Trump Memuji Menkeu Bessant atas langkah Briliannya Menguras Keuangan Iran Tahun Lalu

EtIndonesia. Dalam rapat kabinet pemerintahan Trump pada 27 Maret 2026, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengungkapkan bahwa Amerika Serikat sebenarnya sudah mulai mempersiapkan langkah untuk menyerang rezim Iran sejak Maret tahun lalu, dengan pendekatan ganda: militer dan finansial. Bahkan pada Desember tahun lalu, AS telah melumpuhkan sistem keuangan Iran. Presiden Trump pun memuji hal tersebut dan mengatakan Bessent telah melakukan pekerjaan yang sangat baik.

“Departemen Keuangan terus berupaya mengidentifikasi semua jalur keuangan rezim Iran dan memutusnya. Ini adalah perintah yang Anda (Trump) berikan pada Maret tahun lalu,” katanya. 

 “(Setelah hampir satu tahun upaya), sistem keuangan Iran runtuh pada Desember,” tambahnya. 

Menurut Bessent, runtuhnya sistem keuangan ini sangat melemahkan kemampuan rezim Iran dalam mendanai operasi militer dan membeli senjata, serta membantu keberhasilan serangan militer AS tahun ini. Sementara itu, keberhasilan militer juga membantu menjamin kelancaran aktivitas ekonomi, termasuk pengiriman melalui Selat Hormuz.

 “Saya percaya volume pelayaran (di Selat Hormuz) akan terus meningkat dari hari ke hari, bahkan sebelum kita sepenuhnya menguasai selat tersebut,” katanya. 

Pernyataan Bessent tersebut membuat Presiden Trump merasa sangat puas.

 “Dia benar-benar seperti ‘pria sempurna’, bahkan kacamatanya pun sangat cocok. Sepertinya saya juga harus memakai kacamata. Sangat luar biasa! (pujian untuk penampilan dan pekerjaannya). Kerja bagus!” katanya. 

Dilaporkan oleh reporter NTDTV, Ren Hao, dari Washington DC.

200 Personel Militer Ukraina Dikirim ke Timur Tengah untuk Menghadang Drone Iran

The Wall Street Journal pada 26 Maret mengutip pejabat militer Ukraina yang mengungkapkan bahwa sekitar 200 personel pertahanan udara Ukraina telah dikerahkan ke Timur Tengah.  Pengerahan ini bertujuan untuk membantu Amerika Serikat dan sekutu regional menghadapi serangan drone Iran. 

Beberapa minggu sebelum kabar ini terungkap, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa Kyiv atas permintaan Presiden AS Donald Trump, mengirim para ahli anti-drone ke Timur Tengah.

EtIndonesia. Saat ini, setelah “Operasi Epik Fury”, pasukan AS yang ditempatkan di Timur Tengah bersama mitra regionalnya terus menghadapi serangan balasan sengit dari drone dan rudal Iran. Yang paling menjadi sorotan adalah drone seri “Shahed” milik Iran. Drone ini telah terbukti dalam pertempuran sebagai senjata yang sulit dicegat dan memiliki daya hancur tinggi. Pada awal konflik, drone jenis ini bahkan menyebabkan 6 tentara AS tewas di Kuwait serta merusak sejumlah infrastruktur penting setempat.

Alasan utama Ukraina dikerahkan ke Timur Tengah adalah karena mereka sangat berpengalaman menghadapi jenis drone ini. Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah memasok drone serupa kepada Rusia untuk digunakan dalam perang melawan Ukraina. 

Dengan kata lain, Ukraina telah mengumpulkan pengalaman praktis jangka panjang dalam menghadapi drone Iran, dan kini pengalaman tersebut langsung diterapkan di medan perang Timur Tengah.

Perkembangan ini juga memicu perhatian apakah Amerika Serikat sedang mempercepat integrasi kemampuan tempur anti-drone Ukraina ke dalam sistem pertahanan udara di Timur Tengah, guna menghadapi ancaman Iran yang semakin intensif. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Serangan Malam Israel: Komandan Angkatan Laut IRGC Tewas, Sejumlah Pejabat Tinggi Juga Tewas

EtIndonesia. Perkembangan terbaru situasi di Timur Tengah, militer Israel mengumumkan bahwa dalam sebuah operasi malam, mereka telah menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk komandan angkatan laut yang berperan penting dalam memimpin blokade Selat Hormuz.

Komandan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran Tewas

Militer Israel menyatakan bahwa saat serangan terjadi, komandan angkatan laut Garda Revolusi Iran, Alireza Tangsiri, sedang mengadakan pertemuan dengan para komandan senior.

“Orang ini tangannya berlumuran darah. Dialah yang memimpin blokade Selat Hormuz. Ini sekali lagi membuktikan bahwa kerja sama kami dengan sekutu, termasuk Amerika Serikat, sedang mencapai tujuan perang yang telah ditetapkan,” ujar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. 

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz menyatakan bahwa selain Tangsiri, serangan udara ini juga menewaskan kepala intelijen angkatan laut Garda Revolusi, Behnam Rezaei, serta sejumlah pejabat tinggi lainnya, yang mana secara signifikan melemahkan kemampuan Iran dalam merencanakan operasi teror di laut.

Katz menegaskan: “Ini adalah peringatan jelas bagi organisasi teroris yang saat ini mengendalikan rezim Iran, yaitu Garda Revolusi Islam. Semua pejabat seniornya akan diburu oleh militer Israel dan dilumpuhkan satu per satu.”

Sebelumnya minggu ini, Tangsiri sempat menyatakan di platform X bahwa setiap kapal yang melewati Selat Hormuz harus berkoordinasi penuh dengan otoritas maritim Iran—sebuah langkah yang dianggap sebagai gangguan terhadap ekonomi global.

Komandan Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper menyatakan bahwa selama masa jabatannya, Tangsiri memerintahkan penggunaan drone bunuh diri dan rudal untuk menyerang ratusan kapal serta menyebabkan banyak korban sipil. Amerika Serikat menetapkannya sebagai “teroris global” pada 2019 dan menambahkan sanksi lanjutan pada 2024.

Kapal Induk AS Tembak Jatuh Ratusan Rudal Iran

Sejauh ini, operasi militer AS telah menghancurkan puluhan ribu target Iran. Presiden AS Donald Trump sebelumnya membantah klaim Iran, dengan menegaskan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN-72) tidak mundur akibat serangan Iran, melainkan berhasil menembak jatuh 101 rudal Iran.

Cooper juga menekankan bahwa sejak dimulainya operasi “Epic Fury”, sekitar 92% kapal besar angkatan laut Iran telah dihancurkan, dan kekuatan angkatan laut Garda Revolusi berada dalam kemunduran yang tidak dapat dipulihkan.

Komandan Hizbullah Juga Tewas

Sebelumnya, militer Israel juga mengumumkan telah menewaskan komandan senior unit anti-tank Hizbullah di wilayah Hajir, Hassan Mohammad Bashir.

Bashir disebut pernah memimpin berbagai kelompok bersenjata dan bertanggung jawab atas ratusan serangan terhadap militer Israel dan warga sipil Israel.

AS Pertimbangkan Strategi Baru terhadap Iran

Di sisi lain, menghadapi Iran yang terus mengontrol Selat Hormuz, militer AS kemungkinan sedang merencanakan untuk merebut Pulau Kharg guna menguasai jalur energi Iran sebagai kartu tawar dalam negosiasi mendatang.

Namun, laporan menyebut Iran telah menanam ranjau di pulau tersebut untuk menimbulkan korban besar bagi pasukan AS. Iran juga mengancam bahwa jika AS melakukan invasi, mereka akan menguasai Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden, guna menghambat jalur perdagangan global.

Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa proposal gencatan senjata 15 poin telah disampaikan kepada pejabat tinggi Iran, namun mereka tidak berani mengakuinya secara terbuka karena takut dibungkam dari dalam. Media Israel juga melaporkan bahwa selama negosiasi berlangsung, operasi pembunuhan terarah AS untuk sementara tidak akan menargetkan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Araghchi.

Reporter NTD Television, Wang Ziyi, melaporkan dari Amerika Serikat.

Pentagon Berencana Mengirimkan Tambahan 10.000 Tentara Hingga Mengalihkan Persenjataan dari Ukraina ke Timur Tengah

Pentagon sedang mempertimbangkan untuk mengirimkan hingga 10.000 pasukan darat tambahan ke Timur Tengah, guna memberi Presiden AS Donald Trump lebih banyak opsi dalam menentukan apakah akan berperang atau berdamai dengan Iran. Selain itu, untuk mengimbangi penggunaan persenjataan dalam konflik dengan Iran, juga dipertimbangkan untuk mengalihkan senjata bantuan bagi Ukraina ke Timur Tengah.

EtIndonesia. Pada 26 Maret, Presiden AS  Donald Trump menulis di platform Truth Social bahwa atas permintaan pemerintah Iran, AS akan menunda serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari, hingga pukul 20.00 malam waktu Timur AS pada Senin, 6 April. Ia juga menyatakan, “Negosiasi masih berlangsung. Meskipun media berita palsu dan pihak lain mengatakan sebaliknya, kemajuan negosiasi sangat baik.”

Dalam beberapa hari terakhir, media pemerintah Iran melaporkan bahwa pejabat Teheran telah menolak proposal perdamaian yang diajukan AS. Meski Iran secara terbuka meremehkan adanya negosiasi, Trump mengatakan bahwa secara diam-diam sikap Iran jauh lebih lunak, bahkan meminta penghentian permusuhan. 

Dalam rapat kabinet 26 Maret, Trump mengatakan, “Mereka bilang, ‘Oh, kami tidak sedang berunding.’ … Padahal mereka sangat ingin mencapai kesepakatan.”

Sementara itu, The Wall Street Journal mengutip pejabat Departemen Pertahanan AS yang mengetahui situasi tersebut, melaporkan bahwa Pentagon sedang mempertimbangkan pengiriman hingga 10.000 pasukan darat tambahan ke Timur Tengah. Langkah ini dimaksudkan agar Trump tetap memiliki lebih banyak opsi militer saat mengevaluasi kemungkinan negosiasi dengan Iran.

Menurut laporan tersebut, pasukan tambahan itu akan mencakup infanteri dan kendaraan lapis baja, serta bergabung dengan sekitar 5.000 marinir yang telah dikerahkan sebelumnya, serta satu brigade tempur dari Divisi Lintas Udara ke-82 yang berjumlah sekitar 3.000 personel.

Saat ini belum jelas di mana pasukan darat AS tersebut akan ditempatkan, namun kemungkinan besar berada dalam jangkauan untuk menyerang pulau ekspor minyak utama Iran di lepas pantai, yaitu Pulau Kharg.

Selain itu, The Washington Post mengutip tiga sumber yang mengetahui situasi tersebut, melaporkan bahwa seiring meningkatnya konsumsi amunisi penting dalam operasi melawan Iran, Pentagon sedang mempertimbangkan apakah akan mengalihkan senjata yang semula ditujukan untuk Ukraina ke Timur Tengah. 

Senjata yang mungkin dialihkan termasuk rudal pencegat sistem pertahanan udara, yang sebelumnya dipesan melalui program bantuan NATO untuk Ukraina yang dimulai tahun lalu.

Pulau Kharg

Pulau Kharg terletak di bagian barat laut Teluk Persia, sekitar 24 kilometer dari pantai Iran, dan menangani sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran. Pulau ini memiliki sumber air tawar dan dihuni lebih dari seribu orang, sebagian besar bekerja di industri minyak. Perairan laut dalam di sekitarnya memungkinkan kapal tanker besar untuk berlabuh.

Jika dilakukan serangan langsung terhadap Pulau Kharg, hal itu dapat dengan cepat memutus ekspor minyak Iran, namun juga akan membuat pasukan AS lebih terekspos terhadap serangan musuh, sehingga meningkatkan risiko korban. (Hui)

Mantan Walikota Taipei Divonis 17 Tahun dalam Kasus Korupsi Tingkat Pertama, Politik Taiwan Bergejolak dan Jadi Sorotan

EtIndonesia. Dunia politik Taiwan kembali bergejolak. Pengadilan Distrik Taipei pada Kamis (26 Maret) menjatuhkan putusan dalam kasus korupsi yang mendapat perhatian luas. Mantan Wali Kota Taipei sekaligus pendiri Partai Rakyat Taiwan, Ko Wen-je, dijatuhi hukuman berat 17 tahun penjara, memicu perhatian besar dari berbagai kalangan.

Menurut laporan Central News Agency Taiwan, pengadilan menyatakan Ko bersalah atas tuduhan korupsi serta penyalahgunaan dana sumbangan politik. Dalam putusan tingkat pertama, ia dijatuhi hukuman penjara 17 tahun serta pencabutan hak politik selama 6 tahun, yang berarti ia tidak dapat mencalonkan diri dalam jabatan publik selama periode tersebut. Sebelumnya, jaksa menuntut hukuman lebih dari 28 tahun, sehingga besaran hukuman dalam kasus ini juga menjadi sorotan.

Jaksa menyatakan bahwa Ko, yang kini berusia 66 tahun, diduga menerima suap sekitar 17,1 juta dolar Taiwan dalam sebuah proyek pengembangan besar di Taipei, serta menyalahgunakan dana sumbangan politik hingga puluhan juta dolar Taiwan—yang menjadi inti dari dakwaan dalam kasus ini.

Perkembangan kasus ini dapat ditelusuri sejak tahun 2024. Saat itu Ko ditahan terkait kasus ini, dan pada September tahun yang sama dibebaskan dengan jaminan sambil menunggu persidangan. Ia selalu membantah tuduhan tersebut, menegaskan bahwa seluruh kasus ini bermotif politik, dan kembali menyampaikan tanggapannya setelah putusan dijatuhkan.

Ko Wen-je menyatakan: “Ini bukan penegakan hukum, ini adalah pembersihan politik.”

Sebagai pendiri Partai Rakyat Taiwan, vonis terhadap Ko juga berdampak pada operasional partai. Ketua partai saat ini, Huang Kuo-chang, telah menyampaikan ketidakpuasannya melalui media sosial dan mempertanyakan hasil putusan tersebut.

Saat ini, Presiden Taiwan Lai Ching-te belum memberikan tanggapan publik. Sementara itu, Democratic Progressive Party menyatakan bahwa mereka menghormati proses peradilan, tidak mengomentari kasus individual, serta tidak menerima tuduhan tanpa dasar fakta.

Dalam struktur parlemen, Partai Rakyat Taiwan saat ini memiliki 8 kursi dan biasanya memiliki posisi yang sejalan dengan partai oposisi terbesar, Kuomintang. Jika digabungkan, jumlah kursi kedua partai tersebut melebihi partai berkuasa, sehingga dampak politik dari kasus ini juga meluas ke dinamika persaingan antara pemerintah dan oposisi.

Melihat perjalanan politiknya, Ko Wen-je berasal dari latar belakang dokter bedah, dan mulai dikenal pada 2014 sebagai figur “outsider politik”. Ia terpilih sebagai Wali Kota Taipei dan menjabat selama dua periode, kemudian mendirikan Partai Rakyat Taiwan dan secara bertahap masuk ke panggung politik nasional. 

Dalam pemilihan presiden 2024, ia menempati posisi ketiga. Dalam proses tersebut, Partai Rakyat Taiwan sempat bernegosiasi untuk bekerja sama dengan Kuomintang melawan Partai Progresif Demokratik, namun akhirnya gagal akibat perundingan yang berujung perselisihan terbuka.

Reporter NTD Television, Yi Xin, melaporkan.

3.000 Target Iran Hancur! AS-Israel Siapkan Serangan Darat, Trump Ancam “Api Neraka”

EtIndonesia. Operasi militer gabungan antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memasuki hari ke-26 dengan eskalasi yang semakin tajam dan meluas. Serangan besar-besaran yang dilakukan dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa konflik telah berkembang dari sekadar tekanan militer menjadi upaya sistematis untuk melumpuhkan infrastruktur pertahanan dan logistik Iran.

Di tengah meningkatnya intensitas pertempuran, jalur diplomasi juga mulai dibuka. Namun, tekanan militer yang terus meningkat membuat situasi semakin berada di titik kritis.


Rencana Damai 15 Poin dan Jalur Negosiasi Tingkat Tinggi

Menurut laporan dari Channel 12 Israel, pada 25 Maret 2026, pemerintah Israel telah mengajukan rencana 15 poin sebagai kerangka untuk mengakhiri konflik.

Negosiasi ini disebut dipimpin langsung oleh dua tokoh penting Amerika Serikat:

  • Wakil Presiden JD Vance
  • Menlu AS Marco Rubio

Keduanya disebut menjadi ujung tombak komunikasi dengan Teheran.

Sementara itu, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa Presiden Donald Trump tidak sedang menggertak. Ia memperingatkan bahwa Amerika siap meningkatkan serangan secara drastis jika Iran menolak berunding.

“Jika Iran kembali salah menilai situasi, mereka akan menghadapi serangan seperti api neraka,” tegasnya.


Lebih dari 3.000 Target Iran Dihancurkan

Hingga 25 Maret 2026, Israel telah melancarkan serangan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Beberapa poin utama operasi militer:

  • Lebih dari 3.000 target militer Iran telah dihancurkan
  • Target mencakup:
    • Markas militer
    • Gudang senjata
    • Basis rudal balistik
  • Area serangan meluas dari:
    • Teluk Persia
    • Hingga Laut Kaspia

Dalam periode 23–25 Maret 2026, Israel juga melancarkan gelombang serangan intensif terhadap lebih dari 50 fasilitas strategis.

Yang paling mencolok:

  • Serangan mencapai Mashhad (timur laut Iran) — mencetak rekor jangkauan baru operasi militer Israel
  • Shiraz (Provinsi Fars): instalasi peluncur rudal balistik dihancurkan
  • Sekitar Teheran: markas milisi Basij diserang secara presisi saat berlangsung rapat internal

Pelabuhan Strategis Diserang, Jalur Rusia–Iran Terganggu

Salah satu perkembangan paling signifikan terjadi di Pelabuhan Anzali, yang terletak di pesisir Laut Kaspia.

Pelabuhan ini merupakan:

  • Jalur logistik penting Iran
  • Penghubung suplai militer dengan Rusia

Serangan terhadap fasilitas ini menandakan bahwa:
➡️ Jalur logistik utama Iran kini mulai terputus secara strategis

Di lapangan, rekaman video menunjukkan:

  • Pendukung rezim terpaksa berlindung di terowongan bawah tanah
  • Kekhawatiran tinggi terhadap serangan drone Israel

Amerika Kerahkan Pasukan Elit dan Perkuat Produksi Senjata

Amerika Serikat tidak hanya mendukung dari udara, tetapi juga mulai meningkatkan kesiapan tempur di darat.

Unit yang dikerahkan:

  • Resimen Operasi Khusus Penerbangan ke-160 (SOAR)
  • Dikenal sebagai unit elit untuk:
    • Operasi malam
    • Penyerbuan cepat
    • Misi khusus berisiko tinggi

Unit ini sebelumnya pernah terlibat dalam operasi sensitif, termasuk misi terkait Presiden Venezuela Nicolás Maduro.

Di sisi industri pertahanan:

  • Pentagon menandatangani kontrak ratusan juta dolar
  • Melibatkan tiga perusahaan pertahanan besar dunia

Fokus produksi:

  • Amunisi strategis
  • Sistem pertahanan udara
  • Rudal presisi

Perusahaan seperti Lockheed Martin ditugaskan untuk:
➡️ Mempercepat produksi rudal presisi demi menjaga keunggulan militer AS dan sekutu

Selain itu:

  • Produksi pemandu rudal pencegat untuk Arab Saudi meningkat hingga 4 kali lipat

Respons Iran: Serangan Balasan dan Penyesuaian Strategi

Iran merespons dengan menaikkan status kesiapan tempur ke tingkat tinggi.

Serangan balasan meliputi:

  • Rudal ke kota-kota Israel:
    • Tel Aviv
    • Haifa
  • Serangan regional ke:
    • Bahrain
    • Kuwait
    • Uni Emirat Arab

Namun, terdapat perubahan strategi signifikan:

  • Serangan ke Arab Saudi turun drastis
    • Dari 47 drone per hari → menjadi hanya 1 drone
  • Serangan ke Qatar dihentikan

Alasannya:
➡️ Amerika Serikat mengancam akan menghancurkan fasilitas gas terbesar Iran jika Qatar kembali diserang


Ancaman Energi Global dan Fokus di Pulau Kharg

Iran juga mulai mempersiapkan skenario perang yang lebih luas.

Langkah-langkah yang dilakukan:

  • Memperkuat pertahanan di Pulau Kharg
    • Pusat ekspor minyak utama Iran
  • Menempatkan:
    • Sistem pertahanan udara
    • Ranjau anti-tank

Iran juga mengeluarkan ancaman:

Jika Amerika melancarkan perang darat, Iran akan menyerang jalur pelayaran di Laut Merah dan mengganggu pasokan energi global.


Menuju Operasi Amfibi: Titik Balik Perang?

Di tengah ancaman tersebut, Amerika Serikat tetap melanjutkan rencana militernya.

Dalam beberapa hari ke depan:

  • Pasukan Marinir AS
  • Armada amfibi

Akan bergerak menuju wilayah strategis dengan kemampuan:
➡️ Melakukan pendaratan dan perebutan pulau

Jika operasi ini berhasil:

  • Arah perang akan berubah secara drastis
  • Iran berisiko kehilangan kendali atas jalur energi vital

Strategi Ganda Trump: Perang dan Negosiasi Sekaligus

Presiden Donald Trump kini menjalankan strategi ganda:

1. Tekanan militer maksimal
2. Membuka jalur negosiasi

Dengan menawarkan:

  • Rencana damai 15 poin

Namun di saat yang sama:

  • Menegaskan ancaman eskalasi besar

Pendekatan ini dinilai oleh para analis sebagai:
➡️ Upaya memaksa Iran berunding dari posisi lemah


Kesimpulan: Konflik Menuju Fase Penentuan

Per tanggal 25 Maret 2026, perang telah memasuki fase kritis:

  • Infrastruktur militer Iran mulai runtuh
  • Jalur logistik terganggu
  • Tekanan ekonomi dan energi meningkat
  • Ancaman operasi darat semakin nyata

Pertanyaan besarnya kini:
➡️ Apakah Iran akan memilih berunding, atau menghadapi eskalasi yang lebih besar?

Beberapa hari ke depan diperkirakan akan menjadi penentu arah konflik, yang tidak hanya berdampak pada Timur Tengah, tetapi juga stabilitas energi dan geopolitik global. (***)

KPPU Jatuhkan Sanksi Rp755 Miliar kepada 97 Pinjol Terbukti Lakukan Kartel Bunga

Jakarta, 26 Maret 2026 — Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menjatuhkan putusan bersejarah dengan menghukum 97 penyedia layanan pinjam-meminjam uang berbasis teknologi informasi (fintech P2P lending) atau pinjaman online (pinjol) yang terbukti bersalah melakukan penetapan harga (kartel bunga) secara terlarang. Total denda yang dibebankan mencapai Rp755 miliar.

Putusan dengan perkara Nomor 05/KPPU-I/2025 ini dibacakan dalam sidang Majelis Komisi di Ruang Sidang Gedung R.B. Supardan, Jakarta, Kamis (26/3). Majelis Komisi yang dipimpin oleh Rhido Jusmadi sebagai Ketua Majelis beserta delapan anggota komisi lainnya menyatakan bahwa 97 terlapor terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 5 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

“Perkara ini menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah penanganan KPPU, baik dari jumlah terlapor maupun dampaknya terhadap masyarakat luas,” ujar Rhido Jusmadi dalam sidang putusan.

Berdasarkan fakta-fakta dan bukti yang terungkap selama persidangan, Majelis Komisi memutuskan bahwa para terlapor terbukti melakukan praktik penetapan bunga secara bersama-sama yang merugikan konsumen pengguna layanan pinjol.

Putusan tersebut menandai berakhirnya perkara persaingan usaha dengan cakupan terbesar yang pernah ditangani KPPU. Selain menjatuhkan sanksi denda total Rp755 miliar yang terbagi kepada 97 perusahaan terlapor, KPPU juga memerintahkan para terlapor untuk menghentikan praktik penetapan harga yang melanggar hukum persaingan usaha.

KPPU menyatakan siaran pers resmi akan disampaikan kemudian, dan terbuka untuk memberikan kutipan resmi atau wawancara lanjutan terkait putusan ini. Penegakan hukum ini diharapkan menjadi efek jera serta mendorong terciptanya iklim persaingan usaha yang sehat di sektor fintech P2P lending yang selama ini tumbuh pesat di Indonesia.

Jepang akan Berinvestasi di Sektor Energi AS Sebesar Rp1.240,9 Triliun

 oleh Chen Ting

Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengadakan pertemuan resmi di Gedung Putih pada hari Kamis (19 Maret). Kedua pihak mengumumkan serangkaian perjanjian kerja sama untuk memperkuat aliansi mereka, termasuk rencana Jepang untuk menginvestasikan dana sebesar USD 73 miliar (Rp1.240,9 triliun) di sektor energi Amerika Serikat, selain juga merilis kesepakatan kerja sama yang menargetkan rantai pasokan terkait dengan mineral kritis dan unsur tanah jarang, demi melawan tekanan ekonomi dari Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan memperkuat ketahanan rantai pasokan.

Menurut laporan singkat Gedung Putih setelah pertemuan , investasi sebesar USD 73 miliar ini merupakan tahap kedua dari rencana investasi Jepang sebesar USD 550 miliar di AS untuk mengamankan pengecualian tarif.

Komitmen investasi spesifik Jepang meliputi pembangunan reaktor modular kecil (SMR) oleh GE Vernova Hitachi di Negara Bagian Tennessee dan Alabama, dengan proyeksi investasi hingga USD 40 miliar. Selain itu, sekitar USD 33 miliar untuk fasilitas pembangkit listrik tenaga gas alam di Negara Bagian Pennsylvania dan Texas.

GE Vernova Hitachi adalah usaha patungan antara General Electric (GE) dan produsen peralatan listrik terintegrasi Jepang, Hitachi.

Gedung Putih menyatakan bahwa proyek-proyek ini akan membantu menstabilkan harga listrik AS dan menyediakan dukungan daya untuk jumlah pusat data yang terus bertambah.

Pada Februari 2026), Jepang telah menyepakati rencana investasinya yang pertama sebesar USD 36 miliar untuk mendorong tiga proyek besar di AS: Pertama, membangun pembangkit listrik tenaga gas alam 9,2 GW di Negara Bagian Ohio. Kedua, membangun fasilitas ekspor minyak mentah di perairan dalam Teluk Meksiko. Ketiga, membangun kemampuan manufaktur berlian sintetis di AS untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasokan asing.

Menetapkan Mekanisme “Harga Minimum” Mineral untuk Mengoreksi Distorsi Pasar

Di bidang keamanan ekonomi, AS dan Jepang secara resmi meluncurkan “Critical Minerals Action Plan” , yang bertujuan untuk mengembangkan alternatif guna mengurangi ketergantungan pada rantai pasokan PKT. Kedua negara menekankan bahwa tujuan rencana tersebut adalah “untuk mencapai hasil jangka pendek yang konkret dalam memastikan ketahanan rantai pasokan bilateral.”

Meskipun tidak secara langsung menuding negara tertentu, namun dalam dokumen tersebut disebutkan bahwa tujuannya adalah untuk memperbaiki “distorsi pasar yang disebabkan oleh kebijakan dan praktik non-pasar yang meluas.” Reuters meyakini bahwa ini jelas merujuk pada PKT.

“Critical Minerals Action Plan” menyatakan bahwa memperbaiki distorsi pasar ini sangat urgen karena membuat rantai pasokan mineral kritis di ekonomi yang berorientasi pasar menjadi “sangat rentan terhadap berbagai risiko gangguan, termasuk pemaksaan ekonomi.”

Pernyataan tersebut lebih lanjut menekankan bahwa mineral kritis merupakan “aset strategis yang sangat dibutuhkan” dalam ekonomi industri modern dan inovatif, dan memperbaiki mata rantai yang lemah dalam rantai pasokan sudah tidak dapat ditunda-tunda, hanya dengan membangun rantai pasokan yang terdiversifikasi, tangguh, dan berbasis pasar, keamanan ekonomi dan nasional secara keseluruhan dapat lebih terjamin.

Awalnya, rencana tersebut akan membahas dan mengkoordinasikan kebijakan perdagangan untuk mineral tertentu, seperti menetapkan mekanisme “harga minimum”, dan mengeksplorasi cara untuk memasukkannya ke dalam perjanjian pasokan multilateral yang melibatkan negara lain. 

Kedua pihak tidak menyebutkan mineral mana yang akan dikenakan “harga minimum,” tetapi Gedung Putih mencantumkan 13 proyek yang akan didukung oleh kedua pemerintah, termasuk daur ulang logam tanah jarang, nikel, galium, litium, dan proyek fluorit.

Kerja Sama Pertambangan Mineral Laut Dalam dan Teknologi Mutakhir

Kedua negara juga menandatangani Memorandum of Cooperation tentang kerja sama dalam eksploitasi mineral laut dalam, mempercepat penelitian dan pengembangan teknologi terkait. Fokus utama kerja sama ini adalah pengembangan lumpur tanah jarang di dekat Pulau Minamitorishima, Jepang, di mana sumber daya ini diyakini “cukup untuk memenuhi kebutuhan industri selama ratusan tahun.”

Di bidang sains dan antariksa, kedua negara juga akan memperdalam kerja sama dalam kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, dan program pendaratan bulan Artemis, termasuk pengembangan kendaraan penjelajah bulan berawak buatan Jepang untuk para astronot.

Peningkatan Kapasitas Produksi Rudal demi Daya Deterensi Terhadap PKT dan Korea Utara

AS dan Jepang menegaskan bahwa mereka akan meningkatkan daya deterensi kolektif untuk memperkuat pertahanan negara. Sanae Takaichi berjanji untuk melipatgandakan produksi Rudal Standar-3 (SM-3 Blok IIA) buatan Jepang, dan menjajaki rencana untuk memproduksi bersama dengan AS Rudal Udara-ke-Udara Jarak Menengah Canggih (AMRAAM).

Kedua pihak juga menegaskan kembali komitmen mereka tentang pengerahan kemampuan yang canggih di wilayah Jepang untuk mencapai postur pertahanan yang kuat. Tahun ini, mereka akan mempertahankan koordinasi yang erat, dan akan terus melangkah maju berdasarkan keberhasilan AS menempatkan sistem rudal Typhon di daratan Jepang pada tahun 2025.

Mengenai situasi regional, kedua pemimpin menegaskan kembali pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.

Pernyataan tersebut mencatat bahwa perdamaian di Selat Taiwan adalah “elemen yang sangat diperlukan untuk keamanan regional dan kemakmuran global,” dan menyatakan penentangan terhadap setiap upaya untuk mengubah status quo secara sepihak dengan kekerasan atau paksaan.

AS dan Jepang juga menegaskan kembali komitmen mereka terhadap denuklirisasi total Korea Utara dan memperkuat kemitraan AS-Jepang-Korea Selatan.

Trump Menanggapi Secara Humor “Serangan ke Iran Tanpa Memberi Tahu Sekutu” 

Pada akhir bulan lalu, militer AS meluncurkan “Operation Epic Fury” terhadap Iran yang sebelumnya tidak memberi tahu sekutunya seperti Jepang. Kepada media pada hari Kamis (19 Maret) selama kunjungan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, Trump dengan humoris memberi tanggapan yang merujuk pada serangan Pearl Harbor tahun 1941.

“Operation Epic Fury” yang dilancarkan oleh AS mulai 28 Februari telah berlangsung selama hampir tiga minggu. Baik Pentagon maupun Presiden Trump belum mengindikasikan kapan militer AS akan mengakhiri operasi tersebut. Pada hari pertama operasi, militer AS, bersama dengan pasukan Israel, melancarkan serangan udara mendadak terhadap Iran, menewaskan 49 orang pemimpin Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang sempat mengejutkan dunia.

Selama pertemuan di Ruang Oval pada hari Kamis, Presiden Trump dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi membahas perang dengan Iran. Ketika seorang jurnalis Jepang bertanya kepada presiden mengapa operasi tersebut tidak dikomunikasikan terlebih dahulu kepada Jepang dan sekutu Eropa sebelum serangan, Presiden Trump menjawab: “Salah satu alasannya adalah kami tidak ingin memberi musuh terlalu banyak peringatan. Anda tahu, ketika kami menyerang, pukulannya sangat kuat. Kami tidak memberi tahu siapa pun karena kami ingin terjadi di luar dugaan mereka.”

Secara bercanda Trump mengatakan: “Berbicara soal bertindak di luar dugaan, siapa yang lebih hebat daripada Jepang dalam memainkan trik ini? Mengapa kalian tidak memberi tahu saya sebelum menyerang Pearl Harbor?”

“Saya rasa kalian lebih percaya terhadap strategi serangan di luar dugaan daripada kami,” katanya. Kemudian Trump menambahkan: “Kami memang menciptakan serangan di luar dugaan. Oleh karena itu, kami mencapai hasil yang luar biasa, yang setara dengan 50% dari rencana, bahkan lebih dari yang diharapkan hanya dalam dua hari pertama serangan.” 

Serangan Pearl Harbor merujuk pada serangan militer Jepang terhadap pangkalan angkatan laut AS di Pearl Harbor, Hawaii pada 7 Desember 1941 yang menewaskan 2.390 orang warga Amerika Serikat. Keesokan harinya, Amerika Serikat menyatakan perang terhadap Jepang.

Iran Retak dari Dalam! Ghalibaf Serang Garda Revolusi, Tapi Justru ‘Diselamatkan’ AS

EtIndonesia. Di tengah eskalasi konflik besar yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, satu nama tiba-tiba muncul sebagai pusat perhatian: Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran.

Dalam perkembangan terbaru, Ghalibaf menunjukkan sikap yang dinilai sangat kontradiktif—bahkan oleh para analis internasional disebut memiliki “tiga wajah politik” yang berbeda, namun berjalan secara bersamaan.

Fenomena ini memunculkan satu pertanyaan besar: apakah ia sedang memainkan strategi bertahan, atau justru bersiap mengambil alih kekuasaan di tengah perang?


Tiga Wajah Ghalibaf: Keras, Marah, dan “Dipilih”

Pada 25 Maret 2026, di hadapan publik internasional, Ghalibaf tampil sebagai tokoh garis keras anti-Amerika. Ia secara terbuka mengancam bahwa negara-negara yang membeli obligasi Amerika Serikat dapat dianggap sebagai “target sah serangan”, serta menegaskan Iran tidak akan menerima gencatan senjata.

Namun di balik retorika keras tersebut, laporan dari media Israel Channel 14 mengungkap sisi berbeda. Dalam rapat internal, Ghalibaf justru meluapkan kemarahan kepada petinggi Garda Revolusi Iran:

“Kalian sudah mengambil semua uangnya, sampai tentara tidak bisa dibayar! Kembalikan uang hasil korupsi itu!”

Pernyataan ini menunjukkan adanya konflik serius di dalam tubuh kekuasaan Iran sendiri.

Lebih mengejutkan lagi, menurut laporan media Amerika yang mengutip dua pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump, Gedung Putih justru mempertimbangkan Ghalibaf sebagai calon pemimpin masa depan Iran.

Ia bahkan tidak dimasukkan dalam daftar target eliminasi militer oleh AS dan Israel—sebuah sinyal yang sangat tidak biasa di tengah perang aktif.


Strategi Tiga Peran: Bertahan, Menyerang, dan Bernegosiasi

Para analis menilai bahwa tiga “wajah” Ghalibaf bukanlah kebetulan, melainkan strategi politik yang sangat terukur:

  • Retorika anti-Amerika → untuk menjaga dukungan kelompok garis keras dalam negeri
  • Kritik terhadap Garda Revolusi → untuk merebut pengaruh saat militer sedang melemah akibat serangan
  • Pendekatan dengan AS (secara tidak langsung) → untuk membuka peluang kekuasaan di masa depan

Seorang pakar keamanan Israel bahkan menyampaikan analisis tajam: “Dia memang korup, tetapi justru itu yang membuatnya bisa diajak bertransaksi.”

Ironisnya, Ghalibaf sendiri tidak lepas dari tuduhan korupsi. Ia disebut memiliki sejumlah properti mewah di Istanbul dan pernah terlibat dalam skandal penjualan aset negara dengan harga murah kepada kroninya saat menjabat sebagai Wali Kota Teheran. Bahkan mantan wakilnya dijatuhi hukuman 30 tahun penjara dalam kasus korupsi bernilai miliaran dolar.


Iran Diam-Diam Membuka Jalur Negosiasi

Di tengah sikap keras di permukaan, sinyal berbeda muncul dari balik layar.

Pada 24–25 Maret 2026, sejumlah laporan mengungkap bahwa Iran melalui jalur rahasia telah menyampaikan pesan kepada pemerintahan Trump: mereka bersedia berunding—namun dengan syarat.

Iran menolak bernegosiasi dengan utusan seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner, dan justru meminta untuk berbicara langsung dengan Wakil Presiden AS, JD Vance, yang dinilai lebih condong pada upaya mengakhiri perang.

Menanggapi hal ini, Trump kemudian mengumumkan bahwa JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio akan dilibatkan dalam proses negosiasi.

Langkah ini menunjukkan bahwa kedua pihak mulai membuka ruang kompromi, meskipun secara publik masih mempertahankan posisi keras.

Namun, sebagian analis menilai langkah Iran ini juga bisa menjadi strategi untuk memecah belah internal pemerintahan AS.


Selat Hormuz: Medan Tempur Baru yang Lebih Berbahaya

Sementara diplomasi mulai bergerak, ketegangan justru meningkat di titik paling krusial: Selat Hormuz.

Pada akhir Maret 2026, analis geopolitik Pereira mengungkap fakta yang mengkhawatirkan:

  • Kapal tanker masih bisa melintas
  • Namun harus mendapat izin dari Garda Revolusi Iran
  • Setiap kapal membayar “biaya lewat” sebesar 2–4 juta dolar

Yang lebih mengejutkan, pembayaran ini tidak menggunakan dolar AS, melainkan yuan Tiongkok atau mata uang kripto.

Ini menandakan munculnya sistem pembayaran baru yang berpotensi melewati dominasi dolar.

Bahkan perusahaan asuransi global Lloyd’s of London mulai memasukkan “persetujuan Garda Revolusi” sebagai faktor dalam penentuan premi kapal—sebuah tanda bahwa kontrol Iran mulai diakui secara tidak langsung dalam sistem global.

Jika tren ini berlanjut, maka fondasi dominasi dolar dalam perdagangan minyak dunia sejak tahun 1974 berpotensi mulai runtuh.


Respons Militer AS: Pasukan Elite Dikerahkan

Sebagai respons, Pentagon pada 25 Maret 2026 mengerahkan sekitar 2.000 pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke Timur Tengah.

Pasukan ini dikenal sebagai unit elite yang biasa digunakan untuk operasi cepat dalam merebut kendali wilayah strategis.

Pesan dari langkah ini jelas:  selama Selat Hormuz belum berada di bawah kendali AS, konflik ini belum akan berakhir.


Iran Semakin Terisolasi di Panggung Internasional

Dalam waktu bersamaan, posisi Iran di dunia internasional semakin terjepit.

  • Arab Saudi meninggalkan netralitas dan mendukung langkah militer AS
  • Putra Mahkota Mohammed bin Salman bahkan membuka kemungkinan operasi bersama dengan Uni Emirat Arab
  • Saudi juga menekan Pakistan untuk ikut serta, dengan ancaman pembayaran utang sebesar 6,3 miliar dolar

Pukulan paling mengejutkan datang dari Lebanon, yang selama ini dikenal sebagai sekutu Iran.

Pemerintah Lebanon secara resmi menyatakan duta besar Iran sebagai persona non grata dan memerintahkan untuk meninggalkan negara tersebut.

Sementara itu, Israel memperluas operasi militernya dengan memerintahkan penguasaan wilayah selatan Lebanon hingga Sungai Litani sejauh 30 kilometer sebagai zona penyangga.


Kesimpulan: Perang yang Ditentukan dari Dalam

Hingga 25 Maret 2026, dalam waktu kurang dari sebulan sejak konflik meningkat tajam, Iran menghadapi situasi yang semakin kompleks:

  • Kapasitas militer terpukul
  • Sekutu regional mulai meninggalkan
  • Jalur ekonomi terancam
  • Dan konflik internal semakin terbuka

Di tengah semua itu, sosok seperti Ghalibaf muncul sebagai simbol dari perubahan arah kekuasaan.

Perang ini mungkin tidak akan ditentukan hanya di medan tempur—  tetapi juga oleh siapa yang berhasil mengendalikan kekuasaan dari dalam Iran sendiri. (***)

Mimpi Buruk 6 Tahun Lalu Terulang, Hujan Lebat Hantam Mesir, Kairo Terendam Parah

Mesir pada 25 Maret dilanda cuaca buruk. Hujan deras menyebabkan banyak wilayah di Kairo tergenang air, sehingga sangat mengganggu aktivitas dan mobilitas warga. Menurut badan meteorologi Mesir, kondisi atmosfer masih tidak stabil dalam satu hari ke depan, dan beberapa wilayah berpotensi mengalami badai petir, hujan lebat sesekali, serta angin kencang.

EtIndonesia. Media Mesir Al Ahram melaporkan bahwa hujan deras yang datang tiba-tiba dengan cepat membanjiri jalan-jalan di berbagai daerah di Mesir. Hujan ini membuat banyak warga tidak dapat keluar rumah dan sangat mengganggu kehidupan sehari-hari.

Di kawasan permukiman dan komersial kelas atas di New Cairo, “Tagamoa”, jalan-jalan mengalami genangan air parah hingga roda kendaraan terendam. Suhu terendah di wilayah Kairo juga turun hingga 11°C, sementara rata-rata suhu terendah pada periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya berkisar antara 13 hingga 15°C.

Selain itu, di kota Alexandria, sebuah bangunan runtuh akibat hujan deras, menyebabkan seorang wanita meninggal di tempat.

Akibat cuaca buruk berupa hujan lebat dan angin kencang, badan meteorologi Mesir mengumumkan penangguhan kegiatan belajar di semua tingkat sekolah di seluruh negeri pada tanggal 25 dan 26 Maret.

Badan meteorologi memperkirakan bahwa cuaca dingin dan lembap ini akan berlanjut hingga 26 Maret, dengan kemungkinan badai petir tambahan yang akan melanda wilayah pesisir Laut Mediterania di utara Mesir, lalu meluas ke Delta Nil dan Kairo.

Seorang jurnalis dari kantor berita di Kairo juga menyebutkan bahwa pada 12 Maret 2020, ia mengalami peristiwa serupa, ketika sistem tekanan rendah Mediterania yang tidak biasa aktif menyebabkan hujan deras selama tiga hari berturut-turut, dengan curah hujan harian maksimum mencapai 67 mm. 

Menurut data dari situs cuaca Belanda Bestereistijd, total curah hujan di Kairo pada Maret 2020 mencapai 208 mm—sekitar delapan kali lipat dari rata-rata curah hujan tahunan kota. (Hui)

Tidak Terduga! Feri di Bangladesh Menabrak Jembatan Apung, Bus Jatuh ke Sungai Tewaskan 18 Orang

EtIndonesia. Sebuah kecelakaan terjadi di wilayah tengah Bangladesh pada Rabu (25 Maret) sore. Sebuah feri kecil bernama “Hasna Hena” menabrak keras jembatan apung saat hendak merapat ke dermaga, menyebabkan sebuah bus yang sedang berhenti di atas jembatan kehilangan kendali dan jatuh ke perairan dalam. Insiden ini menewaskan sedikitnya 18 orang, sementara banyak lainnya terjebak di dalam bus. Operasi pencarian dan penyelamatan besar-besaran masih berlangsung.

Sekitar pukul 17.15 waktu setempat, di dermaga feri wilayah Rajbari, sebuah bus yang membawa sekitar 40 penumpang sedang menunggu giliran di jembatan apung nomor 3 ketika tiba-tiba ditabrak keras oleh feri dan terjatuh ke Sungai Padma.

Saksi mata mengatakan bahwa bus tersebut terbalik dan tenggelam ke sungai dalam hitungan detik di depan banyak orang, sehingga tidak ada waktu untuk bereaksi.

Setelah menerima laporan, tim penyelamat segera menutup lokasi kejadian. Militer, penjaga pantai, dan pemadam kebakaran langsung dikerahkan untuk melakukan operasi penyelamatan dan pencarian.

Kecelakaan ini menyebabkan 18 orang meninggal dunia, termasuk 7 perempuan dan 2 anak-anak, sementara 11 orang lainnya masih hilang. Pihak berwenang memperkirakan jumlah korban tewas bisa terus bertambah seiring berjalannya operasi pencarian.

Bus yang tenggelam ke sungai dengan kedalaman sekitar 20 meter berhasil diangkat setelah 5 jam.

Petugas pemadam kebakaran setempat menjelaskan bahwa sebagian besar korban ditemukan terjebak di dalam bus yang berhasil diangkat tersebut.

Pihak medis melaporkan bahwa dua perempuan pertama yang dibawa ke pusat kesehatan setempat sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan saat tiba. Hingga saat ini, tim penyelamat telah mengevakuasi total 18 jenazah.

Diketahui bahwa proses penyelamatan sempat terhambat oleh cuaca buruk. Kapal penyelamat profesional “Hamza” memang telah tiba di lokasi, namun arus yang kuat dan kondisi cuaca yang tidak stabil membuat proses pengangkatan bus serta pencarian korban hilang menjadi semakin sulit. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Risiko Warga Taiwan ke Daratan Tiongkok Meningkat Tajam, 313 Orang Hilang Kontak atau Ditahan

Hubungan lintas Selat Taiwan terus tegang. Menurut pemberitahuan resmi pemerintah Taiwan, secara kumulatif terdapat 313 warga Taiwan yang hilang kontak atau ditahan setelah memasuki Tiongkok daratan. Pada Februari tahun ini saja, jumlahnya bertambah 17 orang. Pemerintah mengingatkan masyarakat untuk mempertimbangkan risiko sebelum bepergian ke Tiongkok.

EtIndonesia. Berdasarkan statistik terbaru dari Mainland Affairs Council, hingga 28 Februari, jumlah warga Taiwan yang hilang kontak, ditahan untuk pemeriksaan, atau diduga dibatasi kebebasan pribadinya oleh otoritas Tiongkok mencapai 313 orang.

Rinciannya:

  • 114 orang hilang kontak
  • 25 orang ditahan untuk pemeriksaan
  • 174 orang mengalami pembatasan kebebasan pribadi

Menurut data, pada tahun 2024 terdapat 55 warga Taiwan yang hilang atau ditangkap di Tiongkok. Pada tahun 2025 jumlahnya meningkat empat kali lipat menjadi 221 orang. Sementara pada Januari hingga Februari tahun ini, bertambah lagi 37 orang.

Pihak Mainland Affairs Council menyatakan bahwa kemungkinan masih banyak kasus hilang kontak yang belum dilaporkan kepada pemerintah.

Seorang pejabat Taiwan yang mengetahui situasi tersebut mengungkapkan bahwa setiap bulan jumlah warga Taiwan yang hilang atau ditahan di Tiongkok terus meningkat. Pada Februari saja bertambah 17 orang, sekitar setengahnya tidak diketahui keberadaannya, sementara sebagian lainnya ditahan, namun keluarga mereka tidak ingin kasus tersebut dipublikasikan.

Dalam beberapa tahun terakhir, otoritas Tiongkok terus memperbarui dan memperketat undang-undang keamanan nasional. Ditambah dengan kurangnya transparansi dalam proses hukum serta perluasan yurisdiksi secara sewenang-wenang, hal ini dinilai serius mengancam keselamatan pribadi warga Taiwan yang bepergian ke Tiongkok, Hong Kong, dan Makau. Kasus warga Taiwan yang hilang atau ditangkap setelah pergi ke Tiongkok pun semakin sering terjadi.

Pejabat tersebut juga menyebutkan bahwa dalam laporan kerja bulan Maret oleh “dua lembaga tinggi” Tiongkok (Mahkamah Agung dan Kejaksaan Agung), seorang kepala redaksi penerbitan budaya, Fu Cha, yang dituduh melakukan “pemisahan negara” dan “merusak persatuan nasional”, sebelumnya juga ditangkap secara sewenang-wenang, ditahan, dan diadili secara rahasia setelah pergi ke Tiongkok.

Pejabat itu menambahkan bahwa Partai Komunis Tiongkok bersifat ateis, namun juga memanfaatkan organisasi keagamaan untuk melakukan upaya pengaruh politik terhadap Taiwan. Ia mengingatkan warga Taiwan agar dengan cermat menilai berbagai risiko sebelum bepergian ke Tiongkok. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

AS Dakwa 2 Perusahaan Tiongkok dan 6 Warga Negara Tiongkok, Terkait Perdagangan Prekursor Fentanil dan Penyelundupan

EtIndonesia. Departemen Kehakiman Amerika Serikat pada Selasa (24 Maret) mengumumkan bahwa dewan juri federal di Dayton, Ohio, secara resmi mendakwa dua perusahaan farmasi asal Tiongkok dan enam warga negara Tiongkok. Mereka dituduh terlibat dalam produksi dan penjualan bahan kimia prekursor fentanyl, serta bersekutu dengan kartel narkoba Meksiko untuk menyelundupkannya ke Amerika Serikat. 

Perusahaan farmasi Tiongkok yang didakwa adalah Shandong Believe Chemical dan Shandong Ranhang Biotechnology. Sementara enam individu yang didakwa meliputi: Zhao Hansen (Hanson Zhao), Gao Yanpeng, Xia Yi, Zhang Jian, Wang Zhuolan, dan Zhang Chunhai.

Reporter NTD melaporkan:  “Menurut dakwaan, perusahaan-perusahaan farmasi Tiongkok ini, melalui keenam terdakwa tersebut, sejak 2025 hingga 2026 secara terbuka mencari pelanggan internasional dan menjual bahan kimia prekursor yang digunakan untuk memproduksi fentanil yang kemudian dikirim ke Amerika Serikat.”

Dakwaan ini merupakan bagian dari operasi yang disebut “Operation Box Cutter” (Operasi Pisau Cutter). Operasi ini dipimpin oleh Federal Bureau of Investigation (FBI) dan melibatkan berbagai lembaga dalam upaya penegakan hukum internasional. 

Tujuan operasi FBI adalah untuk menargetkan mata rantai penting dalam rantai pasokan global fentanil, khususnya jaringan yang terkait dengan produksi bahan kimia prekursor dan penyelundupan lintas negara.

Direktur FBI, Kash Patel, pada Rabu (25 Maret) menyatakan di platform X:  “Presiden Trump memilih untuk menghadapi langsung krisis fentanil—dengan melakukan negosiasi langsung dengan Tiongkok untuk memutus aliran narkoba.” Ia menambahkan bahwa dakwaan ini memiliki makna bersejarah.

Laporan oleh reporter NTD, Meng Yu dan Shang Jing dari New York.

Rusia Gencarkan Serangan Musim Semi, Ukraina Membalas dan Tembus Garis Belakang

EtIndonesia. Perang Rusia-Ukraina kembali memanas seiring dengan membaiknya cuaca. Pada Rabu (25 Maret), pasukan Rusia melancarkan gelombang baru ofensif musim semi yang menargetkan kota-kota dalam “sabuk benteng” pertahanan Ukraina. Namun, pasukan Ukraina tidak tinggal diam—mereka tidak hanya berhasil menembus beberapa garis depan dan merebut kembali wilayah, tetapi juga menyerang jauh ke belakang garis musuh, menghantam jalur logistik dan gudang amunisi Rusia.

Pada  Rabu, kota terbesar kedua di Ukraina, Kharkiv, diserang drone Rusia, menyebabkan sembilan orang terluka.

Seorang anggota keluarga korban, Sharamova, mengatakan:  “Kami sangat terkejut, karena rumah kami hancur dan mengalami kerusakan parah.”

Dalam 48 jam terakhir, Rusia meluncurkan hampir seribu drone dan berbagai jenis rudal ke seluruh wilayah Ukraina. Di kota barat Lviv, Gereja Santo Andreas yang bersejarah terkena serangan dan terbakar hebat.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyatakan:  “Skala serangan ini dengan jelas menunjukkan bahwa Rusia sama sekali tidak memiliki niat nyata untuk mengakhiri perang ini.”

Militer Ukraina menyebutkan bahwa serangan besar-besaran ini terjadi bersamaan dengan dimulainya ofensif musim semi baru Rusia di wilayah timur Ukraina. Memanfaatkan cuaca yang lebih hangat, Rusia meningkatkan serangan terhadap “sabuk benteng” pertahanan Ukraina, berusaha mengepung kota strategis Pokrovsk dengan menggunakan bom luncur berat dan pasukan lapis baja.

Secara keseluruhan, Rusia saat ini menerapkan taktik tekanan multi-front, mencoba menggoyahkan beberapa garis pertahanan sekaligus.

Sementara itu, pasukan Ukraina berhasil mencapai terobosan terbatas di arah selatan, tepatnya di wilayah Zaporizhzhia, dan dilaporkan telah merebut kembali sekitar 400 kilometer persegi wilayah di beberapa zona pertempuran.

Seiring dengan perkembangan konflik di Iran belakangan ini, upaya perundingan antara Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina tampaknya mengalami kebuntuan. 

Para pengamat memperkirakan bahwa dalam jangka pendek, perang Rusia-Ukraina kemungkinan akan terus berlangsung dalam kondisi buntu tanpa perubahan yang menentukan.

Laporan disusun oleh reporter NTD, Yi Jing.

Persaingan di Selat Hormuz Meningkat, Mengungkap Kontradiksi Strategis di Internal Partai Komunis Tiongkok 

EtIndonesia. Di tengah memanasnya situasi di Timur Tengah, persaingan geopolitik di sekitar Selat Hormuz kembali meningkat. Sejumlah analis menyebut bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama ini menerapkan strategi “mencari keuntungan tanpa menanggung tanggung jawab” melalui keterlibatan selektif di kawasan tersebut. 

Di satu sisi, mereka bergantung pada sistem keamanan yang sudah ada untuk memperoleh keuntungan, sementara di sisi lain menghindari tanggung jawab yang seharusnya ditanggung. Namun, seiring meningkatnya konflik, pendekatan ini kini menghadapi tekanan dan ujian nyata.

Direktur Pusat Studi Asia Selatan dan Indo-Pasifik di Stockholm, Jagannath Panda, dalam tulisannya di media The Diplomat, menyatakan bahwa sikap “netral” Beijing dalam krisis ini sebenarnya adalah strategi yang diperhitungkan secara matang, yakni tetap memperoleh keuntungan ekonomi tanpa harus memikul tanggung jawab keamanan.

Artikel tersebut menilai bahwa PKT tidak ikut serta dalam operasi keamanan maritim maupun menawarkan solusi alternatif, tetapi tetap lama bergantung pada jalur ini untuk memperoleh energi dan keuntungan perdagangan. Hal ini menciptakan kontradiksi: “mengambil manfaat sendiri, sementara risiko ditanggung pihak lain.”

 “PKT tidak pernah berani menyatakan seberapa besar kepentingannya di Selat Hormuz. Yang mereka lakukan hanyalah menyalahkan Amerika Serikat, sementara bagian yang paling penting justru tidak berani mereka jawab,” kata pakar masalah Tiongkok, Li Linyi. 

Analisis lain juga menunjukkan bahwa PKT bukan sekadar “penumpang gratis.” Selain membeli minyak Iran dengan harga diskon dalam jumlah besar dan menggunakan yuan untuk mendukung perekonomian, PKT juga diduga memberikan dukungan dalam bidang teknologi dan intelijen, ini berarti telah terlibat secara mendalam dalam situasi regional di Selat Hormuz.

 “Kita melihat Iran melakukan pengeboman besar-besaran terhadap Israel. Iran tidak mungkin menggunakan sistem GPS milik Amerika Serikat, sehingga kemungkinan besar mereka menggunakan sistem BeiDou dari Tiongkok dan GLONASS dari Rusia. Saya kira semua itu disediakan oleh PKT,” kata profesor ekonomi dari Aiken School of Business, University of South Carolina, Xie Tian. 

Analisis menyebutkan bahwa meskipun PKT secara terbuka menyerukan dialog dan negosiasi, pada kenyataannya mereka mendukung Iran untuk menahan Amerika Serikat dan Israel, sehingga membuat AS terus menguras sumber daya strategisnya di Timur Tengah, dan dari situ memperoleh keuntungan geopolitik.

 “PKT tentu bersedia mendukung pihak yang bisa membuat Amerika Serikat terpecah perhatian dan kelelahan di panggung internasional. Dengan begitu, tekanan terhadap PKT dapat berkurang. Ini merupakan strategi nasional mereka,” ujar Xie Tian.

Hal  yang mesti diperhatikan adalah, seiring Amerika Serikat mengalihkan sumber daya militernya ke Timur Tengah, muncul potensi kekosongan pertahanan di kawasan Asia. Para ahli memperingatkan bahwa PKT mungkin akan melihat ini sebagai peluang strategis untuk memperluas pengaruhnya di kawasan Teluk. (Hui)

Laporan oleh reporter NTD, Yixin dan Qiu Yue.