EtIndonesia.com Baru-baru ini, sebuah batu raksasa yang bentuknya tidak biasa ditemukan di sebuah ladang gandum di Desa Yili, Kecamatan Daziwen, Kabupaten Anping, Kota Hengshui, Provinsi Hebei, Tiongkok. Penemuan itu menarik perhatian publik dan memicu berbagai spekulasi. Sebagian warganet bahkan berseloroh, “Jangan-jangan ada tulisan di batu itu?”, sebuah sindiran yang mengacu pada kisah-kisah sejarah Tiongkok tentang pertanda pergantian dinasti.
Ditemukan setelah sambaran petir
Menurut laporan media Tiongkok pada 16 Juni, batu tersebut berwarna abu-abu kehijauan dengan bagian bawah menyerupai akar pohon. Bentuknya tidak beraturan dan permukaannya kasar. Saat ini lokasi penemuan telah diamankan oleh pihak setempat.
Seorang warga Desa Yili bernama Liu Yu mengatakan bahwa pada 12 Juni sore ia sedang bekerja di ladang gandum ketika hujan gerimis turun dan guntur terus terdengar.
Ia menceritakan:“Sekitar pukul tujuh malam saya melihat kilatan petir, lalu terdengar dentuman keras di dekat lokasi. Setelah melihat ke arah suara itu, saya mendapati ada api dan percikan di ladang gandum milik warga bernama Liu Junkai.”
Keesokan harinya, keponakan Liu Junkai melihat sebagian batu berwarna abu-abu kehijauan muncul dari permukaan tanah. Saat itulah mereka menyadari adanya benda aneh di ladang tersebut.


Sempat diduga akibat kabel listrik tegangan tinggi
Seorang warga lain mengatakan bahwa pada malam 12 Juni ia melihat kabel listrik tegangan tinggi jatuh ke tanah dan memicu kobaran api. Ketika kembali sekitar pukul 11 malam, api masih menyala sehingga ia mengira lahan tersebut terbakar akibat kabel listrik yang putus.
Seorang aparat desa membenarkan bahwa sambaran petir memang menyebabkan putusnya kabel listrik tegangan tinggi pada hari itu. Namun, petugas listrik datang sekitar 10 menit kemudian untuk menanganinya. Ia memperkirakan batu aneh tersebut kemungkinan terbentuk karena sambaran petir yang membakar permukaan tanah dalam sekejap.
Ukuran batu cukup besar
Setelah dilakukan penggalian, diketahui bahwa batu tersebut berbentuk gumpalan dengan ukuran sekitar:
- Panjang: 130 sentimeter
- Lebar: 52 sentimeter
- Bagian yang telah tergali: 90 sentimeter
Lapisan luarnya memiliki tekstur seperti kaca berwarna kuning kehijauan yang berangsur berubah menjadi hitam pada bagian bawah. Material kaca vulkaniknya memiliki tingkat kekerasan sekitar 5–6 pada skala Mohs, sementara bagian yang lebih dalam bertekstur lebih rapuh.
Ahli geologi: kemungkinan merupakan batu akibat sambaran petir
Menurut para ahli geologi, batu tersebut merupakan contoh khas fulgurit atau batu hasil sambaran petir (lightning rock), yaitu material yang terbentuk ketika energi dan suhu sangat tinggi dari petir melelehkan tanah atau pasir sebelum kembali mendingin dan mengeras.
Pada 17 Juni, seorang saksi bermarga Zhang mengatakan kepada media bahwa batu tersebut telah dibawa pulang oleh pemilik ladang. Ia juga menyebut ada orang-orang yang datang ke lokasi untuk mencari sisa-sisa material yang mungkin tertinggal.
Memicu berbagai spekulasi di internet
Penemuan ini memancing banyak komentar dari warganet Tiongkok, di antaranya:
- “Aneh sekali. Di dataran yang kebanyakan berupa tanah seperti itu, kok bisa muncul batu sebesar ini?”
- “Jenis tanah seperti apa yang bisa membentuk batu sebesar itu?”
- “Apakah ini meteorit?”
Sebagian pengguna internet juga mengaitkannya dengan berbagai kisah sejarah dan legenda Tiongkok yang menganggap kemunculan fenomena aneh sebagai pertanda perubahan besar, misalnya dengan komentar:
- “Semoga saja tidak ada tulisan di atas batunya.”
- “Langit lama telah berakhir, saatnya yang baru bangkit?”
- “Apakah ini pertanda pergantian zaman?”
Komentar-komentar tersebut merupakan sindiran yang merujuk pada cerita-cerita sejarah Tiongkok, di mana kemunculan batu bertulisan atau fenomena alam yang tidak biasa sering dianggap sebagai isyarat pergantian kekuasaan atau dinasti.
Penjelasan ilmiah
Menurut informasi yang tersedia, batu sambaran petir (fulgurit) adalah batuan kaca alami yang terbentuk ketika petir menyambar tanah atau pasir dan menghasilkan suhu sangat tinggi dalam waktu singkat sehingga material di sekitarnya meleleh lalu membeku kembali.
Batu ini juga kemungkinan lain, yaitu batuan serupa dapat terbentuk akibat tumbukan meteorit. Saat memasuki atmosfer Bumi, meteorit mengalami pemanasan hebat akibat gesekan, dan energi besar saat menghantam permukaan dapat melelehkan material di sekitarnya sehingga menghasilkan batuan berkaca. Namun, dalam kasus penemuan di Hebei ini, para ahli geologi yang dikutip dalam laporan menilai batu tersebut lebih mungkin merupakan fulgurit yang terbentuk akibat sambaran petir, bukan meteorit.
Dilaporkan oleh Li Li/Disunting oleh Lin Qing – NTDTV.com


