EtIndonesia.com Pendiri Grup China Evergrande, Xu Jiayin, baru-baru ini dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. “Kerajaan Evergrande” yang dahulu berkembang pesat dengan melakukan ekspansi besar-besaran di sektor properti dan mengumpulkan kekayaan, akhirnya runtuh.
Media Jepang baru-baru ini mengungkap bahwa pada masa kejayaannya, Xu Jiayin memiliki 3 pesawat pribadi dan sebuah kapal pesiar mewah sepanjang 60 meter. Ia bahkan disebut-sebut dikelilingi oleh lebih dari 200 perempuan muda yang menjadi selingkuhannya.
Kasus Xu Jiayin diputus pada tingkat pertama pada 20 Agustus. Ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, dicabut hak politiknya seumur hidup, serta seluruh harta pribadinya disita karena dinyatakan terlibat dalam delapan jenis tindak pidana, termasuk dugaan penghimpunan dana masyarakat secara ilegal dan penyuapan.
Majalah Jepang Shūkan Shincho mengutip sejumlah sumber yang menyebut bahwa inti kasus Xu Jiayin adalah korupsi serta hubungan erat antara pejabat dan pengusaha.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah pejabat tinggi PKT yang telah jatuh dari kekuasaan juga disebut memiliki hubungan kepentingan yang erat dengan Xu Jiayin. Mereka antara lain mantan Sekretaris Partai Komunis Provinsi Guizhou Sun Zhigang, yang pada 2024 dijatuhi hukuman mati dengan masa penangguhan; mantan Menteri Kehakiman Tang Yijun, yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup; serta mantan Wali Kota Shenzhen Chen Rugui.
Xu Jiayin bahkan disebut membantu para pejabat yang diduga korup tersebut dalam mencuci uang, sehingga di kalangan industri ia dijuluki sebagai “sarung tangan putih” para pejabat tinggi PKT—istilah untuk pihak yang digunakan untuk menjalankan transaksi atau aktivitas keuangan secara tidak langsung demi kepentingan pejabat.
Berkat hubungan politik-bisnis yang sangat kuat dan penggunaan pinjaman dengan tingkat leverage tinggi, Evergrande melakukan ekspansi properti secara agresif. Pada 2020, perusahaan tersebut mencatat pendapatan fantastis hingga 700 miliar yuan RMB.
Seiring dengan akumulasi kekayaan tersebut, kehidupan pribadi Xu Jiayin juga dikenal sangat mewah.
Majalah Shūkan Shincho pada 3 September menerbitkan wawancara dengan Kaori Fukushima, mantan koresponden khusus Sankei Shimbun untuk Tiongkok. Ia mengatakan bahwa pada masa kejayaannya, Xu Jiayin memiliki tiga pesawat pribadi, termasuk sebuah pesawat Airbus, kapal pesiar sepanjang 60 meter, serta sejumlah rumah mewah kelas atas di Los Angeles, London, dan Hong Kong.
Kaori Fukushima mengungkapkan bahwa Xu Jiayin bahkan memiliki perkebunan khusus di Prefektur Shizuoka, Jepang, untuk membudidayakan melon premium jenis Hami. Dalam kehidupan sehari-hari, ia juga disebut menyukai cerutu Kuba kelas premium yang harganya sangat mahal, dengan pengeluaran mencapai 7 juta yuan RMB per tahun.
Xu Jiayin bahkan membentuk sebuah kelompok seni dan tari bernama “Kelompok Seni dan Tari Evergrande”, yang terdiri dari sekitar 200 perempuan muda.
Menurut kabar yang beredar, para perempuan dalam kelompok tersebut memiliki hubungan tidak pantas dengan Xu Jiayin. Lantai 41 hingga 43 gedung kantor pusat Evergrande di Guangzhou disebut sebagai klub pribadi miliknya, yang digunakan untuk menyaksikan pertunjukan kelompok seni dan tari tersebut serta menjamu para tamu penting.
Majalah Shūkan Shincho menggambarkan perubahan drastis Xu Jiayin—dari puncak kejayaan sebagai seorang miliarder hingga menjadi narapidana—sebagai “mimpi Huang Liang”, sebuah ungkapan Tiongkok untuk menggambarkan kemakmuran atau kejayaan yang ternyata hanya sementara seperti mimpi.
Kaori Fukushima berpendapat bahwa keputusan pemerintahan Xi Jinping untuk membawa para taipan properti seperti Xu Jiayin ke meja hijau bertujuan untuk mengalihkan tekanan akibat kegagalan kebijakan sektor properti, sekaligus menunjukkan kepada masyarakat bahwa pemerintah bersedia menghukum satu tokoh sebagai peringatan bagi yang lainnya.
Sumber : NTDTV.com


