EtIndonesia.com – Dunia teknologi global hari ini tidak hanya dibangun di atas kode dan perangkat keras, tetapi juga di atas fondasi kegigihan yang lahir dari penolakan. Dua rahasia besar di balik raksasa teknologi Nvidia dan SpaceX kembali menjadi sorotan, mengungkap betapa tipisnya batas antara kerugian ratusan miliar dolar dengan kesuksesan yang mengubah peradaban.
Nvidia: Peluang 160 Miliar Dolar yang Melayang
Pada tahun 2016, di sebuah mansion mewah di California, sebuah pertemuan rahasia terjadi antara CEO SoftBank, Masayoshi Son, dan CEO Nvidia, Jensen Huang. Saat itu, Nvidia hanyalah perusahaan pembuat cip gim dengan nilai pasar sekitar 20 miliar dolar AS. Namun, Son melihat sesuatu yang tidak dilihat pasar: masa depan kecerdasan buatan (AI).
Son menawarkan pinjaman kepada Huang untuk melakukan privatisasi Nvidia. “Huang, masa depan Nvidia tidak terukur, tetapi pasar saat ini sama sekali tidak memahamimu. Kamu sedang mengerjakan masa depan, jadi kamu masih harus menderita beberapa tahun lagi,” kenang Huang menirukan ucapan Son.
Huang sempat tergoda, namun bayang-bayang sejarah hukum Amerika Serikat membuatnya ragu. Dalam benaknya, ia khawatir akan jeratan undang-undang anti-monopoli.
“Banyak peristiwa anti-monopoli yang menyakitkan dalam sejarah AS terlintas di pikiran saya. Saya seolah melihat Nvidia dipaksa melepaskan teknologi GPU inti kami dan dipecah secara paksa,” ujar Huang saat menjelaskan alasannya menolak tawaran privatisasi tersebut.
Ketakutan Huang terbukti menjadi berkah bagi perusahaan, namun menjadi “tragedi” bagi Son. Setelah sempat menjadi pemegang saham tunggal terbesar pada 2017, Son memutuskan untuk menjual seluruh saham Nvidia pada 2019 setelah harga saham anjlok akibat lesunya pasar kripto. Ironisnya, jika ia tidak menjual saham tersebut, nilainya hari ini akan mencapai lebih dari 160 miliar dolar AS—jauh melampaui investasinya di Alibaba.

SpaceX: Bermula dari Penghinaan di Moskow
Jika Nvidia lahir dari keputusan matang menghindari monopoli, SpaceX lahir dari amarah dan harga diri yang terluka. Pada tahun 2001, Elon Musk melakukan perjalanan ke Moskow untuk membeli tiga rudal balistik antarbenua (ICBM) Rusia guna dikonversi menjadi roket pengangkut.
Negosiasi tersebut berakhir buntu. Pihak Rusia mematok harga 8 juta dolar AS per roket dan menolak tawaran Musk sebesar 20 juta dolar untuk tiga roket. Bahkan, Musk menerima cemoohan dari para produsen roket Rusia. “Anak muda, jangan bercanda. Kalau tidak punya uang, jangan datang ke sini untuk membeli roket,” kenang sumber mengenai ejekan tersebut.
Dalam penerbangan pulang ke Amerika Serikat, Musk membuat keputusan gila yang mengubah sejarah antariksa: ia akan membangun roketnya sendiri. Ia menyadari bahwa bahan baku roket sebenarnya hanya menghabiskan sekitar 3 persen dari harga jual pasar saat itu.
“Jika saya bisa membangunnya sendiri dengan efisiensi yang lebih tinggi, luar angkasa bukan lagi proyek yang mustahil,” menjadi semangat awal Musk dalam mendirikan SpaceX.
Pesta Pora IPO SpaceX 2026
Kini, ejekan dari Moskow itu telah bertransformasi menjadi kerajaan bisnis senilai 1,8 triliun dolar AS. Dalam penawaran umum perdana (IPO) yang dijadwalkan pada Juni 2026, SpaceX menargetkan penggalangan dana sebesar 75 miliar dolar AS dengan harga 135 dolar per saham.
Antusiasme pasar luar biasa besar. Meskipun targetnya adalah 75 miliar dolar, dana yang siap masuk dari pasar mencapai 250 miliar dolar—hampir empat kali lipat dari yang dibutuhkan. Menariknya, Musk mengizinkan 30 persen saham tersebut untuk dibeli oleh investor ritel, memberikan kesempatan bagi masyarakat umum untuk memiliki bagian dari impian menuju Mars.
Namun, SpaceX tetap menjaga kedaulatan teknologinya dengan melarang masuknya modal dari entitas atau individu yang terkait dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan Hong Kong.
Keberhasilan SpaceX hari ini, yang diperkuat oleh pendapatan tahunan Starlink sebesar 7 miliar dolar AS, merupakan balasan telak Musk terhadap penghinaan yang ia terima dua dekade silam. Dunia kini melihat bagaimana amarah seorang visioner bisa menjadi bahan bakar paling efisien untuk meluncurkan roket menuju masa depan.


