EtIndonesia.com Banjir mematikan melanda perbatasan Tibet, Tiongkok, dan Nepal pada 26 Agustus. Banjir bandang yang membawa material longsoran lumpur dan batu dalam jumlah besar dengan cepat menerjang wilayah hilir.
Dalam waktu hanya 30 menit, permukaan air Sungai Trishuli naik hingga 9 meter, menyerupai “tsunami di daratan”. Seorang pilot helikopter menyaksikan langsung pemandangan mengerikan sebelum banjir menerjang.
Pilot Menyaksikan Pemandangan Mengerikan dari Udara
Pilot helikopter Aman Budathoki menyaksikan langsung banjir bandang mematikan tersebut dari udara. Ia memperkirakan ketinggian gelombang air mencapai 5 hingga 6 meter.
“Sekitar lima menit sebelum banjir terjadi, kami melihat sejumlah besar debu tiba-tiba membumbung dari permukaan sungai,” kata Budathoki kepada CNN. “Awalnya kami mengira itu hanya longsoran tanah dan batu. Kami bahkan menduga mungkin militer sedang menggunakan bahan peledak untuk memperbaiki jalan.”
Namun, hanya dalam hitungan detik, Budathoki melihat air banjir berwarna gelap yang membawa banyak puing mengalir deras ke hilir dan bercampur dengan air sungai yang sebelumnya jernih. Aliran tersebut bahkan membentuk gelombang raksasa setinggi 5 hingga 6 meter.
Ia melihat pohon-pohon besar, kendaraan, dan bangunan tersapu oleh derasnya arus.
“Itu adalah pemandangan yang sangat mengerikan. Kami bahkan sempat mencoba mengikuti arah aliran banjir untuk sementara waktu, hanya untuk menilai bencana yang sedang terjadi.”
Ia mengatakan belum pernah melihat kekuatan alam ditunjukkan dengan cara yang sedemikian dahsyat.
Banjir Bandang Seperti Tsunami di Daratan, Air Naik 9 Meter dalam 30 Menit
International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) yang berbasis di Nepal menyatakan bahwa permukaan air di bagian hilir Sungai Trishuli naik hingga 9 meter hanya dalam waktu 30 menit.
Banjir datang begitu cepat dan dahsyat sehingga bencana tersebut digambarkan seperti “tsunami di daratan” yang terjadi di lembah pegunungan. Bagi penduduk yang tinggal di dekat sungai, ketika mereka menyadari banjir sudah mendekat, waktu yang tersedia untuk menyelamatkan diri sudah sangat terbatas.
Yang membuat situasi semakin berbahaya adalah arus deras membawa lumpur dalam jumlah besar serta batu-batu raksasa ke arah hilir. Rumah, jalan, dan jembatan terkena hantaman langsung.
Penyintas berusia 24 tahun, Bibek Kumal, mengatakan kepada Reuters bahwa setelah terseret arus, ia berhasil bertahan hidup dengan memeluk erat sebuah pohon mangga. Ia bahkan menyaksikan langsung rumah tempatnya bekerja tersapu banjir.
Bencana ini telah menyebabkan sedikitnya lebih dari 160 orang tewas dan lebih dari 900 orang hilang. Wisatawan yang masih dinyatakan hilang antara lain warga India, Nepal, Amerika Serikat, Inggris, Korea Selatan, Malaysia, Afrika Selatan, Australia, Ukraina, dan Belanda, serta sejumlah negara lainnya.
Menurut kantor berita resmi Tiongkok, Xinhua, hingga pukul 08.00 pada 27 Agustus, tercatat 3 orang tewas dan 558 orang hilang di Tibet, termasuk 260 warga negara asing. Peningkatan jumlah orang yang dinyatakan hilang disebut terjadi setelah komunikasi pulih dan cakupan pemeriksaan diperluas.
Sementara itu, di wilayah Nepal, bencana yang sama telah menyebabkan 157 orang tewas dan 403 wisatawan dinyatakan hilang.
Diperkirakan jumlah korban tewas dan hilang masih akan terus bertambah. (***)


