EtIndonesia.com Laporan New Tang Dynasty Television (NTD) menyebutkan sejak 4 Juli, wilayah Guangxi, Tiongkok, dilanda hujan lebat. Bendungan Waduk Liulan (六蓝水库) di Kota Hengzhou, Nanning, mengalami keretakan yang kemudian berkembang menjadi jebol. Banjir yang terjadi dilaporkan menggenangi kawasan permukiman dan menyeret sejumlah warga. Sejumlah penduduk mengatakan bahwa tanda-tanda bahaya pada bendungan telah terlihat sebelumnya, namun tidak mendapat penanganan yang memadai sehingga banyak warga tidak sempat mengungsi.
Di Kota Hengzhou, bendungan Waduk Liulan tiba-tiba mengalami keruntuhan setelah muncul retakan pada tubuh bendungan.
Pada Senin, banyak pengguna internet di Tiongkok mengunggah video dan kesaksian yang menunjukkan derasnya banjir mengalir melalui kawasan permukiman menuju kota-kota dan desa-desa di hilir. Kendaraan tampak terguling dan hanyut terbawa arus, sementara beberapa rumah terendam hingga mencapai atap. Warga yang belum sempat mengungsi terlihat naik ke atas atap untuk menyelamatkan diri. Beberapa orang juga dilaporkan terseret arus dan berjuang di tengah banjir.
Seorang warga mengatakan: “Sekarang semuanya sudah seperti lautan. Air di sekitar supermarket hampir mencapai atap. Gudang-gudang itu sudah hanyut roboh. Di desa kami, air sudah mencapai lantai satu. Lihat, bahkan sudah sampai ke atap rumah. Semua orang, segera lakukan langkah-langkah keselamatan dan mengungsi!”
Seorang pengguna internet menulis bahwa neneknya sempat merekam kondisi banjir pada hari pertama. Keesokan harinya air naik hingga lantai dua rumah, dan sang nenek dilaporkan hanyut oleh banjir.
Media juga melaporkan bahwa di Kota Yunbiao, Hengzhou, sebuah truk pengangkut sekitar 33 ton formaldehida terjebak di tengah banjir. Ketinggian air hampir mencapai setir kendaraan, sementara seseorang terjebak di atas atap truk. Pengemudi dilaporkan telah berulang kali menghubungi layanan darurat, tetapi bantuan tidak segera datang.
Kawasan perkotaan Hengzhou juga terendam banjir. Sejumlah kendaraan hanyut, sementara papan kayu, ban, dan berbagai benda lainnya terlihat mengapung di jalanan yang berubah menjadi aliran air.
Di Kota Guigang, sebuah lokasi proyek konstruksi turut terendam banjir. Air deras mengalir masuk ke area proyek hingga menyerupai air terjun kecil.
Menurut laporan tersebut, sebenarnya pada tahun lalu sudah ada warganet yang mengunggah video yang memperingatkan adanya masalah keselamatan pada Waduk Liulan. Namun, peringatan itu disebut tidak mendapat perhatian dari pihak berwenang.
Setelah bencana terjadi, banyak pengguna internet mengkritik pemerintah daerah karena dinilai tidak memberikan peringatan dini kepada warga di wilayah hilir, sehingga ketika bendungan jebol banyak penduduk tidak sempat mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
Video terbaru yang beredar di internet menunjukkan bahwa banjir yang dipicu oleh jebolnya Waduk Liulan mulai surut. Namun lokasi bendungan mengalami kerusakan parah. Sebagian besar tanggul tanah dan batu terkikis, sementara jalan di atas bendungan runtuh dan ambles.
Sejumlah warga desa mengatakan bahwa sekitar setengah dari rumah-rumah di desa mereka rusak atau hanyut, bahkan sebagian rumah hanya menyisakan pondasinya.
Pada saat yang sama, Waduk Yunbiao, Waduk Sancha, dan Waduk Chayuan juga dilaporkan menghadapi kondisi darurat yang berpotensi membahayakan banyak permukiman di daerah hilir.
Beberapa pengguna internet juga mengunggah permintaan bantuan. Mereka menyebutkan bahwa banyak rumah di dekat Waduk Yunbiao telah hanyut. Hingga Senin malam, dilaporkan masih ada lebih dari seribu orang yang terjebak di daerah pegunungan dengan persediaan pakaian dan makanan yang tidak mencukupi.
Hingga kini, jumlah pasti korban jiwa maupun korban luka belum dapat dipastikan.
Prakiraan cuaca menunjukkan bahwa hujan lebat diperkirakan masih akan berlanjut hingga Rabu, sehingga upaya penyelamatan dan penanggulangan bencana diperkirakan masih menghadapi tantangan besar.
Reporter NTD Television, Guo Yuexi, melaporkan.


