Benarkah Telur Palsu Sudah Meluas? Ini Faktanya — dan 5 Jenis Telur yang Sebaiknya Jangan Dikonsumsi


EtIndonesia.
Telur adalah salah satu makanan paling favorit di setiap rumah — bergizi tinggi, mudah diolah, cocok untuk segala usia. Namun dalam beberapa tahun terakhir, sering terdengar isu tentang “telur palsu”, yang membuat sebagian orang — terutama para lansia — menjadi sangat waspada saat membeli telur.

Begitu rasa atau tampilannya sedikit berbeda, langsung dicurigai sebagai telur sintetis.

Apa itu “Telur Palsu” atau Telur Buatan?

Yang disebut telur palsu adalah telur sintetis hasil rekayasa kimia, dibuat menggunakan bahan seperti:

  • Alginat natrium (seaweed sodium)
  • Kalsium klorida
  • Pewarna makanan
  • Resin, gelatin, atau pati untuk menyerupai putih & kuning telur
  • Kulit telur dibuat dari karbonat kalsium + gipsum

Ciri telur palsu (jika ada):

  • Kulit sangat licin, tidak terlihat pori-pori alami
  • Tidak ada selaput di antara putih dan kuning telur
  • Kuning telur mudah hancur & berbau kimia
  • Setelah dimasak, kuning telur menjadi kenyal seperti karet dan tidak beraroma telur alami

Tapi, Sebentar… Apakah Telur Palsu Benar-benar Beredar di Pasaran?

Jawabannya: Tidak. Itu hoaks.

Faktanya — menurut peneliti Yao Junfeng dari Shanghai Academy of Agricultural Sciences, telur sintetis yang bisa menyamai telur asli sebenarnya biayanya 4× lebih mahal daripada telur biasa.

Artinya: tidak masuk akal secara ekonomi!

Jadi, jangan terlalu khawatir termakan isu. Sampai saat ini, tidak ada bukti resmi bahwa telur sintetis telah masuk ke pasar konsumsi.

Namun begitu — bukan berarti semua telur aman untuk dimakan. Ada beberapa jenis telur yang secara nyata dan sering ditemui, namun berisiko bagi kesehatan jika dikonsumsi.

5 Jenis Telur yang Sebaiknya Dihindari

1. Telur Retak

Telur dengan cangkang pecah — meskipun retaknya sangat halus — mudah dimasuki bakteri dalam waktu 2–3 jam, apalagi di suhu 20–30°C. Risiko tinggi terkena salmonella.

2. Telur yang Kuningnya Sudah Menyebar Total

Bedakan dua kondisi:

  • Masih Boleh Dimakan: hanya sedikit penyok karena terguncang, bau normal, kuning belum bercampur sepenuhnya. → asal dimasak matang, masih aman.
    – Harus Dibuang: kuning dan putih telur sudah tercampur penuh, warnanya keruh, muncul gelembung, bau asam/busuk. → sudah terkontaminasi bakteri.

3. Telur Beku yang Dicairkan (Frozen Egg)

Setelah dibekukan lalu dicairkan:

  • Tekstur jadi encer dan hancur
  • Banyak nutrisi (vitamin A & D) hilang
  • Risiko bakteri meningkat, apalagi jika dicairkan di suhu ruang

Catatan: Jika tetap ingin dikonsumsi → harus dimasak hingga matang penuh, maksimal 24 jam setelah dicairkan. Tidak boleh dibuat telur setengah matang.

4. Telur Curah Tanpa Identitas (Tanpa Label / Tanpa Jejak Asal)

Biasa ditemukan di pasar tradisional.

Risikonya:

  • Bisa berasal dari ayam sakit yang diberi antibiotik
  • Potensi logam berat & residu obat
  • Disimpan tanpa standar suhu → bakteri mudah berkembang

Hindari jika tidak ada brand, label, atau kode pelacakan 13 digit.

5. Telur Melewati Tanggal Kedaluwarsa

Tidak selalu terlihat rusak dari luar — tetapi bakteri salmonella bisa berkembang tanpa bau dan tanpa perubahan warna.

Apalagi di musim panas (suhu >30°C), telur bisa rusak hanya dalam 2 minggu meskipun terlihat normal dari luar.

Cara Memilih Telur yang Aman

  • Beli dari tempat resmi — supermarket atau merek ternama, harus ada kode pelacakan 13 digit.
    – Tes suara ringan — ketuk perlahan, jika berbunyi jernih/nyaring → lebih segar. 


Cara menyimpan yang benar:

  • Jangan dicuci sebelum disimpan
  • Suhu ruang = tahan seminggu
  • Kulkas = bisa 1 bulan (posisi telur dengan bagian besar di atas)

Kesimpulannya:

Isu “telur palsu massal yang super murah” adalah hoaks, tapi kesalahan memilih telur jauh lebih berbahaya daripada telur sintetis.

Yang penting adalah belajar membedakan, bukan belajar takut. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Sosok Moch. Afan Zulkarnain: Mengajar dengan Hati, Menginspirasi Generasi Digital

oleh: Sang Fajar Dunia pendidikan Indonesia terus berubah dengan cepat, terutama setelah pandemi COVID-19. Transformasi digital menjadi kenyataan yang tidak bisa dihindari, dan guru-guru di...

Kearifan Kesehatan Tiongkok Ribuan Tahun : Apa yang Dikatakan Kitab Ritus tentang Tubuh

Dalam Pemikiran Klasik Tiongkok, Kebajikan Menghasilkan Dampak Fisik yang Dapat Diamati pada Tubuh Kitab Ritus (Liji) adalah salah satu dari tiga kitab ritual kanonik Tiongkok...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine