EtIndonesia.com Pada 26 Agustus pagi, banjir bandang dan longsor lumpur tiba-tiba terjadi di sekitar Pelabuhan Gyrong di Kabupaten Gyrong, Kota Shigatse, Tibet. Seorang penyintas mengatakan bahwa banjir datang dengan sangat deras hingga membuat kakinya lemas. Ia terpaksa memundurkan mobil dengan cepat sejauh 3 kilometer untuk melarikan diri. Ada kendaraan yang tidak menghiraukan peringatan dan tetap melaju, tetapi kendaraan tersebut kemudian tidak pernah kembali.
Seorang perempuan bermarga Fang, yang berhasil selamat dari banjir bandang tersebut, mengatakan kepada Xiaoxiang Morning Post bahwa mereka berencana pergi ke Nepal. Mereka berangkat dari Kota Gyrong dan awalnya berencana berangkat sekitar pukul 09.00 pada 26 Agustus, tetapi karena bangun terlambat, keberangkatan mereka tertunda hingga sekitar pukul 10.00.
Kota Gyrong berjarak sekitar 20 kilometer dari Pelabuhan Gyrong, dan dalam kondisi normal perjalanan dengan mobil hanya membutuhkan sekitar 40 menit.
8月26日,西藏突發山洪、泥石流,親歷者方女士說,當時洪水就在眼前,嚇得腿都軟了,急速倒車3公里逃命。 pic.twitter.com/2nXvVlt3VK
— ying tang (@yingtan04410735) August 27, 2026
Fang mengatakan, ketika mobil mereka berada sekitar 4 kilometer dari Pelabuhan Gyrong, mereka tiba-tiba melihat banjir datang dari arah depan jalan.“Pohon-pohon, tiang listrik, semuanya tumbang. Air bah datang mengejar kami. Kami tidak sempat memutar mobil, jadi hanya bisa mundur.”
Fang mengatakan saat itu ia begitu ketakutan sampai “kaki saya gemetar!” Karena tidak sempat memutar kendaraan, mereka hanya bisa memundurkan mobil secepat mungkin untuk menyelamatkan diri.

“Kami mundur sekitar 3 kilometer. Setelah itu, arus air baru tidak begitu ganas.”
Ia mengatakan mobil mereka merupakan kendaraan pertama yang mundur. Tak lama kemudian, sebuah kendaraan lain datang dari belakang. Mereka memberi isyarat agar kendaraan tersebut jangan melanjutkan perjalanan.
“Tetapi kendaraan itu tetap lewat. Saya kira kendaraan itu mungkin sudah tidak ada.”
Setelah tiba di tempat yang aman dan menghentikan mobil, lembah tersebut diselimuti kabut tebal sehingga mereka hampir tidak dapat melihat keadaan di sekitar.
“Kami dan orang-orang di belakang turun dari mobil. Kami semua membicarakan kejadian itu dan menghubungi kerabat serta teman.”
Pada sore hari, Fang kembali ke Kota Gyrong. Kota tersebut tidak terkena dampak banjir bandang. Namun, seorang temannya yang berada di Pelabuhan Gyrong tidak dapat dihubungi. Ia memperkirakan kondisi temannya sangat mengkhawatirkan.
Video yang beredar di internet menunjukkan bahwa ketika banjir bandang dan longsor terjadi, gelombang air setinggi puluhan meter menerjang Pelabuhan Gyrong. Gedung pelabuhan, bangunan di sekitarnya, tempat parkir, dan berbagai fasilitas lainnya seketika ditelan gelombang besar. Seluruh kawasan pelabuhan dilaporkan hancur dan rata dengan tanah.
Saat itu terdapat banyak bus pariwisata, truk, dan kendaraan lainnya yang terparkir di pelabuhan. Ketika melihat banjir bandang datang, orang-orang di lokasi berusaha melarikan diri dengan panik, tetapi dalam sekejap mereka tersapu banjir. Dari rekaman yang beredar, skala korban diperkirakan sangat parah.
Setelah bencana terjadi, sebuah drone merekam lokasi asal keruntuhan es dan batuan yang diduga memicu bencana besar tersebut. Citra satelit menunjukkan adanya bagian yang hilang di sisi utara Puncak Langtang Lirung, yang memiliki ketinggian lebih dari 7.200 meter di wilayah Nepal.
Campuran lumpur, es, dan material dari gletser dalam jumlah sangat besar kemudian mengalir deras menyusuri lembah. Longsoran tersebut melaju mengikuti aliran sungai dan, menurut laporan, hanya membutuhkan sekitar 5–7 menit untuk menempuh jarak 20 kilometer, sebelum tiba-tiba menerjang Pelabuhan Gyrong di perbatasan Tiongkok–Nepal.
Dengan kecepatan seperti itu, orang-orang yang berada di lokasi disebut hampir tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri.
Hingga pukul 08.00 pada 27 Agustus, menurut laporan resmi pemerintah Partai Komunis Tiongkok, banjir bandang dan longsor di Tibet tersebut telah menyebabkan 3 orang tewas dan 558 orang hilang, termasuk 260 warga negara asing. Jumlah korban diperkirakan masih dapat meningkat.
Reporter Luo Tingting; Editor: Wen Hui


