Selama Renaisans, Anda Bisa Menilai Buku dari Sampulnya

J.H. WHITE

Seperti halnya lukisan dan pahatan Renaissans, buku-buku di era tersebut dan seni penjilidan buku mereka juga mengangkat manusia pada kebajikan moral. Selama Renaisans abad ke-16 di Prancis, seorang negarawan muda khususnya, Claude III de Laubespine, menyukai kerajinan penjilidan buku dan mengoleksi buku-buku bersampul hiasan ornamen.

“Bayangkan melihat deretan sampul depan buku yang indah ini ketika Anda berjalan ke ruang perpustakaan,” kata John Bidwell, seorang kurator di The Morgan Library & Museum, dalam sebuah wawancara telepon. “Ini membutuhkan pengetahuan dan pembelajaran.”

Orang-orang Paris dari zaman keemasan berpendidikan tinggi dan ingin dikenang, karena cara mereka yang berbudaya. Claude III, yang menikahi seorang pewaris dan mendapat dukungan dari Raja Charles IX, melambangkan kecanggihan ini.

“Ada banyak cara untuk menunjukkan kekayaan Anda. Anda bisa memiliki pakaian mewah, istana yang dipenuhi dengan kuda keturunan murni, atau taman yang luas. Sampul buku yang elegan [dari Claude III], juga merupakan cara untuk menampilkan kekayaan dan budaya. Itu adalah cara untuk menyatakan kekayaan dan pengetahuan,” kata John.

Tulang belakang dan sampul depan “Hypnerotomachia Poliphili” Francesco Colonna, 1499. (Koleksi Jean Bonna)

Tapi Claude III tidak termotivasi dengan memamerkan dirinya. Tidak seperti kolektor Renaisans lainnya, ia tidak mencantumkan namanya di buku-buku yang dijilidnya. Namun, karena kerendahan hatinya ini, malah membuat penemuan dan otentikasi koleksi berharganya jauh lebih sulit.

Dengan menyatukan artefak sejarah di seluruh dunia, para sejarawan akhirnya melacak salah satu koleksi buku paling berharga dari masa Renaisans Prancis. Tersembunyi selama 400 tahun, harta karun sastra Claude III dapat dilihat di “Poe- try and Patronage: The Laubespine-Villeroy Library Rediscovered”, dari 16 Oktober 2020 hingga 24 Januari 2021.

Kulit Maroko yang lembut dan bertekstur kasar dengan desain rumit dan hiasan ornamen di sekeliling buku-buku ini. Salah satu buku dalam koleksinya, “Hypnero- tomachia Poliphili”, “dilapisi dengan bubuk emas. Selain perkakas emas dari desain tersebut, seluruh kulit memiliki kilau emas. Ketika Anda melihatnya di tempat pameran, Anda akan melihat bintik-bintik emas,” kata John.

Pameran ini menampilkan 12 buku dari koleksi Claude III, termasuk puisi dan buku arsitektur Italia, sempurna untuk ilustrasi karena ukurannya yang besar. Dari depan ke belakang, pengrajin mengisi buku sastra ini dengan keindahan seni.

“Bagian dari kisah pameran adalah tentang bagaimana ide dan gaya Renaissance Italia datang ke Prancis,” kata John. “Ini adalah kesempatan [The Morgan’s] untuk menjadi yang pertama menceritakan kisah hebat ini dalam bahasa Inggris.”

Detektif novel

Pada tahun 2004, Isabelle de Conihout— sejarawan dan kurator tamu pameran — menerbitkan sebuah artikel tentang koleksi Claude III. “Pada saat itu, dianggap terlalu bagus untuk menjadi kenyataan,” ujar John. Karena Claude III tidak mencantumkan  namanya  di  buku-buku,  dan pengrajin penjilid buku biasanya anonim, maka “[garis keturunan] buku-buku ini tidak diketahui,” jelas John.

Selama lebih dari 10 tahun, Isabelle dan koleganya, Pascal Ract-Madoux, mencari-cari di semua perpustakaan besar di Prancis, Inggris, dan Amerika untuk mencari jilidan buku yang langka dan berukir. Pada banyak buku yang mereka temukan, mereka mendeteksi pola-pola tertentu, dan flyleave (halaman kosong di awal atau akhir buku) depan membanggakan jumlah persediaan tinta.

Halaman judul dengan potret penulis Vignola, “Regola delli cinque ordini d’architettura,” 1563. (Hadiah Henry S. Morgan, 1965, Perpustakaan dan Museum Morgan)

“Beruntunglah Isabelle, berkali-kali, nalurinya, intuisinya membawanya  ke buku yang tepat, dan bingo, begitulah, tanda yang tertulis dalam buku itu,” kata John. Dia percaya bahwa petunjuk ini membuktikan bahwa buku-buku ini milik punggawa Claude III. Namun, “penemuannya disambut dengan skeptis.”

Suatu hari, Isabelle memberikan ceramah tentang teorinya terhadap koleksi buku Claude III miliknya. Setelah ceramah, dia mengetahui bahwa seorang anggota audiensi memiliki inventaris manuskrip aktual koleksi Claude III.

Isinya “sesuai persis dengan nomor inventaris ini dan karenanya membuktikan hipotesis Isabelle,” kata John. “Di dunia kita [buku-buku bersejarah], itu adalah karya detektif yang luar biasa.”

Puisi dan Patron

Karena sejarawan tahu siapa yang menjadi patron keluarga Claude III, maka nama-nama penulis membantu menentukan kepada siapa buku-buku puisi itu berasal, akibatnya bisa mengotentikasi koleksi tersebut.

Pameran ini menampilkan karya-karya Claude III yang menjilid dengan indah buku karya dua penyair paling terkenal dari masa Renaissance Prancis: Pierre de Ronsard dan Philippe Desportes. Madeleine de Laubes- pine, saudara perempuan Claude III, yang kepadanya diwariskan koleksinya, adalah patron dari penyair Pierre de Ronsard.

Pierre, seperti penyair Renaisans Prancis lainnya, mencari nafkah dengan mendapatkan bantuan dari pejabat tinggi pemerintah dan raja. Para elite mendukung para penyair karena berbagai alasan: Para bangsawan dan pejabat mengapresiasi seni dan puisi; mereka juga tahu para penyair bisa menyanyikan pujian pada mereka, bertindak sebagai PR yang baik, jelas John.

Mungkin juga bahwa para penyair saat itu memuji patron mereka dengan cara yang sama dengan para seniman Renaissance melukis patron mereka dengan lebih sempurna. 

Tujuannya adalah untuk mengangkat masyarakat ke estetika yang ideal dan mengangkat pemikiran orang melalui keindahan Pierre Ronsard memuji “tanah pedesaan, Madeleine de Laubespine, perpustakaan, dan penjilidannya yang harum, katanya, “baunya seharum pohon jeruk [nya]”,” tulis situs resmi pameran.

Pierre melanjutkan sanjungannya tentang Madeleine, seorang penyair penghobi, yang karya-karyanya sekarang hanya diakui karena jasa mereka sendiri. “[Ronsard] menulis sebuah puisi padanya yang mengatakan, ‘Anda sangat baik. Anda membuat saya merasa sedikit lebih rendah’,” kenang John.

Dengan cita-cita moral Renaissance dan bahasa yang kaya menghiasi halaman-halaman buku Claude III, John mengatakan, “Ini adalah kasus di mana Anda dapat menilai buku dari sampulnya.” (ajg)

Video Rekomendasi :

https://www.youtube.com/watch?v=dLRdofZ4pXg