya bersama istri saya agar saya bisa membersihkan halaman, saya membawanya serta dan menjelaskan apa yang perlu kami lakukan: mengambil ranting dan memasukkannya ke dalam gerobak. Dia cukup memahami konsepnya dan menikmati mengumpulkan ranting kecil serta kulit kayu untuk dimasukkan ke dalam gerobak. Dia bahkan sangat senang mendorong gerobak sementara saya menariknya ke tumpukan kayu bakar.

Apakah bantuan putri saya secara drastis mempercepat waktu pembersihan halaman? Tidak. Tetapi yang lebih penting, ini mengajarkan dia bahwa dia memiliki peran—meskipun sangat kecil—dalam dunia kerja orang dewasa, dalam menyelesaikan tugas-tugas yang bermanfaat. Ini mengajarkan bahwa kita bisa menjalin kebersamaan melalui pekerjaan, bukan hanya permainan, dan bahwa bekerja mencari nafkah bisa menjadi kenyataan yang menyenangkan, bermakna, dan menyatukan. Ini adalah contoh kecil, tetapi kami dapat terus membangun pengalaman seperti ini seiring pertumbuhannya.

Anak-anak dapat mengambil peran yang lebih besar dalam rumah tangga seiring bertambahnya usia mereka. Jika mereka mulai dengan tugas-tugas sederhana sejak balita, maka ketika mereka beranjak remaja, mereka dapat diharapkan membantu memasak, membersihkan rumah, merawat kendaraan, memotong rumput, memperbaiki rumah, hingga merawat hewan peliharaan.

Pekerjaan Itu Bermakna

Selain merasakan makna dalam berkontribusi pada sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri, mereka juga akan belajar kenyataan bahwa dalam hidup, kita harus bekerja untuk mendapatkan sesuatu. 

Menurut artikel dari Hammond Psychology & Associates: “Penting untuk menanamkan pada anak-anak bahwa tidak ada yang benar-benar gratis dalam hidup. … Oleh karena itu, mengajarkan hal ini sejak dini dapat membantu menanamkan etos kerja yang kuat. Bagi beberapa orang tua, ini berarti meminta anak melakukan tugas rumah untuk ‘mendapatkan’ waktu bermain. … Misalnya, Anda harus menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum bermain video game. Percaya atau tidak, ini adalah cara yang bagus untuk menanamkan etos kerja yang positif pada anak-anak Anda.”

Kematangan anak secara keseluruhan dapat didorong melalui tanggung jawab rumah tangga yang sesuai usia. Ini karena kedewasaan sebagian besar terdiri dari menerima tanggung jawab. Seperti kebajikan manusia lainnya, kapasitas ini dibangun secara perlahan dan bertahap melalui tindakan berulang yang membentuk kebiasaan. Kita harus memulainya dari hal kecil dan berkembang dari sana.

Anak-anak yang tidak pernah belajar merawat adik mereka, hewan peliharaan, atau setidaknya aspek tertentu dari rumah tangga, akan kesulitan menerima tanggung jawab saat dewasa. Mereka tidak dapat diharapkan mengurus keluarga mereka sendiri jika mereka belum pernah merapikan kamar, merapikan tempat tidur, atau membersihkan kekacauan mereka sendiri. Bahkan tugas-tugas tersebut akan lebih mudah jika mereka sudah terbiasa dengan tugas yang lebih sederhana seperti menyusun peralatan makan atau mengumpulkan ranting.

Merasa sukses dalam menyelesaikan tugas membantu anak-anak memiliki pola pikir positif dalam hidup. Seperti yang dikatakan Hollman: “Ketika anak-anak merasa berhasil pada usia dua atau tiga tahun, itu menjadi gaya hidup. Bahkan balita pun bisa mengambil handuk dari lantai kamar mandi dan mendapat ucapan terima kasih. Jangan lupa berterima kasih!”

Sebelum menjadi jurnalis lepas dan penulis budaya, Walker Larson mengajar sastra dan sejarah di sebuah akademi swasta di Wisconsin, tempat ia tinggal bersama istri dan putrinya. Ia memiliki gelar master dalam bidang sastra dan bahasa Inggris, dan tulisannya telah dimuat di The Hemingway Review, Intellectual Takeout, dan Substack, The Hazelnut. Dia juga penulis dua novel, “Hologram” dan “Song of Spheres.”

Wanita yang Menggugat Shen Yun Digugat atas Pencemaran Nama Baik

Para penggugat menyatakan bahwa wanita tersebut telah menyebarkan rumor tentang keluarga mereka, menyebabkan penderitaan emosional

EtIndonesia. Seorang wanita yang mengajukan gugatan perdata terhadap Shen Yun Performing Arts yang berbasis di New York atas dugaan pelanggaran terkait tenaga kerja kini menghadapi dua gugatan atas pencemaran nama baik dan pelanggaran privasi.

Chang Chun-ko, yang tinggal di Taiwan, adalah mantan penari Shen Yun, sebuah kelompok seni yang didirikan oleh para praktisi Falun Gong dengan misi menghidupkan kembali budaya tradisional Tiongkok. Ia merupakan mahasiswa di sekolah pelatihan Shen Yun, Fei Tian College, hingga tahun 2019.

Chang mengajukan gugatan perdata terhadap perusahaan tersebut dari Taiwan pada November 2024, hampir lima tahun setelah ia meninggalkan Shen Yun.

BACA JUGA : PKT Targetkan Shen Yun Secara Global dengan Ancaman Bom dan Tekanan Diplomatik

BACA JUGA : Pertunjukan Shen Yun Sukses Besar, Gangguan dari PKT  Meningkat, Dikecam oleh Berbagai Pihak

Shen Yun menggambarkan gugatan itu sebagai bagian dari kampanye terkoordinasi yang terkait dengan rezim partai komunis Tiongkok, yang telah menganiaya praktisi Falun Gong—sebuah latihan meditasi  yang berlandaskan nilai Sejati-Baik-Sabar —selama seperempat abad terakhir. Sejak didirikan pada tahun 2006, Shen Yun telah menghadapi berbagai kampanye pelecehan  terkait dengan Beijing.

Dua individu, Li Bojian dan Xianyuan, kini menggugat Chang dan suaminya dalam gugatan perdata terpisah atas tuduhan yang mereka buat dalam sebuah wawancara musim panas 2024 dengan mantan reporter media pemerintah Tiongkok, Wang Zhi’an.

Dalam wawancara tersebut, Chang dan Wang berspekulasi tentang kematian anak laki-laki Xianyuan, dengan menuding bahwa keyakinan Xianyuan terhadap Falun Gong adalah penyebab kematiannya. Xianyuan adalah seorang profesor di Fei Tian College, sekolah seni yang berafiliasi dengan Shen Yun.

Dalam sebuah video yang diposting di platform media sosial X pada Juli lalu, Xianyuan mengatakan bahwa “rumor jahat” tentang kematian anaknya telah memaksanya menghidupkan kembali tragedi tersebut dan menyebabkan penderitaan bagi dirinya dan keluarganya.

Penggugat lainnya, Li, adalah mantan penari utama Shen Yun.

Dalam wawancara yang sama, Chang dan Wang membahas kematian tunangan Li dalam kecelakaan mobil dan menuding bahwa kecelakaan tersebut adalah tindakan jahat yang disengaja.

Li mengatakan bahwa klaim Chang tentang dirinya dan kecelakaan itu adalah tidak benar dan telah menyebabkan luka emosional yang mendalam.

Setelah kembali ke Taiwan, Chang membuka studio tari dan mulai berkolaborasi dengan entitas yang terkait dengan pemerintah Tiongkok, menurut Shen Yun dan aktivitas media sosialnya.

Shen Yun telah menjadi target Partai Komunis Tiongkok (PKT) karena fokusnya dalam menampilkan budaya tradisional Tiongkok yang bebas dari pengaruh komunisme.

Beberapa pertunjukan tari mereka juga menggambarkan penganiayaan rezim terhadap praktisi Falun Gong, termasuk penyiksaan, kerja paksa, dan pengambilan organ secara paksa.

Dalam dua tahun terakhir, PKT telah meningkatkan penindasan terhadap Falun Gong secara global.

Seperti yang dilaporkan The Epoch Times sebelumnya, pada akhir Desember 2022, pemimpin PKT Xi Jinping menginstruksikan pejabatnya untuk menggunakan media sosial dan media Barat yang tidak memiliki hubungan langsung dengan PKT untuk menyerang kelompok keagamaan tersebut.

Pada tahun 2023, agen-agen PKT  mencoba menyuap Lembaga Pajak AS -IRS- agar menyelidiki Shen Yun berdasarkan klaim palsu. Mereka kemudian dihukum dan kini menjalani hukuman penjara.

Baru-baru ini, Shen Yun juga menerima ancaman bom dan penembakan massal melalui email, beberapa di antaranya ditujukan kepada teater yang menjadi tuan rumah pertunjukan mereka.

Ancaman tersebut tampaknya semakin meningkat dan kini juga menargetkan anggota Kongres AS yang telah menyatakan dukungan terhadap Falun Gong.

Sumber : Theepochtimes.com

Kematian Memiliki Tanda-tanda, Beberapa Orang Dapat Memprediksi Waktu Kematiannya


EtIndonesia.
Apakah ada tanda-tanda sebelum seseorang meninggal? Banyak kejadian yang membuktikan bahwa sebelum kematian, sering muncul tanda-tanda tertentu, bahkan ada orang yang dapat meramalkan kapan dirinya atau orang lain akan meninggal dunia.

Winston Churchill Meramalkan Tanggal Kematian Dirinya

Mendiang Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill, pernah mengalami beberapa kali stroke di masa tuanya dan akhirnya wafat pada 24 Januari 1965. Cucunya, Celia Sandys, mengungkapkan bahwa sejak 10 tahun sebelum kematiannya, Churchill sudah memperkirakan bahwa dia akan meninggal pada tanggal yang sama dengan ayahnya.

Menurut Celia, selama beberapa tahun sebelumnya, Churchill pernah mengatakan bahwa dia akan meninggal pada tanggal yang sama dengan ayahnya, Randolph Churchill, yang merupakan mantan Menteri Keuangan Inggris. Randolph Churchill meninggal pada 24 Januari 1895.

Pada ulang tahunnya yang terakhir, 30 November 1964, Churchill menyatakan bahwa umurnya tidak akan lama lagi. 

Celia mengatakan: “Pada pagi hari tanggal 24 Januari, kami semua berkumpul di sekitar tempat tidurnya untuk mengucapkan perpisahan. Dia benar-benar meninggal tepat 70 tahun setelah kematian ayahnya, ini sungguh luar biasa.”

Perdana Menteri Lebanon Meramalkan Kematian Dirinya

Sebelum terbunuh dalam serangan bom, Perdana Menteri Lebanon Rafik Hariri sudah memiliki firasat tentang kematiannya. 

Dalam wawancara dengan The Times, politisi Lebanon Walid Jumblatt mengungkapkan: “Saya tidak akan pernah melupakan kata-katanya kepadaku: ‘Akhirnya saatnya telah tiba, kau dan aku mungkin tidak akan bisa menghindarinya.’”

Beberapa hari setelah ucapannya itu, sebuah ledakan besar benar-benar membuktikan ramalan kematiannya. 

Pada pukul 13: 00 siang tanggal 14 Februari, ketika konvoi kendaraan Hariri yang terdiri dari empat mobil mewah dan sebuah mobil pengawal melintas di depan Hotel Saint George, terjadi ledakan hebat. Dalam sekejap, mobil yang ditumpangi Hariri terperangkap dalam kobaran api.

Bocah yang Takut Pergi ke Sekolah

Di Sekolah Dasar Sandy Hook di Connecticut, Amerika Serikat, seorang siswa bernama Logan Dryer tiba-tiba mulai mengalami kecemasan yang parah pada Desember 2012. Ibunya membawanya ke dokter, tetapi dokter tidak menemukan masalah apa pun. Guru-gurunya juga mencoba menenangkannya, tetapi Logan semakin takut dan akhirnya menolak pergi ke sekolah. 

Dia bahkan berteriak kepada ibunya: “Aku tidak mau ke sekolah! Sekolah bukan tempat yang aman, aku sangat takut!”

Dua minggu kemudian, terjadi penembakan massal di sekolah tersebut yang menewaskan enam orang dewasa dan 20 anak-anak. Setelah kejadian tragis itu, ibu Logan yakin bahwa putranya telah merasakan firasat akan adanya tragedi di sekolahnya.

Seorang Model Memimpikan Kematiannya Sendiri

Pada Hari Valentine tahun 2013, model asal Afrika Selatan, Reeva Steenkamp, tewas setelah ditembak empat kali oleh kekasihnya, Oscar Pistorius, seorang atlet yang dikenal sebagai “Blade Runner” karena menggunakan kaki prostetik. Pistorius mengklaim kepada polisi bahwa dia mengira pacarnya adalah seorang pencuri, sehingga dia menembaknya.

Setelah kejadian itu, ibu Steenkamp mengungkapkan kepada media bahwa sebelum kematiannya, putrinya telah menggambar sebuah lukisan aneh. Dalam lukisan tersebut, Steenkamp menggambarkan dirinya sebagai seorang malaikat berpakaian merah dengan tangan menutupi mulutnya, sementara seorang pria berdiri di kejauhan dengan pistol di tangannya.

Ibunya mengaku saat pertama kali melihat gambar itu, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Namun, dia tidak menyangka bahwa gambaran tersebut akan menjadi kenyataan. Dia yakin bahwa putrinya telah merasakan firasat akan kematiannya.

Perwira Angkatan Laut yang Meramalkan Kematian

Pada tahun 2000, kapal selam nuklir Rusia, Kursk, mengalami kecelakaan tragis dan tenggelam. Salah satu korban, perwira angkatan laut Dmitry Kolesnikov, tampaknya sudah memiliki firasat akan kematiannya.

Dalam sebuah wawancara, istrinya menangis dan berkata: “Saya tidak tahu kenapa, tetapi suami saya tampaknya sudah memiliki firasat akan kematiannya. Beberapa saat sebelum berangkat dalam misi terakhirnya, dia menulis sebuah puisi perpisahan yang menyayat hati.”

Dalam puisi tersebut, suaminya menuliskan:

“Meskipun aku benar-benar tidak ingin berpikir tentang kematian, tetapi ketika saat itu semakin dekat, aku ingin mengatakan kepadamu dengan lirih: ‘Sayangku, aku mencintaimu selamanya!’”

Seperti saat dia menulis puisi itu secara diam-diam, dia juga meninggalkan dunia ini tanpa ada yang menyadarinya.

Mimpi Buruk Tentang Kecelakaan Pesawat

Pada tahun 1970, seorang pria Amerika bernama David Booth mengalami mimpi buruk yang sama selama 10 hari berturut-turut. Dalam mimpinya, dia melihat sebuah pesawat keluar dari landasan, kemudian pesawat itu terbalik dan akhirnya meledak.

Merasa ada sesuatu yang tidak beres, dia segera melaporkan mimpinya kepada Administrasi Penerbangan Federal (FAA).

Beberapa hari kemudian, kecelakaan nyata terjadi. Pesawat American Airlines DC-10 penerbangan 191 mengalami masalah pada mesinnya saat hendak lepas landas, menyebabkan pesawat kehilangan keseimbangan, keluar dari landasan, dan akhirnya meledak.

Yang mengejutkan, setelah kecelakaan itu terjadi, David tidak lagi mengalami mimpi buruk tersebut.

Firasat Mengenai Serangan 9/11

Seorang pria Amerika bernama Barrett Naylor, adalah eksekutif keuangan yang bekerja di World Trade Center, dia mengalami firasat buruk yang menyelamatkan nyawanya dua kali.

Pada pagi hari 26 Februari 1993, saat hendak berangkat ke kantor, tiba-tiba dia merasa bahwa dia tidak boleh pergi bekerja hari itu. Dia merasa sangat tidak nyaman dan akhirnya memutuskan untuk menelepon kantor dan mengambil cuti.

Tak lama setelah itu, terjadi serangan bom di World Trade Center.

Pada pagi hari 11 September 2001, dia kembali mengalami firasat buruk yang kuat. Dia menelepon kantor untuk mengambil cuti dan memberi tahu rekan-rekannya tentang firasatnya.

Saat dia sampai di rumah, berita di televisi mulai menayangkan serangan teroris 9/11. Dia hampir tidak percaya bahwa firasatnya sekali lagi telah menyelamatkan nyawanya.

Penemuan Ilmiah Tentang Firasat Kematian

Dokter Amerika William Green, Steve Goldstein, dan Alex Morse (Transliterasi-red) telah meneliti fenomena kematian selama bertahun-tahun. Mereka menganalisis ribuan kasus kematian mendadak dan menemukan bahwa banyak orang memiliki firasat sebelum kematian mereka.

Namun, tanda-tanda ini tidak selalu berupa perkataan atau tindakan persiapan untuk kematian, melainkan perubahan psikologis yang tidak biasa—seperti perasaan mendalam bahwa mereka harus menyelesaikan semua urusan mereka.

Para dokter percaya bahwa rasa cemas yang tidak bisa dijelaskan ini mungkin disebabkan oleh perubahan hormon dalam tubuh yang menandakan bahwa kematian akan datang.

Menurut Scientific Digest, para ilmuwan telah menemukan bahwa menjelang kematian, tubuh mengalami penurunan sistem kekebalan yang drastis.

Penelitian di laboratorium juga menunjukkan bahwa pada saat kematian, sel-sel dalam tubuh manusia melepaskan sinar radiasi kecil.

Fisikawan Polandia, Janusz Slawinski, percaya bahwa radiasi ini mengandung semua informasi tentang tubuh yang akan mati—termasuk kesadaran dan ingatan manusia.

Dengan kata lain, sebelum seseorang meninggal, tubuhnya memang memberikan tanda-tanda yang bisa dirasakan oleh dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.(jhn/yn)

Paus Fransiskus Masih Dirawat di Rumah Sakit Karena Infeksi Pernapasan

Paus berusia 88 tahun telah menghadapi bronkitis selama lebih dari seminggu dan dirawat di rumah sakit pada 14 Februari

EtIndonesia. Paus Fransiskus masih dirawat di rumah sakit hingga 17 Februari. Pihak Vatikan menyebutnya sebagai episode medis yang kompleks saat ia berjuang melawan bronkitis.

Paus, 88 tahun, telah mengalami penyakit pernapasan ini selama lebih dari seminggu dan dirawat di Rumah Sakit Policlinico Agostino Gemelli di Roma pada 14 Februari setelah ia dilaporkan kesulitan berbicara dalam salah satu pertemuannya di hari yang sama.

“Hasil tes medis yang dilakukan dalam beberapa hari terakhir dan hari ini menunjukkan adanya infeksi polimikroba pada saluran pernapasan, yang menyebabkan perubahan lebih lanjut dalam terapi,” demikian diumumkan kantor media Takhta Suci pada 17 Februari.

“Semua tes yang dilakukan hingga saat ini menunjukkan gambaran klinis yang kompleks yang memerlukan perawatan inap yang sesuai.”

Vatikan mengumumkan bahwa audiensi umum mingguan Paus di Lapangan Santo Petrus, yang dijadwalkan pada 19 Februari, telah dibatalkan.

Tidak jelas dari pernyataan Vatikan apakah infeksi saluran pernapasan yang dialami Paus bersifat bakteri atau virus.

Sementara infeksi bakteri dapat diobati dengan antibiotik, infeksi virus tidak bisa. Virus biasanya harus sembuh dengan sendirinya, tetapi pasien dapat dibantu dengan obat lain untuk membantu tubuh melawan infeksi atau menurunkan demamnya.

The Epoch Times menghubungi kantor media Takhta Suci untuk mendapatkan rincian lebih lanjut tentang kondisi Paus tetapi tidak menerima tanggapan hingga waktu publikasi.

Juru bicara Matteo Bruni mengatakan bahwa meskipun dirawat di rumah sakit, Paus tetap dalam semangat yang baik.

Layanan berita resmi Vatikan melaporkan bahwa Paus dapat berbicara dengan jemaat Katolik di Jalur Gaza pada 14 dan 15 Februari, sebagaimana kebiasaannya selama hampir 15 bulan konflik di sana antara pasukan Israel dan Hamas.

“Kami mendengar suaranya. Memang benar, beliau tampak lebih lelah. Beliau sendiri mengatakan, ‘Saya harus menjaga diri saya sendiri.’ Namun, suaranya masih terdengar jelas, beliau mendengarkan kami dengan baik,” kata Gabriel Romanelli, Imam yang memimpin paroki di Gaza.

Paus Fransiskus kembali berkomunikasi dengan paroki di Gaza pada 16 Februari, kali ini melalui pesan teks.

“Tidak ada yang mengharapkan panggilan dari Paus di komunitas Keluarga Kudus. Namun, Paus tetap mengirim pesan kepada pastor paroki, mengatakan bahwa ia berterima kasih kepada Pastor Romanelli atas kedekatan dan doanya serta membalas dengan berkatnya,” demikian pernyataan paroki Gaza, menurut layanan berita Vatikan.

Paus Fransiskus juga membagikan unggahan di platform media sosial X pada 16 Februari, menyampaikan apresiasi kepada mereka yang telah memberikan dukungan selama ia dirawat di rumah sakit.

“Terima kasih atas kasih sayang, doa, dan kedekatan yang kalian berikan kepada saya dalam beberapa hari ini,” demikian isi pesan Paus.

Paus Fransiskus sebelumnya juga sempat dirawat di rumah sakit selama beberapa hari pada 2023 karena infeksi pernapasan.

Ia juga menjalani operasi usus pada 2021, yang menandai rawat inap pertamanya sejak terpilih sebagai Paus pada 2013.

Reuters berkontribusi dalam laporan ini

Sumber : Theepochtimes.com