Mengapa Orang Bisa Tertipu?

EtIndonesia. Apakah menurutmu orang dengan pendidikan tinggi otomatis memiliki kebijaksanaan?  Apakah setiap perkataan orang berpendidikan tinggi pasti benar?

Faktanya, banyak orang dengan gelar tinggi justru sering menjadi korban penipuan. Mereka merasa sudah menguasai banyak ilmu, lalu percaya diri bahwa dirinya pintar. Padahal, untuk bisa bertahan hidup di masyarakat, tidak cukup hanya dengan “kepintaran kecil”, tetapi juga butuh belajar terus-menerus dan berpikir kritis.

Kisah di Ruang Kuliah

Suatu hari, seorang mahasiswa bertanya kepada profesornya:

“Ada seorang bisu yang ingin membeli sikat gigi di toko. Dia hanya menirukan gerakan menyikat gigi, dan penjaga toko pun langsung mengerti serta memberinya sikat gigi. Kalau begitu, bagaimana dengan seorang buta yang ingin membeli kacamata hitam?”

Profesor itu pun mencoba menebak, lalu membuat isyarat dengan kedua tangan membentuk lingkaran di depan matanya.

Namun si mahasiswa tersenyum dan berkata: “Orang buta bisa bicara, Prof. Dia tinggal bilang langsung kalau ingin membeli kacamata.”

Profesor terdiam, lalu baru menyadari kekeliruannya.

Mengapa Banyak Orang Mudah Tertipu?

Dunia ini penuh dengan ketidakpastian. Ada orang-orang yang sengaja memanfaatkan kelengahan orang lain demi keuntungan pribadi. Mereka sangat lihai menggali kelemahan manusia, mencari celah dari “titik buta” psikologis kita, lalu memanipulasinya.

Karena itulah angka korban penipuan tidak pernah menurun.

Jika dalam kehidupan nyata kamu sering menjadi korban tipu daya, mungkin sebenarnya kamu tidak sepintar yang kamu bayangkan.

Setinggi apa pun pendidikanmu, saat menghadapi persoalan, kamu tetap harus berpikir:

·        Apa risikonya jika aku mengikuti instruksi orang ini?

·        Adakah cara lain yang lebih aman?

Dengan begitu, kesalahan dan kerugian bisa dihindari.

5 Tipe Orang yang Paling Mudah Tertipu

(Dikutip dari Maria Konnikova dalam bukunya The Confidence Game: Why We Fall for It… Every Time)

1. Kurang pengalaman sosial, polos dalam pergaulan (terutama lansia).
Tidak paham modus penipuan, tidak mengikuti berita atau informasi terkini, sehingga gampang terjerat.

2. Orang yang sangat haus uang atau sukses.
Mereka ingin cepat kaya, ingin menang undian, atau tergoda investasi berimbal hasil tinggi. Saat ada yang menawarkan “kesempatan emas”, mereka mudah percaya.

3. Mereka yang tertarik dengan topik yang dipakai penipu.
Baik itu soal cinta, karier, maupun uang. Penipu akan memanfaatkan minat itu untuk menjebak korban.

4. Orang yang terlalu percaya diri.
Mengira dirinya pintar, merasa tidak mungkin tertipu. Justru karena itu, mereka lengah, tidak kritis, dan akhirnya salah menilai situasi.

5. Orang yang mudah percaya dan bergantung pada pendapat orang lain.
Dalam kondisi genting—misalnya ada anggota keluarga sakit atau sedang butuh pertolongan—mereka mudah percaya pada “sosok ahli” yang datang menawari bantuan. Emosi menguasai logika, sehingga terjebak dalam perangkap.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine