oleh Wesley J. Smith
Senator AS Dianne Feinstein tidak menginginkan pemerintahan Donald Trump bersikap yang dianggapnya jahat kepada Komunis Tiongkok. Pada sidang Komite Kehakiman minggu lalu, Senator California tersebut mengatakan: “Kami menganggap Tiongkok sebagai mitra dagang potensial, sebagai sebuah negara yang telah menarik puluhan juta orang keluar dari kemiskinan dalam waktu yang singkat dan sebagai sebuah negara yang tumbuh menjadi bangsa yang terhormat di antara negara-negara lain. Saya sangat percaya itu.”
“Yang Terhormat!” Apakah anda bercanda? Pemerintah komunis tidak hanya sepenuhnya tidak layak untuk dihormati, tetapi pemerintah komunis juga membangun tirani yang paling kejam dan kuat terlihat di dunia sejak jatuhnya Nazi Jerman.
Kami tidak harus kembali ke dekade kepemimpinan brutal Mao Zedong, mungkin adalah pembunuh massal yang paling produktif dalam sejarah yang bertanggung jawab atas kematian puluhan juta orang.
Juga, kita tidak perlu fokus pada bencana Revolusi Kebudayaan yang merobek kebudayaan Tiongkok. Kita dapat melihat dengan jelas kejahatan di sini dan sekarang di tajuk utama kontemporer.
Para pemimpin Partai Komunis bersikeras pada kesetiaan total kepada negara — artinya kesetiaan total kepada para pemimpin Partai Komunis. Pemerintah menyebarkan wortel ekonomi dan pentungan yang mematikan untuk memperoleh kesetiaan itu. Tidak seperti di masa awal komunisme, saat ini Tiongkok memungkinkan beberapa kebebasan ekonomi, yang telah meningkatkan standar kehidupan.
Tetapi kelonggaran itu tidak diimbangi dengan kebebasan politik apa pun. Jika pun ada kebebasan politik, negara berjalan berlawanan arah di mana Partai Komunis menindas semua pemikiran yang menyimpang dari pemikiran Partai Komunis, terutama menargetkan orang-orang beriman atau orang-orang yang percaya pada filosofi heterodoks untuk dihukum dengan penganiayaan yang keji.
Korban kontemporer pertama dari penindasan ini adalah — dan hingga kini adalah — Falun Gong juga disebut Falun Dafa, latihan spiritual itu menggambarkan dirinya sebagai “latihan kultivasi” Mulai tahun 1999, Falun Gong menjadi korban khususnya pembunuhan besar-besaran yang ganas, yang paling terkenal adalah panen organ secara paksa.
Kedalaman kerusakan ini, pertama kali terungkap dalam laporan yang menghebohkan yang dikeluarkan oleh mantan anggota Parlemen Kanada David Kilgour dan pengacara hak asasi manusia terkemuka David Matas. “Laporan Adanya Tuduhan Panen Organ Praktisi Falun Gong di Tiongkok,” mengejutkan hati nurani semua orang yang baik. Lebih dari 46 halaman yang melelahkan, para aktivis secara sistematis menyusun sebuah kasus menarik “penyitaan organ berskala besar dari praktisi Falun Gong yang dipaksakan.”
Misalnya, beberapa anggota keluarga praktisi Falun Gong yang masih hidup dari praktisi Falun Gong yang meninggal dunia dalam tahanan melaporkan melihat tubuh orang yang mereka cintai terdapat “sayatan bedah dan bagian-bagian tubuh hilang.”
Satu wanita saksi — bukan seorang praktisi Falun Gong — memberitahu penyelidik bahwa suaminya yang adalah seorang ahli bedah “memberitahunya bahwa sang suami secara pribadi telah mengambil kornea-kornea dari sekitar 2.000 tahanan Falun Gong yang dibius.” Tidak ada yang selamat dan semua korban dikremasi.
Pemerintah Tiongkok membantah tuduhan itu, juga berjanji akan menghentikan penjualan organ-organ di pasar gelap. Menakjubkan! Tidak menakjubkan. Sebuah buku tahun 2014 oleh ahli Tiongkok dan penulis Ethan Gutmann, memperkirakan bahwa antara tahun 2001 hingga 2008 beberapa organ dari 65.000 organ dipanen dari praktisi Falun Gong.
Bukti kebenaran tuduhan tersebut; pasien transplantasi hati atau ginjal yang mungkin harus menunggu bertahun-tahun di Amerika Serikat untuk menerima sebuah organ, seringkali dapat memperoleh organ tersebut setelah membayar tunai hanya dalam beberapa minggu di Tiongkok. Ada istilah untuk kebijakan brutal semacam itu: pembunuhan massal.
Diana Feinstein sepertinya juga melewatkan berita mengenai Muslim Uighur di barat Tiongkok, yang dipenjara secara paksa ala gulag Soviet untuk pendidikan-ulang, di mana mereka dipukuli, diperkosa, para wanita Muslim Uyghur disterilkan, dan anak-anak mereka dicuri.
Video terbaru yang bocor ke Dunia Barat dari Tiongkok menggambarkan dengan mata tertutup, para warga Uighur digiring ke gerbong kereta api (!!!) untuk transportasi ke pabrik-pabrik kerja paksa.
Penindasan Tiongkok tumbuh bahkan lebih canggih dari jenis kekuatan tumpul semacam itu.
Sistem “kredit sosial” yang sedang dikembangkan akan menggunakan teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan dan program pengenalan wajah, membangun sistem pengawasan yang menargetkan orang Kristen dan orang lain untuk melacak perilaku dan pergaulan sosial setiap orang.
Belum lengkap, berikut cara kerja sistem pengawasan tersebut: Algoritma-algoritma komputer menganalisis data yang dikumpulkan dan menghitung “skor sosial.” Masuk ke gereja yang tidak disetujui akan kehilangan poin skor kredit sosial. Berbicara dengan seseorang yang sudah direndahkan dengan skor kredit sosial yang rendah, dan skor anda sendiri akan direndahkan.
Bicaralah dengan orang asing, dan risiko mendapat skor kredit sosial yang buruk.
Mematuhi diktat pemerintah menghasilkan skor kredit sosial yang tinggi, manfaat yang didapat mencakup biaya sewa yang lebih rendah. Tetapi konsekuensi dinilai dengan skor kredit sosial yang rendah adalah pengucilan masyarakat — dengan sanksi seperti kehilangan pekerjaan, ketidakmampuan untuk menyewa tempat tinggal, bahkan ditolak menaiki bus pusat kota atau ditolak menerima perawatan medis.
Yang lebih busuk lagi, dosa sosial orang tua ditanggung oleh anak-anak.
Seorang anak mungkin dikeluarkan dari universitas atau dilucuti kemampuan untuk bekerja, secara efektif menghancurkan kehidupan masa depannya.
Kita semua menderita akibat penanganan yang “terhormat” oleh Tiongkok terhadap Coronavirus di Wuhan. Tiongkok tidak hanya berbohong mengenai wabah itu, tetapi juga menutup perjalanan domestik dari Wuhan, Tiongkok mengizinkan penduduk untuk melakukan perjalanan internasional yang menyebarkan COVID ke seluruh dunia.
Penulis menilai kita dapat mengatakan bahwa jumlah kematian yang disebabkan adalah tanpa alasan “terhormat”, hampir 700.000 kematian di seluruh dunia hingga saat ini, di mana lebih dari 150.000 kematian terjadi di Amerika Serikat.
Penindasan Tiongkok atas Hong Kong juga merupakan otoriterisme yang “terhormat”.
Melanggar kesepakatannya untuk mengizinkan Hong Kong tetap semi-otonom, mirip seperti monster film lama “The Blob,” para komunis mengeluarkan undang-undang yang menyerap Hong Kong ke dalam sistem komunis yang lebih besar, menyingkirkan semua kebebasan yang dinikmati warga Hong Kong. Banyak orang takut bahwa Taiwan mungkin adalah korban berikutnya.
Berikut adalah beberapa contoh lain dari Partai Komunis Tiongkok yang “tumbuh menjadi bangsa terhormat.”
Tiongkok secara ilegal menduduki Tibet sejak tahun 1950-an dan secara sistematis menghancurkan kebudayaan Buddha di negara yang tertindas itu.
Tiongkok terlibat dalam pencurian massal kekayaan intelektual di seluruh dunia.
Tiongkok menempatkan mata-mata ke universitas-universitas terbaik kita.
Pemerintah Tiongkok mengendalikan perusahaan komersial terbesar di Tiongkok dan
menyebarkan perusahaan-perusahaan ini sebagai front untuk mata-mata dan pengumpulan intelijen. Misalnya, aplikasi berbagi-video TikTok, mengunggah data pengguna dan mengirimkannya ke Tiongkok.
Raksasa telekomunikasi Tiongkok Huawei — yang menjual telepon seluler lebih banyak daripada perusahaan lain di dunia kecuali Apple — telah dilarang dari Amerika Serikat dan Inggris setelah secara dapat dipercaya dituduh mengizinkan keamanan Tiongkok memata-matai pengguna Hauwei melalui sistem 5-G-Tiongkok.
Banyak pengamat internasional menggambarkan Tiongkok sebagai lintah darat yang paling rakus di dunia, meminjamkan uang ke negara berkembang dengan tingkat bunga yang tinggi untuk mengeksploitasi sumber daya atau membangun infrastruktur, dan saat negara tidak dapat membayar kembali utangnya, Tiongkok mengambil alih fasilitas tersebut.
• Armada penangkap ikan Tiongkok yang besar dengan 260 kapal pukat,muncul di perairan asli
Kepulauan Galapagos, tepat di luar zona lindung kawasan alami tersebut di mana keberadaan armada penangkap ikan Tiongkok mungkin menyedot semua ikan yang hidup, mengancam keseimbangan spesies di kawasan itu.
Bagi mereka yang khawatir akan perubahan iklim, Komunis Tiongkok adalah pemuntah gas rumah kaca yang paling serius di dunia. Siapa pun yang pernah mengunjungi Beijing atau Shanghai, akan memberitahu anda cerita mengenai tidak dapat bernapas karena adanya jelaga batubara di udara.
Cukup. Orang-orang Tiongkok adalah luar biasa dan rajin. Tetapi negara yang diperintah oleh komunis adalah antitesis dari “terhormat.”
Sebaliknya, Tiongkok adalah penumbang stabilitas internasional terbesar dan ancaman terhadap hak asasi manusia universal di dunia saat ini.
Kebanyakan dari kita tahu itu sekarang. Sungguh mengecewakan ada seorang senator yang menonjol, berpengalaman, dan berpengaruh seperti Dianne Feinstein yang lupa akan bahaya besar yang ditimbulkan Tiongkok. (Vv)
Wesley J. Smith adalah Chairman Discovery Institute’s Center on Human Exceptionalism.


