Detik-detik Perundingan AS–Iran Terancam Bubar! Israel Tolak Mundur, Teheran Ancam Tutup Selat Hormuz Lagi

EtIndonesia.com— Proses perundingan lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Swiss menghadapi ancaman serius. Setelah nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Washington dan Teheran ditandatangani secara elektronik pada pertengahan Juni 2026, muncul kekhawatiran bahwa eskalasi konflik antara Israel dan Lebanon dapat menggagalkan seluruh proses diplomasi yang sedang berjalan.

Berbagai perkembangan dalam 24 jam terakhir menunjukkan bahwa perbedaan sikap antara Israel, Iran, dan Amerika Serikat semakin tajam. Bahkan sejumlah pihak mulai mempertanyakan apakah putaran perundingan yang direncanakan berlangsung di Swiss masih dapat terlaksana sesuai jadwal.

Israel Tolak Gencatan Senjata di Lebanon

Menurut laporan yang beredar pada 18 Juni 2026, salah satu hambatan terbesar bagi proses diplomasi saat ini berasal dari situasi keamanan di Lebanon Selatan.

Berdasarkan informasi yang dilaporkan media Amerika, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah menyampaikan kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahwa Israel tidak dapat menerima penghentian operasi militer secara langsung di Lebanon.

Pemerintah Israel juga menegaskan bahwa pasukan mereka tidak akan menarik diri dari wilayah Lebanon Selatan dalam waktu dekat.

Pada saat yang sama, militer Israel mengumumkan akan terus mempertahankan zona keamanan yang membentang sekitar 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon. Zona tersebut dianggap penting untuk mencegah ancaman yang berasal dari kelompok-kelompok bersenjata yang beroperasi di kawasan perbatasan.

Pihak militer menegaskan bahwa operasi keamanan akan terus dilanjutkan selama masih terdapat potensi ancaman terhadap wilayah Israel.

Keputusan tersebut secara langsung menimbulkan kekhawatiran di kalangan diplomat yang sedang berupaya menjaga momentum perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.

Bennett Dorong Perubahan Politik di Iran

Di tengah meningkatnya ketegangan, mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, kembali mengeluarkan pernyataan yang memicu perhatian luas.

Bennett mengungkapkan bahwa dirinya telah menyusun sebuah rencana strategis yang menurutnya dapat membantu rakyat Iran melakukan perubahan politik dan menggulingkan pemerintahan yang saat ini berkuasa di Teheran.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa sebagian kalangan politik di Israel masih memandang Iran sebagai ancaman jangka panjang, terlepas dari kemajuan diplomatik yang sedang berlangsung antara Washington dan Teheran.

Di sisi lain, sejumlah analis keamanan Israel justru mengkhawatirkan bahwa kesepakatan yang sedang dirundingkan dapat memberikan ruang bagi kelompok-kelompok garis keras di Iran untuk memperkuat posisi politik mereka di dalam negeri.

Iran Ancam Batalkan Perundingan Swiss

Reaksi keras segera datang dari Teheran.

Menurut laporan Kantor Berita Tasnim pada 18 Juni 2026, pemerintah Iran memperingatkan bahwa nota kesepahaman yang baru saja ditandatangani berpotensi gagal total apabila Israel terus melanjutkan operasi militernya di Lebanon Selatan.

Pejabat Iran menilai tindakan Israel bertentangan dengan semangat deeskalasi yang menjadi dasar terbentuknya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.

Lebih jauh lagi, Iran mengancam akan kembali mengambil langkah-langkah yang sebelumnya sempat memicu ketegangan global, termasuk kemungkinan memberlakukan kembali pembatasan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Ancaman tersebut segera memicu kekhawatiran di pasar energi internasional karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan minyak terpenting di dunia.

Sumber-sumber di Teheran menyebutkan bahwa pemerintah Iran kini sedang mempertimbangkan secara serius untuk membatalkan partisipasinya dalam perundingan yang dijadwalkan berlangsung di Swiss pada 19 Juni 2026.

Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi mengenai apakah delegasi Iran tetap akan hadir atau tidak.

Delegasi Iran Hentikan Persiapan Keberangkatan

Situasi semakin tidak menentu setelah Kantor Berita Fars melaporkan bahwa delegasi Iran yang sebelumnya dijadwalkan berangkat ke Swiss telah menghentikan sementara seluruh persiapan perjalanan.

Keputusan tersebut dikaitkan langsung dengan perkembangan situasi keamanan di Lebanon Selatan.

Langkah ini dipandang sebagai sinyal bahwa Teheran sedang mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk menunda atau bahkan membatalkan pembicaraan yang telah direncanakan selama beberapa minggu terakhir.

Apabila hal tersebut benar-benar terjadi, maka proses negosiasi teknis selama 60 hari yang sebelumnya diumumkan oleh Washington berpotensi mengalami gangguan serius sejak tahap awal.

Pakistan Batalkan Misi Diplomatik ke Swiss

Perubahan situasi juga berdampak pada negara-negara yang sebelumnya berencana mendukung proses negosiasi.

Seorang pejabat senior dari Kantor Perdana Menteri Pakistan mengonfirmasi bahwa Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, membatalkan rencana untuk memimpin delegasi tingkat tinggi ke Swiss.

Keputusan tersebut diambil setelah Presiden Trump dan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, terlebih dahulu menandatangani nota kesepahaman secara elektronik.

Islamabad menilai tidak lagi diperlukan keterlibatan langsung pada tahap awal proses diplomasi tersebut.

