EtIndonesia.com Arab Saudi telah menutup jalur pipa minyak yang membentang dari timur ke barat setelah sebelumnya terjadi serangan drone. Sementara itu, di tengah tekanan dan sanksi yang terus ditingkatkan Amerika Serikat, Presiden Iran tiba-tiba menyatakan hari ini bahwa dirinya menentang kelanjutan perang dengan Amerika Serikat.
AS Tingkatkan Tekanan, Presiden Iran: Menentang Kelanjutan Perang dengan AS
Menteri Perang AS Pete Hegseth : “Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Tekanan ekonomi terus meningkat. Kami mengendalikan selat tersebut, dan kami akan membawa persaingan ini sampai akhir.”
Hegseth menegaskan tindakan pemerintahan Trump terhadap rezim Teheran dalam upacara peringatan 9/11 di Pentagon pada hari ini.
“Kami masih mengirim para teroris ke tempat yang seharusnya menjadi tujuan mereka, yaitu neraka, dan mengirim kapal tanker minyak mereka ke tempat yang seharusnya, yaitu dasar laut,” ujarnya.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan bahwa meskipun perang tersebut mungkin berdampak pada pemilu paruh waktu pada November, dirinya tidak menyesal telah melancarkan perang terhadap Iran.
“Jika saya harus melakukannya lagi, saya akan melakukan semuanya persis seperti yang saya lakukan. Saya menghancurkan kemampuan nuklir mereka,” katanya.
Sementara itu, Departemen Keuangan AS juga akan kembali memperluas tekanan ekonomi terhadap Iran pada Senin depan (14 September), dengan menjatuhkan sanksi terhadap sebuah “bank besar”. Namun, nama bank maupun negara tempat bank tersebut berada masih menunggu pengumuman dari pihak AS.
Menghadapi tekanan yang semakin intensif dari pemerintahan Trump, Presiden Iran Masoud Pezeshkian hari ini mengatakan bahwa dirinya menentang kelanjutan perang dan menyerukan agar Iran bersiap menghadapi tekanan yang akan datang.
Ia berpendapat bahwa Iran perlu menghindari situasi di mana mereka dipaksa bernegosiasi dengan Amerika Serikat dalam kondisi yang lebih buruk.
Sebelumnya, Reuters mengutip pejabat AS yang mengatakan bahwa serangan Iran terhadap Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania pada pekan ini menyebabkan beberapa pesawat militer AS mengalami kerusakan. Di antaranya sebuah pesawat serang A-10 yang salah satu sayapnya putus akibat ledakan. Sekitar delapan pesawat tempur F-15 lainnya mengalami kerusakan ringan, tetapi saat ini telah kembali beroperasi.
Selain itu, Penjabat Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao mengatakan kepada The Epoch Times pada Kamis bahwa serangan Iran telah menyebabkan kerusakan serius pada Naval Support Activity Bahrain, yang merupakan lokasi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS.
Hung Cao mengatakan kerusakan pada pangkalan Bahrain menyebabkan para pejabat dan awak kapal induk AS “tidak memiliki tempat untuk berlabuh.” Namun, saat ini telah dibentuk tim khusus untuk melakukan evaluasi terkait pembangunan kembali atau perbaikan fasilitas tersebut.
Khawatir Krisis Laut Merah Memburuk, Dilaporkan Perwira Militer AS Tiba di Arab Saudi untuk Memberikan Saran Strategis
Setelah kelompok Houthi sebelumnya merebut kota pelabuhan Laut Merah, Mocha, terdapat laporan bahwa ratusan perwira Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) berada di Yaman dan bertempur bersama pasukan Houthi untuk membantu melakukan blokade di Selat Bab el-Mandeb.
Pada saat yang sama, lebih dari 100 penasihat militer AS, termasuk komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), dilaporkan telah tiba di Arab Saudi untuk membantu menyusun strategi menghadapi situasi tersebut. Rincian informasi ini masih perlu diverifikasi lebih lanjut.
Ledakan Setara Guncangan Gempa Magnitudo 4,1, Israel Hancurkan Fasilitas Bawah Tanah Hizbullah
Sebelumnya, Israel menggunakan 1.100 ton bahan peledak untuk menghancurkan terowongan penting yang dibangun oleh kelompok bersenjata Hizbullah di bawah Pegunungan Ali al-Taher di Lebanon selatan.
Berbagai laporan menyebutkan bahwa “peledakan besar-besaran” yang dilakukan Israel menimbulkan guncangan dan suara ledakan yang sangat keras. USGS kemudian melaporkan bahwa gempa dengan magnitudo 4,1 terjadi di wilayah tersebut.
Operasi peledakan ini melibatkan 8 terowongan dengan total panjang 5,4 kilometer. Jaringan bawah tanah tersebut dibangun Hizbullah selama 20 tahun dengan dukungan Iran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu:“Di sini ada beberapa senjata yang telah kami keluarkan dari sana, jumlahnya sangat besar, semuanya didanai dan diorganisasi oleh Iran selama bertahun-tahun. Yang Anda lihat sekarang adalah sebuah meriam anti pesawat. Di sini ada rudal, ranjau, komputer, serta banyak benda lainnya. Semuanya telah dikeluarkan. Semuanya berada dalam kendali kami.”
Laporan ini disusun oleh reporter NTD Wang Ziyi.


