EtIndonesia. Pejabat kesehatan di Tiongkok dan Hong Kong memperingatkan lonjakan tajam kasus influenza setelah tiga jenis virus flu — A/H3N2, A/H1N1, dan B/Victoria — menyebar secara bersamaan. Rumah sakit di sejumlah provinsi dilaporkan hampir mencapai kapasitas penuh, dengan anak-anak menjadi kelompok yang paling terdampak.
Hong Kong telah mengonfirmasi beberapa kasus flu berat pada anak-anak, termasuk satu kematian, sementara dokter di daratan Tiongkok menyebutkan bahwa jenis virus flu tahun ini berbeda dari yang beredar pada 2024 dan kemungkinan besar akan menghadapi tingkat kekebalan populasi yang lebih rendah.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok (CDC), aktivitas influenza meningkat tajam di wilayah selatan antara 6 hingga 12 Oktober. Virus tipe A dan tipe B terdeteksi, dengan A/H3N2 dan A/H1N1 menjadi yang dominan di antara infeksi tipe A. Pihak berwenang mencatat empat wabah penyakit seperti influenza di seluruh negeri.
Flu tipe A menyumbang lebih dari 90 persen kasus di wilayah utara maupun selatan Tiongkok, dan dari jumlah itu, lebih dari 90 persen adalah jenis H3N2.
Otoritas kesehatan Hong Kong juga menemukan ketiga jenis virus tersebut. Sejak tahun ajaran baru dimulai pada September, kota itu melaporkan 556 wabah yang terkait dengan sekolah dan pusat penitipan anak. Sebelas kasus flu berat pada anak telah dikonfirmasi, termasuk satu kematian.
Pasien berusia antara 2 hingga 17 tahun, dan sembilan di antaranya sebelumnya dalam kondisi sehat. Pada 12 Oktober, seorang gadis berusia 13 tahun meninggal dunia akibat infeksi influenza B yang menyebabkan miokarditis, syok, dan ensefalopati — menjadi kematian anak pertama akibat flu di Hong Kong tahun ini.
Pada 20 Oktober, seorang balita perempuan berusia dua tahun yang sebelumnya sehat dirawat dalam kondisi kritis akibat infeksi influenza A yang disertai komplikasi ensefalopati. Pejabat menyatakan anak tersebut sempat berada di Provinsi Guangdong selama masa inkubasi sebelum tiba di Hong Kong.
Ahli: Kekebalan terhadap H3N2 lebih rendah tahun ini
“Jenis flu yang dominan tahun ini adalah A/H3N2, sedangkan tahun lalu A/H1N1,” kata dr. Li Tongzeng, kepala divisi penyakit menular di Rumah Sakit You’an Beijing, Capital Medical University (CMU).
“Itu berarti kekebalan masyarakat terhadap H3N2 lebih rendah dan perlu mendapat perhatian serius,” ujarnya.
Dr. Li menambahkan, gejala A/H1N1, A/H3N2, dan influenza tipe B serupa — demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, kelelahan, dan sakit kepala — namun anak-anak lebih rentan mengalami gejala berat dan perkembangan penyakit yang cepat.
Di Shanghai, rumah sakit anak melaporkan jumlah pasien demam yang memecahkan rekor. Menurut laporan National Business Daily, sejak awal semester baru, kunjungan rawat jalan di rumah sakit anak meningkat 30 persen dibandingkan awal September. Pada akhir pekan, beberapa rumah sakit melayani hingga 900 pasien infus per hari.
Di salah satu rumah sakit, lebih dari 90 anak terdaftar hanya dalam dua jam pertama sejak dibuka, hampir semuanya dengan demam tinggi.
Seorang wakil direktur di Rumah Sakit Anak Universitas Fudan mengonfirmasi bahwa aktivitas flu meningkat tajam.
“Pada musim semi, kami melihat gelombang H1N1,” ujarnya. “Sekarang H3N2 mendominasi, terutama di kalangan siswa sekolah dasar dan taman kanak-kanak.”
Sebuah video yang beredar pada 22 Oktober menunjukkan seorang anak TK di Provinsi Shaanxi mengatakan bahwa 17 dari 31 teman sekelasnya tertular flu.
Pada hari yang sama, rumah sakit di Provinsi Jiangsu digambarkan “penuh sesak dengan pasien,” sementara Rumah Sakit Ibu dan Anak Ningbo di Zhejiang melaporkan bangsal rawat inapnya “benar-benar penuh.”
Keterangan ini belum bisa diverifikasi secara independen, tetapi sejalan dengan laporan luas tentang meningkatnya kasus anak di wilayah timur dan selatan Tiongkok.
Reaksi publik: kelelahan dan frustrasi
Di media sosial Tiongkok, banyak warganet mengeluhkan gejala yang tak kunjung sembuh dan frustrasi terhadap rumah sakit yang membludak.
“Bahkan bernapas saja terasa sakit di tenggorokan,” tulis seorang pengguna.
“Saya sudah sakit 20 hari dan belum sembuh juga,” kata lainnya.
Beberapa warga juga mempertanyakan apakah pihak berwenang menutupi varian baru COVID-19.
“Mereka hanya mengganti nama COVID, sekarang disebut flu,” tulis seorang pengguna dari Provinsi Henan. “Semua orang tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Lonjakan flu kali ini juga berbarengan dengan beberapa wabah penyakit pernapasan lain di daratan Tiongkok.
Di Henan, kasus penyakit tangan, kaki, dan mulut (HFMD) meningkat seiring perubahan subtipe virus.
Di Jiangsu, kunjungan rawat jalan anak melonjak di Kota Danyang, sementara rumah sakit di Shanghai dan kota lainnya melaporkan klaster baru infeksi virus pernapasan respiratory syncytial virus (RSV).
Dokter mengatakan, dalam beberapa keluarga, seluruh anggota tertular, dengan beberapa anak harus dirawat di unit perawatan intensif. Di sejumlah kota, orang tua bahkan diminta menandatangani surat persetujuan kondisi kritis.
Para ahli kesehatan masyarakat menilai situasi ini mencerminkan kombinasi dari penurunan kekebalan tubuh, peredaran beberapa jenis virus secara bersamaan, serta kelelahan sistem kesehatan setelah pandemi COVID-19.
Setelah bertahun-tahun menerapkan kebijakan ketat dan penggunaan masker, paparan terhadap virus musiman menurun, membuat banyak orang — terutama anak-anak — memiliki pertahanan imun yang lebih lemah.
Seorang dokter anak di Shanghai mengatakan kepada Vision Times: “Virus-virus ini sebenarnya bukan hal baru. Yang baru adalah betapa rapuhnya kekebalan kolektif kita saat ini.”


