Separuh Wilayah Tiongkok Terendam Banjir, Tetapi Xi Jinping Tidak Mengunjungi Daerah Bencana Hingga Menuai Kritik Tentang Dirinya “Masih Bermimpi”

EtIndonesia.com Di saat banjir melanda sebagian besar wilayah Tiongkok, pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT), Xi Jinping, menghadiri World Artificial Intelligence Conference (WAIC) di Shanghai dan menyampaikan pidato. 

Sejumlah pengamat mengkritiknya karena tidak mengunjungi daerah-daerah yang terdampak banjir, melainkan tetap berfokus pada pengembangan kecerdasan buatan (AI). Ada juga analisis yang mengemukakan berbagai alasan mengapa Xi tidak mendatangi lokasi bencana.

Xi Jinping Hadir di Shanghai Saat Banjir Melanda Banyak Daerah

Mulai 17 hingga 20 Juli, Shanghai menjadi tuan rumah World Artificial Intelligence Conference (WAIC) ke-8 dan High-Level Meeting on Global AI Governance. Untuk pertama kalinya, Xi Jinping menghadiri langsung acara tersebut dan memberikan pidato pada upacara pembukaan.

Konferensi ini berlangsung ketika berbagai wilayah di Tiongkok sedang dilanda hujan lebat dan banjir. Xi tidak terlihat mengunjungi satu pun lokasi bencana, tetapi tetap menghadiri konferensi AI dan menyampaikan pandangannya mengenai arah perkembangan kecerdasan buatan dunia. Sikap tersebut menuai kritik dari sejumlah kalangan.

Penulis asal Hong Kong yang mengulas isu-isu Tiongkok, Yan Chung-kok (顏純鉤), dalam artikelnya pada 19 Juli menulis bahwa ketika “setengah wilayah Tiongkok sedang terendam banjir dan masyarakat menderita”, Xi justru menghadiri pembukaan konferensi AI yang diselenggarakan PKT di Shanghai.

Ia juga menyindir nama resmi konferensi yang sangat panjang sebagai contoh gaya birokrasi yang berlebihan dan menganggap hal tersebut mencerminkan kecenderungan kepemimpinan yang ingin menunjukkan prestise.

Menurutnya, setelah konferensi selesai, PKT juga mengumumkan pembentukan Organisasi Kerja Sama Kecerdasan Buatan Dunia. Ia berpendapat bahwa, selain Tiongkok dan Rusia, sebagian besar negara peserta belum memiliki kapasitas yang memadai untuk melakukan kerja sama AI pada tingkat tersebut.

Shanghai Juga Dilanda Hujan Lebat

Ironisnya, selama konferensi AI berlangsung, Shanghai pada 19 Juli juga diterjang hujan deras yang menyebabkan banjir di berbagai wilayah kota.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan langit Shanghai diselimuti awan gelap, hujan turun sangat deras disertai kilat dan guntur. Beberapa penumpang di dalam kereta bawah tanah menggambarkan suasananya seperti adegan film bencana.

Kawasan Wujiaochang, Distrik Yangpu, menjadi salah satu daerah yang paling terdampak. Dalam waktu sekitar 20 menit, genangan air dilaporkan mencapai lebih dari 80 sentimeter, mengubah jalan-jalan menjadi seperti sungai.

Ribuan kendaraan mogok akibat terendam banjir, bahkan ada warga yang menggunakan papan dayung (paddle board) untuk beraktivitas.

Sebuah supermarket Hema (Freshippo) yang berada di lantai bawah tanah juga kemasukan air dalam jumlah besar hingga menyerupai air terjun, sementara sejumlah rumah warga ikut terendam.

Banjir Melanda Banyak Wilayah Tiongkok

Sejak awal Juli, hujan lebat dan banjir dilaporkan terjadi di berbagai provinsi, antara lain:

  • Guangxi
  • Hunan
  • Sichuan
  • Heilongjiang
  • Liaoning
  • Jilin
  • Gansu
  • Hebei

Salah satu peristiwa yang paling mendapat perhatian adalah jebolnya Bendungan Liulan di Kota Hengzhou, Guangxi, yang menyebabkan banyak rumah hanyut diterjang banjir. Banyak warga kehilangan tempat tinggal dan harta benda.

Menurut artikel tersebut, sejumlah korban banjir di Hengzhou mengatakan mereka kehilangan segalanya dan kini hidup dalam kondisi yang sangat sulit.

Analisis Mengenai Alasan Xi Tidak Mengunjungi Daerah Bencana

Pengamat politik Zhou Xiaohui (周曉輝) menulis bahwa dalam banjir di Guangxi kali ini, Xi Jinping maupun Perdana Menteri Li Qiang hanya mengeluarkan instruksi tertulis tanpa mengunjungi lokasi bencana.

Ia menilai bahwa dalam beberapa tahun terakhir, ketika terjadi bencana besar seperti banjir di Zhengzhou (Henan), banjir di Tiongkok Utara dan Heilongjiang, banjir bandang di Sichuan, maupun banjir di Hebei, keduanya juga tidak segera datang ke daerah terdampak. Menurutnya, para pemimpin sebelumnya setidaknya masih mengunjungi lokasi bencana sebagai bentuk perhatian, meskipun bersifat simbolis.

Zhou mengemukakan dua kemungkinan alasan:

  1. Faktor keamanan. Menurut analisisnya, Xi mungkin khawatir terhadap risiko keamanan, baik dari kemungkinan ancaman terhadap dirinya maupun dari situasi yang sulit dikendalikan di tengah masyarakat yang terdampak bencana.
  2. Pertimbangan politik. Zhou juga berpendapat bahwa kunjungan ke daerah bencana dapat membuat pemimpin harus menghadapi langsung pertanyaan masyarakat mengenai tanggung jawab pemerintah atas penanganan bencana dan berbagai persoalan yang dihadapi warga.

Dilaporkan oleh Luo Tingting/Disunting oleh Wen Hui

INSPIRASI ERABARU

Bersyukur Tak Hanya Menenangkan Hati, tetapi Juga Membentuk Ulang Otak

Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu otak mengembangkan rasa syukur yang bermanfaat bagi kesehatan mental maupun fisik. Oleh Sarah Campise Hallier Ketika ayah Melissa meninggal secara tiba-tiba,...

4 Makanan Tinggi Protein yang Membantu Lansia Meningkatkan Imunitas dan Mempertahankan Massa Otot

Asupan protein cenderung menurun seiring bertambahnya usia, dan dampaknya sering kali muncul secara perlahan tanpa disadari. Ketika massa otot melemah, infeksi menjadi lebih lama...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine