Laporan Beberkan 12 Wilayah Termasuk Indonesia yang Relatif Lebih Aman Jika Perang Dunia Ketiga Meletus

EtIndonesia.com Jika Perang Dunia Ketiga benar-benar pecah, wilayah mana di dunia yang mungkin relatif lebih aman?

Seiring perang Rusia-Ukraina dan konflik di Timur Tengah terus berlangsung, risiko keamanan global semakin menjadi perhatian. Platform statistik Seasia Stats baru-baru ini merangkum laporan terkait dari surat kabar Inggris Daily Mail, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti lokasi geografis, kepadatan penduduk, sumber daya pertanian, serta pentingnya suatu wilayah secara strategis dan militer. Dari pertimbangan tersebut, disebutkan 12 wilayah yang mungkin memiliki ketahanan relatif lebih tinggi dalam menghadapi krisis.

Di antaranya, Selandia Baru, Fiji, dan Tuvalu di Pasifik Selatan masuk dalam daftar karena lokasinya relatif jauh dari pusat-pusat militer dan politik utama di Eropa, Asia, dan Amerika Utara.

Selain lokasinya yang terpencil, Selandia Baru juga memiliki kapasitas produksi pertanian yang relatif lengkap. Sementara itu, Fiji dan Tuvalu relatif jauh dari zona konflik tradisional. Namun, keterpencilan juga memiliki konsekuensi. Jika rantai pasokan global terputus, negara-negara kepulauan tersebut dapat menghadapi gangguan impor bahan bakar, makanan, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Indonesia juga masuk dalam daftar. Meskipun Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar dan posisi strategis yang cukup penting, wilayahnya sangat luas dan terdiri dari banyak pulau, sehingga sejumlah daerahnya relatif terpencil.

Di belahan bumi utara terdapat Islandia dan Greenland. Kedua wilayah tersebut memiliki karakteristik yang sama, yakni wilayah yang luas dengan kepadatan penduduk rendah serta lokasi geografis yang relatif terisolasi.

Di Amerika Selatan, Argentina dan Chile juga masuk dalam pertimbangan karena relatif jauh dari banyak wilayah yang berpotensi menjadi zona konflik, sekaligus memiliki sumber daya pertanian tertentu.

Selain itu, Swiss telah lama mempertahankan kebijakan netralitas militer dan memiliki fasilitas pertahanan sipil yang cukup lengkap. Bhutan mengandalkan kondisi pegunungan sebagai penghalang alami. Afrika Selatan, karena letaknya yang relatif jauh dari banyak kekuatan militer utama, juga masuk dalam daftar.

Daftar tersebut bahkan mencakup Antarktika.

Namun, meskipun Antarktika sangat terpencil, kondisi iklim dan kehidupan yang ekstrem membuat wilayah tersebut hampir tidak mungkin menjadi tempat perlindungan yang secara praktis dapat ditempati oleh masyarakat umum.

Perlu diperhatikan bahwa daftar ini menilai “risiko relatif”, bukan memberikan jaminan keamanan.

Jika perang berskala besar benar-benar pecah, dampaknya tidak hanya berasal dari serangan militer. Senjata nuklir, serangan siber, kelangkaan energi dan pangan, serta terputusnya perdagangan global semuanya dapat melampaui batas negara.

Oleh karena itu, yang dimaksud dengan “tempat aman” lebih mengacu pada wilayah yang, berdasarkan faktor seperti lokasi geografis, kepadatan penduduk, dan kemampuan memenuhi kebutuhan sendiri, mungkin memiliki ketahanan yang lebih tinggi dalam menghadapi krisis, bukan wilayah yang sepenuhnya dapat terhindar dari perang. (***)

INSPIRASI ERABARU

Terlalu Banyak Kegiatan Bisa Membebani Anak, Saatnya Menata Ulang Jadwal Mereka

Jadwal yang penuh tidak selalu berarti masa kanak-kanak yang penuh pengalaman jika hal itu justru menyisakan sedikit waktu untuk kehidupan keluarga yang paling berartiAnnie...

Jangan Terjebak Lautan Nasihat Parenting, Percayalah pada Naluri Anda

Setiap orang, bahkan bibi mereka di Instagram, punya pendapat tentang cara membesarkan anak. Namun, tidak ada yang mengenal anak Anda seperti Anda sendiriWalker LarsonSi...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine