Popok Bayi di Tiongkok Kembali Dilaporkan Mengandung Formamida, Warga Tiongkok Berbondong-bondong Memborongnya di Hong Kong

EtIndonesia.com Baru-baru ini, muncul kembali laporan bahwa popok bayi yang dijual di daratan Tiongkok diduga mengandung formamida (formamide), suatu senyawa kimia yang dianggap berpotensi membahayakan kesehatan. Isu ini memicu perdebatan luas di masyarakat. 

Setelah muncul perselisihan antara jurnalis investigasi dan sejumlah merek terkait, pihak berwenang mengumumkan pembentukan tim investigasi gabungan, tetapi belum memberikan jadwal penyelesaian penyelidikan. 

Pada 25 Juni, dua laporan pengujian lain yang beredar di internet kembali menunjukkan adanya kandungan formamida, sehingga memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat dan mendorong banyak warga Tiongkok pergi ke Hong Kong untuk membeli popok bayi.

Dua laporan pengujian beredar di internet

Menurut laporan media Tiongkok Xin Huanghe pada 25 Juni, dua laporan uji yang diterbitkan oleh Lianxin Testing (Jiangsu) Co., Ltd. beredar luas secara daring.

Laporan pertama diajukan oleh Dalian Xintong Trading Co., Ltd. untuk produk popok bermerek Muzhi Angel (木织天使). Sampel diterima pada 22 Juni dan diuji pada 24–25 Juni menggunakan metode GC-MS (Gas Chromatography–Mass Spectrometry) dengan fokus pada kandungan formamida. Hasilnya menunjukkan kadar 384 mg/kg.

Laporan kedua berkaitan dengan popok merek Babycare Camellia (山茶花). Pengujian diminta oleh seorang individu, dengan sampel diterima pada 21 Juni dan diuji pada 23–24 Juni menggunakan metode yang sama. Hasil pengujian menunjukkan kandungan formamida sebesar 414 mg/kg.

Laboratorium membenarkan laporan, tetapi satu hasil diuji ulang

Ketika dikonfirmasi oleh media tersebut, pihak Lianxin Testing (Jiangsu) menyatakan bahwa kedua laporan tersebut memang diterbitkan oleh laboratorium mereka.

Namun, mereka juga menjelaskan bahwa laporan mengenai popok Muzhi Angel telah ditarik kembali pada  25 Juni pagi untuk dilakukan pengujian ulang, dan hasil terbaru masih belum tersedia.

Seorang staf perusahaan mengatakan bahwa pihak penjualan telah berkomunikasi dengan klien dan diperkirakan hasil pengujian baru baru akan tersedia pada malam hari atau keesokan harinya.

Sementara itu, laporan mengenai Babycare Camellia tidak ditarik kembali. Menurut pihak laboratorium, mereka hanya melakukan pengujian sesuai permintaan pelanggan terhadap parameter yang diminta.

Kontroversi yang terus berkembang

Pada 18 Juni, surat kabar Economic Information Daily (《经济参考报》) menerbitkan hasil investigasi yang menyatakan bahwa beberapa merek popok bayi di Tiongkok, termasuk Huggies (好奇), Babycare, dan Bibababy (碧芭宝贝), terdeteksi mengandung formamida yang disebut sebagai zat dengan potensi toksisitas terhadap sistem reproduksi.

Setelah laporan tersebut dipublikasikan, merek-merek yang disebutkan mengeluarkan hasil pengujian mereka sendiri untuk membantah tuduhan tersebut. Beberapa asosiasi industri juga menyampaikan klarifikasi yang mendukung posisi perusahaan. Selain itu, sebuah lembaga medis di Provinsi Shandong dan seorang ahli medis menyatakan bahwa mereka tidak pernah melakukan pengujian sebagaimana disebutkan dalam pemberitaan.

Keesokan harinya, jurnalis investigasi Wang Wenzhi, yang melaporkan kasus ini, mengunggah rekaman suara di media sosial dan mengklaim bahwa seorang pakar medis memberikan pernyataan bantahan karena mendapat tekanan.

Akibat munculnya berbagai klaim yang saling bertentangan, kasus ini menjadi semakin rumit dan menimbulkan kebingungan di kalangan publik.

Seruan penyelidikan resmi

Pada 21 Juni malam, Wang Wenzhi kembali menerbitkan surat terbuka berjudul: “Surat Terbuka kepada Otoritas Pengawas: Saya Hanya Membela Anak-anak yang Ditemukan Mengandung Formamida di Dalam Tubuh Mereka.”

Dalam surat tersebut, ia mendesak pemerintah Tiongkok untuk melakukan penyelidikan menyeluruh dan memberikan penjelasan kepada masyarakat.

Pada 22 Juni, Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar Tiongkok mengumumkan pembentukan tim investigasi gabungan yang melibatkan Administrasi Regulasi Pasar, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi, Komisi Kesehatan Nasional, serta Administrasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nasional untuk memverifikasi isu tersebut. Namun, pengumuman itu tidak menyebutkan batas waktu penyelidikan, dan produk-produk dari merek yang disebutkan masih dijual di pasaran.

Sejumlah analis berpendapat bahwa berulangnya persoalan keamanan pangan dan produk konsumen di Tiongkok mencerminkan tantangan dalam sistem pengawasan dan penegakan regulasi.

Warga Tiongkok membeli popok di Hong Kong

Menurut berbagai informasi yang beredar di internet, banyak orang tua di Tiongkok merasa khawatir dan enggan membeli popok di dalam negeri. Sebagian dari mereka memilih pergi ke Hong Kong untuk membeli produk tersebut.

Sejumlah pengguna internet menyebutkan bahwa di beberapa wilayah Hong Kong, seperti Sheung Shui, Tuen Mun, dan Sha Tin, yang banyak dikunjungi wisatawan dari Tiongkok daratan, popok tipe celana dan ukuran sedang hingga besar sempat mengalami kekurangan stok pada akhir pekan atau hari libur.

Beberapa toko ritel di kawasan perbatasan bahkan menerapkan pembatasan pembelian sebanyak dua hingga empat bungkus per pelanggan untuk memastikan ketersediaan barang bagi penduduk lokal.

Fenomena ini mengingatkan pada peristiwa tahun 2008, ketika skandal susu formula yang tercemar melamin di Tiongkok mendorong banyak orang tua pergi ke Hong Kong untuk membeli susu formula, sehingga sempat menyebabkan kelangkaan produk tersebut di wilayah itu.

Dilaporkan oleh Li Li / Diedit oleh Xu Gengwen – NTDTV.com

Pasar Tekstil di Guangzhou, Tiongkok Melarang Kendaraan Listrik, Para Pedagang Gunakan Sapi, Kuda, dan Keledai untuk Mengangkut Barang

Sebuah pemandangan yang tidak biasa terjadi di Kota Guangzhou, Tiongkok. Setelah sebuah kawasan perdagangan melarang penggunaan sepeda motor listrik dan kendaraan listrik untuk mengangkut barang, para pedagang di pasar kain mulai menggunakan sapi, kuda, dan keledai sebagai alat transportasi. Tindakan tersebut diduga merupakan bentuk protes simbolis terhadap kebijakan tersebut. Polisi lalu lintas yang berada di lokasi dilaporkan sempat kebingungan menghadapi situasi itu.

EtIndonesia.com Kampanye penertiban kendaraan listrik di Guangzhou dan sejumlah daerah lain masih terus berlangsung. Menurut media setempat, pada 17 Juni, Kantor Jalan Fengyang di Distrik Haizhu mengeluarkan pemberitahuan bahwa mulai keesokan harinya, seluruh pasar di kawasan perdagangan Zhongda dilarang mengizinkan kendaraan listrik masuk, parkir, maupun melakukan pengisian daya.

Alasan resmi yang diberikan adalah untuk “mengambil pelajaran dari sejumlah insiden kebakaran yang terjadi belakangan ini.”

Pedagang mengeluhkan larangan total

Kebijakan tersebut memicu ketidakpuasan di Pasar Tekstil Internasional Zhongda. Banyak pedagang mengeluhkan bahwa pelarangan total penggunaan kendaraan listrik dilakukan tanpa menyediakan sarana transportasi alternatif, sehingga mereka kesulitan memindahkan gulungan kain yang berat.

Kuda digunakan untuk mengangkut kain

Pada 24 Juni, beredar video di internet yang memperlihatkan seorang pedagang sengaja membawa dua ekor kuda dari luar daerah. Salah satu kuda memikul gulungan kain dan berjalan mengelilingi pasar, sementara kuda lainnya mengikuti di belakang.

Banyak pengamat menduga tindakan tersebut merupakan bentuk “seni pertunjukan” (performance art) atau protes simbolis terhadap larangan penggunaan kendaraan listrik. Para pedagang dan warga sekitar berhenti untuk menyaksikan dan merekam kejadian tersebut.

Menurut video yang beredar, polisi lalu lintas awalnya hanya mengikuti pergerakan kuda tersebut. Belakangan, beberapa petugas kepolisian tambahan datang dan menghentikan pedagang beserta kudanya untuk kemudian dibawa pergi. Namun, belum diketahui apakah akan ada sanksi, mengingat tampaknya tidak ada aturan khusus yang melarang penggunaan kuda sebagai alat angkut di kawasan tersebut.

Protes meluas dengan sapi dan keledai

Pada 25 Juni, video lain menunjukkan semakin banyak pedagang ikut menggunakan cara serupa.

  • Seorang pedagang terlihat menuntun seekor sapi menyusuri jalan.
  • Beberapa pedagang lainnya menggunakan gerobak yang ditarik sapi untuk mengangkut gulungan kain.
  • Dalam salah satu rekaman, seekor keledai diikat di samping sapi yang memimpin rombongan gerobak, sehingga menarik perhatian banyak orang.

Reaksi warganet

Peristiwa tersebut memicu berbagai komentar di media sosial. Sebagian warganet menyindir kebijakan pemerintah dengan komentar satir, misalnya:

“Di satu sisi mengklaim mampu membuat chip sendiri, teknologinya mengungguli Amerika Serikat, dan militernya nomor dua di dunia. Di sisi lain, alat transportasi justru kembali menggunakan sapi dan kuda. Rasanya seperti melihat Korea Utara.”

Sumber : NTDTV.com

Korban Tewas Akibat Gempa Dahsyat di Venezuela Melonjak, Pakar Khawatir Terjadi Gempa Susulan yang Lebih Besar

EtIndonesia.com  Hingga 26 Juni 2026, pemerintah Venezuela menyatakan bahwa sedikitnya 188 orang telah dipastikan meninggal dunia, sementara lebih dari 200 orang masih terjebak. Tim penyelamat dari Amerika Serikat telah bergabung dalam operasi pencarian dan penyelamatan. Para ahli juga memperingatkan bahwa gempa susulan kemungkinan akan terus terjadi, dengan ibu kota Caracas diperkirakan menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak.

Menurut laporan resmi pemerintah Venezuela, hingga hari ini sedikitnya 188 orang tewas akibat gempa besar tersebut, sementara lebih dari 200 orang masih terjebak di bawah reruntuhan.

Tim penyelamat dari berbagai negara telah tiba di lokasi bencana. Seiring berlanjutnya operasi pencarian, jumlah korban jiwa dan korban luka diperkirakan masih dapat meningkat.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mengatakan: “Kami telah mengerahkan tim pencarian dan penyelamatan dari Fairfax County, Virginia, serta dari Los Angeles. Tim tambahan juga akan dikirimkan kemudian.”

Rubio menekankan bahwa prioritas paling mendesak saat ini adalah menyelamatkan sebanyak mungkin korban dalam 48 jam pertama setelah bencana. Setelah pemerintah Venezuela menyelesaikan penilaian terhadap dampak kerusakan, Amerika Serikat akan memberikan bantuan lanjutan.

“Misalnya dalam hal penyediaan tempat tinggal, bagaimana menampung mereka yang kehilangan rumah, serta apa yang dapat kami lakukan untuk membantu memulihkan layanan komunikasi, internet, telekomunikasi, dan fasilitas penting lainnya,” katanya. 

Pada Rabu (24 Juni) sore, wilayah Yumare, sekitar 160 kilometer di sebelah barat ibu kota Caracas, diguncang dua gempa kuat secara berurutan, yakni gempa pendahuluan berkekuatan magnitudo 7,2 dan gempa utama berkekuatan magnitudo 7,5, dengan kedalaman hiposentrum sekitar 13,2 kilometer.

Para ahli menjelaskan bahwa semakin dalam pusat gempa berada, semakin banyak energi yang teredam sebelum mencapai permukaan sehingga dampak kerusakannya cenderung lebih kecil. Namun, kedua gempa di Venezuela ini berasal dari gempa dangkal, dengan kedalaman hanya sekitar 10 hingga 20 kilometer, sehingga energi yang dilepaskan mencapai permukaan dalam jumlah besar.

Mark Allen, Ketua Departemen Ilmu Kebumian Universitas Durham, mengatakan: “Sayangnya, ini berarti bukan hanya total energi yang dilepaskan sangat besar—yang tercermin dari magnitudo gempa yang tinggi—tetapi juga karena pusat gempanya dangkal, sebagian besar energi mencapai permukaan dan wilayah di atas episentrum. Gempa berkekuatan 7 yang terjadi di dekat daerah berpenduduk padat memiliki daya rusak yang sangat besar dan konsekuensinya bisa sangat parah.”

Dua gempa besar tersebut menyebabkan banyak bangunan runtuh dan mendorong Venezuela menetapkan status darurat nasional.

Allen juga menyampaikan: “Data awal yang saya lihat menunjukkan bahwa patahan gempa membentang dari timur ke barat. Banyak gempa susulan kemungkinan akan terjadi di sisi timur lokasi dua gempa utama kemarin. Sayangnya, ini berarti Caracas kemungkinan akan menjadi wilayah yang paling terdampak.”

Ia memperingatkan bahwa dalam beberapa minggu hingga beberapa bulan mendatang masih mungkin terjadi gempa susulan berkekuatan magnitudo 5 hingga 6, yang berpotensi menimbulkan kerusakan tambahan.

Sementara itu, Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memperkirakan jumlah korban meninggal dunia akibat bencana ini berpotensi mencapai ribuan orang, bahkan bisa melampaui 10.000 jiwa.

Laporan disusun berdasarkan pemberitaan New Tang Dynasty Television 

Dari Jalanan ke Layar Digital: Program DANDAN Ubah Nasib Driver Ojol Perempuan Surabaya

SURABAYA, Juni 2026 – Selama ini, mereka dikenal sebagai pahlawan jalanan yang lincah menerobos kemacetan demi mengantarkan pesanan tepat waktu. Namun kini, para driver ojek online perempuan di Surabaya tidak hanya mengaspal, tetapi juga mulai menguasai dunia digital.

Mahasiswa Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (MM FEB UNAIR) Angkatan 65 dan 66 menghadirkan program DANDAN 2026 — singkatan dari Driver Andalan: Content Digital Training. Program ini dirancang khusus untuk memberdayakan ibu-ibu driver ojol perempuan di Surabaya agar memiliki keterampilan tambahan di bidang konten digital, jurnalisme warga, dan penguatan citra diri di ruang maya.

Mengusung tagline “Dandan dulu, siap melaju, andalan selalu,” DANDAN bukan sekadar kegiatan akademik. Ini adalah gerakan nyata membangun kapasitas perempuan pekerja informal di tengah gempuran ekonomi digital yang kian kompetitif.

29 Ibu-Ibu Tangguh Siap Jadi Konten Kreator

Program yang berada di bawah bimbingan Dr. Tri Siwi Agustina, SE., M.Si. ini menyasar 29 ibu-ibu driver ojek online perempuan di Surabaya. Mereka adalah bagian penting dari ekosistem transportasi digital — tidak hanya menopang ekonomi keluarga, tetapi juga menjadi tulang punggung mobilitas warga kota.

“DANDAN hadir untuk membuka mata para peserta bahwa keterampilan digital bukan hanya tentang mengikuti tren, tetapi bisa menjadi modal baru yang meningkatkan kepercayaan diri sekaligus membuka peluang ekonomi tambahan,” ujar Dr. Tri Siwi dalam sambutannya.

Belajar dari Praktisi: Superheru hingga Penyiar Gen FM

Pelatihan dan workshop digelar pada Sabtu, 6 Juni 2026 di FEB Universitas Airlangga Kampus B. Para peserta mendapatkan materi dari deretan narasumber inspiratif:

  • Heru Kurniawan (Superheru) , seorang driver ojol sekaligus content creator yang membuktikan bahwa profesi di jalanan bisa berpadu dengan kreativitas digital.
  • Choki Saputra, penyiar Gen FM Surabaya yang aktif membagikan informasi kondisi jalan secara real-time.
  • Drs. Sri Gunawan, M.Com., DBA. dan Dr. Tuwanku Aria Auliandri, S.E., M.Sc. , dosen MM UNAIR yang membawakan materi dari sisi akademis dan praktis.

Tak Sekadar Foto dan Caption

Pada sesi pertama, peserta diajarkan teknik membuat foto dan video sederhana, menulis caption yang menarik, menentukan waktu unggah konten yang tepat, hingga pengenalan dasar live selling. Tujuannya sederhana: membekali para ibu dengan kemampuan memproduksi konten yang bisa menarik perhatian dan bernilai ekonomi.

Sesi kedua lebih dalam lagi. Para peserta dibekali prinsip dasar jurnalisme digital — mulai dari cara melaporkan kondisi jalan dengan pendekatan 5W+1H hingga pentingnya verifikasi informasi sebelum disebarluaskan. Ini penting, mengingat hoaks dan misinformasi mudah menyebar di ruang digital.

“Driver ojol perempuan memiliki posisi strategis di jalanan. Mereka bisa menjadi mata dan telinga masyarakat sekaligus kreator konten yang autentik,” ungkap salah satu pengurus program DANDAN.

Lebih dari Sekadar Pelatihan

DANDAN bukanlah program sekali jalan. Ini adalah awal dari perjalanan panjang memberdayakan perempuan pekerja informal agar tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di era serbadigital. Dengan keterampilan baru ini, para ibu-ibu driver tidak hanya bisa berbagi informasi bermanfaat, tetapi juga berpotensi menambah penghasilan melalui konten yang mereka hasilkan.

Program ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara dunia akademisi, praktisi media, dan komunitas pekerja informal mampu menciptakan dampak sosial yang berarti. Dari atas aspal ke layar ponsel — perjalanan para driver ojol perempuan Surabaya kini tidak berhenti di jalanan, tetapi terus melaju ke dunia digital yang penuh peluang.

Gelombang Panas Akibat “Heat Dome” Melanda Eropa: Suhu di Prancis Tembus 44°C, Ratusan Orang Meninggal Dunia

Dalam sepekan terakhir, gelombang panas yang memecahkan rekor melanda berbagai wilayah Eropa. Di selatan Spanyol, suhu sempat mencapai 45°C, sementara pada 24 Juni, suhu maksimum di Paris mencapai 40,9°C, mencetak rekor suhu tertinggi untuk bulan Juni di kota tersebut. Gelombang panas ini telah menyebabkan lebih dari 40 kematian di Prancis.

EtIndonesia.com Pada 25 Juni, suhu di Paris masih bertahan di sekitar 40°C. Berbagai pusat pendinginan darurat hampir penuh oleh warga yang mencari perlindungan dari panas ekstrem. Pemerintah setempat bahkan mengubah aula pernikahan dan berbagai fasilitas umum lainnya menjadi tempat penyejukan sementara yang dibuka untuk masyarakat.

Untuk menghadapi cuaca ekstrem, objek wisata terkenal seperti Menara Eiffel dan Museum Louvre mempersingkat jam operasionalnya. Banyak wisatawan mengaku panas yang menyengat tidak hanya membuat kondisi fisik mereka tidak nyaman, tetapi juga mengacaukan rencana perjalanan.

Seorang wisatawan, Eddie Hong, mengatakan: “Kami benar-benar tidak bisa keluar pada siang hari. Bahkan saat malam tiba, cuacanya tetap tidak terasa sejuk.”

Wisatawan lain, Keegan Cronin, menuturkan: “Kami sebenarnya berencana pulang lebih awal karena cuacanya benar-benar terlalu panas.”

Menurut Badan Meteorologi Prancis, pada Rabu suhu rata-rata nasional mencapai 30°C, sementara suhu di Paris sempat menyentuh 40,9°C, menjadi rekor tertinggi untuk bulan Juni.

Yang lebih mengejutkan, beberapa wilayah di Prancis bahkan mencatat suhu 44,4°C, sedangkan wilayah selatan Spanyol mencapai 45°C. Prancis, Italia, Spanyol, dan Inggris telah mengeluarkan peringatan merah, yaitu tingkat kewaspadaan tertinggi untuk cuaca panas.

Ratusan Kematian Diduga Berkaitan dengan Gelombang Panas

Data menunjukkan bahwa di Spanyol, antara 21 hingga 24 Juni, terdapat 212 kasus kematian yang diduga berkaitan dengan gelombang panas.

Di Prancis, tiga anak ditemukan meninggal dunia di dalam mobil. Selain itu, sedikitnya 48 orang meninggal, dengan 40 diantaranya tenggelam ketika mencoba mendinginkan diri di air.

Kementerian Kesehatan Italia juga menetapkan Roma sebagai salah satu dari 16 kota dengan status peringatan merah akibat suhu ekstrem. Para ahli meteorologi memperkirakan kondisi akan semakin memburuk dalam beberapa hari mendatang, terutama di Italia bagian tengah dan utara, dengan puncak gelombang panas diperkirakan terjadi pada Minggu hingga Senin.

Fenomena “Heat Dome” Menjadi Penyebab

Para ahli menjelaskan bahwa gelombang panas kali ini berkaitan dengan fenomena “heat dome” (kubah panas), yaitu kondisi ketika sistem tekanan tinggi menjebak udara panas di suatu wilayah sehingga panas terus terakumulasi dan suhu meningkat drastis.

Mereka juga menyoroti bahwa iklim musim panas di Eropa selama ini relatif lebih sejuk, sehingga banyak sekolah dan rumah tinggal tidak dilengkapi pendingin udara (AC). Jika suhu tinggi terus berlangsung, kondisi tersebut dapat menimbulkan risiko kesehatan yang serius bahkan mematikan.

Di Inggris, suhu 36,1°C yang tercatat pada Rabu juga menjadi rekor tertinggi untuk bulan Juni. Menghadapi panas berkepanjangan, serikat pekerja di negara itu melancarkan aksi yang dijuluki “mogok kerja karena panas”, mendesak pemerintah menetapkan standar suhu maksimum di tempat kerja serta mendorong perusahaan memasang pendingin udara atau mengambil langkah lain untuk melindungi keselamatan para pekerja.

Reporter NTD Television, Liu Jiajia, melaporkan.

Gempa Dahsyat di Venezuela : Ajaib! Bayi Merangkak Keluar dari Reruntuhan Tanpa Terluka (Beredar Banyak Video)

EtIndonesia.com Pada 24 Juni 2026, Venezuela diguncang gempa bumi kembar berkekuatan lebih dari 7 magnitudo yang menyebabkan banyak bangunan runtuh dan menewaskan ratusan orang. Di tengah bencana tersebut, beredar sebuah kisah yang disebut sebagai keajaiban: seorang ayah yang menangis sambil memanggil nama anaknya melihat bayinya merangkak keluar dari reruntuhan dalam keadaan selamat dan tanpa luka.

Menurut laporan, pada pukul 18.04 dan 18.05 waktu setempat, Venezuela dilanda dua gempa kuat berkekuatan M7,2 dan M7,5. Ibu kota Caracas beserta wilayah sekitarnya mengalami kerusakan parah dengan banyak bangunan ambruk. Hingga saat ini, dilaporkan 235 orang meninggal dunia dan lebih dari 1.500 orang mengalami luka-luka.

Bayi Merangkak Keluar Setelah Mendengar Panggilan Ayahnya

Sebuah video yang beredar di platform X memperlihatkan warga kembali ke rumah mereka yang telah berubah menjadi puing-puing untuk mencari anggota keluarga yang hilang.

Dalam rekaman tersebut, seorang ayah muda tampak menangis dan memanggil nama anaknya dengan penuh keputusasaan. Tak lama kemudian, seorang bayi berusia beberapa bulan yang hanya mengenakan popok dan belum bisa berjalan perlahan merangkak keluar dari sela-sela reruntuhan setelah mendengar suara ayahnya.

Meskipun tampak ketakutan dan menangis pelan, bayi itu dilaporkan tidak mengalami cedera fisik.

Para petugas penyelamat yang berada di lokasi terkejut sekaligus gembira melihat kejadian tersebut. Mereka mengangkat bayi itu dari reruntuhan dan menyerahkannya kepada sang ayah, yang memeluk anaknya dengan ekspresi penuh haru dan tidak percaya.

Banyak warganet mengomentari kejadian tersebut dengan mengatakan:

  • “Ini benar-benar sebuah keajaiban.”
  • “Kadang-kadang harapan muncul dari tempat yang paling tidak terduga.”

Anak Perempuan dan Seorang Wanita Juga Berhasil Diselamatkan

Video lain menunjukkan tim penyelamat berhasil membongkar puing-puing hingga seorang anak perempuan berusia sekitar beberapa tahun dapat keluar dari reruntuhan dan diselamatkan.

Sementara itu, seorang wanita lain yang juga terjebak berhasil mengeluarkan bagian atas tubuhnya dari reruntuhan, namun bagian bawah tubuhnya tampak masih terjepit. Petugas penyelamat menenangkannya dan memintanya untuk tidak panik sambil menunggu proses evakuasi lebih lanjut.

Seorang Perempuan Keturunan Tionghoa Turut Diselamatkan

Rekaman lain memperlihatkan tim penyelamat berhasil mengevakuasi seorang perempuan muda keturunan Tionghoa dari bawah reruntuhan. Ia tampak tidak mengalami cedera serius. Setelah berhasil diselamatkan, terdengar sorak-sorai dari orang-orang di sekitar, sementara perempuan tersebut melambaikan tangan sebagai ungkapan terima kasih.

Warga Berdatangan Membawa Bantuan

Video-video yang beredar juga memperlihatkan warga dari daerah sekitar secara sukarela mengendarai sepeda motor maupun mobil untuk mengirimkan bantuan ke wilayah terdampak gempa.

Seorang pengguna media sosial yang membagikan rekaman tersebut menulis:

“Sekarang adalah waktunya untuk saling melayani dan mengorganisasi diri. Kita harus bersatu lebih erat daripada sebelumnya.”

Muncul Laporan tentang Cahaya Gempa dan Tsunami

Sebuah rekaman kamera pengawas diklaim memperlihatkan kemunculan “cahaya gempa” berwarna-warni di langit sesaat sebelum gempa besar terjadi. Fenomena serupa juga pernah dilaporkan oleh sebagian saksi sebelum Gempa Tangshan tahun 1976 di Tiongkok, meskipun penyebab ilmiahnya masih menjadi bahan penelitian.

Laporan tersebut juga menyebut bahwa gempa memicu tsunami. Video yang beredar menunjukkan gelombang besar menghantam pesisir Venezuela, membalikkan kapal-kapal yang sedang berlabuh dan menerjang daratan.

Amerika Serikat Umumkan Bantuan Kemanusiaan

Setelah gempa terjadi, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengumumkan bantuan senilai 150 juta dolar AS untuk Venezuela. Dari jumlah tersebut:

  • 50 juta dolar AS dialokasikan bagi organisasi-organisasi kemanusiaan yang beroperasi di Venezuela.
  • 100 juta dolar AS diberikan kepada Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).

Selain itu, Amerika Serikat juga berencana mengirim Tim Respons Bantuan Bencana, termasuk dua tim khusus pencarian dan penyelamatan yang akan didukung oleh Departemen Pertahanan AS.

Departemen Luar Negeri AS juga membentuk sebuah gugus tugas untuk mengkoordinasikan upaya bantuan dari sektor publik maupun swasta.

Dilaporkan oleh Luo Tingting/Disunting oleh Wen Hui

Selat Hormuz Kembali Dibuka, Harga Minyak Turun ke Level Sebelum Konflik; Analis: Risiko Belum Hilang

Seminggu setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani perjanjian damai sementara, pasar energi global mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Harga minyak mentah internasional telah kembali ke tingkat sebelum pecahnya konflik. Namun, para analis menilai bahwa perang AS-Iran telah beralih dari konflik militer ke fase pemantauan gencatan senjata. Perubahan paling penting adalah dibukanya kembali pelayaran di Selat Hormuz. Meski harga minyak mulai turun, konflik AS-Iran belum benar-benar berakhir dan risiko di Selat Hormuz juga belum sepenuhnya hilang.

EtIndonesia.com Data menunjukkan bahwa sejak AS dan Iran mencapai kesepakatan dan Selat Hormuz dibuka kembali, lebih dari 20 kapal tanker minyak telah berhasil melintasi selat tersebut, dengan total ekspor sekitar 35 juta barel minyak mentah.

Akibat perkembangan ini, pada Rabu (24 Juni), harga minyak mentah internasional turun sekitar 4%. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat bahkan untuk pertama kalinya sejak awal Maret turun di bawah 70 dolar AS per barel, hampir kembali ke tingkat sebelum pecahnya konflik AS-Iran.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap laju penurunan harga bensin yang dianggapnya masih terlalu lambat. Ia juga menuduh perusahaan-perusahaan minyak besar memanfaatkan situasi untuk menaikkan harga dan meraup keuntungan berlebihan.

Namun, perhatian utama pasar saat ini adalah apakah pemulihan sektor energi dan penurunan harga minyak tersebut dapat bertahan.

“Sebelumnya, kekhawatiran terbesar pasar adalah kemungkinan Iran menutup jalur pelayaran sehingga minyak Timur Tengah tidak dapat diekspor dan memicu lonjakan harga minyak dunia,” kata Chen Wenjia, penasihat khusus sebuah lembaga pemikir strategi Indo-Pasifik. 

“Kini kapal-kapal tanker kembali melintas dan minyak yang sempat tertahan mulai mengalir ke rantai pasokan, sehingga tekanan berkurang secara signifikan. Itulah sebabnya harga minyak turun kembali ke tingkat sebelum perang,” katanya. 

“Ini menunjukkan bahwa penurunan harga bukan karena Timur Tengah benar-benar damai, melainkan karena pasar mulai menghapus premi risiko perang yang sebelumnya diperhitungkan,” lanjutnya. 

Saat ini, negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran mengenai perjanjian damai permanen masih berlangsung dan diperkirakan membutuhkan beberapa minggu lagi sebelum situasinya menjadi lebih jelas.

Chen Wenjia menambahkan: “Ke depan, hubungan AS-Iran akan memasuki tahap di mana negosiasi berjalan bersamaan dengan tekanan politik. Iran juga perlu memulihkan ekspor energinya untuk mengurangi tekanan ekonomi dan fiskal di dalam negeri.” 

“Oleh karena itu, dalam jangka pendek kemungkinan pecahnya perang besar kembali memang menurun, tetapi kondisi gencatan senjata masih sangat rapuh. Tantangan sesungguhnya justru ada di depan, termasuk persoalan pelonggaran sanksi terhadap program nuklir Iran, kebebasan pelayaran di Selat Hormuz, dan apakah Iran akan berupaya menetapkan syarat-syarat tertentu bagi kapal yang melintas.”

Para analis memperkirakan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz tidak akan berjalan sepenuhnya mulus. Angkatan Laut Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Kamis mengeluarkan peringatan bahwa kapal-kapal harus melewati rute yang telah ditentukan, jika tidak maka tindakan akan diambil.

Lebih lanjut, para analis berpendapat bahwa perang antara Amerika Serikat dan Iran belum benar-benar berakhir, melainkan hanya bergeser dari konflik bersenjata menjadi persaingan politik dan energi melalui meja perundingan.

“Pada akhirnya, semuanya bergantung pada apakah AS dan Iran dapat mencapai kesepakatan. Jika negosiasi gagal, masih menjadi tanda tanya apakah Iran akan mengambil langkah-langkah tertentu dan apakah militer AS akan kembali melakukan tindakan pembatasan terhadap Iran. Semua itu masih merupakan variabel yang belum pasti,” ujar pengamat politik Li Linyi. 

Selain faktor geopolitik, prospek permintaan minyak dunia juga menjadi perhatian. Khususnya di Tiongkok, salah satu pengimpor minyak mentah terbesar di dunia, pertumbuhan ekonomi yang melambat dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan laju pertumbuhan konsumsi minyak ikut menurun. Karena itu, sekalipun pasokan dari Timur Tengah pulih sepenuhnya, kondisi tersebut dapat terus membatasi kenaikan harga minyak internasional.

Laporan ini berdasarkan wawancara dan liputan reporter New Tang Dynasty Television, Chen Yue dan Chang Chun.

Krisis Kembali Memanas di Selat Hormuz, Menlu Rubio: Selat Hormuz Tidak Boleh Dikenakan Biaya Transit

Pada Kamis (25 Juni), Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, kembali menegaskan di Bahrain bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan tidak berhak mengenakan biaya kepada kapal-kapal yang melintasi jalur pelayaran internasional. Enam negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC) juga menyerukan agar kebebasan bernavigasi di Selat Hormuz tetap dijamin. 

Namun, pada hari yang sama, Garda Revolusi Iran memperingatkan kapal-kapal yang menggunakan jalur pelayaran baru, sementara sebuah kapal kargo dilaporkan diserang, sehingga kembali meningkatkan ketegangan di kawasan.

EtIndonesia.com Pada Kamis 25 Juni 2026, Menlu AS Marco Rubio bertemu dengan para menteri luar negeri enam negara GCC di Bahrain dan menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan mencapai kesepakatan dengan mengorbankan keamanan mitra-mitranya di kawasan Teluk. Ia kembali menegaskan dua garis merah utama Washington, yaitu Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan tidak boleh memungut biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.

“Jika kita menerima bahwa hanya karena suatu jalur air internasional berada di dekat wilayah suatu negara, maka negara tersebut dapat mengenakan biaya atas penggunaannya, praktik semacam itu akan menyebar seperti penyakit ke seluruh dunia,” katanya. 

“Faktanya, tidak ada negara di bumi ini yang berhak mengenakan biaya atas penggunaan jalur pelayaran internasional. Hal itu tidak akan pernah menjadi syarat yang dapat diterima dalam perjanjian apa pun,” tambahnya. 

Pada hari yang sama, Rubio dan GCC mengeluarkan pernyataan bersama yang menyatakan bahwa untuk mencapai perdamaian dan keamanan kawasan yang berkelanjutan, seluruh ancaman yang berasal dari Iran harus ditangani secara menyeluruh, termasuk rudal balistik, drone, serta dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan.

Para menteri juga menegaskan pentingnya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka, dengan menyatakan bahwa kebebasan navigasi yang bebas, tanpa syarat, dan tanpa hambatan sangat penting bagi keamanan regional maupun global.

Saat ini, sejumlah kapal tanker minyak telah menggunakan jalur pelayaran baru yang ditetapkan oleh Amerika Serikat, Oman, dan Organisasi Maritim Internasional (IMO) untuk keluar dari Selat Hormuz.

Langkah tersebut memicu ketidakpuasan dari kalangan garis keras di Iran, yang mengklaim bahwa penggunaan jalur baru itu melanggar kendali Teheran atas jalur perairan strategis tersebut.

Media Iran pada Kamis melaporkan bahwa tiga kapal tanker yang berusaha melewati jalur baru di perairan Oman berbalik arah setelah menerima peringatan dari Garda Revolusi Iran.

Sementara itu, Kantor Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan bahwa sebuah kapal kargo di dekat pantai Oman terkena benda tak dikenal yang mengakibatkan kerusakan pada ruang kemudi. Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam insiden tersebut.

Setelah serangan itu, Organisasi Maritim Internasional mengumumkan penangguhan sementara operasi pengawalan untuk membantu evakuasi kapal-kapal yang melintasi selat tersebut.

Menurut berbagai sumber, Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, mengungkapkan bahwa untuk mencegah eskalasi lebih lanjut, Amerika Serikat dan Iran telah membentuk jalur komunikasi di Doha yang memungkinkan Garda Revolusi Iran berkomunikasi secara langsung dengan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM).

Laporan ini disusun berdasarkan pemberitaan New Tang Dynasty Television (NTD) oleh reporter Yi Jing.

Ketika Selat Hormuz Kembali Dilanda Insiden : Kapal Dagang Terkena Proyektil Misterius

EtIndonesia.com Situasi di Timur Tengah kembali memanas. Pada 26 Juni, sebuah kapal dagang di Selat Hormuz dilaporkan terkena proyektil yang belum diketahui asalnya di perairan lepas pantai Oman dan mengalami kerusakan. Meski ada laporan yang menyebut kemungkinan serangan berasal dari pihak Iran, hingga kini rincian pasti insiden tersebut masih belum jelas.

Di saat yang sama, setelah perundingan awal antara Amerika Serikat dan Iran menunjukkan kemajuan, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz mulai pulih secara bertahap. Namun, masih terdapat ratusan kapal yang belum dapat berlayar karena lambungnya dipenuhi organisme laut.

Kapal Dagang Rusak Akibat Serangan Misterius

Kantor Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menyatakan bahwa sebuah kapal kargo terkena proyektil yang tidak diketahui identitasnya di Selat Hormuz. Kapal tersebut mengalami kerusakan di perairan tenggara kota Dahit, Oman, dengan bagian anjungan kapal mengalami kerusakan. Hingga berita ini ditulis, belum ada laporan mengenai korban jiwa maupun dampak terhadap lingkungan.

Pihak berwenang kemudian mengimbau kapal-kapal dagang yang melintas di wilayah tersebut agar meningkatkan kewaspadaan.

Menurut laporan Gulf News, sebelum serangan terjadi, sedikitnya tiga kapal dagang yang mencoba meninggalkan Selat Hormuz memutuskan berbalik arah. Saat itu mereka sedang berlayar di jalur dekat pantai Oman yang disebut berada di bawah perlindungan Amerika Serikat.

Selain itu, dua perusahaan intelijen maritim merilis siaran radio yang diduga berasal dari Angkatan Laut Iran, berisi ancaman untuk menghentikan kapal-kapal yang melintasi jalur pelayaran tersebut. Sementara media Iran melaporkan bahwa pemerintah di Teheran sedang menegaskan kembali kendalinya atas jalur perairan itu.

Lalu Lintas Mulai Pulih, tetapi Ratusan Kapal Masih Terjebak

Platform pelacakan kapal MarineTraffic menyebutkan bahwa berkat kemajuan operasi penyapuan ranjau dan semakin banyak kapal dagang yang menggunakan jalur melalui Oman, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz meningkat tajam. Pada hari Kamis tercatat sekitar 70 kali pelayaran melintasi selat tersebut.

Meskipun kemajuan perundingan AS-Iran sempat memunculkan harapan bahwa pelayaran akan segera kembali normal, kenyataannya sekitar 600 kapal tanker raksasa masih tertahan di laut dan belum dapat beroperasi secara normal.

Bukan Karena Ranjau, tetapi Karena Organisme Laut

Media bisnis Moneycontrol dan beberapa media lainnya melaporkan bahwa penyebab kapal-kapal tersebut masih tertahan bukanlah operasi penyapuan ranjau, melainkan karena bagian bawah kapal telah dipenuhi organisme laut.

Selama sekitar empat bulan berhenti di perairan hangat Teluk Persia, lambung kapal-kapal itu ditumbuhi berbagai organisme seperti teritip (barnacle), kerang, remis, dan alga dalam jumlah besar. Kondisinya disebut cukup parah hingga menghambat kemampuan kapal untuk berlayar.

Rubio: Dunia Memasuki Tahap Baru yang Diharapkan Membawa Perdamaian

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mengatakan: “Kini kita memasuki tahap baru, dan kami berharap tahap ini akan membawa perdamaian. Itulah harapan kita semua.”

Dalam kunjungannya ke Bahrain, Rubio menegaskan kepada para sekutu bahwa setiap kesepakatan dengan Iran akan mempertimbangkan keamanan dan kemakmuran mereka.

Ia juga memperingatkan bahwa apabila Selat Hormuz mulai memberlakukan biaya transit bagi kapal yang melintas, praktik serupa dapat menyebar ke jalur pelayaran internasional lainnya.

Rubio menyatakan: “Jika dunia menerima gagasan bahwa suatu negara boleh mengenakan biaya hanya karena sebuah jalur air internasional berada di dekat wilayahnya, maka praktik itu akan menyebar ke seluruh dunia seperti wabah.”

Peringatan kepada NATO dan Sikap terhadap Iran

Rubio juga memperingatkan negara-negara anggota NATO bahwa Iran memiliki kemampuan rudal yang dapat menjangkau wilayah Eropa. Demi menjaga keamanan internasional, menurutnya, negara-negara sekutu tidak seharusnya membatasi penggunaan pangkalan militer oleh Amerika Serikat.

Ia menambahkan bahwa banyak pihak menyatakan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, tetapi ketika Amerika mengambil tindakan, justru muncul hambatan dari sebagian sekutu terkait penggunaan fasilitas militer.

Israel dan Senat AS

Sementara itu, juru bicara pemerintah Israel, David Mencer, menyatakan bahwa Israel tidak akan menarik pasukannya dari Lebanon selatan selama kelompok Hizbullah belum melucuti senjatanya.

Di Amerika Serikat, Senat dengan hasil pemungutan suara 50 berbanding 47 menolak rancangan resolusi yang bertujuan membatasi kewenangan Presiden Donald Trump untuk melancarkan perang terhadap Iran.

Setelah pemungutan suara tersebut, Trump mengucapkan terima kasih kepada para senator yang menolak usulan itu dan menyatakan bahwa hasil pemungutan suara tersebut memberinya posisi tawar yang lebih kuat dalam menghadapi Iran. Ia juga menegaskan bahwa “pemungutan suara ini merupakan peringatan bagi Iran.”

Sumber : NTDTV.com

Israel Buka Suara! Putra Pendiri Hamas Ungkap Fakta Mengejutkan, Trump Diduga Punya Skenario Rahasia

EtIndonesia.com — Kesepakatan kerangka (framework agreement) yang baru saja dicapai antara Amerika Serikat dan Iran sempat dipandang sebagai salah satu terobosan diplomatik paling penting dalam upaya meredakan ketegangan di Timur Tengah. Perjanjian tersebut diharapkan mampu membuka jalan bagi stabilitas kawasan yang selama bertahun-tahun dilanda konflik dan persaingan geopolitik.

Namun, di balik optimisme tersebut, berbagai perkembangan terbaru justru memperlihatkan bahwa jalan menuju perdamaian masih dipenuhi tantangan. Penolakan dari kalangan politik Amerika Serikat, sikap keras Israel terhadap Iran, hingga munculnya bocoran dari seseorang yang mengaku berasal dari lingkaran dalam Gedung Putih telah memunculkan pertanyaan besar mengenai masa depan kesepakatan tersebut.

Pada saat yang sama, dinamika geopolitik juga berkembang di kawasan lain. Di Eropa Timur, hubungan antara Belarus, Rusia, dan Ukraina mulai menunjukkan perubahan yang berpotensi mengubah keseimbangan politik kawasan.

Kesepakatan AS–Iran Tidak Mendapat Dukungan Penuh

Tidak lama setelah kesepakatan kerangka diumumkan, muncul gelombang kritik dari dalam negeri Amerika Serikat.

Sejumlah anggota Partai Republik yang dikenal berhaluan konservatif garis keras (hawkish Republicans), bersama sejumlah pejabat senior Israel, secara terbuka menyatakan keberatan terhadap isi kesepakatan tersebut.

Kelompok ini menilai pendekatan yang ditempuh Presiden Donald Trump terhadap Iran terlalu lunak dan berisiko memberikan keuntungan strategis bagi Teheran. Menurut mereka, pelonggaran tekanan terhadap Iran justru dapat memberikan kesempatan bagi negara itu untuk memperkuat kembali posisi politik maupun militernya di kawasan.

Pandangan tersebut memperlihatkan adanya perbedaan pendapat yang cukup tajam di dalam kubu pendukung Presiden Trump sendiri mengenai arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Iran.


Bocoran dari Lingkaran Dalam Gedung Putih Munculkan Spekulasi Baru

Di tengah meningkatnya perdebatan politik tersebut, sebuah laporan yang dimuat harian Inggris The Daily Telegraph memicu perhatian luas.

Media tersebut mengutip keterangan seorang sumber anonim yang disebut berasal dari lingkaran inti Gedung Putih. Menurut sumber tersebut, kesepakatan yang baru saja dicapai dengan Iran kemungkinan bukanlah tujuan akhir pemerintahan Trump.

Sebaliknya, kesepakatan tersebut diklaim hanya merupakan langkah sementara untuk mencapai sasaran politik yang lebih besar.

Sumber anonim itu menyebut bahwa pemerintahan Trump memiliki beberapa pertimbangan politik domestik yang sangat mendesak sehingga memilih menyelesaikan kesepakatan dengan cepat.

Beberapa tujuan yang disebutkan antara lain:

  • menekan harga minyak dunia dalam waktu sesingkat mungkin;
  • mengurangi tekanan inflasi yang masih dirasakan masyarakat Amerika Serikat;
  • membantu Partai Republik mempertahankan posisi politik menjelang pemilihan umum sela (midterm election).

Menurut klaim sumber tersebut, stabilitas harga energi dianggap sangat penting bagi kondisi ekonomi Amerika Serikat menjelang pelaksanaan pemilu.


Muncul Klaim Trump Akan Membatalkan Kesepakatan Setelah Pemilu

Bagian paling kontroversial dari laporan tersebut adalah dugaan mengenai rencana Presiden Trump setelah pemilu sela.

Sumber anonim itu mengklaim bahwa setelah pemungutan suara 3 November, Presiden Trump disebut berencana mencabut atau membatalkan kembali kesepakatan yang telah ditandatangani dengan Iran apabila kondisi politik dinilai menguntungkan.

Apabila skenario tersebut benar-benar terjadi, berbagai pengamat menilai konsekuensinya dapat sangat besar.

Analisis yang dimuat The Daily Telegraph menyebutkan bahwa pembatalan kesepakatan berpotensi menggagalkan proses deeskalasi yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

Situasi tersebut dapat memicu kembali meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel, bahkan membuka kemungkinan munculnya babak baru konfrontasi militer di kawasan.


Gedung Putih Langsung Membantah

Tidak lama setelah laporan tersebut menjadi perhatian publik, Gedung Putih segera mengeluarkan klarifikasi resmi.

Pemerintah Amerika Serikat membantah seluruh isi bocoran tersebut dan menegaskan bahwa informasi yang beredar tidak benar.

Meskipun demikian, berbagai analis politik menilai bahwa kemungkinan perubahan arah kebijakan tetap tidak bisa sepenuhnya dikesampingkan.

Selama karier politiknya, Donald Trump dikenal memiliki gaya negosiasi yang fleksibel dan kerap mengubah strategi apabila melihat peluang memperoleh hasil yang dianggap lebih menguntungkan bagi Amerika Serikat.

Karena itu, sebagian pengamat berpendapat bahwa pemerintah Amerika Serikat masih mungkin melakukan penyesuaian terhadap kesepakatan apabila perkembangan politik dan keamanan berubah.


Tekanan Politik dari Dalam Partai Republik Terus Menguat

Selain menghadapi tantangan diplomatik di tingkat internasional, Presiden Trump juga harus mengelola dinamika politik di dalam negeri.

Menjelang pemilu sela, kelompok konservatif garis keras di Partai Republik terus mendesak pemerintah agar mengambil sikap yang lebih keras terhadap Iran.

Beberapa anggota Kongres bahkan secara terbuka mengkritik substansi kesepakatan tersebut.

Mereka menilai pemerintah seharusnya mempertahankan tekanan maksimum terhadap Teheran, bukan justru membuka ruang kompromi yang dinilai dapat dimanfaatkan Iran.

Situasi ini membuat Gedung Putih harus menjaga keseimbangan antara kepentingan diplomasi internasional dan tuntutan politik domestik.


Israel Kirim Sinyal Tegas kepada Iran

Sementara Washington masih berkutat dengan perdebatan mengenai masa depan kesepakatan tersebut, Israel justru menunjukkan sikap yang jauh lebih keras terhadap Iran.

Pada 23 Juni, dalam GNS Summit yang berlangsung di Yerusalem, mantan agen intelijen Shin Bet, Mosab Hassan Yousef, menyampaikan pidato yang menarik perhatian para peserta konferensi.

Dalam pidatonya, Mosab menegaskan bahwa keamanan Israel tidak dapat dijadikan bahan kompromi.

Ia mengatakan bahwa keberadaan Israel tidak bergantung pada dukungan negara-negara besar maupun opini masyarakat internasional.

Menurutnya, apabila pihak-pihak tertentu terus memaksakan tekanan terhadap Israel, maka mereka sendirilah yang akan menanggung konsekuensi paling berat.


Klaim Israel Masih Menyimpan Kekuatan Militer Rahasia

Bagian pidato Mosab yang paling banyak diperbincangkan adalah pernyataannya mengenai kemampuan militer Israel.

Ia menyatakan bahwa hingga saat ini Israel belum mengerahkan seluruh kemampuan militernya.

Menurut Mosab, negaranya masih memiliki berbagai sistem persenjataan canggih yang belum pernah diperlihatkan kepada musuh.

Ia mengatakan bahwa keputusan untuk tidak mengungkap seluruh kemampuan tersebut merupakan bagian dari strategi agar lawan tidak mengetahui kapasitas militer sebenarnya yang dimiliki Israel.

Pernyataan itu segera memicu berbagai spekulasi mengenai kemungkinan adanya teknologi pertahanan maupun sistem senjata yang selama ini belum pernah dipublikasikan secara terbuka.


Sosok “Pangeran Hijau” yang Menggemparkan Timur Tengah

Pidato tersebut menjadi semakin menarik karena latar belakang orang yang menyampaikannya.

Mosab Hassan Yousef bukan berasal dari kalangan militer Israel.

Ia juga bukan pejabat pemerintahan.

Mosab merupakan putra sulung Sheikh Hassan Yousef, salah satu tokoh pendiri Hamas.

Karena latar belakang keluarganya, Mosab pernah menjadi salah satu figur penting di lingkungan Hamas sebelum akhirnya mengambil jalan yang sama sekali berbeda.

Ia kemudian dikenal dunia dengan nama sandi “Green Prince” atau “Pangeran Hijau”.


Dari Putra Pendiri Hamas Menjadi Agen Rahasia Israel

Menurut berbagai catatan mengenai perjalanan hidupnya, Mosab secara diam-diam bekerja sama dengan badan keamanan dalam negeri Israel, Shin Bet, selama periode 1997 hingga 2007.

Selama hampir satu dekade, ia disebut memberikan berbagai informasi intelijen penting kepada aparat keamanan Israel.

Informasi tersebut dilaporkan membantu menggagalkan berbagai rencana serangan kelompok ekstremis, termasuk sejumlah dugaan upaya pembunuhan terhadap pejabat tinggi Israel.

Karena perannya itu, Mosab dianggap sebagai salah satu aset intelijen paling berharga yang pernah dimiliki Shin Bet.

Sebaliknya, di mata Hamas, ia dipandang sebagai salah satu pengkhianat terbesar dalam sejarah organisasi tersebut.


Mendapat Sambutan Meriah di Yerusalem

Usai menyampaikan pidatonya dalam GNS Summit pada 23 Juni, Mosab Hassan Yousef memperoleh sambutan meriah dari para peserta konferensi.

Sejumlah tokoh penting Israel turut hadir dalam acara tersebut, termasuk mantan Menteri Pertahanan Benny Gantz, yang terlihat memberikan apresiasi terhadap pidato Mosab.

Kehadiran para pejabat dan mantan petinggi keamanan Israel dalam forum tersebut semakin memperlihatkan bahwa Israel tetap mempertahankan posisi yang sangat tegas terhadap Iran, meskipun jalur diplomasi antara Washington dan Teheran masih terus berlangsung.


Diplomasi Berjalan, Namun Bayang-Bayang Konfrontasi Belum Hilang

Rangkaian perkembangan ini menunjukkan bahwa proses diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran masih menghadapi berbagai tantangan, baik dari dalam negeri Amerika Serikat maupun dari para sekutunya di Timur Tengah.

Di satu sisi, Washington berupaya mempertahankan momentum dialog dengan Teheran. Namun di sisi lain, tekanan politik domestik, penolakan dari sebagian anggota Partai Republik, serta sikap keras Israel membuat masa depan kesepakatan tersebut masih dipenuhi ketidakpastian.

Selama perbedaan kepentingan itu belum menemukan titik temu, kawasan Timur Tengah diperkirakan masih akan berada dalam situasi yang rapuh. Kesepakatan diplomatik yang ada saat ini memang membuka peluang menuju stabilitas, tetapi pada saat yang sama juga tetap dibayangi risiko meningkatnya kembali ketegangan apabila salah satu pihak memilih mengubah arah kebijakan atau mengambil langkah yang lebih konfrontatif. (***)

Lukashenko Tinggalkan Putin? Ultimatum Zelenskyy Berbuah Hasil, Rusia Ancam Belarus!

EtIndonesia.com — Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap konflik di Timur Tengah, perkembangan penting juga terjadi di kawasan Eropa Timur. Dalam beberapa hari terakhir, hubungan antara Belarus dan Rusia menjadi sorotan setelah muncul serangkaian langkah yang dinilai tidak biasa dari Presiden Belarus, Alexander Lukashenko.

Sejumlah media internasional melaporkan adanya indikasi bahwa Minsk mulai mengambil posisi yang lebih berhati-hati terhadap Moskow. Perubahan sikap tersebut muncul setelah Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, melontarkan ultimatum kepada Belarus terkait dugaan keterlibatan negara itu dalam mendukung operasi militer Rusia.

Meski belum dapat dipastikan apakah langkah-langkah terbaru Belarus benar-benar menandai perubahan kebijakan strategis atau sekadar manuver politik sementara, rangkaian peristiwa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir telah memicu berbagai spekulasi di kalangan analis keamanan internasional.

Ultimatum Zelenskyy kepada Belarus

Pada 19 Juni 2026, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy secara terbuka memberikan ultimatum kepada pemerintah Belarus. Ia menuntut agar Minsk membongkar sejumlah stasiun relai sinyal yang menurut Kyiv digunakan Rusia untuk membantu mengarahkan serangan pesawat nirawak (drone) terhadap wilayah Ukraina.

Dalam pernyataannya, Zelenskyy menyebut Ukraina mengetahui keberadaan sedikitnya empat stasiun relai yang berada di wilayah Belarus, terutama di kawasan yang berbatasan langsung dengan Ukraina. Ia memberi waktu selama satu minggu kepada Belarus untuk menonaktifkan fasilitas tersebut.

Zelenskyy bahkan memperingatkan bahwa apabila Belarus tidak mengambil tindakan sendiri, Ukraina akan melakukannya. Meski tidak menjelaskan bentuk tindakan yang dimaksud, pernyataan itu dipandang sebagai salah satu ancaman paling keras yang pernah disampaikan Kyiv kepada Minsk sejak perang Rusia–Ukraina dimulai pada Februari 2022.

Pernyataan tersebut segera memicu ketegangan baru di kawasan. Kremlin menilai ultimatum itu sebagai bentuk campur tangan terhadap kedaulatan Belarus, sementara pemerintah Belarus sendiri belum memberikan tanggapan resmi secara rinci mengenai tuntutan Ukraina.

Belarus Dikabarkan Menutup Fasilitas Pendukung Drone Rusia

Perkembangan yang lebih mengejutkan terjadi beberapa hari setelah ultimatum tersebut disampaikan.

Menurut berbagai laporan media internasional, sekitar 22 Juni 2026, Belarus dilaporkan mengambil langkah dengan menghentikan operasional salah satu fasilitas relai sinyal yang berada di dekat perbatasan Ukraina.

Fasilitas tersebut diyakini memiliki peran penting dalam membantu sistem komunikasi dan navigasi pesawat nirawak Rusia yang beroperasi di wilayah perbatasan.

Walaupun hingga kini pemerintah Belarus belum mengeluarkan penjelasan resmi mengenai alasan penutupan fasilitas tersebut maupun dampaknya terhadap operasi militer Rusia, langkah itu langsung memicu berbagai spekulasi.

Sejumlah pengamat keamanan menilai apabila laporan tersebut benar, maka efektivitas sebagian operasi drone Rusia di kawasan perbatasan dapat mengalami gangguan. Namun demikian, belum terdapat bukti independen yang dapat memastikan sejauh mana pengaruh penutupan fasilitas tersebut terhadap kemampuan tempur Rusia.

Isyarat Minsk Mulai Mengambil Jarak dari Moskow?

Selama lebih dari empat tahun perang berlangsung, Belarus dikenal sebagai salah satu sekutu paling penting Rusia.

Meskipun tidak mengirimkan pasukan tempur secara langsung ke Ukraina, Belarus telah memberikan berbagai bentuk dukungan strategis kepada Moskow.

Di antaranya adalah:

  • mengizinkan wilayah Belarus digunakan sebagai jalur invasi Rusia pada awal perang tahun 2022;
  • menjadi lokasi penempatan berbagai sistem rudal Rusia;
  • menampung senjata nuklir taktis Rusia;
  • serta menyediakan berbagai infrastruktur logistik dan militer yang mendukung operasi Rusia.

Karena itu, setiap perubahan kecil dalam kebijakan Minsk selalu menjadi perhatian serius bagi komunitas internasional.

Penutupan fasilitas relai sinyal, apabila memang terbukti dilakukan secara permanen, dipandang sebagian analis sebagai indikasi bahwa Lukashenko berusaha mengurangi keterlibatan langsung Belarus dalam konflik tanpa harus memutus hubungan strategis dengan Kremlin.

Lukashenko Umumkan Akan Meninggalkan Belarus

Perhatian publik semakin besar setelah muncul perkembangan lain yang tidak kalah menarik.

Sekitar 23 Juni 2026, dalam sebuah rapat pemerintahan bersama Perdana Menteri Belarus, Alexander Turchin, Presiden Alexander Lukashenko mengumumkan bahwa dirinya akan melakukan perjalanan ke luar negeri dalam waktu yang relatif lama.

