Trump : Iran Sedang Bernegosiasi tapi Tak Berani Mengaku, Pemimpinnya Takut Dibunuh oleh “Orang Sendiri”

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa Iran sebenarnya sedang terlibat dalam perundingan, namun beberapa pejabat Iran tidak berani mengakuinya secara terbuka karena takut dibunuh oleh “orang sendiri”.

Trump menyampaikan pernyataan tersebut pada Rabu (25 Maret) malam dalam acara makan malam penggalangan dana Komite Kongres Nasional Partai Republik (NRCC). Ia mengatakan bahwa sejumlah pejabat Iran tengah berupaya mencapai kesepakatan dengan pihak AS secepat mungkin untuk mengakhiri konflik.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa saat ini “tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung antara AS dan Iran”. Ia juga mengatakan bahwa Washington hanya menyampaikan pesan melalui berbagai perantara, dan pertukaran pesan tersebut tidak bisa dianggap sebagai negosiasi resmi.

Menanggapi hal itu, Trump mengatakan bahwa meskipun Teheran menunjukkan sikap keras di hadapan publik, sikap sejumlah pejabatnya secara diam-diam telah berubah. Namun, mereka takut jika menunjukkan kelemahan secara terbuka akan menghadapi pembalasan dari kelompok garis keras.

 “Mereka sedang bernegosiasi, dan mereka sangat ingin mencapai kesepakatan. Tetapi mereka takut mengakuinya, karena mereka merasa bisa dibunuh oleh rakyat mereka sendiri,” katanya. 

 “Mereka juga takut akan dibunuh oleh kami.” Menurut Trump, para pejabat Iran yang ingin bernegosiasi tidak hanya takut dihukum oleh kelompok keras di dalam negeri, tetapi juga khawatir menjadi target serangan “pemenggalan” oleh Amerika Serikat dan Israel.
“Mereka sangat takut, takut akan dibunuh oleh kami. Tidak ada pemimpin negara yang lebih tidak ingin menjalankan pekerjaannya selain pemimpin Iran,” ujar Trump.

Pada hari pertama serangan udara gabungan AS dan Israel terhadap Iran (28 Februari), dilaporkan bahwa pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, bersama puluhan pejabat inti telah tewas. Saat ini, serangan militer AS terhadap Iran masih terus berlanjut.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada 25 Maret mengkonfirmasi bahwa dialog antara AS dan Iran terus berlangsung dan bersifat “konstruktif”.

Ia menekankan bahwa Presiden Trump dalam tiga hari terakhir terus berupaya mencari jalan untuk mengakhiri konflik, namun juga memberikan peringatan keras:  “Presiden Trump tidak sedang menggertak. Ia siap melepaskan serangan dahsyat (‘unleash hell’). Iran tidak boleh salah perhitungan lagi.” (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Mantan Wali Kota Taipei Ko Wen-je Dijatuhi Hukuman 17 Tahun Penjara pada Putusan Tingkat Pertama, Dicabut Hak Politik Selama 6 Tahun

EtIndonesia. Pada Kamis (26 Maret), mantan ketua Taiwan People’s Party sekaligus mantan Wali Kota Taipei, Ko Wen-je, dijatuhi vonis dalam kasus yang melibatkan proyek Jinghua City dan dugaan penggelapan dana politik. Ia dijatuhi hukuman total 17 tahun penjara serta pencabutan hak politik selama 6 tahun. Putusan ini masih dapat diajukan banding.

Menurut laporan Central News Agency, Taipei District Court mengadili empat kasus utama, termasuk kasus bonus koefisien lantai (FAR) proyek Jinghua City dan kasus dana politik Partai Rakyat Taiwan, dan mengumumkan putusan tingkat pertama pada sore harinya. 

Pengadilan memutuskan bahwa dalam kasus korupsi, Ko Wen-je dijatuhi hukuman 13 tahun penjara dan pencabutan hak politik selama 6 tahun. Untuk penggelapan dana politik publik, ia masing-masing dijatuhi hukuman 2 tahun dan 3 tahun 6 bulan. 

Dalam kasus penyalahgunaan dana yayasan Zhongwang untuk membayar gaji staf kampanye, ia dijatuhi hukuman 2 tahun. Setelah digabungkan, total hukuman yang harus dijalani adalah 17 tahun penjara dan pencabutan hak politik selama 6 tahun.

Menurut dakwaan dari Taipei District Prosecutors Office, pada 26 Desember 2024, Ko Wen-je didakwa bersama 10 orang lainnya, termasuk ketua grup Weijing, Shen Qingjing, anggota dewan kota Taipei dari Kuomintang, Ying Hsiao-wei, serta mantan kepala kantor Wali Kota Taipei, Li Wenzong. Mereka didakwa atas berbagai tuduhan seperti menerima suap, penyalahgunaan jabatan, penggelapan dana publik, dan pelanggaran kepercayaan. Jaksa sebelumnya menuntut Ko Wen-je dengan total hukuman 28 tahun 6 bulan penjara.

Dalam putusan hari ini:

  • Shen Qingjing dijatuhi hukuman 10 tahun penjara
  • Ying Hsiao-wei dijatuhi hukuman 15 tahun 6 bulan
  • Li Wenzong dijatuhi hukuman 4 tahun 6 bulan
  • Mantan Wakil Wali Kota Taipei, Peng Zhensheng, dijatuhi hukuman 2 tahun, pencabutan hak politik 1 tahun, dengan masa percobaan 3 tahun
  • Mantan Kepala Dinas Pembangunan Kota Taipei, Huang Jingmao, dijatuhi hukuman 6 tahun 6 bulan dan pencabutan hak politik 3 tahun
  • Mantan Sekretaris Eksekutif Komite Perencanaan Kota Taipei, Shao Xiupie, dijatuhi hukuman 1 tahun 3 bulan, pencabutan hak politik 1 tahun, dengan masa percobaan 3 tahun
  • Akuntan Duanmu Zheng dijatuhi hukuman 1 tahun
  • Penanggung jawab perusahaan Muke serta adik Li Wenzong, Li Wenjuan, dijatuhi hukuman 2 tahun 4 bulan

Sementara itu, pengawas Jinghua City, Zhang Zhicheng, dan penasihat anggota dewan kota Taipei, Wu Shunmin, dinyatakan tidak bersalah.

Menurut dakwaan jaksa, kasus ini terbagi menjadi empat bagian utama, yaitu:

  1. Kasus pemberian bonus koefisien lantai (FAR) ilegal proyek Jinghua City
  2. Kasus penggelapan dana politik publik
  3. Kasus penyalahgunaan dana Yayasan Zhongwang untuk membayar staf kampanye
  4. Kasus pelaporan tidak benar terkait rekening khusus dana politik Ko Wen-je

Ko Wen-je hanya terlibat dalam tiga kasus pertama.

Setelah lebih dari setahun persidangan, Taipei District Court akhirnya menjatuhkan putusan. Para terdakwa termasuk Ko Wen-je, Ying Hsiao-wei, Shen Qingjing, Li Wenzong, Li Wenjuan, Huang Jingmao, dan Zhang Zhicheng semuanya hadir di pengadilan.

Di luar gedung pengadilan, para pendukung Partai Rakyat Taiwan berkumpul untuk memberikan dukungan. (Hui)

Iran Dibombardir 50 Target dalam Semalam! 9.000 Serangan Diluncurkan, Tapi Diam-Diam Minta Damai?

EtIndonesia. Situasi di Timur Tengah memasuki fase yang sangat menentukan setelah rangkaian serangan besar mengguncang Iran dalam satu malam. Ledakan terdengar bertubi-tubi di berbagai wilayah strategis, menandai salah satu operasi militer paling intens sejak konflik ini memanas.

Pemerintah Israel secara resmi mengonfirmasi bahwa dalam operasi pada 24 Maret 2026, lebih dari 50 target militer di wilayah Iran telah diserang hanya dalam satu malam. Sasaran utama mencakup fasilitas rudal dan infrastruktur militer penting yang selama ini menjadi tulang punggung pertahanan strategis Teheran. Dampaknya, sejumlah lokasi dilaporkan mengalami kerusakan parah hingga melumpuhkan kemampuan operasionalnya.

Di saat yang sama, Amerika Serikat meningkatkan skala operasi secara signifikan. Berdasarkan laporan sejumlah media Amerika, termasuk The Wall Street Journal, militer AS telah meluncurkan hingga 9.000 sorti serangan, menunjukkan eskalasi besar dalam keterlibatan langsung Washington dalam konflik ini.


Pengerahan Pasukan Elit AS ke Timur Tengah

Masih pada 24 Maret 2026, Pentagon dilaporkan tengah mempersiapkan langkah lanjutan berupa pengerahan pasukan darat. Sekitar 3.000 prajurit dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat AS direncanakan akan diterbangkan ke Timur Tengah.

Pasukan elit ini akan diangkut menggunakan pesawat angkut berat C-17A Globemaster III, sebuah indikasi kuat bahwa Washington tidak hanya mengandalkan serangan udara, tetapi juga mulai membuka opsi operasi darat jika situasi terus memburuk.

Langkah ini memperlihatkan bahwa konflik telah bergerak dari sekadar tekanan militer menjadi potensi operasi skala penuh.


Paradoks Iran: Dibombardir, Tapi Mengirim Sinyal Damai

Di tengah tekanan militer yang meningkat drastis, Iran justru menunjukkan sikap yang bertolak belakang. Pada saat yang sama dengan gelombang serangan, Teheran dilaporkan mulai mengirimkan sinyal kesiapan untuk bernegosiasi.

Momentum ini bertepatan dengan batas waktu lima hari yang sebelumnya ditetapkan oleh Presiden Donald Trump bagi Iran untuk membuka jalur diplomasi.

Menurut laporan media Israel, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara diam-diam telah menghubungi utusan khusus Amerika, Steve Witkoff, menyampaikan bahwa pemimpin tertinggi Iran saat ini, Mojtaba Khamenei, telah menyetujui dimulainya perundingan.

Lebih lanjut, pembicaraan tersebut disebut-sebut kemungkinan akan digelar di Pakistan, menandakan adanya jalur komunikasi rahasia yang mulai aktif di tengah konflik terbuka.


Batas Waktu Konflik: 9 April dan Tekanan Selat Hormuz

Sumber pejabat Israel mengungkapkan bahwa Gedung Putih telah menetapkan 9 April 2026 sebagai target batas waktu untuk mengakhiri konflik ini.

Selain itu, tekanan terhadap Iran juga difokuskan pada jalur energi global. Presiden Trump menetapkan 27 Maret 2026 sebagai batas akhir bagi Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi distribusi minyak dunia.

Trump menyatakan bahwa proses negosiasi berjalan “sangat baik” dan bahkan mengklaim bahwa Iran telah menunjukkan niat untuk berdamai, termasuk komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Ia menggambarkan situasi ini sebagai momen di mana “cahaya harapan mulai terlihat” di tengah konflik yang semakin kompleks.


Peringatan Mossad: Tiongkok dan Rusia Disorot

Di sisi lain, ketegangan geopolitik semakin meluas. Surat kabar The Jerusalem Post pada 24 Maret 2026 menerbitkan laporan yang menyatakan bahwa meskipun Israel berhasil melemahkan kekuatan militer Iran, ada kekhawatiran bahwa pemulihan cepat dapat terjadi dengan bantuan eksternal.

Laporan tersebut menyoroti peran Partai Komunis Tiongkok (PKT) sebagai pihak yang diduga membantu Iran membangun kembali kapasitas militernya.

Kepala Mossad, David Barnea, secara terbuka memperingatkan Tiongkok dan Rusia agar tidak ikut campur membantu Iran. Pernyataan ini dinilai sebagai pesan strategis yang tidak hanya ditujukan kepada Teheran, tetapi juga kepada kekuatan global lain yang berpotensi memperpanjang konflik.

Di dalam negeri Israel sendiri, reaksi publik terhadap isu ini sangat keras. Sejumlah komentar bahkan menyerukan langkah ekstrem, termasuk opsi strategis terhadap Taiwan, sebagai bentuk tekanan terhadap Tiongkok.


Konflik Meluas: Negara Teluk Mulai Bersiap

Tekanan terhadap Iran kini tidak lagi hanya datang dari AS dan Israel. Menurut laporan Bloomberg, serangan Iran yang berdampak ke pelabuhan, fasilitas energi, dan bandara negara-negara tetangga telah memicu kekhawatiran regional.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dilaporkan mulai mempertimbangkan kemungkinan untuk ikut terlibat dalam operasi militer melawan Iran, yang berpotensi memperluas konflik menjadi perang regional terbuka.


Target Strategis: Pulau Khark dan Selat Hormuz

Mantan utusan Presiden Trump, Letnan Jenderal purnawirawan Keith Kellogg, mengusulkan langkah agresif berupa pengerahan pasukan darat untuk merebut Pulau Khark—pusat ekspor minyak utama Iran—dan mengendalikan Selat Hormuz.

Strategi ini dinilai dapat memutus jalur ekonomi vital Iran sekaligus menghilangkan kemampuan Teheran dalam mempengaruhi pasar energi global.


Serangan ke Bushehr dan Tewasnya Jenderal Iran

Pada malam hari 24 Maret 2026 sekitar pukul 21.08 waktu setempat, fasilitas penting Iran kembali menjadi sasaran. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr dilaporkan diserang oleh gabungan kekuatan AS dan Israel.

Tak hanya itu, pukulan juga terjadi di tingkat komando militer. Seorang pejabat tinggi Iran, Brigadir Jenderal Afshin Naqshbandi dilaporkan tewas dalam serangan di Teheran.

Naqshbandi dikenal sebagai penghubung utama antara Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran dengan milisi Basij, serta memiliki kedekatan dengan lingkaran kekuasaan Mojtaba Khamenei. Kehilangan ini dipandang sebagai pukulan serius terhadap struktur komando Iran.


Situasi di Teheran: Ketakutan dan Kekosongan Keamanan

Di dalam negeri, kondisi keamanan Iran menunjukkan tanda-tanda melemah. Ketakutan terhadap serangan drone membuat banyak pos pemeriksaan di Teheran tidak lagi dijaga secara aktif.

Milisi yang sebelumnya bertugas di jalan-jalan dilaporkan memilih bersembunyi atau melarikan diri demi menyelamatkan diri. Situasi ini menciptakan kekosongan keamanan di ibu kota dan memperlihatkan tekanan psikologis yang semakin besar di dalam negeri Iran.


Kesimpulan: Perang dan Damai Berjalan Bersamaan

Perkembangan pada 24 Maret 2026 menunjukkan satu hal yang sangat jelas: konflik ini telah memasuki fase paling kompleks.

Di satu sisi, operasi militer terus meningkat dengan intensitas tinggi. Namun di sisi lain, jalur diplomasi diam-diam mulai terbuka.

Dunia kini menyaksikan sebuah paradoks:
perang besar yang berjalan berdampingan dengan upaya damai yang tersembunyi.

Pertanyaannya bukan lagi apakah konflik ini akan berakhir, tetapi siapa yang akan menentukan bentuk akhir dari tatanan baru di Timur Tengah—dan bahkan dunia. (***)

Damai di Mulut, Perang di Udara : Iran Ganti Jenderal, AS Siapkan Pukulan Terakhir!

EtIndonesia. Situasi perang di Timur Tengah kini memasuki fase paling membingungkan sekaligus berbahaya. Dalam sehari, sinyal perdamaian dan eskalasi militer muncul bersamaan—menciptakan ketidakpastian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pada 24 Maret 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka mengungkapkan bahwa para pejabat Iran berada dalam kondisi terdesak.

Ia bahkan menyebut mereka telah “berlutut sambil menangis memohon belas kasihan” demi mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat.

Namun yang terjadi setelah itu justru berlawanan arah.


Teheran Berbalik Arah: Tokoh Pro-Negosiasi Dicopot

Tak lama setelah pernyataan Trump, pemerintah Iran justru mengambil langkah keras yang mengejutkan.

Kelompok yang sebelumnya dianggap pro-negosiasi dicopot dari lingkaran kekuasaan, dan digantikan oleh figur militer garis keras dari Garda Revolusi, yaitu Baqher Zolghadr.

Langkah ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan analis internasional:

Apakah Iran benar-benar ingin berdamai, atau justru sedang bersiap untuk perang yang lebih besar?

Menanggapi berbagai spekulasi tersebut, Trump memberikan jawaban yang sangat dingin kepada wartawan:

“Saya tidak percaya siapa pun.”


Serangan Udara Dimulai: B-52 AS Menggempur Iran

Pada hari yang sama, 24 Maret 2026, perkembangan militer meningkat drastis.

Pembom strategis B-52 milik Angkatan Udara AS dilaporkan lepas landas dari Pangkalan RAF Fairford di Inggris, dan langsung melancarkan serangan udara ke wilayah Iran.

Pesawat ini membawa hingga 24 bom penghancur bunker berbobot 2.000 pon, yang dirancang khusus untuk menembus target bawah tanah.

Sasaran utama serangan meliputi:

  • Fasilitas rudal bawah tanah
  • Pusat komando militer
  • Instalasi strategis yang tertanam dalam

Serangan gabungan AS-Israel bahkan disebut sebagai upaya untuk “menggali hingga ke jantung pertahanan Iran”, dengan tujuan menghancurkan sepenuhnya infrastruktur militer bawah tanah.

Kehadiran B-52 sendiri memiliki makna strategis besar.

Pesawat ini bukan pesawat siluman, sehingga biasanya hanya digunakan ketika:

  • Pertahanan udara lawan telah dilemahkan
  • Superioritas udara telah dikuasai

Analis militer menilai bahwa kemunculan B-52 menjadi indikasi kuat bahwa sistem pertahanan udara Iran—termasuk S-300 dan S-400—kemungkinan besar telah dilumpuhkan.


Dominasi Udara AS: Iran Kehilangan Pertahanan

Menurut pengamatan militer, sebelum B-52 dikerahkan, pesawat tempur canggih seperti:

  • F-22 Raptor
  • F-35 Lightning II

telah lebih dulu membersihkan ancaman udara.

Hal ini membuka jalan bagi pembom berat untuk beroperasi secara bebas di wilayah Iran.

B-52 sendiri memiliki kemampuan:

  • Membawa hingga 70.000 pon persenjataan
  • Menjangkau hingga 14.000 km
  • Menggunakan bom pintar JDAM dan rudal jelajah
  • Melakukan pengisian bahan bakar di udara

Saat ini, pesawat tersebut dilaporkan menjalankan misi hampir setiap hari, menargetkan fasilitas militer strategis Iran.


Mobilisasi Besar: Ancaman Invasi Semakin Nyata

Di tengah meningkatnya serangan udara, tanda-tanda mobilisasi militer skala besar juga mulai terlihat.

Israel dikabarkan tengah mempersiapkan mobilisasi hingga 4 juta tentara cadangan sebelum akhir Mei 2026.

Sementara itu, Amerika Serikat secara diam-diam terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan.

Menurut laporan pejabat AS yang dikutip Axios, Trump disebut tengah mempertimbangkan operasi pendaratan langsung ke Iran.

Bahkan, Divisi Lintas Udara ke-82 AS telah menerima perintah untuk bersiap dikerahkan ke Timur Tengah.

Langkah ini menandakan bahwa konflik berpotensi meningkat dari: serangan udara → menuju operasi darat skala besar


Militer Iran Runtuh dalam Waktu Singkat

Pernyataan mengejutkan datang dari Menteri Perang AS, Pete Hegseth, yang menyebut bahwa:

Pada hari pertama perang, kekuatan militer Iran telah dihancurkan secara sistematis oleh serangan gabungan AS dan Israel.

