Hujan Salju Lebat di Timur Laut Tiongkok, Ketinggian Salju di Hegang Mencapai Setengah Meter
ETIndonesia. Hujan salju lebat melanda wilayah timur laut Tiongkok, menyebabkan situasi ekstrim di beberapa daerah, termasuk kota Hegang di Provinsi Heilongjiang. Ketebalan salju di Hegang mencapai 48 cm, mengakibatkan pembatalan penerbangan, kereta api, bus, serta penutupan sekolah.
Menurut laporan dari China Weather pada 27 November, hujan salju lebat yang jarang terjadi terjadi di bagian utara dan timur Heilongjiang terjadi pada 26 November, dengan suhu di beberapa wilayah turun lebih dari 18°C. Pusat Meteorologi Nasional Tiongkok tetap mengeluarkan peringatan cuaca kuning untuk badai salju.
Dampak Salju Lebat: Transportasi Lumpuh dan Sekolah Tutup
Di berbagai wilayah Heilongjiang, transportasi udara, kereta api, dan bus dihentikan sementara. Sekolah-sekolah di Hegang pun diliburkan pada l 26 November, dengan pemberitahuan lebih lanjut mengenai kegiatan belajar mengajar berdasarkan kondisi cuaca pada 27 November.
Di Hegang, ketebalan salju mencapai puncaknya pada 27 November pagi, yaitu 48 cm. Video yang beredar di media sosial menunjukkan kota tersebut tertutup salju tebal, menyebabkan kemacetan lalu lintas. Banyak kendaraan terjebak salju dan warga harus berjalan kaki di tengah badai salju untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
Keluhan Warga Terhadap Penanganan Salju
Warga Hegang menyuarakan keluhan terkait lambatnya penanganan pembersihan salju, yang membuat mobilitas menjadi sulit. Seorang pengguna media sosial mengatakan, “Saljunya sangat besar, bahkan lebih besar dibandingkan salju tahun 2012 yang saya ingat. Salju di jalan belum selesai dibersihkan, tapi sudah turun lagi. Para pekerja sudah berusaha keras, tetapi tidak ada transportasi umum yang beroperasi. Seharusnya ada pengumuman libur kerja!”
Keluhan serupa juga datang dari warga yang harus berjalan kaki karena tidak ada bus yang beroperasi. Seorang warga berkomentar, “Pagi ini saya tidak melihat adanya bus. Orang-orang yang berangkat kerja harus berjalan tertatih-tatih di tengah salju. Pembersihan salju tahun ini sangat buruk.”
Penurunan Suhu di Wilayah Lain
Pusat Meteorologi Nasional Tiongkok telah mencabut peringatan dingin ekstrem pada 27 November pukul 06.00 pagi. Namun demikian, suhu di beberapa wilayah, seperti bagian utara Heilongjiang, diperkirakan akan terus turun hingga 10-14°C dalam waktu 24 jam ke depan. Pada 28 November, garis suhu terendah 0°C diperkirakan akan bergeser ke wilayah utara Jiangsu dan Anhui hingga bagian tengah dan selatan Henan.
Situasi Serupa di Kota Lain
Selain Hegang, kota Heihe juga mengalami hujan salju lebat. Semua moda transportasi di kota tersebut dihentikan, termasuk penerbangan, kereta api, dan bus. Sekolah-sekolah pun diliburkan. (Hui)
Sumber : NTDTV.com
Langkah Berisiko Kim Jong Un di Ukraina Bisa Menjadi Bumerang
Stephen Xia dan Sean Tseng
Korea Utara dilaporkan mengirimkan hingga 100.000 tentara untuk mendukung Rusia dalam perangnya melawan Ukraina, kini lebih dari 10.000 sudah dikerahkan. Meskipun mengirim pasukan dapat membantu Rusia, ini adalah langkah berisiko bagi Kim Jong Un yang bisa mendatangkan petaka bagi Korea Utara.
Pasukan Korea Utara tak pernah terlibat dalam pertempuran di luar negeri sejak Perang Korea berakhir pada 1953. Pelatihan singkat yang diberikan Rusia—hanya beberapa minggu—tidak cukup untuk mempersiapkan mereka menghadapi perang modern. Mereka kurang pengalaman dengan taktik militer saat ini, terutama yang melibatkan drone dan perang elektronik, yang mana bisa mendatangkan hasil buruk di medan perang.
Medan datar di Ukraina sangat berbeda dari pegunungan Korea Utara, menambahkan tantangan yang ada. Hambatan bahasa dan perbedaan budaya juga menyulitkan koordinasi dengan pasukan Rusia; laporan menyebutkan bahwa hanya ada satu penerjemah untuk setiap 30 tentara.
Tentara Korea Utara juga dilengkapi dengan senjata usang seperti mortir 60 mm, senapan AK-12, dan rudal anti-tank dasar, yang mana tidak efektif dalam perang modern yang didominasi serangan presisi dan pengawasan canggih.
Pada 6 November, Kementerian Pertahanan Ukraina melaporkan bahwa korban di pihak Rusia telah melebihi 700.000, dengan lebih dari 1.300 kerugian dalam sehari. Jika pasukan Korea Utara menghadapi kondisi serupa, kurangnya pengalaman mereka bisa menyebabkan kerugian yang jauh lebih tinggi.
Pejabat AS melaporkan bahwa pasukan Korea Utara pertama kali bentrok dengan pasukan Ukraina pada 4 November di wilayah Kursk, Rusia, meskipun jumlah korban belum diketahui.
Rencana Rusia kemungkinan dimulai dengan mengamankan wilayah Kursk—tempat pasukan Ukraina terus maju sejak Agustus—sebelum bergerak ke Ukraina. Sebagai tanggapan, pemerintahan Biden mengizinkan serangan lebih dalam ke wilayah Rusia menggunakan senjata buatan AS dan berniat memberikan bantuan maksimal kepada Ukraina sebelum Presiden terpilih Donald Trump menjabat.
Meski berbahaya, Kim melihat peluang. Pyongyang menukar senjata usang dan nyawa tentaranya dengan uang, teknologi, dan janji pertahanan bersama dari Rusia. Laporan menunjukkan bahwa Rusia setuju membayar $2.000 per bulan untuk setiap tentara Korea Utara—jumlah yang kemungkinan besar langsung masuk perbendaharaan rezim korut.
Dengan lebih dari 10.000 tentara yang dikerahkan, Korea Utara bisa menghasilkan lebih dari $200 juta per tahun. Rusia juga berjanji untuk menyediakan 600.000 hingga 700.000 ton beras setiap tahun, yang man dapat mengatasi sekitar 20 persen kekurangan pangan Korea Utara.
Korea Utara juga mencari bantuan Rusia dalam mengembangkan senjata nuklir taktis, rudal, dan teknologi satelit militer. Meskipun belum pasti bahwa Rusia akan memenuhi janjinya, kemitraan ini meningkatkan peluang Korea Utara untuk memperoleh kemampuan militer canggih. Rezim ini berharap mendapat pengalaman langsung dalam perang modern dan menguji senjatanya melawan persenjataan yang disuplai Barat ke Ukraina.
Namun, biayanya langsung terasa dan sangat serius. Jika pasukan Korea Utara digunakan dalam serangan massal—taktik dari Perang Korea—mereka mungkin tidak akan bertahan lebih dari beberapa minggu.
Di dalam negeri, langkah ini bisa memicu keresahan. Di Korea Utara, semua pria berusia 17 hingga 30 tahun wajib menjalani dinas militer, dengan hampir sepertiga populasi aktif bertugas. Para tentara ini adalah suami dan anak-anak dari warga. Laporan menunjukkan bahwa Kim berusaha mencegah keluarga mengetahui tentang penempatan tentara, tetapi upaya ini tak sepenuhnya berhasil.
Perang yang keras bisa membuat moral pasukan Korea Utara jatuh, bahkan mendorong beberapa tentara untuk membelot. Ukraina telah meluncurkan program bernama “I Want to Live,” yang menawarkan makanan, tempat tinggal, dan keamanan bagi pembelot. Korea Selatan mempertimbangkan untuk mengirim personel untuk membantu Ukraina, yang mana akan memberikan lebih banyak insentif bagi tentara Korea Utara untuk membelot dan terpapar informasi tanpa sensor tentang dunia dan perang.
Jika Moskow tidak mendukung tentara Korea Utara yang terluka atau tewas, situasinya bisa jadi semakin memburuk.
Di tingkat internasional, Korea Utara berisiko merusak hubungannya. Nilai strategis Pyongyang bagi Moskow bisa menurun jika Rusia terus kesulitan dalam perang meski didukung Korea Utara. Selain itu, tindakan Korea Utara bisa merenggangkan hubungannya dengan Tiongkok, sekutu terpentingnya, yang man semakin memperumit posisinya di panggung global.
Meski Korea Utara berharap mendapat dukungan Rusia dalam konflik masa depan di Semenanjung Korea—berdasarkan pakta pertahanan bersama mereka baru-baru ini—dukungan ini sangat bergantung pada hasil perang di Ukraina. Biaya tinggi dalam bentuk nyawa dan potensi ketidakstabilan politik dapat melampaui manfaat yang tak pasti.
Dalam politik internasional dan perang, salah perhitungan bisa membawa konsekuensi serius—kenyataan yang mungkin segera harus dihadapi Korea Utara.
Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah opini penulis dan tidak mencerminkan pandangan The Epoch Times.
Stephen Xia, mantan insinyur PLA, mengkhususkan diri dalam bidang peralatan penerbangan dan manajemen teknologi rekayasa. Setelah pensiun dari dinas militer, ia telah mengikuti perkembangan peralatan militer dunia
Dampak Tarif Terhadap Tiongkok yang Akan Ditetapkan Trump Tergantung pada Reaksi Nilai Tukar Mata Uang
Beijing harus bersiap: Donald Trump hampir pasti akan menaikkan tarif AS untuk impor dari Tiongkok
Milton Ezrati
Donald Trump akan menjadi presiden Amerika Serikat pada Januari, dan tarif yang ia janjikan untuk diterapkan pada impor dari Tiongkok hampir pasti akan segera menyusul. Kebijakan ini akan berdampak besar kepada perekonomian Tiongkok yang sudah tertekan.
Namun, sifat dampaknya akan tergantung pada bagaimana pasar valuta asing bereaksi. Pergerakan nilai tukar dapat mengurangi dampak inflasi di Amerika Serikat dan tingkat ekspor di Tiongkok.
Trump berjanji untuk menetapkan tarif luas antara 10 persen hingga 20 persen pada semua impor ke Amerika Serikat dan tarif antara 60 persen hingga 100 persen pada impor berbasis Tiongkok. Angka-angka tersebut terdengar cukup besar, dan memang demikian, tetapi dalam konteksnya, langkah ini tidak sebesar yang mungkin terdengar.
Presiden Joe Biden, yang mengkritik tarif Trump selama kampanye pemilu 2020, tidak hanya mempertahankan tarif tersebut dari 2018–2019 tetapi juga memperluasnya. Biden menerapkan tarif 100 persen pada kendaraan listrik (EV) dan komponen buatan Tiongkok, serta baterai. Dia juga memberlakukan hambatan non-tarif pada perdagangan AS–Tiongkok, terutama pada teknologi seperti semikonduktor canggih.
Mengantisipasi Trump, buyer Amerika di Tiongkok mulai bergerak bahkan sebelum hasil pemilu jelas. Dalam beberapa minggu sebelum pemilu, pengecer dan produsen Amerika mulai mempercepat pembelian barang jadi dan bahan baku dari Tiongkok untuk memasukkannya ke Amerika Serikat sebelum tarif menambah biaya tambahan. Hal serupa terjadi pada 2018 menjelang putaran pertama tarif Trump.
Saat itu, lonjakan mendadak impor dari Tiongkok begitu signifikan hingga menaikkan tarif pengiriman laut sekitar 70 persen. Kali ini, tarif pengiriman belum merespons, tetapi kenaikan ekspor Tiongkok baru-baru ini kemungkinan sebagian besar disebabkan oleh fenomena ini. Namun, lonjakan permintaan seperti ini bersifat sementara.
Awalnya, ini akan membuat ekspor Tiongkok terlihat lebih kuat daripada yang sebenarnya. Kemudian, penumpukan inventaris akibat percepatan pembelian akan menciptakan penurunan mendadak setelah tarif diberlakukan, yang mana sementara akan memperburuk dampak tarif. Mungkin butuh waktu beberapa bulan setelah tarif diberlakukan untuk mendapatkan gambaran jelas tentang arus perdagangan.
Setelah tarif diberlakukan, dampaknya pada Tiongkok dan Amerika Serikat akan sangat bergantung pada reaksi pasar valuta asing. Pada 2018, yuan jatuh tajam terhadap dolar AS tepat setelah pemerintahan Trump menerapkan tarif. Yuan terus melemah selama berbulan-bulan, turun sekitar 10 persen terhadap dolar sepanjang 2018 dan 2019. Perubahan nilai tukar ini menurunkan harga barang-barang Tiongkok dalam dolar bagi konsumen Amerika, cukup untuk mengimbangi sekitar dua pertiga biaya tambahan akibat kenaikan tarif. Akibatnya, pembelian barang Tiongkok oleh konsumen Amerika tetap tinggi. Volume perdagangan bahkan meningkat sekitar 12 persen per tahun pada 2018 dan 2019.
Tentu saja, langkah-langkah ini berarti bahwa produsen Tiongkok menerima lebih sedikit dolar untuk produk mereka dibandingkan sebelum tarif dan perubahan nilai tukar. Pendapatan dan keuntungan mereka menurun sesuai dengan itu, bahkan ketika volume penjualan meningkat—Tiongkok, bukan konsumen Amerika, yang menanggung beban tarif Trump. Karena penurunan harga barang-barang Tiongkok dalam dolar, prediksi inflasi yang populer saat itu meleset. Karena penurunan yuan membuat barang-barang Tiongkok tetap murah bahkan setelah tarif diberlakukan, tujuan Trump untuk mengurangi aliran barang-barang Tiongkok tidak tercapai.
Karena tarif kali ini akan lebih tinggi, kompensasi serupa membutuhkan pergerakan yuan yang lebih besar. Mungkin diperlukan penurunan yuan sebesar 18–20 persen. Hal ini akan membuat nilai tukar yuan sekitar 8,5 terhadap dolar. Sejauh ini, yuan belum bergerak ke arah ini, dan tidak jelas apakah otoritas di Beijing akan membiarkannya terjadi.
Baru-baru ini, mereka menahan depresiasi yuan karena khawatir hal itu akan memicu aliran keluar modal dari Tiongkok. Namun, mereka mungkin harus membiarkan yuan terdepresiasi untuk mempertahankan volume ekspor yang dibutuhkan oleh perekonomian. Jika yuan tidak terdepresiasi, tarif akan menyebabkan penurunan signifikan ekspor Tiongkok ke Amerika Serikat dan, tidak seperti pada 2018 dan 2019, Amerika akan mengalami dampak inflasi. Reaksi nilai tukar akan menentukan hasil akhirnya.
Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah opini penulis dan tidak mencerminkan pandangan The Epoch Times.
Milton Ezrati adalah editor kontributor di The National Interest, afiliasi dari Center for the Study of Human Capital di University at Buffalo (SUNY), dan kepala ekonom di Vested, sebuah firma komunikasi yang berbasis di New York. Sebelum bergabung dengan Vested, ia menjabat sebagai kepala strategi pasar dan ekonom untuk Lord, Abbett & Co. Dia juga sering menulis untuk City Journal dan menulis blog untuk Forbes. Buku terbarunya adalah “Thirty Tomorrows: The Next Three Decades of Globalization, Demographics, and How We Will Live.”
Rabi Israel yang Hilang di UEA Ditemukan Tewas, 3 Tersangka Ditangkap
ETIndonesia. Tiga orang ditangkap di Uni Emirat Arab terkait dugaan pembunuhan seorang warga Israel, menurut pernyataan Kementerian Dalam Negeri UEA pada Minggu 24 November 2024.
Pernyataan tersebut tidak memberikan rincian tentang para tersangka atau apakah mereka telah didakwa, tetapi menegaskan bahwa semua kekuatan hukum akan digunakan “untuk merespons secara tegas dan tanpa toleransi terhadap tindakan atau upaya yang mengancam stabilitas masyarakat.”
Kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengutuk pembunuhan rabi Zvi Kogan, 28 tahun, sebagai “tindakan teroris antisemit yang keji” dan mengatakan bahwa Israel akan melakukan segalanya untuk membawa para pelaku ke pengadilan.
Kogan, yang juga merupakan warga Moldova, tinggal di UEA dan bekerja dengan gerakan Yahudi Ortodoks Chabad yang berbasis di New York. Ia pertama kali dilaporkan hilang pada Kamis, dan jasadnya ditemukan pada Minggu.
Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan semua lembaga Israel terlibat dalam penyelidikan dan bahwa Kogan terakhir terlihat di sebuah supermarket kosher di Dubai.
Jasad Kogan ditemukan di kota Al Ain, UEA, yang berbatasan dengan Oman, meskipun belum jelas apakah ia dibunuh di sana atau di tempat lain, kata mantan politikus Israel Ayoob Kara kepada Reuters di Dubai.
Kara, anggota partai Likud sayap kanan yang mempromosikan hubungan ekonomi antara Israel dan dunia Arab, mengatakan ada indikasi bahwa penyelidik mencurigai keterlibatan Iran.
Namun, Kedutaan Besar Iran di UEA dengan tegas menyangkal tuduhan keterlibatan Iran dalam pembunuhan tersebut.
Israel kembali mengeluarkan rekomendasi kepada warganya untuk menghindari perjalanan yang tidak mendesak ke UEA dan meminta mereka yang berada di sana untuk meminimalkan pergerakan, tetap berada di tempat aman, dan menghindari mengunjungi lokasi yang terkait dengan Israel dan komunitas Yahudi.
Komunitas Yahudi UEA dalam ‘Kejutan’
Komunitas Israel dan Yahudi di UEA semakin terlihat sejak 2020, ketika UEA menjadi negara Arab paling menonjol dalam 30 tahun yang menjalin hubungan formal dengan Israel melalui perjanjian yang dimediasi AS, yang dikenal sebagai Abraham Accords.
UEA tetap mempertahankan hubungan ini selama konflik 13 bulan antara Israel dan Hamas di Gaza.
Namun, warga Israel dan Yahudi menjadi kurang terlihat di tempat umum sejak serangan Hamas yang menghancurkan terhadap komunitas Israel pada 7 Oktober 2023, yang memicu konflik Gaza dan memicu protes di seluruh dunia.
Kara mengatakan komunitas Yahudi UEA berada dalam “kejutan” atas pembunuhan Kogan, tetapi warga Israel dan Yahudi akan tetap berkunjung, membangun hubungan, dan berinvestasi di negara Teluk tersebut.
“Tidak ada cara untuk menghentikan hubungan dan kerja sama ini,” kata Kara, yang bukan Yahudi tetapi anggota minoritas Druze di Israel.
Anggota komunitas Yahudi mengatakan sinagoga informal di Dubai ditutup setelah serangan 7 Oktober atas alasan keamanan, sehingga umat Yahudi berkumpul untuk berdoa di rumah.
Tidak ada sinagoga resmi di Dubai, kota terbesar dan pusat perdagangan UEA, tetapi satu-satunya sinagoga yang disetujui pemerintah di UEA, yang terletak di Abu Dhabi, tetap terbuka.
Tidak ada statistik resmi tentang jumlah orang Yahudi atau warga Israel yang tinggal di UEA. Kelompok Yahudi memperkirakan ada beberapa ribu orang.
Oleh Alexander Cornwell dan Crispian Balmer
Sumber : Reuters
Mantan Insinyur Perusahaan Telekomunikasi Dihukum 4 Tahun Penjara karena Memata-matai Falun Gong dan Pelarian Tiongkok Lainnya
Jaksa penuntut menyatakan bahwa Li berkontribusi dalam strategi “seribu luka kecil” rezim Tiongkok terhadap Amerika Serikat.
ETIndonesia. Seorang insinyur asal Florida, Amerika Serikat dijatuhi hukuman empat tahun penjara karena membantu rezim Tiongkok mengumpulkan intelijen tentang para pelarian, termasuk praktisi Falun Gong, spiritual yang dianiaya oleh Partai Komunis Tiongkok.
Pria tersebut, Li Ping, adalah warga negara AS yang dinaturalisasi dan pernah bekerja di perusahaan telekomunikasi Verizon selama 30 tahun. Berdasarkan dokumen pengadilan, ia bertindak atas nama pejabat intelijen Tiongkok di Amerika Serikat selama lebih dari satu dekade.
Li, yang akan berusia 60 tahun pada Desember, memberikan berbagai informasi kepada Kementerian Keamanan Negara, badan intelijen utama Tiongkok, termasuk materi pelatihan keamanan siber yang diambil dari perusahaannya. Ia juga secara rutin memberikan detail tentang para advokat pro-demokrasi di AS dan praktisi Falun Gong, target utama Partai Komunis Tiongkok selama 25 tahun terakhir.
Selain hukuman penjara, Hakim Distrik AS Steven Merryday juga mengabulkan permintaan jaksa untuk denda sebesar $250.000 dan pengawasan selama tiga tahun setelah pembebasan.
“Ini sangat mengecewakan dan membuat marah warga Amerika,” kata Merryday dalam sidang, menambahkan bahwa adalah hal yang mengkhianati kepercayaan publik jika seseorang dari negara asing yang bermusuhan mengambil keuntungan dari sistem AS, lalu bekerja untuk negara tersebut.
Pengacara Li, Daniel Fernandez, sebagian menyalahkan pejabat intelijen Tiongkok yang memanfaatkan Li untuk tindakan ilegal tersebut, menyatakan bahwa kliennya merasa “dikhianati.”
Li bersekolah di SMA dan perguruan tinggi di Tiongkok sebelum datang ke AS tiga dekade lalu. Saat di SMA, ia berteman dengan seorang siswa yang kemudian menjadi petugas keamanan negara Tiongkok, menurut dokumen pengadilan. Mereka tetap berhubungan dan bertemu setiap kali Li mengunjungi keluarganya di Tiongkok.
Petugas tersebut, bersama pejabat kementerian lainnya, merawat ibu Li atas permintaannya—sebuah hubungan timbal balik, kata Asisten Jaksa AS Daniel Marcet dalam sidang 25 November.
Melalui petugas itu, Li berkenalan dengan petugas lain dari kementerian, yang kemudian memintanya melakukan tindakan yang melanggar hukum, menurut dokumen pengadilan.
Tugas awalnya termasuk melacak gugatan yang direncanakan oleh praktisi Falun Gong terhadap pejabat negara Tiongkok. Pada Agustus 2012, Li mengirimkan email untuk berterima kasih atas bantuan pejabat itu selama perjalanan Li ke Tiongkok, kemudian berbagi informasi tentang seorang pengacara di St. Petersburg, Florida, yang menulis untuk blog terkait Falun Gong. Ia juga melaporkan bahwa pengacara tersebut meminjamkan buku-buku Falun Gong kepada istrinya.
Jaksa mencatat bahwa praktisi Falun Gong “baik di Tiongkok maupun di luar negeri menjadi perhatian khusus pemerintah RRT [Republik Rakyat Tiongkok] karena advokasi ide-ide yang dianggap subversif oleh pemerintah.” Falun Gong, atau Falun Dafa, adalah disiplin spiritual yang berlandaskan prinsip Sejati-Baik-Sabar.
Dalam dua tahun berikutnya, Li memberikan informasi tentang dua penulis Israel buku anak-anak Falun Gong dan seorang praktisi Falun Gong di California yang memprotes di Konsulat Tiongkok di negara bagian tersebut.
Para petugas juga meminta materi pelatihan yang digunakan Verizon untuk karyawan baru, informasi publik tentang beberapa politisi, serta teknologi pengawasan dan peretasan, menurut dokumen pengadilan.
Jaksa mengatakan pejabat intelijen Tiongkok juga bertanya kepada Li tentang kemampuan penyadapan pemerintah AS, mengatakan mereka memerlukan informasi tersebut untuk belajar cara menghindari pertahanan keamanan siber perusahaan AS.
Kasus terbaru yang disebutkan terjadi pada Juni 2022. Pejabat tersebut, menyebut Li sebagai “kakak besar,” ingin mengetahui aktivitas seorang buronan dari Provinsi Hubei di Tiongkok tengah yang berada di AS, menurut dokumen itu. Dengan alamat yang diberikan oleh pejabat itu, Li membantu menemukan detail tentang pemilik properti, tautan ke situs web perusahaan real estat dengan foto, dan informasi pajak properti, kata jaksa.
‘Seribu Luka Kecil’
Pengacara Li menegaskan bahwa kliennya bukan pendukung rezim Tiongkok dan tidak menerima pembayaran atas jasanya kepada intelijen Tiongkok. Ia juga berargumen bahwa informasi yang diberikan Li mudah diakses di internet.
Namun, meski informasi itu dapat ditemukan di sumber terbuka, jaksa mengatakan bahwa hal demikian tetap berharga mengingat pembatasan internet di Tiongkok. Selain itu, penangan Li di Tiongkok “mungkin tidak memahami cara menemukan informasi properti, kendaraan, atau informasi lain tentang warga AS,” tulis jaksa dalam memo yang menggambarkan tindakan Li sebagai “kejahatan yang disengaja selama satu dekade.”
Sebagai “kontak yang kooperatif,” mereka menulis, Li telah “membantu layanan intelijen Tiongkok dalam merusak Amerika Serikat dan menekan perbedaan pendapat politik.”
Hakim dalam sidang tersebut memihak jaksa dalam menjatuhkan hukuman yang lebih berat untuk mencegah tindakan serupa di masa depan.
Li, yang memiliki kekayaan bersih sekitar $5,5 juta termasuk 12 properti sewaan dan pendapatan pasif lebih dari $30.000 per bulan, membuat perhitungan atas tindakannya, kata Merryday. Ia mengibaratkan tindakan Li seperti “menembak ke arah kerumunan orang tetapi memalingkan kepala saat menarik pelatuk.”
“Sangat mengejutkan bahwa Anda melakukan ini,” kata Merryday.
Pengacara Li, setelah sidang, mengatakan hasil tersebut “mengecewakan” tetapi tidak mengejutkan. “Saya tidak bisa membela tindakannya,” katanya kepada The Epoch Times, tetapi ia bersikeras bahwa Li tidak menyampaikan sesuatu yang sangat berbahaya.
Jaksa menolak argumen tersebut.
Otoritas Tiongkok menggunakan pendekatan “seribu luka kecil” terhadap Amerika Serikat, kata jaksa dalam sidang tersebut. Rezim Tiongkok “tidak akan menunjukkan semua kartunya,” tambahnya, tetapi Li adalah bagian kecil dari teka-teki—ia berperan dalam upaya tersebut.
Merryday memerintahkan Li untuk menyerahkan diri secara sukarela ke Kompleks Pemasyarakatan Federal Coleman di Sumter County, Florida, paling lambat 8 Januari 2025. Denda tersebut harus segera dibayar. (asr)
Sumber : The Epoch Times
Geger! NATO Keluarkan 50.000 Pasukan sebagai Respon terhadap Rudal Hipersonik Rusia!
EtIndonesia. Perwakilan dari Ukraina bersama 32 anggota NATO menggelar pertemuan darurat di Brussels untuk membahas potensi eskalasi konflik yang dipicu oleh peluncuran rudal balistik hipersonik oleh Rusia pekan lalu. Langkah ini menandai peningkatan ketegangan yang signifikan di antara negara-negara Barat dan Rusia.
Rudal Hipersonik Rusia: Puncak Retorika Perang
Dalam pertemuan tersebut, para delegasi menyoroti ancaman terbaru dari Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang mengumumkan akan terus melakukan uji coba rudal balistik hipersonik. Meski Rusia menyebutnya sebagai “uji coba” dan bukan “pemboman”, tindakan ini jelas menunjukkan peningkatan retorika perang yang memuncak. Pengalihan lokasi uji coba rudal ke negara lain, bukan di wilayah Rusia sendiri, semakin memperkeruh hubungan internasional.
Hubungan Rusia dengan Tiongkok juga mendapat sorotan, di mana beberapa pihak menggambarkan hubungan kedua negara sebagai hubungan anak dan ayah, dengan Rusia sering disebut sebagai “ayah Rusia”. Meskipun demikian, ancaman rudal balistik Putin tidak berhasil menakuti Ukraina dan NATO. Sebaliknya, NATO mengesahkan resolusi baru yang menyerukan bantuan militer lebih lanjut kepada Ukraina, termasuk pengiriman rudal jarak menengah seperti rudal Tomahawk dari Amerika Serikat.
Mobilisasi Militer NATO: Respon Terhadap Ancaman Rusia
Tidak hanya berbicara, NATO juga melakukan langkah konkret dengan menempatkan pasukan sebesar 50.000 personel sebagai respons terhadap aksi Rusia. Ini merupakan operasi militer terbesar yang dilakukan NATO dalam beberapa tahun terakhir, mencakup penempatan 10.000 kendaraan lapis baja, 65 kapal perang, dan 250 pesawat tempur canggih. Penempatan besar-besaran ini mengirimkan sinyal tegas bahwa NATO siap menghadapi kemungkinan konflik yang lebih luas.
Dukungan Kuat dari Inggris dan Prancis
Inggris dan Prancis menjadi kekuatan inti dalam mendukung Ukraina. Menurut laporan surat kabar Prancis Le Monde, diskusi mengenai pengiriman pasukan NATO dan perusahaan pertahanan swasta ke Ukraina telah resmi dimulai. Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang pada Februari lalu mengusulkan pengiriman pasukan ke Ukraina, kini semakin terbuka untuk opsi ini setelah mendapat dukungan dari mitra NATO.
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot, pada 23 November 2024 menyatakan bahwa Barat tidak akan menetapkan garis merah dalam memberikan dukungan militer kepada Ukraina dan Prancis siap mengeksplorasi segala opsi yang ada.
Ancaman Jangka Panjang: Potensi Serangan Rusia ke Eropa
Kepala intelijen Republik Ceko, Kudelska, mengeluarkan peringatan bahwa jika Ukraina setuju untuk perdamaian yang kurang menguntungkan, Rusia berencana menyerang Eropa dalam 10 hingga 15 tahun ke depan. Analisis menunjukkan bahwa penguasaan Rusia atas Krimea dan strategi penahanan dari Ukraina serta negara-negara Barat mendorong Putin untuk melancarkan perang saat ini. Potensi aliansi Rusia dengan Korea Utara, Iran, dan Tiongkok dapat memperkuat posisi Rusia di masa depan, mengancam stabilitas Eropa.
Dukungan Rahasia dan Kesiapan Nuklir
Menurut laporan Bloomberg, Inggris secara rahasia telah menyerahkan puluhan rudal jelajah Storm Shadow kepada Ukraina sebelum NATO secara resmi mengumumkan penggunaan rudal jarak jauh oleh Ukraina. Selain itu, pernyataan calon kepala urusan kontra-terorisme Trump mengindikasikan rencana untuk memberikan Ukraina senjata dalam jumlah besar untuk mengintimidasi Putin.
Kekhawatiran terhadap eskalasi perang nuklir tetap tinggi, meski sebagian besar pihak sepakat bahwa perang nuklir tidak diinginkan. Saat ini, senjata nuklir terkonsentrasi di sembilan negara dengan total sekitar 12.000 kepala nuklir yang memiliki potensi untuk menghancurkan bumi berkali-kali lipat.
Dampak Ekonomi dan Serangan Drone Rusia
Keputusan NATO dan Uni Eropa untuk memberlakukan sanksi besar-besaran terhadap Rusia telah mempengaruhi pasar saham dan nilai tukar rubel secara signifikan. Pada 26 November 2024, pasar saham Rusia turun drastis, dan rubel mencapai titik terendah sejak Maret 2022.
Pada hari yang sama, Rusia melancarkan serangan drone besar-besaran ke wilayah Ukraina, dengan total 188 drone menyerang 17 wilayah, termasuk infrastruktur penting seperti jaringan listrik nasional dan gedung apartemen. Meskipun alarm serangan udara di Kiev berlangsung lebih dari tujuh jam, belum ada laporan korban jiwa yang signifikan.
Situasi di Medan Perang dan Kerugian Militer
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyatakan bahwa garis depan yang paling berbahaya masih berada di daerah Donetsk, khususnya arah Kurlachov. Di medan perang Kursk, pasukan Ukraina berhasil bertahan dan menyebabkan kerugian besar pada pasukan Rusia. Kepala staf militer Ukraina mengungkapkan rasio kerugian pasukan Ukraina terhadap Rusia sekitar 1 banding 6 atau 1 banding 7, meskipun angka ini masih diperdebatkan.
Media Ukraina melaporkan bahwa sejak 19 November 2024, pasukan Rusia mulai menarik peralatan berat dari garis depan secara besar-besaran, termasuk pesawat tempur dan sistem pertahanan udara. Penarikan ini dianggap sebagai upaya untuk melemahkan posisi Rusia dan memperkuat kekuatan api Ukraina, membuka kemungkinan serangan balik untuk merebut kembali posisi yang hilang.
Transformasi Operasi Militer Rusia
Baru-baru ini, sekolah-sekolah di 16 wilayah barat Rusia mulai melakukan pelatihan dan latihan pertahanan udara, menandakan transformasi dari “operasi militer khusus” menjadi aksi pertahanan teritorial.
Zelensky, menekankan pentingnya tidak hanya bertahan, tetapi juga melakukan serangan balik yang kuat untuk meraih kemenangan.
Pada 25 November 2024, Kementerian Intelijen Ukraina merilis video yang menampilkan seseorang dengan aksen Inggris yang menyampaikan pesan yang dapat menggangu para pejabat tinggi Rusia, menambah dinamika kompleks konflik yang terus berkembang.
Kesimpulan
Konflik antara Rusia dan Ukraina terus menunjukkan tanda-tanda eskalasi yang dapat berdampak luas tidak hanya bagi kedua negara, tetapi juga bagi stabilitas regional dan global. Langkah-langkah tegas dari NATO dan dukungan kuat dari negara-negara seperti Inggris dan Prancis menunjukkan komitmen mereka untuk mendukung Ukraina, sementara ancaman dan tindakan Rusia tetap menjadi tantangan besar. Dengan potensi keterlibatan nuklir dan perubahan strategi militer, dunia kini berada di ambang keputusan penting yang akan menentukan masa depan perdamaian dan keamanan internasional.
Trump Berjanji pada Hari Pertama Menjabat Akan Menerapkan Tarif Terhadap Tiongkok, Kanada, dan Meksiko
EtIndonesia. Melansir laman CNN, Presiden Terpilih Donald Trump pada Senin (25 November) mengumumkan bahwa dia akan menaikkan tarif secara signifikan terhadap barang-barang impor dari Meksiko, Kanada, dan Tiongkok pada hari pertama dia menjabat. Kebijakan ini diperkirakan akan meningkatkan biaya bagi perusahaan dan konsumen di AS.
Trump menyatakan bahwa langkah ini diambil sebagai respons terhadap masalah imigrasi ilegal, serta kejahatan dan perdagangan narkoba lintas batas.
“Pada 20 Januari, saya akan menandatangani sejumlah perintah eksekutif, salah satunya adalah menerapkan tarif 25% pada semua barang yang masuk ke AS dari Meksiko dan Kanada,” tulis Trump di platform media sosialnya, Truth Social. “Kebijakan tarif ini akan tetap berlaku sampai narkoba (terutama fentanil) dan invasi imigran ilegal ke negara kita dihentikan!”
Trump menambahkan bahwa negara-negara tetangga AS dapat “dengan mudah menyelesaikan masalah yang sudah berlangsung lama ini.”
Selain itu, Trump berjanji akan menerapkan tambahan tarif 10% terhadap barang-barang Tiongkok jika negara tersebut gagal menghentikan masuknya narkoba ilegal ke AS. Dia menuding Tiongkok melanggar janjinya, dengan menyebut bahwa negara tersebut sebelumnya berkomitmen untuk menjatuhkan hukuman mati terhadap para pengedar narkoba, tetapi langkah itu “tidak pernah dilaksanakan.”
Respon Tiongkok terhadap Pernyataan Trump
Juru bicara Kedutaan Besar Tiongkok di AS, Liu Pengyu, menanggapi bahwa Tiongkok selalu bekerja sama dengan AS dalam upaya pemberantasan narkoba. Dia menyatakan bahwa klaim mengenai prekursornya fentanil yang mengalir ke AS adalah “sepenuhnya tidak sesuai dengan fakta dan situasi sebenarnya.” Liu juga menegaskan bahwa perang dagang dan tarif tidak menguntungkan kedua belah pihak.
Sementara itu, pejabat dari Meksiko dan Kanada belum memberikan komentar resmi. Namun, Kanada dalam sebuah pernyataan pada Senin (25/11) malam menekankan pentingnya keamanan perbatasan dan hubungan bilateral, serta menyatakan akan terus bekerja dengan pemerintah AS yang baru mengenai masalah ini.
Dampak Kebijakan terhadap Perdagangan dan Ekonomi
Jika kebijakan tarif baru ini diterapkan, hal tersebut dapat membawa dampak besar pada rantai pasokan AS serta sektor-sektor yang bergantung pada produk dari Meksiko dan Kanada.
Karl Schamotta, Kepala Strategi Pasar di Corpay Cross-Border Solutions, memperingatkan bahwa langkah ini dapat memberikan dampak negatif pada banyak sektor strategis, menambah beban pajak sebesar sekitar 2,72 triliun dolar AS setiap tahun, yang pada akhirnya akan menaikkan harga barang, suku bunga, dan mengurangi daya beli rumah tangga Amerika.
Setelah pengumuman ini, nilai tukar dolar Kanada terhadap dolar AS turun 1,2%, sementara peso Meksiko melemah 2%. Meskipun nilai tukar yuan dikontrol oleh Pemerintah Tiongkok, perdagangan di pasar lepas pantai juga menunjukkan kenaikan sebesar lebih dari 7,6%. Di sisi lain, kontrak berjangka saham AS anjlok tajam akibat dampak berita tersebut.
Berdasarkan data, barang impor utama AS dari Kanada mencakup minyak, kendaraan bermotor, mesin, dan plastik. Dari Meksiko, produk yang paling banyak diimpor meliputi elektronik, suku cadang kendaraan, furnitur, dan minuman beralkohol. Sedangkan Tiongkok adalah pemasok utama elektronik, mainan, dan furnitur bagi AS. Pada masa jabatan pertamanya, Trump menerapkan tarif tinggi terhadap barang-barang Tiongkok senilai total sekitar 380 miliar dolar AS.
Menurut laporan The Hill, selama kampanye, Trump telah beberapa kali berjanji untuk menerapkan tarif impor 10% hingga 20% pada semua barang asing, serta tarif hingga 60% untuk barang-barang Tiongkok. Dengan Kanada, Meksiko, dan Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar AS, rencana ini dapat memberikan dampak besar pada hubungan perdagangan bilateral.
Beberapa hari sebelum pengumuman ini, Trump mengumumkan penunjukan Scott Becent, seorang investor, sebagai Menteri Keuangan. Sebagai pejabat utama dalam pemerintahan baru, Becent akan bertanggung jawab melaksanakan agenda perdagangan Trump sekaligus menjaga stabilitas pasar yang mungkin terguncang akibat kebijakan ini.
Kilas Balik Sengketa Dagang Sebelumnya
Pada masa jabatan pertamanya, kebijakan tarif Trump mengejutkan pasar keuangan dan memicu ketegangan dengan mitra dagang utama AS.
Dengan alasan keamanan nasional, Trump memberlakukan tarif tinggi pada baja dan aluminium dari luar negeri, termasuk dari Kanada dan Meksiko, yang merupakan sekutu dekat AS. Kebijakan tersebut kemudian diikuti dengan negosiasi ulang Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA), yang menghasilkan Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (USMCA). Perjanjian ini dirancang untuk mendorong industri manufaktur AS dan memperkuat penegakan hukum ketenagakerjaan.
Namun, kebijakan Trump terhadap Tiongkok dianggap paling agresif. Dia memberlakukan tarif pada barang-barang Tiongkok senilai ratusan miliar dolar AS dan menekan Beijing untuk mengubah ketentuan utama dalam hubungan ekonomi AS-Tiongkok. Langkah ini memicu perang dagang yang berdampak signifikan pada ekonomi global.
Dengan rencana tarif baru ini, Trump tampaknya kembali menghidupkan fokus kebijakan ekonominya dari masa jabatan pertama untuk menetapkan arah perdagangan yang lebih tegas selama masa jabatan keduanya.(jhn/yn)
Inggris Jatuhkan Sanksi terhadap Puluhan Armada Bayangan Rusia, Putin Tingkatkan Serangan Udara ke Ukraina
ETIndonesia. Pada Senin (25 November), Rusia melancarkan serangan rudal dan drone ke beberapa kota di Ukraina, menyebabkan puluhan orang terluka. Sementara itu, pemerintah Inggris mengumumkan sanksi terbesar yang pernah dijatuhkan terhadap “armada bayangan” Rusia.
Serangan Rusia di Kharkiv dan Odessa
Di Kharkiv, Rusia melancarkan serangan yang melukai 23 orang dan merusak 40 bangunan tempat tinggal serta satu gedung administrasi. Pada waktu yang sama, Odessa juga menjadi target serangan rudal, melukai setidaknya 10 orang dan merusak infrastruktur sipil seperti rumah, kendaraan, dan toko.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, meminta respons tegas dari negara-negara Barat terhadap serangan yang terus menargetkan warga sipil.
“Kami akan selalu merespons apa yang dilakukan Rusia. Penting bagi dunia untuk tidak acuh terhadap setiap serangan, bukan hanya kami yang merespons,” tegas Zelenskiy.
Sanksi Inggris terhadap Armada Bayangan Rusia
Menjelang pertemuan G7, Menteri Luar Negeri Inggris, David Lammy, mengumumkan sanksi terhadap 30 kapal “armada bayangan” Rusia, menjadikan total kapal yang disanksi oleh Inggris menjadi 73. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen Inggris untuk terus mendukung Ukraina.
“Hari ini, saya mengumumkan sanksi terbesar terhadap ‘armada bayangan’ Rusia. Ini menegaskan komitmen Inggris untuk mendukung Ukraina. Selama perang ini berlangsung, kami akan menyediakan bantuan sebesar 3 miliar poundsterling setiap tahun,” kata Lammy.
Sanksi Tambahan dari Amerika Serikat
Pekan lalu, Menteri Keuangan AS, Janet Yellen, menyatakan sanksi baru terhadap bank terbesar Rusia serta puluhan institusi keuangan dan pejabat Rusia lainnya. Langkah ini memperkuat upaya kolektif Barat dalam menekan ekonomi Rusia.
Penahanan Warga Rusia Nikita Zhuravel
Pada hari yang sama, pengadilan di Volgograd, Rusia, menjatuhkan hukuman 13 tahun 6 bulan penjara kepada seorang warga, Nikita Zhuravel. Ia dihukum karena mengirimkan video kereta yang membawa peralatan militer Rusia kepada badan keamanan Ukraina. (Hui)
Sumber : NTDTV.com
Rusia Usir Diplomat Inggris dengan Tuduhan Spionase
EtIndonesia. Rusia, pada hari Selasa (26 November) mengatakan telah mengusir seorang diplomat Inggris yang diduga terlibat dalam kegiatan spionase. Ini merupakan pukulan terbaru untuk hubungan diplomatik antara Rusia dan Inggris yang sudah tegang.
Federal Security Service Rusia (FSB) mengklaim bahwa diplomat tersebut “sengaja memberikan informasi palsu saat memasuki negara itu. “
“Selain itu, FSB menemukan bukti yang menunjukkan bahwa diplomat tersebut terlibat dalam aktivitas intelijen dan subversif yang mengancam keamanan Federasi Rusia,” kata FSB dalam sebuah pernyataan, bahwa orang tersebut adalah Edward Wilkes, Sekretaris Kedua di kedutaan Inggris.
Kementerian Luar Negeri Inggris belum memberikan komentar terkait hal ini. Agensi berita Tass mengutip juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengatakan bahwa Kementerian Luar Negeri Rusia telah memanggil duta besar Inggris, sebuah tindakan yang sering digunakan oleh pemerintah tuan rumah untuk menyatakan protes keras. Ini bukan pertama kalinya Rusia mengusir diplomat Inggris tahun ini.
Pada September 2024 lalu, Rusia mengusir enam diplomat Inggris yang bertugas di Moskow, dengan tuduhan “terlibat dalam kegiatan spionase dan sabotase.”
Inggris saat itu merespons dengan mengatakan bahwa tuduhan Rusia adalah “tanpa dasar fakta.” Menurut FSB, diplomat yang baru diusir adalah salah satu pengganti dari enam diplomat yang diusir pada bulan September.
Sejak perang di Ukraina meletus, hubungan antara Inggris dan Rusia telah jatuh ke titik terendah sejak Perang Dingin.
Inggris telah bergabung dalam gelombang sanksi terhadap Rusia dan memberikan senjata kepada Ukraina. Rusia menyatakan bahwa untuk pertama kalinya minggu lalu, Ukraina meluncurkan rudal jelajah ‘Storm Shadow’ Inggris ke wilayah Rusia.
Sejak pecahnya perang Rusia-Ukraina, pengusiran diplomat antara Rusia dan negara-negara Barat telah menjadi lebih umum. Menurut statistik dari agensi berita Rusia RBC, dari awal 2022 hingga Oktober 2023, negara-negara Barat dan Jepang telah mengusir 670 diplomat Rusia, sementara Rusia telah mengusir 346 diplomat dari negara-negara ini. Media ini menyatakan bahwa angka ini melebihi total dari dua puluh tahun terakhir di masa lalu. (jhn/yn)









