EtIndonesia. Bom luncur dan rudal Rusia menghantam sebuah penjara dan fasilitas medis di Ukraina semalam, menewaskan sedikitnya 21 orang, kata para pejabat pada hari Selasa (29/7), sementara Rusia terus membombardir wilayah sipil meskipun Presiden AS, Donald Trump mengancam akan segera menghukum Rusia dengan sanksi dan tarif kecuali Rusia berhenti.
Serangan udara Rusia terhadap sebuah penjara di wilayah Zaporizhzhia, tenggara Ukraina, menewaskan sedikitnya 17 narapidana dan melukai lebih dari 80 lainnya, kata para pejabat.
Di wilayah Dnipro, pihak berwenang melaporkan sedikitnya empat orang tewas dan delapan lainnya luka-luka.
Trump mengatakan pada hari Senin (38/7) bahwa dia memberi Presiden Rusia, Vladimir Putin 10 hingga 12 hari untuk menghentikan pembunuhan di Ukraina setelah tiga tahun perang, memajukan tenggat waktu 50 hari yang diberikannya kepada pemimpin Rusia itu dua minggu lalu. Langkah ini berarti Trump ingin upaya perdamaian mencapai kemajuan pada 7-9 Agustus.
Trump telah berulang kali menegur Putin karena berbicara tentang mengakhiri perang tetapi terus membombardir warga sipil Ukraina. Namun Kremlin belum mengubah taktiknya.
“Saya kecewa dengan Presiden Putin,” kata Trump saat berkunjung ke Skotlandia.
Namun, Kremlin membalas dengan memperingatkan Trump agar tidak “memainkan permainan ultimatum dengan Rusia.”
“Rusia bukanlah Israel atau bahkan Iran,” tulis mantan presiden Dmitry Medvedev, yang merupakan wakil kepala Dewan Keamanan negara itu, di platform sosial X.
“Setiap ultimatum baru merupakan ancaman dan langkah menuju perang. Bukan antara Rusia dan Ukraina, tetapi dengan negaranya sendiri,” kata Medvedev.
Sejak invasi besar-besaran Rusia ke negara tetangganya, Kremlin telah memperingatkan para pendukung Barat Kyiv bahwa keterlibatan mereka dapat memperluas perang ke negara-negara NATO.
“Para pejabat Kremlin terus membingkai Rusia sebagai pihak yang terlibat dalam konfrontasi geopolitik langsung dengan Barat untuk mendapatkan dukungan domestik bagi perang di Ukraina dan agresi Rusia di masa depan terhadap NATO,” kata Institute for the Study of War, sebuah lembaga pemikir di Washington, Senin malam.
Angkatan Udara Ukraina mengatakan Rusia meluncurkan dua rudal balistik Iskander-M beserta 37 drone serang tipe Shahed dan umpan ke Ukraina semalam. Mereka mengatakan 32 drone Shahed dicegat atau dinetralisir oleh pertahanan udara Ukraina.
Serangan Rusia menjelang tengah malam pada hari Senin menghantam Lembaga Pemasyarakatan Bilenkivska dengan empat bom udara berpemandu, menurut Badan Eksekutif Kriminal Negara Ukraina.
Setidaknya 42 narapidana dirawat di rumah sakit dengan luka serius, sementara 40 orang lainnya, termasuk seorang staf, mengalami berbagai luka.
Serangan itu menghancurkan ruang makan penjara, merusak gedung administrasi dan karantina, tetapi pagar pembatas tetap kokoh dan tidak ada laporan pelarian, kata pihak berwenang.
Para pejabat Ukraina mengutuk serangan itu, dengan mengatakan bahwa menargetkan infrastruktur sipil, seperti penjara, merupakan kejahatan perang berdasarkan konvensi internasional.
Di Dnipro, rudal menghantam Kota Kamianske, menghancurkan sebagian bangunan tiga lantai dan merusak fasilitas medis di dekatnya termasuk rumah sakit bersalin dan bangsal rumah sakit kota. Dua orang tewas dan lima orang luka-luka, termasuk seorang perempuan hamil yang kini berada dalam kondisi kritis, menurut kepala daerah Serhii Lysak.
Serangan Rusia selanjutnya menghantam masyarakat di distrik Synelnykivskyi dengan drone FPV dan bom udara, menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai dua lainnya.
Menurut Lysak, pasukan Rusia juga menargetkan masyarakat Velykomykhailivska, menewaskan seorang perempuan berusia 75 tahun dan melukai seorang pria berusia 68 tahun.(yn)


