Korban Banjir Nepal Bertambah Menjadi 903 Tewas dan 4.247 Hilang, PKT Masih Mengumumkan Hanya 16 Orang Tewas

Setelah bencana melanda kawasan perbatasan Tiongkok-Nepal, Partai Komunis Tiongkok (PKT) tidak hanya menghapus video-video dari lokasi bencana, tetapi juga menghukum lebih dari 10 warganet yang membahas jumlah korban tewas dan hilang. Media asing juga dibatasi dalam melakukan peliputan, sehingga masyarakat internasional semakin sulit mengetahui kondisi sebenarnya di lokasi bencana.

EtIndonesia.com Ekskavator terus menggali untuk mencari kemungkinan korban yang masih hidup. Pada 26 Agustus, banjir bandang dahsyat melanda kawasan perbatasan Tibet dan Nepal. Berdasarkan statistik terbaru dari pemerintah Nepal, bencana tersebut sejauh ini telah menyebabkan 903 orang tewas, 4.247 orang hilang, dan 267 orang terluka.

Selain mengerahkan puluhan ribu personel militer dan kepolisian untuk melakukan pencarian dan penyelamatan, pihak berwenang Nepal juga memusatkan perhatian pada sebuah pembangkit listrik tenaga air, untuk mencari ratusan pekerja yang kemungkinan terjebak di dalam terowongan.

Sebaliknya, jumlah korban yang diumumkan PKT kepada publik tetap berada pada angka 16 orang tewas dan 546 orang hilang.

Menurut berbagai laporan, di Pos Perbatasan Gyirong, yang hampir seluruhnya rata dengan tanah akibat terjangan longsor lumpur, terdapat lebih dari 1.000 pedagang dan pekerja di lokasi ketika bencana terjadi. Hal ini menimbulkan keraguan besar di kalangan masyarakat mengenai skala sebenarnya dari jumlah korban.

Terkait hal tersebut, pengamat media Fang Wei mengatakan di media sosial bahwa PKT saat ini telah menghapus seluruh video banjir besar di Tibet dari internet dan hanya mengizinkan informasi mengenai bantuan bencana yang sengaja dipilih oleh pemerintah untuk tetap beredar.

Menurut Fang Wei, tim penyelamat PKT bahkan membutuhkan waktu tiga hari penuh untuk mencapai lokasi. Setelah tiba, mereka hanya berteriak, “Ada orang di sana?”, yang menurutnya dilakukan sekadar untuk menarik perhatian publik.

Jumlah korban tewas juga tidak pernah diperbarui. Setelah muncul tekanan dan pertanyaan dari masyarakat, angka tersebut akhirnya diubah menjadi 16 korban tewas, yang hanya sekitar 2% dari jumlah korban meninggal di Nepal.

Namun demikian, pada saat bencana terjadi, lebih dari 1.000 orang berada di kawasan Pos Perbatasan Gyirong yang diterjang longsoran lumpur. Jumlah tersebut jauh melebihi total angka “tewas + hilang” yang diumumkan oleh PKT.

Selain itu, PKT juga meningkatkan tindakan pengawasan dan penindasan terhadap informasi di internet. Pada 30 Agustus, kepolisian Tibet mengumumkan 10 kasus yang disebut sebagai “rumor internet” dan menghukum sejumlah warganet yang membahas jumlah korban tewas yang sebenarnya di dunia maya.

Tindakan tersebut memicu kecaman dari banyak warganet yang mengatakan: “Penyelamatan tidak mampu, tetapi membungkam orang justru paling ahli.”

Sementara itu, pembatasan terhadap media asing untuk melakukan peliputan di lokasi bencana semakin menimbulkan kekhawatiran bahwa kondisi sebenarnya di sisi Tibet mungkin akan terkubur bersama lumpur dan reruntuhan bencana tersebut.

Laporan gabungan NTD Asia-Pasifik, Huang Liangjian dan Huang Yukai.

INSPIRASI ERABARU

Cara Mengenali Tanda-Tanda Peringatan Stroke dan Mencegah Kerusakan Otak dengan Pengobatan Tradisional Tiongkok

Seorang dokter pengobatan tradisional Tiongkok (PTT) yang berbasis di Taiwan memaparkan berbagai sinyal fisik yang dikirim tubuh sebelum stroke terjadi, menjelaskan patologi yang mendasarinya...

Jerat Algoritma dan Hilangnya Rasa Hormat: Refleksi Etika Digital dari Kematian Tragis Dua Konten Kreator

Kehidupan di era digital telah bergeser dari sekadar ruang berbagi informasi menjadi panggung perebutan perhatian tanpa batas. Di bawah kendali algoritma yang tak kasat...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine