EtIndonesia.com Menurut laporan The Epoch Times edisi bahasa Inggris, gelombang adopsi kecerdasan buatan (AI) tampaknya tidak akan menggantikan pekerjaan manusia secepat yang dikhawatirkan banyak orang. Sejumlah pelaku industri mengungkapkan bahwa banyak perusahaan mendapati proyek AI yang mereka terapkan tidak memberikan hasil sesuai harapan. Akibatnya, mereka mulai mengevaluasi kembali strategi AI mereka dan bahkan mempekerjakan kembali sebagian karyawan yang sebelumnya diberhentikan.
Perusahaan Careerminds yang berkantor pusat di Delaware melakukan survei terhadap 600 profesional sumber daya manusia (SDM) yang pernah melakukan PHK dalam satu tahun terakhir. Hasil survei menunjukkan bahwa:
- Tiga perempat responden mengatakan perusahaan mereka melakukan PHK karena ingin menggantikan pekerjaan dengan AI.
- Namun, hanya 8,4% responden yang menyatakan AI benar-benar mencapai hasil yang diharapkan.
- Sekitar 90% perusahaan mengaku, jika memiliki kesempatan, mereka akan mempertimbangkan kembali keputusan PHK yang dilakukan demi penerapan AI.
Jon Hill, CEO perusahaan perekrutan The Energists yang berbasis di Houston, mengatakan banyak kliennya sebelumnya sangat antusias menerapkan proyek AI generatif karena yakin dapat mengurangi biaya tenaga kerja. Namun, semakin banyak perusahaan yang menyadari bahwa biaya nyata penggunaan AI ternyata jauh lebih tinggi daripada perkiraan.
Ia mencontohkan sebuah perusahaan yang berencana mengotomatisasi sebagian proses pelaporan kepatuhan dan dukungan teknis. Awalnya, penghematan biaya terlihat sangat menjanjikan. Namun setelah memperhitungkan biaya keamanan siber, pengawasan manusia, serta biaya penggunaan Application Programming Interface (API), seluruh penghematan tersebut praktis habis. Pada akhirnya perusahaan tersebut memutuskan untuk menghentikan implementasi AI.
Menurut Hill, banyak orang keliru mengira penggunaan AI hanya memerlukan biaya langganan bulanan, padahal masih ada banyak pengeluaran lain yang harus ditanggung. Ia mengatakan bahwa biaya komputasi awan (cloud computing) saja dapat mencapai ratusan ribu hingga jutaan dolar AS per tahun, tergantung pada skala penggunaan.
Perusahaan teknologi besar juga menemukan kenyataan serupa. Pada April tahun ini, Bryan Catanzaro, Wakil Presiden Riset Pembelajaran Mendalam Terapan di NVIDIA, mengatakan kepada media bahwa untuk tim yang dipimpinnya, biaya komputasi AI jauh lebih besar dibandingkan biaya tenaga kerja manusia.
Sementara itu, Matt Baharav, CEO MKB Media Solutions yang bergerak di bidang media, mengungkapkan bahwa timnya sempat menggunakan asisten penulis berbasis AI. Namun hasil akhirnya justru mahal dan kurang efisien.
Ia mengatakan bahwa selain harus membayar biaya lisensi hingga ribuan dolar AS setiap bulan, timnya juga menghabiskan banyak waktu untuk menulis ulang paragraf-paragraf hasil AI yang terdengar seragam dan kurang berkualitas.
“Kami akhirnya benar-benar menghentikan penggunaan perangkat lunak tersebut dan mengalihkan anggarannya untuk mempekerjakan penulis yang benar-benar kompeten dan berbakat.”
Para analis menilai pengalaman ini menjadi pelajaran penting dari fase awal ledakan AI, ketika banyak perusahaan terlalu optimistis bahwa AI dapat menghemat biaya dalam jumlah besar sehingga mendorong gelombang PHK.
Kini semakin banyak pelaku industri berpendapat bahwa pekerjaan yang membutuhkan penilaian yang baik, kreativitas, interaksi dengan pelanggan, serta pengendalian mutu tetap sebaiknya dipimpin oleh manusia.
Pada Maret lalu, Nickle LaMoreaux, Senior Vice President sekaligus Chief Human Resources Officer di IBM, dalam sebuah konferensi terbuka menyatakan bahwa bagi pertumbuhan perusahaan, menggunakan AI untuk meningkatkan kemampuan karyawan jauh lebih penting daripada sepenuhnya menggantikan tenaga manusia.
Beberapa minggu sebelum pernyataan tersebut, IBM juga mengumumkan rencana untuk meningkatkan perekrutan karyawan tingkat pemula hingga tiga kali lipat. (***)


