EtIndonesia.com Menurut laporan AFP, asosiasi maskapai Inggris, Airlines UK, menyebutkan gangguan penerbangan selama dua hari yang terjadi berdampak pada lebih dari 330 ribu penumpang. Penerbangan yang membawa sekitar 155 ribu penumpang dibatalkan, sementara penerbangan sekitar 180 ribu penumpang mengalami keterlambatan. Kejadian itu terjadi sejak Selas (8/9/2026).
Menurut data perusahaan analisis penerbangan Cirium, sebagian besar penerbangan yang terdampak adalah penerbangan dari dan menuju Bandara Heathrow London, salah satu bandara tersibuk di Eropa.
“Kami tidak meyakini bahwa ini adalah serangan siber.” NATS akan melakukan penyelidikan yang “sangat, sangat menyeluruh” untuk mengetahui penyebab pasti insiden tersebut,” ujar CEO National Air Traffic Services (NATS), Martin Rolfe, mengatakan kepada BBC Radio.
Pada 8 September, Chief Operating Officer Ryanair, Neal McMahon, menyerukan agar Rolfe dipecat dan menuduhnya telah “mengecewakan para penumpang Inggris”.
Dalam wawancara dengan Sky News, Rolfe mengatakan bahwa dirinya “bertanggung jawab penuh” atas insiden tersebut, tetapi tidak mengungkapkan apakah ia sedang mempertimbangkan untuk mengundurkan diri.
Menteri Transportasi Inggris Heidi Alexander bertemu dengan Rolfe pada 9 September 2026 pagi. Setelah pertemuan tersebut, ia mengatakan kepada anggota parlemen bahwa dirinya tidak menganggap masalah ini sebagai sesuatu yang “tidak dapat dihindari”.
Pemerintah telah memerintahkan penyelidikan independen untuk mengetahui penyebab insiden tersebut dan “memastikan sistem pengendalian lalu lintas udara kita dapat membawa para penumpang ke tempat yang harus mereka tuju”. Hasil penyelidikan akan diumumkan dalam waktu enam bulan.
Penumpang: Benar-Benar Seperti Melarikan Diri dari Alcatraz
Matt Ernster, 28 tahun, yang melakukan perjalanan melalui Bandara Heathrow untuk kembali ke Boston setelah berbulan madu di Paris, mengatakan kepada AFP bahwa pada 8 September ia “duduk di dalam pesawat selama lebih dari lima jam”.
Setelah diizinkan turun dari pesawat, “situasinya menjadi sangat kacau”. Area pengambilan bagasi “benar-benar seperti kiamat”, sementara tidak ada hotel yang tersedia dalam radius perjalanan dua jam dengan mobil.
Ia mengatakan, “Ini adalah pengalaman perjalanan terburuk yang pernah saya alami.”
Pekerja medis Josie Donoghue berada di dalam pesawat di Bandara Gatwick London yang akan terbang menuju Irlandia. Akibat gangguan teknis tersebut, pesawatnya terjebak di landasan selama tiga jam dan akhirnya para penumpang terpaksa turun dari pesawat.
Kepada Press Association, ia mengatakan, “Meninggalkan bandara itu benar-benar seperti melarikan diri dari Pulau Alcatraz.”
Seorang perempuan yang tidak bersedia disebutkan namanya dan hendak terbang ke Amerika Serikat mengatakan bahwa pada 8 September ia terpaksa tidur di dalam bandara karena seluruh hotel di sekitar bandara “sudah penuh”.
Otoritas regulator penerbangan mengatakan para penumpang yang terdampak kemungkinan kecil akan mendapatkan kompensasi. Berdasarkan aturan hak penumpang, gangguan tersebut kemungkinan dapat dikategorikan sebagai “keadaan luar biasa”. (***)


