EtIndonesia.com — Gelombang serangan jarak jauh Ukraina terhadap berbagai sasaran Rusia kini tidak hanya menimbulkan persoalan militer. Memasuki Agustus 2026, perang yang telah berlangsung bertahun-tahun itu semakin memunculkan pertanyaan mengenai seberapa lama Rusia mampu mempertahankan tekanan perang tanpa mengalami kemunduran ekonomi dan teknologi yang semakin dalam.
Peringatan mengenai risiko tersebut bahkan datang dari dalam lingkaran ekonomi negara Rusia sendiri. Salah satu suara yang paling mendapat perhatian adalah Andrei Klepach, ekonom senior yang pernah menjabat sebagai wakil menteri pembangunan ekonomi Rusia dan sejak 2014 menjadi kepala ekonom VEB.RF, lembaga pembangunan milik negara yang memainkan peran penting dalam pembiayaan proyek-proyek strategis Rusia.
Pernyataan Klepach menjadi sorotan setelah isi pidatonya dalam sebuah forum di Moskow pada Mei 2026 kembali beredar luas pada Agustus.
Dalam pernyataan tersebut, Klepach memberikan gambaran yang jauh lebih suram dibandingkan narasi mengenai ketahanan ekonomi Rusia yang selama ini kerap disampaikan pemerintah.
Ia memperingatkan bahwa Rusia sedang menghadapi persoalan serius dalam persaingan teknologi dan ekonomi global. Menurut penilaiannya, Rusia bukan hanya tertinggal dari kekuatan ekonomi besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok, tetapi dalam sejumlah aspek bahkan menghadapi ketertinggalan dibandingkan Ukraina yang memperoleh dukungan teknologi dan ekonomi dari negara-negara Barat.
Pernyataan itu penting karena Klepach bukan figur oposisi yang berdiri di luar sistem. Selama bertahun-tahun ia terlibat langsung dalam struktur kebijakan dan ekonomi Rusia. Karena itulah, kritik yang datang darinya dipandang memiliki bobot berbeda.
Mempertanyakan Strategi Perang Jangka Panjang
Salah satu bagian paling penting dari peringatan Klepach adalah penilaiannya terhadap konsep “perang pengurasan” atau war of attrition.
Strategi semacam ini pada dasarnya mengandalkan kemampuan sebuah negara bertahan lebih lama daripada lawannya dengan terus mengerahkan manusia, uang, industri, energi dan persenjataan hingga pihak lawan tidak lagi sanggup mempertahankan perang.
Namun Klepach mempertanyakan asumsi bahwa Ukraina pada akhirnya akan runtuh hanya karena konflik berlangsung semakin lama.
Masalahnya, Ukraina tidak menjalankan perang tersebut hanya dengan sumber daya domestiknya. Kyiv memperoleh bantuan finansial, persenjataan, teknologi, intelijen dan dukungan industri dari sejumlah negara Barat.
Sementara itu, Rusia harus menghadapi kombinasi pengeluaran militer yang tinggi, tekanan sanksi, kebutuhan investasi domestik serta kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan Ukraina terhadap fasilitas ekonomi dan infrastruktur Rusia.
Menurut Klepach, kondisi semacam itu berisiko memperlebar ketertinggalan teknologi Rusia dan pada akhirnya dapat menciptakan tekanan sosial yang lebih besar. Reuters melaporkan bahwa ia juga menyoroti meningkatnya ketergantungan Rusia terhadap Tiongkok serta persoalan efisiensi dalam pengelolaan ekonomi.
Artinya, ancaman terbesar terhadap Rusia belum tentu berupa keruntuhan ekonomi secara tiba-tiba.
Risiko yang lebih realistis justru dapat muncul secara perlahan: produktivitas yang melemah, investasi sipil yang tertekan, perkembangan teknologi yang tertinggal, meningkatnya ketergantungan terhadap mitra luar negeri, hingga semakin besarnya bagian sumber daya nasional yang harus dialihkan untuk mempertahankan perang.
Klepach Diberhentikan dari VEB.RF
Perkembangan berikutnya terjadi pada 17 Agustus 2026.
Reuters melaporkan bahwa Klepach telah diberhentikan dari posisinya sebagai kepala ekonom VEB.RF. Lembaga tersebut mengonfirmasi kepergiannya, tetapi tidak menjelaskan secara resmi alasan pemberhentian tersebut.
Karena itu, tidak dapat dipastikan sebagai fakta bahwa Klepach kehilangan jabatannya secara langsung akibat pernyataan kritisnya mengenai perang dan perekonomian Rusia.
Namun, waktu pemberhentian tersebut membuat pidatonya kembali mendapatkan perhatian luas.
Situasi itu semakin menarik karena terjadi ketika Ukraina terus memperluas penggunaan drone untuk menyerang berbagai sasaran Rusia, termasuk pertahanan udara, fasilitas militer dan kapal-kapal yang oleh Kyiv disebut sebagai bagian dari “armada bayangan” Rusia.
Drone Murah Mengubah Ekonomi Peperangan
Salah satu contoh mencolok muncul pada 8 Agustus 2026, ketika Pasukan Sistem Nirawak Ukraina merilis rekaman serangan terhadap kapal yang disebut berkaitan dengan armada bayangan Rusia di kawasan Laut Hitam.
Menurut laporan Ukraina, sebuah drone mereka menjadi sasaran tiga rudal yang ditembakkan sistem pertahanan udara Pantsir-S1, tetapi drone tersebut tetap berhasil mencapai kapal yang ditargetkan. Klaim dan rekaman dari medan perang semacam ini tetap harus diperlakukan dengan hati-hati karena tidak seluruh detail kerusakan dapat diverifikasi secara independen.
Pantsir-S1 sendiri merupakan sistem pertahanan udara jarak dekat Rusia yang dirancang untuk menghadapi pesawat, helikopter, rudal jelajah dan drone. Sistem tersebut menggabungkan rudal permukaan-ke-udara dengan meriam otomatis 30 milimeter.
Namun, perang Ukraina menunjukkan persoalan yang semakin besar dalam penggunaan sistem pertahanan udara mahal untuk menghadapi drone yang jauh lebih murah.
Inilah yang disebut sebagai ketimpangan biaya serangan dan pertahanan.
Sebuah drone serang sederhana dapat diproduksi dengan biaya yang relatif rendah dibandingkan sebuah rudal pertahanan udara modern. Ketika hanya satu drone datang, persoalannya mungkin masih dapat dikendalikan. Tetapi ketika puluhan bahkan ratusan drone dikirim dalam gelombang serangan, perhitungannya berubah drastis.
Pihak bertahan menghadapi dilema.
Jika setiap drone ditembak menggunakan rudal mahal, persediaan rudal pertahanan udara dapat terkuras dengan cepat. Namun apabila pertahanan memilih menghemat rudal, sebagian drone berpotensi lolos dan menghantam sasaran bernilai jauh lebih tinggi.
Pada 9 Agustus 2026, Ukraina kembali menyatakan pasukannya menyerang sebuah tanker minyak dan dua kapal kargo yang disebut termasuk dalam armada bayangan Rusia. Dalam operasi yang sama, Ukraina juga mengklaim menyerang sejumlah sistem pertahanan udara Rusia, termasuk S-400, Pantsir-S1 dan Tor serta beberapa radar di Krasnodar Krai dan Rostov Oblast.
Perang Kini Juga Menjadi Pertarungan Ekonomi
Perkembangan tersebut memperlihatkan hubungan langsung antara medan perang dan persoalan yang sebelumnya diperingatkan Klepach.
Pertarungan Rusia-Ukraina bukan lagi sekadar mengenai berapa banyak tank, rudal atau tentara yang tersedia. Konflik tersebut semakin berubah menjadi perlombaan mengenai siapa yang mampu menghasilkan kemampuan tempur dalam jumlah terbesar dengan biaya paling efisien.
Drone murah dapat memaksa lawan mengaktifkan radar, mengerahkan sistem peperangan elektronik, menembakkan rudal mahal dan mempertahankan jaringan pertahanan udara selama berjam-jam.
Karena itulah Rusia dan Ukraina sama-sama meningkatkan produksi drone dalam skala besar.
Dalam perang berkepanjangan, kemampuan ekonomi pada akhirnya menjadi bagian dari kemampuan militer itu sendiri.
Peringatan Klepach dengan demikian menyentuh persoalan yang lebih luas. Rusia mungkin masih memiliki sumber daya besar untuk melanjutkan perang, tetapi pertanyaan strategisnya bukan hanya apakah negara itu mampu bertahan.
Pertanyaan yang semakin penting adalah berapa besar harga ekonomi, teknologi dan sosial yang harus dibayar apabila perang pengurasan tersebut terus berlangsung selama bertahun-tahun—sementara teknologi murah seperti drone terus mengubah perhitungan biaya peperangan modern. (***)


