Kisah Inspiratif: Dari Mana Datangnya Martabat

EtIndonesia. Sebagian orang memahami “martabat” sebagai kondisi di mana mereka bisa mengurus segala hal tanpa perlu meminta tolong siapa pun—justru orang lainlah yang harus datang memohon. Ke mana pun pergi diperlakukan bak VIP. Menurut saya, itu bukan martabat, melainkan hak istimewa.

Tahun lalu, saat bepergian ke Qinghai Lake, saya menyewa mobil dan berkenalan dengan seorang sopir. Dia hanya lulusan sekolah dasar, tetapi setiap hari selalu tampil rapi dengan setelan jas. Dia selalu tiba sepuluh menit lebih awal, sarung jok mobil diganti setiap hari, dan di dalam mobil tersedia tempat sampah, air mineral, tisu basah, serta selimut tipis untuk penumpang yang ingin tidur.

Dia membawa kamera DSLR miliknya sendiri. Diam-diam dia memotret tamu saat sedang menikmati pemandangan—biasanya dari belakang atau dari kejauhan. Saat berpisah, foto-foto itu dia serahkan sebagai kenang-kenangan.

Saya juga pernah bertemu seorang tukang kayu saat memesan furnitur. Usahanya besar, tetapi cara kerjanya sangat lambat—karena teliti. Meski dua barang yang saya pesan tidaklah mahal, dia datang sendiri untuk mengukur, hanya demi memastikan, “Warna wallpaper rumah Anda seperti apa? Apakah jenis kayu ini cocok?”

Saat pengantaran, dia pun datang sendiri bersama pegawainya, cemas jika penempatannya kurang pas. Bahkan ketika posisi furnitur yang saya inginkan tidak sesuai dengan seleranya, dia terlihat gelisah. Tangannya mengusap kayu yang halus, matanya penuh kasih—seolah sedang merawat sesuatu yang bernyawa.

Selama sepuluh tahun, keluarga kami menggunakan pengasuh yang sama. Beberapa hari lalu, untuk pertama kalinya dia meminta izin cuti selama seminggu. Setelah dia pulang ke kampung, saya baru menyadari bahwa tempat sampah dapur telah dia lapisi dengan tujuh lapis kantong plastik—rapi, bersih, dan penuh perhatian.

Saya sungguh jatuh cinta pada setiap orang yang mencurahkan seluruh dirinya pada pekerjaan yang dia lakukan—entah itu menulis kode, membuat furnitur, menyetir mobil, atau menyapu jalan.

Bukan demi pujian siapa pun. Bukan untuk terlihat hebat. Melainkan karena dirinya sendiri adalah alasan terbesar.

Tidak asal-asalan. Tidak setengah hati. Tidak kabur dan tidak menghindar.

Dia memperlakukan apa yang sedang dia kerjakan sebagai titik perjumpaan dirinya dengan dunia—tempat dia bernapas dan memberi makna.

Di sanalah martabat berasal.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Menelusuri Jejak Biksu Xuanzang Melintasi Lanskap Suci Dunia Buddhis yang Telah Hilang

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya) Salah satu catatan perjalanan paling penting dan paling rinci mengenai Jalur Sutra kuno berasal dari perjalanan biksu Tiongkok Xuanzang (玄奘), yang...

Menurunkan Berat Badan dan Mengubah Penampilan adalah Dua Proyek yang Berbeda

 Chen Jing - Visiontimes.com Kebanyakan orang hanya menjalankan proyek yang pertama. Itulah sebabnya angka di timbangan turun, tetapi bayangan di cermin tampak tidak banyak berubah. Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine