EtIndonesia.com Ketika seruan untuk perubahan dalam masyarakat Tiongkok semakin kuat dan birokrasi menghadapi konflik serta pemborosan internal, kemungkinan terjadinya keruntuhan mendadak rezim menjadi tantangan bagi strategi global. Pakar Tiongkok dari lembaga pemikir Amerika Serikat Hudson Institute, Miles Yu, menerbitkan sebuah artikel yang menganalisis krisis pada era pasca-PKT.
Pakar Tiongkok dari Hudson Institute, Miles Yu, menerbitkan artikel di The Washington Times pada 14 September. Ia menunjukkan bahwa salah satu tantangan strategis terbesar yang ditimbulkan Tiongkok bagi dunia adalah pertanyaan: apa yang akan terjadi jika Tiongkok tiba-tiba runtuh?
Gagasan utama yang dibahas dalam artikel tersebut adalah bahwa dunia bebas dan masyarakat internasional tidak seharusnya menjadikan asumsi bahwa “PKT akan terus ada untuk jangka panjang” sebagai satu-satunya dasar strategi. Sebaliknya, mereka perlu menghadapi kemungkinan bahwa Partai Komunis Tiongkok tiba-tiba runtuh atau kehilangan kendali terpusat, serta mempersiapkan strategi untuk menghadapi kemungkinan tersebut sejak dini.
Pada saat yang sama, sebuah artikel yang diterbitkan oleh seorang warganet di media sosial membahas kemungkinan keruntuhan mendadak PKT dari tiga aspek: adanya tuntutan perubahan dari masyarakat, keinginan sistem untuk melepaskan diri dari tekanan, dan kemungkinan PKT mengalami keruntuhan mendadak.

Pandangan dalam artikel internet tersebut mengenai “matangnya secara bersamaan kondisi untuk transisi politik Tiongkok” melengkapi peringatan strategis yang disampaikan Miles Yu dan Hudson Institute.
Artikel pertama berfokus pada logika perubahan struktur internal dan dinamika sosial, sedangkan yang kedua berfokus pada persiapan strategis masyarakat internasional.
“Faktor potensial utama bagi transisi politik PKT adalah faktor ekonomi, misalnya stagnasi pertumbuhan ekonomi, krisis keuangan pemerintah daerah, dan tingginya tingkat pengangguran di kalangan anak muda,” ujar Shen Ming-shih, peneliti Institute for National Defense and Security Research (INDSR) Taiwan.
“Dari sisi sistem, PKT semakin totaliter, sementara mekanisme suksesi kepemimpinan semakin tidak pasti. Konflik internal PKT telah berubah dari persoalan pembangunan menjadi krisis kelangsungan hidup,” jelasnya.
“Semakin banyak orang menghadapi kesulitan dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Ketika mereka sudah tidak dapat melakukan apa pun, dan akhirnya merasa hanya bisa mengambil risiko dengan prinsip ‘mati bersama’, tentu hal itu dapat menyebabkan runtuhnya rezim PKT,” katanya.
Shen Ming-shih menilai bahwa faktor paling penting adalah apakah terjadi perpecahan terbuka di dalam kelompok penguasa PKT.
Shen Ming-shih juga berkata: “Jika perebutan kekuasaan sudah mencapai tingkat terbuka, tentu kemampuan rezim untuk mengendalikan keadaan akan melemah. Kedua adalah kemampuan mengendalikan masyarakat. Ketiga adalah goyahnya kekuatan militer, kepolisian, dan aparat keamanan dalam mempertahankan stabilitas. Militer, polisi, dan Polisi Bersenjata merupakan garis pertahanan terakhir untuk mempertahankan kekuasaan.”
“Jika bahkan militer dan polisi tidak lagi bersedia mematuhi kepemimpinan Partai Komunis, tentu itu juga menjadi salah satu faktor utama. Keempat, jika terjadi demonstrasi besar-besaran atau aksi memperjuangkan hak, aksi tersebut dapat dengan mudah terhubung dan berkembang menjadi tuntutan atau gerakan berskala nasional. Tentu saja, ini juga merupakan tanda penting terjadinya transisi politik.”
Artike tersebut berpendapat bahwa persoalan lapangan kerja, pendapatan, harga rumah, pensiun, asuransi kesehatan, utang pemerintah daerah, serta kepercayaan dunia usaha saat ini tidak lagi merupakan krisis lokal yang berdiri sendiri. Semua persoalan tersebut telah saling berkelindan menjadi sebuah jaring besar yang menekan masyarakat.
Xing Tianxing, komentator isu terkini yang berbasis di Amerika Serikat: “Sebelum suatu rezim mengalami tanda-tanda perubahan, hal yang paling jelas biasanya adalah perubahan fenomena alam, dengan berbagai bencana besar terjadi secara berturut-turut.”
“Jika tidak ada bencana-bencana tersebut, tekanan ekonomi saja sudah membuat masyarakat merasa sangat sulit. Namun ketika bencana seperti ini terjadi, semakin banyak orang terdorong ke dalam situasi yang sangat sulit. Karena itu, kita melihat sekarang mereka (PKT) mengeluarkan berbagai kebijakan, yang juga bertujuan menghindari krisis sosial seperti ini.”
Pengamatan warganet mengenai matangnya kondisi untuk perubahan internal PKT dinilai sejalan dengan penekanan Miles Yu bahwa “rezim otoriter yang tampaknya tidak tergoyahkan sering kali dapat runtuh dalam sekejap”.
Keduanya sama-sama mengarah pada satu kesimpulan utama: tidak peduli berapa lama lagi rezim PKT dapat menunda perubahan, kerentanan struktur internal dan kuatnya tuntutan transformasi sosial telah membentuk dua gelombang tekanan yang besar.
Shen Ming-shih: “Apakah kondisinya sudah matang atau apakah waktunya sudah pasti, menurut saya itu adalah dua hal yang berbeda. Ketika kondisi sudah matang, mungkin hanya diperlukan pemicu atau suatu peristiwa tak terduga. Hal itu dapat menjadi seperti percikan api yang kemudian menimbulkan kebakaran besar.”
“Kita melihat bahwa baik runtuhnya Uni Soviet maupun peristiwa Musim Semi Arab terjadi karena sebuah peristiwa kecil yang muncul secara tiba-tiba, kemudian berkembang menjadi keruntuhan secara menyeluruh.”
“Menurut saya, jika melihat sistem politik PKT saat ini, kondisi tersebut sudah matang. Namun yang masih kurang adalah percikan api atau peristiwa tertentu yang dapat menghubungkan berbagai persoalan dan menghasilkan dukungan berskala nasional.”
Xing Tianxing: “Tiongkok dapat mengalami transisi yang relatif damai—ini adalah model yang ideal. Saat ini seluruh masyarakat menghadapi berbagai krisis, termasuk krisis yang dihadapi mereka (PKT) sendiri.”
“Jika krisis tersebut dapat mendorong terjadinya transformasi, maka bagi rakyat Tiongkok hal itu mungkin merupakan sesuatu yang baik. Namun jika tidak demikian, dan akhirnya terjadi ‘keruntuhan seketika seperti sambaran petir’, maka jika benar terjadi dengan pola seperti itu, bencana yang ditimbulkan kemungkinan juga akan sangat besar.”
Sejarah seringkali berbelok ketika orang tidak siap menghadapinya. Para komentator menilai bahwa baik keinginan masyarakat untuk mengalami perubahan maupun “asuransi strategis” yang sedang dipersiapkan masyarakat internasional merupakan langkah untuk mengantisipasi kemungkinan datangnya perubahan besar tersebut.
Huang Yimei/Chang Chun/Chen Jianming


