Tiga Kekuatan Utama Militer AS Menghancurkan Iran, Trump Bantah Rumor tentang “Kekurangan Amunisi”

Pada 3 September, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa militer AS memiliki amunisi yang nyaris tidak terbatas, serta sedang memproduksi dan menimbun persediaan dalam jumlah besar. Pernyataan itu sekaligus membantah laporan yang dianggap tidak benar. 

Selain itu, muncul kabar terbaru bahwa Amerika Serikat kembali meningkatkan imbalan menjadi US$10 juta bagi informasi mengenai keberadaan seorang pejabat senior bernama Ariyarab, yang disebut terkait Komando Siber Korps Garda Revolusi Iran.

EtIndonesia.com Presiden AS Donald Trump sebelumnya berturut-turut mengunggah pernyataan yang menegaskan bahwa Amerika Serikat sedang menimbun amunisi dalam jumlah besar. Ia mengecam laporan media berita palsu yang menyebut persediaan amunisi militer AS telah terkuras secara serius.

Dalam unggahannya di Truth Social, Trump mengatakan, “Kepada para pengkhianat yang menolak memberitakan secara jujur operasi militer kami di Iran, kami memiliki amunisi tingkat menengah hingga tinggi yang nyaris tidak terbatas,” dan jumlah tersebut jauh melebihi amunisi yang telah digunakan.

Presiden Trump juga menambahkan bahwa Amerika Serikat kini memproduksi dan menimbun amunisi pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, sebagai persiapan menghadapi berbagai kemungkinan keadaan darurat.

Dalam operasi militer AS sebelumnya, Amerika Serikat mengerahkan kekuatan dan sumber daya udara, laut, serta antariksa untuk mengawal sekitar 40 kapal dagang yang keluar-masuk Selat Hormuz.

“Kami mengerahkan banyak kapal setiap hari untuk mengangkut jutaan barel minyak. Dalam sebagian besar kasus, semuanya berjalan dengan sangat baik. Sesekali mereka meluncurkan drone, tetapi semuanya kami tembak jatuh. Kami memegang kendali,” kata Donald Trump 2 September 2026. 

“Setiap gerakan mereka berada di bawah pengawasan kami. Mereka tidak bisa bergerak. Bahkan ketika mereka pergi ke toilet, mereka tidak dapat luput dari pengawasan kami,” jelasnya. 

Trump juga mengatakan bahwa setelah Iran melancarkan “serangan kecil yang bersifat uji coba”, Amerika Serikat telah bersiap menghadapi serangan lebih lanjut.

“Kami menghancurkan semua peralatan baru yang mereka coba bangun di sepanjang Selat Hormuz, baik yang bersifat defensif maupun ofensif. Mereka berusaha memantau kapal-kapal karena mereka sama sekali tidak dapat melihatnya. Mereka tidak dapat melihat karena mereka tidak memiliki radar. Kami menghancurkan radar mereka,” ujarnya.

Sebelumnya, The Wall Street Journal, mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa Presiden Trump sedang berdiskusi dengan para penasihat senior mengenai apakah akan mengumumkan berakhirnya perang Iran.

Menurut sumber tersebut, Trump tampaknya cenderung menyetujui langkah itu. Ia diyakini berpendapat bahwa mempertahankan tekanan ekonomi pada akhirnya akan memaksa rezim Iran membongkar program nuklirnya atau menuju keruntuhan.

Kementerian Pertahanan Kuwait mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udaranya pada Kamis (3 September) berhasil mencegat rudal dan drone yang diluncurkan Iran sebagai pembalasan atas serangan militer AS.

Menanggapi hal tersebut, negara-negara di kawasan, yaitu Yordania dan Qatar, secara terbuka menyatakan dukungan kepada Kuwait serta mengecam serangkaian serangan Iran.

Selain itu, menurut laporan eksklusif Iran International, media yang beroposisi terhadap pemerintah Iran, dengan mengutip pejabat AS, serangan tersebut tidak mengenai personel maupun aset di pangkalan militer AS.

Media garis keras Iran melaporkan bahwa dua pilot Angkatan Laut Iran dan seorang pilot Angkatan Udara Iran juga tewas dalam operasi militer AS pada Selasa (1 September). Kondisi sebenarnya masih menunggu verifikasi.

Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick sebelumnya dalam sebuah wawancara diduga salah bicara ketika mengatakan bahwa tidak ada personel militer AS yang tewas dalam perang Iran. Pernyataan tersebut kemudian memicu perdebatan.

Lutnick kemudian mengunggah permintaan maaf. Ia menulis: “Saya salah bicara. Kami telah kehilangan 18 personel militer. Hati saya hancur untuk keluarga-keluarga tersebut, dan saya sangat menyesalkan kehilangan mereka.”

Ia menjelaskan bahwa ketika membuat pernyataan tersebut, yang ada dalam pikirannya adalah operasi militer AS di Venezuela, yang menurutnya tidak menimbulkan korban jiwa di pihak militer AS.

Tak lama sebelum Lutnick menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, Presiden Trump juga mengoreksi pernyataan tersebut sekaligus membelanya. Trump menulis: “Ketika Menteri Lutnick mengatakan tidak ada yang tewas, yang ada dalam pikirannya adalah Venezuela. Di Iran, ada 18 orang yang gugur!”

Hingga saat ini, pemerintah AS secara resmi melaporkan bahwa 18 personel militer AS telah tewas, sementara lebih dari 750 orang lainnya mengalami luka-luka.

Laporan gabungan oleh Wang Ziyi, NTD Television.

INSPIRASI ERABARU

Jangan Sembarangan Bersihkan Telinga! Serumen Ternyata Punya Manfaat Penting bagi Kesehatan

Serumen telinga ternyata memiliki peran yang jauh lebih penting dalam melindungi telinga daripada yang mungkin Anda sadari.Emma SuttieSerumen telinga memang lengket dan sedikit menjijikkan—kebanyakan...

Mengapa Kita Masih Membutuhkan Buku Fisik

Oleh Ila BonczekIla meraih gelar Sarjana dari College of Agriculture and Life Sciences, Cornell University. Ia tinggal di Garden State, tempat ia telah menanam...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine