Mossad Bongkar Rahasia Iran! Jaringan “Proxy by Proxy” Diduga Siapkan Serangan Besar ke Israel

EtIndonesia.com  Ketegangan antara Iran dan Israel tidak lagi hanya berlangsung melalui rudal, drone, maupun pertempuran terbuka di berbagai titik Timur Tengah. Di balik konflik yang terlihat di permukaan, perang intelijen juga berlangsung semakin intensif, dengan jaringan rahasia, organisasi kriminal, perekrutan warga asing, dan kelompok proksi menjadi bagian penting dari persaingan kedua negara.

Laporan terbaru mengenai aktivitas tersebut kembali memunculkan kekhawatiran bahwa Teheran sedang berusaha memperluas kemampuan operasi rahasianya terhadap Israel. Sejumlah laporan bahkan mengangkat kemungkinan bahwa jaringan proksi Iran dapat digunakan untuk mempersiapkan serangan besar atau operasi terkoordinasi terhadap sasaran Israel.

Namun, klaim mengenai persiapan sebuah serangan yang secara khusus akan “menyerupai 7 Oktober” perlu diperlakukan sebagai penilaian atau kekhawatiran keamanan, bukan sebagai fakta bahwa sebuah operasi dengan skala tersebut telah dipastikan sedang dipersiapkan.

Yang telah diumumkan secara lebih konkret oleh Israel adalah ditemukannya pola perekrutan berlapis yang disebut sebagai metode “proxy by proxy”, atau proksi melalui proksi.

Pada 23 Juli 2026, badan intelijen luar negeri Israel, Mossad, mengumumkan bahwa mereka bersama Shin Bet dan badan intelijen negara-negara lain berhasil menggagalkan sebuah jaringan yang menurut Israel diarahkan oleh Kementerian Intelijen Iran. Jaringan tersebut diduga dirancang untuk memasukkan orang-orang asing ke Israel, mengumpulkan informasi intelijen, dan pada akhirnya mempersiapkan serangan terhadap pejabat senior Israel.

Pengungkapan tersebut menjadi penting karena memperlihatkan bagaimana metode operasi rahasia yang dituduhkan kepada Iran semakin berlapis.

Dalam model konvensional, seorang petugas intelijen dapat berhubungan langsung dengan calon agen atau orang yang direkrut. Cara seperti ini tentu meninggalkan jejak yang relatif lebih mudah ditelusuri.

Sebaliknya, dalam sistem “proxy by proxy”, hubungan tersebut dibuat jauh lebih panjang.

Menurut Mossad, aparat intelijen Iran diduga menggunakan jaringan kriminal sebagai perantara. Para perantara tersebut kemudian merekrut individu lain, yang selanjutnya dapat diperintahkan membentuk sel operasional baru yang terdiri atas warga negara asing.

Dengan struktur semacam itu, orang yang pada akhirnya menjalankan operasi di lapangan belum tentu pernah bertemu, berbicara, atau bahkan mengetahui identitas pejabat intelijen Iran yang diduga berada di ujung rantai komando.

Tujuan strategisnya cukup jelas: menciptakan jarak antara negara yang diduga mengarahkan operasi dan orang-orang yang menjalankannya.

Apabila jaringan tersebut terbongkar, semakin banyak lapisan yang harus dilewati penyelidik sebelum dapat menemukan hubungan dengan pihak yang memberikan perintah awal. Pada saat yang sama, struktur semacam ini memberikan ruang bagi negara yang dituduh berada di belakang operasi untuk menyangkal keterlibatan langsung.

Kasus yang diumumkan Mossad pada 23 Juli memberikan gambaran lebih terperinci mengenai pola tersebut.

Menurut badan intelijen Israel, dua orang yang disebut sebagai Baba Mahouzadeh Hajijafan, alias “Babak”, dan Mehmet Nedim Yigit, alias “Nedim”, diduga tinggal di Iran dan beroperasi di bawah perlindungan Kementerian Intelijen Iran.

Keduanya kemudian disebut merekrut seorang pria yang tinggal di Prancis bernama Servet Ozkur, yang menggunakan nama samaran “Philippe”.

Ozkur, menurut penyelidikan Israel, mendapatkan tugas untuk membentuk sebuah sel yang beranggotakan warga negara asing. Anggota jaringan itu nantinya diduga direncanakan memasuki Israel untuk melakukan pengumpulan informasi dan mempersiapkan operasi terhadap sasaran tertentu.

Mossad mengatakan Ozkur beberapa kali melakukan perjalanan ke Iran untuk bertemu dengan pihak yang menanganinya dan menerima pembayaran.

Penyelidikan yang melibatkan Mossad, Shin Bet serta mitra intelijen internasional kemudian disebut berhasil membongkar struktur tersebut. Ozkur dilaporkan telah dikeluarkan dari Prancis, sementara dua perantara yang dituduh merekrutnya disebut masih berada di Iran.

Lebih jauh lagi, penyelidikan itu diklaim berhasil mengidentifikasi sejumlah pejabat Kementerian Intelijen Iran yang diduga berada di balik jaringan tersebut.

Israel menyebut nama Asadollah Behzadokhsari, Vahid Masoumi, Mohammad Hosein Zoghi, dan Hamid Ghasemi sebagai pejabat yang berkaitan dengan struktur operasi itu.

Menurut Mossad, Behzadokhsari sebelumnya memainkan peran penting dalam upaya menyerang sasaran Israel dan Yahudi di berbagai negara. Israel mengatakan ia tewas dalam operasi militernya terhadap Iran.

Kasus tersebut memperlihatkan bahwa ancaman yang dihadapi Israel tidak hanya berasal dari kekuatan militer konvensional atau kelompok bersenjata yang telah lama dikenal.