Amerika Serikat Resmi Hentikan Blokade terhadap Iran

Di tengah ketidakpastian yang berkembang, militer Amerika Serikat mengambil langkah yang dinilai sebagai sinyal positif kepada Iran.

Pada 18 Juni 2026, United States Central Command mengumumkan bahwa seluruh operasi blokade terhadap pelabuhan dan wilayah pesisir Iran telah dihentikan sesuai instruksi Presiden Trump.

Dengan keputusan tersebut, operasi militer yang sebelumnya digunakan untuk mengawasi dan membatasi akses maritim Iran resmi berakhir.

Namun demikian, CENTCOM menegaskan bahwa kapal-kapal perang Amerika Serikat akan tetap berada di kawasan Teluk Persia dan sekitarnya untuk memastikan seluruh poin kesepakatan dilaksanakan secara penuh.

Pengamat militer menilai langkah ini memiliki dua pesan sekaligus. Di satu sisi, Washington ingin menunjukkan itikad baik terhadap proses diplomasi. Namun di sisi lain, kehadiran armada militer Amerika tetap menjadi peringatan bahwa blokade atau tindakan militer dapat diberlakukan kembali apabila kesepakatan dilanggar.

Jerman Siapkan Kapal Perang untuk Skenario Hormuz

Sementara itu, perhatian dunia juga tertuju pada langkah yang diambil Jerman.

Pada 18 Juni 2026, Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, menghadiri pertemuan para menteri pertahanan NATO dan mengungkapkan bahwa Berlin telah mengirim dua kapal perang ke kawasan terkait.

Menurut Pistorius, pengerahan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipatif apabila diperlukan operasi keamanan internasional di Selat Hormuz.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa setiap operasi semacam itu harus terlebih dahulu memperoleh persetujuan dari Iran dan Oman serta sangat bergantung pada perkembangan negosiasi antara Washington dan Teheran.

JD Vance Kritik Sikap Pemerintah Israel

Dalam konferensi pers di Gedung Putih pada 18 Juni 2026, Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, juga menyampaikan kritik yang cukup terbuka terhadap sebagian anggota pemerintahan Israel.

Vance menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak pernah meminta Israel mengorbankan haknya untuk membela diri.

Namun menurutnya, beberapa anggota kabinet Netanyahu terlihat terlalu panik dalam merespons perkembangan terbaru terkait Iran dan Lebanon.

Ia kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan mencabut sanksi terhadap Iran apabila Teheran masih terbukti mendanai kelompok-kelompok ekstremis di kawasan.

Vance juga mengeluhkan bahwa setiap kali proses perdamaian mencapai kemajuan penting, selalu muncul peristiwa mendadak yang berpotensi menggagalkan seluruh upaya diplomasi.

Menurut Vance, Presiden Trump merupakan salah satu pemimpin dunia yang paling memahami kebutuhan keamanan Israel.

Ia mengungkapkan bahwa selama sekitar tiga bulan terakhir, hampir dua pertiga sistem pertahanan yang digunakan untuk melindungi Israel berasal dari dukungan Amerika Serikat.

Selain itu, Vance mengonfirmasi bahwa dirinya masih berencana berangkat ke Swiss sesuai jadwal untuk memimpin delegasi Amerika Serikat dalam perundingan teknis lanjutan.

Israel Balas Kritik Washington

Pernyataan Vance segera mendapat tanggapan dari pemerintah Israel.

Menteri Israel, Miki Zohar, menegaskan bahwa kerja sama intelijen antara Israel dan Amerika Serikat selama bertahun-tahun telah membantu menyelamatkan banyak nyawa warga Amerika.

Ia juga menyatakan bahwa berbagai inovasi teknologi pertahanan yang dikembangkan Israel telah memberikan manfaat besar bagi militer Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meskipun kedua negara tetap menjadi sekutu dekat, perbedaan pandangan mengenai arah diplomasi regional mulai terlihat semakin jelas.

Masa Depan Perundingan Masih Belum Pasti

Menjelang dimulainya perundingan di Swiss pada 19 Juni 2026, situasi masih dipenuhi ketidakpastian.

Di satu sisi, Amerika Serikat berupaya mempertahankan momentum diplomatik yang telah tercipta melalui nota kesepahaman dengan Iran. Namun di sisi lain, konflik yang terus berlanjut di Lebanon Selatan berpotensi menjadi faktor yang menggagalkan seluruh proses tersebut.

Apabila Iran benar-benar memutuskan untuk membatalkan kehadirannya dalam perundingan Swiss, maka ketegangan di Timur Tengah berisiko kembali meningkat. Sebaliknya, jika kedua pihak tetap melanjutkan dialog, maka perundingan 60 hari yang direncanakan dapat menjadi tahap paling menentukan dalam upaya meredakan salah satu krisis geopolitik terbesar di kawasan dalam beberapa tahun terakhir. (***)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Pendidikan Klasik Tiongkok Dimulai dengan Menyapu Lantai?

Orang Tua Modern Mengalihkan Tanggung Jawab, tetapi Menuntut Hasil Saat ini, banyak orang tua mengeluhkan anak-anak mereka malas dan tidak bertanggung jawab, tetapi pada saat...

Chemistry Tumbuh dari Kedekatan: Mengapa Kencan Tatap Muka Masih Tak Tergantikan di Era Digital

Di era ketika lebih dari setengah lajang berusia di bawah 30 tahun menggunakan aplikasi kencan, berbagai bukti menunjukkan bahwa pendekatan digital terhadap percintaan mungkin...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine