oleh Peter Dahlin
Beberapa hari terakhir muncul banyak laporan dan spekulasi mengenai apa yang terjadi pada tokoh kelas berat Partai Komunis Tiongkok (PKT), Liu Jianchao, yang kini sedang diselidiki bersama wakilnya oleh polisi internal Partai.
Tak sulit melihat mengapa kalangan pemerhati Tiongkok penuh dengan spekulasi dan gosip. Dikarenakan meskipun Liu tidak seterkenal beberapa pejabat lain, kejatuhannya bisa dibilang sebagai keadilan puitis—terutama bagi orang Tionghoa di seluruh dunia yang khawatir akan keselamatan mereka seiring dengan meluasnya operasi kepolisian global PKT dan penindasan lintas negara. Liu. Ia adalah pimpinan Partai dalam operasi pengaruh luar negeri dan kampanye global untuk memburu orang-orang yang diincar Partai dan memaksa mereka kembali ke Tiongkok.
Liu tidak hanya memegang jabatan tinggi Partai, tetapi secara khusus pernah memimpin aparat kepolisian Partai yang direformasi, yang mana pada tahun 2018 diperluas besar-besaran dan diberi nama baru, yaitu Komisi Pengawasan Nasional. Badan ini juga memperkenalkan sistem penahanan rahasia di luar hukum secara nasional yang disebut liuzhi.
Lebih jauh lagi, Liu dikenal sebagai pendukung fanatik sistem penghilangan paksa dan penggunaan liuzhi untuk melenyapkan orang tanpa pemberitahuan, sering kali hingga setengah tahun, tanpa memberitahukan kepada siapa pun.
Sebagai pemimpin Departemen Internasional PKT, Liu—bersama wakilnya Sun Haiyan yang juga kini ditahan—menjadi tokoh kunci dalam memperluas pengaruh rezim Tiongkok di luar negeri. Liu kerap bepergian ke Eropa, memperluas pengaruh PKT di sana maupun di Amerika Serikat.
Sambil merayu parlemen asing, membangun dukungan bagi sejumlah kelompok front persatuan di luar negeri, serta berinteraksi dengan pejabat di seluruh dunia, Liu pada saat yang sama juga berperan penting dalam memburu para pengasingan di luar negeri dan “membujuk” mereka untuk kembali, dengan cara mulai dari ancaman, intimidasi, menekan anggota keluarga yang masih di Tiongkok, hingga penculikan terang-terangan—sebagai bagian dari operasi Fox Hunt dan Sky Net rezim tersebut.
Atas semua kiprahnya itu, Liu sering digadang-gadang akan menjadi menteri luar negeri berikutnya. Tidak mengherankan, karena rekam jejaknya memang mengesankan, dan kariernya seakan-akan menjadi cetak biru untuk meraih kekuasaan di dalam Partai Komunis Tiongkok. Berawal dari barisan disipliner di Zhejiang, ia membangun reputasi sebagai “tsar antikorupsi” yang tanpa ampun.
Sebagai kepala Biro Kerja Sama Internasional, dan kemudian sebagai komandan Kantor Pemulangan Buronan Internasional, Liu memimpin operasi global untuk membawa pulang kader-kader korup, mengawasi sistem liuzhi, melegitimasi penahanan rahasia, dan membentuk investigasi internal Partai dengan toleransi nol terhadap perbedaan pendapat. Dialah yang membangun mekanisme yang kini justru mengancam kebebasannya sendiri.
Ironisnya, kini Liu, seperti banyak orang lain yang pernah dipaksa kembali ke Tiongkok, sedang diselidiki oleh polisi internal Partai yang dulu ia pimpin. Mengingat rumahnya digeledah pada waktu yang hampir bersamaan dengan penangkapannya di awal Agustus, sangat besar kemungkinan ia termasuk di antara 40.000–45.000 orang yang tahun ini akan “dilenyapkan” ke dalam sistem liuzhi.
Karena merupakan mekanisme internal Partai, liuzhi sama sekali tidak ada kaitannya dengan sistem peradilan pidana, dan tidak ada hak hukum yang berlaku. Inilah yang disebut “keindahan” sistem tersebut, dan sebagaimana pernah dikatakan Liu secara terbuka: “Ini bukan penangkapan kriminal atau yudisial, dan ini lebih efektif.”
Mereka yang diseret dari jalanan dan dimasukkan ke liuzhi sering kali menghilang begitu saja. Lokasi penahanannya, secara definisi, adalah rahasia. Pihak berwenang tidak perlu memberi tahu keluarga korban. Karena bukan proses hukum, tidak ada hak untuk mendapatkan penasihat hukum. Korban bisa dikurung hingga enam bulan dalam sel isolasi berlapis antisuicidal dan diawasi tanpa henti. Singkatnya: mereka lenyap.
Para penyelidik bisa dan akan melakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang mereka mau, yaitu pengakuan. Selalu sebuah pengakuan. Dan, sistem ini selalu berhasil. Sistem penculikan yang dilegalkan negara—itulah kenyataannya—memberi wewenang kepada penyelidik untuk melakukan apa pun, mematahkan tulang sesuka hati, tanpa pengawasan apa pun, dan menahan korban selama setengah tahun. Mengapa mereka tidak menggunakan kekuasaan yang sudah diberikan? Maka, Liu, seperti semua tokoh besar lain yang pernah melewati sistem itu, pasti akan mengaku. Berapa lama proses itu memakan waktu, hanya waktu yang bisa menjawab.
Liu telah menghabiskan puluhan tahun menguasai aparatus “disiplin” Partai, hanya untuk mendapati dirinya kini berada di bawah belas kasihan sistem yang begitu ia bangun dengan penuh semangat. Sang pemburu kini menjadi buruan.
Sekali lagi, sistem pemerintahan PKT menunjukkan dengan semakin jelas bahwa sistemnya sendiri melahap orang-orangnya.
Peter Dahlin adalah pendiri LSM Safeguard Defenders dan salah satu pendiri LSM Tiongkok China Action (2007–2016). Ia adalah penulis Trial by Media dan kontributor The People’s Republic of the Disappeared. Ia tinggal di Beijing sejak 2007 hingga ditahan dan dipenjara secara rahasia pada 2016, kemudian dideportasi dan dilarang masuk kembali. Sebelum tinggal di Tiongkok, ia bekerja untuk pemerintah Swedia di bidang kesetaraan gender. Kini ia tinggal di Madrid.


