Tahun Baru dan Resolusi Nurani di Tengah Paradox Nilai

Resolusi Nurani Tahun 2018

> Menjadi lebih sejati dan Jujur

Mungkin populasi orang jujur di bumi ini semakin langka keberadaannya. Banyak yang rela berbuat 1001 kebohongan dan konspirasi demi suatu kepentingan. Rela membuat pencitraan bermodal besar demi sebuah prestise, kekuasaan atau simpati publik. Banyak yang ingin cepat kaya dengan jalan yang tidak lurus dengan menipu dan menyalah-gunakan wewenang dan kekuasaan. Ketidakjujuran bisa melukai masyarakat dan alam.

Sebaliknya orang jujur adalah orang yang punya kans lebih bahagia daripada orang yang tidak jujur. Dia tidak menentang suara hatinya. Walaupun kejujuran di tengah masyarakat yang tidak jujur terkadang pahit dan penuh derita, namun indah pada akhirnya. Seluruh kehidupan di langit menyambut dengan sukacita disaat kepulangannya. Dalam dunia bisnis sebenarnya kejujuran adalah intangible asset (aset tak berwujud) yang paling mahal.

> Menjadi lebih baik dan berbelas Kasih

Berbuat baik dan berbelas kasih sejati hanya bisa diwujudkan dengan melepas ego dan kepentingan pribadi. Berbuat baik dan belas kasih tanpa pamrih adalah  perilaku orang suci dalam sejarah sehingga pengaruh dari kepemimpinan spiritualitas mereka tidak lekang oleh waktu.

Berikut ini kutipan dari kata bijak Mother Teressa berkaitan dengan karakter baik:

“Bila kamu baik hati bisa saja orang menuduhmu punya pamrih. Tapi bagaimanapun juga berbaik hatilah.

Bila kamu jujur dan terbuka mungkin orang lain akan menipumu. Tapi bagaimanapun juga jujur dan terbukalah.

Bila kamu mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan, boleh jadi orang menjadi iri. Tapi bagaimanapun juga berbahagialah.

Bila kamu sukses, kamu akan mendapatkan beberapa teman palsu dan beberapa sahabat sejati. Tapi bagaimanapun juga sukseslah.

Apa yang kamu bangun selama bertahun-tahun mungkin saja dihancurkan orang lain dalam semalam. Tapi bagaimanapun juga bangunlah.

Kebaikan yang kamu lakukan sepanjang hari mungkin saja besok dilupakan orang lain. Tapi bagaimanapun berbuat baiklah.

Berikanlah yang terbaik dari dirimu. Pada akhirnya kamu tahu bahwa ini adalah urusan antara kamu dan Tuhanmnu. Ini bukan urusan antara kamu dan mereka.”

> Menjadi Sabar

Karakter ini adalah karakter yang terberat untuk diwujudkan pada diri manusia. Sampai-sampai aksara Tiongkok menggambarkan kata sabar (Ren 忍) seperti jantung yang diatasnya tergantung sebilah pisau.

Untuk mewujudkan ini terkadang seseorang harus merasakan ketajaman tusukan. Ada pepatah mengatakan bahwa “Sabar itu berat. Ujiannya sepanjang Hayat dan datangnya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu”.

Dalam memperjuangkan nilai kebenaran dan kebaikan harus disempurnakan dengan kesabaran. Kalau tidak jadi tidak berarti apa-apa. Kekuatan perjuangan dengan kesabaran ini dibuktikan oleh bapak India Mahatma Gandhi. Dengan perlawanan damai yang persisten, kolonialisme Inggris di India bisa ditumbangkan.

Walaupun pada akhirnya harus mengorbankan nyawa karena serangan ekstrimis, beliau sudah memaafkan pembunuhnya sebelum sang pelaku meminta maaf. Perjuangan penuh kesabaran ini juga dilakukan para pengikut Falun Dafa untuk menyadarkan rezim komunis di Tiongkok yang menindas mereka.

Tiga karakter di atas apabila disemaikan dalam setiap pribadi dari ras manusia, maka bisa dipastikan dunia ini akan menjadi lebih baik. Tentang tiga karakter ini manusia bisa belajar pada bumi kita yang bijak.

Coba dibayangkan apa yang terjadi bila bumi tidak berkarakter sejati, tidak menuruti orbit dan bergerak sesuai ritme yang ditetapkan. Satu tarian kecil saja bisa memusnahkan makhluk di atas bumi.

Bila bumi tidak berkarakter “baik” bagaimana mungkin bumi selalu dengan tanpa egois memberikan apa yang dia punya untuk kesejahteraan kehidupan di atasnya. Dan bagaimana bumi tidak berkarakter Sabar, walau diekploitasi dengan semena-mena, namun dia selalu berusaha memberikan yang terbaik. Seharusnya ras manusia berterima kasih pada bumi dan seluruh partikel dalam semesta, yang sejauh ini masih menjalankan fungsinya dengan cukup baik, akan tetapi, sampai berapa lama?

Yang terakhir. “Makhluk hidup diatas bumi mengikuti hukum bumi. Bumi mengikuti hukum Galaksi Bima Sakti. Dan galaksi kita mengikuti hukum Langit (Tao). Begitulah keterkaitan antara 3 potensi (Manusia, Bumi, dan Langit), seperti yang diwejangkan para arif bijaksana.

Semoga tahun baru 2018 menjadi tonggak kemanusiaan kita dalam menjadikan bumi sebagai dunia baru yang lebih baik.

(ISW/WHS/asr)