Wisatawan Akan Dilarang Duduk di Tanah Kota Wisata Venesia

EpochTimesId – Otoritas Venesia, Italia, sedang mempertimbangkan untuk melarang orang-orang untuk duduk atau berbaring di tanah. Larangan itu diusulkan sebagai langkah terakhir untuk membatasi aktivitas wisatawan yang semrawut dan susah diatur di tengah kota.

Walikota Venesia, Luigi Brugnaro mengusulkan agar mereka yang melanggar aturan bisa didenda antara 50 hingga 500 euro (sekitar 850 ribu hingga 8,5 juta rupiah).

Jika benar-benar diterapkan, ‘dilarang duduk di tanah’ akan ‘bergabung’ dengan daftar larangan lainnya yang sudah diterapkan di kota tujuan wisata populer itu. Warga dan turis selama ini dilarang untuk ‘mabuk-mabukan’, mencelupkan kaki ke kanal, dan makan saat berjalan menyusuri jalan.

Proposal aturan ini rencananya akan dibahas dan diputuskan oleh dewan lokal pada bulan Oktober 2018. Akan tetapi, beberapa kelompok warga kini menentangnya.

“Ada daftar panjang hal-hal yang dilarang di Venesia, tidak ada hal yang tersisa yang dapat Anda lakukan,” kata Marco Gasparinetti, yang memimpin kelompok warga ‘Gruppo Aprile 25’, menurut Guardian. “Mereka akan perlu menyewa 5.000 petugas tambahan untuk menegakkan segala aturannya dengan benar.”

Setiap musim panas, ada petugas yang berpatroli di kawasan wisata kota untuk menegakkan aturan. Banyak wisatawan tidak mengetahui bahwa ada area khusus yang disediakan sebagai tempat duduk dan makan.

Ada juga petugas yang dijuluki ‘angels of decorum’ (malaikat sopan santun) yang bertugas ‘menangkapi’ orang-orang yang bertelanjang dada, orang yang memberi makan merpati, atau mereka yang ‘bergerombol’ di jembatan.

Wisatawan adalah masalah kontroversial untuk Venesia, dengan lebih dari 30 juta orang berkunjung setiap tahun-nya. Pada tahun-tahun sebelumnya, bahkan banyak poster-poster ditempel di tembok bertuliskan, “Turis Pergi!!! Anda Menghancurkan Area Ini.”

Sebuah kapal pesiar tiba di pelabuhan, dekat gereja San Giorgio Maggiore, Venesia pada 26 September 2014. (Andreas Solaro/AFP/Getty Images/The Epoch Times)

Kapal Pesiar Juga Terkena Dampak
Banyak wisatawan tiba di Venesia dengan kapal pesiar, yang juga menjadi sumber ketegangan dengan penduduk setempat. Karena kapal-kapal pesiar melewati St Mark’s Square dan dermaga di tengah kota.

Penduduk setempat mengatakan kapal-kapal besar merusak bangunan bersejarah di kota itu dan mencemari kawasan air.

Pada tahun 2016, para demonstran turun ke air untuk memprotes kapal pesiar. Mereka menggunakan gondola dan perahu kecil untuk menghalangi kapal pesiar melewati laguna.

Pada akhir tahun 2017, Menteri Transportasi, Graziano Delrio mengumumkan bahwa pada tahun 2021 kapal-kapal besar ini tidak akan diizinkan melewati kota. Sebaliknya, mereka harus berlabuh di Marghera, sebuah kota industri di pusat wilayah Veneto, kawasan dengan pabrik-pabrik yang tampak mengepulkan pilar asap pekat ke udara.

Beberapa berpendapat mengatakan bahwa ekonomi Venesia hampir seluruhnya bergantung pada pariwisata. Sehingga membatasi wisatawan dengan cara ini akan membahayakan perekonomian kota.

Namun, langkah itu mengikuti peringatan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. PBB memperingatkan bahwa Venesia akan ditempatkan di daftar situs warisan yang terancam oleh UNESCO, kecuali Venesia membereskan masalah ‘ancaman terhadap kelestarian bangunan bersejarah’.

Pada 2015, pejabat UNESCO mengatakan bahwa, “Kapasitas kota, jumlah penduduknya dan jumlah wisatawan tidak seimbang dan menyebabkan kerusakan yang signifikan.”

Walikota Brugnaro sebelumnya mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pemerintah lokal sedang memikirkan jalan keluar untuk kelestarian situs warisan dunia. Namun, mereka membutuhkan waktu untuk menata industri pelayaran, salah satu sektor yang dituding menimbulkan dan memicu kerusakan.

“Kami ingin itu menjadi jelas bagi UNESCO dan seluruh dunia bahwa kami memiliki solusi. Ini memperhitungkan semua pekerjaan yang diciptakan oleh industri pelayaran, yang mana kami benar-benar tidak mampu kehilangannya. Dan kami dapat mulai bekerja serius dalam merencanakan pelayaran.” (JOHN SMITHIES/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

https://www.youtube.com/watch?v=JGc59EiEYwQ

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

https://youtu.be/0x2fRjqhmTA