Trump Mempertanyakan, Saat Tiongkok Tingkatkan Angka Kematian Akibat Corona Virus di Wuhan

ntd.com- Pihak berwenang Wuhan menempatkan jumlah kematian yang direvisi di Wuhan sekitar 3.869 kasus, setelah menambahkan 1.290 kasus yang mencakup beberapa orang yang meninggal di rumah. 

Wuhan juga melaporkan 325 kasus infeksi baru, sehingga total kasus infeksi yang dipastikan menjadi 50.333 kasus. Dua pertiga perhitungan yang tercatat di Tiongkok.

Para pejabat Komunis Tiongkok menghubungkan perbedaan data dengan lonjakan pasien selama tahap awal wabah, yang mereka katakan telah membuat staf medis kewalahan sehingga staf medis tidak memberikan penghitungan kasus yang tepat waktu dan akurat.

“Merevisi angka-angka tersebut adalah kunci untuk menjaga kredibilitas pemerintah dan menunjukkan rasa hormat untuk setiap kehidupan individu,” kata seorang pejabat Wuhan yang tidak disebutkan namanya kepada Xinhua, media milik pemerintah Komunis Tiongkok.

Saat jumlah kematian meningkat di seluruh dunia, semakin banyak pejabat pemerintah Barat menyatakan keraguan pada data rezim Komunis Tiongkok.

Studi penelitian, wawancara dengan penduduk setempat Wuhan, dan laporan pemerintah internal yang diperoleh The Epoch Times   juga mengungkap bahwa pihak berwenang Tiongkok secara bermakna mengecilkan keparahan wabah.

Donald Trump dalam tweet pada beberapa hari lalu, mengatakan angka yang direvisi Tiongkok masih tidak mencerminkan jumlah kematian yang sebenarnya di Tiongkok.

“Angka kematian di Tiongkok adalah jauh lebih tinggi dari yang dilaporkan Tiongkok dan jauh lebih tinggi dari angka kematian di Amerika Serikat, bahkan tidak dekat!” tulis Donald Trump. 

Kasus kematian yang dipastikan di Amerika Serikat naik hingga melewati 35.000 kasus.

Presiden Trump telah berulang kali mempertanyakan keakuratan angka kasus infeksi dan angka kematian yang dikeluarkan oleh pejabat rezim Komunis Tiongkok.

Trump, mengatakan dalam tweet: “Apakah anda benar-benar percaya angka-angka di negara yang luas yang disebut Tiongkok, dan bahwa Tiongkok memiliki jumlah kasus infeksi tertentu dan jumlah kasus kematian tertentu; adakah orang yang benar-benar percaya akan hal itu?”

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian menegaskan bahwa Tiongkok “secara keseluruhan” telah berhasil mengendalikan virus tersebut dan pemerintah Tiongkok telah bertanggung jawab.

“Revisi data dalam kasus penyakit yang sangat menular adalah praktik internasional yang biasa,” kata Zhao Lijian dalam konferensi pers. Tetapi ia membantah rezim Tiongkok merahasiakan skala wabah.

Sementara itu, gelombang kedua infeksi telah meletus di kota Harbin, utara Tiongkok, sementara jumlah pembawa virus tanpa gejala meningkat di tempat lain di Tiongkok.

Itu juga bukan pertama kalinya Tiongkok mengubah metodologi hitung kasus. Dari bulan Januari hingga awal Maret 2020 lalu, Komunis Tiongkok mengeluarkan tujuh versi berbeda mengenai bagaimana Tiongkok mendefinisi diagnosis COVID-19. 

Sebuah kelompok peneliti Hong Kong yang meneliti perubahan-perubahan tersebut menemukan bahwa kasus yang dipastikan adalah lebih dari empat kali angka resmi pada tanggal 20 Februari 2020, pihak berwenang  secara konsisten menggunakan versi kelima dari pedoman.

Sebuah penelitian pada studi bulan Maret 2020 ditulis bersama oleh profesor Harvard Lin Xihong, yang belum ditinjau rekan sejawat, memperkirakan bahwa total kasus kumulatif Wuhan pada tanggal 18 Februari adalah sekitar 125.959 kasus, di mana  setidaknya 59 persen dari kasus infeksi “tidak meyakinkan.”

Laporan tanggal 7 April oleh American Enterprise Institute, lembaga pemikir  yang berbasis di Washington, memperkirakan jumlah kasus yang dipastikan adalah sekitar 2,9 juta. Angka itu lebih dari 300 kali lebih tinggi dari angka resmi.

Sementara pihak berwenang Komunis Tiongkok melaporkan beberapa kasus domestik di bulan Maret. Laporan ribuan guci abu yang dikirim ke rumah duka dan

keluarga korban menunggu berjam-jam untuk mengambil abu orang yang dicintainya di rumah duka, lebih lanjut membantah klaim pemerintah Tiongkok bahwa wabah itu sudah terkendali.

Anggota parlemen dan para ahli di seluruh dunia meningkatkan kritiknya terhadap rezim Komunis Tiongkok yang merahasiakan virus corona itu sehingga virus  terus menyebar ke seluruh dunia.

Menteri Luar Negeri Inggris dan pejabat Perdana Menteri Inggris Dominic Raab pada tanggal 16 April mengatakan tidak ada “bisnis seperti biasa” setelah wabah berakhir.

“Benar-benar harus ada penurunan  yang amat sangat dalam setelah wabah dan ulasan pelajaran, termasuk wabah virus. Saya sama sekali tidak berpikir kita dapat mengelaknya,” kata Dominic Raab di sebuah konferensi pers di London. 

Sejumlah pejabat Amerika Serikat, termasuk Senator Partai Republik Jim Banks (R-Ind.), Senator Josh Hawley (R-Mo.), dan Senator Ted Cruz (R-Texas), menyerukan penyelidikan internasional terhadap rezim Tiongkok karena  Komunis Tiongkok merahasiakan wabah dan meminta pertanggungjawaban rezim Komunis Tiongkok.

Sebuah surat terbuka yang ditandatangani oleh lebih dari 150 politisi dan ahli Tiongkok itu menyebut kesalahan Beijing dalam menangani virus tersebut merupakan “akar pandemi.”

“Pandemi global memaksa kita semua untuk menghadapi kebenaran yang tidak nyaman, mempolitisasi semua aspek kehidupan termasuk kesehatan rakyat, otokratis aturan satu partai yang terus-menerus di Republik Rakyat Tiongkok telah membahayakan semua orang,” bunyi surat tersebut.

Keterangan Gambar: Presiden Donald Trump (kiri) memberi isyarat kepada Wakil Presiden Mike Pence berbicara selama pengarahan harian tentang virus PKC, di Ruang Sidang Brady Gedung Putih pada 17 April 2020. (Jim Watson / AFP melalui Getty Images)

vivi/rp 

Video Rekomendasi

https://www.youtube.com/watch?v=M3bPRi8tVjY