Warga Lokal Menuding Pihak Berwenang Tak Tepat Menempatkan Sumbangan Pasokan Kesehatan Terkait Coronavirus

Nicole Hao – The Epochtimes

Sumber-sumber di dalam negeri Tiongkok menuding pihak berwenang salah menangani distribusi pasokan yang disumbangkan kepada masyarakat untuk membantu dalam menanggapi wabah Coronavirus.

Dokter dan perawat dari beberapa rumah sakit yang ditunjuk untuk merawat pasien Coronavirus beralih ke media sosial untuk memohon bantuan. Video yang dibagikan secara online menunjukkan staf kesehatan mengenakan kantong sampah karena kurangnya pakaian pelindung dan penutup sepatu.

Pada tanggal 31 Januari 2020, juru bicara Union Hospital di Wuhan, pusat penyebaran wabah Coronarius, mengatakan kepada media pemerintah Shangyou News: “Kami terus menerima bahan sumbangan. Tetapi kami memiliki banyak pasien, dan [staf kesehatan] menggunakan sejumlah besar materi itu.”

Sumbangan

Faktanya, Kementerian Urusan Sipil Tiongkok melarang amal atau sukarelawan yang dikelola secara pribadi untuk memasuki Provinsi Hubei — di mana Wuhan adalah ibukota Provinsi Hubei — sejak tanggal 26 Januari. Selanjutnya, semua sumbangan kemudian hari akan ditangani oleh badan amal resmi yang dikelola pemerintah Tiongkok.

Mungkin sebagai tanda sangat membutuhkan pasokan di Wuhan, pihak berwenang Tiongkok melonggarkan aturan-aturan itu dan mulai mengizinkan sumbangan langsung ke rumah sakit pada tanggal 30 Januari.

Pada tanggal 31 Januari malam, Li Qiang, seorang anggota kelompok Partai Komunis Tiongkok di Wuhan, menjelaskan pada konferensi pers bagaimana sumbangan itu didistribusikan: 

“Pada siang hari tanggal 31 Januari, Federasi Amal Wuhan menerima sumbangan senilai 2,586 miliar yuan, dan kami telah menggunakan 841,91 juta yuan  dari sumbangan tersebut…Palang Merah Wuhan menerima uang tunai sebesar 608,08 juta yuan dan mengalokasikan 158,59 juta yuan ke pusat pengendalian wabah Wuhan.”

Data tersebut menunjukkan bahwa hanya 30 persen dari sumbangan itu yang telah dicairkan sejauh ini.

Li Qiang tidak memiliki posisi resmi dalam pemerintahan, tetapi  ia adalah Sekretaris Partai Komunis Tiongkok di Universitas Jianghan. Ia dinominasikan menjadi wakil Walikota Wuhan pada bulan Desember 2019.

Li Qiang mengakui bahwa pihak berwenang Tiongkok tidak mendistribusikan sumbangan dengan segera.

“Kinerja kami tidak sesuai dengan harapan rakyat. Kami tidak mengirimkan materi yang diterima dengan cepat, dan tidak mengalokasikan uang tunai tepat waktu,” kata Li Qiang.

Netizen juga menuduh pihak berwenang Komunis Tiongkok tidak memprioritaskan sumber daya dengan tepat.

Di Tiongkok, organisasi Palang Merah dijalankan oleh pemerintah daerah.

Pada tanggal 30 Januari, Palang Merah Provinsi Hubei menerbitkan distribusi bahan-bahan sumbangan – yang dikumpulkan dari seluruh daerah di Tiongkok dan luar negeri – untuk pertama kalinya. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar masker wajah diberikan kepada Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Provinsi Hubei sekitar 120.000 masker dan Biro Kereta Api Wuhan sebesar 50.000 masker.

Rumah Sakit Union, sebuah fasilitas untuk merawat pasien Coronavirus, hanya menerima 3.000 masker, sementara Rumah Sakit Renai menerima 18.000 masker. Rumah Sakit Renai adalah fasilitas kesehatan khusus untuk perawatan reproduksi dan operasi plastik. Rumah Sakit Renai tidak ada dalam daftar 61 rumah sakit yang ditunjuk pemerintah Wuhan untuk merawat pasien Coronavirus.

Pada tanggal 31 Januari, Palang Merah Provinsi Hubei menyatakan di situs webnya bahwa Rumah Sakit Renai telah mendaftar untuk mendapatkan masker dan mengklaim bahwa memiliki banyak pasien yang menderita demam.

Hongxing News, outlet media yang dikelola pemerintah Tiongkok kemudian menelepon Rumah Sakit Renai. Staf Rumah Sakit Renai menjawab: “Kami adalah rumah sakit kebidanan dan kandungan. Kami tidak menerima pasien yang demam.”

Kebutuhan

Outlet media setempat melaporkan bahwa akibat ketidakefisienan organisasi amal yang disetujui negara, kini rumah sakit sangat membutuhkan pasokan.

Southern Weekly, media yang dikelola pemerintah Tiongkok, melaporkan pada tanggal 28 Januari bahwa lebih dari 160 rumah sakit di Tiongkok meminta pasokan kesehatan, termasuk sekitar 90 rumah sakit di Provinsi Hubei dan setidaknya 74 rumah sakit dari daerah lainnya di Tiongkok. Laporan itu dengan cepat dihapus.

Sementara itu, Dingxiangyuan, platform media sosial untuk pekerja kesehatan, merilis pembaruan pada tanggal 29 Januari malam. Laporan itu mengatakan pihaknya menerima permintaan dari 136 rumah sakit di Provinsi Hubei untuk pasokan masker wajah dan pakaian pelindung.

Dingxiangyuan memposting informasi kontak staf di rumah sakit tersebut dan mengatakan 

pihaknya berharap orang-orang dapat menyumbang ke rumah sakit tersebut secara langsung.

Sumbangan dari Luar Negeri 

Initium, media Hong Kong, melaporkan pada tanggal 31 Januari 2020 mengenai kesulitan untuk menyumbang ke rumah sakit Wuhan.

“Pihak berwenang bea cukai meminta kami untuk mendeklarasikan barang dan membayar tarif,” kata Zhang Hao, seorang dokter berusia 36 tahun yang sedang mengumpulkan sumbangan materi untuk rumah sakit Wuhan.

Zhang Hao mengatakan kepada Initium bahwa beberapa dokter dari rumah sakit menemukan bahwa sejumlah besar masker, kacamata pelindung, dan pakaian pelindung tiba di bea cukai Wuhan dari Amerika Serikat pada tanggal 24 Januari malam.

Zhang Hao dan rekan-rekannya akhirnya membayar tarif 20 persen dan menerima barang tersebut.

Zhang Ying, seorang wanita relawan yang berbasis di Shanghai, sangat senang saat beberapa pabrik Jerman setuju untuk menjual 500.000 masker wajah kepadanya tanpa untung. Tetapi ia tidak dapat menemukan cara untuk mengimpor masker tersebut.

“Bea Cukai mengatakan ada dua cara untuk mengimpor masker ini: Melalui  sumbangan atau sumber. Sumbangan berarti barang tersebut akan menjadi milik pemerintah Tiongkok dan tidak akan diberikan kepada kami. Sumber berarti kami harus membayar tarif 20 persen,” kata Zhang Ying kepada Initium.

Sumbangan di Tiongkok

Initium juga melaporkan bahwa adalah sulit bagi warga Tiongkok untuk memberikan sumbangan kepada para dokter secara langsung. Dikarenakan pejabat senior sering mengklaim bahwa rumah sakit memiliki cukup pasokan. Selain itu, pemerintah Tiongkok tidak mengizinkan sumbangan langsung.

Mengutip sebuah contoh di Rumah Sakit No. 5 di Wuhan. Tian Hongmin, kepala perawat rumah sakit tersebut, pada tanggal 27 Januari menerbitkan di media sosial bahwa rumah sakit tersebut membutuhkan 100.000 masker wajah N95, 200.000 masker bedah, 10.000 pakaian pelindung, dan 1.000 kacamata pelindung.

Namun, saat beberapa orang yang baik hati mengirim barang-barang untuk pertama kalinya ke rumah sakit tersebut malam itu, mereka tidak dapat menghubungi Tian Hongmin melalui telepon. Sekelompok orang di rumah sakit mengklaim bahwa staf telah mengambil barang-barang itu.

Akhirnya, Zhao Qing, warga setempat yang memulai upaya sumbangan, menghubungi Tian Hongmin melalui telepon. Tian Hongmin mengatakan ia dipecat setelah membuat posting media sosial, karena pemerintah tidak mengizinkan rumah sakit untuk meminta bantuan.

Qianqian, relawan lain mengatakan kepada Initium bahwa barang-barang  yang ia dan rekan-rekannya kumpulkan diambil oleh staf Palang Merah beberapa kali sejak tanggal 24 Januari.

Novel Coronavirus 2019 pertama kali dipastikan oleh pihak berwenang Wuhan pada tanggal 31 Desember 2019. Tetapi data resmi yang diterbitkan dalam penelitian kesehatan  baru-baru ini mengungkapkan bahwa pasien pertama menunjukkan gejala pada tanggal 1 Desember 2019.

 Penyakit ini telah menyebar ke semua provinsi dan wilayah di Tiongkok serta  lebih dari 20 negara. (Vivi/asr)

Video Rekomendasi :