Namun, pernyataan tersebut disampaikan secara sangat singkat.

Lukashenko tidak menjelaskan:

  • negara tujuan yang akan dikunjungi;
  • agenda resmi perjalanan;
  • maupun berapa lama dirinya akan berada di luar Belarus.

Minimnya informasi justru memunculkan berbagai spekulasi di kalangan media internasional.

Sebagian analis menduga perjalanan tersebut berkaitan dengan meningkatnya tekanan diplomatik terhadap Belarus, sementara pihak lain menilai kunjungan itu mungkin merupakan bagian dari upaya Lukashenko mencari ruang manuver politik di tengah meningkatnya tekanan dari Rusia maupun Ukraina.

Hingga kini belum terdapat konfirmasi resmi mengenai tujuan sebenarnya dari perjalanan tersebut.

Laporan: Rusia Ancam Hentikan Bantuan Finansial

Di tengah meningkatnya ketegangan itu, muncul pula laporan yang menambah kompleksitas situasi.

Menurut laporan The Wall Street Journal, yang mengutip sejumlah pejabat Rusia, Kremlin disebut telah menyampaikan peringatan kepada pemerintah Belarus.

Isi pesannya disebut cukup tegas.

Apabila Belarus menolak permintaan Rusia untuk membuka front baru terhadap Ukraina atau mengurangi tingkat dukungan militernya, Moskow dikabarkan mempertimbangkan penghentian berbagai bentuk bantuan ekonomi kepada Belarus.

Walaupun pemerintah Rusia membantah telah memberikan tekanan semacam itu, laporan tersebut tetap menarik perhatian karena menggambarkan besarnya ketergantungan ekonomi Belarus terhadap Rusia.

Ketergantungan Ekonomi Belarus terhadap Rusia

Hubungan ekonomi Belarus dengan Rusia memang sangat erat.

Selama bertahun-tahun, Rusia menjadi mitra dagang terbesar sekaligus penyokong utama perekonomian Belarus melalui berbagai bentuk bantuan, pinjaman, subsidi energi, dan kerja sama industri.

Menurut berbagai analisis ekonomi yang dikutip dalam laporan tersebut, nilai dukungan ekonomi Rusia diperkirakan setara dengan sekitar 3 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Belarus setiap tahunnya.

Bagi Belarus, angka tersebut memiliki arti yang sangat besar.

Apabila dukungan tersebut benar-benar dikurangi atau dihentikan, dampaknya dapat meliputi:

  • meningkatnya tekanan terhadap anggaran pemerintah;
  • berkurangnya kemampuan fiskal negara;
  • melemahnya nilai tukar dan stabilitas ekonomi;
  • hingga perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional.

Karena itulah, setiap perubahan hubungan Minsk dan Moskow bukan hanya berdampak pada sektor keamanan, tetapi juga memiliki konsekuensi ekonomi yang sangat luas.

Lukashenko Berada di Persimpangan Sulit

Situasi yang berkembang saat ini menempatkan Presiden Alexander Lukashenko dalam posisi yang sangat rumit.

Di satu sisi, Belarus telah menjalin hubungan strategis dengan Rusia selama puluhan tahun, baik melalui kerja sama pertahanan, ekonomi, maupun integrasi politik dalam kerangka Negara Persatuan Rusia–Belarus.

Namun di sisi lain, semakin besar keterlibatan Belarus dalam perang Rusia–Ukraina juga meningkatkan berbagai risiko bagi keamanan nasional Belarus sendiri.

Selain ancaman serangan balasan dari Ukraina, Minsk juga menghadapi tekanan diplomatik dari negara-negara Barat serta meningkatnya kekhawatiran akan dampak ekonomi apabila konflik terus meluas.

Karena itu, setiap keputusan yang diambil pemerintah Belarus saat ini dipandang memiliki konsekuensi strategis yang sangat besar terhadap keseimbangan geopolitik di Eropa Timur.

Hingga akhir Juni 2026, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa Belarus benar-benar akan mengubah aliansinya dengan Rusia. Namun, rangkaian peristiwa mulai dari ultimatum Ukraina pada 19 Juni 2026, laporan mengenai penutupan fasilitas relai sinyal, hingga pengumuman perjalanan luar negeri Presiden Lukashenko telah memunculkan pertanyaan baru mengenai arah kebijakan Minsk di masa mendatang.

Para pengamat menilai bahwa dalam beberapa pekan ke depan akan terlihat apakah langkah-langkah tersebut merupakan awal dari perubahan strategi Belarus, atau sekadar manuver taktis Lukashenko untuk menjaga keseimbangan di tengah tekanan yang datang secara bersamaan dari Moskow dan Kyiv. (***)

Baru Sepakat, Langsung Memanas! Kapal Singapura Diduga Dicegat Iran, AS Langsung Bereaksi

EtIndonesia.com  – Di tengah masih berlanjutnya proses negosiasi lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran mengenai implementasi kesepakatan kerangka yang dicapai sebelumnya, situasi keamanan di kawasan Selat Hormuz kembali menjadi perhatian dunia internasional. Sejumlah perkembangan terbaru menunjukkan bahwa meskipun jalur pelayaran internasional mulai kembali ramai digunakan, risiko keamanan di kawasan tersebut masih jauh dari benar-benar mereda.

Pada Kamis, 25 Juni 2026, muncul laporan mengenai sebuah insiden yang melibatkan kapal dagang berbendera Singapura saat melintasi jalur pelayaran di bagian selatan Selat Hormuz. Peristiwa tersebut memicu kembali kekhawatiran bahwa stabilitas kawasan masih sangat rapuh, terlebih karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi paling strategis di dunia.

Insiden Kapal Berbendera Singapura Memicu Ketegangan Baru

Berdasarkan laporan yang dikutip dalam tayangan tersebut, sebuah kapal kargo berbendera Singapura sedang berlayar di sekitar 7,5 mil laut dari pesisir Teluk Oman ketika diduga mengalami kontak dengan unsur Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Dalam narasi program tersebut, insiden ini disebut sebagai kontak bersenjata pertama yang terjadi sejak Amerika Serikat dan Iran mengumumkan tercapainya kesepakatan kerangka beberapa hari sebelumnya.

Meski rincian mengenai bentuk kontak tersebut belum dijelaskan secara lengkap, laporan menyebutkan bahwa pemerintah Amerika Serikat segera memberikan respons keras dan meminta penjelasan mengenai kronologi kejadian tersebut.

Hingga laporan ini disusun, belum terdapat konfirmasi independen yang dapat memastikan secara rinci bagaimana insiden tersebut terjadi maupun apakah benar melibatkan tindakan militer secara langsung.


Iran Kembali Menegaskan Otoritasnya di Selat Hormuz

Tidak lama setelah munculnya laporan mengenai insiden tersebut, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan kepada seluruh kapal dagang internasional yang melintasi Selat Hormuz.

Dalam pernyataannya, IRGC meminta seluruh kapal agar tidak menggunakan jalur pelayaran selatan yang selama ini banyak digunakan di bawah pengawasan keamanan Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya.

Sebaliknya, Iran meminta kapal-kapal internasional mengikuti koridor pelayaran yang telah ditentukan oleh pemerintah Iran.

Menurut peringatan tersebut, kapal yang mengabaikan arahan tersebut berpotensi menghadapi tindakan dari otoritas Iran.

Langkah ini dinilai sejumlah pengamat sebagai sinyal bahwa Teheran masih berupaya mempertahankan pengaruh strategisnya terhadap lalu lintas pelayaran internasional di Selat Hormuz, meskipun proses diplomasi dengan Washington masih berlangsung.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global diangkut melalui selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut. Oleh karena itu, setiap perubahan kebijakan keamanan di kawasan tersebut selalu menjadi perhatian pasar energi internasional.


Iran Usulkan Pengenaan Biaya Transit Selat Hormuz

Pada hari yang sama, 25 Juni 2026, pemerintah Iran juga mengemukakan sebuah gagasan ekonomi baru kepada negara-negara Teluk.

Menurut laporan yang dikutip dalam program tersebut, Iran mengusulkan agar seluruh negara di kawasan bekerja sama memberlakukan biaya transit bagi setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Pemerintah Iran memperkirakan kebijakan tersebut berpotensi menghasilkan pemasukan sekitar 40 miliar dolar Amerika Serikat per tahun apabila diterapkan secara kolektif.

Usulan tersebut dipandang sebagai upaya Iran untuk memperoleh manfaat ekonomi dari jalur pelayaran internasional yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.

Namun demikian, gagasan tersebut diperkirakan akan menghadapi tantangan diplomatik yang cukup besar.

Sehari sebelumnya, pada 24 Juni 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap menjadi jalur pelayaran internasional yang bebas dilalui tanpa adanya pungutan biaya tambahan.

Perbedaan pandangan ini diperkirakan dapat menjadi salah satu isu baru yang berpotensi mempersulit proses implementasi kesepakatan antara Washington dan Teheran.


Aktivitas Pelayaran Mulai Pulih, Ancaman Keamanan Masih Membayangi

Meskipun ketegangan masih berlangsung, data pelayaran menunjukkan adanya peningkatan aktivitas kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Pada 24 Juni 2026, jumlah kapal yang berhasil keluar menuju Teluk Oman dilaporkan mencapai titik tertinggi sejak konflik kawasan meningkat pada Februari lalu.

Dalam kurun waktu 24 jam, sebanyak 34 kapal tercatat berhasil meninggalkan Selat Hormuz. Jumlah tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan hari sebelumnya.

Peningkatan aktivitas ini menunjukkan mulai tumbuhnya kepercayaan sebagian operator pelayaran terhadap kondisi keamanan di kawasan.

Namun demikian, situasi belum sepenuhnya kembali normal.

Mengutip laporan Reuters, sejumlah perusahaan pelayaran masih memilih mengarahkan kapal mereka lebih dekat ke wilayah perairan Oman sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan keberadaan ranjau laut maupun ancaman keamanan lainnya.

Langkah tersebut dinilai dapat mengurangi risiko apabila sewaktu-waktu kembali terjadi eskalasi di sekitar jalur pelayaran utama.


Ratusan Kapal Tanker Masih Menunggu Giliran Melintas

Di balik meningkatnya jumlah kapal yang mulai beroperasi, masih terdapat hambatan besar yang membayangi kelancaran distribusi energi global.

Menurut tayangan tersebut, sekitar 600 kapal tanker berukuran besar masih tertahan di laut dan belum dapat melintasi Selat Hormuz.

Program tersebut menyebut salah satu penyebab keterlambatan adalah kondisi teknis pada bagian bawah kapal yang telah terlalu lama berada di laut.

Akibat lamanya masa tunggu, lambung kapal disebut mengalami pertumbuhan organisme laut seperti teritip dan biota lainnya yang dapat menurunkan efisiensi pelayaran sehingga memerlukan pembersihan maupun pemeriksaan teknis sebelum kembali beroperasi secara optimal.

Walaupun demikian, faktor keamanan tetap dinilai sebagai salah satu pertimbangan utama bagi perusahaan pelayaran dalam menentukan waktu keberangkatan.


Diplomasi Amerika Serikat di Kawasan Teluk Terus Berlanjut

Di tengah situasi tersebut, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio dilaporkan terus melakukan serangkaian diplomasi ke berbagai negara di kawasan Teluk.

Kunjungan tersebut bertujuan memperkuat dukungan regional terhadap kerangka kesepakatan yang sedang dijalankan antara Amerika Serikat dan Iran.

Dalam perkembangan terbaru, para menteri luar negeri negara-negara Teluk dikabarkan menyampaikan posisi yang relatif sejalan dengan Israel mengenai syarat-syarat utama yang harus dipenuhi Iran dalam setiap kesepakatan jangka panjang.

Mereka menegaskan bahwa penyelesaian sengketa tidak cukup hanya membahas isu nuklir, tetapi juga harus mencakup sejumlah persoalan strategis lainnya, yaitu:

  • program rudal balistik Iran;
  • pengembangan pesawat nirawak (drone) militer;
  • dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok bersenjata proksi di kawasan;
  • serta jaminan kebebasan pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Posisi bersama tersebut menunjukkan bahwa negara-negara Teluk masih menginginkan penyelesaian yang bersifat menyeluruh agar stabilitas kawasan dapat terjaga dalam jangka panjang.


Israel Klaim Hancurkan Terowongan Strategis Hizbullah di Lebanon Selatan

Sementara perhatian dunia tertuju pada perkembangan di Selat Hormuz, militer Israel juga mengumumkan operasi militer terbaru di wilayah Lebanon selatan.

Menurut keterangan yang disampaikan dalam tayangan tersebut, pasukan Israel berhasil mengepung salah satu jaringan terowongan strategis yang diduga digunakan oleh kelompok Hizbullah.

Laporan tersebut menyebut bahwa ketika sejumlah anggota Hizbullah berusaha keluar dari terowongan untuk melarikan diri, mereka menjadi sasaran serangan udara presisi yang dilancarkan oleh militer Israel.

Program tersebut mengklaim bahwa serangan tersebut berhasil menghancurkan kelompok yang berada di pintu keluar terowongan.

Selain itu, masih menurut klaim yang disampaikan dalam tayangan tersebut, puluhan anggota Hizbullah lainnya diyakini masih terjebak jauh di dalam jaringan terowongan tanpa memiliki jalur pelarian.

Namun demikian, hingga 25 Juni 2026, belum terdapat verifikasi independen yang dapat mengonfirmasi seluruh rincian operasi tersebut, termasuk jumlah korban maupun kondisi sebenarnya di dalam jaringan terowongan yang dimaksud.


Situasi Regional Masih Sangat Rapuh

Berbagai perkembangan yang terjadi pada 25 Juni 2026 menunjukkan bahwa meskipun proses diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran masih terus berlangsung, kawasan Timur Tengah tetap berada dalam kondisi yang sangat sensitif.

Insiden di Selat Hormuz, usulan baru Iran mengenai tarif pelayaran, meningkatnya aktivitas diplomasi Amerika Serikat di negara-negara Teluk, serta berlanjutnya operasi militer Israel terhadap Hizbullah memperlihatkan bahwa stabilitas kawasan masih menghadapi banyak tantangan.

Bagi komunitas internasional, keberhasilan implementasi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya bergantung pada penyelesaian isu nuklir, tetapi juga pada kemampuan seluruh pihak menjaga keamanan jalur pelayaran internasional serta mengurangi potensi konflik yang dapat kembali memicu eskalasi di Timur Tengah  (***)

Mengapa Trump Tidak Menggulingkan Rezim Iran?

oleh Shi Kejian

Banyak pendukung Trump di internet tidak dapat menerima putusan tentang penandatanganan perjanjian damai (lebih tepatnya, nota kesepahaman) antara AS dan Iran. Salah satu pandangan mereka adalah bahwa rezim Iran telah membantai begitu banyak warganya. Tetapi rezim tersebut bukannya digulingkan malahan diberikan kesempatan negosiasi.

Hal ini sama saja dengan AS secara diam-diam mendukung kediktatoran dan pembantaian. Pandangan yang lain menunjukkan bahwa sebelum perang AS-Iran, Trump secara terbuka telah bernjanji akan mendukung perjuangan rakyat Iran, tetapi hasil akhirnya adalah berdamai dengan rezim diktator. Sikap plin-plan ini tidak dapat diterima.

Penulis percaya bahwa Trump memilih untuk bernegosiasi daripada melanjutkan perang untuk menggulingkan rezim Iran memiliki beberapa alasan seperti berikut:

Pertama, upaya untuk menggulingkan rezim telah dilakukan, tetapi sudah terbukti bahwa perlawanan sipil Iran tidak cukup untuk melawan kelompok bersenjata seperti Garda Revolusi. Jika AS ingin menggulingkan rezim Iran, maka dibutuhkan pengerahan pasukan darat ke Iran. Namun, jajak pendapat warga sipil AS menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak menghendaki AS terlibat terlalu dalam di perang Iran, jadi menolak pengiriman pasukan.

Kedua, setelah tergulingnya rezim Khamenei, lanskap politik menjadi samar. Iran sangat mungkin dijadikan sebagai arena perebutan kekuasaan antara berbagai faksidi Iran. Jika kekacauan meletus seperti di Irak atau Libya, kehidupan warga sipil Iran akan menjadi lebih bergejolak dan sulit.

Ketiga, penulis merasa bahwa Trump memiliki sifat yang penuh kasih sayang dan murah hati, sehingga ia tidak akan, seperti para pemimpin yang lebih muda, bertindak gegabah untuk menggulingkan pemerintahan diktator demi keadilan yang dangkal. Trump selalu mempertimbangkan biayanya yang harus dibayar, seperti korban jiwa di antara warga sipil dan tentara setempat, dampaknya terhadap ekonomi global dan kesejahteraan nasional, apakah perbandingan biaya dan keuntungan bisa sepadan, dan apakah ada alternatif yang lebih baik?

Trump telah mempertunjukkan pendekatan luar biasa yang ia gunakan dalam menangani isu Venezuela. Alih-alih menggulingkan pemerintah setelah menangkap mantan Presiden Nicolas Maduro, ia bekerja sama dengan Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez untuk secara bertahap membantu transisi Venezuela.

Sejauh ini, proses transisi relatif berhasil. Venezuela telah mengubah citra internasionalnya, tidak lagi bersekutu dengan Iran atau Kuba, memperbaiki hubungan dengan Amerika Serikat, menjadi daya tarik bagi perusahaan-perusahaan besar Barat untuk menanamkan modal, dan mengadakan pembicaraan dengan tokoh-tokoh oposisi untuk membahas “peta jalan untuk dialog transisi demokrasi.”

Penghidupan masyarakat sampai batas tertentu mengalami perbaikan, antrean panjang di SPBU telah hilang, produksi serta ekspor minyak terus meningkat. Meskipun masih banyak kesulitan dalam merevitalisasi ekonomi dan mereformasi sistem politik, namun semua langkahnya tertuju pada demokrasi dan kebebasan. Baru-baru ini bersama dengan Amerika Serikat, Venezuela berhasil menyingkirkan hambatan dalam proses demokrasi, yaitu dengan melenyapkan kepala geng “Tren de Aragua” Nino Guerrero.

Oleh karena itu, mengingat serangan militer terhadap Iran tidak cukup untuk menggulingkan pemerintahan teokratis, maka AS memilih untuk bernegosiasi dengan pemerintah saat ini dan menggunakan pendekatan dua arah “deterensi kekuatan ditambah insentif ekonomi” untuk secara bertahap mengarahkan Iran agar mengurangi sikap permusuhannya, dan berfokus terhadap pembangunan ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan rakyat adalah pilihan terbaik.

Karena pengalaman Venezuela menunjukkan bahwa ketika pemimpin garis keras yang paling keras kepala dan ekstrem ( Nicolas Maduro) disingkirkan, penggantinya mungkin lebih bersedia untuk menyelesaikan masalah secara damai. Setelah penangkapan Maduro, penggantinya, Rodriguez, menunjukkan fleksibilitas yang cukup besar. Dengan pembunuhan Khamenei dan pemimpin garis keras lainnya dari Garda Revolusi, kepemimpinan pemerintah saat ini mungkin secara bertahap beralih ke pemimpin pragmatis seperti Presiden Masoud Pezeshkian dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.

Setelah perjanjian damai dengan presiden Iran, Trump berulang kali mengisyaratkan bahwa Iran memiliki pemimpin baru, dan bahwa “pemimpin yang mencapai nota kesepahaman dengan Amerika Serikat” ini mudah untuk diajak bekerja sama. Kemudian, pada 18 Juni tahun ini, Ketua Parlemen Gharibaf secara terbuka menyatakan: “Iran harus berfokus terhadap pembangunan ekonomi dan menghindari konfrontasi. Iran harus membebaskan rakyatnya dari tekanan ekonomi dan membangun bangsa.”

Ini adalah pernyataan yang tidak mungkin bisa diterima oleh kelompok garis keras Iran 4 bulan lalu. Pada saat itu, Garda Revolusi mengancam akan menangkap, menghukum, dan mengeksekusi menteri luar negeri, presiden, dan ketua parlemen yang pragmatis karena pengkhianatan.

Jadi, bagaimana sikap Garda Revolusi saat ini? Wakil Presiden AS Vance baru-baru ini mengungkapkan bahwa pimpinan Garda Revolusi secara diam-diam mengatakan kepada AS: “Kami mungkin pernah memiliki permusuhan sebelumnya, kami mungkin pernah memiliki ketidakpercayaan, tetapi kami percaya bahwa cara kami berbisnis dengan AS selama 47 tahun terakhir adalah sebuah kesalahan. Mari kita mencoba lagi!” …

Sikap seperti itu juga tidak mungkin dapat dinyatakan pada 4 bulan lalu, karena pimpinan Garda Revolusi saat ini benar-benar berbeda, yang lama semuanya telah lenyap, dan telah terjadi banyak perubahan. Oleh karena itu, kepemimpinan baru ini jelas lebih rasional, tidak seekstrem dan sefanatik pendahulunya, karena yang baru ini, mereka tidak memiliki banyak dendam, maka mereka tidak khawatir kalau dimintai pertanggungjawaban, bahkan jika mereka berkompromi. Kekhawatiran mereka adalah tidak terlalu radikal, untuk menghindari operasi pemenggalan kepala.

Sementara itu, jika Iran dapat memenuhi janjinya, seperti meninggalkan program nuklirnya, AS secara bertahap dapat mencairkan aset luar negeri Iran dan mencabut sanksi. Ini akan memberi mereka prospek nyata untuk masa depan yang lebih baik dan motivasi untuk berubah. Jika rencana ini berhasil, pengaruh kaum pragmatis akan meningkat, kubu garis keras akan secara bertahap melunak, dan perubahan internal di Iran akan menjadi mungkin.

Tentu saja, Iran memiliki sejarah menipu komunitas internasional, membuat janji sambil diam-diam mengembangkan senjata nuklir. Namun, keadaan sekarang berbeda. Presiden AS sebelumnya cenderung menjalankan kebijakan pemuasan (Appeasement Policy), tidak ingin meningkatkan ketegangan dengan Iran.

Oleh karena itu, bahkan jika mereka mengetahui situasi tersebut, mereka menutup sebelah mata, membiarkan bahaya berlalu dan menyerahkannya kepada presiden berikutnya, yang pada akhirnya menyebabkan perang AS-Iran saat ini. Setelah pemerintahan Trump menginstruksikan serangan, mereka memahami konsekuensi buruk dari kebijakan pemuasan itu, baru sadar perlu menerapkan pemantauan dan inspeksi secara ketat, siap bertindak kapan saja jika ditemukan pelanggaran.

Lebih lanjut, Trump menyatakan pada KTT G7 yang baru saja berakhir bahwa Angkatan Udara AS memantau fasilitas nuklir Iran dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka bahkan dapat membaca papan nama fasilitas yang masuk dan keluar.

Di bawah strategi “wortel dan tongkat” ini, patut dicoba untuk memberikan kesempatan kepada kepemimpinan baru Iran saat ini melakukan perubahan total, karena ini adalah pilihan realistis dan terbaik bagi rakyat Iran, Amerika Serikat, negara-negara tetangga, dan dunia. (***)

Rahasia Membangun Kekayaan: Pelajaran dari Tiga Tokoh Besar dalam Sejarah Tiongkok

Kerja keras dapat menopang kehidupan. Namun, kerja keras jarang menghasilkan kekayaan atau harta besar dengan sendirinya. Perbedaan antara sekadar mencari nafkah dan membangun kekayaan terletak pada sesuatu yang lebih sulit diajarkan: kemampuan membaca situasi sebelum orang lain, memahami apa yang sebenarnya diinginkan orang-orang di sekitar kita, serta kesediaan melepaskan apa yang dimiliki demi memperoleh sesuatu yang lebih besar.

Tiga tokoh dalam sejarah Tiongkok menggambarkan prinsip-prinsip tersebut dengan sangat jelas.

Fan Li Membangun Kekayaan dengan Cara Memberikannya kepada Orang Lain

Fan Li adalah seorang ahli strategi dan penasihat Goujian, Raja Negara Yue pada masa Musim Semi dan Gugur di Tiongkok kuno, sekitar abad ke-5 SM. Ketika Goujian dikalahkan oleh Raja Fuchai dari Negara Wu, Fan Li ikut menjadi tawanan. Ia menghabiskan bertahun-tahun sebagai budak, merawat kuda dan tinggal dalam tempat penahanan yang sederhana.

Setelah Goujian memperoleh kembali kebebasannya, Fan Li bekerja secara sistematis untuk membangun kembali kekuatan Yue. Sebagai bagian dari strategi untuk mengalihkan perhatian Fuchai, Fan Li mengatur agar kecantikan terkenal Xi Shi dikirim ke istana Wu. Xi Shi kemudian menjadi selir kesayangan Fuchai dan membuat sang raja lalai terhadap urusan militer.

Ketika Goujian akhirnya berhasil menaklukkan Wu, Fan Li berada di puncak pengaruhnya dan dapat memperoleh imbalan yang sangat besar.

Namun, ia justru memilih mengundurkan diri tanpa mengambil apa pun.

Fan Li memahami prinsip yang lama dikenal para ahli strategi Tiongkok, yaitu: “Ketika kelinci telah habis diburu, anjing pemburu akan dimasak.” Artinya, setelah seorang penguasa mencapai tujuannya, para penasihat yang membantunya sering kali berubah dari aset menjadi ancaman.

Fan Li telah cukup lama mengamati dunia politik untuk mengetahui nasib orang-orang yang terlalu lama bertahan di dekat kekuasaan.

Ia kemudian pindah ke Negara Qi, berdagang berbagai komoditas, mengelola peternakan, dan dengan cepat membangun kekayaan baru. Ketika pemerintah Qi menawarinya jabatan tinggi, ia menerimanya untuk sementara waktu sebelum kembali mengundurkan diri. Setelah itu, ia membagikan kekayaannya kepada orang-orang di sekitarnya dan memulai lagi dari awal.

Mereka yang datang meminta nasihat tentang cara memperoleh kekayaan tidak hanya menerima petunjuk, tetapi juga bantuan keuangan.

Kitab klasik Tiongkok Caigentan, kumpulan aforisme filsafat yang disusun pada akhir Dinasti Ming, menggambarkan sikap ini dengan tepat: seseorang yang murah hati dan berhati hangat tidak hanya mengumpulkan kekayaan materi, tetapi juga memperoleh kedudukan sosial yang langgeng yang membantu melindungi kekayaan tersebut.

Fan Li membuktikan kebenaran itu melalui tiga fase kehidupannya yang berbeda.

Shen Wansan Meraih Keuntungan karena Mampu Melihat Satu Langkah Lebih Jauh

Shen Wansan adalah seorang pedagang pada awal Dinasti Ming abad ke-14. Berasal dari keluarga tuan tanah sederhana, ia berkembang menjadi salah satu orang terkaya dalam sejarah Tiongkok.

Ia memperluas usahanya hingga ke luar negeri pada saat Dinasti Ming juga mulai membuka diri terhadap perdagangan internasional. Ekspedisi maritim besar yang dipimpin Laksamana Zheng He menunjukkan bahwa zaman itu sedang bergerak menuju perdagangan dan eksplorasi luar negeri.

Shen Wansan menempatkan bisnisnya ke arah yang sama.

Namun, kisah yang paling menarik terjadi di pasar teh.

Ketika tiba di sebuah pusat perdagangan untuk membeli teh, Shen Wansan melihat bahwa harga teh telah melonjak jauh di atas nilai sebenarnya akibat demam pembelian.

Ia tidak ikut bersaing.

Sebaliknya, ia membeli dalam jumlah besar keranjang bambu yang digunakan untuk menyimpan dan mengangkut teh—wadah yang nantinya pasti dibutuhkan oleh para pembeli teh.

Ketika para pedagang teh mulai mencari keranjang bambu, Shen Wansan telah menguasai pasokan barang tersebut.

Para pedagang yang menaikkan harga teh mengalami kerugian, sementara Shen Wansan memperoleh keuntungan besar.

Yang membuat strategi ini berhasil adalah kemampuannya memahami apa yang akan dibutuhkan pasar selanjutnya dan bergerak lebih dulu.

Peluang seperti ini biasanya hanya muncul dalam waktu singkat. Pedagang yang membutuhkan satu tahun untuk mengambil kesimpulan yang sebenarnya bisa dicapai dalam satu jam akan kehilangan kesempatan itu sepenuhnya.

Keraguan antara mengenali peluang dan bertindak sering kali menjadi penyebab mengapa banyak orang gagal membangun kekayaan.

Hu Xueyan Naik dan Jatuh karena Pemahamannya tentang Sifat Manusia

Hu Xueyan memulai kariernya sebagai pegawai rendahan di sebuah rumah peminjaman uang pada masa Dinasti Qing abad ke-19.

Kebangkitannya menjadi salah satu saudagar terkaya di Tiongkok serta tokoh keuangan yang didukung pemerintah bertumpu pada satu kemampuan utama: ia memahami dengan sangat baik apa yang diinginkan dan ditakuti manusia.

Langkah penting pertamanya adalah membantu Wang Youling, seorang cendekiawan yang berusaha membeli jabatan pemerintahan.

Pada masa Dinasti Qing, jabatan resmi dapat diperoleh melalui pembayaran kepada birokrasi kekaisaran. Banyak sarjana yang memiliki ambisi besar tetapi kekurangan dana mencari jalan tersebut.

Hu Xueyan memahami ambisi Wang dengan tepat. Ia memberikan bantuan keuangan dan membangun hubungan ketika Wang sedang sangat membutuhkan pertolongan.

Belakangan, Wang Youling naik menjadi pejabat tinggi pengelola monopoli garam di Provinsi Zhejiang.

Akses Hu Xueyan ke bisnis garam—salah satu monopoli paling menguntungkan di Tiongkok kekaisaran—berasal dari hubungan tersebut.

Logika yang sama juga terlihat dalam cara Hu Xueyan meminjam uang.

Ketika membutuhkan modal, ia selalu melunasi utang lebih cepat dari jadwal dan membayar bunga melebihi yang disepakati.

Setelah beberapa kali melakukan hal itu, reputasinya sebagai peminjam yang dapat dipercaya terbentuk bukan melalui dokumen, melainkan melalui tindakan nyata.

Para pemberi pinjaman yang memperoleh keuntungan dari pinjaman kecil menjadi bersedia memberikan pinjaman dalam jumlah yang jauh lebih besar.

Konfusius pernah membedakan antara orang yang mengejar kebenaran dan orang yang mengejar keuntungan. Hu Xueyan membangun kekayaannya dengan melayani kelompok kedua tanpa sepenuhnya diperbudak oleh keinginan tersebut.

Namun pada akhirnya, ia gagal karena alasan yang sama.

Dalam upaya menguasai pasar sutra mentah, ia menimbun stok dalam jumlah sangat besar dengan keyakinan bahwa harga akan terus naik.

Sebaliknya, persaingan dari luar negeri dan perubahan kondisi pasar membuat harga jatuh.

Posisi bisnisnya runtuh.

Keinginan untuk mengendalikan keadaan yang sebelumnya membuatnya sukses dalam transaksi kecil justru menghancurkannya ketika diterapkan dalam skala yang jauh lebih besar.

Waktu, Pengendalian Diri, dan Kesadaran Diri Menentukan Apakah Kekayaan Dapat Bertahan

Fan Li mengundurkan diri ketika berada di puncak pengaruhnya dan berhasil membangun kembali kekayaannya dua kali.

Shen Wansan meninggalkan pasar teh yang terlalu mahal dan memilih membeli keranjang bambu.

Hu Xueyan selama bertahun-tahun membangun kepercayaan dengan murah hati, tetapi akhirnya kehilangan segalanya karena berusaha menguasai pasokan sutra.

Nasib masing-masing mengikuti seberapa baik mereka memahami situasi yang benar-benar mereka hadapi, bukan situasi yang mereka harapkan.

Peribahasa Tiongkok mengatakan: “Keluarga yang menumpuk kebajikan akan memiliki kelimpahan; keluarga yang menumpuk keburukan pada akhirnya tidak akan menyisakan apa pun.”

Ungkapan ini bukan sekadar ajaran moral, melainkan pengamatan mengenai keberlanjutan.

Kekayaan yang dibangun berdasarkan pemahaman yang tepat terhadap manusia dan keadaan cenderung bertahan lama. Sebaliknya, kekayaan yang dibangun melalui utang berlebihan dan keinginan mendominasi sering kali berakhir dengan kehancuran.

Bahkan Shen Wansan sendiri akhirnya kehilangan hartanya ketika Kaisar Hongwu dari Dinasti Ming menyita kekayaannya karena menganggap para pedagang yang terlalu berpengaruh sebagai ancaman.

Artinya, bahkan kemampuan membaca waktu dan peluang dengan tepat tetap memiliki batas ketika kekuasaan politik memutuskan untuk campur tangan.

Oleh Zi Meng, Vision Times

Mengapa Trump Bersedia Menandatangani Perjanjian Perdamaian dengan Iran?

oleh Shi Kejian

Seluruh dunia gembar setelah berita tentang perjanjian perdamaian yang akan segera terjadi antara AS dan Iran dikonfirmasi oleh kedua belah pihak. Banyak orang yang mendukung tapi banyak pula yang menentang dengan berbagai pandangan, antara lain ada yang mengatakan AS telah menang dan yang lain mengatakan Iran yang menang. Lalu bagaimana kita menilainya? 

Beberapa orang yang terdorong oleh sentimen anti-komunis dan anti-kediktatoran, berharap Trump menjatuhkan rezim Iran. Yang lain, yang menilai dari perspektif kemanusiaan, merasa perjanjian perdamaian sama saja dengan membiarkan para diktator membantai rakyatnya sendiri, dan mendukung rezim yang jahat.

Tentu ada pula yang menggemakan retorika Partai Komunis Tiongkok (PKT), mengklaim Iran belum kalah sejak Ali Khamenei terbunuh, dan bahkan jika rezim tersebut runtuh, mereka masih dapat menemukan alasan untuk membuktikan kemenangan Iran…

Baiknya kita menganalisis hal ini dari tiga perspektif:

Perspektif Pertama—Tujuan Perang. Berapa Banyak Tujuan Perang? Berapa yang Tercapai?

Pertama: Tujuan utamanya adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Dalam waktu satu bulan sebelum serangan AS-Israel, Iran sudah akan memproduksi senjata nuklir.

Begitu Iran memiliki senjata nuklir, ia akan menjadi hegemon Timur Tengah, dapat secara sewenang-wenang memaksa semua negara Timur Tengah, dan negara-negara lain pasti akan mengikuti jejak Iran mengembangkan senjata nuklir juga, yang menyebabkan kekacauan global. Oleh karena itu, ini adalah masalah yang sangat mendesak, sehingga kemampuan dan fasilitas nuklirnya harus segera dihancurkan.

Kedua: Oleh karena kelompok garis keras Iran bersikeras untuk mempertahankan pengembangkan senjata nuklir, maka untuk menyelesaikan masalah nuklir Iran demi perdamaian jangka panjang, anggota inti dari kelompok garis keras tersebut perlu dilenyapkan. Kebetulan saja pada saat itu, Iran sedang mengalami gelombang protes dalam negeri, dan rezim mullah baru saja melakukan pembantaian besar-besaran terhadap para demonstran sebulan sebelumnya.

Jadi operasi pemenggalan kepala terhadap Ali Khamenei dan para pejabat tinggi bergaris keras ini dipandang sebagai penegakan keadilan dan penguatan perjuangan bagi rakyat Iran. Maka, bom pertama dijatuhkan kepada Ali Khamenei, yang sedang menghadiri pertemuan inti. Seketika itu 48 orang tokoh militer dan politik berpangkat tinggi Iran meninggal dalam operasi pemenggalan kepala yang dilancarkan AS pada hari pertama. Selanjutnya, operasi pun masih berhasil membunuh banyak pemimpin militer dan politik Iran lainnya.

Banyak posisi penting dalam pemerintahan Iran berulang kali mengalami pergantian personel mungkin karena masalah kualifikasi. Menurut ucapan Trump, orang-orang yang baru dipromosikan tersebut semuanya adalah tokoh-tokoh yang sebelumnya tidak pernah dikenal.

Ketiga: Isu Rezim Iran. Sebelum perang berkobar, Trump tidak pernah mengutarakan keinginan untuk menggulingkan rezim Iran saat membahas soal isu Iran. Trump hanya menuntut agar Iran menghentikan pengembangan senjata nuklirnya dan berhenti mendanai organisasi teroris seperti Hamas, Hizbullah, dan Houthi.

Seiring dengan meningkatnya kobaran protes warga Iran, dan militer Iran menggunakan kekerasan untuk menghadapi rakyatnya sendiri, ditambah lagi pemimpin tertinggi Iran tewas dalam operasi pemenggalan kepala, maka revolusi internal di Iran menjadi sangat mungkin terwujud.

Pada saat itu, meskipun pembahasan isu setelah runtuhnya pemerintahan teokratis memang dibahas secara terbuka, tetapi karena berbagai faksi di Iran berdebat tanpa henti, sehingga tidak ada konsensus yang tercapai.

Tentu saja, menggulingkan rezim saat ini akan mencapai denuklirisasi jangka panjang dan menghentikan pendanaan terhadap organisasi teroris. Namun, jika rezim saat ini tidak dapat digulingkan, maka negosiasi akan mengharuskan mereka untuk menyerahkan uranium yang diperkaya dan berjanji untuk tidak mendanai organisasi teroris.

Oleh karena itu, menggulingkan rezim saat ini hanyalah alternatif untuk mencapai denuklirisasi Iran, bukan tujuan yang mutlak.

Keempat: Jika rezim saat ini tidak dapat digulingkan, setidaknya kemampuan serangan jarak menengah dan jauh Iran harus dihilangkan, sehingga Iran tidak mampu mengancam negara-negara Timur Tengah lainnya.

Kelima: Amerika Serikat tidak ingin terjebak dalam perang berkepanjangan, terutama perang dengan korban jiwa yang signifikan di pihak AS. Jika tidak, fraksi kiri dalam negeri AS bisa memanfaatkan kesempatan untuk menciptakan masalah dan memengaruhi pemilihan paruh waktu.

Dari kelima poin ini, poin 1, 2, dan 5 telah tercapai dengan sempurna, sementara poin 4 sebagian besar telah tercapai. Hingga akhir Maret tahun ini, kekuatan utama angkatan udara dan angkatan laut Iran telah sepenuhnya dilenyapkan, mungkin hanya menyisakan beberapa pesawat tua dan perahu cepat kecil, sehingga mereka tidak mampu menyerang atau mengancam negara-negara Teluk lainnya. Hanya karena dukungan terselubung berkelanjutan dari PKT, Iran kadang-kadang dapat meluncurkan rudal dan drone untuk mempertahankan kehadirannya.

Namun, poin ketiga sama sekali tidak terpenuhi, karena tiga alasan: Pertama, prospek rezim Iran pasca-era mullah jauh dari optimis, yang memungkinkan mereka jatuh ke dalam model Irak, pertikaian antar faksi yang terjadi terus menerus, rakyat tetap hidup dalam kesulitan dan keamanan yang belum kondusif. Kedua, akibat organisasi seperti Garda Revolusi dan milisi Basij mempertahankan kendali yang sangat ketat terhadap penduduk, sehingga penduduk tidak mampu mengorganisir perlawanan yang efektif. AS tidak mengerahkan pasukan daratnya karena dapat mengakibatkan kerugian yang signifikan. Ketiga, pengkhianatan Kurdi telah membuat kecewa Trump.

Baru-baru ini, Trump mengungkapkan bahwa AS telah mempercayakan Kurdi untuk mengirimkan sejumlah senjata kepada rakyat Iran, tetapi Kurdi menyalahgunakan kepercayaan, senjata tidak diberikan kepada rakyat Iran tetapi dikuasainya sendiri. Hal mana telah mengganggu rencana strategis AS.

Pada awal perang, Trump mengusulkan gagasan negara Kurdi, tetapi pandangan sempit Kurdi memaksanya untuk meninggalkan gagasan ini. Jika AS menghabiskan sumber daya yang signifikan untuk menghancurkan rezim mullah, hanya untuk membuat kekuasaan Kurdi besar di kemudian hari, tetapi mungkin saja pada akhirnya tidak dapat bekerja sama dengan AS, maka AS lebih memilih untuk mempertahankan struktur politik saat ini, yang lebih mudah dikelola oleh AS, rakyat Iran, dan negara-negara tetangga lainnya.

Oleh karena itu, mengenai masalah perubahan rezim, Trump menyesuaikan tujuannya berdasarkan realitas situasi. Tujuannya tetap sama: meminimalkan kerugian bagi rakyat Iran, dan bagi Amerika Serikat untuk menghindari pengorbanan yang tidak perlu.

Lalu bagaimana Trump menyesuaikan pendekatannya? Yaitu melalui model Venezuela.

Model Venezuela, atau model menggulingkan rezim yang ada untuk mendirikan pemerintahan baru tidak melalui pemberontakan dan revolusi kekerasan ini dapat dianggap sebagai model temuan Trump. Melalui metode tersebut Trump dapat membiarkan mekanisme operasional dari pemerintah yang ada tetap berjalan, dan Amerika Serikat dapat bertindak sebagai pihak ketiga untuk mengawasi tahapan proses demokratisasi. Seluruh proses tersebut berlangsung tanpa konflik besar atau pertumpahan darah, dan proses demokratisasi pada akhirnya tercapai.

Tentu saja, demokratisasi Venezuela belum sepenuhnya tercapai, tetapi tren saat ini sangat menjanjikan dan optimis. Jika berhasil, ini akan memberikan model bagi negara-negara otoriter lainnya: para diktator atau kelompok kekuasaan tidak harus memilih antara menindas rakyat secara brutal dan dibantai oleh pemberontak. Mereka memiliki jalan ketiga, yaitu menebus kesalahan mereka, mencapai transisi yang mulus, dan mempertahankan kehidupan yang layak dan martabat yang pantas di sisa hidup mereka.

Lebih lanjut, transformasi Venezuela yang sukses telah memberi kepercayaan kepada masyarakat bahwa bahkan di negara-negara totaliter, beberapa pejabat tinggi bersedia bergerak menuju demokratisasi, jika diberi kesempatan dan dukungan yang cukup. Ini adalah bentuk perubahan yang paling tidak mengganggu dan model yang paling ideal.

Sekarang jelas terlihat bahwa Trump sedang mendorong Iran ke arah itu.

Pertama, para pejabat tinggi Iran yang terbunuh dalam awal operasi pemenggalan kepala secara massal adalah mereka yang tergolong sebagai kelompok garis keras dan yang memiliki hutang darah kepada rakyat Iran. Sementara itu, presiden, ketua parlemen, dan menteri luar negeri yang tergolong faksi progresif—tidak masuk dalam target operasi. Ketika kelompok garis keras telah mengalami beberapa kali pergantian personil, sementara faksi progresif sebagian besar masih terdiri dari para veteran yang berkemampuan lebih, maka pergeseran kekuasaan pasti terjadi.

Meskipun kekuasaan militer masih berada di tangan kelompok garis keras, tetapi pengalaman, koneksi, dan prestise mereka belum mampu menyaingi para veteran progresif. Selain itu, pembunuhan yang terjadi cepat dan menelan banyak korban ini membuat gangguan pada proses normal pengembangan bakat, dan menyulitkan para pemimpin baru untuk mendapatkan dukungan rakyat, sehingga berpotensi menimbulkan perpecahan di dalam kelompok garis keras.

Kedua, sebenarnya Trump telah memberikan kesempatan kepada faksi progresif Iran untuk naik ke tampuk kekuasaan dengan inisiatifnya untuk meminta mereka duduk di meja perundingan. Trump berharap kontribusi mereka yang signifikan terhadap perdamaian  akan meningkatkan popularitas domestik dan memberi mereka lebih banyak pengaruh.

Ketiga, terdapat cakupan tentang pelepasan secara bertahap sanksi keuangan terhadap Iran dalam perjanjian tersebut, yang pada dasarnya akan memberikan faksi progresif pengaruh yang lebih besar untuk terus menekan kelompok garis keras. Soal apakah syarat pelepasan sanksi keuangan ini dapat atau tidak dipenuhi, tentu membutuhkan negosiasi tatap muka, yang tidak diragukan lagi akan diwakili oleh faksi prograsif. Jelas negosiasi membutuhkan bukti konkret, yang memungkinkan faksi progresif untuk menekan kelompok garis keras agar mau bekerja sama.

Apakah ada risiko kecurangan? Mungkin saja ada, tetapi dengan faksi progresif yang bertindak sebagai penyangga, kecurangan tidak akan terlalu parah. Yang penting sudah berhasil memperlambat proses pengembangan senjata nuklir Iran. Jelas, AS tidak yakin apakah rezim mullah bersedia mematuhi perjanjian tersebut sepanjang waktu, tetapi asal bisa menunda rezim mullah mengingkari kesepakatan itu sudah dianggap berhasil. Karena waktu lebih penting bagi kubu demokratis. Hal ini akan kita analisis kemudian.

Oleh karena itu, meskipun tidak menggulingkan pemerintahan Iran saat ini, namun tuntutan denuklirisasi dan tidak mendukung terorisme tetap tidak berubah. Jika tujuan-tujuan ini tercapai, isu rezim menjadi tidak penting. Namun, karena kedua poin ini tidak termasuk dalam kesepakatan pendahuluan, sehingga perlu dibahas lebih lanjut dalam negosiasi kesepakatan akhir di waktu mendatang.

Jadi dapat kita katakan bahwa tujuan antara kelompok garis keras Iran dan AS sangat berbeda saat ini. Sementara faksi progresif Iran mencoba menjembatani kesenjangan, menemukan keseimbangan, demi tercapainya perdamaian sementara. Meskipun mereka masih membutuhkan waktu untuk mengamati perkembangan selanjutnya.

Perspektif Kedua—Perubahan dalam Tatanan Global

Ada orang yang menilai tidak membawa manfaat bagi AS tentang perang Iran yang berlangsung selama 4 bulan dan kini sementara berakhir. Mungkin yang dimaksud adalah bahwa rezim Iran sampai saat ini masih eksis. Namun, jika kita membandingkan situasi di Iran, AS, Timur Tengah, dan bahkan dunia 4 bulan lalu, kita akan menemukan perubahan yang cukup signifikan.

Militer AS telah berhasil menunjukkan kemampuan serangan yang mengejutkan, untuk mengembalikan reputasinya sebagai kekuatan yang tak terkalahkan di dunia, serta membangun kembali posisi hegemoni global AS. Sebelumnya, Iran pernah sesumbar dengan penuh percaya diri mampu mengusir AS dari Timur Tengah. Mereka menganggap tentara AS masih orang-orang yang sama yang telah mengalami kekalahan di Afghanistan. Mereka juga yakin bahwa sistem radar baru buatan PKT cukup untuk melawan pesawat tempur F-35, dan rudal anti-kapal berkecepatan tinggi buatan PKT dapat menenggelamkan kapal induk AS…

Namun, ketika para pemimpin tertinggi Iran satu per satu menjadi target operasi pemenggalan kepala, dan ketika angkatan udara AS dan Israel sepenuhnya mengendalikan wilayah udara Iran, ketika kapal-kapal angkatan laut Iran yang dibanggakan ditenggelamkan satu per satu, terutama ketika ratusan rudal yang diluncurkan militer Iran secara bersamaan untuk menyerang kapal induk AS, seluruhnya berhasil ditangkis oleh militer AS… dunia terkejut tetapi Iran putus asa. Kesenjangan generasi persenjataan yang cukup besar, termasuk koordinasi dan respons militer ini selain sulit dikejar oleh militer Iran, tetapi juga tidak tertandingi oleh kekuatan militer lain di dunia.

    2 Segera setelah perjanjian damai diumumkan, Iran langsung menyatakan kemenangan, dan PKT juga mengklaim kemenangan untuk Iran. Tetapi “kemenangan” Iran hari ini bukanlah kemenangan yang diharapkan Iran 4 bulan lalu—standarnya telah berubah. Empat bulan lalu, Iran berharap untuk mencegah pesawat tempur F-35 Amerika Serikat memasuki negaranya, menenggelamkan kapal induk Amerika Serikat di Teluk Persia, dan memaksa AS untuk mundur dari Timur Tengah.

    Bahkan di awal perang, setelah kematian Khamenei, pemerintah Iran bersumpah untuk memaksa AS membayar hutang darahnya… tetapi sekarang, mereka mengaku menang karena rezim masih eksis. Ini sama seperti seorang penjahat yang ingin mendominasi jalanan, menjadi tiran lokal, tetapi malah dipukuli habis-habisan, berdarah-darah, patah tulang, dan giginya berserakan di tanah, tidak mampu berdiri, namun tetap dengan keras kepala mengatakan: “Silakan bunuh saya jika Anda berani! Jika Anda tidak dapat membunuh saya hari ini, maka sayalah pemenangnya!” Tetapi dunia telah menyaksikan kebohongannya: betapapun keras kepalanya, dia hanyalah seorang preman yang tulang punggungnya telah patah.

    Sebelum perang AS-Iran, rezim Iran bagaikan kepala preman Timur Tengah yang memelihara sekelompok kaki tangan untuk menimbulkan masalah di mana-mana. Sebagian besar negara Timur Tengah tidak berani bersuara, kecuali Israel, yang berani mendobrak rintangan dan melawan Hamas dan Hizbullah. Namun, meskipun Israel memiliki teknologi canggih dan militer yang kuat, wilayahnya yang kecil dan jumlah penduduk yang sedikit tidak mampu mempertahankan konfrontasi jangka panjang dengan militer Iran yang lebih besar. Hanya intervensi AS yang dapat mengatasi situasi tersebut. Oleh karena itu, meskipun Israel dapat membela diri, tetapi kekuatannya belum mampu untuk menyaingi Iran, apalagi menjadi kekuatan deterensi di Timur Tengah.

    Sekarang, situasinya sangat berbeda. Selama perang berlangsung, peluncuran rudal Iran yang tanpa pandang bulu telah memaksa negara-negara tetangganya di Timur Tengah memperkuat kerja sama dengan Israel, menjauhi Iran, dan menjadi lebih bergantung pada perlindungan militer AS.

    Sekarang, vitalitas Iran sudah tergerus hebat, untuk membela diri saja sulit, apalagi mendukung sekutu yang dipeliharanya. Oleh karena itu, meskipun perjanjian perdamaian mencakup ketentuan untuk perdamaian Lebanon, Israel telah dengan jelas menyatakan bahwa mereka tidak akan menghentikan tindakan pembalasan terhadap Hizbullah di Lebanon, dan bahwa jika Iran menyerang Israel sebagai akibatnya, Israel akan membalas.

    Dengan kata lain, Israel tidak akan sepenuhnya mematuhi perjanjian perdamaian. Israel masih memiliki kepercayaan diri untuk menghadapi Iran yang sudah lumpuh. Israel saat ini cukup mampu untuk menekan beberapa anak buah nakal Iran yang berada di Timur Tengah. Setelah perang ini, Israel pada dasarnya sudah mampu memposisilkan kekuatannya tidak lagi kalah dengan Iran. Aliansi anti-Iran di Timur Tengah yang didukung oleh AS dan dipimpin oleh Israel, kini lebih besar dan lebih kohesif daripada di waktu lalu. 

    Melihat lanskap global, rezim Iran seharusnya sudah runtuh dalam serangan gabungan AS-Israel jika tidak mendapat dukungan terselubung dari PKT. PKT adalah pendukung keuangan dan pelindung semua rezim jahat di dunia. Selama PKT ada, dunia tidak akan pernah damai. Niat PKT adalah menggunakan Iran mengikat AS, untuk menguras kekuatan militer AS, dan sekaligus menguji senjatanya sebagai persiapan untuk invasi ke Taiwan. Namun, AS telah melihat skema ini.

    Oleh karena itu, AS telah melumpuhkan program nuklir Iran, melemahkan kemampuan ofensifnya, dan menyingkirkan sejumlah besar garis keras yang berpengalaman, kejam, dan licik. Kemudian, AS mengakhiri konflik dengan perjanjian damai. Membiarkan Israel nanti menghadapi Iran yang sudah lumpuh. Dengan demikian AS dapat lebih berfokus untuk menangani isu PKT. Ini adalah keputusan strategis yang sangat rasional.

    Bersamaan dengan itu, perubahan lain dalam lanskap global adalah negara-negara di Amerika Latin semakin mendekat ke pihak AS dalam tingkatan yang berbeda. Kekuatan ofensif militer AS yang menakjubkan dalam serangannya terhadap Iran telah membungkam negara-negara otoriter dan meningkatkan rasa hormat negara-negara demokratis terhadap AS. Kemudian, Trump memanfaatkan kesempatan itu dan mendirikan “Perisai Benua Amerika” (Shield of the Americas) pada 5 Maret 2026, yang menggalang lebih dari sepuluh negara Amerika Latin untuk berpartisipasi melalui komitmen bersama dalam memerangi organisasi kriminal transnasional. Ini tidak hanya memperkuat keamanan regional AS, mengukuhkan posisi dominan AS di Benua Amerika, tetapi juga mengisolasi beberapa negara yang sangat terinfiltrasi oleh komunisme, sekaligus meningkatkan tekanan kepada mereka agar lebih jeli dalam memilih pihak.

    Perspektif Ketiga—Siapa yang Paling Diuntungkan dari Perdamaian Sementara?

    PKT yang paling merasa sakit dengan ditandatanganinya perjanjian perdamaian AS-Iran. Karena itu merupakan tanda kegagalan PKT dalam mengikat militer AS di Timur Tengah untuk dikuras kekuatannya. Oleh karena itu, media dan media sosial yang dikendalikan PKT gencar mempromosikan narasi bahwa Iran menang dan AS kalah—satu-satunya kebohongan yang dapat mereka lontarkan saat ini. Namun, ada juga individu yang anti-komunis tetapi belum benar-benar memahami situasi melempar kritikan yang berbunyi: Trump telah tertipu karena janji-janji Iran sama sekali tidak dapat diandalkan. Itu sama saja dengan memberi rezim Iran ruang bernapas, yang kemudian akan bangkit kembali untuk terus menimbulkan kekacauan di Timur Tengah dan mengembangkan senjata nuklir.

    Tetapi apakah hanya Iran satu-satunya negara yang menggunakan kesempatan ini untuk berbenah dan mengisi kembali sumber dayanya? Bukankah AS juga dapat melakukan hal yang sama? Begitu pula ekonomi global juga bisa mengambil keuntungan ini?

    Setelah perjanjian perdamaian ditandatangani, situasi dapat berkembang menuju 2 arah. Salah satu kemungkinannya adalah faksi progresif di Iran mendapatkan kendali dalam perebutan kekuasaan internalnya, dan benar-benar menerapkan perjanjian tersebut. Kemungkinan lainnya adalah bahwa kelompok garis keras Iran yang mendominasi dan terus mengembangkan kemampuan militer mereka—kemungkinan ini tidak kecil.

    Meskipun demikian, ini hanyalah kontes siapa yang memiliki kapasitas produksi yang lebih besar dan dapat mengumpulkan kekuatan lebih cepat. Jelas, mesin perang AS baru saja mulai bergerak. Pada Maret dan Juni tahun ini, Trump 2 kali bertemu dengan kontraktor pertahanan, menuntut mereka untuk menggandakan produksi persenjataan canggih. Pada April, Trump bertemu dengan para produsen mobil seperti GM dan Ford, meminta mereka berpartisipasi dalam produksi senjata dan kendaraan militer.

    Pada 9 April, Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mempercepat produksi senjata dan memperluas basis industri pertahanan. Meskipun proses transformasi dan percepatan ini membutuhkan waktu. Tetapi setelah transformasi selesai, pertumbuhan kekuatan militer AS akan sangat dahsyat. Sama seperti pada tahap awal Perang Pasifik tahun 1941, di mana produksi tahunan kapal perang AS sedikit lebih rendah daripada Jepang, tetapi setahun kemudian, produksi tersebut menyamai dan melampaui Jepang. Pada tahun 1944, total produksi kapal perang AS sepuluh kali lipat dari Jepang, jauh melampaui Jepang. Oleh karena itu, bagi AS waktu yang lebih berharga.

    Selain itu, periode implementasi perjanjian ini juga merupakan periode pengamatan strategis. Setelah operasi pemenggalan kepala secara massal pada awal Maret tahun ini, tindakan para pejabat yang baru dipromosikan masih belum jelas. Jika mereka hanya tidak kompeten, mempertahankan mereka akan lebih bermanfaat. Jika mereka adalah penjahat yang kejam dan licik, operasi pemenggalan kepala masih dapat dilanjutkan.

    Pada akhirnya, negara-negara di seluruh dunia juga yang akan menikmati manfaat dari perjanjian perdamaian ini. Mereka akan memiliki kesempatan untuk mengisi kembali cadangan minyak mereka dan memilih rantai pasokan alternatif, seperti dari Venezuela dan Alaska, sebelum Iran mengingkari perjanjian. Selain itu, negara-negara penghasil minyak di Teluk juga dapat membangun dan memperluas jalur pipa minyak yang melewati Selat Hormuz, yang pada dasarnya membebaskan mereka dari gangguan Iran terhadap kapal tanker minyak dan manipulasi ekonomi global.

    Oleh karena itu, dari perspektif ini, penerima manfaat terbesar dari perjanjian damai bukanlah Iran, melainkan Amerika Serikat dan kubu demokrasi global.

    Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa ini adalah perang yang tidak dapat dihindari, yang diakibatkan oleh desakan ancaman senjata nuklir. Setelah AS mencapai sebagian besar tujuan strategisnya, militer Amerika Serikat menggunakan blokade Selat Hormuz dan serangan udara untuk memaksa rezim Iran menandatangani perjanjian damai, mengakhiri perang dan meletakkan dasar bagi perubahan Iran di masa mendatang. Setelah itu AS baru dapat lebih fokus untuk menangani isu PKT, sebuah rezim pendukung utama kejahatan global. Ini adalah pilihan terbaik saat ini. (***)