Obat Tekanan Darah yang Umum Dapat Memperpanjang Umur dan Memperlambat Penuaan pada Hewan

EtIndonesia. Obat hipertensi rilmenidine telah terbukti memperlambat penuaan pada cacing, suatu efek yang pada manusia secara hipotetis dapat membantu kita hidup lebih lama dan menjaga kita tetap sehat di tahun-tahun terakhir kita.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan rilmenidine meniru efek pembatasan kalori pada tingkat sel. Mengurangi energi yang tersedia sambil mempertahankan nutrisi dalam tubuh telah terbukti memperpanjang umur pada beberapa model hewan.

Apakah ini berlaku untuk biologi manusia, atau merupakan risiko potensial bagi kesehatan kita, adalah topik perdebatan yang sedang berlangsung. Menemukan cara untuk mencapai manfaat yang sama tanpa biaya pemotongan kalori yang ekstrem dapat mengarah pada cara-cara baru untuk meningkatkan kesehatan di usia tua.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2023, cacing Caenorhabditis elegans muda dan tua yang diobati dengan obat tersebut – yang biasanya digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi – hidup lebih lama dan menunjukkan ukuran yang lebih panjang dalam berbagai penanda kesehatan dengan cara yang sama seperti membatasi kalori, seperti yang diharapkan para ilmuwan.

“Untuk pertama kalinya, kami mampu menunjukkan pada hewan bahwa rilmenidin dapat meningkatkan harapan hidup,” kata ahli biogerontologi molekuler João Pedro Magalhães, dari Universitas Birmingham di Inggris.

“Kami sekarang ingin meneliti apakah rilmenidin mungkin memiliki aplikasi klinis lainnya.”

Cacing C. elegans menjadi favorit untuk penelitian, karena banyak gennya memiliki kemiripan dengan rekan-rekannya dalam genom kita. Namun, terlepas dari kemiripan ini, cacing ini masih merupakan kerabat yang agak jauh dengan manusia.

Pengujian lebih lanjut menunjukkan bahwa aktivitas gen yang terkait dengan pembatasan kalori dapat dilihat pada jaringan ginjal dan hati tikus yang diobati dengan rilmenidin.

Dengan kata lain, beberapa perubahan yang diberikan oleh pembatasan kalori pada hewan dan dianggap memberikan manfaat kesehatan tertentu juga muncul pada obat hipertensi yang sudah dikonsumsi banyak orang.

Penemuan lain adalah bahwa reseptor sinyal biologis yang disebut nish-1 sangat penting dalam efektivitas rilmenidin. Struktur kimia khusus ini dapat menjadi sasaran dalam upaya masa depan untuk meningkatkan harapan hidup dan memperlambat penuaan.

“Kami menemukan bahwa efek rilmenidin yang memperpanjang umur menghilang saat nish-1 dihapus,” para peneliti menjelaskan dalam makalah mereka.

“Yang terpenting, menyelamatkan reseptor nish-1 mengembalikan peningkatan umur setelah pengobatan dengan rilmenidin.”

Diet rendah kalori sulit diikuti dan disertai berbagai efek samping, seperti rambut menipis, pusing, dan tulang rapuh.

Ini masih tahap awal, tetapi pemikirannya adalah bahwa obat hipertensi ini dapat memberikan manfaat yang sama seperti diet rendah kalori sekaligus lebih mudah bagi tubuh.

Yang menjadikan rilmenidin kandidat yang menjanjikan sebagai obat anti-penuaan adalah obat ini dapat diminum, sudah banyak diresepkan, dan efek sampingnya jarang dan relatif ringan (termasuk palpitasi, insomnia, dan kantuk dalam beberapa kasus).

Masih jauh untuk mengetahui apakah rilmenidin akan berfungsi sebagai obat anti-penuaan untuk manusia yang sebenarnya, tetapi tanda-tanda awal dalam uji cacing dan tikus ini menjanjikan. Kini kita tahu lebih banyak tentang apa yang dapat dilakukan rilmenidine, dan bagaimana cara kerjanya.

“Dengan populasi global yang menua, manfaat menunda penuaan, meskipun sedikit, sangat besar,” kata Magalhães.

Penelitian ini dipublikasikan di Aging Cell. (yn)

Sumber: sciencealert

Mengapa Kita Terbangun di Tengah Malam? Para Ahli Medis Menjelaskan Semuanya

EtIndonesia. Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa Anda terkadang terbangun di tengah malam pada pukul 3 pagi, dan merasa frustrasi karena tidak dapat kembali tidur?

Para ahli dari Tim Medis Web MD memiliki beberapa alasan berbeda mengapa hal ini dapat terjadi.

Alasan paling umum untuk terbangun di tengah malam adalah minum kafein atau alkohol di penghujung hari, lingkungan tidur yang buruk, gangguan tidur, atau kondisi kesehatan lainnya.

Hal terpenting adalah mendapatkan kualitas tidur terbaik dan mencari tahu apa yang membangunkan Anda sehingga Anda dapat mengubahnya dan mendapatkan istirahat terbaik.

Web MD mengatakan periode tidur ringan, dalam, dan gerakan mata cepat (REM, misalnya saat bermimpi) terjadi beberapa kali setiap malam dengan sebagian besar tidur nyenyak terjadi di awal malam.

Penyebab fisik terbangun di tengah malam meliputi nyeri, kesulitan bernapas, masalah pencernaan, hormon, penyakit otak dan saraf, dan keinginan untuk buang air kecil.

Obat-obatan untuk mengatasi hal ini juga dapat memengaruhi pola tidur.

Ada sejumlah penyebab psikologis yang menyebabkan Anda tidak dapat tidur karena stres, yang paling umum adalah gangguan kesehatan mental lainnya seperti gangguan kecemasan, gangguan bipolar, depresi, dan skizofrenia juga dapat menyebabkan kurang tidur.

Jika salah satu dari masalah kesehatan ini terus membangunkan Anda, Web MD menyarankan Anda untuk menghubungi dokter.

Kebiasaan tidur yang buruk dapat menjadi penyebab Anda tidak dapat tidur, jadi cobalah untuk membuat jadwal kapan Anda tidur dan bangun; perangkat elektronik dapat memengaruhi, minum alkohol atau kafein, dan merokok juga dapat memberikan efek negatif.

Hal-hal di sekitar Anda seperti cahaya, hewan peliharaan, atau suhu dapat membuat Anda sulit untuk tetap tertidur saat Anda berpindah dari satu tahap tidur ke tahap lainnya.

Tubuh Anda memiliki siklus alami kantuk dan kewaspadaan, dan usia, jet lag, atau bekerja lembur atau shift malam dapat mengganggu hal ini, yang menyebabkan kurang tidur.

Gangguan tidur juga dapat memengaruhi kemampuan untuk mendapatkan tidur malam yang nyenyak, seperti sleep apnea, sindrom kaki gelisah, gangguan gerakan anggota tubuh berkala, dan teror malam.

Tips yang diberikan Web MD untuk mendapatkan tidur yang baik antara lain tidak merokok, pergi ke luar ruangan, berolahraga secara teratur, mematuhi jadwal tidur, dan tidak tidur siang.

Tips lainnya adalah mengikuti rutinitas waktu tidur yang menenangkan, mematikan layar elektronik satu jam sebelum tidur, tidak menggunakan tempat tidur untuk hal lain selain tidur atau berhubungan seks, dan menjaga kamar tetap gelap, tenang, dan sejuk.

Jika Anda kesulitan tidur, setelah 15-20 menit sebaiknya bangun dari tempat tidur dan melakukan sesuatu yang menenangkan hingga Anda merasa mengantuk lagi tanpa harus menatap layar. (yn)

Sumber: indy100

Xi Jinping Berkolaborasi dengan Putin Demi Menumbangkan Tatanan Global, Ketika Pemilu AS Menjadi Medan Perang

oleh Tang Hao

Fokus hari ini: Apakah Xi Jinping tidak terima karena Zhang Youxia telah merebut kekuasaan militer dari tangannya? Apakah bakal terjadi serangan balik? Apakah dari kunjungan Zhang Youxia ke Vietnam terungkap adanya pertikaian di antara para pejabat tinggi Beijing? Xi Jinping berkolaborasi dengan Putin untuk merancang penumbangan tatanan internasional demi mempertahankan kekuasaan, apakah pemilu AS akan menjadi medan perang? Sementara perebutan kekuasaan di Zhongnanhai berlangsung sengit, apakah Taiwan perlu waspada terhadap serangan mendadak?

Berita tentang Xi Jinping kehilangan kekuasaan militer telah beredar luas. Kunjungan Zhang Youxia ke Vietnam baru-baru ini secara tak terduga mengungkap perselisihan internal terselubung di antara para pemimpin tertinggi Partai Komunis Tiongkok (PKT), yang juga secara tidak langsung menegaskan bahwa Xi Jinping telah kehilangan kekuasaan militer. 

Namun, Xi tidak tinggal diam, ia langsung terbang ke Rusia untuk melakukan pembicaraan rahasia dengan Putin guna membahas strategi untuk menumbangkan tatanan internasional. Antara lain bertujuan untuk membebaskan PKT dan Rusia dari dilema terkena pembatasan internasional. Yang lain adalah memanfaatkan kesempatan untuk memukul balik mereka yang telah merebut kekuasaan, dengan harapan mendapatkan kembali kekuasaan. Sejauh mana perselisihan antar para pemimpin tertinggi PKT terjadi? Strategi yang bagaimana yang akan dirancang Xi dan Putin untuk menumbangkan tatanan internasional? Apakah hal-hal ini akan berdampak terhadap pemilu AS dan situasi di Selat Taiwan?

Upaya perebutan kekuasaan di tingkat atas kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok menjadi semakin sengit. Semakin banyak tanda-tanda menunjukkan bahwa Xi Jinping telah kehilangan kekuasaan militer. Kekuasaan militer kini sebenarnya berada di tangan Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat. Dalam seminggu terakhir ini, muncul lagi sebuah petunjuk menarik lainnya.

Apakah pertikaian pejabat tinggi PKT terungkap lewat kunjungan Zhang Youxia ke Vietnam?

Zhang Youxia yang memimpin delegasi PKT telah melakukan kunjungan ke Vietnam pada 24 hingga 26 Oktober dan menerima sambutan tertinggi dari pemimpin Vietnam. Selain itu ia juga bertemu dan melakukan pembicaraan dengan Sekjen Partai Komunis Vietnam To Lam, Presiden Vietnam Luong Cuong, Perdana Menteri Pham Minh Chinh dan lainnya. Namun yang menarik adalah untuk peristiwa besar seperti itu, media corong PKT sama sekali tidak memberitakannya, sehingga menimbulkan pertanyaan dunia luar. Baru pada 26 Oktober media partai terpaksa memberikan laporan singkatnya.

Namun dalam pemberitaan media partai tersembunyi serangkaian hal yang mencurigakan. Antara lain soal judul yang dipakai Kantor Berita Xinhua adalah “Sekjen Partai Komunis Vietnam To Lam, Presiden Vietnam Luong Cuong, Perdana Menteri Pham Minh Chinh masing-masing menemui Zhang Youxia”. Jika kita tinjau dari kebiasaan PKT, umumnya nama pejabat PKT dikedepankan sebagai subjek guna memberi tekanan bahwa PKT adalah protagonis dan nama pejabat negara lain berperan sebagai pendukung. 

Contohnya, Ketika Wakil Ketua Komisi Militer Tiongkok Fan Changlong berkunjung ke Vietnam dan bertemu dengan para pemimpin nasional Partai Komunis Vietnam pada tahun 2017. Judul yang tertera di media partai adalah “Fan Changlong Mengunjungi Vietnam”, menempatkan Fan Changlong di awal kalimat sebagai subjek. 

Bahkan ketika Qu Qingshan, Direktur Institut Sejarah dan Dokumentasi Partai Komunis Tiongkok juga mengunjungi Vietnam beberapa hari yang lalu, pemberitaan di media PKT pun tak lupa menekankan soal pihak mana yang sebagai protagonis, dan pihak mana yang sebagai pendukung. Lihat saja judulnya yang tertera adalah “Delegasi Partai Komunis Tiongkok mengunjungi Vietnam”.

Tidak salah bukan jika hal ini tidak seperti biasanya, karena selain media partai sengaja mengulur pemberitaan tentang kunjungan Zhang Youxia kali ini, juga sengaja menempatkan Zhang Youxia di pihak pendukung bukan di pihak protagonis. 

Hal mencurigakan lainnya adalah: Menurut laporan Kantor Berita Nasional Vietnam, bahwa ketika pemimpin Partai Komunis Vietnam To Lam bertemu dengan Zhang Youxia, To Lam berpesan kepada Zhang Youxia agar menyampaikan salam hormatnya kepada Xi Jinping, tetapi tidak ada tanggapan dari Zhang Youxia dalam laporan tersebut. 

Ketika Presiden Vietnam Luong Cuong bertemu Zhang Youxia dan juga menyebutkan nama Xi Jinping, tetapi Zhang Youxia tetap tidak menanggapinya. Sederhananya adalah, para pejabat Vietnam telah memberikan sambutan tinggi atas kunjungan Zhang Youxia, tetapi dalam pemberitaan media tidak menemukan Zhang Youxia menyebut nama Xi Jinping. Ini adalah hal yang sangat langka.

Karena Partai Komunis sangat mementingkan propaganda, jadi rancangan laporan luar negeri Tiongkok semacam ini wajib diperiksa terlebih dahulu oleh pihak berwenang Tiongkok. Dan jika terdapat hal-hal yang dinilai kurang pantas mereka akan memberikan masukan kepada pihak Vietnam dan meminta modifikasi. Namun memang dalam pemberitaan media Vietnam tidak menemukan tulisan terkait Zhang menyebut atau menyinggung nama Xi Jinping sebagai tanggapan atas perhatian para pemimpin Vietnam terhadapnya.

Namun dalam pemberitaan media PKT, malahan muncul paragraph yang berbunyi: “Zhang Youxia menyampaikan salam Xi Jinping kepada Sekjen. To Lam”, yang setara dengan sengaja memasukkan nama Xi Jinping untuk menciptakan suasana bahwa Xi Jinping masih berkedudukan lebih tinggi dari Zhang Youxia.

Terlihat bahwa laporan media corong PKT dan corong PKV menguraikan struktur kekuasaan yang berbeda. Media Vietnam mengungkapkan secara tidak langsung bahwa ada pergantian kekuasaan di puncak PKT, namun media corong PKT masih menggunakan nama Xi untuk menekan kedudukan Zhang Youxia. Jadi apakah pejabat yang bertanggung jawab terhadap media PKT ini dengan sengaja menekan agar nama Zhang Youxia tidak melambung? Lalu siapa yang mengendalikan media partai? Apakah Cai Qi, Sekretaris Sekretariat Komite Sentral PKT, atau Li Shulei, Menteri Propaganda Komite Sentral, atau Wang Huning, mereka semua ini adalah orang-orang penting yang menjadi andalan Xi Jinping.

Jadi tanda-tanda aneh ini mencerminkan dua hal: Pertama, kemungkinan bahwa Xi Jinping kehilangan kekuasaan militer adalah hal yang benar. Kedua, orang-orang dari faksi Xi tidak ingin duduk diam dan menunggu kematian, tetapi ikut mencari cara untuk melawan melalui wewenang yang dimilikinya walau tidak terang-terangan, seperti lewat tulisan di media dan lain sebagainya. Karena bagaimanapun juga mereka sadar bahwa senjata berada di tangan lawan.

Xi berkolaborasi dengan Putin untuk menumbangkan tatanan internasional, apakah pemilu AS akan menjadi medan perang?

Baru-baru ini Xi Jinping terbang ke Rusia untuk menghadiri KTT BRICS dan bertemu lagi dengan Presiden Rusia Putin untuk yang ketiga kalinya dalam setahun ini.

Partisipasi Xi dalam KTT BRICS adalah hal yang rutin. Poin kuncinya adalah mengapa dia melakukan pembicaraan rahasia tatap muka dengan Putin? Dan waktunya terjadi tepat selagi dia kehilangan kekuasaan militernya dan menjelang pemilu AS pada 5 November 2024?

Usai pertemuan Xi Jinping dengan Putin di Rusia pada bulan Maret tahun lalu, keduanya muncul di media dalam laporan mengenai rencana kerjasama untuk mempromosikan sebuah gagasan yang disebut sebagai “Perubahan besar yang belum pernah terlihat dalam seabad terakhir”. Apa yang dimaksud dengan perubahan besar tersebut? Baik Tiongkok maupun Rusia tidak mengungkapkannya kepada dunia luar, namun kami telah menganalisisnya. Sederhananya, ini adalah rangkaian kebijakan yang merongrong tatanan internasional saat ini, merupakan sebuah upaya yang memungkinkan Tiongkok dan Rusia keluar dari permasalahan yang sedang mereka hadapi, sekaligus membuka kesempatan bagi kedua negara tersebut untuk mendominasi tatanan dunia.

Jadi bagaimana Tiongkok dan Rusia bisa keluar dari masalah yang sedang dihadapi dan mendominasi tatanan dunia? Tentu saja melalui cara mengalahkan Amerika Serikat. Itulah sebabnya mengapa Presiden Xi Jinping mengadakan pertemuan rahasia menjelang pemilu AS? Kemungkinan besar mereka sedang merencanakan cara memanfaatkan situasi dan kekacauan internasional yang sedang terjadi saat ini untuk mencari solusi membalikkan keadaan sehingga bisa menguntungkan baik PKT maupun Rusia.

Kita tahu bahwa dunia saat ini sedang diliputi 2 kekacauan besar, yaitu perang Rusia-Ukraina dan konflik di Timur Tengah. Sedangkan Korea Utara belakangan ini tidak hanya mengirimkan pasukan untuk membantu Rusia berperang melawan Ukraina, namun juga terus menciptakan ketegangan di Asia Timur Laut. Sederhananya, dunia tampaknya semakin kacau, tetapi bagi Mao Zedong dan Partai Komunis Tiongkok berlaku semboyan “ketika dunia kacau situasinya justru menguntungkan”. Oleh karena itu, Partai Komunis Tiongkok pasti ingin menjadikan dunia semakin kacau agar PKT dan Rusia dapat menemukan jalan keluar untuk menyelamatkan diri.

Oleh karena itu, penulis yakin pertemuan Xi Jinping dengan Putin memiliki tujuan penting, yakni membahas pemilu AS. Tentu saja, ini bukan pembahasan tentang siapa yang mereka dukung agar terpilih, karena baik Kamala Harris atau Trump yang terpilih, baik tekanan atau pembatasan AS terhadap kedua negara tersebut sangat kecil kemungkinannya akan mengalami perubahan.

Diskusikan bagaimana melakukan intervensi terhadap pemilu AS, agar Amerika Serikat terjerumus ke dalam kekacauan internal usai pemilu, dan tidak dapat berbuat banyak. Inilah kekacauan yang timbul usai pemilu yang sangat diharapkan karena paling menguntungkan bagi Tiongkok dan Rusia.

Opsi 1: Melalui perang opini publik untuk menyerang politisi yang anti-komunis

Cara pertama adalah menggunakan pasukan siber untuk menciptakan opini publik dan menyerang politisi yang menentang PKT. Microsoft merilis laporan penelitian baru pada 23 Oktober, menunjukkan bahwa pasukan siber Partai Komunis Tiongkok menyebarkan rumor di Internet yang isinya menyerang anggota kongres anti-komunis seperti Senator Florida Marco Rubio, dengan fitnahan berupa mereka itu korup, menerima suap, dan sebagainya. 

Opsi 2: Melalui penyebaran informasi palsu lewat platform sosial guna memicu konflik dan perpecahan

Cara kedua adalah dengan menggunakan akun milik tentara siber dan robot untuk berpura-pura menjadi warga AS kemudian mempublikasikan berbagai informasi palsu di platform media sosial seperti Douyin, Facebook, dan X untuk memicu konflik internal, bahkan perpecahan di Amerika Serikat. Misalnya, mereka menyebarkan rumor tentang diskriminasi rasial untuk menciptakan antagonisme etnis. Atau menyebarkan rumor terkait pemilu untuk menciptakan ketidakpercayaan pemilih terhadap demokrasi. Atau mereka menyebarkan informasi tentang konflik terpanas saat ini antara Israel dan Hamas untuk memicu protes dan konflik.

Opsi 3: Menyerang calon kedua partai untuk menimbulkan kebencian dan ketidakpercayaan satu sama lain

Cara ketiga adalah dengan cara menyebarkan berita bohong yang menyerang calon kedua partai untuk menimbulkan saling kebencian antar kedua partai, dan memperparah rasa saling tidak percaya antara pemilih dan politisi kedua partai. Sederhananya, ini adalah taktik “menghancurkan lewat perpecahan” yang paling sering digunakan oleh Partai Komunis. Namun, baik Tiongkok maupun Rusia sama sekali tidak berniat untuk mendukung pemilihan kandidat tertentu. Tujuannya hanya ingin menimbulkan kekacauan internal di Amerika Serikat dan melumpuhkannya.

Opsi 4: Menyerang perangkat mesin pemilu untuk menghasilkan suara yang tidak normal

Cara keempat adalah dengan meretas perangkat mesin untuk pemilu sehingga menghasilkan suara yang tidak normal. Seperti kita ketahui bersama, meskipun Amerika Serikat menggunakan perangkat mesin yang canggih untuk pemungutan suara, tetapi juga masih memiliki celah yang dapat dimanfaatkan oleh pihak luar untuk melakukan penetrasi atau serangan secara diam-diam.

Misalkan pada saat proses penghitungan suara untuk suatu pemilihan umum, tiba-tiba muncul laporan yang menyebutkan bahwa mesin perangkat pemungutan suara di suatu negara bagian telah diserang oleh jaringan atau mengalami padam listrik. Setelah gangguan tersebut, tiba-tiba jumlah suara untuk calon tertentu bertambah atau menurun secara signifikan. Apakah hal ini tidak akan menimbulkan kemungkinan adanya kecurangan? Atau kontroversi tentang adanya seseorang yang memanipulasi suara?

Mengapa melakukan intervensi terhadap pemilu AS?

Kontroversi semacam ini sudah sering terjadi di masa lalu. Jika Tiongkok dan Rusia menggunakan metode ini untuk kembali ikut campur dalam pemilu AS, hal ini akan menyebabkan meledaknya keluhan pemilih dari kedua partai yang sudah lama terpendam, sehingga masyarakat Amerika Serikat kemungkinan besar akan mengalami kekacauan. 

Pada saat itu, PKT kemudian menggunakan tiga metode di atas untuk menyebarkan rumor online dan melancarkan perang kognitif, yang akan membuat masyarakat AS semakin kacau dan konflik menjadi semakin ekstrim. Kekacauan itulah yang merupakan situasi menguntungkan bagi Tiongkok dan Rusia.

Tujuan 1: Melemahkan kekuatan nasional AS dan mengabaikan perkembangan internasional

Pertama, situasi ini dapat melemahkan kekuatan nasional dan kesatuan internal Amerika Serikat, serta membuat masyarakat Amerika Serikat mengabaikan dinamika komunitas internasional. Karena fokus rakyat Amerika adalah pada kekacauan internal, mereka tentu tidak akan terlalu tertarik untuk memperhatikan situasi di Ukraina, Timur Tengah, dan tempat lainnya. Hal ini membuat lebih menguntungkan bagi Tiongkok dan Rusia untuk mempromosikan “Perubahan besar yang belum pernah terlihat dalam seabad terakhir”.

Tujuan 2: Menciptakan peluang bagi PKT untuk melancarkan serangan diam-diam terhadap Taiwan pada tahun 2025

Kedua, situasi yang bergejolak ini dapat menciptakan apa yang disebut “jendela peluang tahun 2025” bagi Partai Komunis Tiongkok, yang berarti Partai Komunis Tiongkok dapat mengirim pasukan ke Selat Taiwan dan melancarkan serangan diam-diam ke Taiwan. Meskipun PKT saat ini tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk melawan kekuatan militer gabungan Amerika Serikat, Jepang, dan Taiwan, tetapi PKT tidak pernah menyerah mencari peluang untuk melancarkan serangan militer terhadap Taiwan.

Jika Amerika Serikat terjebak dalam gejolak internal setelah pemilu, maka pemerintahan Biden yang sudah timpang akan semakin kewalahan apalagi jika AS masih terikat oleh perang Rusia-Ukraina dan konflik di Timur Tengah. Selain itu, setelah usainya pemilu di Jepang, situasi politik negara Sakura itu menjadi kacau, mungkin pergantian perdana menteri kembali terjadi. Di saat Amerika Serikat dan Jepang tidak mampu atau terlambat menanggapi konflik di Selat Taiwan itulah kesempatan bagi PKT untuk mengambil risiko mengirimkan tentaranya.

Meskipun kekuasaan militer tidak lagi berada di tangannya tetapi Xi Jinping kemungkinan akan “menawarkan” kesempatan langka ini kepada para sesepuh partai, berharap para sesepuh menyetujui pengiriman pasukan guna merebut Taiwan, menyelesaikan tujuan besar reunifikasi, selain juga mengukirkan prestasi emas bagi para sesepuh partai dan pemimpin yang aktif termasuk Zhang Youxia. Proposal ini mungkin agak menggoda.

Tujuan 3: Memecah kekuatan militer AS, membantu Rusia keluar dari masalah

Ketiga, situasi yang diakibatkan oleh gejolak dalam negeri Amerika Serikat, ditambah lagi dengan munculnya peperangan secara serentak di Ukraina, Timur Tengah, Selat Taiwan, dan bahkan Asia Timur Laut, akan membuyarkan perhatian Amerika Serikat, membuat pengerahan pasukannya terganggu, dan menghabiskan sejumlah besar sumber daya militer AS, hal ini dapat melemahkan bantuan militer AS ke Ukraina dan memberi Rusia kesempatan untuk menemukan jalan keluar.

Tujuan 4: Mengukir prestasi bagi Xi Jinping untuk keluar dari permasalahan 

Terakhir, jika ketiga tujuan di atas semua tercapai, maka hal ini berarti Xi Jinping memberikan kontribusi di dalam negeri berupa keberhasilan mewujudkan unifikasi terhadap Taiwan, dan di luar negeri berupa membentuk front persatuan internasional. Dengan demikian, ia akan memiliki peluang untuk mengatasi krisis kekuasaannya yang sedang dihadapi, bahkan mungkin berpotensi untuk mendapatkan kembali kekuasaan yang telah hilang dan mendapatkan kembali kendali atas partai. pemerintah, dan militer.

Oleh karena itu, ketika Xi Jinping dan Putin bertemu kali ini, mereka tidak hanya ingin mempromosikan “Perubahan besar yang belum pernah terlihat dalam seabad terakhir” untuk memecahkan kesulitan yang dihadapi bersama oleh Tiongkok dan Rusia, tetapi yang lebih penting, Xi Jinping ingin menggunakan perubahan ini untuk mengambil kembali kekuasaannya yang hilang meskipun kekuatan militer sudah tidak berada di tangannya. 

Selama PKT ikut campur dalam perang, maka kekacauan akan terus muncul. Dan itu adalah momen yang menguntungkan bagi seorang Xi Jinping. Ia dapat memanfaatkan kekacauan untuk melepaskan diri dari kesulitan. Tidak menutup kemungkinan Pasukan Angkatan Darat ke-31 andalannya pada saatnya nanti akan memanfaatkan kekacauan itu untuk membantunya untuk melawan Zhang Youxia.

Terutama baik Kamala Harris maupun Donald Trump saat ini agak meremehkan ambisi Partai Komunis Tiongkok terhadap rencana menyerang Taiwan. Misalnya, seperti yang dikatakan Kamala Harris baru-baru ini, bahwa lawan terbesar Amerika Serikat saat ini adalah Iran, yang melanggar akal sehat politik internasional. Dan Trump mengatakan bahwa jika Partai Komunis Tiongkok memasuki Taiwan, ia akan mengenakan tarif 200% terhadap komoditas Tiongkok. Artinya, Trump ingin menggunakan tekanan ekonomi yang ekstrim untuk memaksa PKT tidak berani menyerang Taiwan.

Namun bagi PKT, mereka tidak pernah menaruh kepedulian terhadap hidup matinya rakyat Tiongkok, mereka hanya peduli terhadap kekuatan dan kepentingan mereka sendiri. Itu sebabnya Mao Zedong meluncurkan Gerakan “Lompatan Jauh ke Depan” yang menyebabkan bencana kelaparan selama tiga tahun, dan kemudian meluncurkan Revolusi Kebudayaan untuk mendapatkan kembali kekuasaannya. Selama masamasa itu, puluhan juta jiwa rakyat Tiongkok telah menjadi korban.

 Oleh karena itu, kedua kandidat presiden Amerika Serikat itu perlu memahami kembali sifat jahat dari partai komunis yang mengabaikan kehidupan manusia. Mereka dapat mengorbankan dunia dan nyawa manusia dengan cara apa pun demi kekuasaan. 

Pada saat yang sama, Taiwan juga harus lebih waspada untuk menilai situasi internasional dan memperkuat pertahanan nasionalnya agar Partai Komunis Tiongkok tidak berani bertindak gegabah. 

Bagaimanapun, ketika menilai situasi musuh kita perlu dari sudut pandang yang luas agar dapat mengantisipasinya, jangan hanya mengandalkan keberuntungan agar tidak diserbu musuh, tetapi andalkan persiapan diri yang memadai untuk menghadapi serbuan musuh.  (sin)

Sumber : Epochtimes.com

Perang Psikologis Mungkin Merupakan Cara Terbaik untuk Menyelamatkan Tentara Korea Utara

oleh Xia Luoshan

Jika tentara Rusia dianggap berjuang demi impian kekaisaran Putin, lalu mengapa tentara Korea Utara pergi ke negara asing yang jauh untuk mempertaruhkan nyawa mereka? Ketika tentara Korea Utara mulai memasuki medan perang untuk ikut berperang melawan pasukan Ukraina, ceritanya belum tentu akan sejalan dengan apa yang dirancang oleh Putin dan Kim Jong-un.

Pada 1 November, beredar berita terbaru sejak Korea Utara ikut serta dalam perang Ukraina. Sebuah video yang diposting di platform media sosial X dan Telegram merekam wawancara seorang tentara Korea Utara dari sebuah unit kecil yang dikirim ke medan pertempuran di Kursk, tentara tersebut mengaku bahwa dirinya adalah satu-satunya tentara Korea Utara yang selamat dalam serangan.

Dalam video tersebut, terlihat seorang tentara Korea Utara dari sebuah unit kecil terdiri 40 orang yang telah menjadi sasaran serangan hebat dari artileri dan drone Ukraina di wilayah Kursk sedang terbaring di ranjang rumah sakit dengan wajah mengalami luka cukup serius. Ia menceritakan pengalamannya di medan perang dalam kalimat-kalimat yang penuh dengan dialek Korea, mengatakan: “Militer Rusia berbohong kepada kami, mereka bilang bahwa kita tidak akan diserang selama tetap berada di kawasan lindung (bunker), katanya bahwa kami tidak akan pernah dikerahkan ke garis depan”. “Namun, selama pertempuran di Kursk, komandan pasukan Rusia dengan ceroboh memaksa kami untuk menyerang. Mereka tidak melakukan pengintaian sama sekali sebelum melancarkan serangan, membiarkan kami dalam kondisi tanpa senjata untuk mempertahankan diri”.

Ketika Ukraina melancarkan serangan, tentara Korea Utara terpaksa ikut menyerang bersama tentara Rusia. “Kami yang terdiri dari 40 orang, termasuk dua teman saya, tewas semuanya”. “Bahkan kepala dari seorang tentara Rusia terpenggal oleh pecahan peluru. Sedangkan saya bisa selamat dengan bersembunyi di bawah tubuh rekan-rekan saya yang tewas”.

Tentara Korea Utara tersebut juga menceritakan lebih banyak detail dengan mengatakan: “Saya mendengar cerita dari kakek saya tentang perang pembebasan (Korea Utara), tapi tidak ada yang seperti ini. Jadi ini adalah fakta bahwa rekan-rekan kami telah digunakan sebagai umpan serangan dan dikorbankan”. “Tentara Ukraina dilengkapi dengan senjata terbaru dan memiliki motivasi tinggi, sedangkan tentara Rusia menderita kerugian serius pada alat berat sehingga mati-matian mengerahkan tentara seperti kami ini untuk melakukan serangan”. “Ini benar-benar dunia yang jahat”. “Saya telah melihat dengan mata kepala saya sendiri tumpukan jenazah tentara Rusia, dan hancurnya lokasi pertahanan”. “Putin pasti akan kalah dalam perang ini”.

Meskipun sejauh ini Ukraina, Rusia, dan Korea Utara belum secara resmi mengklaim bahwa pasukan Korea Utara ikut serta dalam pertempuran tersebut, tetapi prospek konfrontasi langsung antara pasukan Korea Utara dan pasukan Ukraina tampaknya tidak dapat dihindari. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memperingatkan bahwa konflik akan segera menjadi kenyataan, yang akan muncul dalam hitungan hari, bukan bulan.

Pada 1 November, Menteri Luar Negeri Korea Utara Choe Son-hui mengunjungi Moskow. Saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, dia memuji kepemimpinan Presiden Rusia Putin dan berjanji bahwa Pyongyang akan mendukung Moskow “sampai hari kemenangan”.

Selama pembicaraan, Choe Son-hui meyakinkan Lavrov bahwa Korea Utara akan terus mendukung militer Rusia dan mempertahankan “aliansi militer yang tak terkalahkan”. Pada saat yang sama Sergey Lavrov juga mengakui “hubungan yang sangat erat” antara Korea Utara dan Rusia, juga menyatakan bahwa militer dan dinas keamanan dari kedua negara saat ini sedang melaksanakan kerja sama dalam “menangani urusan keamanan yang cukup penting”.

Faktanya, sudah ada konfirmasi resmi mengenai pasukan Korea Utara yang memasuki Rusia perlu menerima pelatihan sebelum diterjunkan ke medan perang. Mengapa pasukan reguler Korea Utara dalam jumlah besar masih perlu dilatih di Rusia sebelum mereka dapat berpartisipasi dalam pertempuran? Hal ini tampaknya menunjukkan bahwa Rusia menyadari bahwa melibatkan pasukan asing dalam perang jarak jauh yang kurang terhormat memerlukan persiapan multifaset yang mungkin memerlukan pengemasan identitas dan pencucian otak, selain pengetahuan yang diperlukan tentang medan perang yang asing juga bukan milik tentara Korea Utara. Setidaknya sebelum mereka gugur “sebagai kusuma bangsa”, pikiran mereka perlu direformasi agar mereka menganggap keterlibatan Korea Utara dalam perang selain “sah” juga “superior”. 

Badan Intelijen Pertahanan Amerika Serikat percaya bahwa militer Korea Utara yang belum pernah bertempur lagi sejak usainya Perang Korea, tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi peperangan modern. Setelah Perang Korea, sifat perang telah berubah drastis, dan tentara Korea Utara pada dasarnya tidak siap untuk berpartisipasi dalam perang ini. Pyongyang semestinya juga telah memahami perubahan ini.

Namun Pyongyang berharap dapat belajar sesuatu dari perang Rusia-Ukraina dan memahami serta menguasai senjata dan peralatan modern serta metode tempur baru dalam praktiknya, termasuk peperangan elektronik (Electronic Warfare. EW), cara menggunakan sistem tak berawak orang pertama  (First Person View. FPV), tindakan anti-drone, juga gangguan GPS, dan lain-lain, untuk dibandingkan dengan potensi konflik di Semenanjung Korea dalam persiapan melawan Korea Selatan dan Amerika Serikat. Namun Korea Utara pada dasarnya tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan hal tersebut kecuali mengoperasikan jammer GPS di dekat DMZ.

Kemungkinan prajurit Korea Utara mendapatkan pengalaman tempur di medan perang akan sangat bergantung pada bagaimana komando militer Rusia memutuskan untuk memanfaatkan kemampuan tempur Korea Utara, serta bagaimana kinerja pasukan Korea Utara dalam pertempuran. Tentara Rusia telah menggunakan taktik serangan frontal yang dipimpin infanteri dalam operasinya di Ukraina, yang umumnya dikenal sebagai “pertempuran tangan kosong”. Hal ini mengakibatkan tingginya korban jiwa di pihak tentara Rusia, yang telah sangat mengurangi dan menghambat kekuatan dan efektivitas tempur tentara Rusia. Penambahan pasukan Korea Utara sepertinya tidak akan mengubah cara militer Rusia berperang.

Pelatihan beberapa minggu jelas tidak dapat mengubah tentara Korea Utara menjadi kekuatan yang dapat berinteraksi secara mulus dengan tentara Rusia. Jika komando militer Rusia memutuskan untuk menggunakan pasukan Korea Utara sebagai “umpan meriam”, tentu saja pelatihan untuk menggunakan peralatan yang rumit dan pelatihan koordinasi taktis untuk pasukan Korea Utara tidak diperlukan lagi. Namun dampaknya akan berupa banyak korban jiwa di pihak militer Korea Utara. Dibandingkan pengalaman berharga di medan perang seperti yang diharapkan Pyongyang. Tentu saja, masa depan tentara Korea Utara yang suram tampaknya tidak akan mempengaruhi kesepakatan antara Kim Jong-un dengan Putin.

Melalui moral yang ditunjukkan oleh tentara Korea Utara kita sudah dapat mengerti banyak hal. Antara lain seperti apa yang diungkapkan oleh tentara Korea Utara yang lolos dari maut karena bersembunyi di bawah jenazah rekan-rekannya, badan intelijen Ukraina juga menyebutkan bahwa lebih dari 18 orang tentara Korea Utara telah kabur dari bunker Rusia sebelum memasuki operasi tempur.

Lee Hyun Seung, seorang pembelot asal Korea Utara yang pernah bertugas di pasukan khusus Korea Utara menulis surat terbuka kepada Presiden Ukraina Zelensky pada 25 Oktober, dengan pesan yang mengharap Zelensky dapat menyelamatkan nyawa tentara Korea Utara yang tidak bersalah dan sedang berperang di Ukraina.

Dia menyatakan dalam suratnya bahwa perang di Ukraina yang diprovokasi oleh Rusia adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Tidak ada alasan bagi militer Korea Utara untuk mengorbankan nyawa tentaranya di medan perang asing. Kim Jong-un hanya menggunakan nyawa tentara Korea Utara sebagai alat tawar-menawar untuk mengantongi dana rahasia jutaan dolar. Itu semua hanya untuk menjaganya tetap aman dan mempertahankan kekuasaannya. “Itu bukan perang demi membela kebenaran, juga bukan untuk membela tanah air dan kepentingan Anda sendiri, orang tua Anda atau saudara-saudara Anda. Ini adalah kejahatan brutal yang semata-mata didorong oleh keserakahan dan keinginan Kim Jong-un untuk mempertahankan kekuasaan serta didorong oleh ambisinya”. Lee meminta tentara Korea Utara untuk berani memilih jalan baru demi mengejar kebebasan.

Lee Hyun-seung menekankan bahwa tidak seperti tentara dan sukarelawan Rusia atau tentara bayaran yang secara sukarela bergabung dalam konflik demi uang, tentara Korea Utara yang dikirim ke Rusia tidak termotivasi oleh kesetiaan kepada Rusia atau untuk mengejar kepentingan finansial tidak ada kepentingan pribadi di dalamnya. Mereka adalah korban dari kesepakatan antara Kim Jong-un dan Putin. Satu-satunya “kesalahan” yang dilakukan para prajurit tak berdosa ini adalah bahwa mereka dilahirkan di Korea Utara.

Dia meminta Zelensky untuk menyelesaikan masalah tersebut bukanlah dengan senjata, melainkan perang psikologis, yang bahkan lebih dahsyat daripada senjata nuklir, karena generasi muda yang menghadapi kekecewaan ini tidak ingin mati konyol.

Dia mendesak Zelensky untuk bekerja sama dengan pemerintah Korea Selatan dalam melakukan perang psikologis, termasuk mengerahkan siaran Korea sepanjang waktu lewat pengeras suara di garis perbatasan, mendistribusikan selebaran melalui drone, menggunakan radio portabel, dan mengerahkan tim perang psikologis khusus. Melalui cara-cara ini untuk menekankan bahwa misi tentara Korea Utara adalah sia-sia, dan para prajurir tidak akan mendapatkan keuntungan apa pun sebagai balas jasa dari Kim Jong-un.

Selain itu siaran juga digunakan untuk mengungkap kekejaman Kim Jong-un dan menggambarkan kebenaran tentang dunia bebas dan jalan aman untuk menyerah. Pada saat yang sama, rumah aman, persediaan makanan, dan konsultasi online dibentuk untuk memberikan dukungan yang cepat dan aman bagi para pengungsi yang melarikan diri.

Lee percaya bahwa jika Ukraina menggunakan kesempatan ini untuk menunjukkan kepada para tentara Korea Utara yang berperang untuk Rusia, bahwa ada jalan menuju kehidupan yang lebih baik, kesempatan untuk merasakan kebebasan, melihat dunia yang belum pernah mereka kenal, dan mematahkan belenggu psikologis yang dikenakan Kim Jong-un terhadap mereka, maka Zalensky bisa meyakinkan mereka untuk menyerah secara damai. Hal ini tidak cuma menghilangkan ancaman baru yang datang dari Korea Utara terhadap Ukraina, namun juga akan menyelamatkan nyawa generasi muda yang tidak ingin berperang.

Ketika berbicara tentang pasukan Korea Utara pada 30 Oktober, Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengatakan, bahwa jika situasi ini terus berlanjut, konflik akan menjadi panjang dan meluas. Jika demikian, pasukan Korea Utara akan menjadi sasaran empuk bagi Ukraina yang menggunakan senjata AS.

Ini berarti bahwa tentara Korea Utara akan menghadapi pukulan fatal dari senjata dan amunisi Amerika Serikat yang sangat mematikan di medan perang, dan mungkin juga mereka akan menghadapi pukulan dari belakang oleh pasukan Rusia. Dalam hal ini, perang psikologis kemungkinan akan jauh lebih efektif dibandingkan dengan “pembunuhan” lewat artileri terhadap pasukan Korea Utara yang menyerbu Ukraina.  (Sin)

Alasan di Balik Canggungnya Zhongnanhai Merespons Kembalinya Trump ke Gedung Putih

oleh Zhong Yuan

Pada 6 November 2024 malam sekitar pukul 02.30 Waktu AS Bagian Timur Donald Trump mengumumkan kemenangannya atas pemilu AS 2024. Tak lama kemudian ucapan selamat mengalir dari sebagian besar kepala negara di dunia. Pada 6 November pukul 15:30 waktu Beijing, Kantor Berita Xinhua juga merilis pemberitaan ihwal kemenangan Trump. Namun, situs Kementerian Luar Negeri Tiongkok baru mengeluarkan pernyataan tanya jawab dan memberikan ucapan selamat pada pukul 23.30 tengah malam itu tetapi tidak termasuk Xi Jinping. Tidak heran jika tanggapan dari 7 anggota Komite Tetap Politbiro Partai Komunis Tiongkok (PKT) terasa canggung karena 3 di antaranya sedang tidak berada di Beijing pada saat itu.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok lagi-lagi menunjukkan rasa cemas

Pada konferensi pers Kementerian Luar Negeri Partai Komunis Tiongkok yang berlangsung pada 6 November, seorang reporter bertanya tentang sikap Partai Komunis Tiongkok terhadap hasil pemilu AS. Awalnya juru bicara Mao Ning mengatakan bahwa dia “tidak akan menjawab pertanyaan yang merupakan hipotetis”, tetapi setelah didesak, ia kemudian mengatakan bahwa “masalah terkait hal itu akan ditangani sebagaimana biasanya”.

Situs web Kementerian Luar Negeri Tiongkok masih mengeluarkan topik yang berkaitan dengan tanya jawab di atas pada pukul 17:43 hari itu, meskipun Kantor Berita Xinhua telah memberitakan kemenangan Trump pada pukul 15:30:40 dengan mengatakan: “Media AS memperkirakan Trump telah berhasil meraih lebih dari 270 suara elektoral”, setelah itu pada pukul 15:32:26 Xinhua memberitakan bahwa Trump telah menyampaikan pernyataan kemenangannya.

Kantor Berita Xinhua yang terus melakukan pemantauan dengan cermat atas pemilu AS, langsung melaporkan ketika Trump mengumumkan kemenangannya pada 6 November pukul 02.30 Waktu AS Bagian Timur, yang bertepatan dengan pukul 15.30 waktu Beijing. Hal ini tidak mungkin tidak diketahui oleh Kementerian Luar Negeri Tiongkok, namun juru bicara Mao Ning masih tetap berusaha menghindar dari pemberian respon saat konferensi pers karena belum memperoleh instruksi dari Zhongnanhai, sehingga acara diisi dengan tanya jawab walau sudah pukul 17:43 waktu Beijing.

Baru pada pukul 23:30 tengah malam hari itu situs web Kementerian Luar Negeri Partai Komunis Tiongkok menyisipkan tulisan yang berbunyi: Hanya satu kalimat yang disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri saat menjawab pertanyaan wartawan tentang hasil pemilihan presiden AS, yaitu ‘Kami menghormati pilihan rakyat Amerika Serikat dan mengucapkan pesan selamat kepada Mr. Donald Trump yang terpilih sebagai presiden’. Padahal dalam konferensi pers hal ini tidak ada. Isi tanya jawab dalam konferensi per itu dilaporkan oleh Xinhua pada pukul 23:57:57.

Kementerian Luar Negeri Partai Komunis Tiongkok mungkin menganggap bahwa “yang penting urusan sudah dibereskan sebelum berganti tanggal”. Tetapi sangat tidak tepat untuk memasukkan sesi tanya jawab dan pesan ucapan selamat ini ke dalam konferensi pers yang disebut “rutin”. Selain itu, ada 2 berita yang dilaporkan pada halaman beranda situs web Kementerian Luar Negeri PKT pada 5 November, yaitu “Xi Jinping mengirimkan pesan ucapan selamat kepada Presiden terpilih Botswana, Duma Gideon Boko”. Satu lagi yaitu “Xi Jinping mengirimkan pesan ucapan selamat kepada Naiqama Lalabalavu yang terpilih sebagai Presiden Fiji”.

Meskipun pada 5 November Xi Jinping tidak berada di Beijing, tetapi ia masih dapat mengirimkan pesan ucapan selamat tepat waktu kepada presiden terpilih Botswana dan Fiji. Namun, setelah Trump mengumumkan kemenangannya, Xi Jinping justru gagal mengirim pesan ucapan selamat tepat waktu. Hal ini sangat berbeda dengan respons dari para kepala negara besar di dunia.

Mungkin saja pribadi Xi Jinping memang tidak bersedia mengirim pesan ucapan selamat, namun hal tersebut jelas bertentangan dengan pernyataan dalam propaganda PKT yang menyebutkan bahwa, hubungan Tiongkok – AS sudah “kembali ke jalur yang benar”. Entah bagaimana reaksi dari para anggota Komite Tetap Biro Politik PKT yang berada dan tidak berada di Zhongnanhai? Juga tidak tahu bagaimana reaksi dari para pensiunan anggota Komite Tetap Politbiro yang baru mendapatkan kembali hak untuk bersuara? Apakah pemimpin PKT ini ingin melepas tanggung jawabnya lantaran kekuasaannya mengalami pengerdilan baru-baru ini? Atau cuma sekedar menunjukkan ke dalam dan luar negeri bahwa dirinya sedang ngambek? 

Tindakan PKT tersebut menyebabkan runtuhnya gembar-gembor mereka tentang “diplomasi negara besar” dan “diplomasi kepala negara”. Kekacauan yang terjadi di jajaran pemimpin tertinggi di Beijing saat ini telah membuat siapa pun yang berada di Zhongnanhai mampu memprediksikan dan merespons peristiwa-peristiwa besar internasional secara normal.

Sebuah pertanda yang memalukan

Baru-baru ini, Kantor Berita Xinhua meluncurkan propaganda berintensitas tinggi yang isinya mencemarkan nama baik pemilu AS, menunjukkan bahwa para pejabat senior Partai Komunis Tiongkok memahami bahwa Trump berambisi untuk kembali ke Gedung Putih, yang kurang mendapat respek dari Zhongnanhai, sehingga menginstruksikan media untuk menghindari pembicaraan mengenai pemilu AS, pemungutan suara berskala besar yang berjalan lebih awal, dll., Selain itu juga secara membabi buta menjelek-jelekkan pemilu demokratis AS. Tindakan ini lebih seperti orang yang tidak berdaya sedang melampiaskan kejengkelannya.

Selama masa jabatan Trump pada tahun 2017 hingga 2020, kebijakan luar negeri terbesarnya adalah mengalahkan Partai Komunis Tiongkok melalui perang dagang, pada saat yang sama membuat  pemimpin Partai Komunis Tiongkok “pusing tujuh keliling”.

Dalam empat tahun terakhir sejak menjabat, Biden telah sepenuhnya mempertahankan tarif impor terhadap komoditas Tiongkok yang diberlakukan Trump di era pemerintahannya. Selama kampanye, Trump menyatakan bahwa ia akan menaikkan lagi tarif setidaknya sebesar 60% terhadap komoditas yang diimpor dari Tiongkok. Bahkan berjanji akan menaikkan tarif menjadi 100 hingga 200% jika PKT berani menggunakan kekerasan terhadap Taiwan. Trump juga mengatakan bahwa jika PKT menyerang Taiwan, Amerika Serikat akan mengebom Beijing.

PKT terus berusaha mengganggu suasana pemilu AS, termasuk menggunakan sejumlah besar akun media sosial palsu untuk menyebarkan berita palsu, menciptakan kebencian dan kekacauan, namun pada akhirnya tak satu pun upaya PKT itu dapat menghentikan langkah Trump untuk masuk kembali ke Gedung Putih. 

Zhongnanhai menyadari bahwa Gedung Putih akan menjadi lebih sulit dihadapi di hari-hari mendatang, mungkin tak satu pun pemimpin di Zhongnanhai yang memiliki kepercayaan diri untuk menghadapi Trump saat ini. Bahkan mungkin tak ada lagi pejabat PKT yang bersedia menemui Trump untuk  menunjukkan PKT ingin berbaik dengan AS.

Mungkin saja keenam orang anggota Komite Tetap Biro Politik PKT dan anggota Biro Politik lainnya saat ini sedang menanti bagaimana pemimpin PKT terpaksa menundukkan kepala dan mengakui kesalahannya dalam memimpin negara ini, sambil menanti tontonan adegan dimana banyak orang melakukan perhitungan final terhadap pemimpin PKT bila ia masih mau berkeras kepala untuk melawan. Tidak menutup kemungkinan ia dilengserkan. 

Namun, meski pemimpin Partai Komunis Tiongkok sudah bisa memperkirakan hasil pemilu AS yang bakal keluar pada 5 November, ia tidak mau begitu saja mengaku kalah. Jadi pada 4 November ia buru-buru pergi ke Kota Xiaogan, Xianning, dan Wuhan di Provinsi Hubei untuk melakukan inspeksi hingga 6 November yang ia gunakan sebagai isyarat untuk mengelak pemberian ucapan selamat tepat waktu dengan alasan bahwa dirinya sedang tidak berada di Beijing, tidak menunggu Trump mengumumkan kemenangannya. 

Apa yang dilakukan anggota Komite Tetap Biro Politik Partai Komunis Tiongkok?

Mengingat hubungan krusial antara Tiongkok dan Amerika Serikat, sewajarnya pada hari pemilu AS para anggota Komite Tetap Biro Politik Partai Komunis Tiongkok tidak berpencar-pencar tapi berkumpul untuk bersama-sama membahas apa saja tindakan yang dibutuhkan dalam perubahan pemerintahan. Namun, pemimpin Partai Komunis Tiongkok malahan memilih untuk melakukannya inspeksi ke Provinsi Hubei dan militer yang sepertinya ia tidak tahu mana yang lebih penting. Apakah hal ini berkaitan dengan kekuasaannya yang sudah dikerdilkan?

Pada 5 November Li Qiang pergi ke Shanghai untuk menghadiri upacara pembukaan Ekspo Impor meskipun tidak banyak undangan yang hadir untuk mendukungnya. Tetapi ini juga masih merupakan peluang untuk menunjukkan ambisinya. Di sana Li Qiang menemui tamu asing yang diundang, termasuk Perdana Menteri Kazakhstan Oljas Bektenov, Perdana Menteri Uzbekistan Abdulla Nigmatovich Aripov, Perdana Menteri Serbia Milos Vucevic, Perdana Menteri Mongolia Oyun-Erdene Luvsannamsrain, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, dan Pemimpin junta militer Myanmar Min Aung Hlaing, tetapi tujuan pameran impor PKT ini sesungguhnya bukan untuk negara-negara ini.

Shanghai boleh dianggap sebagai tempat Li Qiang naik daun. Jadi sambil menunjukkan ambisinya di Shanghai ia bisa terhindar dari memberikan respons langsung terhadap hasil pemilu AS, sekaligus menunggu bagaimana tanggapan dari Beijing. Tetapi pemimpin Partai Komunis Tiongkok malahan sudah meninggalkan Beijing sehari sebelumnya.

Meski Zhao Leji yang menjabat sebagai Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional tidak meninggalkan Beijing karena dirinya masih memimpin rapat dengan anggotanya pada 6 November. Tetapi dia dapat menggunakan alasan ini untuk mengatakan bahwa dia tidak dapat melepaskan diri, apalagi berpartisipasi tepat waktu untuk mendiskusikan dalam masalah tindakan penanggulangan terhadap AS yang akan berganti presiden.

Wang Huning, Ketua Konferensi Permusyawaratan Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC) menemui Ketua Parlemen Hongaria Laszlo Kover yang sedang berkunjung di Beijing pada 6 November. Memang kurang tepat CPPCC yang sebenarnya hanyalah organisasi front persatuan, bukan badan legislatif menemui pimpinan kongres asing, namun hal ini bisa dipakai sebagai alasan bahwa dirinya tidak menganggur pada saat pengumuman hasil pemilu AS.

Cai Qi yang lagi-lagi tidak diikutsertakan oleh Xi Jinping dalam perjalanan inspeksinya, muncul dalam laporan Kantor Berita Xinhua pada 6 November, katanya dia diminta oleh Xi Jinping untuk menghadiri Konferensi Pekerjaan Sosial Pusat sekaligus menyampaikan instruksi Xi Jinping. Mungkin saja Cai Qi ingin melalui kemunculannya di berita Xinhua untuk menunjukkan bahwa ia masih baik-baik saja walau tidak menemani Xi Jinping dalam perjalanan inspeksi. Namun, ada rumor beredar yang menyebutkan bahwa Cai Qi telah kehilangan kekuasaannya berbarengan dengan Xi Jinping. Ada juga rumor bahwa Cai Qi mengkhianati Xi Jinping.

Belakangan ini tidak ada berita tentang Ding Xuexiang. Penampilan terakhirnya adalah pada 25 Oktober di Beijing ketika ia bertemu dengan perwakilan komite penasihat Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Tsinghua, termasuk ketua komite penasihat Tim Cook. Mantan Perdana Menteri Tiongkok Zhu Rongji juga memanfaatkan hal ini untuk membuat suaranya didengar oleh rezim yang berkuasa, namun Kantor Berita Xinhua tidak melaporkannya.

Li Xi mengunjungi Kenya, Afrika dari 3 hingga 5 November.

Tiga dari tujuh anggota Komite Tetap Politbiro tidak berada di Beijing. Paling-paling, mereka hanya dapat bertemu melalui video atau telepon untuk membahas bagaimana menanggapi kemenangan Trump, meskipun akhirnya tidak ada hasil yang disepakati. Hal ini mungkin yang menjadi penyebab Kementerian Luar Negeri PKT terpaksa menggunakan sesi tanya jawab sebagai ucapan selamat atas terpilihnya Donald Trump. 

Kembalinya Trump ke Gedung Putih merupakan peristiwa besar di dunia. Sedangkan Komite Tetap Biro Politik Partai Komunis Tiongkok saat ini lebih seperti pasir lepas yang tidak terorganisir, tanpa persiapan atau kemampuan untuk benar-benar membahas strategi terkait bagaimana Tiongkok menghadapi perubahan rezim di AS di masa mendatang.

Baik secara langsung maupun tidak, PKT sudah memperlihatkan kepada dunia keadaan sebenarnya dari situasi politik Beijing pada saat ini melalui tanggapannya yang malu-malu dan canggung terhadap Donald Trump yang terpilih lewat pemilu demokratis AS. Padahal Trump itu bukan seorang amatiran politik, bagaimana kalau ia sampai menggunakan kesempatan langkahnya itu untuk kembali membuat PKT “tergeletak di atas kanvas”? (sin)

Sumber : Epochtimes.com

Krisis Global Meledak: ICC Kejar Netanyahu, Trump Seret Tiongkok, dan Rusia Siaga Penuh!

EtIndonesia. Dunia internasional tengah diguncang oleh serangkaian perkembangan signifikan yang melibatkan politik, hukum internasional, dan dinamika militer. Keputusan Pengadilan Pidana Internasional (ICC) untuk mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant, serta komandan departemen militer Hamas, Dai Fei, telah memicu reaksi beragam dari berbagai negara dan organisasi global. Sementara itu, ketegangan militer meningkat dengan langkah-langkah strategis dari Rusia dan Korea Utara, serta respons politik dalam negeri Amerika Serikat dan partai Republik.

ICC Mengeluarkan Perintah Penangkapan yang Memicu Kontroversi Global

Pada tanggal 21 November, Jaksa ICC Karim Khan mengeluarkan perintah penangkapan terhadap tiga tokoh penting: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant, dan komandan militer Hamas, Dai Fei. Keputusan ini menuai kegaduhan global, dengan 17 negara dan organisasi internasional memberikan tanggapan yang beragam.

Beberapa negara Eropa, termasuk Kanada, Turki, Finlandia, Swedia, Norwegia, dan Belgia, menyatakan dukungan penuh mereka terhadap keputusan ICC, menegaskan bahwa keputusan tersebut bukanlah langkah politik melainkan hasil proses hukum internasional yang harus dihormati dan dilaksanakan. Menteri Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell, menegaskan hal serupa, menekankan pentingnya penghormatan terhadap yurisdiksi pengadilan internasional.

Namun, keputusan ini mendapat kritik tajam dari Amerika Serikat. Presiden Joe Biden menyebut tindakan ICC sebagai provokatif dan menyatakan bahwa tidak ada hubungan setara antara Israel dan Hamas. Biden juga menegaskan bahwa Amerika Serikat akan selalu berdiri bersama Israel dalam menghadapi ancaman keamanan, sekaligus mempertanyakan legitimasi ICC karena baik Israel maupun Amerika Serikat bukan anggota pengadilan tersebut dan menolak yurisdiksinya.

Di sisi lain, Perdana Menteri Irlandia, Leo Varadkar, mengumumkan bahwa jika Netanyahu memasuki wilayah Irlandia, negara tersebut akan menegakkan kewajiban kontraktualnya untuk menangkapnya. Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orbán, juga menyatakan niatnya untuk mengundang Netanyahu mengunjungi Hongaria, menunjukkan sikap yang lebih ramah terhadap pemimpin Israel.

Reaksi dalam Negeri Amerika Serikat dan Partai Republik

Di Amerika Serikat, ketegangan politik semakin memanas. Gubernur Texas mengeluarkan perintah kepada seluruh lembaga negara bagian untuk menarik investasi secara menyeluruh dari Tiongkok dan mengambil langkah untuk menangkap agen Tiongkok. 

Sementara itu, Menteri Keuangan Trump telah terpilih, dan Partai Republik berhasil mendapatkan empat tempat di pengadilan sirkuit Prancis.

Anggota parlemen Israel, Ricky Torres, mengkritik keputusan ICC sebagai contoh terburuk penggunaan hukum internasional sebagai senjata politik. Dia menyatakan bahwa ICC telah menciptakan preseden untuk mendakwa tindakan pembelaan diri, yang dapat mengancam negara-negara yang berani melawan musuh yang menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia.

Trump, yang diperkirakan akan mengambil tindakan lebih lanjut untuk melindungi Israel, sedang mempertimbangkan sanksi terhadap hakim-hakim ICC, termasuk Jaksa Utama Karim Khan dan hakim yang mengeluarkan perintah penangkapan. Selain itu, Trump baru saja mengangkat Scott Bessent, seorang manajer hedge fund yang mendukung kampanye Trump, sebagai Menteri Keuangan, dengan tugas mengawasi agenda ekonomi pemerintahan baru.

Peningkatan Ketegangan Militer dari Rusia dan Korea Utara

Sementara itu, dinamika militer global juga menunjukkan tanda-tanda peningkatan ketegangan. Delapan resimen rudal Rusia telah memasuki status siaga penuh setelah Amerika Serikat dan Inggris mengirimkan senjata jarak jauh ke Ukraina. Menurut laporan Associated Press, pasukan rudal dan angkatan laut Rusia menunjukkan risiko eskalasi perang yang serius.

Selain itu, tentara Korea Utara telah berkumpul di berbagai front, siap melakukan tindakan militer. Sumber dari Ukraina mengungkapkan bahwa konsultan militer Korea Utara telah tiba di Mariupol yang kini dikuasai Rusia, dan pasukan Korea Utara telah memasuki front di Halifax serta beberapa dipindahkan kembali ke daerah perbatasan Belgorod. Pasukan Korea Utara dikabarkan sedang menyusun unit-unit kecil di front, siap melakukan serangan mendadak.

Di Eropa, Komite Militer NATO mengadakan pertemuan di Belgia pada tanggal 22 November 2024. Laksamana Rob Bauer memperingatkan bahwa konflik bisa terjadi kapan saja dan menekankan pentingnya kesiapan terus-menerus. Wakil Kepala Staf Departemen Pertahanan Inggris, Mark Wan, menyatakan bahwa jika Rusia menginvasi negara anggota NATO di Eropa Timur, pasukan bersenjata Inggris siap merespons segera. Wan juga menegaskan komitmen angkatan bersenjata Inggris untuk mempertahankan sekutu-sekutu NATO dan siap bertempur melawan pasukan Rusia kapan saja.

Pada tanggal yang sama, Sekretaris Jenderal NATO, Todt, tiba di Sea Lake, Florida, untuk mengadakan pertemuan rahasia dengan presiden terpilih AS,  Trump. Meskipun isi pertemuan tidak diungkapkan secara rinci, diketahui bahwa setelah kemenangan Trump, Todt telah memperdalam kerja sama ekonomi dan militer antar Tiongkok, Rusia, Korea Utara, dan Iran, serta memberikan peringatan terhadap ancaman yang ditimbulkan bagi Eropa, Indo-Pasifik, dan Amerika Utara.

Kesimpulan

Serangkaian peristiwa ini mencerminkan kompleksitas hubungan internasional yang semakin rumit, di mana keputusan hukum internasional dan dinamika politik domestik saling berinteraksi dengan ketegangan militer global. Dengan reaksi yang beragam dari negara-negara dan organisasi internasional, serta peningkatan langkah-langkah militer dari kekuatan besar, situasi global saat ini menunjukkan tantangan besar bagi stabilitas dan perdamaian dunia.

Ketegangan Dunia Meningkat: Rusia Transfer Sistem Rudal ke Korea Utara, Eropa Respon dengan Aliansi Kuat!

EtIndonesia. Ketegangan geopolitik semakin meningkat seiring dengan perkembangan terbaru di wilayah Timur Tengah dan Eropa. Pada tanggal 22 November 2024, seorang pejabat senior Korea Selatan mengungkapkan bahwa Rusia telah menyediakan sistem rudal pertahanan udara kepada Korea Utara sebagai imbalan atas pengiriman pasukan untuk mendukung invasi Rusia di Ukraina. Langkah ini menambah dinamika kompleks dalam konflik yang tengah berlangsung dan memperdalam hubungan militer antara Rusia dan Korea Utara.

Dukungan Militer Rusia kepada Korea Utara

Shin Won-sik, Penasehat Keamanan Nasional Presiden Korea Selatan, menyatakan bahwa Rusia tidak hanya memberikan dukungan ekonomi tetapi juga teknologi militer canggih kepada Korea Utara. 

“Rusia kemungkinan akan mentransfer teknologi senjata yang dapat meningkatkan kemampuan nuklir Korea Utara,” ujarnya. 

Dukungan ini diharapkan dapat memperkuat posisi Korea Utara di panggung internasional.

Pada puncak pertemuan G20 dan KTT APEC pada tanggal 21 November 2024, Presiden Tiongkok Xi Jinping mengimbau agar lebih banyak suara yang mendukung perdamaian berkumpul dalam isu Ukraina. Namun, Perdana Menteri Jerman Olaf Scholz memperingatkan Xi bahwa pengiriman pasukan Korea Utara untuk berperang melawan Ukraina akan menyebabkan eskalasi konflik yang lebih parah. 

Presiden Korea Selatan, Yoon Hee-yeol, juga meminta Xi untuk memainkan peran konstruktif dalam memperdalam hubungan antara Korea Utara dan Rusia. Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, menekankan kepada Xi bahwa Tiongkok memiliki pengaruh dan kemampuan untuk mencegah konflik di Ukraina yang diperburuk oleh pengiriman pasukan Korea Utara.

NATO dan Pembentukan Model Ukraina Grup Utara

Pada tanggal 22 November 2024, Komite Militer NATO mengadakan pertemuan di Markas Komando Aliansi Tertinggi NATO untuk memperkuat rencana pertahanan kolektif menghadapi ancaman Rusia. Komandan Aliansi Tertinggi NATO, Cavorli, menekankan pentingnya persatuan dalam operasi militer, sementara Laksamana Powell memperingatkan bahwa konflik bisa meletus kapan saja dan kesiapan harus selalu dijaga.

Dalam konteks yang sama, 12 negara Eropa—termasuk Denmark, Swedia, Finlandia, tiga negara Baltik, Inggris, dan Polandia—telah membentuk “Model Ukraina Grup Utara”. Menurut laporan Reuters, kelompok ini bertujuan membangun rantai pasokan industri militer yang stabil untuk memastikan Ukraina dapat mandiri dalam konflik jangka panjang melawan Rusia. 

BBC melaporkan bahwa negara-negara ini berharap model baru ini dapat membentuk aliansi yang lebih erat untuk menghadapi tantangan keamanan di Eropa Timur dan wilayah Baltik, terutama jika NATO tidak dapat merespons secara efektif.

Amerika Serikat dan Bantuan Maksimal kepada Ukraina

Amerika Serikat terus berupaya memberikan bantuan maksimal kepada Ukraina, termasuk mengusulkan pengembalian senjata nuklir. Pemerintahan Biden baru-baru ini mencabut izin penggunaan rudal taktis angkatan darat buatan Amerika Serikat oleh Ukraina. Menurut analis, Amerika Serikat memiliki kapasitas untuk menyediakan 1.281 rudal taktis yang memiliki nilai strategis tinggi untuk Ukraina, khususnya dalam menghancurkan posisi pertahanan udara dan fasilitas logistik Rusia.

Sanksi Amerika Serikat terhadap Perusahaan Tiongkok dan Ancaman Siber

Pada tanggal 22 November 2024, pemerintah Amerika Serikat mengumumkan bahwa 29 perusahaan Tiongkok telah dimasukkan ke dalam daftar hitam terkait kerja paksa di wilayah Xinjiang. Langkah ini menghentikan impor lebih dari 20 perusahaan Tiongkok dan merupakan putaran sanksi terbesar yang pernah dilakukan AS terhadap Tiongkok sejak 2022. 

Presiden Meksiko, Andrés Manuel López Obrador, menegaskan bahwa Meksiko tidak akan menjadi jalur masuk barang-barang Tiongkok ke Amerika Serikat dan Kanada, serta bersedia membantu membendung pengaruh Tiongkok.

Selain itu, Ketua Komite Intelijen Senat Federal, Warner, memperingatkan bahwa Amerika Serikat tengah mengalami serangan siber besar-besaran dari Tiongkok. FBI dan Biro Keamanan Siber AS melaporkan bahwa hacker Tiongkok telah menyusup ke berbagai perusahaan telekomunikasi, mencuri data dari akun aktivis politik, dan mengancam keamanan nasional. Microsoft melaporkan lebih dari 600 juta serangan siber setiap hari, sebagian besar dilakukan oleh kelompok kriminal dan operasi gabungan negara musuh seperti Tiongkok, Rusia, dan Iran.

Konsekuensi dan Tanggapan Internasional

Serangan siber ini telah menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur telekomunikasi dan data penting di Amerika Serikat serta negara-negara lain. Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Alejandro Mayorkas, menyatakan bahwa penegakan hukum terhadap pelanggaran hak asasi manusia merupakan prioritas utama. Selain itu, beberapa negara Eropa seperti Jerman dan Inggris juga telah mengenakan sanksi terhadap aktivitas siber yang didukung Pemerintah Tiongkok.

Kesimpulan

Situasi geopolitik global saat ini menunjukkan peningkatan ketegangan antara kekuatan besar seperti Rusia, Tiongkok, dan Amerika Serikat. Pembentukan aliansi baru, sanksi ekonomi, serta serangan siber menandai dinamika konflik yang semakin kompleks. Dengan adanya dukungan militer Rusia kepada Korea Utara dan upaya internasional untuk mendukung Ukraina, dunia tengah berada di ambang perubahan besar yang dapat mempengaruhi stabilitas dan keamanan global.

Gubernur Texas Keluarkan Tiga Perintah Melawan Ancaman PKT, FBI Peringatkan Operasi Partai Komunis Tiongkok

Pada minggu ini, Gubernur Texas Greg Abbott mengeluarkan tiga perintah eksekutif untuk melawan ancaman dari Partai Komunis Tiongkok (PKT). Sementara itu, Biro Investigasi Federal AS (FBI) memperingatkan adanya tindakan penindasan lintas batas oleh PKT terhadap warga Texas keturunan Tionghoa yang berbeda pendapat.

ETIndonesia. Gubernur Texas Greg Abbott pada Senin (18 November) menandatangani perintah eksekutif berjudul “Mencegah Gangguan atau Pemaksaan oleh Musuh Asing terhadap Warga Texas”. Perintah ini menginstruksikan Departemen Keamanan Publik Texas untuk menyelidiki dan menangkap siapa saja yang berusaha bertindak atas nama pemerintah PKT, termasuk mereka yang mencoba memulangkan paksa para pembangkang PKT ke negaranya.

Abbott mengungkapkan bahwa sebuah “pos layanan polisi” PKT telah ditemukan di Houston. Pos tersebut adalah salah satu dari enam pusat serupa yang terungkap di Amerika Serikat. Abbott menegaskan, “Texas tidak akan mentoleransi PKT atau agen-agen jahatnya untuk mengganggu atau memaksa lebih dari 250.000 warga Texas keturunan Tionghoa yang sah.” Ia juga menambahkan, “Kami akan menangkap siapa pun yang berhubungan dengan PKT atau terlibat dalam rencana yang menargetkan warga Texas.”

Pada hari yang sama, kantor FBI di Houston juga mengeluarkan peringatan melalui platform X (sebelumnya Twitter). FBI menyebut bahwa pemerintah PKT”mungkin melakukan pengintaian daring, intimidasi fisik, dan pelecehan terhadap warga Tiongkok yang tinggal di Texas, termasuk warga negara AS yang telah dinaturalisasi serta keluarga para pembangkang.” FBI juga mendorong korban penindasan lintas batas oleh PKT untuk melaporkan melalui hotline FBI.

Texas, yang memiliki jaringan listrik terbesar dan ladang minyak terbesar di AS, kembali menjadi pusat perhatian pada Selasa (19 November) ketika Abbott mengeluarkan dua perintah eksekutif tambahan. 

Perintah ini berjudul “Memperkuat Pemerintahan Negara Bagian” dan “Melindungi Infrastruktur Kritis”, yang menginstruksikan lembaga negara bagian dan institusi pendidikan tinggi publik untuk meningkatkan keamanan siber mereka. 

Perintah ini bertujuan untuk melindungi infrastruktur penting, kekayaan intelektual, dan informasi pribadi dari ancaman mata-mata oleh PKT dan agennya.

Pada Kamis (21 November), Abbott juga mengirimkan surat kepada lembaga pemerintah negara bagian Texas yang berisi perintah untuk melarang lembaga investasi Texas melakukan investasi baru di Tiongkok dan segera menarik investasi yang ada di Tiongkok sesegera mungkin. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Rusia: Penggunaan Rudal Baru sebagai ‘Peringatan’ kepada Barat

EtIndonesia. Kremlin pada hari Jumat (22/11) menyatakan bahwa penggunaan rudal balistik hipersonik yang baru dikembangkan untuk menyerang Ukraina merupakan pesan kepada Barat bahwa Moskow akan merespons atas keputusan dan tindakan ‘ceroboh’ mereka dalam mendukung Ukraina. Sehari sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa Moskow telah meluncurkan rudal baru—’Oreshnik’ ke fasilitas militer Ukraina.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan mengatakan: “Pesan utamanya adalah bahwa keputusan dan tindakan ceroboh negara-negara Barat, menyediakan rudal ke Ukraina, dan kemudian ikut serta dalam serangan terhadap wilayah Rusia, akan mendapat respon dari pihak Rusia.”

Dia juga menyatakan: “Pihak Rusia telah jelas menunjukkan kemampuannya, dan kontur tindakan balasan lebih lanjut sudah cukup jelas jika kekhawatiran kami tidak dipertimbangkan.”

Peskov menyatakan bahwa terkait serangan ini, Rusia tidak memiliki kewajiban untuk memberikan peringatan terlebih dahulu kepada AS, namun masih memberitahukan AS 30 menit sebelum peluncuran.

Dia mengatakan, Presiden Putin masih bersedia untuk dialog, namun dia menyatakan bahwa pemerintahan Biden yang akan segera berakhir ‘lebih condong untuk melanjutkan jalur eskalasi’.

Putin pada hari Kamis menyatakan, Ukraina di bawah persetujuan pemerintahan Biden pada hari Selasa menggunakan ATACMS buatan AS, pada hari Kamis menggunakan rudal jelajah ‘Storm Shadow’ dari Inggris dan rudal HIMARS buatan AS untuk menyerang Rusia, setelah itu, Rusia meluncurkan rudal baru. Dia menuturkan, ini berarti perang Ukraina sekarang ‘telah mendapatkan elemen global’.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa penggunaan rudal baru oleh Rusia merupakan ‘peningkatan yang jelas dan serius’ dalam perang, dan meminta dunia untuk mengutuk keras.

Menteri Pertahanan Ukraina: Akan Merespons

Menteri Pertahanan Ukraina Rustem Umerov menyatakan, Ukraina sedang meningkatkan kemampuan pertahanan udara untuk menghadapi serangan rudal balistik baru Rusia terhadap Kota Dnipro Ukraina. 

Pada hari Jumat, Umerov dalam briefing media di Stockholm dengan Menteri Pertahanan Swedia Pål Jonson mengatakan: “Ini adalah kali kedua mereka meningkatkan situasi tahun ini. Yang pertama adalah pengiriman pasukan tentara Korea Utara, sekarang mereka menggunakan rudal. Oleh karena itu, pada tahap ini, kami sedang berusaha meningkatkan kemampuan, memperkuat pertahanan udara, dan kami sedang aktif merespons.” 

Pengawasan Ukraina untuk intelijen militer menyatakan bahwa rudal Rusia terbang selama 15 menit, mengenai Dnipro, dengan kecepatan tertinggi lebih dari 11 Mach (setara dengan 11 kali kecepatan suara). 

Dalam pernyataan tersebut juga mengatakan: “Rudal dilengkapi dengan enam hulu ledak, setiap hulu ledak berisi enam peluru. Kecepatan rudal di tahap akhir lintasannya lebih dari 11 Mach.”

Awalnya Ukraina menganggap Rusia telah meluncurkan rudal balistik antarbenua, tetapi pejabat AS dan NATO kemudian mengkonfirmasi sebagai rudal balistik menengah. Pentagon menyatakan, rudal Rusia adalah jenis rudal menengah eksperimental baru, berbasis pada rudal balistik antarbenua RS-26 Rubezh mereka.

Kyiv Meningkatkan Langkah Keamanan

Melansir laman Associated Press, setelah Rusia meluncurkan rudal baru, Ukraina memperkuat langkah keamanannya, dan parlemen Ukraina pada hari Jumat membatalkan satu pertemuan. Tiga anggota parlemen Ukraina mengonfirmasi, karena ancaman berkelanjutan atas serangan rudal Rusia terhadap gedung pemerintah, pertemuan parlemen yang dijadwalkan dibatalkan.

Seorang anggota parlemen menyatakan, parlemen tidak hanya ditutup, “juga disarankan untuk membatasi semua kantor komersial dan organisasi non-pemerintah yang bekerja di area tersebut, dan memperingatkan penduduk setempat bahwa ancaman telah meningkat.”

Kantor Presiden Ukraina menyatakan bahwa kantor presiden terus bekerja sesuai dengan langkah keamanan standar. Administrasi regional Sumy menyatakan bahwa pada malam hari Kamis, pasukan Rusia menggunakan drone untuk menyerang, menewaskan dua orang, melukai 12, dengan sasaran adalah sebuah wilayah perumahan di kota tersebut.

NATO menyatakan, atas permintaan Ukraina, akan mengadakan pembicaraan darurat pada Selasa (26/11) mendatang, yang diperkirakan akan membahas ancaman rudal baru.

Menteri Pertahanan Rusia: Mempercepat Laju Serangan ke Timur Laut Ukraina

Menteri Pertahanan Rusia, Andrey Belousov, pada hari Jumat menyatakan bahwa laju serangan pasukan Rusia di timur laut Ukraina telah dipercepat, dan menyatakan bahwa pasukan Rusia telah melemahkan pasukan elit Ukraina di area tersebut. 

Dalam video yang dirilis oleh kementerian pertahanan, Belousov mengunjungi markas komando yang ditempati oleh ‘Korps Utara’ Rusia di wilayah Ukraina. Menurut data publik, pasukan Rusia telah mengontrol hampir 20% wilayah Ukraina, telah membuat kemajuan di kota logistik timur laut Kharkiv, Kupiansk, dan telah maju di berbagai titik garis depan dengan kecepatan tercepat sejak Maret 2022. (jhn/yn)

Jerman Peringatkan PKT Gunakan Wartawan untuk Kegiatan Spionase

Negara-negara Eropa dan Amerika terus melaporkan insiden infiltrasi mata-mata Partai Komunis Tiongkok (PKT). Baru-baru ini, Kementerian Dalam Negeri Jerman memperingatkan bahwa mata-mata PKT menyamar sebagai wartawan untuk mengumpulkan informasi di Jerman. Analisis menunjukkan bahwa agen mata-mata PKT telah lama beroperasi di negara-negara Barat, dan menggunakan wartawan untuk kegiatan spionase adalah tradisi lama mereka.

ETIndonesia. Pada 21 November 2024, media Jerman melaporkan bahwa Kementerian Dalam Negeri Jerman menyatakan pihak keamanan sangat menyadari bahwa lembaga-lembaga Partai Komunis Tiongkok (PKT) menggunakan wartawan mereka di Jerman untuk mengumpulkan informasi. Mata-mata ini memiliki hubungan erat dengan Kedutaan Besar PKT di Berlin.

Namun demikian, Kementerian Dalam Negeri Jerman tidak memberikan rincian lebih lanjut, hanya mengatakan bahwa hingga saat ini, Jerman belum mengusir wartawan PKT yang diduga terlibat dalam kegiatan spionase.

“Mata-mata PKT bersembunyi di negara-negara Barat dengan berbagai identitas. Ini sudah menjadi masalah yang berlangsung selama puluhan tahun. Sebagai pekerja media, misalnya wartawan dari Xinhua atau People’s Daily, ketika mereka dikirim ke negara demokrasi, mereka secara inheren diberi tugas sebagai mata-mata,” ujar penulis Tionghoa-Kanada Sheng Xue. 

Cheng Kai, Kepala Wartawan People’s Daily di Shenzhen, juga pernah mengonfirmasi hal ini dalam wawancara dengan New Tang Dynasty TV: “Media seperti People’s Daily dan Xinhua berada di bawah pengawasan kementerian, bahkan di tingkat tinggi. Wartawan yang dikirim ke luar negeri sering memiliki tugas utama untuk melakukan pekerjaan intelijen bagi Partai Komunis Tiongkok/PKT.”

Komentator Politik Wang Tianxing berkata : “Identitas yang paling sering digunakan mata-mata PKT yang dikirim ke luar negeri adalah wartawan. Dengan status mereka, mereka bisa lebih mudah mengakses berbagai departemen dan berinteraksi dengan banyak orang. Ini adalah metode tradisional spionase Partai Komunis Tiongkok/ PKT.”

Wang Tianxing menambahkan bahwa perhatian Jerman terhadap masalah ini mungkin karena aktivitas mata-mata ini sudah terlalu mencolok.


“Jerman menyoroti identitas wartawan ini untuk memperingatkan PKT bahwa mereka sudah memiliki cukup banyak bukti tentang aktivitas tersebut. Ini adalah peringatan agar PKT lebih berhati-hati,” ujarnya. 

Aktivitas spionase dengan menyamar sebagai wartawan telah memicu kewaspadaan luas di negara-negara Eropa.

Pada tahun 2020, Inggris mengusir tiga wartawan PKT yang ternyata bekerja untuk Kementerian Keamanan Negara PKT, yang ditugaskan di berbagai media di Inggris.


“Selama bertahun-tahun, media PKT telah menyusup ke hampir semua negara demokrasi. Sebagai wartawan, mereka memiliki akses yang mudah ke berbagai kalangan seperti politik, akademik, ekonomi, hingga seni. Ini memberikan mereka peluang besar untuk mendekati target yang mereka incar,” kata Sheng Xue. 

Pada  April, seorang wartawan PKT bernama Chen Xuefei, yang telah tinggal di Swedia selama 20 tahun, dideportasi karena dicurigai melakukan kegiatan yang “mengancam keamanan nasional.” Pada bulan yang sama, tiga warga Jerman ditangkap atas tuduhan menjadi mata-mata untuk PKT, dan pada Oktober, otoritas Jerman menangkap seorang wanita PKT yang diduga menyampaikan informasi intelijen ke Beijing.

Badan intelijen Norwegia pada Februari lalu juga memperingatkan bahwa aktivitas spionase PKT “menyebar di seluruh Eropa.”

Awal Oktober, media Jerman mengungkap daftar agen rahasia PKT yang berisi 47 nama. Mereka memiliki hubungan dengan Departemen Front Persatuan PKT, beberapa bahkan memiliki koneksi dengan pejabat tinggi di Jerman.

Media Swedia juga melaporkan daftar 233 individu yang terkait dengan sistem Front Persatuan PKT, yang disebut hanya sebagian kecil dari seluruh jaringan tersebut.

Sebuah laporan dari lembaga think tank AS mengungkapkan bahwa terdapat setidaknya 103 organisasi yang terafiliasi dengan sistem Front Persatuan PKT, tersebar di berbagai sektor di Swedia. (Hui)

sumber : NTDTV.com

Rusia Pertama Kali Luncurkan Rudal Antarbenua, Putin: Tidak Menutup Kemungkinan Serang Barat

ETIndonesia. Perang Rusia-Ukraina semakin memanas. Pada Kamis (21/11/2024), Rusia untuk pertama kalinya meluncurkan rudal antarbenua ke Ukraina. Presiden Vladimir Putin juga memberikan ancaman, tidak menutup kemungkinan meluncurkan rudal ke negara-negara Barat.

Dalam pidatonya pada Kamis, Putin mengkonfirmasi bahwa Rusia telah menguji coba rudal hipersonik jarak menengah non-nuklir dalam serangan terhadap Ukraina. Ia juga memperingatkan bahwa Rusia mungkin akan menggunakan rudal serupa terhadap negara-negara Barat.

“Sebagai tanggapan terhadap Amerika Serikat dan Inggris (yang mengizinkan Ukraina menggunakan senjata jarak jauh terhadap Rusia), pada 21 November, Angkatan Bersenjata Rusia melancarkan serangan gabungan terhadap salah satu fasilitas industri pertahanan Ukraina,” ujar Putin. 

Putin mengklaim bahwa Rusia memberikan peringatan sebelum melakukan serangan untuk memungkinkan evakuasi warga sipil.

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bertemu dengan delegasi militer tingkat tinggi yang dipimpin oleh Kepala Staf Pertahanan Inggris, Tony Radakin, di Kyiv pada hari yang sama.

Zelenskyy kemudian menyatakan bahwa rudal Rusia telah menyerang beberapa perusahaan dan infrastruktur penting di kota Dnipro

“Dia (Putin) sangat ketakutan sehingga menggunakan rudal baru dan mencari senjata di seluruh dunia: di Iran, di Korea Utara,” ujarnya. 

Menteri Pertahanan Inggris John Healy dalam sidang dengar pendapat pertahanan menyatakan bahwa invasi Rusia ke Ukraina berada di momen yang krusial. Pemerintah Inggris memperkuat dukungannya terhadap Ukraina.

“Dalam beberapa pekan terakhir, kami melihat tindakan Putin dan pasukannya meningkat secara signifikan. Mereka meningkatkan serangan terhadap sistem energi Ukraina sebelum musim dingin tiba,” ujarnya. 

Pada hari yang sama, juru bicara Komisi Eropa Peter Stano juga mengutuk tindakan Rusia yang meluncurkan rudal antarbenua.

“Jelas serangan ini menandai eskalasi nyata lainnya dari pihak Putin,” katanya. 

Pentagon AS sebelumnya menyatakan bahwa jika Trump menjabat kembali pada tahun depan, AS kemungkinan akan terus memasok senjata ke Ukraina.

Sementara itu, anggaran pemerintah Rusia untuk periode 2025-2027 menunjukkan peningkatan pengeluaran militer dari 28,3% tahun ini menjadi 32,5%. Anggaran ini mencapai rekor tertinggi sebesar 13,5 triliun rubel (lebih dari 145 miliar dolar AS). (hui)

Pejabat Korea Selatan: Rusia Menyediakan Sistem Rudal Pertahanan Udara kepada Korea Utara sebagai Imbalan Bantuan Militer

EtIndonesia. Seorang pejabat senior Korea Selatan pada hari Jumat (22/11) menyatakan bahwa Rusia telah menyediakan sistem rudal pertahanan udara kepada Korea Utara sebagai imbalan atas dukungan militer Korea Utara terhadap Rusia dalam perang di Ukraina. 

Dalam wawancara televisi yang disiarkan pada hari Jumat, penasihat keamanan nasional Presiden Korea Selatan, Shin Won-sik, ditanya tentang keuntungan apa yang dapat diperoleh Pyongyang dengan mengirim pasukannya ke Rusia.

Shin Won-sik mengatakan bahwa Rusia telah memberikan dukungan teknologi dan militer kepada Korea Utara. 

“Diketahui bahwa Korea Utara telah memperoleh peralatan terkait dan rudal pertahanan udara untuk memperkuat sistem pertahanan udaranya yang lemah,” katanya.

Namun, dia tidak mengungkapkan detail spesifik mengenai jenis rudal yang diberikan. Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Ukraina semua telah menyatakan bahwa Korea Utara pada Oktober 2024 lalu mengirim lebih dari sepuluh ribu tentaranya ke Rusia, beberapa di antaranya baru-baru ini mulai bertempur di garis depan. Penempatan militer Korea Utara ini mungkin semakin memperkeruh konflik, dan beredar luas terkait spekulasi internasional tentang apa yang mungkin diberikan Rusia sebagai imbalan.

Rudal Jarak Jauh S-400 dan Peralatan Anti-Drone

Bagi Korea Selatan dan Amerika Serikat, skenario yang paling mengkhawatirkan adalah kemungkinan Rusia mentransfer teknologi senjata canggih, sehingga meningkatkan kemampuan rudal nuklir Korea Utara terhadap lawannya. Namun, banyak ahli berpendapat bahwa Rusia tidak mungkin melakukan hal ini di tahap awal penempatan militer Korea Utara. 

Seorang pakar di jaringan pertahanan Korea Selatan, Lee Illwoo, menyatakan bahwa Rusia mungkin telah menyediakan rudal pertahanan udara jarak jauh S-400, peluncur, dan sistem radar darat kepada Korea Utara. Dia menyatakan bahwa Korea Utara sendiri memiliki kemampuan untuk memproduksi rudal pertahanan udara jarak pendek secara mandiri.

Rudal S-400 memiliki jangkauan 400 kilometer  dan dianggap sebagai salah satu senjata pertahanan udara paling canggih Rusia. Namun, Lee Illwoo mempertanyakan sejauh mana rudal ini dapat meningkatkan kemampuan pertahanan udara Pyongyang, mengingat sistem pertahanan udara Rusia gagal mengatasi serangan drone Ukraina secara efektif.

Banyak pengamat menilai bahwa Korea Utara merasa perlu meningkatkan kemampuan pertahanan udaranya setelah bulan lalu menuduh Korea Selatan menyebarkan selebaran propaganda menggunakan drone.

Korea Utara mengancam akan mengambil tindakan militer jika Korea Selatan kembali melakukannya. Militer Korea Selatan, bagaimanapun, menolak untuk mengonfirmasi keterlibatan mereka dalam peluncuran drone tersebut. 

Seorang ahli militer di Institut Strategi Nasional Korea, Kim Dae Young, menyatakan bahwa sistem pertahanan udara yang diperoleh Korea Utara dari Rusia mungkin termasuk peralatan anti-drone. Kim Dae Young menekankan bahwa untuk mengatasi angkatan udara Korea Selatan dan Amerika Serikat yang kuat, sistem pertahanan udara Pyongyang yang ketinggalan zaman  memerlukan waktu bertahun-tahun untuk perbaikan dan dukungan besar dari luar negeri.

Teknologi Sistem Pengawasan Luar Angkasa

Shin Won-sik juga menyatakan bahwa Rusia tampaknya telah memberikan bantuan ekonomi dan berbagai teknologi militer kepada Korea Utara, termasuk teknologi yang diperlukan untuk membangun sistem pengawasan luar angkasa yang handal.

Shin tidak menjelaskan apakah Rusia telah mentransfer teknologi nuklir dan rudal sensitif kepada Korea Utara. Dalam pertemuan puncak tahun lalu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa Moskow bersedia membantu Korea Utara membangun satelit.

Korea Utara berhasil meluncurkan satelit mata-mata pertamanya ke orbit pada November tahun lalu, tetapi ahli asing meragukan apakah satelit tersebut dapat menyediakan gambar dengan kemampuan militer. Upaya Korea Utara untuk meluncurkan satelit mata-mata kedua pada Mei lalu gagal.

Di tengah persaingan dengan Amerika Serikat dan sekutunya, kerja sama militer dan bidang lain antara Korea Utara dan Rusia telah meningkat secara signifikan. Bulan lalu, agen intelijen Korea Selatan mengungkapkan bahwa sejak Agustus 2023, Korea Utara telah mengirim lebih dari 13.000 kontainer berisi amunisi, rudal, dan senjata konvensional lainnya ke Rusia untuk menambah persediaan senjata yang semakin menipis.

Badan Intelijen Nasional Korea pada hari Rabu (20 November) menyatakan bahwa Korea Utara baru-baru ini juga telah menyediakan sistem artileri tambahan kepada Rusia. Pada awal minggu ini, media nasional Korea Utara dan Rusia melaporkan bahwa kedua negara telah mencapai perjanjian baru untuk memperluas kerja sama ekonomi setelah pertemuan tingkat tinggi di Pyongyang. (jhn/yn)

Bocoran dari Orang Dalam: Kementerian Keamanan Nasional PKT Meluncurkan Serangan terhadap Falun Gong di Luar Negeri

ETIndonesia. Baru-baru ini, Falun Gong dan Shen Yun Performing Arts secara berturut-turut menjadi sasaran serangan di luar negeri. Seorang pejabat internal dari sistem kepolisian Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengungkapkan bahwa semua ini adalah bagian dari rencana yang disengaja dan diorganisir oleh pemerintah PKT.

Dalam laporan The Epoch Times, seorang pejabat yang menggunakan nama samaran “Hua Sheng” mengatakan bahwa serangan terhadap Falun Gong dan Shen Yun Performing Arts adalah rencana sistematis yang dikendalikan oleh Kementerian Keamanan Publik dan Kementerian Keamanan Nasional PKT.

Berbasis di New York,  Shen Yun Performing Arts mempersembahkan 5.000 tahun warisan Tiongkok melalui tarian dan musik klasik. Delapan grup perusahaannya melakukan tur keliling dunia setiap tahun dan tampil di tempat-tempat terkemuka seperti Lincoln Center di New York, Gedung Opera Kennedy Center di Washington, dan Palais des Congrès di Paris.

Serangan ini terlihat melalui munculnya sejumlah agen khusus dan individu yang mengaku sebagai mantan praktisi Falun Gong atau mantan anggota Shen Yun. Mereka menyebarkan fitnah dan serangan terhadap Shen Yun, yang bertujuan untuk menghidupkan kembali budaya tradisional Tiongkok, dan Falun Gong, sebuah latihan spiritual berdasarkan prinsip “Sejati, Baik, dan Sabar”. 

Bahkan, The New York Times telah menerbitkan beberapa artikel yang menyerang Shen Yun dengan informasi yang tidak benar. Hua Sheng mengatakan bahwa individu-individu ini hanyalah pion dalam rencana PKT, dengan Kementerian Keamanan Nasional secara terus-menerus menyediakan bahan-bahan propaganda.

Hua Sheng mengungkapkan bahwa Chen Yixin, Menteri Keamanan Nasional yang baru, adalah dalang di balik serangan ini. Demi ambisi politiknya, Chen Yixin mulai merencanakan serangan terhadap Falun Gong pada musim semi 2024, dengan tujuan menghancurkan organisasi Falun Gong di luar negeri sebelum akhir tahun ini.

Sejak mantan pemimpin Partai Komunis Tiongkok Jiang Zemin melancarkan penganiayaan terhadap Falun Gong pada Juli 1999, berbagai kejahatan, termasuk pengambilan organ secara paksa terhadap praktisi Falun Gong, telah terungkap ke dunia internasional. Penganiayaan ini masih berlangsung hingga sekarang.

Selama bertahun-tahun, Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah menganggap Falun Gong sebagai ancaman terbesar, bahkan memperluas jangkauannya hingga ke luar negeri untuk melakukan penindasan lintas batas.

Misalnya, pada 19 November 2024, Chen Jun (John Chen), seorang tokoh komunitas pro-PKT berusia 71 tahun dari California, dijatuhi hukuman 20 bulan penjara oleh Pengadilan Federal Distrik Selatan New York. Ia dinyatakan bersalah menjadi agen PKT, menyuap pejabat dinas pajak AS, dan bersama terdakwa lain, Lin Feng, berupaya mencabut status bebas pajak dari Shen Yun Performing Arts yang dikelola oleh praktisi Falun Gong.

Menurut Hua Sheng, Kementerian Keamanan Nasional dan Kementerian Keamanan Publik PKT memiliki jaringan masing-masing di luar negeri, yang terdiri dari agen rahasia, informan, dan individu yang terlibat propaganda luar negeri. Jaringan ini bertugas memantau, mengganggu, atau menghancurkan Falun Gong dan organisasi pro-demokrasi di luar negeri.

The Wall Street Journal melaporkan pada 11 November 2024 bahwa sejak Chen Yixin memimpin Kementerian Keamanan Nasional, kekuasaan dan pengaruh lembaga intelijen PKT telah meningkat secara signifikan. Kegiatan mata-mata PKT yang semakin meluas telah memicu kewaspadaan di Barat, dengan pejabat Barat menyebutnya sebagai ancaman yang semakin mengejutkan. (Hui)

Sumber : NTDTV.com