EtIndonesia.com Aksi mogok dan demonstrasi di negara Amerika Selatan, Bolivia, terus meningkat dan kemudian berkembang menjadi pemblokiran jalan-jalan raya utama yang menyebabkan perekonomian negara itu lumpuh. Pada Sabtu (20 Juni), Presiden Bolivia Rodrigo Paz mengumumkan status darurat nasional.
Presiden Rodrigo Paz menyatakan:“Setelah menempuh seluruh jalur dialog, mencapai kesepakatan dengan pihak-pihak yang mengajukan tuntutan secara wajar, dan dengan jelas mengidentifikasi kelompok-kelompok yang berupaya merusak stabilitas Bolivia melalui kekerasan, kami memutuskan untuk mem berlakukan status darurat di seluruh wilayah negara.”
Kerusuhan berlangsung selama 50 hari
Setelah sekitar 50 hari kerusuhan yang menyebabkan aktivitas ekonomi terhenti, Presiden Paz mengumumkan pemberlakuan status darurat. Langkah ini memberikan kewenangan untuk mengerahkan pasukan militer dalam skala lebih besar guna membongkar blokade jalan dan memulihkan ketertiban.
Sebelum pengumuman tersebut, pada hari Jumat pemerintah telah mencapai kesepakatan dengan serikat pekerja utama, yaitu Konfederasi Buruh Bolivia.
Pemimpin serikat pekerja kemudian mengumumkan bahwa seluruh anggota serikat di 20 provinsi diminta membubarkan aksi mereka di lokasi masing-masing.
“Mulai sekarang, seluruh langkah tekanan di tingkat nasional dihentikan. Pemerintah telah berjanji untuk segera melaksanakan seluruh kesepakatan yang telah dicapai,” ujar pemimpin Konfederasi Buruh Bolivia, Mario Agollo.
Berawal dari pemogokan buruh
Krisis ini bermula dari aksi mogok para pekerja pada bulan Mei, yang kemudian meningkat menjadi pemblokiran jalan raya. Blokade tersebut memutus akses transportasi menuju La Paz dan El Alto, sehingga mempengaruhi kehidupan lebih dari dua juta orang.
Lumpuhnya rantai pasokan tidak hanya menyebabkan kerugian besar bagi sektor pertanian dan industri angkutan truk, tetapi juga membuat masyarakat menghadapi ancaman kekurangan bahan pangan.
Selama krisis berlangsung, sejumlah pelaku usaha bahkan mencoba mengirimkan daging dan bahan makanan pokok ke La Paz dan El Alto melalui jalur udara, meskipun biaya pengirimannya jauh lebih tinggi.
Warga merayakan tercapainya kesepakatan
Setelah pemerintah dan serikat pekerja mencapai kesepakatan, sejumlah warga terlihat berkumpul di depan istana presiden sambil mengibarkan bendera nasional untuk merayakan berakhirnya kebuntuan.
Menurut laporan ombudsman atau lembaga pengawas setempat, rangkaian kerusuhan selama periode tersebut telah menyebabkan sedikitnya 14 orang tewas. .
Perkembangan situasi selanjutnya diperkirakan masih akan menjadi tantangan besar bagi pemerintah Bolivia dalam menjaga stabilitas dan memulihkan kondisi ekonomi negara.
Sumber : NTDTV.com


