EtIndonesia.com Skandal terus bermunculan di Universitas Wuhan. Pada 3 September, seorang dosen perempuan Universitas Wuhan dilaporkan karena diduga menggunakan “transaksi kekuasaan dan seks” untuk menjadi profesor hanya tiga tahun setelah memperoleh gelar doktor. Ia juga dituduh terlibat dalam pemalsuan akademik dan merusak keluarga pembimbingnya.
Pelapor mengaku sebagai putri dari pembimbing tersebut dan meminta agar dosen perempuan itu dijatuhi sanksi tegas.
Menurut informasi yang beredar di internet, dua perempuan yang mengaku sebagai putri seorang profesor dari salah satu universitas berstatus 985 di Wuhan—masing-masing berusia 20 dan 15 tahun—menerbitkan dokumen PDF sepanjang 86 halaman untuk melaporkan secara terbuka dan mencantumkan nama Zeng Mengqi (曾夢琪), seorang profesor di Fakultas Kimia dan Ilmu Molekuler Universitas Wuhan.
Mereka menuduh bahwa sejak 2016, ketika masih menempuh pendidikan doktoral, Zeng Mengqi secara aktif mencampuri rumah tangga pembimbingnya yang telah menikah, Fu Lei (付磊).
Menurut tuduhan tersebut, Zeng menggunakan foto profil pasangan, mengubah siaran pers universitas dengan menyisipkan foto dirinya bersama Fu Lei, serta menghadiri kegiatan penerimaan tamu resmi sebagai “istri” Fu Lei. Tindakan tersebut pada akhirnya disebut menyebabkan keluarga Fu Lei retak.

Tuduhan Pelanggaran Akademik
Dalam bidang akademik, laporan tersebut menuduh bahwa bahan pengajuan Zeng Mengqi untuk program rekrutmen talenta ditulis oleh pembimbingnya.
Setelah menjadi profesor, ia juga dituduh mengambil alih hasil penelitian mahasiswa, termasuk hasil yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah internasional bergengsi seperti Nature dan Journal of the American Chemical Society (JACS).
Dalam aspek keuangan, pelapor menuduh Zeng Mengqi menyalahgunakan dana penelitian, membangun saluran pendanaan yang melanggar aturan untuk menahan atau memotong pembayaran tenaga kerja mahasiswa, serta menggunakan uang publik untuk makan, minum, dan hiburan.
Pelapor meminta Universitas Wuhan untuk:
- memberhentikan Zeng Mengqi dari jabatan;
- mencabut kualifikasi mengajarnya dan gelar doktornya;
- mencabut status atau gelar kehormatan sebagai talenta;
- menarik kembali berbagai fasilitas dan tunjangan yang telah diterimanya;
- mengeluarkannya dari Partai Komunis Tiongkok;
- melakukan audit terhadap dana penelitian;
- serta melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap dugaan pelanggaran integritas akademik.
Setelah isu tersebut menjadi perhatian publik, pada malam hari yang sama Universitas Wuhan mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya telah memulai penyelidikan.
Rekam Jejak Zeng Mengqi
Menurut informasi yang tersedia untuk publik, Zeng Mengqi saat ini merupakan profesor di Fakultas Kimia dan Ilmu Molekuler Universitas Wuhan.
Ia disebut menempuh pendidikan di jurusan kimia fisik fakultas tersebut dari 2013 hingga 2018 dan memperoleh gelar doktor.
Pada 2018–2020, ia menjabat sebagai peneliti madya khusus di fakultas tersebut. Pada 2020–2021 ia menjadi profesor madya, kemudian mulai 2021 menjabat sebagai profesor.
Ia juga tercatat sebagai salah satu “Talenta Muda Unggulan” dari Departemen Organisasi Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok.
Siapa Fu Lei?
Fu Lei disebut menjabat sebagai anggota Komite Tetap Partai Universitas Anhui sekaligus wakil rektor Universitas Anhui, serta profesor di Fakultas Kimia dan Ilmu Molekuler Universitas Wuhan.
Sebelumnya, ia merupakan profesor dan pembimbing doktoral di Fakultas Kimia dan Ilmu Molekuler Universitas Wuhan, sekaligus pernah menjabat sebagai kepala Departemen Sumber Daya Manusia Universitas Wuhan dan direktur Kantor Urusan Talenta dan Pakar.
Setelah laporan tersebut beredar luas, sejumlah netizen berkomentar:
“Dari lulus doktor sampai menjadi profesor hanya membutuhkan tiga tahun. Rekam jejak ini benar-benar luar biasa. Prosedur penilaian jabatan akademik Universitas Wuhan benar-benar seperti mukjizat.”
Komentar lainnya berbunyi:
“Lingkungan ini sudah benar-benar rusak. Berbagai penghargaan dan penilaian jabatan akademik semuanya bergantung pada koneksi.”
Ada pula yang mengatakan:
“Ini mungkin hanya puncak gunung es.”
(Laporan gabungan reporter Li Li / Editor: Lin Qing)


