EtIndonesia. Beberapa jam sebelum pengumuman Hadiah Nobel Perdamaian, Presiden AS, Donald Trump menerima dukungan dari para petani Israel yang menggunakan traktor untuk membajak pesan di lahan pertanian. Pesan itu bertuliskan, “Nobel untuk Trump.”
Sebuah video yang diunggah ke X menunjukkan traktor membajak pesan tersebut di ladang yang luas. Klip tersebut diakhiri dengan foto udara yang memperlihatkan teks lengkapnya.
“Sekelompok veteran Perang Yom Kippur membajak pesan ucapan terima kasih kepada Presiden Trump di ladang-ladang di lembah,” demikian bunyi keterangan video.
Penghormatan ini muncul setelah Trump menengahi gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Perjanjian tersebut merupakan bagian dari Rencana Perdamaian Gaza Trump, yang diumumkan pada 29 September, untuk menghentikan perang dan menyusun rencana untuk membangun kembali dan mengelola jalur sempit tersebut.
Berdasarkan rencana tersebut, kedua belah pihak sepakat untuk melakukan gencatan senjata, penarikan pasukan Israel, dan pertukaran sandera-tahanan. Proposal tersebut juga menyerukan pelucutan senjata Hamas, dan agar Gaza diperintah oleh para pemimpin Palestina yang independen di bawah pengawasan internasional.
A group of Yom Kippur War veterans plowed a message of gratitude to President #Trump in the valley fields.
— raz sauber – רז זאובר (@raz_sauber_) October 9, 2025
pic.twitter.com/2HwU238YH8
Pasukan penjaga perdamaian dan rekonstruksi multinasional akan mengawasi bantuan kemanusiaan dan upaya pembangunan kembali.
Israel dan Hamas menyetujui tahap pertama rencana tersebut pada 8 Oktober, dengan fokus pada gencatan senjata dan pertukaran tahanan. Kabinet Israel menyetujui perjanjian tersebut keesokan harinya, dan ditandatangani secara resmi di Mesir pada 9 Oktober. Diskusi mengenai tahap-tahap selanjutnya, termasuk masa depan politik Gaza, masih berlangsung.
Dalam rapat Kabinet pada Kamis pagi, Trump merayakan kesepakatan tersebut sebagai bagian dari catatan pencapaian perdamaian selama masa kepresidenannya.
“Kami telah menyelesaikan tujuh perang, atau konflik besar, dan ini adalah yang kedelapan,” ujarnya kepada para wartawan. “Yang saya pikir akan menjadi yang tercepat adalah Rusia-Ukraina dan saya pikir itu juga akan terjadi.”
Sebelumnya, dalam pidatonya pada 23 September di sidang ke-80 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, Trump membanggakan bahwa dalam tujuh bulan setelah menjabat, pemerintahannya telah mengakhiri tujuh “perang yang tak berkesudahan”.
Dia menyebutkan konflik-konflik yang diklaimnya telah diselesaikan, termasuk yang melibatkan Kamboja dan Thailand, Serbia, Kongo dan Rwanda, Pakistan dan India, Israel dan Iran, Mesir dan Etiopia, serta Armenia dan Azerbaijan.
Trump secara terbuka mengatakan bahwa dia pantas menerima Hadiah Nobel Perdamaian, dengan mengatakan bahwa karyanya dalam perjanjian perdamaian seperti Perjanjian Abraham dan gencatan senjata baru-baru ini patut mendapat pengakuan. Pemerintahannya secara aktif mempromosikan pencalonannya, dengan dukungan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Anggota Kongres AS Buddy Carter.(yn)


