Kunjungan Xi Berakhir Dramatis! Trump Bawa Xi ke Arsip Nasional, Demonstran Kepung Washington

EtIndonesia.com Kunjungan kenegaraan Presiden Tiongkok sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok, Xi Jinping, ke Amerika Serikat pada 23 hingga 25 September 2026 berakhir dengan sebuah pemandangan yang sarat simbolisme. Setelah rangkaian penyambutan resmi, pertemuan tingkat tinggi, jamuan kenegaraan, dan pembicaraan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Xi menutup kunjungannya dengan mendatangi salah satu tempat paling bersejarah di Washington, D.C.: National Archives atau Arsip Nasional Amerika Serikat.

Kunjungan tersebut berlangsung pada Jumat, 25 September 2026, ketika Trump bersama Ibu Negara Melania Trump mendampingi Xi Jinping dan istrinya, Peng Liyuan, melihat secara langsung sejumlah dokumen yang menjadi fondasi sistem pemerintahan Amerika Serikat.

Di dalam gedung Arsip Nasional, Xi diperlihatkan Deklarasi Kemerdekaan, Konstitusi Amerika Serikat, dan Bill of Rights. Ketiga dokumen tersebut memiliki kedudukan penting dalam sejarah politik Amerika, terutama dalam pembentukan sistem pemerintahan konstitusional dan perlindungan hak-hak individu.

Associated Press menggambarkan kunjungan itu sebagai kesempatan bagi Trump untuk memperlihatkan dokumen-dokumen utama demokrasi Amerika kepada pemimpin negara komunis terbesar di dunia. Namun, mengenai apakah Trump secara khusus bermaksud menjadikannya sebagai sebuah “pelajaran demokrasi” bagi Xi, hal tersebut lebih tepat dipandang sebagai interpretasi politik terhadap simbolisme kunjungan, bukan tujuan resmi yang diumumkan Gedung Putih.

Kunjungan Xi sendiri berlangsung dalam suasana yang sangat kontras.

Di satu sisi, Washington memberikan penyambutan kenegaraan yang penuh seremoni. Pertemuan kedua pemimpin dilengkapi dengan acara resmi, jamuan kenegaraan, hingga pertemuan minum teh di Red Room Gedung Putih pada hari terakhir kunjungan.

Namun di sisi lain, sepanjang kunjungan Xi, jalan-jalan di Washington juga menjadi tempat berlangsungnya berbagai demonstrasi.

Demonstrasi Mengiringi Kunjungan Xi

Pada 24 dan 25 September 2026, kelompok yang mengkritik kebijakan pemerintah Tiongkok menggelar aksi di sejumlah titik di Washington. Para demonstran membawa berbagai tuntutan, mulai dari kebebasan bagi Tibet dan Hong Kong hingga dukungan terhadap Taiwan dan kritik terhadap kebijakan Beijing di Xinjiang.

Associated Press melaporkan bahwa demonstrasi berlangsung hampir tanpa henti di sekitar lokasi kunjungan Xi. Sebagian peserta membawa bendera Tibet, sementara lainnya membawa tulisan mengenai “kebebasan” dan “demokrasi”, serta poster yang mendukung Taiwan dan Hong Kong.

Sejumlah demonstran bahkan meneriakkan tuntutan agar Xi meninggalkan kekuasaan.

Namun kelompok penentang Beijing bukan satu-satunya yang turun ke jalan.

Kelompok pendukung Xi Jinping juga berkumpul di Washington. Menurut laporan AP, sekitar 200 pendukung Xi terlihat berada di luar hotel tempat delegasi Tiongkok menginap. Mereka membawa bendera Tiongkok dan Amerika Serikat serta spanduk penyambutan terhadap pemimpin Tiongkok.

Keberadaan dua kelompok dengan pandangan yang bertolak belakang itu membuat aparat keamanan meningkatkan pengawasan untuk mencegah konfrontasi.

Di tengah situasi tersebut, beredar pula tuduhan dari aktivis dan sejumlah akun media sosial bahwa organisasi pro-Beijing telah memobilisasi mahasiswa serta warga Tiongkok untuk menghadiri acara penyambutan. Bahkan muncul klaim bahwa sebagian mahasiswa mendapat tekanan terkait beasiswa atau prospek pekerjaan apabila menolak berpartisipasi.

Namun, klaim mengenai ancaman penghentian beasiswa, daftar hitam, ataupun konsekuensi terhadap anggota keluarga belum dapat dikonfirmasi secara independen melalui sumber utama yang kredibel. Karena itu, informasi tersebut perlu diperlakukan sebagai tuduhan yang masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut.

Hal yang sama berlaku terhadap tuduhan bahwa seseorang yang dikaitkan dengan kelompok pro-Beijing membawa pisau untuk menyerang demonstran. Tanpa konfirmasi resmi dari kepolisian atau lembaga penegak hukum Amerika Serikat, klaim tersebut belum dapat dinyatakan sebagai fakta.

Trump Membawa Xi Melihat Dokumen Pendirian Amerika

Di tengah panasnya demonstrasi tersebut, perhatian kemudian beralih ke kunjungan Trump dan Xi ke Arsip Nasional.

Di sana tersimpan dokumen-dokumen yang menjadi bagian sentral sejarah Amerika Serikat.

Bagi sejumlah politisi Amerika, pemilihan tempat tersebut memiliki makna tersendiri.

Ketua House Select Committee on the Chinese Communist Party, John Moolenaar, secara resmi mengeluarkan pernyataan pada 25 September 2026 mengenai kunjungan Xi ke Arsip Nasional.

Moolenaar berharap kunjungan tersebut dapat mendorong Xi untuk memberikan kebebasan yang lebih besar kepada masyarakat Tiongkok. Pernyataannya merupakan kritik politik terhadap catatan hak asasi manusia pemerintah Tiongkok dan mencerminkan posisi Moolenaar serta komite yang dipimpinnya, bukan penilaian netral yang disepakati semua pihak.

Sementara itu, pemerintah Tiongkok menggambarkan kunjungan tersebut dengan nada yang berbeda.

Media pemerintah Xinhua melaporkan bahwa Xi dan Peng Liyuan mengunjungi Arsip Nasional dengan didampingi Trump dan Melania setelah kedua pasangan melakukan pertemuan minum teh. Laporan resmi Beijing tidak menggambarkan kunjungan tersebut sebagai teguran ideologis atau “pelajaran demokrasi”, melainkan sebagai bagian dari rangkaian diplomatik kedua negara.

Perbedaan cara menggambarkan peristiwa itu menunjukkan bagaimana satu kunjungan dapat menghasilkan interpretasi politik yang sangat berbeda di Washington dan Beijing.

Dua Sistem Politik dalam Satu Ruangan

Momen di Arsip Nasional menjadi menarik karena mempertemukan dua negara dengan sistem politik yang sangat berbeda.

Amerika Serikat menjalankan sistem konstitusional dengan pemisahan kekuasaan antara lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Tiongkok, sementara itu, dipimpin oleh Partai Komunis Tiongkok dalam sistem satu partai.

Karena itulah, ketika Xi berdiri di hadapan Konstitusi dan Bill of Rights, sejumlah pengkritik Beijing melihat pemandangan tersebut sebagai simbol pertemuan dua konsep pemerintahan yang berbeda.

Tetapi diplomasi Trump dan Xi sepanjang tiga hari tersebut tidak hanya berpusat pada persoalan ideologi.

Kedua pemimpin membicarakan berbagai persoalan strategis, termasuk perdagangan, kecerdasan buatan, Taiwan, dan perkembangan perang Iran. Reuters melaporkan bahwa kunjungan tiga hari tersebut menampilkan diplomasi personal dan seremoni tingkat tinggi, tetapi belum menghasilkan terobosan besar terhadap sejumlah persoalan paling sulit dalam hubungan Washington-Beijing.

Salah satu perkembangan konkret adalah perpanjangan gencatan dalam perselisihan perdagangan selama dua bulan. Namun sejumlah isu besar tetap belum terselesaikan.

Akhir Kunjungan yang Penuh Kontras

Dengan demikian, kunjungan Xi Jinping ke Amerika Serikat pada 23–25 September 2026 berakhir dengan dua gambaran yang sangat berbeda.

Di dalam gedung-gedung pemerintahan Washington, Xi memperoleh penyambutan resmi sebagai kepala negara salah satu kekuatan terbesar dunia. Ia menghadiri jamuan kenegaraan, melakukan pembicaraan dengan Trump, dan akhirnya berdiri di hadapan dokumen-dokumen pendirian Amerika Serikat.

Tetapi di luar gedung, suara penentangan terhadap pemerintahannya terus terdengar.

Demonstran Tibet, Hong Kong, kelompok prodemokrasi Tiongkok dan pendukung Taiwan memanfaatkan kehadiran Xi untuk menyuarakan tuntutan mereka, sementara pendukung Beijing juga turun ke jalan memberikan sambutan.

Pada akhirnya, kunjungan ke Arsip Nasional menjadi salah satu gambar paling simbolis dari perjalanan tersebut.

Seorang pemimpin Tiongkok berdiri di depan Konstitusi dan Bill of Rights Amerika Serikat, sementara hanya beberapa blok dari lokasi itu, masyarakat dengan pandangan yang saling bertentangan menggunakan kebebasan berkumpul dan menyampaikan pendapat mereka di ruang publik.

Apakah Trump memang merancang kunjungan itu untuk menyampaikan pesan politik kepada Xi tidak dapat dipastikan hanya dari simbolismenya. Namun bagi para pengkritik Beijing, pemandangan tersebut menjadi kesempatan untuk menyoroti perbedaan mendasar antara sistem politik kedua negara.

Sementara bagi Washington dan Beijing secara resmi, pertemuan tiga hari itu tetap memiliki tujuan yang lebih pragmatis: menjaga hubungan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia agar persaingan mereka tidak berkembang menjadi konfrontasi yang lebih berbahaya.

Xi pun meninggalkan Washington setelah kunjungan tiga hari yang dipenuhi kemegahan diplomatik, negosiasi tingkat tinggi, demonstrasi di jalanan, dan sebuah penutup yang tidak biasa—berdiri bersama Presiden Amerika Serikat di hadapan dokumen yang telah menjadi fondasi pemerintahan Amerika selama hampir dua setengah abad. (***)

INSPIRASI ERABARU

Harmoni Langit dan Bumi: Bagaimana Lima Unsur Menghubungkan Alam, Musim, dan Kesehatan

Di Tiongkok kuno, filosofi “langit, bumi, dan manusia sebagai satu kesatuan” telah menjadi pedoman untuk menjaga kesehatan selama ribuan tahun. “Empat musim dan yin-yang...

Perlambat Makan, Nikmati Hidangan Anda Sebaik-baiknya

Shoba Rajamani Anda sibuk, terlalu banyak bekerja, dan mengalami stres. Terkadang Anda bahkan hampir tidak menyadari apa yang sedang Anda makan—atau siapa yang duduk di...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine