Anggota Kongres AS : Menyukai Rakyatnya Bukan Rezimnya

Dana Rohrabacher, anggota senior Dewan Perwakilan Rakyat AS yang telah lama mencermati hubungan AS – Tiongkok, baru-baru ini dalam wawancaranya dengan media Amerika Serikat, telah angkat bicara secara unik sudut pandangnya tentang topik permasalahan Korea Utara, perundingan perdagangan AS – RRT dan pemerintahan Trump. Pada saat yang sama, ia juga menekankan bahwa rakyat Tiongkok adalah sekutu terbaik Amerika dan yang didukung oleh AS adalah rakyatnya, bukan rezim Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Epochtimes.id- Rohrabacher telah mengabdi di parlemen selama hampir 30 tahun dan terpilih kembali sebanyak 14 kali. Ia pernah menjadi salah seorang “Think Tank (ahli siasat)” dari Presiden Reagan kala itu. Jabatannya saat ini ialah: anggota Komite Urusan Luar Negeri Eropa, Ketua Subkomite untuk Eurasian dan Emerging Threats dari Dewan Perwakilan Rakyat AS.

 Akan adakah perang dagang Sino-Amerika?

 Pemerintah Trump belum lama ini mengumumkan mengenakan bea masuk tinggi untuk panel surya yang diimpor dari RRT, sejumlah orang berpikir bahwa AS kemungkinan akan terlibat perang dagang dengan Tiongkok.

Dalam pandangan Rohrabacher, AS dan RRT sudah terlibat perang dagang, namun bukan Amerika yang berperang tapi Beijing. Dia menuding pihak PKT secara aktif mencuri hak cipta iptek AS dan membatasi masuknya produk Amerika ke Tiongkok.

PKT selain menggunakan peretas untuk mencuri teknologi dari sistem AS, juga bisa memperoleh teknologi AS dari kalangan muda yang telah belajar di Amerika.

“Jadi sebetulnya mereka telah melakukan perang dagang dengan kami dan saya pikir tindakan yang baru saja dilakukan oleh  Presiden Trump hanyalah tindakan awal dengan harapan hal itu akan memungkinkan dunia melihat fakta dengan jelas,” kata Rohrabacher.

Mengulurkan kedua tangannya kepada rakyat Tiongkok tidak kepada pemerintahan PKT

Rohrabacher telah sejak lama menganjurkan hak asasi manusia di Tiongkok dan pernah menyebut PKT yang memiliki catatan HAM buruk sebagai “Rezim Gangster.” Dia juga merupakan salah satu tokoh terkemuka yang pernah memboikot Olympiade Beijing 2008.

Selain itu, Rohrabacher memimpin aksi veto di parlemen dalam menolak pemberian status negara yang paling diberi kemudahan kepada Beijing dengan alasan rezim gangster PKT memiliki catatan HAM buruk dan bersifat anti demokrasi.

Dalam menanggapi situasi hak asasi manusia di RRT saat ini, dia menyatakan bahwa PKT “tidak melakukan reformasi apapun dalam topik HAM”, tidak ada reformasi dalam pemilu secara demokratis dan juga tidak ada reformasi dalam bidang eksistensi partai oposisi.

“Kami harus mengulurkan sepasang tangan kepada rakyat Tiongkok yang tertindas. Falun Gong adalah sebuah contoh yang sangat baik.”

Rohrabacher selanjutnya berkata: “Mereka (Falun Gong) sama sekali tidak menganjurkan revolusi kekerasan atau tindakan kekerasan apapun, namun mereka ditahan dan bahkan kami telah melacak berita bahwa setelah praktisi Falun Gong dieksekusi, organ mereka dijual kembali dan beberapa diantaranya mungkin dijual ke Amerika, ini benar-benar terlalu menyimpang. Kami harus berdiri di sisi orang-orang Tiongkok dan bukannya di sisi rezim PKT.”

Karena kegigihannya terhadap perilaku rezim PKT, banyak media RRT menyebutnya sebagai “anggota parlemen anti Tiongkok.”  Atas “titel” ini, Rohrabacher pernah berkata sebelumnya: “Sebenarnya saya merasa tidak ada anggota parlemen pro (rakyat) Tiongkok yang melebihi saya, karena saya percaya satu-satunya harapan yang bisa kita pertahankan di masa depan adalah tetap menjaga hubungan persahabatan yang sangat baik dengan rakyat Tiongkok.”

PKT melindungi rezim Korea Utara

Peran apa yang dimainkan PKT dalam masalah Korea Utara? Rohrabacher juga telah mengemukakan pandangan uniknya.

Rohrabacher berpendapat, menurut pandangannya, PKT “tidak melakukan apapun” atas permasalahan di Korea Utara,  dan sebaliknya “melindungi rezim komunis Korea Utara.”; “Tanpa bantuan PKT, Korea Utara pada dasarnya tidak mungkin dapat memiliki Sistem Rudal seperti sekarang ini. ”

Selain itu Rohrabacher mengumpamakan pemimpin Korea Utara sebagai “Genjik (anak babi) Komunis (Communist piglet)” dan menyebutkan bahwa tindakannya tidak dapat diterima.

Rohrabacher menekankan, dalam permasalahan senjata nuklir Korut, begitu terjadi perang, tidak hanya Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan yang bakal menderita korban jiwa, juga dapat menyebabkan jutaan orang Korea Utara tewas.

Itu sebabnya, ia merekomendasikan agar melancarkan tindakan rahasia di Korea Utara untuk mendukung kekuatan apapun di internal Korea Utara, memberi mereka informasi dan menyediakan kepada mereka semacam sistem pendukung serta membantu membasmi para penindas itu.

Presiden yang lemah akan meningkatkan kemungkinan konflik

Rohrabacher juga menunjukkan bahwa mantan presiden (Obama) gagal memproyeksikan kekuatan besar Amerika di luar negeri. Dalam memutuskan sesuatu dan ketika mengusulkan sesuatu atau berunding dengan mereka, sama sekali tidak menunjukkan kekuatannya.

“Pada saat itu kami memiliki seorang presiden yang lemah. Seorang presiden lemah malah dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya konflik.”

Rohrabacher juga mencontohkan konsekuensi yang diakibatkan dari mantan Presiden terdahulu yang lemah. Ia mengatakan: “Saya ingat bertahun-tahun lalu ketika Clinton menjadi presiden, kami telah memberi Korea Utara 4 miliar USD (55 triliun rupiah) dengan harapan agar mereka menyepakati untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, alhasil mereka menerima uangnya dan sekarang telah memiliki senjata nuklir.

Dari mana mereka mempunyai uang untuk membangun persenjataan nuklir? Clinton adalah presiden yang lemah, Obama pun sama saja, “Genjik Komunis” dari Korut ini sekarang berdiri disamping rudal nuklirnya, melakukan selfie dan mengancam Amerika Serikat, inilah hasil dari kepemimpinan presiden negeri kami yang lemah.

Dalam wawancara itu tak lupa Rohrabacher juga memuji demokrasi di Taiwan. Ia menyatakan bahwa Taiwan dan Tiongkok semuanya digerakkan oleh kebudayaan yang sama, namun Taiwan selain berubah menjadi makmur, juga telah mengembangkan sistem demokrasi dimana masyarakatnya menikmati kebebasan. Amerika Serikat tidak bisa mencampakkan Taiwan, karena hal itu justru akan mendorong terjadinya perang. (HUI/WHS/asr)

Sumber : Epochtimes.com