Ia menegaskan bahwa:

  • Angkatan laut
  • Angkatan udara
  • Sistem pertahanan
  • Fasilitas bawah tanah

semuanya mengalami kerusakan parah dalam waktu sangat singkat.

Bahkan, rekaman video yang beredar di internet menunjukkan sebagian pasukan Iran:

  • Meninggalkan posisi
  • Melarikan diri dari garis depan

Fenomena ini disebut sebagai salah satu kehancuran militer tercepat dalam sejarah modern.


Zolghadr Naik: Iran Dipimpin Tokoh Garis Keras

Masih pada 24 Maret 2026, Iran secara resmi menunjuk Baqher Zolghadr sebagai: Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Ia menggantikan Ali Larijani, yang dilaporkan tewas dalam serangan udara sebelumnya.

Zolghadr dikenal sebagai:

  • Veteran Garda Revolusi selama lebih dari 40 tahun
  • Mantan wakil komandan
  • Tokoh inti dalam lingkar kekuasaan

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi sendiri merupakan lembaga paling strategis di Iran, yang menentukan:

  • Kebijakan pertahanan
  • Program nuklir
  • Arah diplomasi

Penunjukan Zolghadr memperkuat sinyal bahwa Iran sedang beralih ke garis keras, bukan menuju kompromi.


Negosiasi atau Tipu Daya? Dua Versi yang Bertolak Belakang

Di balik eskalasi militer, muncul laporan bahwa negosiasi rahasia tetap berlangsung.

Sumber Iran kepada CNN mengungkapkan bahwa:

  • AS telah mencoba membuka jalur komunikasi melalui berbagai perantara
  • Tujuannya adalah mencapai kesepakatan besar, bukan sekadar gencatan senjata

Iran disebut bersedia mempertimbangkan:

  • Pencabutan sanksi
  • Jaminan tidak mengembangkan senjata nuklir

Namun tetap mempertahankan:

  • Hak atas program nuklir damai

Di sisi lain, pemerintah Iran secara terbuka membantah adanya negosiasi tersebut.

Teheran justru menuduh:

Trump sedang memainkan taktik untuk mengulur waktu sambil memperkuat kekuatan militernya.

Dua narasi ini menciptakan situasi yang membingungkan:

  • Di satu sisi, ada sinyal damai
  • Di sisi lain, eskalasi militer terus meningkat

Trump: “Mereka Sangat Ingin Kesepakatan”

Dalam pernyataan lanjutan pada 24 Maret 2026, Trump kembali menegaskan:

“Anda tidak bisa membayangkan betapa besar keinginan mereka untuk mencapai kesepakatan.”

Namun ketika ditanya apakah ia percaya pada Iran, jawabannya tetap keras:

“Saya tidak percaya siapa pun. Bahkan saya juga tidak percaya Anda.”

Saat didesak mengapa tetap bernegosiasi, ia menjawab singkat:

“Karena mereka akan mencapai kesepakatan.”


Klaim Kemenangan dan Target Akhir Perang

Pada hari yang sama (Selasa, 24 Maret 2026), Trump bahkan menyatakan bahwa:

Amerika Serikat telah memenangkan perang melawan Iran.

Ia mengklaim:

  • Iran telah setuju tidak memiliki senjata nuklir
  • Eliminasi pemimpin Iran telah memicu perubahan rezim
  • Iran memberikan “hadiah besar” terkait minyak dan gas

Trump juga menyebut bahwa target Amerika Serikat adalah:

Mengakhiri perang sebelum 9 April 2026


Menuju Titik Penentuan

Seiring mendekati awal April, kekuatan militer AS terus bertambah.

Kapal serbu amfibi USS Tripoli dan Unit Ekspedisi Marinir ke-31 dijadwalkan tiba di kawasan Timur Tengah dalam waktu dekat.

Kini dunia menghadapi satu pertanyaan krusial:

Apakah kedatangan armada ini akan membuka jalan menuju perdamaian—atau justru menjadi awal invasi besar-besaran ke Iran?


Kesimpulan:

Konflik Iran saat ini berada di titik paling tidak pasti dalam sejarah modern. Negosiasi dan perang berjalan beriringan, sementara keputusan besar tampaknya akan ditentukan dalam hitungan hari.

Dunia kini menahan napas—menunggu apakah krisis ini akan berakhir di meja perundingan, atau berubah menjadi perang skala penuh yang mengguncang tatanan global. (***)

Film Dokumenter Baru ‘Unbroken’ Menunjukkan Ketangguhan Shen Yun Menghadapi Represi Lintas Negara

Film dokumenter ini ditayangkan perdana di AMC Lincoln Square di Manhattan, New York City, Amerika Serikat dengan penonton penuh.

EtIndonesia. NEW YORK CITY—Ketika Levi Browde pertama kali mendengar tentang ancaman bom yang menargetkan gedung teater di Taiwan, berbagai kekhawatiran langsung terngiang di pikirannya.

Dua putranya dijadwalkan tampil di sana bersama Shen Yun Performing Arts.

Berbasis di wilayah utara Negara Bagian New York, Shen Yun telah tampil untuk jutaan penonton di seluruh dunia selama dua dekade terakhir, menampilkan budaya tradisional Tiongkok dengan slogan “Tiongkok sebelum komunisme.”

Namun sejak 2024, perusahaan ini menghadapi ancaman yang semakin meningkat berupa pemboman dan kekerasan lainnya terhadap tempat-tempat pertunjukan mereka di seluruh dunia. Ini hanyalah sebagian dari upaya terselubung yang dikaitkan dengan rezim Tiongkok—mulai dari disinformasi media hingga aksi protes berbayar hingga perusakan ban kendaraan—yang bertujuan menghentikan pertunjukan mereka.

Dan, keluarga Browde telah menyaksikannya secara langsung.

Saudara Browde, Jesse (kanan) dan Lucas (kiri), dalam “Unbroken: The Untold Story of Shen Yun” pada pemutaran perdana dunianya di bioskop AMC Lincoln Square di New York City pada 24 Maret 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times

Kisah mereka menjadi bagian utama dari film dokumenter “Unbroken: The Untold Story of Shen Yun,” yang diproduksi oleh NTD, media saudara dari The Epoch Times.

Film ini ditayangkan perdana di AMC Lincoln Square di Manhattan pada 24 Maret malam dengan penonton yang memenuhi gedung.

Anggota Dewan Kota New York, Phil Wong (kedua dari kiri), dan penghubung layanan konstituen Bernard Chow (kedua dari kanan), menyerahkan sebuah proklamasi untuk Shen Yun Performing Arts bersama penari utama Shen Yun, Piotr Huang (kiri) dan Angelia Wang (kanan), pada pemutaran perdana dunia “Unbroken: The Untold Story of Shen Yun” di bioskop AMC Lincoln Square di New York City pada 24 Maret 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times

Tim pembuat film awalnya tidak mengetahui sejauh mana proyek ini akan berkembang. Proyek ini bermula sebagai laporan khusus, dan berkembang seiring waktu ketika semakin banyak temuan terungkap. Hal demikian diungkapkan oleh produser eksekutif Steve Lance.

Saat tim mengajukan pertanyaan, mengikuti para penari ke berbagai lokasi, dan menyaksikan mereka berlatih, proyek ini seolah memiliki kehidupannya sendiri, katanya.

Di satu sisi, terdapat “kampanye pengaruh yang sangat canggih, menyeluruh, dan mencakup segala aspek yang berasal dari Tiongkok, semuanya menargetkan kelompok ini,” katanya kepada The Epoch Times.

“Namun, di sinilah mereka, 20 tahun kemudian, tetap tak tergoyahkan,” katanya. “Itulah kesimpulan yang kami capai,” imbuhnya. 

Lance mengingat saat menyaksikan para penari menyiapkan panggung pada hari pertunjukan mereka di Lincoln Center pada 2025. Mereka sedang melakukan pemanasan.

“Tiba-tiba, semua 10 atau 12 penari di atas panggung secara serempak mengangkat kaki mereka lurus ke atas melewati kepala mereka, dan menahannya di posisi itu,” katanya. Tingkat fokus dan semangat yang ia lihat di mata mereka membuatnya menyadari bahwa kelompok ini berbeda.

“Mereka bukan orang-orang yang berusaha mencari ketenaran.”

Pada acara pemutaran perdana, anggota Dewan Kota New York Phil Wong membawa dua piagam penghargaan, satu dari dirinya dan satu lagi dari pendahulunya Robert Holden, yang tidak sempat menyerahkannya selama masa jabatannya. Ini menjadi perayaan ganda untuk ulang tahun ke-20 perusahaan seni tersebut, kata Wong dan stafnya.

“Mereka mencintai apa yang mereka lakukan,” kata Wong tentang Shen Yun, seraya menambahkan bahwa kelompok ini telah “melakukan begitu banyak” untuk melestarikan bentuk seni yang hampir hilang.

“Koreografinya benar-benar sempurna.”

Para penari Shen Yun menghadiri pemutaran perdana dunia “Unbroken: The Untold Story of Shen Yun” di Teater AMC di Lincoln Square, New York City, pada 24 Maret 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times

Di karpet merah, para penari Shen Yun menampilkan gaun buatan tangan berwarna-warni yang terinspirasi dari dinasti-dinasti kuno. Para penampil yang berbicara kepada The Epoch Times mengatakan bahwa mereka berharap dapat menunjukkan sisi lain dari Shen Yun yang jarang terlihat oleh penonton.


‘Pertempuran di Halaman Belakang Kami’

Keluarga Browde menggambarkan pengalaman mereka seperti berada di garis depan sebuah pertempuran.

“Kami semua merasakan tekanannya,” kata Browde kepada The Epoch Times.

Diskusi panel setelah pemutaran perdana dunia “Unbroken: The Untold Story of Shen Yun” di bioskop AMC Lincoln Square di New York City pada 24 Maret 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times

Pertempuran ini tidak dimulai di Amerika Serikat. Ini bermula ketika Partai Komunis Tiongkok meluncurkan penganiayaan nasional terhadap praktisi Falun Gong, sebuah latihan meditasi yang berlandaskan prinsip Sejati-Baik-Sabar. 

(Dari kiri ke kanan) Violinis Rachel Chen, penari utama Shen Yun Angela Lin, dan mantan penari Shen Yun Alison Chen menghadiri pemutaran perdana dunia “Unbroken: The Untold Story of Shen Yun” di bioskop AMC Lincoln Square di New York City pada 24 Maret 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times

Kampanye ini bersifat sistematis, menggabungkan propaganda kebencian, tekanan finansial, penangkapan massal, dan penyiksaan dalam upaya total untuk menghancurkan praktik tersebut. Jumlah kematian praktisi Falun Gong tidak diketahui, termasuk melalui pengambilan organ secara paksa untuk mendukung industri transplantasi yang menguntungkan bagi rezim komunis.

Dari seluruh dunia, sekelompok seniman berkumpul pada tahun 2006 dengan harapan menyoroti pelanggaran hak asasi manusia oleh rezim Tiongkok serta menghidupkan kembali warisan budaya Tiongkok, yang kemudian dikenal sebagai Shen Yun.

Para penonton diwawancarai pada pemutaran perdana dunia “Unbroken: The Untold Story of Shen Yun” di bioskop AMC Lincoln Square di New York City pada 24 Maret 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times

Sejak awal berdirinya, rezim tersebut bertekad untuk menekannya, menggunakan pengaruh diplomatik dan finansial untuk menekan negara dan teater penyelenggara—terkadang berhasil. Namun dalam beberapa tahun terakhir, upaya Beijing semakin meningkat.

Pada akhir 2022, pemimpin Tiongkok Xi Jinping menginstruksikan pejabat tinggi untuk memanfaatkan organisasi media Barat serta media sosial guna menyerang Falun Gong dan perusahaan yang didirikan oleh para praktisinya di seluruh dunia, menurut laporan sebelumnya dari The Epoch Times berdasarkan sumber yang mengetahui pertemuan rahasia tersebut.

Sejak itu, sebuah kasus federal oleh Departemen Kehakiman AS mengungkap rencana suap di mana dua agen Tiongkok mencoba membayar seorang pejabat IRS atau dinas pajak AS untuk membuka penyelidikan terhadap Shen Yun. Pejabat IRS tersebut ternyata adalah agen FBI yang menyamar.

Sementara itu, lebih dari selusin artikel yang menyerang Shen Yun dan Falun Gong mulai muncul di The New York Times.

Browde, yang keluarganya telah membaca The New York Times sejak era Eisenhower, mengatakan ia hampir merasa “dikhianati” ketika melihat artikel-artikel tersebut.

“Ini adalah contoh terbaik dalam hidup saya tentang kegagalan The Times dalam meliput berita dengan benar,” katanya.

Selama lebih dari dua dekade, Browde memimpin Falun Dafa Information Center, yang menyoroti penderitaan praktisi Falun Gong di Tiongkok. Ia mengatakan kampanye Beijing terus meningkatkan tekanan terhadap dirinya, bahkan menjadi semakin personal.

“Seolah-olah ada dua panggung dalam perang ini,” katanya.

Meningkatkan kesadaran tentang penganiayaan di negeri yang jauh saja sudah cukup sulit, katanya, “tetapi sekarang kami juga harus menghadapi kampanye di Amerika yang berusaha membungkam kami, mengintimidasi kami, dan, yang paling penting, meyakinkan orang lain agar tidak mendengarkan kami.”

Hal ini terasa seperti “pertempuran di halaman belakang kami,” katanya.


‘Memperjuangkan Kebenaran’ 

Banyak penonton pada 24 Maret mengaku terkejut setelah menonton film tersebut.

“Shen Yun adalah gambaran masyarakat kuno yang telah dihancurkan oleh rezim yang tidak percaya pada kebebasan,” kata produser TV Maria Cavenaghi kepada The Epoch Times. “Hal pertama yang dilakukan seorang diktator adalah membungkam budaya, membungkam suara rakyat.”

Produser TV Maria Cavenaghi menghadiri pemutaran perdana dunia “Unbroken: The Untold Story of Shen Yun” di AMC Lincoln Square, New York City, pada 24 Maret 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times

Aktris dan model Kimberly Magness menggambarkan dokumenter tersebut sebagai “seperti mimpi.”

“Ancaman bom, perusakan ban, fakta bahwa ada semua serangan ini dan mata-mata Tiongkok—saya sama sekali tidak tahu tentang semua ini,” katanya kepada The Epoch Times. Ia mengatakan momen favoritnya adalah ketika salah satu penari mengatakan bahwa pikiran bisa menjadi hal yang menahan seseorang—sesuatu yang ia rasakan sebagai seorang penampil.

Aktris Kimberly Magness menghadiri pemutaran perdana dunia “Unbroken: The Untold Story of Shen Yun” di AMC Lincoln Square, New York City, pada 24 Maret 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times

“Fakta bahwa mereka bertahan melalui semuany dan tetap tampil, dan tetap menciptakan keajaiban ini, sangat berarti,” katanya.

Ia berharap dapat bertemu para seniman untuk menunjukkan dukungan. “Mereka adalah orang-orang yang sangat kuat, luar dan dalam,” katanya.

Aktor Thomas Copeland, yang juga berbasis di New York City, turut mengungkapkan kekagumannya terhadap semangat para seniman. Ia mendorong mereka untuk “terus memperjuangkan kebenaran.”

Aktor dan produser Thomas M. Copeland menghadiri pemutaran perdana dunia “Unbroken: The Untold Story of Shen Yun” di AMC Lincoln Square, New York City, pada 24 Maret 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times

“Setiap orang berhak atas kebebasan,” katanya.

Dampak kampanye Beijing telah menyebar ke seluruh dunia. Perdana Menteri Australia Anthony Albanese baru-baru ini dievakuasi dari kediaman resminya setelah penyelenggara lokal Shen Yun menerima email berbahasa Tiongkok yang menyatakan bahwa keselamatan pribadinya akan terancam jika pertunjukan tetap berlangsung.

Meski sulit, para seniman dan keluarga mereka mengatakan bahwa mereka akan terus melangkah maju.

“Kami memberikan suara kepada … orang-orang berkeyakinan di Tiongkok yang tidak memiliki suara,” kata putra sulung Browde, Jesse Browde, kepada NTD menjelang acara tersebut.

Ini adalah sesuatu yang “jauh lebih besar daripada diri saya sendiri,” katanya.

Para penari Shen Yun menghadiri pemutaran perdana dunia “Unbroken: The Untold Story of Shen Yun” di AMC Lincoln Square, New York City, pada 24 Maret 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times

#Artikel ini sebelum terbit di The Epoch Times edisi bahasa Inggris

Perang di Timur Tengah Picu Kekurangan Energi di India, Kompor Induksi Laris—400 Ribu Unit Terjual dalam 10 Hari Hingga Gunakan Kayu Bakar

Akibat konflik di Timur Tengah yang menyebabkan gangguan pasokan energi, India mengalami kesulitan distribusi energi. Gas LPG yang biasa digunakan rumah tangga, pedagang kecil, dan restoran masih langka hingga kini. Masyarakat pun berupaya mengurangi ketergantungan pada tabung LPG, sehingga di beberapa wilayah terjadi fenomena mengejutkan: 400.000 unit kompor induksi terjual hanya dalam waktu 10 hari.

EtIndonesia.  Di tengah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, sekitar 20% pengiriman minyak dan gas dunia yang melewati Selat Hormuz terganggu akibat blokade Iran, sehingga distribusi energi global terdampak serius.

Menurut laporan NDTV, kepanikan masyarakat terhadap kelangkaan LPG mendorong mereka mencari alternatif memasak. Hal ini memicu lonjakan penjualan kompor induksi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di kota satelit selatan New Delhi, Gurgaon, seorang distributor besar mencatat penjualan hingga 400.000 unit hanya dalam 10 hari.

Seorang manajer toko dari jaringan ritel elektronik di New Delhi, Gopal Agarwal, mengatakan bahwa saat ini masyarakat berbondong-bondong membeli kompor induksi dan produk sejenis. Namun, karena harga produk merek internasional relatif mahal dan biasanya tidak banyak disimpan sebagai stok, produk yang paling banyak terjual dalam lonjakan ini adalah kompor induksi buatan lokal India yang lebih terjangkau.

Ia menambahkan bahwa karena lonjakan permintaan yang tiba-tiba, banyak toko—termasuk miliknya—kehabisan stok. Meski begitu, sebagian besar toko masih menerima pemesanan, dengan waktu tunggu sekitar 5 hingga 7 hari.

Seorang warga bernama Satyam mengatakan bahwa biasanya rumah tangga menggunakan LPG untuk memasak, sementara kompor induksi hanya sesekali dipakai. Karena kekurangan LPG, keluarganya ingin kembali menggunakan kompor induksi, tetapi ternyata alat lama sudah rusak, sehingga ia harus membeli yang baru.

“Kalau tidak bisa mendapatkan yang baru, mungkin harus memperbaiki yang lama,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa sebelumnya kompor induksi jarang dipajang di toko dan sering mendapat diskon hingga sekitar 30%. Namun sekarang, selain sulit ditemukan, produk tersebut juga tidak lagi didiskon.

Warga lain, Sunned Kumar, mengatakan bahwa kompor induksi sudah tidak tersedia di platform e-commerce, sehingga ia datang langsung ke toko fisik untuk mencoba peruntungan. Karena sulit mendapatkan LPG, keluarganya kini mulai memasak menggunakan microwave dan oven listrik.

Dalam kondisi kelangkaan LPG, masyarakat India berusaha menyesuaikan gaya hidup mereka. Beberapa restoran mulai menggunakan batu bara dan kayu bakar untuk memasak. Media India Today melaporkan bahwa beberapa kantin sekolah terpaksa menyesuaikan menu karena kekurangan LPG, sehingga makanan seperti roti panggang dan gorengan untuk sementara tidak dapat disediakan.

Sumber: CNA / Editor: Lin Qing

Layar Besar Rumah Duka di Kota Kecil di Tiongkok Bocor, Dipenuhi Data—Sebagian Besar Korban adalah Anak Muda

Jumlah kematian anak muda di daratan Tiongkok disebut mengejutkan, namun karena ditutupi oleh otoritas, hal ini tidak banyak diketahui dunia luar. Baru-baru ini, data dari sebuah rumah duka di kota kecil menunjukkan bahwa sebagian besar yang meninggal adalah anak muda, membuat warganet terkejut dan merasa ngeri.

EtIndonesia. Pada 22 Maret, seorang pengguna internet dengan alamat IP dari Sichuan mengunggah postingan yang mengungkapkan bahwa temannya sejak awal tahun ini bekerja di sebuah rumah duka di kota kecil. Menurut penuturan temannya, angka-angka yang ditampilkan di layar besar yang memuat informasi almarhum di dalam rumah duka tersebut sangat mengerikan.

Dalam postingannya, pengguna tersebut menulis:
“Baru awal tahun 2026, tapi setiap hari melihat data seperti ini benar-benar menakutkan. Ini hanya sebuah kota kecil tempat teman saya bekerja. Setelah melihat ini, apa lagi yang perlu direbutkan atau dipikirkan berlebihan? Setiap orang datang ke dunia ini dengan tangan kosong, dan pergi juga tanpa membawa apa-apa. Hanya saat sehat dan bahagia, dunia ini benar-benar milikmu—yang lainnya hanyalah seperti awan yang berlalu.”

(Tangkapan layar dari internet)

Di bawah postingan tersebut terdapat “pengumuman pemakaman” dari rumah duka itu, yang memuat daftar panjang nama-nama orang yang meninggal dunia serta usia mereka. Daftar ini mengungkap fakta yang keras: sebagian besar yang meninggal adalah anak muda. Salah satu gambar menunjukkan daftar 18 Maret 2026, di mana dalam waktu hanya satu jam terdapat 7 jenazah yang diberangkatkan untuk pemakaman, dengan usia tertua 90 tahun dan yang termuda hanya 17 tahun.

Dalam daftar lain tertanggal 24 Februari, usia tertua hanya 45 tahun dan yang termuda 15 tahun, sementara lainnya termasuk usia 18, 25, 28, dan 30 tahun.

(Tangkapan layar dari internet)

Menanggapi hal ini, beberapa warganet berkomentar:
“Ini bukan rumah sakit besar di kota-kota seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou, atau Shenzhen yang penuh pasien karena begadang—ini hanya kota kecil biasa!”
“Apa masih mau menaikkan usia pensiun?”
Ada juga yang mengatakan: “Ini cuma kumpulan kasus individual dalam jumlah besar.”

(Tangkapan layar dari internet)

Sejak pandemi COVID-19, di  daratan Tiongkok terus bermunculan laporan tentang banyaknya kasus kematian mendadak di kalangan anak muda. Pada 24 Maret, sebuah perusahaan pendidikan di Suzhou mengumumkan bahwa seorang tokoh pendidikan internet terkenal, Zhang Xuefeng, meninggal akibat henti jantung mendadak pada usia 41 tahun.

Screenshot

Menurut data publik, sejak Januari hingga Februari tahun ini, sejumlah pengacara muda juga meninggal secara beruntun: pada 27 Februari, pengacara Xu Xuehan dari Nanjing meninggal dunia pada usia 36 tahun; 25 Februari, pengacara Chen Weiwei dari Shanghai meninggal pada usia 43 tahun; 6 Februari, pengacara Sun Tao dari firma hukum Longan (Nanjing) meninggal secara mendadak pada usia 35 tahun; 2 Januari, pengacara Su Ze dari Zhejiang meninggal pada usia 36 tahun; dan 18 Januari, pengacara Yan Yafeng dari Shanghai meninggal karena penyakit mendadak pada usia 48 tahun.

Screenshot

Pada Januari lalu, warga daratan Tiongkok mengungkapkan kepada NTDTV bahwa menjelang Tahun Baru Imlek, wabah kembali mencapai puncak di Tiongkok. Rumah sakit dan klinik penuh sesak, namun informasi tersebut ditutupi oleh otoritas. 

Screenshot

Warga di berbagai daerah serta pelaku industri pemakaman juga menyebutkan bahwa banyak lansia meninggal, dan kasus kematian mendadak di kalangan anak muda juga meningkat. Industri pemakaman dan krematorium sangat sibuk, bahkan beberapa rumah duka terus merekrut tenaga kerja tambahan.

Laporan disusun oleh reporter Li Li / Editor: Lin Qing

Komando Pusat AS: Iran “Sudah Berada di Jalan Buntu”

EtIndonesia. Perang di Timur Tengah telah memasuki hari ke-25. Meskipun Amerika Serikat sedang melakukan negosiasi dengan Iran, strategi yang diambil tetap “bertarung sambil berunding”. 

Menurut laporan terbaru dari United States Central Command (CENTCOM), sejak pecahnya perang pada 28 Februari, militer AS telah melakukan serangan presisi terhadap lebih dari 9.000 target di dalam wilayah Iran.

“Pada awal konflik, kita menyaksikan serangan besar-besaran drone dan rudal, sering kali mencapai puluhan unit. Kini, situasi itu sudah tidak terlihat lagi; serangan sekarang biasanya hanya satu atau dua unit saja. Ini menunjukkan perubahan besar dalam situasi perang. Keputusasaan mereka terlihat dari beberapa minggu terakhir, di mana mereka telah mengalihkan target dari fasilitas militer ke fasilitas sipil, dan secara sengaja melancarkan lebih dari 300 serangan terhadap target sipil,” kata Panglima CENTCOM Laksamana Brad Cooper. 

CENTCOM juga merilis daftar target yang telah dihancurkan, termasuk lebih dari 140 kapal angkatan laut Iran yang ditenggelamkan serta sekitar 330 peluncur rudal balistik yang berhasil dihancurkan.

Militer AS terus menggunakan pesawat pengebom siluman B-2 Spirit untuk melakukan beberapa gelombang serangan terhadap bunker rudal bawah tanah, sehingga melemahkan kemampuan Iran untuk melancarkan serangan terhadap pasukan AS.

Namun, serangan terhadap kapal dagang di Selat Hormuz masih terus berlangsung.

Pentagon mengonfirmasi bahwa 2.500 personel Marinir telah selesai dikerahkan ke Timur Tengah. Ini merupakan pengerahan pasukan terbesar sejak Perang Irak 2003. Pentagon menegaskan bahwa jika dalam lima hari Iran masih tidak membuka kembali selat tersebut, militer AS akan meluncurkan “gelombang serangan yang lebih besar”.

Pangkalan angkatan laut Iran, basis rudal balistik, dan fasilitas industri pertahanan tetap menjadi target utama. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Kelompok Garis Keras Iran Ambil Alih Posisi Keamanan Nasional, Lebanon Usir Duta Besar Iran

Pada Selasa (24/3/2026), Iran mengumumkan penunjukan mantan komandan Garda Revolusi, Mohammad Bagher Zolghadr, sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, menggantikan Ali Larijani yang sebelumnya dilaporkan tewas dalam serangan terarah oleh Amerika Serikat dan Israel. Pada saat yang sama, sikap Lebanon dan negara-negara Teluk terhadap Iran juga terlihat semakin keras.

EtIndonesia. Presiden Masoud Pezeshkian secara resmi mengumumkan penunjukan baru sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran. Zolghadr pernah menjabat sebagai komandan di Garda Revolusi dengan pangkat brigadir jenderal, serta lama memegang posisi penting dalam sistem keamanan Iran, termasuk sebagai wakil menteri dalam negeri bidang keamanan, wakil di staf umum angkatan bersenjata, dan penasihat senior di lembaga peradilan.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dipimpin oleh presiden dan merupakan lembaga inti yang mengkoordinasikan kebijakan keamanan dan luar negeri. Para analis menilai bahwa penunjukan Zolghadr menandakan Iran kemungkinan akan mengambil pendekatan yang lebih keras dan lebih militeristik dalam isu nuklir dan konflik regional ke depan.

Namun, jika Iran terus mengambil garis keras, negara-negara tetangganya tampaknya tidak lagi bersikap toleran.

Pada hari yang sama, Kementerian Luar Negeri Lebanon mengumumkan pencabutan akreditasi terhadap calon duta besar Iran dan menetapkannya sebagai “persona non grata”, serta memerintahkan agar ia meninggalkan negara tersebut sebelum  Minggu. Lebanon juga menarik duta besarnya dari Iran, dengan menuduh Teheran melanggar norma diplomatik dan kesepakatan bilateral.

Seiring meningkatnya serangan Iran terhadap negara-negara Teluk Persia, negara-negara Arab yang selama ini cenderung netral atau hanya bersikap defensif dalam konflik AS-Iran kini mulai bergabung dalam barisan yang menentang Iran, dengan sikap yang semakin tegas.

Menurut laporan The Wall Street Journal, sumber yang mengetahui situasi tersebut mengungkapkan bahwa Arab Saudi baru-baru ini telah menyetujui penggunaan pangkalan udara Raja Fahd oleh militer AS. Sebelumnya, Arab Saudi menegaskan tidak akan mengizinkan wilayah atau wilayah udaranya digunakan untuk menyerang Iran. Namun setelah Iran meluncurkan rudal dan drone ke fasilitas energi Saudi dan ibu kota Riyadh, sikap tersebut mulai berubah. Sumber menyebutkan bahwa Putra Mahkota Mohammed bin Salman ingin segera memulihkan daya tangkal, dan “keterlibatan militer Saudi hanya tinggal menunggu waktu”.

Sementara itu, Uni Emirat Arab juga sedang mempertimbangkan untuk mengirim pasukan ke dalam konflik, serta menolak kesepakatan gencatan senjata yang masih mempertahankan sebagian kemampuan militer Iran. 

Pemerintah UEA menyatakan akan menutup sejumlah lembaga yang terkait langsung dengan rezim Iran dan Garda Revolusi, serta memperingatkan kemungkinan pembekuan aset Iran senilai miliaran dolar di wilayahnya.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat sedang mendorong pembentukan “sistem pertahanan udara dan pertahanan bersama” yang melibatkan Israel dan negara-negara Arab. Meskipun masih ada perbedaan pandangan, konsensus regional dalam menghadapi ancaman Iran tampak semakin menguat dengan cepat. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Kecelakaan Udara Paling Parah di Kolombia Beberapa Tahun Terakhir : Pesawat Militer Jatuh, 66 Orang Tewas dan 4 Hilang

EtIndonesia. Sebuah pesawat militer Kolombia yang membawa lebih dari 100 orang jatuh saat lepas landas di daerah terpencil. Sedikitnya 66 orang dilaporkan tewas, sementara tim penyelamat masih mencari 4 orang yang hilang. Penyebab kecelakaan masih dalam penyelidikan.

 “Pesawat itu lepas landas, lalu kami melihatnya berbalik arah dan mulai menurun. Saya berkata: ‘Ya Tuhan, pesawat itu sepertinya akan jatuh.’ Lalu kami merasakan benturan dan saya berkata: ‘Ya Tuhan, pesawat itu benar-benar jatuh,” kata seorang saksi mata, Rombarilama. 

Angkatan Udara Kolombia pada Senin malam menyatakan bahwa sebuah pesawat angkut C-130 “Hercules” yang diproduksi oleh Lockheed Martin jatuh tak lama setelah lepas landas di wilayah barat daya Kolombia, dekat perbatasan Peru, tepatnya di daerah Puerto Leguízamo. Saat itu terdapat 128 orang di dalam pesawat, termasuk 11 personel angkatan udara, 115 personel angkatan darat, dan 2 anggota polisi nasional.

Menurut informasi resmi, pesawat tersebut sedang mengangkut pasukan ketika kecelakaan terjadi. Setelah benturan, pesawat terbakar dan menyebabkan amunisi di dalamnya meledak.

 “Dengan sangat menyesal, akibat kecelakaan tragis ini, 66 personel militer kita telah gugur, dan saat ini proses identifikasi masih berlangsung. Di antaranya terdapat 6 anggota Angkatan Udara Kolombia, 58 anggota Angkatan Darat, dan 2 anggota Polisi Nasional. Saat ini masih ada 4 personel yang belum ditemukan,” kata Panglima Angkatan Bersenjata Kolombia, Jenderal Hugo Alejandro López Barreto.

Peristiwa ini menjadi salah satu kecelakaan udara paling serius di Kolombia dalam beberapa tahun terakhir. Puing-puing pesawat tersebar di area ladang dengan asap hitam tebal membumbung. Selain tim penyelamat, warga setempat juga membantu mengevakuasi korban selamat dan memadamkan api.

Hingga kini, penyebab kecelakaan masih diselidiki. Menteri Pertahanan Kolombia, Pedro Arnulfo Sánchez menegaskan bahwa kemungkinan serangan dari kelompok bersenjata ilegal telah dikesampingkan.

Setelah kejadian, Presiden Gustavo Petro menulis di platform X bahwa kemampuan tempur militer telah menurun selama 15 tahun, serta mengkritik birokrasi yang menghambat rencana modernisasi militer.

Laporan oleh reporter NTDTV, Guo Yuexi.

Trump Mengeluarkan Perintah Setelah Mengetahui Peluang “Menyingkirkan” Pimpinan Tinggi Iran

ETIndonesia. Berdasarkan informasi terbaru yang diperoleh Reuters, kurang dari 48 jam sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara melalui telepon dengan Presiden AS Donald Trump untuk membahas waktu pelaksanaan operasi militer terhadap Iran. Saat panggilan itu berlangsung, Trump belum memutuskan kapan dan dalam kondisi apa AS akan terlibat.

Sumber yang mengetahui situasi tersebut mengungkapkan kepada Reuters bahwa Trump dan Netanyahu saat itu menerima pengarahan intelijen yang menunjukkan bahwa pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei beserta lingkaran dekatnya akan segera mengadakan pertemuan di kediamannya di Teheran.

Dalam percakapan tersebut, Netanyahu menyatakan bahwa ini mungkin merupakan kesempatan terbaik untuk menargetkan Khamenei dan membalas upaya Iran sebelumnya yang diduga mencoba membunuh Trump, dan peluang seperti itu mungkin tidak akan muncul lagi.

Sebelumnya, Iran disebut pernah berupaya membunuh Trump, termasuk dugaan rencana pembunuhan bayaran pada tahun 2024 saat Trump masih menjadi kandidat presiden.

Departemen Kehakiman AS menuduh seorang pria asal Pakistan mencoba merekrut orang di Amerika Serikat untuk menjalankan rencana tersebut, yang disebut bertujuan membalas kematian Qassem Soleimani, yang tewas dalam operasi militer AS sebelumnya.

Sumber juga menyebutkan bahwa saat percakapan berlangsung, Trump telah menyetujui gagasan untuk mengambil tindakan militer terhadap Iran, namun belum menentukan waktu maupun skenario keterlibatan.

Menurut tiga orang yang mengetahui isi pembicaraan tersebut, intelijen baru kemudian menunjukkan bahwa jadwal pertemuan Khamenei dimajukan dari Sabtu malam (27 Februari) menjadi Sabtu pagi. Mereka meyakini bahwa percakapan tersebut, ditambah dengan informasi bahwa “jendela waktu” untuk menargetkan Khamenei semakin sempit, akhirnya mendorong Trump pada 27 Februari untuk memerintahkan militer meluncurkan operasi yang disebut “Operation Epic Fury”.

Bom pertama diluncurkan pada pagi hari 28 Februari. Pada malam harinya, Trump mengumumkan bahwa Khamenei telah tewas. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Tiongkok Luncurkan Pemetaan Dasar Laut Secara Intensif di Tiga Samudra, Diduga untuk Mendukung Operasi Kapal Selam

EtIndonesia. Partai Komunis Tiongkok (PKT) tengah melakukan operasi besar-besaran pemetaan dan pemantauan dasar laut di Samudra Pasifik, Samudra Hindia, serta kawasan Arktik. Para ahli angkatan laut menilai langkah ini menunjukkan Beijing sedang mempercepat pembangunan kemampuan operasi kapal selam jarak jauh, bahkan kemungkinan sebagai persiapan menghadapi konfrontasi bawah laut dengan Amerika Serikat dan sekutunya di masa depan.

Kantor berita Reuters meninjau data pelacakan kapal penelitian Tiongkok selama bertahun-tahun dan menemukan banyak aktivitas yang tidak biasa.

Sebagai contoh, kapal riset “Dongfanghong-3” milik Ocean University of China, dalam periode 2024 hingga 2025, berulang kali berlayar bolak-balik di sekitar Taiwan, dekat pangkalan militer AS di Guam, serta jalur strategis di Samudra Hindia.

Meskipun pihak universitas menyatakan kapal tersebut menjalankan penelitian sedimen dan iklim, publikasi akademik dari para penelitinya menunjukkan bahwa kapal itu juga melakukan pemetaan laut dalam secara luas.

Para ahli strategi angkatan laut dan pejabat AS menilai data laut dalam ini dapat membantu PKT memahami lingkungan bawah laut, sehingga meningkatkan efisiensi penempatan kapal selam, serta kemampuan mendeteksi dan memburu kapal selam lawan.

Analisis lebih lanjut oleh Reuters terhadap data platform pelacakan kapal, yang dibandingkan dengan catatan publik pemerintah dan lembaga akademik Tiongkok, menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir terdapat hingga 42 kapal riset Tiongkok yang aktif di Pasifik, Hindia, dan Arktik. Hal ini menunjukkan adanya operasi besar yang melibatkan puluhan kapal dan ratusan sensor dasar laut.

Para ahli menyebutkan bahwa meskipun penelitian ini memiliki nilai sipil, seperti survei perikanan atau eksplorasi mineral, namun juga memiliki kegunaan militer yang jelas. 

Data pelacakan menunjukkan kapal-kapal ini sering berlayar dalam pola garis lurus yang rapat—ciri khas pemetaan topografi dasar laut.

Wilayah fokus pemetaan ini mencakup: sekitar Filipina yang merupakan inti dari rantai pulau pertama, Guam dan Hawaii yang memiliki pangkalan kapal selam nuklir AS, serta area di sekitar fasilitas militer AS lainnya.

Seorang pakar pertahanan dan keamanan dari University of Western Australia, Parker, menyatakan bahwa skala operasi ini jauh melampaui kebutuhan eksploitasi sumber daya, dan menunjukkan upaya PKT membangun kekuatan angkatan laut jarak jauh yang berpusat pada operasi kapal selam.

Para ahli menekankan bahwa data seperti topografi laut dalam, suhu air, salinitas, dan arus laut merupakan kunci bagi penyamaran, navigasi, deteksi anti-kapal selam, serta penempatan sensor dan senjata bawah laut. Pejabat Angkatan Laut AS juga memperingatkan bahwa data ini “dapat mengubah keseimbangan dalam perang kapal selam”.

Selain itu, para peneliti dari Ocean University of China pada tahun 2014 mengusulkan proyek “Laut Transparan”, yang kini telah memasang banyak sensor, pelampung, dan jaringan bawah laut di Laut Tiongkok Selatan, Pasifik, dan Samudra Hindia untuk memantau suhu, salinitas, arus, dan aktivitas dasar laut.

Banyak sensor tersebut ditempatkan di lokasi sensitif, termasuk jalur yang biasa dilalui kapal selam AS menuju Laut Tiongkok Selatan.

Sumber : NTDTV.com

Harga Minyak Melonjak Lalu Turun Kembali, Pasar Keuangan Global Tetap Bergejolak

Di tengah fluktuasi tajam harga minyak dan pasar saham akibat perang, sebuah kilang minyak milik Valero di Texas, AS, mengalami ledakan besar pada 23 Maret, menyebabkan penutupan fasilitas tersebut dan berdampak pada lebih dari 2% kapasitas produksi nasional. Selain itu, Jepang mengumumkan akan mulai melepas cadangan minyak nasional mulai 26 Maret.

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada akhir pekan mengeluarkan “ultimatum 48 jam” kepada Iran, menuntut agar Selat Hormuz dibuka kembali. Harga minyak Brent sempat melonjak hingga 113 dolar AS per barel. Namun kemudian, Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap jaringan listrik Iran selama lima hari dan menyatakan kedua pihak sedang melakukan negosiasi aktif, sehingga harga minyak turun kembali ke 97 dolar AS per barel.

Meski demikian, pada Selasa (24 Maret), Iran meluncurkan beberapa serangan rudal ke Israel, kembali meningkatkan ketegangan pasar.

Saat ini, harga minyak Brent berada di 102,83 dolar AS per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) di 90,62 dolar AS per barel.

Kilang terbesar milik Valero di Port Arthur, Texas, mengalami ledakan pada unit pengolahan diesel (hydrotreater) yang memicu kebakaran dan menyebabkan penghentian operasi. Kilang ini memiliki kapasitas produksi sekitar 380.000 barel per hari dan merupakan fasilitas besar yang memproduksi bahan bakar penting seperti diesel. Penutupan ini diperkirakan akan mempengaruhi pasokan dan harga bahan bakar.

Jepang telah melepas cadangan minyak swasta setara 15 hari konsumsi. Perdana Menteri Sanae Takaichi mengumumkan bahwa mulai 26 Maret, pemerintah juga akan melepas cadangan strategis nasional untuk menstabilkan pasokan energi.

Pasar saham global bergejolak. Indeks MSCI naik 0,3%, namun masih sekitar 7% di bawah puncaknya pada Februari. Indeks FTSE 100 turun 4,8% dalam lima hari terakhir. Di Asia, indeks Nikkei 225 Jepang dan Hang Seng Hong Kong masing-masing turun lebih dari 3% sejak pekan lalu.

Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat, dengan tenor 2 tahun sekitar 3,88% dan 10 tahun sekitar 4,36%.

Pertumbuhan ekonomi Eropa menunjukkan perlambatan yang jelas, dengan ekspektasi inflasi meningkat dan gangguan rantai pasok yang semakin parah.

Untuk logam mulia, harga emas spot stabil di sekitar 4.400 dolar AS per ons.

Laporan oleh reporter NTDTV, Zheng Shengxun dari Amerika Serikat.

Iran Tiba-tiba Luluh! Setuju Negosiasi Saat Dihantam 9.000 Serangan AS

EtIndonesia. Situasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat memasuki fase baru yang mengejutkan. Pada 24 Maret 2026, ketika dunia memperkirakan Iran akan terus melanjutkan perlawanan hingga titik akhir, justru muncul sinyal kuat bahwa Teheran siap berunding.

Laporan dari saluran televisi satelit Arab mengungkap bahwa pemimpin tertinggi Iran yang baru, telah menyetujui untuk segera mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat.

Informasi ini diperkuat oleh media Israel yang menyebut bahwa Menteri Luar Negeri Iran telah mengirimkan sinyal langsung kepada dua utusan Presiden AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, bahwa Iran bersedia memasuki meja perundingan.

Menariknya, lokasi negosiasi disebut-sebut akan digelar di Pakistan, yang menyatakan kesiapannya menjadi mediator.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, secara terbuka menyatakan dukungan penuh terhadap dialog tersebut dan menawarkan negaranya sebagai tuan rumah untuk mendorong solusi damai di kawasan.

Negosiasi atau Tekanan?

Meski disebut sebagai upaya perdamaian, banyak analis menilai situasi ini jauh dari negosiasi yang setara.

Kondisi Iran saat ini dinilai berada dalam posisi sangat lemah—baik secara militer maupun politik. Struktur kepemimpinan dilaporkan terguncang, sementara sistem pertahanan udara mengalami kerusakan besar.

Dengan kondisi tersebut, perundingan yang terjadi lebih menyerupai “kesepakatan di bawah tekanan” dibanding dialog antara dua pihak yang seimbang.

Trump: “Tidak Ada Radar, Tidak Ada Pemimpin”

Pada hari yang sama, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memberikan pernyataan tegas mengenai kondisi Iran saat ini.

Dia mengatakan: “Tidak ada radar yang tersisa. Tidak ada pemimpin yang tersisa. Tidak ada yang tahu harus berbicara dengan siapa. Tapi kami berbicara dengan orang yang tepat—dan mereka sangat ingin membuat kesepakatan.”

Pernyataan ini menggambarkan tingkat kerusakan yang dialami struktur militer dan kepemimpinan Iran akibat operasi militer yang berlangsung intensif.

9.000 Serangan Udara: Fondasi Iran Diguncang

Menurut data dari Komando Pusat AS (CENTCOM) hingga 24 Maret 2026, militer Amerika Serikat telah melaksanakan:

  • Lebih dari 9.000 misi tempur
  • Menghancurkan lebih dari 9.000 target militer

Target tersebut mencakup:

  • Markas Garda Revolusi Iran
  • Pabrik rudal balistik
  • Sistem pertahanan udara
  • Fasilitas angkatan laut

Serangan dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan, dengan intensitas rata-rata belasan target dihancurkan setiap jam.

Operasi ini disebut telah mengguncang fondasi kekuatan militer Iran yang dibangun selama puluhan tahun.

Serangan Balasan Iran Gagal Efektif

Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan besar-besaran dengan:

  • Sekitar 79 gelombang serangan
  • Total sekitar 9.000 rudal dan drone

Target serangan meliputi Israel, pangkalan militer AS, serta wilayah negara-negara Teluk.

Namun hasilnya jauh dari harapan:

  • Hanya 119 serangan yang berhasil meledak
  • Tingkat keberhasilan sekitar 1,32%

Sebagian besar serangan:

  • Dicegat oleh sistem pertahanan udara
  • Gagal mencapai target
  • Atau justru menyasar wilayah yang tidak diinginkan

Serangan yang semula diklaim sebagai “serangan jenuh mematikan” pada akhirnya dinilai tidak efektif menghadapi keunggulan teknologi militer lawan.

Negara Arab Berbalik Menekan Iran

Serangan Iran yang meluas justru memicu reaksi keras dari negara-negara Arab.

Beberapa perkembangan penting hingga 24 Maret 2026:

  • Arab Saudi mendesak AS untuk terus melanjutkan serangan
  • Pangkalan Udara Raja Khalid dibuka untuk operasi militer AS
  • Uni Emirat Arab menyita aset-aset Iran di wilayahnya
  • Lebanon mengusir duta besar Iran

Dalam waktu satu minggu, sedikitnya empat negara Arab telah mengambil langkah diplomatik keras terhadap Teheran.

NATO dan Eropa Mulai Terlibat

Di Eropa, respons terhadap konflik ini juga meningkat.

Sekretaris Jenderal NATO menyatakan dukungan terhadap langkah Amerika Serikat, dengan alasan menjaga stabilitas energi global.

Sebanyak 22 negara Eropa kini mempertimbangkan keterlibatan dalam operasi pengamanan Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan minyak dunia.

Serangan Udara Semakin Intens

Meski pembicaraan mulai dibuka, operasi militer justru terus meningkat.

Pada 23 Maret 2026, Angkatan Udara AS menggunakan pembom siluman B-2 untuk menjatuhkan bom penghancur bunker GBU-57 ke fasilitas rudal bawah tanah di Iran selatan.

Serangan ini memicu:

  • Ledakan berantai
  • Kerusakan besar pada fasilitas militer
  • Risiko tambahan bagi area sekitar

Serangan juga dilaporkan terjadi di:

  • Isfahan (fasilitas militer)
  • Bushehr (pangkalan laut)

Israel Serang Hizbullah di Beirut

Secara paralel, Israel memperluas operasi militernya ke Lebanon.

Serangan udara di Beirut menghancurkan pusat komando Hizbullah, termasuk:

  • Unit elite Radwan
  • Markas intelijen

Sebuah gedung bertingkat dilaporkan hancur total akibat serangan tersebut.


Iran Gunakan Rudal Baru ke Tel Aviv

Iran juga memperkenalkan jenis rudal balistik baru dalam serangan ke Tel Aviv.

Rudal tersebut:

  • Terpecah menjadi beberapa hulu ledak di fase akhir
  • Berhasil menembus sebagian sistem pertahanan udara

Akibatnya:

  • Beberapa bangunan rusak
  • Sedikitnya empat warga sipil terluka

Strategi AS: Lumpuhkan Infrastruktur Listrik

Salah satu strategi utama AS adalah menyerang infrastruktur listrik Iran.

Intelijen menemukan bahwa beberapa kota kecil memiliki kapasitas listrik yang jauh melebihi kebutuhan sipil.

Diduga kuat, kelebihan energi tersebut digunakan untuk:

  • Fasilitas pengayaan uranium
  • Sistem rudal bawah tanah

Dengan menghancurkan pembangkit listrik, AS dapat:

  • Melumpuhkan fasilitas militer tersembunyi
  • Mengurangi risiko korban sipil langsung

Jika Negosiasi Gagal

Jika perundingan dalam beberapa hari ke depan tidak mencapai hasil, sejumlah target strategis berikut diperkirakan akan menjadi sasaran:

  • Pembangkit listrik Damavand dekat Teheran
  • Bendungan Karun-3
  • Pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr

Namun risiko bencana lingkungan dan nuklir membuat opsi ini sangat sensitif.

Pasukan Elite AS Mulai Dikerahkan

Pada 24 Maret 2026, Amerika Serikat juga mulai mengerahkan Divisi Lintas Udara ke-82, salah satu unit elit paling berpengalaman.

Pasukan ini sebelumnya terlibat dalam:

  • Perang Dunia II
  • Perang Irak
  • Perang Afghanistan

Langkah ini menunjukkan kemungkinan meningkatnya operasi ke tahap darat jika situasi memburuk.

Dua Skenario Akhir Konflik

Berdasarkan perkembangan terbaru, konflik ini diperkirakan akan berakhir dalam dua kemungkinan:

  1. Iran menerima seluruh syarat Amerika Serikat melalui negosiasi
  2. Amerika Serikat mengambil alih Selat Hormuz dan fasilitas nuklir Iran secara paksa

Dengan tekanan militer dari luar dan ketidakstabilan internal, masa depan rezim Iran kini berada di titik paling genting dalam beberapa dekade terakhir.

Dunia Berubah Arah: Arab Saudi & UEA Dorong Serangan Total ke Iran, Akhir Perang di Depan Mata?

EtIndonesia. Situasi geopolitik di Timur Tengah mengalami perubahan drastis dalam beberapa hari terakhir. Negara-negara Teluk yang sebelumnya dikenal aktif mendorong stabilitas kini justru mengambil sikap keras terhadap Iran, menandai pergeseran besar dalam dinamika konflik regional.

Perubahan ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi militer antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang telah berlangsung selama lebih dari dua pekan.


Negara Teluk Berubah Sikap: Dari Penyeimbang Menjadi Penekan

Berdasarkan laporan Reuters pada 17–18 Maret 2026, tiga sumber diplomatik mengungkapkan bahwa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) tidak lagi mendorong jalur diplomasi.

Sebaliknya, kedua negara tersebut kini mendesak Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk tidak memberikan ruang bagi Iran untuk melakukan konsolidasi ulang.

Ketua Gulf Research Center, Abdulaziz Sager, menegaskan bahwa tindakan Iran telah melampaui batas toleransi negara-negara Teluk.

“Iran telah melewati semua garis merah. Ketika mereka mulai menyerang kami, saat itu juga mereka menjadi musuh,” ujarnya.

Pernyataan ini mencerminkan perubahan besar: untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara tetangga Iran justru menjadi pihak yang paling vokal mendorong perubahan rezim di Teheran.


Penentuan Perang: Pulau Kharg dan Hitungan Waktu

Di tengah ketegangan ini, perhatian dunia kini tertuju pada dua faktor utama yang diyakini akan menentukan akhir konflik:

1. Pulau Kharg: Jantung Ekonomi Iran

Analis politik menyebut bahwa Pulau Kharg merupakan titik kunci dalam konflik ini.

Pulau tersebut selama ini menjadi pusat ekspor minyak Iran, dengan sekitar 90% minyak Iran—terutama yang dibeli oleh Tiongkok—berasal dari wilayah ini.

Jika pulau ini berhasil dikuasai atau dilumpuhkan:

  • Pendapatan utama Iran akan terputus
  • Stabilitas ekonomi dalam negeri Iran berpotensi runtuh
  • Tekanan internal terhadap pemerintah akan meningkat drastis

Dengan kata lain, Kharg bukan sekadar target militer, melainkan “urat nadi” kelangsungan negara Iran.


2. Sinyal Waktu: Jepang dan Pergerakan Militer AS

Indikator kedua datang dari langkah Jepang dan Amerika Serikat.

Pada 21 Maret 2026, Jepang dilaporkan mulai melepas cadangan minyak strategisnya. Namun jumlah yang dilepas terbatas:

  • Total: setara 45 hari konsumsi
  • Tahap awal: hanya 15 hari

Langkah ini dinilai sebagai sinyal bahwa Jepang memperkirakan konflik tidak akan berlangsung lama—kemungkinan hanya sekitar dua minggu ke depan.

Di sisi lain, militer Amerika Serikat meningkatkan tekanan dengan mengerahkan:

  • USS Tripoli, kapal serbu amfibi
  • Membawa sekitar 2.500 marinir
  • Diperkirakan tiba di perairan Iran dalam waktu satu minggu (sekitar 24–25 Maret 2026)

Kombinasi dua indikator ini memperkuat analisis bahwa fase penentuan perang sudah sangat dekat.


Mike Pence: “Ini Bukan Awal, Ini Akhir Konflik Panjang”

Pada 15 Maret 2026, mantan Wakil Presiden AS, Mike Pence, menyampaikan pernyataan penting yang memperkuat narasi bahwa konflik ini merupakan fase akhir, bukan awal perang baru.

Ia menilai bahwa operasi militer terhadap Iran adalah bagian dari upaya mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Menurut Pence:

  • Serangan terhadap Garda Revolusi Iran akan melemahkan struktur kekuasaan
  • Hal ini dapat membuka jalan bagi rakyat Iran untuk mengambil kembali kendali negara

Dukungan dari tokoh yang sebelumnya dikenal memiliki perbedaan pandangan dengan Trump ini menjadi sinyal politik yang signifikan di dalam negeri Amerika.


Suara dari Dalam Iran: Harapan di Tengah Kehancuran

Di tengah konflik, suara dari dalam Iran mulai muncul ke permukaan.

Seorang warga Iran, melalui jaringan VPN, menulis pesan yang menggambarkan kondisi psikologis masyarakat:

“Jika aku tidak lagi ada, aku akan pergi dengan tersenyum. Bagi kami, ini adalah penyelamatan, bukan perang.”

Dalam dua minggu terakhir (hingga 18 Maret 2026), korban jiwa dilaporkan mencapai hampir:

  • 5.000 orang tewas
  • Lebih dari 4.400 anggota Garda Revolusi dan milisi
  • Sekitar 480 warga sipil

Sebagian korban sipil dilaporkan terjadi karena fasilitas militer yang berada di dekat kawasan permukiman.

Meski menghadapi ancaman dari pemerintah, sebagian masyarakat Iran tetap menunjukkan keberanian, dengan harapan terbentuknya negara yang lebih terbuka dan demokratis.


Peran Tiongkok: Netral di Permukaan, Aktif di Balik Layar

Di tengah konflik, keterlibatan Tiongkok menjadi sorotan.

Menurut berbagai sumber internal:

  • Rudal jarak jauh Iran menggunakan sistem navigasi Beidou milik Tiongkok
  • Jalur logistik militer dibuka melalui wilayah Pakistan
  • Iran bahkan mengusulkan kerja sama keamanan dengan Tiongkok dan Rusia

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun secara resmi bersikap netral, Tiongkok diduga tetap memberikan dukungan tidak langsung kepada Iran.


Strategi Global: Xi Jinping vs Donald Trump

Konflik ini juga menjadi arena persaingan strategi antara dua kekuatan besar dunia.

Menurut analisis:

  • Xi Jinping diduga ingin menyeret Amerika Serikat ke perang panjang seperti Afghanistan
  • Tujuannya agar AS kehilangan fokus terhadap kawasan Asia, khususnya Taiwan

Namun strategi tersebut dinilai berbalik arah.

Presiden Trump justru memanfaatkan konflik ini untuk:

  • Melemahkan posisi ekonomi Tiongkok
  • Mengendalikan jalur distribusi energi global
  • Membatasi akses impor minyak bagi Tiongkok

Bahkan, pernyataan pejabat tinggi AS menegaskan bahwa kendali atas Selat Hormuz kini berada di tangan Amerika Serikat, bukan Iran.


NATO Retak, Jepang Mulai Bergerak

Upaya Amerika Serikat untuk melibatkan NATO tidak berjalan mulus.

Beberapa negara Eropa mengambil sikap berbeda:

  • Jerman menolak keterlibatan langsung
  • Inggris menyatakan pengamanan jalur laut bukan mandat NATO

Eropa cenderung berhati-hati, terutama karena tekanan domestik seperti isu imigrasi dan stabilitas ekonomi.

Sebaliknya, Jepang mulai mengambil langkah aktif dengan mempertimbangkan pengiriman pasukan—secara resmi untuk misi intelijen.


Peta Energi Dunia Mulai Dirombak

Di tengah konflik, Amerika Serikat juga bergerak cepat di sektor energi.

Baru-baru ini, AS menandatangani kesepakatan energi senilai 57 miliar dolar AS dengan negara-negara Asia-Pasifik.

Tujuannya:

  • Mengurangi ketergantungan global terhadap minyak Timur Tengah
  • Mengamankan jalur pasokan energi jangka panjang

Para analis menilai bahwa ini merupakan bagian dari strategi besar pascaperang.

“Dunia sedang memasuki fase pembagian ulang sumber daya. Siapa yang tidak terlibat, akan tertinggal,” ujar seorang analis energi internasional.


Kesimpulan: Dunia Mendekati Titik Balik

Perubahan sikap negara-negara Teluk, pergerakan militer besar-besaran, serta manuver kekuatan global menunjukkan bahwa konflik ini telah memasuki fase krusial.

Dengan Pulau Kharg sebagai titik strategis dan waktu yang semakin sempit, dunia kini menunggu satu hal:

Apakah ini benar-benar akhir dari konflik panjang—atau justru awal dari tatanan dunia yang baru? (***)