Perang intelijen kini dapat berlangsung melalui jaringan kriminal lintas negara, media sosial, aplikasi komunikasi terenkripsi, pembayaran digital, hingga perekrutan orang yang pada awalnya mungkin tidak mengetahui siapa sebenarnya pihak yang berada di belakang tugas yang mereka terima.

Fenomena perekrutan semacam ini bukan persoalan kecil bagi aparat keamanan Israel.

Pada 18 Juli 2026, laporan mengenai upaya perekrutan oleh agen Iran juga menyoroti bahwa aparat Israel sampai meminta bantuan sejumlah pemimpin agama untuk memperingatkan masyarakat mengenai bahaya menjadi sasaran perekrutan. Menurut laporan tersebut, lebih dari 60 kasus telah menghasilkan dakwaan, dengan tersangka berasal dari berbagai latar belakang masyarakat Israel.

Pola perekrutannya juga tidak selalu dimulai dengan permintaan melakukan tindakan berbahaya.

Seseorang dapat terlebih dahulu diminta menjalankan pekerjaan sederhana dengan imbalan uang. Setelah hubungan dan kepercayaan terbentuk, tugas dapat meningkat menjadi mengambil gambar lokasi tertentu, mengumpulkan informasi, memindahkan barang, atau melakukan tindakan yang memiliki implikasi keamanan jauh lebih serius.

Di sinilah strategi tersebut menjadi berbahaya.

Operasi tidak harus dimulai dengan perekrutan seorang agen profesional. Sebaliknya, jaringan dapat mencari sebanyak mungkin orang melalui internet dan kemudian menyaring siapa yang bersedia menjalankan tugas yang semakin sensitif.

Di tingkat regional, persoalan ini juga tidak dapat dilepaskan dari penggunaan kelompok proksi yang selama bertahun-tahun menjadi bagian penting dalam strategi keamanan Iran.

Iran memiliki hubungan erat dengan sejumlah kelompok bersenjata di kawasan, termasuk Hizbullah di Lebanon, kelompok-kelompok bersenjata Palestina seperti Hamas, serta kelompok Houthi di Yaman. Namun hubungan, tingkat kendali, dan otonomi masing-masing organisasi berbeda-beda sehingga tidak setiap tindakan mereka dapat secara otomatis dianggap sebagai operasi yang diperintahkan langsung oleh Teheran.

Hizbullah menjadi salah satu unsur terpenting dalam jaringan tersebut karena kedekatan geografisnya dengan Israel serta kemampuan militernya.

Karena itu, setiap peningkatan aktivitas Hizbullah di Lebanon selatan selalu mendapat perhatian besar dari Israel. Dari sudut pandang keamanan Israel, serangan drone, pengintaian, atau aktivitas militer di perbatasan bukan hanya ancaman lokal, tetapi juga dapat digunakan untuk menguji pola respons, kemampuan pertahanan udara, pergerakan pasukan, serta kesiapan sistem keamanan Israel.

Namun menghubungkan setiap serangan Hizbullah secara langsung dengan sebuah rencana Iran untuk melancarkan serangan berskala seperti 7 Oktober memerlukan bukti tambahan.

Apa yang dapat dipastikan adalah bahwa perang Iran-Israel kini telah berkembang menjadi konflik multidimensi.

Di satu sisi terdapat perang terbuka menggunakan pesawat tempur, rudal, drone, dan sistem pertahanan udara. Di sisi lain berlangsung perang yang jauh lebih tersembunyi: operasi intelijen, serangan siber, perekrutan agen, jaringan kriminal, sabotase, serta penggunaan kelompok bersenjata sekutu.

Pengungkapan Mossad pada 23 Juli 2026 menunjukkan betapa rumitnya lapisan tersembunyi dari konflik tersebut.

Bagi Teheran, apabila tuduhan Israel benar, metode “proxy by proxy” menawarkan keuntungan strategis karena memungkinkan operasi dijalankan dengan jejak yang lebih sulit dikaitkan secara langsung dengan pemerintah Iran.

Bagi Israel, metode yang sama menciptakan tantangan keamanan baru. Ancaman tidak selalu datang dalam bentuk pasukan bersenjata yang bergerak melintasi perbatasan. Ancaman dapat muncul dari seorang warga asing, jaringan kriminal, akun media sosial, atau seseorang yang awalnya hanya menerima pekerjaan sederhana dengan bayaran tertentu.

Dengan demikian, pertarungan Iran dan Israel kini bukan sekadar persoalan siapa memiliki rudal lebih banyak atau pertahanan udara lebih kuat.

Pertarungan juga berlangsung mengenai siapa yang mampu membangun jaringan rahasia, menembus pertahanan lawan, memperoleh informasi, merekrut orang di negara ketiga, sekaligus menyembunyikan jejak keterlibatannya.

Dan selama ketegangan Iran-Israel serta konflik kelompok-kelompok bersenjata di kawasan belum berakhir, perang tersembunyi semacam ini kemungkinan akan tetap menjadi salah satu front paling sulit dideteksi—tetapi sekaligus paling berbahaya—dalam konflik Timur Tengah. (***)

INSPIRASI ERABARU

Jangan Sembarangan Bersihkan Telinga! Serumen Ternyata Punya Manfaat Penting bagi Kesehatan

Serumen telinga ternyata memiliki peran yang jauh lebih penting dalam melindungi telinga daripada yang mungkin Anda sadari. Emma Suttie Serumen telinga memang lengket dan sedikit menjijikkan—kebanyakan...

Mengapa Kita Masih Membutuhkan Buku Fisik

Oleh Ila Bonczek Ila meraih gelar Sarjana dari College of Agriculture and Life Sciences, Cornell University. Ia tinggal di Garden State, tempat ia telah menanam...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine