Ekspor minyak mentah Amerika Serikat pekan lalu mencapai rekor tertinggi dalam sejarah, menunjukkan bahwa dunia semakin beralih mencari pasokan energi dari Amerika Serikat. Namun, harga minyak tetap menunjukkan tren kenaikan.
EtIndonesia. Baru-baru ini, Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan keluar dari Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), yang menjadi kejutan besar bagi pasar. Para analis menilai bahwa organisasi yang dulu menguasai setengah pasokan minyak dunia ini kini menghadapi percepatan perpecahan.
Perundingan antara AS dan Iran turut memengaruhi struktur pasokan energi global.
Sebagai produsen minyak terbesar ketiga di OPEC, UEA telah lama tidak puas dengan kuota produksi yang dianggap terlalu rendah. Negara tersebut memutuskan untuk meningkatkan produksi secara mandiri demi kepentingan nasional, dan secara resmi keluar dari OPEC pada 1 Mei 2026.
Analis geopolitik dari Rystad Energy, Jorge Leon, menyatakan bahwa langkah ini merupakan perkembangan penting yang menimbulkan tanda tanya besar atas masa depan OPEC dan OPEC+ sebagai organisasi yang solid. Ia menambahkan bahwa perhatian kini kembali tertuju pada Arab Saudi, yang selama ini berperan sebagai “bank sentral” pasar minyak. Pertanyaannya adalah apakah Arab Saudi akan tetap memimpin dan mengatur pasar, atau justru pasar akan menjadi semakin kacau setelah keluarnya UEA.
OPEC sendiri didirikan pada tahun 1960 dan mengatur batas produksi anggotanya. Pada era 1970-an, organisasi ini pernah memberlakukan embargo minyak terhadap negara-negara Barat, yang menyebabkan harga minyak melonjak empat kali lipat dalam beberapa bulan dan menjadikan minyak sebagai “senjata ekonomi” global.
Pada 2016, Rusia dan negara lain bergabung membentuk aliansi OPEC+, yang menguasai sekitar 52% pasokan minyak dunia.
Namun, pengaruh OPEC di abad ke-21 telah melemah. Revolusi minyak serpih di Amerika Serikat meningkatkan produksi secara signifikan hingga mencakup hampir 18% pasokan global, menjadikannya eksportir energi terbesar dan mengurangi kemampuan OPEC dalam menentukan harga.
Meskipun Rusia baru-baru ini menegaskan tidak akan keluar dari OPEC+, pasar mulai berspekulasi bahwa negara lain seperti Nigeria, Kazakhstan, dan Irak berpotensi mengikuti langkah UEA.
Analis senior dari Russian National Energy Security Fund, Igor Yushkov, menyebut bahwa pasar mulai memperkirakan kemungkinan runtuhnya OPEC dan OPEC+, karena keluarnya UEA bisa mendorong anggota lain untuk ikut hengkang.
Di tengah kemungkinan berlanjutnya ketegangan antara AS dan Iran, harga minyak melonjak tajam. Pada Rabu 29 April, harga minyak mentah Brent naik lebih dari 5% menjadi 124,67 dolar per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate naik 2,4% menjadi 109,49 dolar per barel. Keputusan UEA untuk meningkatkan produksi juga dinilai memberi keuntungan bagi Amerika Serikat.
Presiden AS, Donald Trump, mengatakan, “Saya pikir ini hal yang bagus. Saya sangat mengenal Sheikh Mohammed, dia sangat cerdas. Mungkin dia ingin mengambil jalannya sendiri. Ini hal yang baik, dan pada akhirnya bisa menurunkan harga gas, minyak, dan semuanya.”
Selama ini, OPEC menggunakan mekanisme kartel, yaitu negara anggota bertindak bersama untuk mengurangi produksi guna menjaga harga, atau meningkatkan produksi untuk menekan harga. Namun jika perpecahan terus berlanjut, pasar minyak bisa berubah menjadi sistem “masing-masing berjalan sendiri”. Dalam jangka panjang, peningkatan pasokan berpotensi menekan harga minyak dan membantu meredakan tekanan inflasi global.
NTD Asia Pacific Television, Kao Chien-lun dan Shen Wei-tung, Taipei, Taiwan


