Donald Trump Pidato Nasional, Peringatkan Keras Iran: Langkah Berikutnya Adalah Penghancuran Total

EtIndonesia. Pada Rabu (1/4/2026) malam, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidato nasional melalui televisi dan kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Iran. Ia menyatakan bahwa jika negosiasi gagal, militer AS akan melancarkan serangan yang menghancurkan terhadap seluruh fasilitas pembangkit listrik dan energi Iran. Ia juga menegaskan bahwa tidak diserangnya fasilitas minyak Iran saat ini adalah pertimbangan strategis, bukan karena keterbatasan kemampuan.

Trump juga menyatakan bahwa sistem militer Iran telah mengalami kerusakan berat, dan fasilitas nuklirnya berada di bawah pengawasan ketat. Ia menambahkan bahwa operasi militer AS diperkirakan akan selesai dalam waktu 2 hingga 3 minggu, dan sebelum itu serangan intensif akan terus dilakukan.

 “Jika (dengan Iran) tidak tercapai kesepakatan, kami akan melakukan serangan besar-besaran terhadap semua pembangkit listrik mereka, dan kemungkinan besar dilakukan secara bersamaan!” kata Trump. 

Ia juga menyebut:  “Kami tidak menyerang fasilitas minyak mereka, meskipun itu adalah target paling mudah, karena hal itu akan membuat mereka tidak memiliki peluang untuk bertahan atau membangun kembali. Sebenarnya, kami sepenuhnya mampu menghancurkan fasilitas minyak mereka hingga lenyap. Mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa.”

Trump menegaskan kembali bahwa angkatan laut, angkatan udara, sistem radar, serta sistem peluncuran rudal Iran telah dihancurkan. Militer AS juga disebut telah menghantam fasilitas nuklir Iran dan memantau aktivitas nuklirnya secara ketat melalui satelit.

Terkait kenaikan harga minyak global baru-baru ini, Trump mengatakan hal itu menunjukkan bahwa Iran tidak dapat dipercaya. Ia menyebut bahwa setelah perang berakhir, harga minyak akan segera turun dan Selat Hormuz akan kembali dibuka untuk pelayaran.

 “Negara-negara yang membutuhkan minyak Timur Tengah, pergilah ke Selat Hormuz, kuasai dan lindungi jalur itu untuk kepentingan kalian. Iran pada dasarnya sudah hancur. Bagian tersulit sudah selesai, jadi menjaga jalur pelayaran ke depan seharusnya mudah. Bagaimanapun, ketika konflik ini berakhir, selat itu akan terbuka kembali secara alami. Mereka (Iran) ingin menjual minyak, karena itu satu-satunya cara mereka untuk membangun kembali,” ujarnya. 

Pada Kamis, Trump merilis video yang menunjukkan militer AS menghancurkan jembatan terbesar di Iran. Ia memperingatkan bahwa otoritas di Teheran harus segera mencapai kesepakatan, jika tidak maka Iran bisa menghadapi kehancuran total.

Media Iran yang dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps juga melaporkan serangan AS dan Israel terhadap jembatan terpanjang di Asia Barat, yaitu Jembatan B1 di Teheran. (Hui)

Dilaporkan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Ren Hao, dari Washington DC.

Nenek 89 Tahun di Beijing Memanjat dari Lantai 27 ke Lantai 21 Lewat Jendela, Rekamannya Mengejutkan

EtIndonesia. Pada 1 April, seorang lansia berusia 89 tahun yang tinggal sendiri di Beijing secara tidak sengaja terkunci di dalam kamar tidurnya. Ia kemudian nekat keluar melalui jendela dan memanjat turun dari lantai 27 ke lantai 21. Karena kehabisan tenaga, ia akhirnya terjebak, namun beruntung berhasil diselamatkan dengan selamat. Video kejadian ini membuat siapa pun yang melihatnya merasa ngeri.

Menurut rekaman video yang diambil warga, nenek tersebut terlihat merayap turun dari sebuah gedung tinggi, bahkan sesekali menoleh ke bawah. Terdengar orang-orang berkata, “Sudah lapor polisi belum? Ya Tuhan.” “Ini tinggi sekali.” “Saya takut, saya tidak berani merekam lagi.”

Media daratan Tiongkok melaporkan, pada pukul 13:42 tanggal 1 April, di sebuah kompleks perumahan di Distrik Shijingshan, Beijing, seorang petugas kebersihan bermarga Mu dan kepala keamanan bermarga Li melihat seorang nenek berambut putih berada di pagar pelindung unit AC di lantai 26.

“Nenek, jangan bergerak! Jangan bergerak sama sekali!” teriak mereka dengan cemas dari bawah, sambil segera melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwenang.

Pada hari itu, lansia yang tinggal sendiri tersebut secara tidak sengaja mengunci dirinya di kamar tidur dan tidak bisa membuka pintu. Ponselnya tertinggal di ruang tamu, sehingga ia tidak dapat menghubungi siapa pun. Dalam keadaan panik dan putus asa, ia mencoba keluar dari jendela lantai 27 dan bergerak turun melalui platform luar unit AC, bahkan berniat turun hingga ke lantai bawah.

Karena kelelahan, ia terjebak di luar pagar unit AC di lantai 21, lebih dari 50 meter di atas tanah, tidak bisa naik ataupun turun—situasi yang sangat menegangkan. Beruntung, ia akhirnya berhasil diselamatkan dengan selamat dan hanya mengalami syok tanpa cedera fisik. Keluarganya yang tiba di lokasi merasa sangat ketakutan setelah kejadian tersebut.

Warganet di Tiongkok pun ramai berkomentar:
“Ini sangat berbahaya.”
“Ya Tuhan, melihatnya saja membuat kaki lemas.”
“Menakutkan sekali, nenek ini luar biasa kuat…”
“Saya yang umur 40 saja tidak berani melakukan ini.”
“Benar-benar beruntung masih selamat!”

Ada juga yang mengingatkan, “Melihatnya saja sudah menakutkan, kita harus lebih memperhatikan lansia di rumah.”
“Ini mengkhawatirkan sekaligus membuat trauma. Nenek 89 tahun yang tinggal sendiri terjebak hingga terpaksa melakukan tindakan ekstrem untuk menyelamatkan diri. Ini menunjukkan masalah keamanan dan kondisi darurat bagi lansia yang hidup sendiri. Bagi yang memiliki orang tua lanjut usia di rumah, pastikan ada persiapan darurat dan kontak penting, serta hindari risiko berbahaya di ketinggian.”

Sumber : NTDTV.com

Donald Trump Membagikan Video Jembatan Terbesar Iran Dihancurkan: “Akan Ada Lebih Banyak Lagi”

EtIndonesia. Serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran terus berlanjut. Pada 1 April, jembatan B1 di Iran yang sedang dibangun—disebut sebagai jembatan tertinggi di Timur Tengah—dihancurkan. Presiden Donald Trump membagikan video terkait di media sosial dan mendesak Iran untuk segera mencapai kesepakatan, jika tidak maka akan terlambat.

“Jembatan terbesar Iran runtuh dan tidak akan pernah bisa digunakan lagi—akan ada lebih banyak lagi yang menyusul!” tulis Trump dalam unggahannya. Ia juga menambahkan, “Sudah waktunya Iran mencapai kesepakatan. Jika tidak, semuanya akan terlambat, dan negara itu bisa lenyap, padahal seharusnya bisa menjadi negara besar!”

Pada Kamis (2 April) sebelumnya, media Iran melaporkan bahwa serangan udara AS dan Israel mengenai sejumlah target, termasuk jembatan B1 setinggi 136 meter yang menghubungkan Teheran dengan kota Karaj—sebuah infrastruktur kunci dalam jaringan transportasi.

Rekaman menunjukkan bahwa setelah terkena rudal, sebagian jembatan B1 runtuh, dengan kerusakan besar pada strukturnya dan lalu lintas terputus sepenuhnya.

Video yang direkam warga setempat memperlihatkan ledakan disertai suara dentuman keras yang mengguncang.

Diketahui, jembatan ini merupakan proyek unggulan teknik di Iran dan dianggap sebagai salah satu proyek paling kompleks di dunia. Jembatan ini merupakan bagian inti dari koridor transportasi Teheran–Karaj dan semula direncanakan segera mulai beroperasi.

Selain itu, pihak Iran juga melaporkan bahwa sebuah institusi medis berusia lebih dari 100 tahun di Teheran—Pasteur Institute of Iran—juga mengalami kerusakan dalam serangkaian serangan, dengan salah satu bangunan di kompleks tersebut rusak parah. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Dunia Berbalik Arah: Rusia Tiba-tiba Dukung AS, Iran Digempur Hingga “Zaman Batu”

EtIndonesia. Konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus memanas dan memasuki fase yang semakin menentukan. Hingga Jumat, 3 April 2026, operasi militer besar-besaran yang disebut sebagai strategi “menghancurkan hingga zaman batu” oleh Presiden AS, Donald Trump masih berlangsung dengan intensitas tinggi di berbagai wilayah Iran.

Serangan Presisi Hantam Pusat Komando Iran

Dalam perkembangan terbaru, Angkatan Udara Amerika Serikat melancarkan serangan presisi menggunakan bom penetrasi terhadap fasilitas bawah tanah milik Garda Revolusi Iran di Karaj, sebuah kota strategis di dekat Teheran.

Target utama serangan tersebut adalah pusat komando dan kendali yang berada jauh di bawah permukaan tanah. Serangan ini dilaporkan berhasil menewaskan sejumlah pejabat tinggi militer Iran, meskipun jumlah pasti korban belum diungkapkan secara resmi.

Tak hanya itu, program nuklir Iran juga kembali mengalami pukulan telak. Dalam serangan terpisah di lokasi yang sama, seorang ilmuwan senior yang dikenal sebagai Dr. Ali, yang disebut-sebut sebagai salah satu tokoh kunci dalam pengembangan senjata nuklir rahasia Iran, dilaporkan tewas.

Iran Serukan Mobilisasi Besar, Rakyat Dipertanyakan

Di tengah tekanan militer yang meningkat, Ketua Parlemen Iran menyatakan bahwa sekitar 7 juta warga Iran siap bergabung dalam perang melawan Amerika Serikat dan Israel.

Namun pernyataan ini justru memicu kritik tajam dari masyarakat. Sejumlah warganet menilai pemerintah Iran menjadikan rakyat sebagai “tameng hidup” dan “umpan meriam”, mencerminkan meningkatnya ketegangan internal di dalam negeri.

Militer AS Perkuat Kehadiran di Kawasan

Sementara itu, Amerika Serikat terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah. Sebuah kapal selam nuklir kelas Ohio dilaporkan telah terdeteksi di Laut Mediterania. Kapal ini diketahui mampu membawa pasukan elite Navy SEAL untuk operasi khusus.

Di saat yang sama, kapal induk USS George H.W. Bush telah diberangkatkan, disertai dengan kesiapan pasukan Marinir AS untuk dikerahkan dalam operasi lanjutan.

Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa konflik ini akan segera mencapai titik akhir, dan seluruh operasi yang dilakukan merupakan bagian dari strategi besar untuk melumpuhkan Iran secara total.

Rusia Berbalik Arah, Siap Bantu AS

Perkembangan paling mengejutkan dalam konflik ini datang dari Rusia. Negara yang sebelumnya diduga memberikan dukungan diam-diam kepada Iran, kini justru menunjukkan perubahan sikap drastis.

Perubahan ini diduga dipicu oleh serangan drone Iran terhadap kilang minyak Novoshakhtinsk di wilayah Bashkortostan, Rusia. Kilang tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar 7,1 juta ton minyak per tahun dan menjadi salah satu aset energi penting Rusia.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa Rusia siap berkontribusi dalam penyelesaian konflik Iran. Presiden Rusia, Vladimir Putin, juga dilaporkan terus menjalin komunikasi dengan para pemimpin regional guna mencari jalan keluar.

Peskov menegaskan bahwa Rusia bersedia membantu dalam berbagai bentuk untuk mendorong situasi menuju perdamaian secepat mungkin.

Langkah ini dinilai sebagai perubahan geopolitik yang sangat signifikan, bahkan berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan global.

NATO Dikritik, Dinilai Pasif

Di tengah dinamika tersebut, aliansi militer NATO justru mendapat sorotan tajam. Dengan 32 negara anggota dan anggaran militer besar, NATO dinilai belum menunjukkan tindakan nyata dalam konflik Iran.

Presiden Trump bahkan secara terbuka menyebut NATO sebagai “macan kertas”, serta mempertanyakan relevansi keanggotaan Amerika Serikat di dalamnya.

Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, dijadwalkan melakukan kunjungan ke Amerika Serikat pada pekan depan, di tengah meningkatnya tekanan dan ancaman keluarnya AS dari aliansi tersebut.

Krisis Selat Hormuz dan Perebutan Kendali Energi Dunia

Di sisi lain, konflik ini turut mengguncang stabilitas Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi energi global.

Setelah Presiden Trump menegaskan bahwa keamanan jalur tersebut bukan lagi tanggung jawab Amerika Serikat, Inggris memimpin upaya kerja sama multinasional untuk memulihkan jalur pelayaran pasca konflik.

Menariknya, Amerika Serikat tidak menghadiri pertemuan tersebut.

Kepala Staf Angkatan Laut Prancis juga menyerukan agar Tiongkok turut berperan aktif dalam menjaga stabilitas jalur tersebut, sekaligus mempertanyakan dugaan adanya jalur khusus bagi kapal-kapal Tiongkok.

Sementara itu, pihak Iran menyatakan kesiapan untuk membuka akses pelayaran di Selat Hormuz kepada negara-negara Eropa, Asia, dan Arab—namun melalui skema perjanjian tertentu, bukan secara gratis.

Perubahan Tatanan Dunia Mulai Terlihat

Para pengamat menilai bahwa konflik Iran kali ini tidak hanya sekadar perang regional, melainkan telah berkembang menjadi titik balik dalam tatanan geopolitik global.

Ironisnya, NATO yang didirikan pada tahun 1949 untuk menghadapi ancaman Uni Soviet kini terlihat pasif, sementara Rusia justru tampil sebagai pihak yang menawarkan bantuan kepada Amerika Serikat.

Perubahan arah ini mencerminkan pergeseran kekuatan global yang semakin kompleks dan tidak lagi mengikuti pola aliansi tradisional.

Dengan situasi yang terus berkembang cepat, dunia kini berada di ambang perubahan besar yang dapat menentukan arah politik dan keamanan internasional dalam beberapa dekade ke depan.

Ledakan 8 Jam Tanpa Henti! ‘Kota Rudal’ Iran Hancur, Perang Masuk Babak Akhir?”

EtIndonesia. Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase paling menentukan. Memasuki minggu kelima sejak eskalasi besar dimulai pada awal Maret 2026, militer AS mengklaim telah mencapai keunggulan yang signifikan di berbagai lini tempur.

Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Jenderal Cooper, dalam laporan resmi yang dirilis pada 2 April 2026, menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran kini menunjukkan hasil yang “tidak terbantahkan”.

Menurut Cooper, kekuatan militer Iran telah mengalami kemunduran drastis:

  • Angkatan laut Iran tidak lagi terlihat beroperasi di laut
  • Tidak ada aktivitas pesawat tempur yang mampu lepas landas
  • Sistem pertahanan udara dan rudal disebut telah lumpuh hampir sepenuhnya

“Dalam kondisi ini, kemampuan pertahanan Iran praktis telah runtuh,” ungkap Cooper dalam pernyataannya.

Serangan Besar di Isfahan: “Kota Rudal” Hancur

Sehari sebelumnya, pada 1 April 2026, Presiden AS, Donald Trump dalam pidato nasionalnya mengeluarkan pernyataan keras bahwa Amerika Serikat siap “mengembalikan Iran ke zaman batu”.

Pernyataan tersebut tampaknya tercermin dalam serangan besar yang terjadi di Kota Isfahan, salah satu pusat militer strategis Iran.

Berdasarkan citra satelit dan laporan lapangan:

  • Pasukan gabungan AS–Israel menggunakan bom penetrasi bunker untuk menghantam fasilitas bawah tanah
  • Target utama adalah gudang senjata milik Garda Revolusi Iran (IRGC) yang dibangun selama puluhan tahun
  • Fasilitas tersebut dikenal sebagai “kota rudal” karena menyimpan persenjataan dalam jumlah besar

Serangan ini memicu ledakan berantai selama hingga 8 jam, dengan rudal-rudal yang tersimpan di dalam terowongan ikut meledak. Asap dan api bahkan terlihat keluar dari berbagai ventilasi di permukaan tanah, menciptakan pemandangan dramatis di wilayah tersebut.

Lebih jauh, fasilitas ini diketahui berada dekat kawasan permukiman padat di selatan Isfahan. Di wilayah pegunungan sekitar, juga ditemukan kompleks penyimpanan rudal lain yang lebih besar dan lebih dalam.

Gelombang Serangan Lanjutan: 70 Jet Tempur Dikerahkan

Hanya tiga jam setelah pidato Trump, pada malam 1 April 2026, pasukan AS–Israel meluncurkan gelombang serangan lanjutan:

  • Sekitar 70 pesawat tempur dikerahkan
  • Target difokuskan pada wilayah pegunungan selatan Isfahan

Rekaman yang beredar menunjukkan ledakan besar yang bahkan memuntahkan material hingga ke lereng gunung di sekitarnya.

Kemampuan Serangan Iran Menurun Tajam

Dampak dari serangan intensif ini terlihat jelas pada kemampuan balasan Iran.

Pada awal konflik, Iran mampu meluncurkan ratusan rudal balistik per hari. Namun pada 2 April 2026, laporan menunjukkan:

  • Hanya 3 rudal yang berhasil diluncurkan sepanjang hari

Penurunan drastis ini dinilai sebagai indikasi melemahnya kapasitas militer Iran secara signifikan.

Target Bergeser: Infrastruktur Sipil Mulai Diserang

Dalam perkembangan terbaru pada 3 April 2026, Trump kembali menyampaikan pernyataan melalui unggahan video bahwa sebuah jembatan besar di Iran telah hancur dan tidak dapat digunakan lagi.

Target serangan kini tampaknya meluas:

  • Dari fasilitas militer strategis
  • Menjadi infrastruktur penting yang menopang operasional negara

Salah satu yang disorot adalah penghancuran jembatan utama di barat Teheran yang menghubungkan ke Kota Karaj, dikenal sebagai Jembatan B1, salah satu struktur tertinggi di kawasan tersebut.

Elit Garda Revolusi Bertumbangan

Dalam 48 jam terakhir (1–3 April 2026), sejumlah petinggi militer Iran dilaporkan tewas, termasuk:

  • Komandan pasukan darat IRGC, Alizadeh
  • Komandan pasukan rudal, Sadeghi
  • Kepala insinyur proyek rudal balistik
  • Kepala intelijen
  • Penasihat senior Dewan Keamanan Nasional

Serangkaian serangan presisi ini memperlihatkan dugaan kuat bahwa jaringan intelijen Israel telah menembus struktur internal Iran secara mendalam.

Infiltrasi Intelijen dan Serangan Presisi di Teheran

Salah satu operasi paling mencolok terjadi di Teheran, ketika sebuah gedung yang tampak seperti bank ternyata merupakan pusat operasi rahasia IRGC.

Intelijen Israel mengungkap lokasi tersebut melalui pelacakan aktivitas teknisi industri kimia. Serangan presisi kemudian menghantam gedung tersebut.

Ledakan juga berdampak pada bangunan di sekitarnya, termasuk rumah mantan Menteri Luar Negeri Iran, yang dilaporkan mengalami luka berat, sementara anggota keluarganya tewas.

Pejabat Iran Mulai Melarikan Diri

Situasi yang semakin tidak terkendali membuat sejumlah elit Iran dilaporkan melarikan diri ke wilayah timur, khususnya Kota Mashhad.

Namun, wilayah tersebut kini juga mulai menjadi target serangan udara, menandakan tidak ada lagi zona aman bagi struktur pemerintahan Iran.

Keunggulan Teknologi dan Operasi Israel

Seorang pilot senior AS dengan pengalaman lebih dari 25 tahun menyebut operasi Israel di Iran sebagai sesuatu yang “luar biasa”.

Dalam satu malam saja:

  • 200 sortie penerbangan dilakukan
  • 500 target diserang
  • Jangkauan operasi mencapai 1.500 km
  • Tanpa korban maupun kecelakaan

Keberhasilan ini menunjukkan dominasi dalam:

  • Logistik militer
  • Teknologi perang elektronik

Dukungan Rakyat Mulai Terbelah

Fenomena yang mencolok juga muncul di dalam negeri Iran. Beberapa video di media sosial menunjukkan adanya warga yang diduga membantu memberikan informasi target kepada pasukan AS–Israel.

Analis menilai, jika sebuah rezim mulai kehilangan dukungan rakyatnya, maka stabilitas internal akan semakin sulit dipertahankan.

Perang Darat Masih Jadi Tanda Tanya

Meski serangan udara terus meningkat, pertanyaan besar yang muncul adalah: apakah Amerika Serikat akan melancarkan perang darat?

Para analis menyebut:

  • Penguasaan wilayah strategis seperti Selat Hormuz relatif lebih mudah
  • Namun wilayah pegunungan Iran menjadi tantangan utama

Iran disebut telah menyiapkan pertahanan berlapis, termasuk:

  • Gangguan elektronik
  • Sistem anti-tank
  • Jaringan terowongan kompleks

Strategi ini bertujuan menarik musuh ke dalam perang kota dan pegunungan yang berisiko tinggi.

Namun Trump menegaskan bahwa AS tidak akan terjebak dalam konflik darat berkepanjangan.

Senjata Masa Depan Mulai Digunakan?

Laporan juga menyebut kemungkinan penggunaan senjata energi terarah, yang mampu:

  • Melumpuhkan radar
  • Memutus komunikasi
  • Menghancurkan sistem komando tanpa ledakan

Teknologi ini dinilai dapat mengubah cara perang modern secara fundamental.

30 Hari Penentu Arah Dunia

Dengan intensitas konflik yang terus meningkat, para analis menilai bahwa 30 hari ke depan (April 2026) akan menjadi periode krusial.

Jika tren saat ini berlanjut, konflik ini tidak hanya akan menentukan masa depan Iran, tetapi juga berpotensi mengubah keseimbangan geopolitik global secara permanen.

Insiden Bulldozer Menabrak Warga di Beijing, Banyak Korban Jiwa dan Terluka – Saksi Ungkap Fakta di Balik Kejadian 

EtIndonesia. Baru-baru ini terjadi insiden sebuah bulldozer dengan sengaja menabrak orang-orang di pasar Dahanzhi, Beijing, yang menyebabkan banyak korban tewas dan luka. Saksi mata mengungkapkan bahwa pelaku datang ke Beijing untuk mengajukan petisi terkait kasus ketidakadilan yang dialaminya, namun tidak mendapat penyelesaian, sehingga melampiaskan kemarahan kepada masyarakat. Setelah kejadian, informasi terkait disebut-sebut diblokir oleh pihak berwenang.

Video yang beredar di internet menunjukkan bahwa pada 29 Maret siang, pasar Dahanzhi di Distrik Fangshan, Beijing, sedang ramai. Tiba-tiba seorang pria mengendarai bulldozer menerobos masuk ke pasar, menabrak banyak lapak dan warga, menyebabkan teriakan panik di mana-mana.

Saksi: Hari Paling Mengerikan, Dua Hari Tidak Bisa Tidur

Seorang pedagang makanan (nama samaran Wang Yi) yang telah berjualan di pasar tersebut lebih dari satu tahun mengatakan bahwa 29 Maret adalah hari paling mengerikan dalam hidupnya.

Ia menyebut pelaku berasal dari Liaoning, menyewa bulldozer setelah tiba di Beijing, dan aksinya diduga sudah direncanakan dengan memilih waktu makan siang saat pasar paling ramai.

“Sekitar pukul 11.30 siang, saat orang paling banyak, dia langsung menabrak. Menabrak sepanjang hampir satu li (sekitar 500 meter), lalu berbalik dan menabrak lagi. Setelah menabrak tiang listrik, kendaraan tersangkut dan bannya kempes. Beberapa pedagang lalu menariknya turun dan memukulinya.”

Wang Yi bersyukur posisinya tidak dekat dengan bulldozer. Setelah kejadian, ia segera menutup lapaknya dan pergi. Saat meninggalkan lokasi, ia melihat banyak orang tergeletak di tanah, sebagian meninggal di tempat, dengan jumlah korban mencapai puluhan.

“Saya lihat orang-orang sudah jatuh saat ditabrak, saya langsung beres-beres dan pergi. Mungkin yang meninggal saja ada puluhan,” katanya.

“Ambulans datang banyak sekali, tapi tidak cukup untuk membawa semua korban. Sangat mengerikan. Bulldozer itu menghancurkan apa saja, bahkan sepeda listrik hancur. Puluhan lapak rusak, saya lihat ada orang meninggal di beberapa tempat, saya hanya melihat sekilas lalu pergi.”

Setelah pulang, ia menerima video dari orang lain.

 “Setelah itu mereka kirim video lagi, ya Tuhan, saya sampai mual dan dua hari tidak bisa tidur, sering mimpi buruk. Bulldozer itu melaju sangat cepat, sangat menakutkan. Banyak korban mengalami luka parah, anggota tubuh hancur, bahkan kepala hancur.”

Pelaku Diduga Gagal Mencari Keadilan, Lalu Balas Dendam ke Masyarakat

Wang Yi mengungkapkan bahwa pelaku datang dari Liaoning ke Beijing untuk mengajukan banding hukum dan mencari keadilan. Di bulldozer ditemukan banyak dokumen petisi.

“Dia datang ke Beijing untuk menggugat dan mencari keadilan, tapi tidak ada yang menanggapi, lalu dia melampiaskan ke masyarakat. Sepertinya dia sudah putus asa dan tidak ingin hidup lagi.”

Ia menambahkan, “Kasus ini bukan kasus kecil, sangat besar. Bayangkan tekanan sebesar apa sampai seseorang melakukan hal seperti ini. Ini bukan sesuatu yang bisa dilakukan orang biasa.”

Akibat kejadian ini, pihak berwenang menutup semua pasar di sekitar lokasi. Pedagang lain mengatakan bahwa setelah insiden sebesar ini, pasar pasti ditutup, dan belum jelas kapan bisa dibuka kembali.

Hingga kini, informasi masih dikendalikan ketat. Beredar kabar bahwa 13 orang tewas, namun angka ini belum dikonfirmasi secara resmi.

Seorang Ibu Muda Mengalami Patah Kaki

Seorang ibu dari anak perempuan berusia tujuh tahun membagikan pengalaman mengerikannya di media sosial. Ia mengalami patah kaki hingga tulang terlihat, sementara anaknya mengalami banyak luka lecet. Ia mengatakan melihat banyak orang meninggal, dan bersyukur dirinya masih hidup.

Ia menulis:  “Saya terseret, saya memeluk anak saya erat-erat, kami terseret beberapa meter. Lalu kendaraan mundur dan melindas kaki saya, kemudian terus menabrak ke depan. Saya sangat bersyukur masih hidup.”

Pasar Dahanzhi merupakan pasar tradisional pedesaan yang cukup besar dan telah lama ada di wilayah Fangshan, Beijing.

Analisis: Akar Masalah dan Fenomena Balas Dendam Sosial

Belakangan ini di Tiongkok sering terjadi kasus kekerasan yang disebut sebagai “balas dendam terhadap masyarakat”.

Pada malam 22 Maret, di Chongqing terjadi mobil menabrak kerumunan di depan sebuah gedung, dengan jumlah korban belum jelas. Saksi menyebut ada 2–3 korban tewas, dan diduga pengemudi dalam keadaan mabuk, namun tidak menutup kemungkinan motif balas dendam sosial.

Pada 26 Maret pagi di Shenzhen, seorang wanita dengan pisau menyerang orang secara acak di persimpangan jalan. Saksi mengatakan pelaku diduga tidak puas terhadap pemerintah dan melakukan aksi balas dendam.

Seorang analis berpendapat bahwa fenomena ini berkaitan dengan akar masalah sistemik.

Komentator politik Yue Shan menyatakan bahwa seperti yang disadari banyak netizen, jika ingin menuntut keadilan seharusnya kepada pihak yang bertanggung jawab, bukan melukai warga tak bersalah. Ia juga mengatakan bahwa kondisi di mana orang tidak berani menuntut pihak berkuasa tetapi justru melukai sesama warga merupakan hasil dari pengaruh sistem yang ada selama bertahun-tahun.

Dimuat ulang dari The Epoch Times / Editor: Tang Ying

Setelah Mengisyaratkan Gencatan Senjata, Iran Kembali Melancarkan Serangan Rudal Besar-besaran

Setelah Iran mengisyaratkan “bersedia mempertimbangkan gencatan senjata”, negara tersebut tetap melanjutkan serangan rudal ke negara-negara Teluk, yang membingungkan banyak pihak. Sejumlah pengamat militer dan Timur Tengah menyebut bahwa sistem pengambilan keputusan di Iran tidak terpusat, melainkan terbagi antara pemerintah, pemimpin agama, dan Korps Garda Revolusi Iran. Hal ini mencerminkan perpecahan internal yang serius dan membuat situasi semakin kompleks.

EtIndonesia. Presiden AS Donald Trump pada Rabu (1 April) menyatakan bahwa presiden Iran telah mengajukan permintaan gencatan senjata. Ia juga mengatakan bahwa selama Iran membuka kembali Selat Hormuz, Amerika Serikat bersikap terbuka terhadap gencatan senjata.

Namun pada waktu yang sama, Rabu sore waktu setempat, Iran melancarkan beberapa gelombang serangan rudal ke berbagai wilayah Israel. Media Israel melaporkan bahwa Iran menggunakan bom tandan dalam serangan tanpa pandang bulu. Hampir bersamaan, kelompok Hezbollah dari Lebanon juga meluncurkan roket ke wilayah utara Israel.

Pada hari yang sama, Qatar juga terkena serangan rudal dari Iran, dan sebuah kapal tanker minyak dilaporkan terkena dampak.

Pengamat militer menilai bahwa di satu sisi Iran mengirim sinyal “meminta gencatan senjata”, namun di sisi lain serangan tetap berlangsung. Hal ini menunjukkan adanya kekuasaan yang terpecah dan perbedaan internal yang signifikan, terutama karena Garda Revolusi masih terus melakukan perlawanan keras.

Seorang analis mengatakan bahwa jika struktur internal Iran tidak solid, maka konflik dan operasi militer sulit untuk dihentikan—ini menjelaskan mengapa Iran masih terus menyerang negara-negara di sekitarnya.

Sehari sebelumnya, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa militer AS akan segera mengakhiri operasi militernya di Iran, dengan perkiraan selesai dalam 2 hingga 3 minggu dan kemudian menarik pasukan.

Analisis menyebutkan bahwa pernyataan tersebut bisa jadi merupakan sikap politik, namun secara militer sebagian besar tujuan AS telah tercapai dalam operasi ini.

Seorang komentator militer mengatakan bahwa meskipun AS unggul secara militer, secara politik masih menghadapi tantangan, terutama karena rezim Iran belum tumbang. Dalam kondisi ini, kedua pihak masih memiliki ruang untuk bernegosiasi.

Para pengamat juga menganalisis waktu dan kemungkinan jalur penarikan pasukan AS, termasuk kemungkinan operasi militer lanjutan. Selat Hormuz dipandang sebagai fokus utama tahap berikutnya.

Seorang analis menyebut bahwa kemampuan rudal jarak jauh Iran sebagian besar telah berhasil dibatasi melalui kekuatan militer. Target berikutnya kemungkinan terkait Selat Hormuz. Ia menyebut dua kemungkinan pendekatan: melalui kekuatan militer besar, atau dengan menguasai pulau-pulau strategis di sekitar selat tersebut.

Ada juga pandangan bahwa akhir dari perang hanya dapat dicapai melalui perundingan damai.

Reporter NTD Television Chen Yue dan Chang Chun melaporkan.

Serangan Besar Rudal Iran ke Israel saat Paskah Yahudi, AS dan Israel Balas dengan Serangan Keras

Pada Rabu (1 April), bertepatan dengan dimulainya Paskah Yahudi, Iran dan kelompok Hezbollah melancarkan serangan besar secara tiba-tiba. Amerika Serikat dan Israel segera melakukan serangan balasan yang menghantam 15 pangkalan militer Iran. Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa pemerintahan baru Iran telah meminta gencatan senjata, dan pasukan AS berpotensi ditarik dalam tiga minggu. Kabar ini mendorong lonjakan pasar saham global. Namun, dari dalam Iran muncul laporan bahwa Korps Garda Revolusi Islam telah mengambil alih kekuasaan dan membantah adanya gencatan senjata.

EtIndonesia. Pada Rabu (1 April), saat Paskah Yahudi dimulai, Iran meluncurkan serangan rudal ke Israel, sementara Hezbollah menembakkan roket dari Lebanon. Akibatnya, jutaan warga Israel terpaksa berlindung di bunker.

Menurut penilaian awal Pasukan Pertahanan Israel, sekitar 10 rudal balistik pertama kali ditembakkan ke wilayah tengah Israel—menjadi serangan rudal terbesar Iran sejak konflik dimulai. Beberapa menit kemudian, sirene kembali berbunyi menandakan serangan lanjutan.

Di saat yang sama, AS dan Israel juga melakukan pemboman besar-besaran terhadap target di dalam Iran. Militer Israel menyatakan bahwa mereka menyerang 15 fasilitas produksi senjata Iran dalam semalam, dan seorang komandan front selatan Hezbollah, Hashim, tewas dalam serangan tersebut.

Juru bicara militer Israel, Brigjen Defrin, mengatakan:  “Kami terus menyerang musuh dengan tekad kuat. Hasil kami terus bertambah, dan pada akhirnya akan mencapai kemenangan besar. Kami sedang menghancurkan seluruh sistem rezim Iran dan para proksinya.”

Militer AS juga melaporkan telah melaksanakan lebih dari 12.000 misi penerbangan tempur untuk mendukung operasi “Epic Fury”.

Presiden Donald Trump pada Rabu menyatakan bahwa Iran sedang “dihancurkan habis-habisan”. Ia juga memuji presiden dari pemerintahan baru Iran sebagai sosok yang jauh lebih rasional dan kurang radikal dibanding pendahulunya, serta menyebut bahwa pihak tersebut telah meminta gencatan senjata kepada Amerika Serikat.

Trump mengatakan bahwa AS akan mempertimbangkan gencatan senjata setelah jalur di Selat Hormuz kembali terbuka sepenuhnya. Ia juga menetapkan batas waktu 2–3 minggu untuk penarikan pasukan AS dari Iran. Kabar ini mendorong lonjakan pasar saham global dan penurunan harga minyak.

Sehari sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa selama pihak lawan menjamin konflik tidak akan berlanjut, Teheran memiliki “niat yang diperlukan” untuk mengakhiri perang.

Namun, Kementerian Luar Negeri Iran pada Rabu membantah pernyataan Trump bahwa Teheran telah meminta gencatan senjata.

Media The Times of Israel mengutip laporan dari Iran International yang menyebut bahwa saat ini Iran secara de facto dikendalikan oleh sebuah “komite militer” yang terdiri dari pejabat tinggi Garda Revolusi. Mereka disebut menolak perintah Presiden Pezeshkian dan memutus komunikasi antara dirinya dengan pemimpin tertinggi Mojtaba Khamenei.

Garda Revolusi juga menyatakan bahwa Selat Hormuz masih berada di bawah kendali penuh mereka. Sebelumnya, parlemen Iran telah menyetujui rencana untuk mengenakan biaya bagi kapal yang melintas di selat tersebut.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan:  “Selat Hormuz adalah perairan internasional. Setiap upaya Iran untuk menghambat pelayaran komersial adalah ilegal. Jika Iran benar-benar mencoba mengendalikan selat itu, pada akhirnya Presiden akan memutuskan apakah akan bertindak. Ini adalah masalah global.”

Rubio juga menyatakan bahwa pemerintahan Trump telah melihat “garis akhir” dari perang ini.

Reporter NTD Television, Yi Jing, melaporkan.

Donald Trump: Dalam 2–3 Minggu ke Depan Akan Membuat Iran “Kembali ke Zaman Batu”

EtIndonesia. Pada 1 April 2026 malam waktu Amerika Timur, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidato televisi kepada publik. Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat “sangat dekat” untuk mengakhiri perang dengan Iran, serta mengisyaratkan bahwa operasi militer dapat segera meningkat. Dalam 2 hingga 3 minggu ke depan, Iran akan “dipukul kembali ke zaman batu”.

Pada pukul 21.00 malam itu Trump secara jarang menyampaikan pidato pada jam tayang utama. Ia menyebut operasi militer AS terhadap Iran yang dinamakan “Operation Epic Fury” telah mencapai “kemenangan yang cepat, menentukan, dan sangat dominan”.

Ia mengatakan bahwa Amerika Serikat sudah “sangat dekat” untuk mengakhiri perang ini, dan sedang menyelesaikan seluruh operasi militer terhadap Iran dengan kecepatan yang sangat tinggi sesuai rencana.

Trump juga mengisyaratkan kemungkinan eskalasi militer dalam waktu dekat:  “Dalam 2 sampai 3 minggu ke depan, kami akan melancarkan serangan yang sangat berat terhadap mereka. Kami akan membuat Iran kembali ke tempat yang seharusnya—zaman batu.”

Ia menyatakan bahwa “dalam sejarah peperangan, belum pernah ada musuh yang dalam beberapa minggu saja mengalami kerugian besar yang begitu jelas dan menghancurkan”, dan bahwa operasi ini diperlukan demi “keamanan Amerika serta stabilitas dunia bebas”.

Trump memperingatkan bahwa rudal Iran dalam waktu dekat dapat menjangkau daratan Amerika Serikat, Eropa, dan hampir seluruh wilayah dunia lainnya.

 “Mereka ingin memproduksi sebanyak mungkin rudal, dan memang telah membuat rudal dengan jangkauan terjauh, bahkan beberapa senjata yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Kami telah menghancurkan semuanya,” katanya. 

Trump juga menyatakan bahwa Amerika telah mencapai pergantian rezim di Iran, dan negosiasi dengan kepemimpinan baru Iran sedang berlangsung. Ia mengatakan:  “Semua pemimpin lama mereka telah tewas.”

Pejabat AS saat ini bernegosiasi melalui perantara untuk mengakhiri perang, dan pemimpin baru Iran disebut “kurang radikal dan jauh lebih rasional”.

Pada saat yang sama, Trump memperingatkan bahwa jika tidak tercapai kesepakatan, Amerika akan menyerang infrastruktur energi Iran:  “Jika tidak ada kesepakatan, kami akan melancarkan serangan yang sangat kuat, kemungkinan besar secara simultan, terhadap setiap pembangkit listrik mereka.”

Trump menambahkan bahwa setelah Selat Hormuz kembali dibuka, harga bahan bakar akan segera turun, pasar saham akan naik, dan ekonomi AS “akan pulih dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan melampaui kondisi satu bulan lalu”.

Sebulan sebelumnya, pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer gabungan terhadap Iran. Pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei serta puluhan pejabat inti dilaporkan tewas dalam serangan udara tersebut.

Hingga saat ini, pasukan darat, laut, udara Iran serta sebagian besar target militer telah mengalami kerusakan berat. Dengan terus meningkatnya penempatan pasukan AS di kawasan tersebut, Iran diperkirakan akan menghadapi serangan militer yang lebih besar lagi. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Situasi Lapangan Kerja di Tiongkok Memburuk, Lulusan Perguruan Tinggi Berjualan di Pinggir Jalan Demi Bertahan Hidup

EtIndonesia. Seiring perlambatan ekonomi di Tiongkok, kondisi lapangan kerja menjadi semakin sulit. Banyak lulusan universitas tidak dapat menemukan pekerjaan yang ideal, sehingga terpaksa memilih berjualan di pinggir jalan. Di antaranya, banyak yang menjual makanan ringan untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup.

Seorang lulusan tahun lalu, Nona Zhang, mengatakan bahwa setelah lulus ia kembali ke kampung halamannya di sebuah kota kecil dan berjualan mi pedas (fire chicken noodles). Satu porsi dijual seharga 2 yuan. Ia berjualan saat jam pulang sekolah, dan puluhan porsi bisa terjual dengan cepat. Margin kotor sekitar 50%. Waktu kerja hanya di sore hari, pendapatan tidak tinggi, tetapi cukup untuk menghidupi dirinya, dan terasa lebih santai serta bebas dibanding bekerja di kantor.

 “Setelah lulus saya memilih tidak bekerja kantoran. Saya tidak suka diatur orang lain. Saya jual mi pedas, semuanya saya buat sendiri, masak langsung lalu jual. Saya tidak berani membuat terlalu banyak karena takut tidak habis terjual. Memang laris, tapi keuntungannya tidak besar. Besok saya berencana mencoba jualan yang lain. Tidak bisa hanya jual makanan yang disukai anak-anak, juga harus ada yang disukai orang dewasa, demi mendapatkan penghasilan,” katanya. 

Seorang blogger yang berjualan nasi kepal membagikan catatan keuangannya pada bulan Januari tahun ini: pendapatan harian sekitar 300–400 yuan, hanya libur dua hari dalam sebulan. Setelah dikurangi biaya bahan, total pendapatan bersih sekitar 5.000 yuan. Setelah dikurangi biaya hidup lebih dari 3.000 yuan, uang yang benar-benar tersisa kurang dari 2.000 yuan.

Pemilik usaha nasi kepal, Xiao Liu (nama samaran), mengatakan bahwa ia menghabiskan dua jam untuk menyiapkan bahan, mulai berjualan pukul 6 pagi, dan biasanya habis dalam tiga jam. Menurutnya, ini lebih baik dibanding kerja kantoran.

Xiao Liu mengatakan:  “Saya lulusan universitas ‘211’, tapi tetap sulit mendapatkan pekerjaan. Saya sudah berjualan penuh waktu lebih dari setahun. Membuat nasi kepal ini termasuk usaha dengan biaya rendah. Biaya sewa lapak 2.200 yuan per tahun. Awalnya saya tidak rela membayar, dulu saya berjualan di pinggir jalan dan sering diusir. Banyak sekali kesulitannya, berjualan juga tidak mudah.”

Xiao Chen (nama samaran), setelah merugi dalam bisnis grosir pakaian anak di Zhejiang, memilih tetap tinggal di sana dan berjualan roti kukus (mantou). Pendapatan harian sekitar 300–400 yuan, setelah dikurangi biaya, keuntungan bersih sekitar 100–200 yuan.

 “Roti kukus ini saya buat sendiri secara manual. Kadang berjualan sampai lewat tengah malam. Rakyat biasa hanya ingin mencari nafkah, tapi petugas ketertiban kota sering datang mengusir. Sekarang saya terus berjuang, berharap suatu hari bisa membangun usaha saya. Di sini banyak pabrik pakaian anak, orang-orangnya sangat pekerja keras, dari pagi jam 8–9 sampai malam jam 11–12,” katanya. 

Xiao Yang (nama samaran), setelah merugi dalam bisnis perhiasan di Shenzhen, kini bersama karyawannya berjualan teh lemon di pinggir jalan.

 “Sekarang kami memang tidak perlu bayar biaya lapak, tapi tetap ada pengawasan dan sering diusir. Sebelum jam 8 pagi, meja dan kursi tidak boleh dipasang. Biasanya kami jual sampai jam 1–2 siang lalu tutup. Bisnisnya lumayan. Teknik membuat teh lemon juga kami pelajari secara profesional. Baik atau buruk harus kami alami sendiri, lalu menyesuaikan dan memperbaiki,” katanya. 

Reporter Televisi NTD Xiong Bin dan Bai Ni melaporkan.

Kapal Antariksa Berawak NASA Diluncurkan Menuju Bulan

EtIndonesia. NASA meluncurkan misi Artemis II dari Pusat Antariksa Kennedy di Florida, Amerika Serikat pada Rabu sore waktu Amerika Timur (1 April) sekitar pukul 18:35.  Misi ini membawa empat astronaut ke luar angkasa untuk memulai perjalanan mengelilingi Bulan selama 10 hari. 

Misi ini juga merupakan bagian dari persiapan NASA untuk mengirim manusia ke Bulan pada tahun 2028 dan membangun pangkalan di sana.

Sembilan menit setelah peluncuran, NASA menyatakan bahwa Artemis II telah berhasil memasuki orbit. Awak saat ini melaju dengan kecepatan lebih dari 15.000 mil per jam (sekitar 24.140 km/jam), dan jalur orbit berjalan normal.

Fokus utama misi ini adalah menguji roket dan pesawat antariksa yang belum pernah membawa manusia sebelumnya, sekaligus melakukan penerbangan mengelilingi Bulan.

“Kami akan melakukan pengujian yang menyeluruh dan ketat,” kata Administrator NASA Jared Isaacman sebelum peluncuran.

Ia menambahkan, “Kami akan terlebih dahulu berada di orbit Bumi untuk sementara waktu, memastikan pesawat antariksa Orion berfungsi dengan baik, lalu mengirim mereka menuju Bulan.”

Diperkirakan dibutuhkan sekitar empat hari untuk mencapai sisi jauh Bulan, dan empat hari lagi untuk kembali ke Bumi. Dari peluncuran pada malam 1 April hingga pendaratan di laut pada 10 April, seluruh misi diperkirakan berlangsung sekitar 9,5 hari.

Awak dalam peluncuran berawak pertama Artemis II meliputi:

  • Christina Koch
  • Victor Glover
  • Reid Wiseman
  • Jeremy Hansen

Peluncuran dilakukan di Pusat Antariksa Kennedy di Florida, hanya berjarak satu landasan peluncuran dari lokasi peluncuran terakhir misi Apollo yang membawa manusia ke Bulan lebih dari setengah abad lalu.

Menjelang peluncuran, Presiden AS Donald Trump memposting di Truth Social untuk merayakan peluncuran Artemis II, memuji misi bersejarah kembali ke ruang angkasa dalam ini serta upaya Amerika memimpin dalam perlombaan antariksa modern.

Presiden menyebut Artemis II sebagai “salah satu roket paling kuat yang pernah dibangun,” dan memuji misi ini karena akan menjelajahi ruang angkasa lebih jauh daripada misi manusia sebelumnya.

“Pangkalan di Bulan tidak akan dibangun dalam semalam. Kami berencana menginvestasikan sekitar 20 miliar dolar dalam tujuh tahun ke depan, melalui puluhan misi, bekerja sama dengan mitra komersial dan internasional, mengikuti rencana yang terstruktur dan dapat diwujudkan,” ujar Administrator NASA Jared Isaacman. (Hui)

Guncangan di Balik Tembok Merah: Antara Spekulasi Nasib Wen Jiabao dan Jaringan Bawah Tanah Iran

ETIndonesia— Di tengah ketatnya kontrol informasi di Negeri Tirai Bambu, riak-riak mengenai dinamika kekuasaan di tingkat tertinggi Partai Komunis Tiongkok (PKT) kembali mencuat ke permukaan publik internasional. 

Kali ini, sebuah narasi yang berkembang melalui kanal media digital menyoroti dugaan guncangan politik yang melibatkan tokoh-tokoh senior partai, berbarengan dengan isu geopolitik yang melibatkan jaringan militer bawah tanah di Timur Tengah.

Kabar ini bermula dari unggahan terbaru kanal YouTube 新聞最嘲點 Mr.姜光宇 (News Most Ridiculous Point – Mr. Jiang Guangyu) pada 14 Maret 2026. Dalam laporannya, Jiang Guangyu mengangkat serangkaian isu provokatif yang merentang dari nasib mantan Perdana Menteri Wen Jiabao hingga eksistensi pulau kecil seluas 20 kilometer persegi yang diklaim “mengguncang dunia”.

Misteri Pulau 20 Kilometer Persegi

Fokus utama yang menjadi pemantik diskusi adalah keberadaan sebuah pulau kecil yang disebut memiliki dampak sistemik terhadap keamanan global. Meski detail lokasi geografisnya memerlukan verifikasi lebih lanjut, narasi tersebut mempertanyakan: “Mengapa sebuah pulau kecil seluas 20 kilometer persegi bisa mengguncang dunia?”.

Dalam konteks geopolitik Asia Timur, klaim semacam ini sering kali dikaitkan dengan titik-titik panas di Laut Tiongkok Selatan atau Selat Taiwan, di mana reklamasi lahan dan militerisasi pulau-pulau karang telah menjadi sumber ketegangan antara Beijing dan Washington. Namun, Jiang Guangyu membawa narasi ini lebih jauh dengan menghubungkannya pada kebocoran informasi mengenai “jaringan militer bawah tanah Iran yang mengerikan”.

Keterlibatan teknologi atau aliansi strategis antara Beijing dan Teheran dalam pembangunan infrastruktur militer bawah tanah menjadi poin krusial yang disoroti. Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran pola konflik dari konfrontasi terbuka menuju penguatan pertahanan asimetris yang sulit dideteksi oleh satelit konvensional.

Wen Jiabao dan Isu “Pembersihan” Internal

Isu yang paling sensitif dan mengundang perdebatan sengit adalah spekulasi mengenai kondisi mantan Perdana Menteri Wen Jiabao. Jiang Guangyu melontarkan pertanyaan retoris yang menggemparkan: “Apakah terjadi sesuatu pada Wen Jiabao? Perebutan kekuasaan paling sengit di tingkat atas PKT meletus!”.

Wen Jiabao, yang dikenal sebagai wajah reformis selama masa jabatannya (2003-2013), sering kali menjadi pusat rumor setiap kali ada pergeseran kekuatan di Zhongnanhai. Spekulasi ini diperkuat oleh reaksi publik di kolom komentar kanal tersebut. Salah satu penonton dengan akun @jonathanau8735 menuliskan sebuah refleksi yang tajam: “Hu [Jintao] dan Wen [Jiabao] seharusnya menghabiskan masa tua mereka dengan tenang, mengapa mereka masih membuat masalah?”.

Komentar ini mencerminkan persepsi sebagian publik bahwa para sesepuh partai mungkin masih memiliki pengaruh atau mencoba melakukan intervensi terhadap kebijakan kepemimpinan saat ini di bawah Presiden Xi Jinping. Namun, ada pula pandangan yang lebih ekstrem mengenai kondisi fisik dan kebebasan mereka.

Akun @alickyong7117 memberikan analisis yang lebih kelam mengenai sistem pengawasan internal partai. Ia mempertanyakan kemungkinan adanya tahanan rumah bagi para mantan pemimpin tersebut. 

“Hu dan Wen sudah berada di bawah tahanan rumah!? Di PKT saat ini, selain Xi Jinping, siapa yang tidak berada di bawah tahanan rumah? Personel keamanan dan medis di sekitar mereka semuanya melaporkan setiap gerak-gerik mereka ke atas!” tulisnya.

Lebih lanjut, ia menekankan isolasi sosial yang dialami oleh para elite politik ini dengan bertanya: “Apakah mereka bisa keluar dengan bebas untuk menemui ‘teman’? Siapa yang berani menemui mereka??”. Pernyataan ini merujuk pada mekanisme kontrol ketat yang dikenal sebagai sistem pengawalan khusus bagi para veteran partai, yang menurut para kritikus, berfungsi ganda sebagai mekanisme pengawasan.

Polarisasi Publik dan Tantangan Disinformasi

Meski narasi tentang keretakan internal PKT ini menarik perhatian besar, ia juga menghadapi skeptisisme yang tidak kalah kuat. Fenomena ini menunjukkan betapa terbelahnya publik dalam mengonsumsi informasi mengenai politik Tiongkok.

Seorang pengguna dengan akun @jacobso223 dengan singkat menyebut laporan tersebut sebagai “fake news” atau berita bohong. Senada dengan itu, akun @fmngszk2756 melontarkan kritik keras terhadap kredibilitas konten tersebut: “Bicara omong kosong sepanjang hari dan masih punya banyak penggemar. IQ orang Tionghoa mengkhawatirkan”.

Kritik ini menyoroti tantangan besar dalam jurnalisme investigatif di era digital, di mana garis antara analisis tajam dan spekulasi liar sering kali kabur. Adanya penyebutan tokoh yang sudah meninggal dalam konteks satir, seperti yang dilakukan oleh akun @龙亚洲-f6d yang menulis, “Akan lebih meledak lagi jika Anda mengatakan Jiang Zemin berada di bawah tahanan rumah!”—mengingat Jiang Zemin telah wafat pada 2022—menunjukkan adanya upaya dari sebagian netizen untuk mengejek narasi yang dianggap terlalu dramatis.

Analisis Geopolitik: Iran dan Jaringan Bawah Tanah

Di luar isu personalia partai, pengungkapan mengenai “jaringan militer bawah tanah Iran” membawa dimensi baru dalam diskursus keamanan global. Iran dikenal memiliki fasilitas nuklir dan rudal yang tertanam jauh di dalam pegunungan untuk menghindari serangan udara. Jika klaim Jiang Guangyu benar bahwa informasi terbaru mengenai jaringan ini telah “terungkap”, hal itu bisa mengubah kalkulasi militer di Timur Tengah.

Keterkaitan antara masalah internal Tiongkok dan jaringan militer Iran dalam satu narasi menunjukkan upaya untuk menghubungkan titik-titik kekuatan otoriter global. Spekulasi yang berkembang adalah bahwa ketegangan internal di Beijing mungkin berdampak pada komitmen luar negeri atau dukungan logistik terhadap sekutu strategis seperti Teheran.

Kesimpulan: Realitas di Balik Tabir

Laporan dari kanal 新聞最嘲點 Mr.姜光宇 ini, meski dipenuhi spekulasi yang memicu perdebatan, memberikan gambaran tentang betapa tingginya ketertarikan—dan kecemasan—publik terhadap apa yang terjadi di balik pintu tertutup PKT. 

Apakah Wen Jiabao benar-benar “dalam masalah” atau sekadar menjadi korban dari siklus rumor politik rutin, tetap menjadi misteri yang sulit ditembus tanpa konfirmasi resmi dari Beijing.

Namun, satu hal yang pasti: perpaduan antara isu perebutan kekuasaan domestik, kerahasiaan militer di pulau-pulau terpencil, dan aliansi bawah tanah internasional tetap menjadi komoditas informasi yang paling dicari sekaligus paling diperdebatkan di ruang siber saat ini.

 Di dunia yang semakin transparan namun penuh dengan “kebisingan” informasi, membedakan antara fakta dan narasi politik menjadi tugas yang semakin krusial bagi publik global.

Sumber: Kanal YouTube 新聞最嘲點 Mr.姜光宇 (Diakses pada 15 Maret 2026)

Sima Yi dan Seni Bertahan: Bagaimana Kesabaran dan Pengendalian Diri Memenangkan Kekaisaran

Kebangkitan Sima Yi pada era Tiga Kerajaan tidak semata didorong oleh penaklukan besar yang berani, melainkan oleh kesabaran, pengendalian diri, dan kemampuan belajar dari kegagalan—kualitas yang pada akhirnya memungkinkannya bertahan lebih lama daripada para pesaingnya dan membentuk arah sejarah di Tiongkok kuno.

EtIndonesia. Kehidupan Sima Yi sering dianggap sebagai salah satu yang paling sukses dalam sejarah Tiongkok. Selama masa penuh gejolak Tiga Kerajaan, para pemimpin saingan seperti Cao Cao, Liu Bei, dan Sun Quan bertarung memperebutkan dominasi dalam pertempuran sengit yang berlangsung bertahun-tahun. Namun pada akhirnya, garis keturunan Sima Yi-lah yang berhasil mengonsolidasikan kekuasaan dan mengendalikan wilayah tersebut.

Kebangkitannya bukan sekadar soal waktu atau keberuntungan. Hal itu juga merupakan hasil dari kualitas pribadi yang khas, terutama kemampuan luar biasa untuk bertahan dan pendekatan disiplin dalam menghadapi kesulitan.

Kekuatan Pengendalian Diri

Ketahanan—yang dalam bahasa Tionghoa sering disebut ren (忍)—merupakan inti dari karakter Sima Yi. Meskipun sebagian orang menafsirkannya sebagai bentuk penyembunyian yang terencana atau kecerdikan politik, hal itu juga mencerminkan kemampuan yang lebih dalam untuk tetap tenang, menahan diri, dan sulit ditebak.

Seperti dijelaskan dalam The Art of War, “Kenali dirimu dan kenali musuhmu, maka kamu tidak akan terancam dalam seratus pertempuran.” Dalam peperangan kuno maupun persaingan modern, informasi dan persepsi sangatlah penting. Semakin sedikit yang diungkapkan, semakin sulit bagi lawan untuk mengantisipasi atau menanggapi langkah kita.

Sima Yi mewujudkan prinsip ini. Dengan menjaga profil rendah dan menghindari konfrontasi yang tidak perlu, ia meminimalkan risiko sekaligus mempertahankan fleksibilitas strategis. Bahkan dalam situasi persaingan, ia menghindari peningkatan ketegangan menjadi permusuhan terbuka.

Sebuah anekdot terkenal menggambarkan pendekatan ini. Sima Yi dan Yang Xiu, seorang pejabat istana yang mendukung faksi saingan, sering digambarkan sebagai lawan. Meskipun Yang berulang kali mencoba menjatuhkannya, Sima Yi menahan diri untuk tidak membalas.

Ketika Yang Xiu kemudian dijatuhi hukuman mati oleh Cao Cao, Sima Yi meminta izin untuk mengunjunginya. Saat ditanya alasannya, ia dilaporkan menjawab bahwa sepanjang hidupnya, ia tidak pernah memiliki musuh sejati—hanya guru dan rekan.

Terlepas dari apakah kisah ini sepenuhnya akurat atau tidak, cerita tersebut mencerminkan suatu pola pikir: memberi ruang bagi orang lain, tetap menghormati bahkan terhadap pesaing, dan menghindari permusuhan yang tidak perlu. Kemampuan menahan diri inilah yang memungkinkan Sima Yi menavigasi lanskap politik yang kompleks dengan kelincahan luar biasa.

Potret Sima Yi, yang dikenal sebagai guru besar pada masa Dinasti Wei di Tiongkok. (Gambar: domain publik)

Ketangguhan dalam Menghadapi Kesulitan

Ciri penting lainnya adalah kemampuan Sima Yi untuk menghadapi kemunduran dan belajar dari kegagalan—yang saat ini mungkin disebut sebagai adversity quotient.

Keberhasilan keluarga Sima pada akhirnya sebagian dipengaruhi oleh kemunduran garis keturunan Cao, tetapi juga mencerminkan persiapan dan kepemimpinan yang matang. Sima Yi menanamkan prinsip yang jelas kepada putra-putranya: jangan takut gagal; belajarlah darinya.

Salah satu kisah menceritakan kekalahan melawan Zhuge Liang, di mana pasukan Wei kehilangan kendali atas persediaan gandum yang berharga. Meskipun memiliki jumlah pasukan yang lebih besar, kekalahan itu membuat banyak perwira frustrasi. Putra-putra Sima Yi, yang terguncang oleh hasil tersebut, mencari bimbingan dari ayah mereka. Mereka mendapati Sima Yi tetap tenang berlatih, seolah tidak terganggu oleh kemunduran tersebut.

Ia menjelaskan bahwa sebelum meraih kemenangan, seseorang harus terlebih dahulu belajar bagaimana mengalami kekalahan dengan baik—tanpa rasa malu, tanpa panik, dan tanpa kerusakan yang berkepanjangan. Hanya mereka yang mampu bertahan dari kekalahan, katanya, yang dapat mencapai kesuksesan jangka panjang.

Terlepas dari akurasi historisnya, pelajaran ini jelas: Sima Yi tidak mendefinisikan keberhasilan semata dari hasil langsung. Sebaliknya, ia menekankan pertumbuhan melalui pengalaman, bahkan dari kegagalan. Sepanjang hidupnya, ia mengalami kemenangan maupun kekalahan. Namun kemampuan untuk beradaptasi, bangkit kembali, dan terus bertahanlah yang membedakannya.

Pelajaran Melampaui Sejarah

Kisah Sima Yi memberikan wawasan tentang prinsip yang lebih luas. Meskipun kecerdasan dan kesadaran emosional sering ditekankan, ketangguhan—kemampuan untuk bertahan menghadapi kesulitan dan bangkit dari kemunduran—sama pentingnya.

Baik dalam konteks sejarah maupun modern, mereka yang mampu tetap tenang di bawah tekanan, menghindari konflik yang tidak perlu, dan belajar dari kesulitan akan lebih siap untuk meraih kesuksesan dalam jangka panjang.

Sima Yi tidak mencapai puncak melalui aksi mencolok atau kemenangan dramatis semata. Kesuksesannya dibangun di atas kesabaran, pengendalian diri, dan perspektif jangka panjang—kualitas yang mungkin tidak mencolok, tetapi terbukti menentukan.

AS Gempur Iran Tanpa Henti: 13.000 Misi Udara Diluncurkan, Opsi Invasi Darat Mulai Disiapkan

EtIndonesia. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase yang semakin intens dan menentukan. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada Selasa, 1 April 2026, mengumumkan bahwa militer AS telah melaksanakan lebih dari 13.000 misi penerbangan dan menghantam lebih dari 12.300 target militer di wilayah Iran sejak operasi dimulai.

Dalam perkembangan yang menunjukkan eskalasi signifikan, Pentagon juga mengonfirmasi bahwa pembom strategis B-52 telah langsung memasuki wilayah udara Iran untuk menjalankan operasi tempur—sebuah langkah yang menandai peningkatan agresivitas militer AS di kawasan.


Pengerahan Kekuatan Besar-besaran ke Timur Tengah

Sehari sebelumnya, pada 31 Maret 2026, kapal induk USS George H.W. Bush diberangkatkan dari Pangkalan Angkatan Laut Norfolk, Virginia, bersama kapal pendukung dan lebih dari 5.000 personel militer. Kapal ini menjadi kapal induk ketiga yang dikerahkan ke Timur Tengah dalam konflik ini.

Sementara itu, kapal induk USS Gerald R. Ford dilaporkan belum dapat bergabung karena masih menjalani perbaikan pasca insiden kebakaran.

Di sisi lain, pengerahan pasukan terus diperkuat. Sekitar 3.500 marinir dan pelaut AS telah tiba di kawasan Teluk Persia pada akhir pekan terakhir Maret, dan dalam beberapa minggu ke depan, 3.500 personel tambahan dijadwalkan menyusul.


Dua Skenario Invasi Darat: Energi atau Nuklir

Menurut laporan eksklusif The Atlantic pada 1 April 2026, militer AS saat ini tengah menyiapkan dua opsi operasi darat yang kini menunggu keputusan akhir dari Presiden Donald Trump.

1. Penyerbuan Pulau Kharg

Pulau Kharg merupakan pusat vital yang menangani sekitar 90% ekspor minyak Iran. Jika berhasil direbut, langkah ini akan:

  • Memutus sumber pendapatan utama Iran
  • Memberikan tekanan ekonomi besar
  • Menjadi alat tawar kuat dalam negosiasi

2. Operasi Rahasia Perebutan Material Nuklir

Opsi kedua adalah mengirim pasukan khusus jauh ke dalam wilayah Iran untuk merebut cadangan bahan bakar nuklir berkadar tinggi. Tujuannya adalah:

  • Menghentikan pengembangan senjata nuklir Iran
  • Menghilangkan ancaman jangka panjang

Namun, operasi ini dinilai sangat berisiko karena sejumlah fasilitas terkait telah rusak akibat serangan udara sebelumnya, sehingga memperumit misi di lapangan.


Tekanan Politik Menguat di Washington

Sumber internal mengungkapkan bahwa Presiden Donald Trump saat ini berada di bawah dua tekanan besar yang saling bertolak belakang:

  • Kelompok moderat mendesak penghentian operasi untuk menekan dampak ekonomi global
  • Kelompok garis keras dan sekutu regional mendorong penghancuran total rezim Iran

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, dilaporkan beberapa kali menghubungi Trump dalam sepekan terakhir. Ia mendesak agar operasi militer dilanjutkan hingga rezim Iran runtuh, bahkan mendorong pengiriman pasukan darat untuk menguasai fasilitas energi strategis.

Trump sendiri membenarkan komunikasi tersebut dan menyebut Salman sebagai “seorang pejuang yang berdiri di sisi kami.”


Ketegangan Internasional dan Diplomasi yang Mandek

Di tengah eskalasi konflik, Inggris menggelar pertemuan daring yang melibatkan 35 negara untuk membahas situasi di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa tujuan utama negaranya adalah memperoleh jaminan keamanan, bukan memperpanjang perang. Ia menyatakan kesiapan untuk mendukung perdamaian, namun dengan syarat tertentu.

Meski demikian, laporan menyebutkan bahwa pemerintahan Iran saat ini menghadapi:

  • Kebuntuan politik internal
  • Keterbatasan dalam pengangkatan pejabat strategis

Di Washington, Senator Marco Rubio menegaskan bahwa uranium dengan tingkat pengayaan 60% hanya memiliki satu tujuan—senjata nuklir, dan Iran tetap menolak untuk menyerahkannya.


Intelijen AS: Iran Belum Siap Berdamai

Pada Rabu, 1 April 2026, lembaga intelijen Amerika Serikat menilai bahwa Iran saat ini tidak memiliki niat serius untuk mengakhiri perang melalui negosiasi.

Teheran dinilai merasa masih berada dalam posisi yang cukup kuat, sehingga tidak melihat urgensi untuk menerima tuntutan Washington. Meski demikian, Iran tetap membuka jalur diplomasi, namun:

  • Tidak mempercayai komitmen AS
  • Meragukan keseriusan Trump dalam negosiasi

Serangan di Teheran Picu Kepanikan Elite Iran

Sementara itu, situasi di dalam negeri Iran semakin tegang. Pada Rabu, 1 April 2026, Kamal Kharazi, Ketua Dewan Strategi Hubungan Luar Negeri Iran, dilaporkan mengalami luka berat akibat serangan di kediamannya di Teheran.

Kharazi merupakan tokoh penting dalam lingkaran diplomasi Iran dan dikenal dekat dengan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Insiden ini terjadi hanya dua hari setelah ia menyatakan kesiapan Iran menghadapi perang jangka panjang dengan AS.

Para analis menilai serangan ini akan:

  • Memperburuk kepanikan di kalangan elite Iran
  • Memperketat kontrol terhadap tim negosiasi
  • Meningkatkan ketegangan internal

Pidato Trump: Klaim Kemenangan dan Ancaman Baru

Pada 1 April 2026 pukul 21.00 waktu setempat, Presiden Donald Trump menyampaikan pidato nasional yang dianggap sebagai deklarasi kemenangan awal.

Dalam pidatonya, Trump menyatakan:

  • Tujuan militer AS telah tercapai
  • Iran diperkirakan akan “dikembalikan ke zaman batu dalam dua hingga tiga minggu”

Meski menegaskan bahwa jalur diplomasi masih terbuka, Trump menyebut bahwa perubahan rezim bukan tujuan utama AS, meskipun kematian para pemimpin Iran dapat memicu perubahan politik secara alami.

Ia juga melontarkan ancaman baru, menyatakan bahwa Amerika Serikat siap menghancurkan industri elektronik Iran jika kesepakatan tidak segera tercapai.


Kesimpulan: Konflik Menuju Titik Penentuan

Dengan intensitas serangan yang terus meningkat, opsi invasi darat yang mulai dipertimbangkan, serta tekanan politik dan militer dari berbagai pihak, konflik AS-Iran kini telah memasuki titik paling krusial.

Keputusan akhir Presiden Trump dalam beberapa hari ke depan akan menjadi penentu arah konflik—apakah menuju eskalasi penuh, atau membuka peluang bagi jalan diplomasi terakhir. (***)

Isfahan Dibombardir, Teheran Meledak! Trump: Tinggal Hitungan Minggu Sebelum Iran Runtuh

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa Iran pada dasarnya sudah tidak lagi menjadi ancaman setelah 32 hari operasi militer intensif yang dilakukan oleh pasukan AS dan sekutunya.

Dalam pidato nasional yang disampaikan pada malam hari, Trump menegaskan bahwa rangkaian serangan besar-besaran yang berlangsung sejak awal Maret 2026 telah secara signifikan melemahkan kekuatan militer Iran, bahkan mendekati titik kehancuran total.

“Setelah berminggu-minggu serangan tanpa henti, kemampuan Iran telah dihancurkan. Mereka bukan lagi ancaman seperti sebelumnya,” ujar Trump dalam pidatonya.


Serangan Lebih Besar Segera Datang, Diplomasi Tetap Dibuka

Meski mengklaim keberhasilan besar di medan perang, Trump menegaskan bahwa operasi militer belum berakhir. Ia mengungkapkan bahwa dalam dua hingga tiga minggu ke depan, Amerika Serikat sedang mempersiapkan gelombang serangan lanjutan dengan skala yang jauh lebih dahsyat.

“Kami akan memastikan semua tujuan tercapai. Jika perlu, kami akan memukul mereka hingga kembali ke zaman batu,” tegasnya.

Namun di saat yang sama, Trump menyebut jalur diplomasi tetap berjalan paralel. Pemerintah AS, menurutnya, masih membuka ruang negosiasi untuk mengakhiri konflik secara permanen.


Fasilitas Nuklir Iran Dihancurkan Total oleh B-2

Dalam penjelasannya, Trump menyoroti keberhasilan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran yang dilakukan menggunakan pembom siluman B-2.

Ia menyatakan bahwa target-target strategis tersebut telah dihancurkan secara menyeluruh dan mengalami kerusakan sangat parah, sehingga dalam beberapa bulan ke depan tidak mungkin dapat dioperasikan kembali.

Trump juga memberikan peringatan keras: jika Iran mencoba menghidupkan kembali program nuklirnya, Amerika Serikat akan segera merespons dengan serangan militer lanjutan, termasuk penggunaan rudal jarak jauh.

“Jika ada tanda aktivitas sekecil apa pun, kami akan langsung bertindak,” katanya.


Senjata Rahasia “Disruptor” Mulai Terungkap

Di tengah eskalasi konflik, muncul laporan dari seorang mantan anggota pasukan khusus AS yang mengungkap keberadaan senjata energi terarah rahasia bernama “disruptor”.

Senjata ini disebut bersifat non-mematikan, namun mampu menghasilkan kombinasi gelombang suara, panas, dan energi terarah yang dapat menyebabkan disorientasi ekstrem pada target. Efeknya membuat musuh kehilangan fokus dan kendali, sehingga memberikan keunggulan signifikan dalam operasi darat.

Meski belum dikonfirmasi secara resmi oleh Pentagon, kemunculan teknologi ini menambah dimensi baru dalam strategi perang modern yang digunakan Amerika Serikat.


Serangan Besar di Isfahan dan Teheran

Pada hari yang sama, 1 April 2026, pasukan gabungan Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar ke basis Garda Revolusi Iran di wilayah Isfahan.

Serangan tersebut menggunakan bom penghancur bunker untuk menghantam gudang amunisi dan pangkalan rudal yang berada di kawasan pegunungan. Dampaknya memicu ledakan sekunder besar dan kebakaran hebat yang terlihat jelas di langit malam.

Serangan ini dinilai sebagai pukulan telak terhadap infrastruktur militer Iran.

Tak lama berselang, pada dini hari di tanggal yang sama, ledakan juga mengguncang pusat kota Teheran. Serangan udara menghantam kompleks bekas Kedutaan Besar AS—yang sejak Revolusi Iran 1979 dikuasai oleh Garda Revolusi dan dijadikan markas milisi Basij.

Kompleks tersebut diketahui berfungsi sebagai pusat aktivitas milisi, museum anti-Amerika, serta basis operasional kelompok bersenjata. Saat serangan terjadi, dilaporkan ratusan anggota Basij berada di lokasi.

Akibat serangan tersebut, area tersebut dilaporkan hancur total.


Jenderal Iran Tewas, Struktur Keuangan Militer Terpukul

Dalam operasi yang sama, Israel dilaporkan berhasil menewaskan Brigadir Jenderal Eshaqi, yang menjabat sebagai Kepala Kantor Anggaran dan Keuangan Staf Umum militer Iran.

Eshaqi merupakan figur kunci dalam pengelolaan sumber daya finansial militer Iran. Kematinya dinilai sebagai pukulan serius terhadap sistem logistik dan pendanaan militer negara tersebut.

Garda Revolusi Iran kemudian mengonfirmasi bahwa Eshaqi tewas bersama beberapa anggota keluarganya dalam serangan tersebut.


Iran Ajukan Gencatan Senjata, Selat Hormuz Jadi Syarat Utama

Masih pada 1 April 2026, Trump mengungkap melalui media sosial bahwa presiden Iran telah mengajukan permintaan gencatan senjata kepada Amerika Serikat.

Namun, menurut Trump, syarat utama dari kesepakatan tersebut adalah pembukaan penuh Selat Hormuz—jalur vital perdagangan minyak dunia.

Trump menegaskan bahwa jika syarat tersebut tidak dipenuhi, maka operasi militer akan terus berlanjut tanpa henti.


Situasi Masih Sangat Dinamis

Hingga saat ini, situasi di Iran dan kawasan Timur Tengah masih terus berkembang dengan cepat. Serangan militer, tekanan diplomatik, serta dinamika geopolitik global membuat konflik ini berada pada fase yang sangat menentukan.

Pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa tujuan strategis utama hampir tercapai, namun dunia masih menunggu apakah konflik ini akan berakhir melalui negosiasi—atau justru memasuki fase eskalasi yang lebih besar dalam waktu dekat. (***)